Cara Kerja Private Equity
Salah satu jenis investor yg sanggup digandeng para pengusaha yg ingin mengembangkan usahanya merupakan perusahaan private equity (PE). Perusahaan private equity memang nir terkenal misalnya bank atau bursa. Padahal private equity jua galat satu asal kapital dan menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yg bisnisnya ingin tumbuh.
Private equity (PE) adalah salah sumber kapital untuk investasi yg berasal berdasarkan para investor seperti dana pensiun, orang-orang kaya, atau dana kekal perguruan tinggi. PE menjadi semacam forum yg ditugaskan & dipercaya buat memutar duit dari investor itu. Kalau bank umumnya menaruh duit pinjaman & lalu minta agunan (kolateral) berupa aset, maka jikalau private equity nir. Dia invest pada perusahaan semisalnya Rp 300 miliar atau Rp 100 miliar, akan tetapi dia minta ditukar dengan saham. Nah, terdapat perusahaan private equity yg hanya mau invest sebagai pemegang saham minoritas dan nggak mau lebih menurut 50%, namun pula terdapat yg maunya justru harus pegang kendali. Masing-masing perusahaan private equity punya gaya dan kebijakan masing-masing.

Asal dana atau sumber dana perusahaan private equity itu biasanya terkumpul karena keaktifan para pendiri dalam mencari dana untuk dikelola. Keluasan network para pendiri PE sangat penting untuk mendapatkan investor. Jangan heran kalau di Indonesia, para pemilik private equity pasti orang yang punya network kuat dengan pemilik dana di luar negeri. Misalnya Patrick Waluyo (Northstar), Gita Wiryawan (Ancora) dan Edwin Soeryajaya (Saratoga). Mereka semua merupakan lulusan Amerika yang channel dengan lembaga keuangan Barat sudah sangat kuat.
Kenapa mereka mau menaruh dananya buat dikelola PE? Ya lantaran ingin dananya berputar dan bertambah. Ingat bahwa pada negeri Barat & Jepang, kalau menaruh deposito pada Bank, bunganya sangat minim, pertahun hanya dua% atau bahkan kurang. Kalau diputar pada negara berkembang seperti pada Indonesia, mereka mampu mendapatkan keuntungan minimal belasan persen per tahun. Logikanya simple, ideologi uang merupakan laba. Dia nir punya loyalitas ke negara atau lokasi. Tapi beliau akan datang ke loka manapun yang sanggup berkembang biak. Ini rumus uang yg jangan dibantah.
Cara investasi perusahaan private equity (PE) ke perusahaan-perusahaan target biasanya menggunakan pola bisa dua macam. PERTAMA, membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang lama (artinya ia membeli existing saham). Dus ada pergantian kepemilikan saham. KEDUA, perusahaan yang akan diinject modal itu menerbitkan saham baru yang kemudian dibeli oleh perusahaan PE itu. Umumnya cara kedua ini lebih banyak dipilih karena berarti dana yang masuk tidak masuk ke kantong pribadi pemegang saham lama, namun menambah modal perusahaan sehingga perusahaan bisa berputar lebih baik. Tapi pola ini sangat case by case, bisa perpaduan. Bisa jadi ketika investor masuk ke sebuah perusahaan, ada sebagian yang masuk ke kantong pemegang saham lama untuk pembelian saham, namun ada juga sebagian yang ditaruh sebagai modal usaha.
KETIGA, Selain cara investasi melalui saham, perusahaan PE juga bisa dengan cara membeli convertible bond yang diterbitkan perusahaan yang butuh duit itu. Convertible bond itu adalah surat utang yang suatu saat bisa diubah (diconvert) menjadi saham ketika pas jatuh tempo dan bila perusahaan yang berhutang itu tidak bisa melunasi secara sempurna atas hutang-hutangnya.
Yang perlu diketahui, perusahaan PE umumnya hanya mau invest di perusahaan yang tumbuh cepat dan margin untungnya baik. Kenapa? Karena beliau wajib memberi keuntungan juga ke pemodal yg menitipkan uangnya. Makanya biasanya IRR private equity selalu minta diatas 18%. Kalau bank Anda kasih bunga 12-13%, maka PE minimal diangka 18%. Bedanya jika bank harus mencicil bulanan, jika PE nggak. PE hanya mengharap laba waktu sahamnya dijual ke pihak lain.
Makanya, kebanyakan orang berhubungan dengan PE bila sudah tidak bisa pinjam ke bank lagi. Ekuitas yang dimiliki perusahaan sudah mentok. Sudah tidak punya kolateral untuk pinjam ke bank. Kalau bahasa orang keuangan, debt to equity ratio sudah nggak memungkinkan untuk pinjam ke bank. Ingat, tidak ada bank yang mau kasih pinjaman bila tidak ada kolateral. Ini normalnya. Ada beberapa bank yang bisa kasih pinjaman tanpa kolateral, namun sudah pasti hanya ke nasabah korporat yang sudah lama dikenal, dan biasanya bunganya juga jauh lebih tinggi.
Siapakah yg paling cocok buat menggandeng PE:
- Perusahaan yang akan ekspansi dan yakin punya bisnis bagus kedepan tapi nggak punya modal pertumbuhan dan sudah sulit pinjam ke bank karena debt to equity ratio sudah terlalu tinggi. Aset yang ada sudah dileverage (SUDAH DISEKOLAKAN) terlalu tinggi sehingga butuh investor (capital partner) yang bisa menambahkan modal untuk pertumbuhan usaha karena memang ada peluang menarik yang akan digarap. Dalam situasi ini cocok dan penting untuk mengajak PE agar mau investasi dan kongsi di bisnis Bapak/ibu.
- Perusahaan yang akan go public pada 2-4 tahun kedepan. agar nilai buku menjadi lebih baik dan kondisi permodalan tampak lebih kuat, anda gandeng PE untuk invest di perusahaan anda. nanti ia akan exit keluar dari perusahaan anda saat IPO dengan menjual saham dia ke investor publik di bursa
- Untuk membeli perusahaan millik pihak lain. Misalnya ada eksekutif yang tahu bahwa ada perusahaan bagus milik pihak lain yang sahamnya akan dijual tapi dia nggak punya uang untuk membeli atau mengakuisisinya. Dalam kondisi itu, ajaklah PE untuk invest bersama dan Anda yang menjadi operatornya karena Anda yang tahu cara kerja dan operasional bisnisnya sehari-hari. PE bisa menjadi pemegang saham sementara, setelah itu saham dia bisa bapak akuisisi
- Untuk membeli saham perusahaan dimana tempat anda bekerja yang mungkin pemilik(bos) sudah tua/capek/bosan bisnis/mau pensiun . Kalau Anda sebagai CEO atau eksekutif tahu bahwa perusahaan dimana ia bekerja akan dijual, maka anda punya cara untuk membelinya,.Terutama kalau anda yakin bahwa bisnisnya bagus dan ia bisa menyelamatkannya. Caranya, silahkan ajak PE untuk invest dan membelinya, dan anda akan menjadi salah satu pmegang saham penting. Saya punya beberapa kawan yang menjalankan pola ini dan sukses besar. Dulu CEO di perusahaan itu tapi tiba2 owner mau jual;al perusahaannya, akhirnya si CEO tadi cari pemodal untuk beli perusahaan itu.
Nah perusahaan PE itu biasanya invest untuk waktu yang tidak lama. Durasi hanya 3-7 tahun. Setelah itu ia keluar atau exit. Cara exit bermacam-macam. Bisa menjual sahamnya melalui bursa atau go public, bisa menjual saham ke pemegang saham lain yang mayoritas. Tapi bisa juga melalui trade sale, yakni ia menjual ke berbagai investor besar yaitu group besar yang minat di bisnis itu. Misalnya PE invest di bisnis TI lalu exit, maka ia akan tawarkan ke ACER, IBM, Microsoft, dll, untuk membeli sahamnya. Istilahnya, menjual ke investor strategis, bukan ke investor keuangan. Tapi menjual ke sesama investor keuangan juga mungkin.
Nah bagaimana di Indonesia? Di Indonesia semakin banyak perusahaan private equity yang aktif walaupun mereka tidak punya kantor khusus di Indonesia namun mereka menunjuk orang tertentu menjadi wakilnya di Indonesia. Mereka ada yang dari Jepang, Hongkong, Singapore, Timur Tengah, Eropa dan Malaysia. Tak kurang dari 30-an investor PE di Indonesia. Hanya saja mereka memang bekerja dengan silent dan bekerja berdasarkan trust. 30 perusahaan PE itu punua fokus investasi dan sstrategi investasi yang berbeda-beda dari sisi besaran per investasi hingga sektor yang ia pilih.
Ingat cara kerja private equity itu sangat silent, diam-diam, nggak mau banyak ngomong. Namanya juga private. Mereka memang selektif dalam memilih perusahaan yang akan diinvestasi, namun mereka juga harus investasi karena kalau nggak menyalurkan duitnya untuk diinvestasikan, mereka juga akan ditanya dan ditabok oleh lembaga yang memercayakan uang untuk diputar. Kalau Anda sudah dipercaya untuk memutar uang tapi kok anda nggak dapat tempat yang ditaruh uang berarti anda bodoh. Anda nggak punya teman atau anda nggak bisa cari teman. Padahal sebegitu banyaknya perusahaan di Indonesia yang butuh funding, dengan manajemen yang terpercaya dan prospeknya bagus.
Perusahaan private equity itu SANGAT JARANG mau atau umumnya tidak mau diajak investasi di perusahaan baru. Intinya mereka itu berkongsi menggunakan pengusaha yang terbukti sanggup mengelola bisnis, bukan baru rencana2 doang. Mereka umumnya hanya mau invest pada perusahaan yang telah eksis menggunakan omset mencukupi tetapi butuh tambahan modal agar sanggup tumbuh cepat. Atau mau pula invest di perusahaan mengagumkan namun sedang sakit akan tetapi ada peluang untuk diperbaiki. Banyak banget investor yg meminati Indonesia. Tapi memang butuh cara khusus mendekati mereka lantaran mereka memang sangat private & hanya mau berhubungan dengan orang yg mampu mereka percaya.
Dana yang ditempat di satu perusahaan oleh private equity sangat berbeda-beda. Ada yang maunya diatas USD 100 juta dollar, ada yg hanya mau range USD 50-100 juta dollar, terdapat yg mau berdasarkan size USD lima juta. Bahkan ada yg mainnya pada nomor USD 1-lima juta per investment. Masing-masing punya mandat dan strategi sendiri.
Bila Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yg butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling cocok untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor rekanan saya:
- Perusahaan bidang manufacturing, khususnya yg punya brand sendiri
- Perusahaan bidang chemical (speciality chemical, produksi dan distribusi)
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahan
- Perusahaan manajemen hotel
- Perusahaan farmasi
- Perusahaan bidang jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan pengolah limbah dan sejenisnya
- Perusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan jasa outsourcing skala besar
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Namun perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yg skalanya sudah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Silahhkan hubungi aku bila perusahaan Bapak/Ibu butuh investor untuk pengembangan usaha.
Semoga usaha bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
wingdarmadi@gmail.Com
HP : 081 384 160 988
Info krusial lainnya :
Cari Perusahaan Besar Untuk Diakuisisi
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Perlunya Me-Refinancing Hutang Korporasi Yang Bunganya Kemahalan
Kinerja Penjualan 2016 Tumbuh, Anabatic Perkuat Layanan Core Banking dan Beberapa Lini Layanan Baru

Meski secara generik perekonomian dan bisnis sedang melambat, perusahaan emiten TI terintegrasi PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) berhasil menaikkan kinerja penjualannya pada Semester I 2016 ini, yakni tercatat telah sebesar Rp 1,81 triliun. Dus, naik relatif akbar dibanding penjualan periode sama tahun sebelumnya yg Rp 1,48 triliun.
Laporan keuangan perseroan mengungkapkan beban utama naik sebagai Rp 1,55 triliun dari beban utama tahun sebelumnya yg Rp 1,25 triliun & laba kotor naik sebagai Rp 252,93 miliar berdasarkan laba kotor periode sama tahun sebelumnya yg Rp 233,26 miliar. Adapun beban usaha naik menjadi Rp 189,69 miliar. Laba usaha turun sedikit menjadi Rp 63,24 miliar dibandingkan keuntungan usaha periode sama tahun sebelumnya yang Rp 64,33 miliar. Laba bersih tahun berjalan mencapai Rp 29,68 miliar naik menurut laba bersih tahun berjalan periode sebelumnya yang Rp 21,81 miliar.
Dalam lima tahun terakhir kinerja PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) memang mengalami pertumbuhan usaha yg cukup pesat. Anabatic kini sudah masuk pada Big Five class perusahan TI pada Indonesia. Secara total, jumlah karyawan Anabatic Group mendekati 1.500 orang.
Anabatic mempunyai empat unit usaha utama, yakni sistem integration, value added distribution, IT outsourcing, & business process outsourcing. Di usaha sistemintegrasi, Anabatic dikenal sebagai keliru satu pemain besar dalam penyediaan & implementasi aplikasi inti di dunia perbankan (core banking system). Sudah poly bank besar di Indonesia yang menggunakan solusi pelaksanaan Anabatic, baik buat core banking system juga modul-modul aplikasi pendukung. Selama ini Anabatic dikenal sebagai pemain akbar di bidang layanan pengembangan aplikasi & implementasi sistem core banking.
Untuk memperkuat pelayanan terhadap sektor perbankan dimana keamanan sistem merupakan hal kritikal, Anabatic Group juga sudah menyediakan jasa cyber security yang dikelola di bawah PT Q2 Technologies. Sedangkan divisi business process oursourcing, dijalankan anak usaha Anabatic, PT Karyaputra Suryagemilang (KPSG). Beberapa jasa yang disediakan KPSG antara lain outsourcing untuk contact center, call center, human resources services, IT managed services, digital marketing, payroll processing, dan telemarketing.
Saat ini Anabatic juga melakukan pengembangan ke cloud, datacenter dan ecommerce. Kemudian, di bisnis distributor hardware TI, Anabatic Group memiliki anak usaha PT Computrade Technologies International (CTI) yang saat ini dipercaya mendistribusikan sederet merek global, seperti IBM, Microsoft, Oracle, Sun Microsystem, HP, EMC, dan Huawei.
PT Tridaya Eramina Bahari, Rising Star Seafood Exporter From Jakarta

Global seafood market is very interisting for some Indonesian businessman. One among Indonesian company that now intens to develop international market is PT Tridaya Eramina Bahari, which is one of Indonesian fishery exporters. Tridaya, the company was founded by Dayat Suntoro. Currently Tridaya able to export at least 7 containers monthly. Fish products that are exported not only the type of sea fish, but also certain fish from aquaculture, particularly catfish.
Before starting up his own businesses, Dayat had worked for a Japanese entrepreneur for 5 years, from 1988 to 1992. From there he learned entrepreneurship. Dayat father has already preparing him to become entrepreneurs. Then, in 1994 he decided to build their own business, under the name of PT Tridaya Eramina Bahari. Capitalized by the trust from his acquaintance, then he got a buyer from Japan.
In 1998, when financial crisis hit Indonesian economy, it gives some bless to some exporters like Tridaya. The value of the dollar high rise, so it increased profits for exporters. Therefore Dayat then opened an news office in Jakarta. Currently, in addition to have an office in Jakarta, Tridaya has also had a fish processing factory in Bitung, Manado.
Besides exporting seafood product, now Tridaya also has begun export the types of farmed fish. "We also cultivate catfish," said Dayat. Tridaya have a flagship product of tuna, marlin, skip jack, swordfish, selfish, wahoo. The fish was exported in various forms. There are forms full body of fish, or fillet, fish loin or split 4 clean, cube, steak, souk or cubes. "It depends on customer demand," he said.
The varied sea fish are not captured by Tridaya itself, but Tridaya buy from local fish merchants, from Jakarta, Bali, Ambon, Bitung. Dayat control 30-40 merchants. Now, Tridaya able to export the average of up to 7 containers a month. The company employs 70 people.
Dayat said, the export market is very good. Most of his buyers are from Europe. "We export to France, Portugal, Germany, and Netherlands. There are also to Asian countries such as Thailand and Vietnam," Dayat said. Now he continues to add his export capacity in order to can serve all order from his customers.
Kinerja BTN 2016, Laba Tumbuh 25,40% Pada Semester I
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan kinerja keuangan semester I 2016 dengan peningkatan laba bersih sebesar 25,40% menjadi Rp1,042 Triliun dari Rp 850 Milyar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional BTN, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp3,696 Triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp584 Milyar.
Pendapatan bunga bersih ini tumbuh 15,71% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,194 Triliun. Sementara pendapatan operasional lainnya tumbuh 12,56% dari tahun 2015 yang sebesar Rp519 Milyar. BTN mencapai hasil kinerja semester I 2016 yang positif. Demikian Maryono Direktur Utama BTN menjelaskan usai paparan kinerja BTN semester I 2016 di Jakarta, Senin 25 Juli 2016.
Maryono menambahkan BTN masih menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan di Indonesia dengan pangsa pasar 31%. Kredit yang disalurkan BTN selama semester I 2016 tumbuh 18,39% dari Rp126,125 Triliun pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp149,316 Triliun. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh penyaluran kredit ke sektor perumahan sebesar Rp135,745 Triliun yang tumbuh 20,23% dari tahun sebelumnya sebesar Rp112,903 Triliun. Kredit non perumahan sebesar Rp13,571 Triliun atau tumbuh 2,64% dari tahun 2015 yang sebesar Rp13,223 Triliun.
Kredit ke sektor perumahan disalurkan untuk mendukung kredit perumahan subsidi dan kredit perumahan non subsidi. Kredit subsidi mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi sebesar Rp49,804 Triliun atau tumbuh 31,18% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp38,011 Triliun. Sementara kredit non subsidi tercatat tumbuh 14,88% dari sebesar Rp49,755 Triliun pada tahun 2015 menjadi Rp57,158 Triliun pada semester I tahun 2016.
Sementara itu Bank BTN mencatatkan Dana pihak ketiga meningkat 17,29% menjadi Rp134,555 Triliun pada akhir Juni 2016. Sementara posisi tahun 2015 Dana Pihak Ketiga BTN tercatat sebesar Rp114,749 Triliun. Dan Bank BTN berhasil meningkatkan Asset menjadi Rp.189,513 Triliun atau tumbuh 21,52% dari posisi Asset tahun 2015 yang sebesar Rp155,952 Triliun.
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sementara tren industry menunjukkan NPL yang terus naik, rasio kredit bermasalah (NPL) BTN turun dari 4,70% pada tahun 2015 menjadi 3,41% pada tahun 2016. BTN secara proaktif mempertahankan posisi likuiditas dan basis permodalan yang solid. Pada semester I 2016 rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,07%.
Fokus core business
Bank BTN tetap konsisten terhadap core business-nya dalam bidang pembiayaan perumahan. Kinerja Perseroan semester I 2016 masih menunjukkan konsistensi Bank BTN pada bisnis utamanya tersebut. Ini dapat dilihat dari porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan komposisi 90,91% atau sebesar Rp135,745 Triliun dari total kredit yang disalurkan Perseroan selama semester I 2016 sebesar Rp149,316 Triliun. Sementara sisanya yang sebesar 9,09 atau sebesar Rp13,571 Triliun disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan.
Bank BTN masih menguasai pasar pembiayaan perumahan di Indonesia. Pangsa pasar Bank BTN tercatat 31,72% masih berada diatas BCA (17,3%), BNI (10,1%), Mandiri (8,9%), BRI (4,7%), Niaga (6,7%) sementara sisanya sekitar 20,7% dikuasai oleh bank-bank lain. Kami masih menguasai pasar perumahan di Indonesia dan posisi ini akan kami pertahankan dan terus diupayakan peningkatannya, tegas Maryono.
Hingga Semester I 2016 pencapaian program sejuta rumah telah mencapai sebesar 400.982 unit dengan rincian KPR sebanyak 100.175 unit dan dukungan konstruksi sebanyak 300.807 unit. Adapun jumlah kredit yanng telah disalurkan BTN adalah sebesar Rp42,063 Triliun.
Ingin berperan dalam Tax Amnesy
Dalam rangka mensukseskan Tax Amnesty, BTN secara aktif akan menerbitkan sejumlah instrumen untuk menampung dana repatriasi yang masuk, antara lain berupa EBA dengan target penerbitan mencapai Rp 10 Triliun. Penerbitan EBA tersebut adalah salah satu usaha perseroan untuk dapat ikut serta menyerap dana repatriasi yang akan masuk.
Selain EBA, Bank BTN juga menyiapkan instrument investasi lain untuk menampung dana tax amnesty. Dari mulai simpanan biasa seperti tabungan, deposito dan giro. Kemudian juga instrument investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi, negotiable certificate of deposit (NCD) dan medium term notes (MTN).
Maryono mengungkapkan dana repatriasi yang dibidik BTN mencapai Rp50 Triliun dari kebijakan amnesti pajak yang akan difokuskan pada penyaluran ke sektor riil atau sesuai dengan core business BTN. Dana ini akan sangat membantu dalam menyukseskan program sejuta rumah yang dilakukan pemerintah.
Untuk penyaluran dana tax amnesty tersebut sudah disiapkan BTN secara matang. Ini dimaksudkan agar dana tax amnesty yang masuk ke BTN bisa segera disalurkan seperti melakukan relaksasi pemberian kredit kepada pengembang yang akan membeli tanah untuk dibangun proyek rumah bersubsidi. Kelonggaran dari BTN tersebut bakal menjadi modal yang baik bagi pengembang dalam program pembangunan perumahan. Hal ini dikarenakan tanah adalah komponen biaya yang besar dalam proyek pembangunan rumah.
Bisnis syariah terus tumbuh
Syariah Bank BTN saat ini masih berstatus UUS (unit usaha syariah). Meskipun demikian UUS Bank BTN sangat terkelola dengan baik. Ini dapat terlihat dari kinerjanya pada semester I 2016 dengan Asset tercatat sebesar Rp15,803 Triliun atau tumbuh 33,59% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp11,829 Triliun. Penghimpunan dana UUS Bank BTN juga meningkat dari Rp9,232 Triliun pada tahun 2015 menjadi Rp12,991 Triliun atau meningkat 40,72%.
Sementara untuk pembiayaan UUS Bank BTN tercatat sebesar Rp12,443 Triliun atau tumbuh 22,29% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,174 Triliun. UUS Bank BTN telah mencatatkan keuntungan sebesar Rp151,30 Milyar. Keuntungan ini tumbuh 15,67% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp130,80 Milyar.
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Di-update pada 21 April 2020
Pebisnis di era sekarang keberadaan mitra investor memang semakin diperlukan untuk kepentingan pengembangan usaha. Namun sayang banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya banyak investor asing ingin masuk ke Indonesia dan bisa digandeng. Mereka ingin masuk dan mengembangkan bisnisnya di Indonesia serta MENCARI MITRA KONGSI dengan perusahaan-perusahaan terpercaya di Indonesia. Para investor itu melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang prospek pertumbuhannya sangat bagus kedepan. Jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang, income perkapita makin naik, sumber daya alam melimpah, dan alasan lain.
Para investor itu dituntut untuk memutar dan menanamkan modalnya di negara yang potensinya besar seperti di Indonesia. Di negara asalnya, seperti jepang misalnya, pertumbuhan sudah sangat sulit. Tingkat pertumbuhan ekonomi sudah flat. Disana bunga deposito bahkan dibawah 3% setahun. Sebab itu mereka mencari negara lain yang potensinya besar dan untuk itu mencari mitra2 lokal yang credible, bisa dipercaya, dan bisa diajak mengembangkan bisnis. Umumnya mereka lebih suka menggandeng pemain lokal yang sudah pengalaman di bisnisnya, lalu bikin kongsi. Kongsi itu bisa dengan akuisisi perusahaan besar yang sudah ada, bisa juga dirikan sebuah usaha baru secara bersama.

Nah, terdapat dua jenis investor asing yg mampu diajak. Investor strategis & investor financial. Lihat disparitas diantara keduanya pada tulisan saya yg lain yg sanggup menjelaskan hal itu.
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal buat kongsi usaha
By the way, kalau perusahaan Bapak/Ibu butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling pas untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya.
Selain itu, saya juga punya relasi investor strategis dari luar negeri yang sekarang sedang akan mengembangkan bisnis di Indonesia. Berikut ini sektor bisnis yang paling diminati relasi saya:
Perlu dicatat, investor asing pada umumnya tidak mau melakukan joint venture dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang baru mulai. Omset minimal Rp 200 miliar. Mereka perusahaan besar sehingga mindset bisnisnya juga skala besar. Mereka sudah jauh-jauh ke Indonesia tentu ingin yang skala bisnisnya cukup.
Skema investasinya, umumnya relasi aku ingin masuk pada bentuk kerjasama joint venture pada perusahaan yang bisnisnya telah jalan, bukan create baru berdasarkan nol.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor rekanan aku :
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Namun perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yang skalanya sudah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. TIDAK BERMINAT BERINVESTASI DI PERUSAHAAN UKM ATAU ATAU MAU MULAI ATAU BARU RENCANA BISNIS. Mohon dimengerti.
Bila perusaahaan Bapak/Ibu adalah perusahaan swasta yang omsetnya sudah diatas Rp 200 miliar dan sedang membutuhkan investor, saya siap bantu sinergikan dengan investor. Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
HP : 081 384 160 988
wingdarmadi@gmail.Com
Artikel terkait klik link berikut:
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal buat kongsi usaha
Kiat Ramdani Basri Besarkan Perusahaan Infrastruktur

Dimulai dari sebuah kantor kecil dan seorang sekertaris, kini pria ini mengelola bisnis infrastruktur beraset diatas Rp 3,5 triliun dengan 20-an anak usaha. Visi, strategi dan gaya kepemimpinan menjadi kunci suksesnya.
Sudah menjadi rahasia umum, bila berbicara soal pelaku pasar modal biasanya orang akan langsung terasosiasi dengan sosok pebisnis yang spekulatif. Mereka biasanya tak akan lama menggengam sebuah aset karena begitu melihat ada peluang meraih untung (capital gain) segera akan dijual. Sosok demikian itu berbeda dengan pebisnis bermental industriawan yang biasanya ketika memilih sebuah bidang bisnis, maka ia akan menggeluti, merawat dan membesarkannya dengan sabar, tak mudah tergoda untuk menjual asetnya meski peluang untung besar di depan mata.
Muhammad Ramdani Basri, tampaknya merupakan sosok anomali. Meski berlatarbelakang dunia pasar modal, ia justru membuktikan diri sebagai seorang industriawan tulen, khususnya di bisnis infrastruktur yang digeluti. Setidaknya itu tampaknya dari apa yang dilakukannya dalam membesarkan perusahaan publik, PT Nusantara Infrastructire Tbk (NI), yang kini menjadi pemain swasta besar di bidangnya, dengan total aset tak kurang dari Rp 3,5 triliun. "Cita-cita saya ingin membangun infratruktur untuk masyarakat tanpa satu rupiah pun menggunakan dana APBN, baik itu jalan tol, air bersih, pelabuhan, pembangkit listrik dan sebagainya," jelas Ramdani seraya menunjuk struktur organisasi NI yang sekarang sudah punya 17 anak perusahaan bidang infrasrtktur.
Kisah bisnis Ramdani di bisnis infra dimulai tahun 2005 saat ia bertemu Group Bosowa yang punya dua aset jalan tol dan meminta supaya aset tersebut diolah (direvitalisasi). Dua aset jalan tol itu, yang satu berada di Makasar, dan satunya lagi di wilayah BSD, Tangerang. "Dua aset itu dua-duanya dalam kondisi batuk-batuk. Kesulitan keuangan karena punya hutang besar dan suli bayar bunga. Pokoknya batuk-batuk, nyaris menjadi aset yang mati," katanya mengenang. Saat pertemuan itu ia sanggupi untuk mencoba memaksimalkan aset tersebut, namun ia meyakinkan bahwa hal itu hanya bisa dilakukan melalui pasar modal karena bisnis infra butuh modal yang sangat besar.
Ramdani sendiri tak asing dengan pasar modal. Sebelumnya ia sudah berkecimpung di pasar modal dan biasa menangani kasus-kasus merger dan akusisi perusahaan perminyakan, tambang dan manufaktur. Ia juga pernah mnenjadi CEO perusahaan sekuritas, PT Asiana Securities. Pun pernah menjadi CEO PT Asiana Multi Kreasi Tbk dan melakukan turn around perusahaan produsen boneka itu dari yang awalnya punya ekuitas negatif menjadi positif sebelum akhirnya dijual ke pihak lain.
Pada intinya, ajakan memanfaatkan dua aset itu disetujui. Ramdani lalu mulai bekerja, hanya ditemani seorang akuntan dan office boy. "Kantor saya saat itu kotakan kecil, kursinya pun saya bawa dari rumah," ungkap Ramdani yang kelahiran Jakarta, 9 Maret 1961 ini. Ia segera bekerja melakulan restruktrisasi. Dua aset jalan tol itu kemudian dia rangkum menjadi satu (merger), dibuatkan holding baru bernama PT Nusantara Konstruksi Indonesia (NKI). Dia lalu mencari perusahaan publik beraset kecil sebagai kendaraan masuk ke bursa yang kemudian didapat PT Metamultimedia Tbk, perusahaan publik bidang TI.
"NKI itu kemudian saya gabung (merger) dengan cara backdoor listing dengan PT Metamultimedia Tbk sebagai performing asset. Setelah digabung, nama PT Metamultimedia saya ganti menjadi PT Nusantara Infrastructure Tbk hingga sekarang. Jadi Nusantara Infrastructure saat itu langsung punya dua aset tol tadi," kenang Ramdani. Pada tahun itu pula Ramdani segera melakukan restrukturisasi hutang dua jalan tol itu, ke Bank Mandiri dan Bank Artha Graha. Pinjaman akhirnya berhasil direstrukturisasi sehingga menjadi hutang lancar dan bisnis berjalan normal kembali.
Sejak itu NI terus tancap gas menggelar bisnisnya dan menggenjot pertumbuhan bisnisnya. Tahun 2008, dalam kondisi keuangan yang masih tertatih-tatih, NI mengakuisisi sebuah jalan tol di Makassar, ruas Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) , sehingga mejadi punya aset tiga jalan tol ( dua di Makasar dan satu di Tangerang). Tol JTSE merupakan satu-satu tol bisa diresmikan Presiden RI (2009) selama era infrstruktur summit. Pada tahun-tahun berikutnya gebrakan NI makin menjadi-jadi.
Pada 2011, misalnya, NI mulai masuk bisnis infra di luar jalan tol, yakni dengan mengakuisisi perusahaan pelabuhan di Lampung. Pelabuhan yang diakusisi bukan pelabuhan umum (general port) namun pelabuhan yang khusus (dedicated) untuk bongkar-muat komoditas CPO. Dalam proyek investasi pelabuhan CPO, NI menggandeng investor global Louis Dreyfus Group, raksasa bisnis komoditi di dunia.
Ekspansi terus belanjut. Antara lain dengan masuk di bisnis penyediaan air besih untuk publik. Saat ini NI sudah punya dua lokasi pengolahan, yakni di Cikokol Tangerang dan Sumatera Utara. Juga masuk di bisnis energi dngan memiliki pembangkit listrik mini hidro (dibawah 10 MW). Dan pada Desember 2013 Desember lalu NI juga mengakuisisi perusahaan tower BTS yang punya sekitar 400 tower. "Sekarang ini group kita sudah punya 17 anak perusahaan infrastrktur," tunjuk Ramdani.
Masing-masing bisnis dikelola subholding yang mengelola semua anak usaha dalam bidang yang sama. Misalnya di bisnis jalan tol, dikelola subholding anak usaha NI bernama PT Margautama Nusantara (MUN). Saat ini MUN mengelola empat ruas jalan tol, yakni ruas tol Bintaro Serpong Damai (BSD) Jakarta, Bosowa Marga Nusantara (BMN), ruas Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) Makassar, serta ruas tol Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB) Jakarta.
Tak salah, berdasarkan praktek yang sudah dilakukan sejauh ini, tampak sekali NI menggunakan pola pertumbuhan unorganik, mengandalkan strategi akuisisi. Pertanyaannya, darimana dana untuk akuisisi itu? "Sumber dana akusisi beragam. Bisa dari pinjaman bank, bisa dari mitra investor, dari pasar modal, ada juga yang dari sumber internal kita," sebut Ramdani. Pada tahap pertama, sampai dengan tahun 2010, NI menggunakan pola melakukan leverage hutang. Contohnya, hutang di dua jalan tol di awal, direnegoasiasi menjadi hutang lancar dan dari situ bisa menjadi aset untuk meminjam lagi.
Namun yang juga sangat penting, NI mengandalkan sumberdana dari investor yang digandeng. "Kita nggak mungkin bangun infrastruktur sendirian, harus ramai-ramai. Kebutuhan investasi dan modal pasti sangat besar," ungkap Ramdani. Ia menyontohkan investasi sebuah ruas jalan tol bisa mencapai Rp 10 triliun karena saat ini investasi jalan tol per kilometer membutuhkan modal sekitar Rp 80 miliar. Sedangkan kalau jenis tol yang diatas (elevated) malahan butuh investasi per kilometer Rp 200 miliar. Pun bisnis pelabuhan, nilainya juga pasti triliunan.
Tak heran, kalau Ramdani banyak melibatkan investor dalam menggarap bisnis ini. Mereka ada yang investasi di perusahaan holding NI, subholding, maupun di level proyek (anak usaha). Beberapa investor yang bisa disebut antara lain Providence Capital, CapAsia, Louis Dreyfuss, dan Rajawali Group. Kecenderungannya kedepan tidak akan ada pemegang saham mayoritas tunggal (single majority) karena investasi terus akan dilakukan.
Ramdani mengilasbalik, NI mulai menggandeng investor strategis sejak 2010. Saat itu jumlah hutang perusahaan sudah sedemikian besar sehingga terpaksa melakukan corporate action dengan cara right issue (menerbitkan saham baru). Total dana yang diperoleh saat itu (termasuk warrant) ialah Rp 1 triliun. "Saat itulah kita undang financial investor untuk beli saham tersebut sehingga pemegang sahamnya tambah dan si financial investor menjadi pemegang saham mayoritas," sebut Ramdani. Tiga bulan kemudian financial investor tersebut menjual sebagain sahamnya, salah satunya ke Rajawali Group yang kini menguasai 21% saham NI.
Kini, setelah skala bisnis dan organisasi NI makin membesar, Ramdani lebih fokus pada pekerjaan strategi dan kebijakan. Kegiatan komersial harian sudah dijalankan COO, Danny Hasan. Danny Hasan sendiri bergabung ke NI setahun setelah Ramdani. "Waktu itu Pak Danny agak takut bergabung karena perusahaan masih berdarah-darah, keuangannya belum solid. Tapi saya yakinkan bahwa restrukturisasi bukan untuk jangka pendek, jadi masa depan akan aman," kenang co-founder NI ini. Kini, dalam setiap membuat keputusan investasi, Ramdani selalu mengajak timnya untuk bersama memutuskan. Tim tersebut tergabung dalam komite investasi yang anggotanya Ramdani sendiri, Danny Hasan, Ridwan Irawan dan Scout Younger.
Harus diakui, membesarnya NI jelas tak lepas dari sentuhan kepemimpin Ramdani selalu sosok yang sejak awal terlibat aktif mengomandani perusahaan publik ini. “Pak Ramdani itu sosok yang kreatif dan banyak akal dalam mengelola bisnis,” kesan Darjoto Setiawan, eksekutif senior Group Rajawali yang ditempatkan di NI sebagai Presiden Komisaris. Pernyataan Darjoto tentu saja akurat karena dalam beberapa tahun terakhir Darjoto biasa berhubungan dengan Ramdani.
Dalam hal ini Ramdani menggunakan gaya kepemimpinan tersendiri ketika mengelola tim NI. Ia sedemikian meyakini pentingnya pendelegasian otoritas dan mempercayai anak buah. "Kalau kita ingin bisnis dan organisasi menjadi besar, pimpinan tak mungkin mengurusi pernik kecil. Harus didelegasikan ke orang lain yang kompeten dan kita percaya. Dan kalau kita sudah delegasi, kita harus kasih dia mandat penuh dan percaya bahwa dia akan bisa. Jangan sampai sebagai pimpinan kita sok pinter dan banyak intervensi," Ramdani menjelaskan gaya kepemimpinannya.
Tampak sekali NI bisa besar karena proses delegasi otoritas yang berjalan baik dan pimpinan mempercayai anak buah. Tim-tim dibawah direksi diberi kewenengan untuk mengusulkan berbagai ide pengembangan bisnis baru dan mengeksekusinya tanpa intervensi. Bila ada ide pembentukan usaha baru, ditampung dan diputuskan dalam Komite Investasi. Pengelolaannya secara teknis diserahkan ke tim (anak buah) yang sudah dipercaya. "Anak buah kita yang ada di lapangan. Mereka lebih tahu sehingga usulan pengembangan dari mereka kita jalankan. Itulah pentingnya merekrut anak buah yang baik agar masukannya juga baik," ungkapnya. Hanya Ramdani juga tetap mewanti-wanti agar anak buahnya berhati-hati dan cermat dalam melakukan perhitungan. Pasalnya, di bisnis infra, bila salah perhitungan, langsung akan merusak neraca bisnis karena investasinya besar.
Ramdani lebih suka memperlakukan anak buah sebagai intrapreneur (usahawan), bukan semata- mata karyawan. Para manajer dia tantang untuk berpikir dan mengelola unit usaha yang menjadi tanggung jawabnya bagaikan bayi yang harus dirawat dan dibesarkan. "Saya bilang ke mereka, ‘saya percayakan proyek ini ke you 100%. Silahkan you kembangkan! Kalau you bisa, akan mendapat uang yang berbeda dengan skema karyawan biasa’. Saya ajak mereka berpikir sebagai usahawan," tutur Ramdani yang terus mengajak karyawannya berpikir 20 tahun kedepan.
Mengelola bisnis infra seperti dijalankan NI, menurut Ramdani, membutuhkan pendekatan dan tipologi karyawan yang berbeda. Dan menurut pengalamannya, akan sulit dikerjakan karyawan yang pola kerjanya jam 5 sore sudah ingin pulang kantor. "Bisnis merger and acquisition nggak mungkin dikerjakan tipe karyawan demikian. Harus yang mau kerja keras, terkadang harus menginap di kantor," sebutnya. Dengan kata lain, salah satu yang membuat sukses, Ramdani memilih tim yang punya semangat perjuangan yang militan.
Dalam memilih karyawan, Ramdani lebih mementingkan pengalaman. "Sekolah itu perlu, tapi jam terbang lebih penting," ujar peraih gelar Master of Science dari Monash University, Melbourne, Australia ini. Ia menganalogikan dengan dokter yang lulusan kuliah tinggi namun minim praktek dibanding dokter biasa namun sering terlibat di kamar bedah, tentu kualitasnya akan lebih bagus yang sudah biasa berpraktek. Ia juga menunjuk contoh anak buahnya yang bekerja di bagian TI, hanya lulusan STM di Makasar, namun bisa membuat program software yang sangat ekselen hingga membuat relasi dari Jepang geleng-geleng kepala melihat kemampuan karyawan itu.
Sebab itu Ramdani selalu mendorong anak buahnya untuk mempertajam pengalaman dengan makin banyak terlibat dalam pengerjaan proyek. Tak heran Ramdani juga lebih suka mendidik karyawannya dengan cara on the job training, bukan sekolah formal. Ia percaya karyawan akan berkembang baik bila biasa menghadapi masalah dan kreatif membuat solusi-solusi dari pemasalahan yang dihadapi. Di lain sisi, ia juga menyemangati timnya bahwa sejatinya tantangan yang mereka hadapi kini jauh lebih mudah dibanding era dirinya karena manajemen MI sudah memberikan fasilitas lengkap untuk menghasilkan karya. Kalangan mitra juga sudah sangat percaya dengan kiprah NI (bank, investor, dan mitra).
Ramdani teringat dulu sewaktu krisis harus menyelamatkan perusahaan yang benar- benar mengalami kesulitan. Untuk bisa mengentaskannya dari masalah, Ramdani harus membaut coretan simulasi penyelamatan yang jumlah mencapai ratusan skenario. "Kalau skenario ini maka resikonya begini. Namun dari situ saya belajar banyak dan berusaha kreatif. Kreatifitas itu harus diasah dari pengalaman, tidak bisa dari sekolah," pesan Ramdani. Dalam hal ini Ramdani selalu mendorong timnya agar bisa menciptakan ide-ide bisnis yang tidak ada dalam teori-teori yang sudah ada.
Kepada para pemimpin-pemimpin muda di perushaannnya, Ramdani selalu mengingatkan bahwa pada prinsipnya manusia semua sudah punya garis tangan (takdir) masing-masing. Namun di lain sisi juga harus meyakini bila melakukan hal yang baik maka hasilnya juga akan baik. 'Tugas kita melakukan sesuatu sebaik mungkin dan yakin bakal berhasil dengan kreatifitas yang terus kita bangun. Kita harus yakin itu. Kalau nggak yakin jangan jadi pemimpin," Ramdani mengulang pesan yang biasa ia sanpaikan.
Kreatifitas, bagi Ramdani, sangat penting untuk menyikapi masalah yang ada. "Coba kita ingat tahun 2008. Waktu itu aset kita hanya Rp 250 miliar, namun kita akan mengakuisisi perusahaan lain yang total asetnya Rp 2,7 triliun. Bagaimana ini bisa dan darimana uangnya? Tapi kita harus yakin itu bisa dan cari jalan, dengan mengombinasikan semua instrumen yang ada. Buktinya bisa," Ramdani memberikan contoh.
Setelah berhasil membawa biduk yang semakin besar -- dengan jumlah karyawan 800 orang, 17 anak usaha, dan total aset Rp 3,5 triliun -- Ramdani semakin meyakini bahwa pekerjaan terpentingnya, mengelola dan membangun karakter manusia (SDM) dan budayanya agar sejalan yang dia pikirkan. Saking perhartiannya pada aspek SDM, divisi human resources di NI berada langsung dibawah Ramdani, tidak dibawah direktur lain. Persoalan SDM dan budaya biasanya juga menjadi fokus utama ketika mengakuisisi perusahaan. "Dulu kita berpikir masalah utama dalam akuisisi adalah masalah uang. Ternyata bukan, masalah SDM dan penyamaan budaya," ungkap pria yang lulus kuliah program sarjana tahun 1985 ini.
Selama ini, dalam menangani perusahaan yang diakuisi, langkah pertama yang diambil: menyamakan visi SDM dan budayanya. "Kalau berbeda kita akan susah kerja. Makanya perusahaan yang diakuisisi itu harus diupgrade dulu sehingga bisa sama dengan cara kerja kita. Baru setelah itu kita bisa ngomong rencana kerja," Ramdani melanjutkan. Biasanya, bila ada perusahaan yang diakuisi, NI melakukan mixing SDM pengelola perusahaan itu. Selain itu juga membuatkan sistem baru dan memberikan training agar perusahaan baru bisa mengikuti irama kerja NI. Termasuk gaji yang pelan-pelan harus ditingkatkan hingga menyamai level NI. Bila perusahaan yang diakuisisi ukurannya besar, biasanya NI langsung mencari orang dari luar yang punya level kompetensi lebih tinggi dari direksi yang sudah ada untuk memimpin perubahan.
Masih dari sisi SDM, untuk membangun kekompakan, tiap tahun sekali Ramdani mengumpulkan seluruh karyawan pada acara gathering yang biasanya dilakukan di luar Jakarta. "Yang terakhir kemarin kita di Bali, 750 orang karyawan, termasuk para office boy, terbang ke Bali," katanya. Di lain sisi, untuk memudahkan koordinasi, di ruang kerja Ramdani di Equity Tower juga ada ruang pantau elektronik dan real time (dilengkapi layar monitor besar) yang dari situ ia bisa memantau perkembangan semua titik proyek NI, termasuk memungkinkan melalukan telewicara dengan mitra-mitra investornya di luar negeri secara langsung.
Setelah NI berjalan sekitar 10 tahun, Ramdani merasa yakin bahwa perjalanan bisnis NI berada pada jalur yang benar. Mimpinya untuk menjadikan NI sebagai perusahaan swasta penyedia infrastruktur masayarakat yang sama sekali tak mengandalkan APBN menjadi kian nyata. Terlebih bila melihat kinerja NI yang semakin sehat. Setelah melewati masa berdarah-darah dari 2006 sampai 2010, mulai tahun buku 2011 NI sudah bisa memetik laba positif. Sejak itu pertumbuhan bisnis dan labanya makin bagus.
Tahun 2014 ini, per September, PT Nusantara Infrastructure Tbk meraih pendapatan sebesar Rp 382,31 miliar, naik dibanding pendapatan periode sama tahun sebelumnya yang Rp 220,24 miliar. Laba kotor naik menjadi Rp 271,88 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya yang Rp 145,80 miliar. Laba usaha naik menjadi Rp 156,35 miliar dari laba usaha tahun sebelumnya yang Rp 81,47 miliar. Sedangkan laba bersih tercatat Rp 80,24 miliar, naik dari laba bersih tahun sebelumnya yang Rp 33,90 miliar. Total aset NI per September 2014 mencapai Rp 3,55 triliun naik dari total aset per Desember 2013 yang Rp 2,58 triliun.
Kepercayaan kalangan pebisnis terhadap NI juga semakin kondusif. "Dulu kita cari proyek baru susah sekali, sekarang tiap hari ada saja proposal yang datang ke kita dan meminta kita masuk sebagai investor," kenang Ramdani. Demikian pula dalam kepercayaan dari kalangan perbankan. Awalnya ketika dirinya datang ke bank sering ditertawakan karena membawa proyek mimpi. Tidak punya uang namun keinginannya besar. "Jangankan untuk bertemu bos bank itu, untuk ketemu level head saja kita susah sekali. Kalau sekarang orang nomor satu di bank itu yang ingin bertemu kita," papar Ramdani. Kepercayaan publik semakin bertambah setelah kalangan investor asing dan private equity top dunia mau menanamkan modanya di NI. "Untuk bisa menggandeng mereka itu sangat tidak mudah. Proses due dilligence lama dan sangat ketat," Ramdani menceritakan pengalamannya.
Dr. Asnan Furinto, MBA, pengamat strategi korporat dan dosen Manajemen Strategis Binus University, melihat sukses NI tak lepas dari kepemimpinan Ramdani Basri yang sukses menerapkan model kepemimpinan demokratis dan bisa digolongkan pemimpin tipe coach. “Banyak hal menarik dari Pak Ramdani. Ia punya semangat mengembangkan intrapreneurship dan menghindari pendekatan micromanagement dalam mengelola organisasi. Selama ini banyak pemimpin bisnis yang melihat karyawannya hanya sebagai profesional murni. Itu pandangan klasik khas agency theory," kata Asnan. Keberanian dan cara Ramdani diyakini akan menciptakan intrapreneur-intrapreneur dalam organisasi.
Asnan hanya mengingatkan agar Ramdani jangan sampai melupakan penataan internal perusahaan. Pasalnya pertumbuhan anorganik melalu M&A bisa membawa risiko non alignment strategi antar anak perusahaan dan SBU di berbagai sektor infrastruktur (jalan tol, menara telekomunikasi, pelabuhan, energi dll). "Belum lagi unsur perbedaan budaya organisasi yang terbawa dari perusahaan yang diakuisisi NI. Semua unsur soft ini harus tetap ditata oleh NI walaupun mereka bergerak di sektor bisnis yang hard," pesan Asnan. Selain itu, pertumbuhan anorganik NI juga harus dijaga sustainabiltasnya dan jangan sampai mengorbankan pembenahan internal.
Kedepan tampaknya Ramdani terus ingin meneruskan mimpinya agar NI membangun semakin banyak infrastuktur untuk negeri tanpa bantuan anggaran negara. "Saya ingin Nusantara Infrastructure menjadi pilot project dunia swasta yang berhasil," ungkapnya. Setelah masuk di jalan tol, pelabuhan, penyediaan air bersih, tower BTS, dan pembangkit listrki, dalam waktu dekat juga akan menggarap bisnis pengelolaan bandara (airport). Toh demikian, dalam ekspansi pihaknya masih akan fokus di ceruk economic infrastructure dan belum akan menyentuh social infrastructure seperti sekolah dan rumah sakit. Ia yakin perusahaannya akan makin berkembang karena timnya sudah ditempa dengan mental industriawan yang punya kesabaran dan passion tinggi di bidang infrastruktur sehingga siap mengembangkan bisnis untuk jangka panjang.
Penulis; Sudarmadi.
wingdarmadi@gmail.com
Artikel menarik lainnya :
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat di Indonesia
Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Kinerja Hartadinata Abadi : Targetkan Jual Emas Rp 2,6 triliun
PT Hartadinata Abadi Tbk, perusahaan go public di bidang pembuat dan penyedia perhiasan emas terintegrasi Indonesia, menargetkan penjualannya tahun 2017 akan tumbuh dikisaran 20 persen dari tahun lalu sebanyak Rp2,19 triliun menjadi Rp2,62 triliun. Sedangkan laba dibutuhkan meningkat menurut Rp70,02 miliar sebagai Rp 102,95 miliar.
Perusahaan itu baru saja sukses melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Setengah dana raihan IPO digunakan untuk pembiayaan kembali sebagian dari pinjaman modal kerja. Sedangkan sisanya, sebesar 42 persen akan digunakan untuk membeli bahan baku, enam persen untuk pembelian tooling chain machine, dan dua persen untuk pembentukan dan penerapan aplikasi sistem e-commerce.
Pembelian bahan baku dari dia, dibutuhkan buat menaikkan utilisasi kapasitas produksi di empat pabrik perusahaan. Saat ini, tingkat utilisasi pabrik perseroan tercatat sebanyak 26,6 % dengan kapasitas produksi 60 kilogram (kg) per bulan.
Saat ini, pihaknya pun mengaku penekanan mendorong penjualan di pada negeri & belum mempunyai planning buat melakukan ekspor pada saat dekat. Untuk itu, pada tahun ini pihaknya akan menambah 2 toko perhiasan menggunakan segmen menengah ke atas di wilayah Jakarta & Surabaya. Saat ini, perseroan tercatat memiliki 12 toko terdiri menurut tujuh toko menggunakan segmen kelas menengah bawah, empat toko kelas menengah atas, & satu toko waralaba (franchise). "Target frenchise kami 10 toko tahun ini," ujarnya.
Total saham yg ditawarkan Hartadinata kepada publik sebesar 1.105.262.400 (satu milyar seratus 5 juta dua ratus enam puluh 2 ribu empat ratus) lembar saham yg keseluruhannya merupakan saham baru, dengan nilai nominal Rp 100 (seratus rupiah) per lembar saham. Jumlah tersebut ekuivalen dengan 24% dari jumlah modal ditempatkan & disetor HRTA selesainya IPO.
Dengan harga penawaran Rp 300 per saham, HRTA menghimpun dana dari penawaran umum saham perdana sebesar Rp 330 miliar, yang akan digunakan separuhnya untuk membayar pinjaman modal kerja dan sisanya untuk modal kerja dengan rincian 42% untuk pembelian bahan baku, 6 % untuk pembelian mesin dan 2 % untuk pembentukan dan penerapan aplikasi sistem e-commerce.
”Melalui IPO ini, kami menjadi pionir di industri manufaktur dan perdagangan perhiasan emas dalam hal keterbukaan dan transparansi yang tentunya mendukung tata kelola perusahaan yang baik. Perluasan pasar melalui penambahan jaringan toko perhiasan emas kami yang juga ditawarkan melalui sistem franchise menjadi salah satu strategi andalan perseroan untuk meraih kinerja gemilang,” papar Sandra Sunanto, Direktur Utama Hartadinata Abadi Tbk
PT Hartadinata Abadi (Hartadinata) adalah produsen dan penyedia perhiasan emas yg telah eksis lebih dari 28 tahun. Perusahaan ini memiliki usaha yang terintegrasi secara vertikal, mulai dari pabrik (manufaktur), penjualan grosir (wholesaler), & penjualan eceran (retail). Sejak berdiri sampai kini , Hartadinata sudah menjalin interaksi menggunakan lebih berdasarkan 600 toko emas pada seluruh Indonesia, memiliki 4 pabrik & beberapa toko retail sendiri.
Group LAUTAN LUAS Lakukan Merger Tiga Anak Usaha
Korporasi di bidang produksi dan distribusi bahan kimia, Group Lautan Luas, baru saja merampung proses merger 3 anak usahanya. Perusahaan yang dikendalikan famili Indrawan Masrin ini menggabungkan PT Dunia Kimia Jaya ("DKJdanquot;), PT White Oil Nusantara (?WON?) & PT Metabisulphite Nusantara (?MN?) yang semuanya merupakan anak perusahaan PT LAUTAN LUAS Tb. WON & MN resmi menggabungkan diri sebagai satu perusahaan kedalam entitas DKJ melalui proses penggabungan bisnis (merger).
Penggabungan bisnis 3 anak perusahaan tersebut efektif terhitung per lepas 1 Januari 2017. Tujuan dilakukan penggabungan usaha (merger) merupakan menjadi upaya dalam melakukan efisiensi & efektivitas bagi perusahaan.
Penggabungan anak perusahaan tersebut akan memberikan kinerja yang lebih baik pada pengelolaan keuangan, SDM, logistik, dan administrasi. Selain itu pada perencanaan lini produksi pula sebagai lebih efisien dan lebih dekat menggunakan customer karena berada pada tiga wilayah industri besar pada Indonesia yaitu Cikarang (Bekasi), Medan dan Gresik (Surabaya).
Komposisi kepemilikan Perseroan dalam DKJ sebesar 99,9%, sedangkan sisanya 0,01% dimiliki oleh Indrawan Masrin & setelah penggabungan bisnis tadi nir terjadi perubahan yang berarti.
Perbedaan financial investor dan strategic investor
Tulisan ini diupdate tgl 20 Mei 2019
Dalam dunia investasi dan permodalan bisnis, ada istilah investor finansial(financial investor) dan investor strategis (strategic investorataustrategic buyer). Dua tipe investor ini juga akan dijumpai ketika sebuah perusahaan sedang mencari mitra investor (non bank). Dua istilah itu juga akan muncul ketika seorang pemilik perusahaan sedang terpikir menjual perusahaannya, maka ia akan berhadapan dengan dua pilihan itu, apakah sebaiknya dijual ke financial investor atau ke strategic investor.
Artikel ini menyebutkan beberapa perbedaan ciri berdasarkan 2 tipe investor itu, semoga bermanfaat bagi pemilik perusahaan yang sedang mencari investor.
Financial Investor, apa itu?
Investor tipe financial investor biasanya mengacu pada beberapa contoh jenis investor seperti perusahaan-perusahaan private equity, perusahaan modal ventura (venture capital), perusahaan hedge fund, perusahaan investasi milik sebuah keluarga kaya(family offices), perusahaan sekuritas yang mengelola dana investasi, dan investor individual seperti para pribadi yang superkaya.
Biasanya, investor financial akan melakukan investasi untuk jangka sementara saja, jangka waktu 2-7 tahun, setelah itu mereka akan eksit (keluar) dengan cara menjual sahamnya di perusahaan yang ia tanami modal itu. Cara keluarnya bisa beragam, bisa dengan jual sahamnya di bursa (IPO) atau dijual ke investor lain.
Dalam melakukan analisa kelayakan investasi, finansial investor umumnya memilih untuk fokus melihat bagaimana tingkat return dari perusahaan yang ia akan tanami investasi. Yang dilihat laba dan prospek laba, sedangkan bidang bisnisnya bisa fleksible. Investor finansial, karena dibatasi si horison waktu investasi yg hanya 3 - 7 tahun saja, mereka sangat concern dengan EBITDA perusahaan dan lebih sensitif terhadap risiko siklus bisnis daripada investor strategis. Mereka selalu memikirkan strategi exit atau keluar setelah 5 tahun yang saat itu harus untung signifikan.
Investor finansial lebih hati-hati dalam meneliti laporan keuangan perusahaan. Ingat, dana yang dikelola perusahaan financial investor ini merupakan dana pihak lain. Ia yang memutar agar bisa berkembang sehingga mereka harus sangat hati-hati. Mereka akan sangat tertarik untuk mendalami arus kas (cashflow) yang dihasilkan dari perusahaan yang ditarget dan akan melihat bagaimana peluang pertumbuhan arus kas itu, dan juga peningkatan pendapatan, efisiensi biaya, atau menciptakan skala ekonomi dengan mengakuisisi perusahaan sejenis lainnya. Mereka sangat suka bisnis yang bisa dibuat besar dalam waktu cepat.
Umumnya mereka lebih senang mencari perusahaan yang dikelola menggunakan baik dengan sejarah pendapatan yg konsisten, & lebih disukai, pendapatannya yang terus tumbuh. Mereka sangat concern melihat perkiraan keuntungan perusahaan. Ketika melakukan investasi, atau membeli sebuah perusahaan umumnya mereka tetap mempertahanan tim manajemen usang setidaknya buat dua atau tga tahun selama perusahaan itu belum dijual ke pihak lain. Financial investor selalu butuh tim manajemen yang kuat yg sanggup sebagai kawan pengelolaan bisnis. Tapi ia akan cari mitra yang mampu mengelola bisnis karena ia sendiri nir ahli di bidang teknis pengelolaan usaha yang digarap.
Strategic Investor ??
Investor strategis (strategic investor) adalah jenis investor yang biasanya merupakan perusahaan yang bidang bisnisnya sama atau masih ada hubungan dengan bidang bisnis yg butuh investasi. Jadi investor strategis itu bisa juga merupakan perusahaan sejenis yang menjadi pesaing, atau perusahaan pemasok, atau bahkan perushaan yang selama ini pelanggan perusahaan Anda. Misalnya, kalau bisninya consumer good, investor strategis itu bisa Indofood Group atau OrangTua Group. Kalau bisnis baja, maka investor strategis itu bisa Krakatau Steel bisa juga perusahaan besar di sektor baja lain.
Investor strategis biasanya melakukan investasi di sebuah perusahaan atau akusisi perusahaan karena sesuai rencana bisnis jangka panjang mereka sendiri, atau bisnis baru itu bisa saling melengkapi bisnis yang sudah dimiliki. Jadi tujuannya investasi itu bisa dalam rangka untuk ekspansi vertikal (terhadap pelanggan atau pemasok), ekspansi horizontal (ke pasar geografis baru atau lini produk), menghilangkan persaingan, atau meningkatkan beberapa kelemahan utamanya (teknologi, pemasaran, distribusi, penelitian dan Pengembangan, dll.).
Investor strategis seringkali bersedia dan mampu membayar lebih mahal ketika ia akan akuisisi, dibanding financial investor. Ada dua alasan utama untuk ini. Pertama, pembeli strategis mungkin dapat menyadari manfaat sinergis bila aset baru itu digabung dengan bisnis lamanya. Kedua, investor strategis umumnya perusahaan besar dengan akses modal yang lebih baik. Mereka sering memiliki mata uang lain yang tersedia bagi mereka dalam bentuk saham. Pembeli strategis sering menawarkan saham, uang tunai, atau kombinasi keduanya dalam pembayaran harga beli.
Investor strategis sangat fokus pada kemungkinan bisnis baru yang akan diakuisisi atau diinvestasi bisa sinergi dan bisa diintegrasikan dengan bisnis lamanya. Investor strategis ketika investasi ia akan mempertahankan bisnis yang baru dibeli tanpa batas waktu.
Mana yang lebih baik?
Dua duanya baik. tergantung tujuan dari pihak yang cari investor. Investor strategis biasanya mau membayar lebih mahal, tapi biasanya dia selalu ingin kontrol, maunya minta saham mayoritas, dan artinya perusahaan anda harus mau menjadi bagian dari group dia. Bahkan mungkin anda sendiri nanti bisa diganti oleh eksekutif kepercayaan dia. Bagia pemilik perusahaan yang ingin jual 100% sahamnya mungkin investor strategis lebih cocok, karena harga bisa lebih baik dan ia tak mikir hal lain. Setelah itu pensiun. paling-paling dia dibutuhkan untuk transisi.
Tapi kalau anda butuh investor yang bisa kerjasama lama dan anda masih ingin mengontrol dan memimpin perusahaan, investor financial lebih tepat. Mereka memang tak ahli operasional, hanya butuh duitnya berkembang. Mereka justru senang bila sebagai pengelola lama anda bertahan, yang penting bisnis untung, kerjasama dan komunikasi harmonis. Financial investor ini cocok banget bila ada cari mitra yang hanya sekedar suntikan modal dan investor yg nggak banyak cawe cawe di bisnis. Atau mereka yang hanya butuh investor untuk sesaat, misalnya untuk 3-4 tahun setelah itu dia keluar, sahamnya dia anda beli. Ini cocok dgn investor financial. Walaupun biasanya valuasi financial investor lebih pelit, namun ia fleksible untuk hal-hal lain. Bisa jadi teman untuk tumbuh, nggak reseh. Investor strategis di lain sisi, cenderung akan dominan dan mengontrol perusahaan anda kalau anda masih punya saham disana.
Dua-duanya terdapat plus minus.
Yang pasti, apapun usaha bapak/Ibu, asal bukan usaha rokok & minuman keras, & skala bisnisnya sudah diatas Rp 200 miliar, aku bisa bantu cari investor baik tipe financial investor atau strategic investor. Silahkan kontak saya apabila sedang memerlukan investor.
Tetapi perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi menggunakan perusahaan yg skalanya telah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu terdapat jalan jika kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
M: 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait lainnya :
Mengenal seluk beluk investor private equity
Sejumlah Investor Luar Negeri Yang Tertarik Mencari Kongsi pada Indonesia
Investor Asing Berburu Mitra Lokal Untuk Dirikan Perusahaan Joint Venture

Indonesia saat ini benar-benar menjadi primadona investasi di kawasan Asia Pacific. Banyak sekali investor asing yang ingin masuk Indonesia dan mencari mitra lokal untuk kembangkan bisnis bersama. Tentu saja hal ini menjadi angin segar bagi pelaku bisnis dalam negeri yang ingin mengembangkan bisnis dalam skala yang lebih besar. Salah satu jenis investor yang bisa digandeng memang investor asing karena umumnya investor asing memang lebih siap dari sisi pendanaan maupun pengalaman. Mereka memutuskan akan masuk Indonesia, artinya sudah menyiapkan modal uang dan strateginya.
Investor asing ini tipikalnya amat majemuk, termasuk minat terhadap pilihan investasinya.
Saya sendiri punya rekanan investor luar negeri yang kini sedang akan berbagi bisnis di Indonesia. Ia akan menanamkan investasi secara eksklusif di beberapa bidang usaha dan mencari kawan (local partner) buat diajak berkongsi atau membangun perusahaan joint venture. Perusahaan luar negeri ini telah punya basis bertenaga pada negaranya. Mereka mengalihkan ke Indonesia lantaran pasar Indonesia yang tumbuh pesat. Sedangkan bisnis di negaranya tumbuh sangat pelan atau nyaris stagnan lantaran struktur industrinya memang sudah mature.
Investor ini akan menanamkan modal dalam besaran yang disesuaikan kebutuhan mitra lokalnya. Tergantung size business mitra lokalnya. Kisarannya dari USD 10-150 juta . Dinegaranya, perusahaan ini merupakan konglomerasi yang masuk dalam Top Five.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor rekanan aku :
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Perlu dicatat, investor asing pada umumnya tidak mau melakukan joint venture dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang baru mulai. Jadi, untuk yg masih UKM, mohon maaf, belum bisa dibantu.
Bila perusaahaan Bapak/Ibu sedang membutuhkan investor, saya siap bantu sinergikan dengan investor dalam jaringan saya. Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
M: 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.Com
Artikel terkait :
>Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
>Mengenal Jenis Investor Private Equity
KurniaLand Mulai Aktif Pasarkan Kondotel Melia Bintan

Pemain properti nasional, KurniaLand Group, kini mulai aktif memasarkan proyek barunya pada Pulau Bintan & ketika ini telah mulai memasuki tahap kontruksi pembangunan. Proyek kondotel pada Bintan ini sang KurniaLand akan dikerjasamakan pengelolaannya menggunakan Soll Melia sehingga nanti dinamai Melia Bintan. Di Bintan, Kurnia Land yang mempunyai tanah 6 hektar ini sedang membangun kondominium hotel menggunakan tinggi 7 lantai. Rencananya kondotel ini akan terdiri berdasarkan 319 unit di dalamnya yang terdiri berdasarkan 3 tower & 1 ballroom.
Pengerjaan kontruksi bangunan kondotel ini diserahkan ke BUMN yang sudah berpengalaman, PT Brantas Abipraya (Persero), dan saat ini sudah memulai proses konstruksi. Menelan anggaran investasi sekitar Rp 500 miliar ini, rencananya proses konstruksi kondotel akan selesai pada tahun 2019 dengan standar fasilitas bintang lima. Bagi Group KurniaLand, proyek Melia Bintan ini diharapkan bisa mengulang suksesnya di proyek serupa di Puncak, Bogor, yakni Sahid Eminence Ciloto dimana proyek itu laris manis dan kondotelnya pun selalu penuh dikunjungi tamu.
Zaid Mahdani, Presiden Direktur Kurnia Land Group, sangat antusias berinvestasi di Bintan karena melihat prospek wisata pulau itu yg sangat menarik. Proyek kondotel Melia Bintan ia hadirkan buat merespon demam isu warga yg sangat tinggi pada berwisata ke daerah Bintan. Kondotel MELIA BINTAN terletak pada Pantai Sebong, Bintan yg sangat gampang diakses dari Singapura.
Lokasinya berada di kawasan pantai yang memiliki pasir putih halus dan langsung berhadapan dengan laut China Selatan sebagai best view. Pemandangan alam, laut, pantai, hutan bakau sangat memanjakan mata. Dari kondotel ini nantinya juga sangat mudah untuk mengakses infrastruktur seperti airport, pelabuhan international, lapangan golf, mall dan sejenisnya.
Melia Bintan akan dikembangkan menjadi hotel resort dan pusat bisnis bintang empat dengan fasilitas luxury bintang 5. Di dalamnya akan ada grand lobby; lounge, Ballroom kapasitas 1.000 orang, Meeting Room, Karaoke Room, Mezanine, Ocean Wedding Chappel, Pray Room, Sky Lounge & Resto, dan Ocean Restaurant. Konsep lainnya, ada Riverside Spa, Infinity Pool, Swimming Pool, Children Pool, Private Jacussi, Outdoor Jacussi, Children Play Ground, Therm Park, Mini Zoo, Fitness Center, Sport Centre, Jogging Track, dan Outbond.
Didukung oleh operator kelas dunia yang sudah berpengalaman global, Melia Hotels, manajemen Kurnialand sangat yakin proyek di Bintang ini akan sukses. Kepada investor, Kurnialand menawarkan investasi strata title kepemilikan (Sertifikat Hak Milik), program bagi hasil yang saling menguntungkan, dan kemudahan akses KPA. Kondotel yang ditawarkan meliputi empat tipe kamar suite, antara lain Junior Suite, Executive Suite, Presidential Suite, dan Royal Suite. Sejauh ini KurniaLand sudah memiliki mitra investor loyal yang siap berinvestasi karena melihat prospek pengembangan wilayah Bintan dan prospek bisnis kondotel itu sendiri.
Bagi Zaid Mahdani, investasinya membangun Melia Bintan merupakan bagian dari komitmennya untuk memajukan dunia pariwisata Kabupaten Bintan. Dengan bekal pengalamannya, dan melihat potensi yang dimiliki Kabupaten Bintan, ia sangat optimis Bintan akan menjadi destinasi baru layaknya Bali atau The New Bali. Dalam hal ini Bintan punya keunikan budaya melayu yang bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan, selain faktor alamnya yang sangat indah.
Zaid sendiri sengaja dalam lima tahun kedepan ingin mengembangkan KurniaLand dengan fokus pada pengembangan properti yang terkait sektor wisata atau industri hospitality. Selain di Bintan dan Ciloto (Bogor), Kurnialand juga sedang ancang-ancang meluncurkan proyek barunya di Lembang (Jawa Barat) berupa kondotel yang akan dipadukan dengan resort dan lapangan golf.
Cara Kerja Perusahaan Hedge Fund Dalam Berinvestasi
Di dunia bisnis, salah satu jenis investor yang bisa digandeng ialah perusahaan hedge fund. Perusahaaan hedge fund pada dasarnya juga merupakan perusahaan pengelola dana investasi dari pihak lain yang ia selalu mencari target untuk investasi. Mereka juga ingin memutar dananya. Hanya saja mereka punya hal berbeda dalam pengelolaan dana. Namanya juga hedge fund, salah satu ciri investasinya, mereka melakukan strategi hedging untuk mengamankan investasinya. Mereka juga berusaha menghasilkan return investasi yang tinggi dari dana yang mereka putar.

Dari mana dana yg dikelola para hedge fund itu? Dana yang dikelola perusahaan hedge fund itu milik para investor yang terakreditasi. Mereka umumnya merupakan investor yg bertenaga lantaran investor nir sembarang mengambil uangnya di perusahaan hedge fund ini. Ada batasan saat dimana dana investor akan dikunci. Penarikan pula hanya dapat terjadi dalam interval tertentu seperti triwulanan atau dua tahunan.
Kemana perusahaan hedge fund berinvestasi?
Masing-masing perusahaan hedge fund punya target investasi yg tidak sama, sesuai gaya investasinya masing-masing. Investor Hedge fund umumnya lebih fleksible dalam memilih bidang investasi. Mereka hanya dibatasi oleh mandat dari investornya. Hedge fund sanggup berinvestasi dalam apa saja ? Tanah, real estat, saham, derifatif, dan mata uang atau perusahaan. Sebaliknya, reksadana wajib tetap berpegang dalam saham atau obligasi dan umumnya hanya panjang.
Penting untuk dicatat bahwa hedging sebenarnya dulu adalah sebuah praktik upaya untuk mengurangi risiko, tetapi tujuan dari sebagian besar perusahaan hedge fund saat ini bukan hanya untuk itu, namun untuk mencari return yang maksimal. Dulu hedge fund memang untuk mencoba melakukan lindung nilai terhadap risiko penurunan pasar. Namun saat ini, banyak perusahaan hedge fund menggunakan strategi yang berbeda
Nah di Asia Tenggara ini juga ada sejumlah perusahaan hedge fund yang cari target investasi di Indonesia. Mereka punya dana banyak untuk ditanamkan di perusahaan-perusahaan di Indonesia yang butuh investor. Hedge fund biasa menanamkan modal ke perusahaan yang diinvestasi dalam bentuk pinjaman atau hutang namun mereka menetapkan return yang sudah mereka buat sedemikian rupa sehingga terlindungi dengan cara melakukan hedging. Cara hedging ini beragam dan case by case, tidak bisa dijelaskan di tulisan ini. Tapi mereka selalu hanya minat investasi di perusahaan besar, bukan perusahaan UKM atau perusahaan baru mulai.
Hubungi: wingdarmadi@gmail.Com
Cara kerja dan seluk-beluk investor private equity
Sejumlah investor asing cari kongsi usaha pada Indonesia
Beberapa Persiapan Sebelum IPO Atau Go Public
Semua pendiri perusahaan normalnya niscaya ingin perusahaannya makin berkembang & makin tumbuh skala bisnisnya dan bisa dikelola sebagai perusahaan yg terbaru dan profesional. Wajar apabila pemilik perusahaan ingin perusahaannya bisa bertahan & tetap hayati mesti generasi pemilik sudah berganti ke anak atau cucu. Wajar pula jika perusahaan ingin punya reputasi yg makin dikenal & lebih mudah pada mencari dana buat pengembangan bisnis. Untuk itu, memang sudah sepantasnya pemilik perusahaan ingin perusahaannya Go Public atau melakukan IPO (Initial Public Offering).

Salah satu advantage perusahaan yg telah Go Public, mereka lebih mudah pada mencari dana untuk pengembangan usaha karena mereka sanggup menerbitkan aneka macam instrumen untuk menarik dana publik. Dalam kenyataannya, bukan perusahaan tidak mungkin hanya menganddalkan pinjaman bank atau dana sendiri buat menyebarkan usaha? Pada syarat eksklusif, contohnya apabila jumlah pinjaman perusahaan telah relatif tinggi, pendanaan menurut perbankan mungkin akan sulit diperoleh. Sudah tidak punya jaminan lagi, nir punya asset lagi buat jadi collateral. Dalam kata investasi, terkadang assetnya sudah over leveraged. Dalam hal ini penting buat melibatkan investor lain untuk membantu pendanaan. Kalau perusahaan Anda sudah go public, maka upaya itu akan lebih mudah.
Sebelum go public, usahakan terdapat sejumlah persiapan yg dilakukan. Pertama, berdasarkan sisi famili pemilik dulu harus kompak & setuju akan go public lantaran perusahaan yang sudah IPO punya sejumlah konsekuensi, perusahaan mesti dikelola lebih terbuka, tiap kuartal melaporkan kinerja keuangan, wajib siap menggunakan naik-turunnya harga saham di bursa, taat sejumlah regulasi buat perusahaan emiten, dsb.
Lalu, juga persiapan secara keorganisasasin. Misalnya wajib punya tim investor relation, corporate secretary, dan bagian legal yang selalu siap mengupdate syarat perusahaan ke pemegang saham publik.
Tapi apakah semua perusahaan yang sudah Go Public direspond bagus untuk investor/pasar? Memang tidak selalu. Tergantung seberapa 'seksi' perusahaan itu. Kalau profil bisnis perusahaan dan keuangannya itu tidak menarik, belum tentu direspon pasar dan belum tentu Go Public akan berbuah manis. Karena itu cara yang cukup masuk akal dan banyak dilakukan perusahaan yang mau go public, mereka biasanya memperkuat dulu internalnya sebelum Go Public. Mereka memperkuat keuangan dan skala bisnisnya agar lebih menarik bagi investor. Salah satu yang biasa dilakukan ialah, 2-4 tahun sebelum Go Public mereka mengundang investor Pre-IPO untuk masuk dan menyuntikkan modalnya. Dana yang disuntikkan itu yang kemudian dipakai ekspansi, misalnya untuk buka banyak cabang dan buka pabrik baru. Dengan demikian, ketika akan Go Public, skala bisnisnya sudah ideal, tidak terlalu kecil. Makin seksi dan direspons bagus oleh investor.
Cara itu sangat generik dilakukan. Menggandeng Pre-IPO investor. Biasanya investor itu jua membawa sejumlah kompetensi & mereka terkadang juga telah pengalaman poly sukses membantu IPO. Ini yg krusial yang jarang orang memahami. Go Public bukan duduk perkara memilih perusaahaan penjamin emisi lantaran jika sekedar mencari perusahaan penjamin emisi, maka itu gampang dan poly, mudah diketahui. Yang sulit justru mengemas dan mempersiaapkan internalnya agar skala dan kinerja bisnisnya rupawan dan seksi pada mata investor.
Saya punya sejumlah relasi investor yg seorang ahli menanamkan modalnya dalam situasi pre-IPO misalnya itu. Ada investor luar negeri tetapi terdapat juga yg pada negeri. Tetapi demikian, mereka tetap melakukan seleksi, tidak sembarang melakukan investasi. Mereka akan melihat peluang pertumbuhan perusahaan itu, bagaimana kondisi kinerja sekarang, bagaimana reputasi pengelolanya, dan sejenisnya.
Bila ada yang butuh investor pre-IPO, sanggup hubungi aku
wingdarmadi@gmail.Com
HP: 081 384 160 988
Cara kerja dan seluk-beluk investor private equity
Sejumlah investor asing cari kongsi usaha di Indonesia
Kenali Dua Tipe Investor Ini Sebelum Mencari Dan Menggandeng Investor