Sumitomo Group Invest proyek pembangkit .listrik Lampung
Keberlanjutan proyek pembangkit listrik energi panas bumi (PLTG) Ulubelu, Lampung segera berjalan. PT Pertamina Geothermal Energy, selaku pengelola wilayah kerja pengusahaan Ulubelu telah menunjuk konsorsium Sumitomo Corporation buat melaksanakan kontrak pengerjaan proyek konstruksi terpadu alias engineering procurement and construction (EPC). Perusahaan berasal Jepang ini bakal membangun PLTG Ulubelu unit 3 dan unit 4 dengan total kapasitas mencapai 110 mega watt (MW). Sebelumnya, Sumitomo lah yg menggarap proyek PTLG unit 1 dan unit 2 Ulubelu yg lokasi persisnya berada pada barat provinsi Lampung. Kedua proyek tersebut Sumitomo selesaikan dalam 2012. Presiden Direktur Sumitomo Corporations Kuniharu Nakamura menampakan lebih lanjut, ke 2 unit pembangkit tersebut bakal dibangun berdekatan menggunakan unit 1 dan unit 2. Konsorisum kontraktor terdiri berdasarkan Sumotomo Corporation & PT Rekayasa Industri. Nantinya Fuji Electric Co Ltd bakal menghasilkan turbin uap geothermal dan generator pada proyek ini. Sedangkan tugas menurut Rejayasa Industri adalah mengerjakan konstruksi & instalasi unit tiga & unit 4. Selain itu jua bertanggung jawab terhadap pengerjaan konstruksi di atas bagian atas tanah (steamfield). Pembangunan PLTG Ulubelu unit tiga ini akan memakan ketika selama 23 bulan. Sedangkan unit 4 mencapai 33 bulan. "Jadi konstruksinya diperkirakan tuntas masing-masing dalam Juli 2016 (unit 3) & Mei 2017 (unit 4)," kentara beliau.
Cara Kerja Private Equity
Salah satu jenis investor yg sanggup digandeng para pengusaha yg ingin mengembangkan usahanya merupakan perusahaan private equity (PE). Perusahaan private equity memang nir terkenal misalnya bank atau bursa. Padahal private equity jua galat satu asal kapital dan menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yg bisnisnya ingin tumbuh.
Private equity (PE) adalah salah sumber kapital untuk investasi yg berasal berdasarkan para investor seperti dana pensiun, orang-orang kaya, atau dana kekal perguruan tinggi. PE menjadi semacam forum yg ditugaskan & dipercaya buat memutar duit dari investor itu. Kalau bank umumnya menaruh duit pinjaman & lalu minta agunan (kolateral) berupa aset, maka jikalau private equity nir. Dia invest pada perusahaan semisalnya Rp 300 miliar atau Rp 100 miliar, akan tetapi dia minta ditukar dengan saham. Nah, terdapat perusahaan private equity yg hanya mau invest sebagai pemegang saham minoritas dan nggak mau lebih menurut 50%, namun pula terdapat yg maunya justru harus pegang kendali. Masing-masing perusahaan private equity punya gaya dan kebijakan masing-masing.

Asal dana atau sumber dana perusahaan private equity itu biasanya terkumpul karena keaktifan para pendiri dalam mencari dana untuk dikelola. Keluasan network para pendiri PE sangat penting untuk mendapatkan investor. Jangan heran kalau di Indonesia, para pemilik private equity pasti orang yang punya network kuat dengan pemilik dana di luar negeri. Misalnya Patrick Waluyo (Northstar), Gita Wiryawan (Ancora) dan Edwin Soeryajaya (Saratoga). Mereka semua merupakan lulusan Amerika yang channel dengan lembaga keuangan Barat sudah sangat kuat.
Kenapa mereka mau menaruh dananya buat dikelola PE? Ya lantaran ingin dananya berputar dan bertambah. Ingat bahwa pada negeri Barat & Jepang, kalau menaruh deposito pada Bank, bunganya sangat minim, pertahun hanya dua% atau bahkan kurang. Kalau diputar pada negara berkembang seperti pada Indonesia, mereka mampu mendapatkan keuntungan minimal belasan persen per tahun. Logikanya simple, ideologi uang merupakan laba. Dia nir punya loyalitas ke negara atau lokasi. Tapi beliau akan datang ke loka manapun yang sanggup berkembang biak. Ini rumus uang yg jangan dibantah.
Cara investasi perusahaan private equity (PE) ke perusahaan-perusahaan target biasanya menggunakan pola bisa dua macam. PERTAMA, membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang lama (artinya ia membeli existing saham). Dus ada pergantian kepemilikan saham. KEDUA, perusahaan yang akan diinject modal itu menerbitkan saham baru yang kemudian dibeli oleh perusahaan PE itu. Umumnya cara kedua ini lebih banyak dipilih karena berarti dana yang masuk tidak masuk ke kantong pribadi pemegang saham lama, namun menambah modal perusahaan sehingga perusahaan bisa berputar lebih baik. Tapi pola ini sangat case by case, bisa perpaduan. Bisa jadi ketika investor masuk ke sebuah perusahaan, ada sebagian yang masuk ke kantong pemegang saham lama untuk pembelian saham, namun ada juga sebagian yang ditaruh sebagai modal usaha.
KETIGA, Selain cara investasi melalui saham, perusahaan PE juga bisa dengan cara membeli convertible bond yang diterbitkan perusahaan yang butuh duit itu. Convertible bond itu adalah surat utang yang suatu saat bisa diubah (diconvert) menjadi saham ketika pas jatuh tempo dan bila perusahaan yang berhutang itu tidak bisa melunasi secara sempurna atas hutang-hutangnya.
Yang perlu diketahui, perusahaan PE umumnya hanya mau invest di perusahaan yang tumbuh cepat dan margin untungnya baik. Kenapa? Karena beliau wajib memberi keuntungan juga ke pemodal yg menitipkan uangnya. Makanya biasanya IRR private equity selalu minta diatas 18%. Kalau bank Anda kasih bunga 12-13%, maka PE minimal diangka 18%. Bedanya jika bank harus mencicil bulanan, jika PE nggak. PE hanya mengharap laba waktu sahamnya dijual ke pihak lain.
Makanya, kebanyakan orang berhubungan dengan PE bila sudah tidak bisa pinjam ke bank lagi. Ekuitas yang dimiliki perusahaan sudah mentok. Sudah tidak punya kolateral untuk pinjam ke bank. Kalau bahasa orang keuangan, debt to equity ratio sudah nggak memungkinkan untuk pinjam ke bank. Ingat, tidak ada bank yang mau kasih pinjaman bila tidak ada kolateral. Ini normalnya. Ada beberapa bank yang bisa kasih pinjaman tanpa kolateral, namun sudah pasti hanya ke nasabah korporat yang sudah lama dikenal, dan biasanya bunganya juga jauh lebih tinggi.
Siapakah yg paling cocok buat menggandeng PE:
- Perusahaan yang akan ekspansi dan yakin punya bisnis bagus kedepan tapi nggak punya modal pertumbuhan dan sudah sulit pinjam ke bank karena debt to equity ratio sudah terlalu tinggi. Aset yang ada sudah dileverage (SUDAH DISEKOLAKAN) terlalu tinggi sehingga butuh investor (capital partner) yang bisa menambahkan modal untuk pertumbuhan usaha karena memang ada peluang menarik yang akan digarap. Dalam situasi ini cocok dan penting untuk mengajak PE agar mau investasi dan kongsi di bisnis Bapak/ibu.
- Perusahaan yang akan go public pada 2-4 tahun kedepan. agar nilai buku menjadi lebih baik dan kondisi permodalan tampak lebih kuat, anda gandeng PE untuk invest di perusahaan anda. nanti ia akan exit keluar dari perusahaan anda saat IPO dengan menjual saham dia ke investor publik di bursa
- Untuk membeli perusahaan millik pihak lain. Misalnya ada eksekutif yang tahu bahwa ada perusahaan bagus milik pihak lain yang sahamnya akan dijual tapi dia nggak punya uang untuk membeli atau mengakuisisinya. Dalam kondisi itu, ajaklah PE untuk invest bersama dan Anda yang menjadi operatornya karena Anda yang tahu cara kerja dan operasional bisnisnya sehari-hari. PE bisa menjadi pemegang saham sementara, setelah itu saham dia bisa bapak akuisisi
- Untuk membeli saham perusahaan dimana tempat anda bekerja yang mungkin pemilik(bos) sudah tua/capek/bosan bisnis/mau pensiun . Kalau Anda sebagai CEO atau eksekutif tahu bahwa perusahaan dimana ia bekerja akan dijual, maka anda punya cara untuk membelinya,.Terutama kalau anda yakin bahwa bisnisnya bagus dan ia bisa menyelamatkannya. Caranya, silahkan ajak PE untuk invest dan membelinya, dan anda akan menjadi salah satu pmegang saham penting. Saya punya beberapa kawan yang menjalankan pola ini dan sukses besar. Dulu CEO di perusahaan itu tapi tiba2 owner mau jual;al perusahaannya, akhirnya si CEO tadi cari pemodal untuk beli perusahaan itu.
Nah perusahaan PE itu biasanya invest untuk waktu yang tidak lama. Durasi hanya 3-7 tahun. Setelah itu ia keluar atau exit. Cara exit bermacam-macam. Bisa menjual sahamnya melalui bursa atau go public, bisa menjual saham ke pemegang saham lain yang mayoritas. Tapi bisa juga melalui trade sale, yakni ia menjual ke berbagai investor besar yaitu group besar yang minat di bisnis itu. Misalnya PE invest di bisnis TI lalu exit, maka ia akan tawarkan ke ACER, IBM, Microsoft, dll, untuk membeli sahamnya. Istilahnya, menjual ke investor strategis, bukan ke investor keuangan. Tapi menjual ke sesama investor keuangan juga mungkin.
Nah bagaimana di Indonesia? Di Indonesia semakin banyak perusahaan private equity yang aktif walaupun mereka tidak punya kantor khusus di Indonesia namun mereka menunjuk orang tertentu menjadi wakilnya di Indonesia. Mereka ada yang dari Jepang, Hongkong, Singapore, Timur Tengah, Eropa dan Malaysia. Tak kurang dari 30-an investor PE di Indonesia. Hanya saja mereka memang bekerja dengan silent dan bekerja berdasarkan trust. 30 perusahaan PE itu punua fokus investasi dan sstrategi investasi yang berbeda-beda dari sisi besaran per investasi hingga sektor yang ia pilih.
Ingat cara kerja private equity itu sangat silent, diam-diam, nggak mau banyak ngomong. Namanya juga private. Mereka memang selektif dalam memilih perusahaan yang akan diinvestasi, namun mereka juga harus investasi karena kalau nggak menyalurkan duitnya untuk diinvestasikan, mereka juga akan ditanya dan ditabok oleh lembaga yang memercayakan uang untuk diputar. Kalau Anda sudah dipercaya untuk memutar uang tapi kok anda nggak dapat tempat yang ditaruh uang berarti anda bodoh. Anda nggak punya teman atau anda nggak bisa cari teman. Padahal sebegitu banyaknya perusahaan di Indonesia yang butuh funding, dengan manajemen yang terpercaya dan prospeknya bagus.
Perusahaan private equity itu SANGAT JARANG mau atau umumnya tidak mau diajak investasi di perusahaan baru. Intinya mereka itu berkongsi menggunakan pengusaha yang terbukti sanggup mengelola bisnis, bukan baru rencana2 doang. Mereka umumnya hanya mau invest pada perusahaan yang telah eksis menggunakan omset mencukupi tetapi butuh tambahan modal agar sanggup tumbuh cepat. Atau mau pula invest di perusahaan mengagumkan namun sedang sakit akan tetapi ada peluang untuk diperbaiki. Banyak banget investor yg meminati Indonesia. Tapi memang butuh cara khusus mendekati mereka lantaran mereka memang sangat private & hanya mau berhubungan dengan orang yg mampu mereka percaya.
Dana yang ditempat di satu perusahaan oleh private equity sangat berbeda-beda. Ada yang maunya diatas USD 100 juta dollar, ada yg hanya mau range USD 50-100 juta dollar, terdapat yg mau berdasarkan size USD lima juta. Bahkan ada yg mainnya pada nomor USD 1-lima juta per investment. Masing-masing punya mandat dan strategi sendiri.
Bila Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yg butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling cocok untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor rekanan saya:
- Perusahaan bidang manufacturing, khususnya yg punya brand sendiri
- Perusahaan bidang chemical (speciality chemical, produksi dan distribusi)
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahan
- Perusahaan manajemen hotel
- Perusahaan farmasi
- Perusahaan bidang jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan pengolah limbah dan sejenisnya
- Perusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan jasa outsourcing skala besar
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Namun perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yg skalanya sudah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Silahhkan hubungi aku bila perusahaan Bapak/Ibu butuh investor untuk pengembangan usaha.
Semoga usaha bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
wingdarmadi@gmail.Com
HP : 081 384 160 988
Info krusial lainnya :
Cari Perusahaan Besar Untuk Diakuisisi
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Perlunya Me-Refinancing Hutang Korporasi Yang Bunganya Kemahalan
Banyak Investor Asing Cari Partner Lokal, Siap Tanam Uang Modal, Termasuk Kalangan Private Equity Ini
Diupdate tgl 21 April 2020
Banyak pelaku bisnis yang tidak menyadari bahwa sebenarnya banyak investor asing ingin masuk ke Indonesia dan menanamkan modal investasinya. Mereka ingin berkongsi dengan perusahaan-perusahaan terpercaya di Indonesia. Mereka melihat Indonesia sebagai salah satu negara dengan prospek pertumbuhan yang sangat bagus kedepan. Jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang, income perkapita makin naik, sumber daya alam melimpah, dan banyak alasan lain.
Para investor perlu memutar uang di negara yang potensinya besar seperti di Indonesia. Di negara asalnya, seperti Jepang misalnya, untuk mengejar pertumbuhan bisnis sudah sulit. sudah flat. Market sudah saturated. Disana bunga deposito bahkan dibawah 3% setahun. Karena itu mereka mencari negara lain yang potensinya besar dan untuk itu cari mitra2 lokal yang credible, bisa dipercaya, dan bisa diajak mengembangkan bisnis.
Umumnya investor assing lebih suka menggandeng pemain lokal yg telah berpengalaman pada bisnisnya, lalu bikin kongsi. Kongsi itu bisa dengan akuisisi perusahaan besar yang telah terdapat, bisa jua mendirikan sebuah usaha baru secara beserta. Jadi jarang sekali yang mau gandengan menggunakan pemain lokal yg nggak terdapat pengalaman bisnis sama sekali di bidangnya.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor relasi saya ialah menjadi berikut, namun bukan perusahaan baru, atau masih planning usaha atau masih skala UKM:
- Perusahaan logistik dan forwarding skala besar
- Perusahaan jasa outsourcing atau pengelola karyawan kontrak, terutama yg kelas karayawan pendidikan, bukan level tak terdidik
- Perusahaan TI dan datacenter
- Perusahaan pembiayaan
- Perusahaan suku cadang otomotif
- Perusahaan bidang jasa
- Perusahaan distribusi bahan bakar
- Perusahaan pengolah limbah
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Please note, investor relasi saya tidak mau invest di perusahaan yang baru mulai atau baru rencana, dan pemiliknya belum pengalaman menggarap bisnis yang sedang butuh investasi. Juga tidak tertarik bermitra dengan perusahaan yang skala bisnisnya masih UKM dengan omset masih dbawah Rp 200 miliar setahun. Track record sangat penting karena investor relasi saya serius sehingga tidak mau hanya dengan yg baru mau coba-coba.
Perlu diketahui, di dunia investasi, dikenal ada dua jenis investor asing yg bisa diajak kerjasama, yaitu Investor strategis dan investor finansial. Lihat perbedaan diantara keduanya pada tulisan saya yg lain yang bisa menjelaskan hal itu. Lihat link dbawah ini untuk memudahkan.
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal buat kongsi usaha
Ada juga tipe investor yg disebut investor private equity. Perusahaaan private equity memang nir populer seperti bank atau bursa. Padahal private equity jua galat satu sumber modal & menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yg bisnisnya ingin tumbuh.

Investor Private Equity, Apa itu & Bagaimana Cara kerjanya?
Investor jenis private equity juga salah satu sumber modal dan menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yang bisnisnya ingin tumbuh. Private equity (PE) merupakan salah sumber modal untuk investasi yang berasal dari para investor seperti dana pensiun, orang-orang kaya, atau dana abadi perguruan tinggi. PE menjadi semacam lembaga yang ditugaskan dan dipercaya untuk memutar duit dari investor itu. Kalau bank biasanya memberikan duit pinjaman dan kemudian minta jaminan (kolateral) berupa aset, maka kalau private equity tidak. Dia invest di perusahaan semisalnya Rp 300 miliar atau Rp 100 miliar, tapi ia minta ditukar dengan saham. Nah, ada perusahaan private equity yang hanya mau invest sebagai pemegang saham minoritas dan nggak mau lebih dari 50%, namun juga ada yang maunya justru harus pegang kendali. Masing-masing perusahaan private equity punya gaya dan kebijakan masing-masing.
Asal dana atau sumber dana perusahaan private equity itu biasanya terkumpul karena keaktifan para pendiri dalam mencari dana untuk dikelola. Keluasan network para pendiri PE sangat penting untuk mendapatkan investor. Jangan heran kalau di Indonesia, para pemilik private equity pasti orang yang punya network kuat dengan pemilik dana di luar negeri. Misalnya Patrick Waluyo (Northstar), Gita Wiryawan (Ancora) dan Edwin Soeryajaya (Saratoga). Mereka semua merupakan lulusan Amerika yang channel dengan lembaga keuangan Barat sudah sangat kuat.
Kenapa mereka mau menaruh dananya buat dikelola PE? Ya karena ingin dananya berputar dan bertambah. Ingat bahwa pada negeri Barat dan Jepang, jikalau menaruh deposito di Bank, bunganya sangat minim, pertahun hanya dua% atau bahkan kurang. Kalau diputar di negara berkembang misalnya pada Indonesia, mereka mampu menerima keuntungan minimal belasan persen per tahun. Logikanya simple, ideologi uang merupakan keuntungan. Dia tidak punya loyalitas ke negara atau lokasi. Tapi dia akan tiba ke loka manapun yang mampu berkembang biak. Ini rumus uang yang jangan dibantah.
Cara investasi perusahaan private equity (PE) ke perusahaan-perusahaan target biasanya menggunakan pola bisa dua macam.PERTAMA, membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang lama (artinya ia membeli existing saham). Dus ada pergantian kepemilikan saham.KEDUA, perusahaan yang akan diinject modal itu menerbitkan saham baru yang kemudian dibeli oleh perusahaan PE itu. Umumnya cara kedua ini lebih banyak dipilih karena berarti dana yang masuk tidak masuk ke kantong pribadi pemegang saham lama, namun menambah modal perusahaan sehingga perusahaan bisa berputar lebih baik. Tapi pola ini sangat case by case, bisa perpaduan. Bisa jadi ketika investor masuk ke sebuah perusahaan, ada sebagian yang masuk ke kantong pemegang saham lama untuk pembelian saham, namun ada juga sebagian yang ditaruh sebagai modal usaha.
KETIGA, Selain cara investasi melalui saham, perusahaan PE juga bisa dengan cara membeli convertible bond yang diterbitkan perusahaan yang butuh duit itu. Convertible bond itu adalah surat utang yang suatu saat bisa diubah (diconvert) menjadi saham ketika pas jatuh tempo dan bila perusahaan yang berhutang itu tidak bisa melunasi secara sempurna atas hutang-hutangnya.
Yang perlu diketahui, perusahaan PE umumnya hanya mau invest pada perusahaan yg tumbuh cepat & margin untungnya baik. Kenapa? Lantaran dia harus memberi keuntungan pula ke pemodal yg menitipkan uangnya. Makanya umumnya IRR private equity selalu minta diatas 18%. Kalau bank Anda kasih bunga 12-13%, maka PE minimal diangka 18%. Bedanya jika bank wajib mencicil bulanan, bila PE nggak. PE hanya mengharap laba ketika sahamnya dijual ke pihak lain.
Makanya, kebanyakan orang berhubungan dengan PE bila sudah tidak bisa pinjam ke bank lagi. Ekuitas yang dimiliki perusahaan sudah mentok. Sudah tidak punya kolateral untuk pinjam ke bank. Kalau bahasa orang keuangan,debt to equity ratiosudah nggak memungkinkan untuk pinjam ke bank. Ingat, tidak ada bank yang mau kasih pinjaman bila tidak ada kolateral. Ini normalnya. Ada beberapa bank yang bisa kasih pinjaman tanpa kolateral, namun sudah pasti hanya ke nasabah korporat yang sudah lama dikenal, dan biasanya bunganya juga jauh lebih tinggi.
Siapakah yg paling cocok buat menggandeng PE:
- Perusahaan yang akan ekspansi dan yakin punya bisnis bagus kedepan tapi nggak punya modal pertumbuhan dan sudah sulit pinjam ke bank karena debt to equity ratio sudah terlalu tinggi. Aset yang ada sudah dileverage (SUDAH DISEKOLAKAN) terlalu tinggi sehingga butuh investor (capital partner) yang bisa menambahkan modal untuk pertumbuhan usaha karena memang ada peluang menarik yang akan digarap. Dalam situasi ini cocok dan penting untuk mengajak PE agar mau investasi dan kongsi di bisnis Bapak/ibu.
- Perusahaan yang akan go public pada 2-4 tahun kedepan. agar nilai buku menjadi lebih baik dan kondisi permodalan tampak lebih kuat, anda gandeng PE untuk invest di perusahaan anda. nanti ia akan exit keluar dari perusahaan anda saat IPO dengan menjual saham dia ke investor publik di bursa
- Untuk membeli perusahaan millik pihak lain. Misalnya ada eksekutif yang tahu bahwa ada perusahaan bagus milik pihak lain yang sahamnya akan dijual tapi dia nggak punya uang untuk membeli atau mengakuisisinya. Dalam kondisi itu, ajaklah PE untuk invest bersama dan Anda yang menjadi operatornya karena Anda yang tahu cara kerja dan operasional bisnisnya sehari-hari. PE bisa menjadi pemegang saham sementara, setelah itu saham dia bisa bapak akuisisi
- Untuk membeli saham perusahaan dimana tempat anda bekerja yang mungkin pemilik(bos) sudah tua/capek/bosan bisnis/mau pensiun . Kalau Anda sebagai CEO atau eksekutif tahu bahwa perusahaan dimana ia bekerja akan dijual, maka anda punya cara untuk membelinya,.Terutama kalau anda yakin bahwa bisnisnya bagus dan ia bisa menyelamatkannya. Caranya, silahkan ajak PE untuk invest dan membelinya, dan anda akan menjadi salah satu pmegang saham penting. Saya punya beberapa kawan yang menjalankan pola ini dan sukses besar. Dulu CEO di perusahaan itu tapi tiba2 owner mau jual;al perusahaannya, akhirnya si CEO tadi cari pemodal untuk beli perusahaan itu.
Nah perusahaan PE itu biasanya invest untuk waktu yang tidak lama.Durasi hanya 3-7 tahun. Setelah itu ia keluar atau exit. Cara exit bermacam-macam. Bisa menjual sahamnya melalui bursa atau go public, bisa menjual saham ke pemegang saham lain yang mayoritas. Tapi bisa juga melalui trade sale, yakni ia menjual ke berbagai investor besar yaitu group besar yang minat di bisnis itu. Misalnya PE invest di bisnis TI lalu exit, maka ia akan tawarkan ke ACER, IBM, Microsoft, dll, untuk membeli sahamnya. Istilahnya, menjual ke investor strategis, bukan ke investor keuangan. Tapi menjual ke sesama investor keuangan juga mungkin.
Nah bagaimana di Indonesia? Di Indonesia semakin banyak perusahaan private equity yang aktif walaupun mereka tidak punya kantor khusus di Indonesia namun mereka menunjuk orang tertentu menjadi wakilnya di Indonesia. Mereka ada yang dari Jepang, Hongkong, Singapore, Timur Tengah, Eropa dan Malaysia. Tak kurang dari 30-an investor PE di Indonesia. Hanya saja mereka memang bekerja dengan silent dan bekerja berdasarkan trust. 30 perusahaan PE itu punua fokus investasi dan sstrategi investasi yang berbeda-beda dari sisi besaran per investasi hingga sektor yang ia pilih.
Ingat cara kerja private equity itu sangat silent, diam-diam, nggak mau banyak ngomong. Namanya juga private. Mereka memang selektif dalam memilih perusahaan yang akan diinvestasi, namun mereka juga harus investasi karena kalau nggak menyalurkan duitnya untuk diinvestasikan, mereka juga akan ditanya dan ditabok oleh lembaga yang memercayakan uang untuk diputar. Kalau Anda sudah dipercaya untuk memutar uang tapi kok anda nggak dapat tempat yang ditaruh uang berarti anda bodoh. Anda nggak punya teman atau anda nggak bisa cari teman. Padahal sebegitu banyaknya perusahaan di Indonesia yang butuh funding, dengan manajemen yang terpercaya dan prospeknya bagus.
Perusahaan private equity itu SANGAT JARANG yg mau buat investasi pada perusahaan baru. Mereka mau berkongsi menggunakan pengusaha yg sudah terbukti sanggup mengelola & membesarkan bisnis, bukan baru planning-planning usaha. Mereka umumnya hanya mau invest pada perusahaan yg sudah eksis menggunakan omset mencukupi namun butuh tambahan modal agar bisa tumbuh cepat. Atau mau jua invest di perusahaan bagus namun sedang sakit akan tetapi terdapat peluang buat diperbaiki. Banyak banget investor yang meminati Indonesia. Tapi memang butuh cara spesifik mendekati mereka lantaran mereka memang sangat private & hanya mau herbi orang yang mampu mereka percaya.
Dana yg ditempat pada satu perusahaan sang private equity sangat berbeda-beda. Ada yg maunya diatas USD 100 juta dollar, terdapat yang hanya mau range USD 50-100 juta dollar, ada yg mau berdasarkan size USD lima juta. Bahkan ada yg mainnya pada nomor USD 1-lima juta per investment. Masing-masing punya mandat & strategi sendiri.
By the way, kalau Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yang butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling cocok untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya. Perlu dicatat bahwa pemodal ini belum minat kerjasama dengan kalangan UKM, namun hanya dengan korporasi besar. Jadi mohon maaf, tidak bisa dibantu untuk yg masih UKM.
Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu terdapat jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
HP : 081 384 160 988
wingdarmadi@gmail.Com
Info krusial lainnya :
Cari Perusahaan Besar Untuk Diakuisisi
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal buat kongsi usaha
Saatnya Me-Refinancing Hutang Korporasi Yang Bunganya Terlalu Tinggi
Prospek Bisnis Rumah Sakit Cerah, Investor Antri Cari Peluang
Pertumbuhan jumlah penduduk menjadi salah satu pemicu yg meramaikan pasar pembangunan & bisnis rumah sakit pada Indonesia. Pada empat tahun ke depan, pada Indonesia, ada 17 juta penduduk berusia 65 tahun ke atas. Data memperlihatkan, jumlah penduduk berusia 15 tahun sampai 64 tahun bisa mencapai 184 juta jiwa dalam 2020.Jumlah penduduk di rentang usia ini bertambah 17 juta semenjak 2013.
Penduduk berusia 65 tahun ke atas akan mencapai 17 juta pada 2020. Sementara itu, usia 0 tahun sampai 14 tahun diproyeksi bertambah dua juta orang sebagai 71 juta pada 2020. Tak heran bila pertumbuhan demand terhadap eksistensi rumah sakit pada Indonesia pula semakin nyata.
Tanpa berharap semakin banyak orang sakit, sektor jasa kesehatan, khususnya tempat tinggal sakit, punya ruang bertumbuh besar pada beberapa tahun mendatang. Tak ketinggalan tantangan yg menyertainya. Ya, pendorong pertama, pasar tempat tinggal sakit pada Indonesia utamanya didorong oleh pertumbuhan jumlah penduduk.
Umur produktif (25 tahun-54 tahun) yang mendominasi jumlah penduduk, yakni 42,31%, serta rentang remaja hingga dewasa (15 tahun-24 tahun) sebanyak 17,07% juga bakal berefek positif bagi perkembangan industri rumah sakit.
Pertambahan penduduk usia muda atau produktif bisa mendorong peningkatan angka disposable income dan belanja kesehatan. Pada 2020, nomor pendapatan tahunan yang dapat dibelanjakan (annual disposable income) diperkirakan US$750 miliar, naik 53% berdasarkan 2013.
Secara khusus, total pengeluaran buat layanan kesehatan terus semakin tinggi. Pertumbuhan permintaan layanan kesehatan akan terus naik dibarengi nomor harapan hidup.
Sejumlah katalis mampu mengungkit pertumbuhan sektor jasa kesehatan. Dari sisi infrastruktur, rerata pertumbuhan jumlah rumah sakit (RS) di Indonesia dalam 2011-2014 sebesar 10,94%. Pertumbuhan masif terjadi pada RS swasta, yakni 34,12%, sedangkan RS umum cuma 4,18%. Jumlah itu akan bertumbuh seiring menggunakan belanja kesehatan pemerintah yang naik & perluasan usaha pelaku bisnis tempat tinggal sakit.
Katalis penggerak lain yakni acara agunan kesehatan nasional (JKN). Industri RS akan diuntungkan sang pertumbuhan peserta iuran pertanggungan jiwa. Rerata pertumbuhan beragam tahunan iuran pertanggungan premi jiwa pada 2010-2014 sebesar 12,64% sebagai Rp 121,62 triliun per akhir 2014.
Wajar kalau pemain yang ada berani target pertumbuhan yang tinggi. PT Siloam International Hospital Tbk menargetkan punya 50 unit RS pada akhir 2017, tersebar di 25 kota, dengan target punya tempat tidur 10.000 unit dan melayani 15 juta pasien tiap tahun. Sedangkan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) menargetkan membuka minimal satu RS saban tahun. Pada 2019, Mitra Keluarga menarget punya 18 RS.
Menurut penelusuran penulis, kini kalangan investor baik asing atau lokal sangat antusias buat masuk pada usaha RS. Mereka ada yg datang berdasarkan pemain investor strategis maupun investor finansial. Mereka umumnya diam-diam sedang mencari-cari peluang kerjasama menggunakan pemain lokal yang sudah punya pengalaman pada pengelolaan tempat tinggal sakit, sedangkan mereka datang menggunakan membawa jaringan dan modal.
Sudarmadi
wingdarmadi@gmail.Com
Cara kerja & seluk-beluk investor private equity
Sejumlah investor asing cari kongsi bisnis pada Indonesia
Kenali Dua Tipe Investor Ini Sebelum Mencari Dan Menggandeng Investor
Group LAUTAN LUAS Lakukan Merger Tiga Anak Usaha
Korporasi di bidang produksi dan distribusi bahan kimia, Group Lautan Luas, baru saja merampung proses merger 3 anak usahanya. Perusahaan yang dikendalikan famili Indrawan Masrin ini menggabungkan PT Dunia Kimia Jaya ("DKJdanquot;), PT White Oil Nusantara (?WON?) & PT Metabisulphite Nusantara (?MN?) yang semuanya merupakan anak perusahaan PT LAUTAN LUAS Tb. WON & MN resmi menggabungkan diri sebagai satu perusahaan kedalam entitas DKJ melalui proses penggabungan bisnis (merger).
Penggabungan bisnis 3 anak perusahaan tersebut efektif terhitung per lepas 1 Januari 2017. Tujuan dilakukan penggabungan usaha (merger) merupakan menjadi upaya dalam melakukan efisiensi & efektivitas bagi perusahaan.
Penggabungan anak perusahaan tersebut akan memberikan kinerja yang lebih baik pada pengelolaan keuangan, SDM, logistik, dan administrasi. Selain itu pada perencanaan lini produksi pula sebagai lebih efisien dan lebih dekat menggunakan customer karena berada pada tiga wilayah industri besar pada Indonesia yaitu Cikarang (Bekasi), Medan dan Gresik (Surabaya).
Komposisi kepemilikan Perseroan dalam DKJ sebesar 99,9%, sedangkan sisanya 0,01% dimiliki oleh Indrawan Masrin & setelah penggabungan bisnis tadi nir terjadi perubahan yang berarti.
Butuh Investor Asing ? Berikut ini Semoga Bisa Menjadi Solusi Perusahaan Anda
Tulisan ini diupdate November 2019

salam sejahtera dan salam hormat
Di era bisnis yg makin bertumbuh ini, baik kalangan pebisnis atau pemda semakin banyak yg butuh investor. Salah satu jenis investor yang sanggup digandeng merupakan investor asing lantaran umumnya investor asing memang lebih siap dari sisi pendanaan. Mereka mau masuk Indonesia, adalah sudah menyiapkan kapital uang dan strateginya.
Investor asing ini tipikalnya amat beragam, termasuk minat terhadap pilihan investasinya. Contohnya tidak banyak investor yg mau gandengan dengan pemda, kecuali investor bidang infrastruktur dan industri berat.
Kalau dengan kalangan partikelir, banyak investor asing yg minat.
Saya punya rekanan investor luar negeri yang sekarang sedang akan mengembangkan usaha di Indonesia. Ia akan menanamkan investasi secara pribadi pada beberapa bidang bisnis & mencari kawan (local partner) buat diajak berkongsi atau menciptakan perusahaan joint venture. Perusahaan luar negeri ini sudah punya basis kuat di negaranya. Mereka mengalihkan ke Indonesia lantaran pasar Indonesia yang tumbuh pesat. Sedangkan bisnis di negaranya tumbuh sangat pelan atau nyaris stagnan lantaran struktur industrinya memang telah mature.
Investor ini akan menanamkan modal dalam besaran yang disesuaikan kebutuhan mitra lokalnya. Tergantung size business mitra lokalnya. Kisarannya dari USD 10-150 juta . Dinegaranya, perusahaan ini merupakan konglomerasi yang masuk dalam Top Five.
Adapun sektor bisnis yg diminati diantaranya:
- Manufacturing (kemasan, industrial good, B2B product, baja, alumunium, pipa, cat, bahan bangunan, dll)
- Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Ritel
- Shipping / logistik
- Packaging
- Consumer good
- Chain resto
- Kawasan Industri
- shariah financial company
- export oriented company
- agribisnis
- Pupuk organik
- perusahaan services
- outsourcing company
- farmasi
- fishery processing/cold storage/seafood manufacturing
- properti
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
- - dll
Perlu dicatat, investor asing pada umumnya tidak mau melakukan joint venture dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang baru mulai. Perusahaan baru boleh saja namun harus punya induk perusahaan besar. Mereka perusahaan besar sehingga mindset bisnisnya juga skala besar. Mereka sudah jauh-jauh ke Indonesia tentu ingin yang skala bisnisnya cukup. Jadi para pemodal ini belum minat kongsi dengan UKM.
Bila perusaahaan Bapak/Ibu sedang membutuhkan investor, saya siap bantu sinergikan dengan investor dalam jaringan saya. Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
M: 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait :
>Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
>Mengenal Jenis Investor Private Equity
Butuh Investor ? Inilah Dua Tipe Investor Yang Bisa Anda Gandeng
Tulisan ini diupdate tgl lima November 2018
Dalam dunia investasi dan permodalan bisnis, ada istilah investor finansial(financial investor) dan investor strategis (strategic investorataustrategic buyer). Dua tipe investor ini akan dijumpai ketika sebuah perusahaan sedang mencari mitra investor (non bank). Istilah ini juga akan muncul ketika seorang pemilik perusahaan sedang terpikir menjual perusahaannya, maka ia akan berhadapan dengan pilihan, apakah sebaiknya dijual ke financial investor atau ke strategic investor.
Artikel ini menyebutkan beberapa disparitas ciri berdasarkan dua tipe investor itu, semoga bermanfaat bagi pemilik perusahaan yang sedang mencari investor.
Financial Investor, apa itu?
Investor tipe financial investor biasanya mengacu pada beberapa contoh jenis investor seperti perusahaan-perusahaan private equity, perusahaan modal ventura (venture capital), perusahaan hedge fund, perusahaan investasi milik sebuah keluarga kaya(family offices), perusahaan sekuritas yang mengelola dana investasi, dan investor individual seperti para pribadi yang superkaya.
Biasanya, investor financial akan melakukan investasi untuk jangka sementara saja, antara waktu 2-7 tahun saja setelah itu mereka akan eksit (keluar) dengan menjual sahamnya di perusahaan yang ia tanami modal itu. Cara keluarnya bisa beragam, bisa dengan jual sahamnya di bursa (IPO) atau dijual ke investor lain.
Finansial investor ini umumnya penekanan melihat bagaimana taraf return menurut perusahaan yg beliau akan beli/investasi. Yang dicermati laba dan prospek keuntungan, sedangkan bidang bisnisnya sanggup fleksible. Tapi beliau akan cari kawan yg bisa mengelola bisnis karena dia sendiri nir pakar pada bidang teknis pengelolaan usaha yang digarap.
Mereka akan sangat tertarik untuk mendalami arus kas (cashflow) yang dihasilkan berdasarkan perusahaan yang ditarget dan akan melihat bagaimana peluang pertumbuhan arus kas itu dan jua peningkatan pendapatan, pengurangan porto, atau membangun skala ekonomi dengan mengakuisisi perusahaan homogen lainnya.
Investor finansial lebih hati-hati dalam meneliti laporan keuangan perusahaan. Ingat, dana yang dikelola perusahaan financial investor ini merupakan dana pihak lain. Ia yg memutar supaya mampu berkembang sehingga mereka harus sangat hati-hati.
Umumnya mereka lebih senang mencari perusahaan yg dikelola menggunakan baik dengan sejarah pendapatan yang konsisten, & lebih disukai, pendapatannya yang terus tumbuh. Mereka sangat concern melihat asumsi keuntungan perusahaan. Ketika melakukan investasi, atau membeli sebuah perusahaan basanya mereka permanen mempertahanan tim manajemen usang setidaknya buat dua atau tga tahun selama perusahaan itu belum dijual ke pihak lain. Financial investor selalu butuh tim manajemen yang bertenaga yg sanggup sebagai kawan pengelolaan bisnis.
Strategic Investor ??
Investor strategis (strategic investor) merupakan jenis investor yg umumnya adalah perusahaan yang bidang bisnisnya sama atau masih ada hubungan dengan bidang usaha yang butuh investasi. Jadi investor strategis itu mampu pula merupakan perusahaan homogen yang menjadi pesaing, atau perusahaan pemasok, atau bahkan perushaan yang selama ini pelanggan perusahaan Anda. Misalnya, jika bisninya consumer good, investor strategis itu mampu Indofood Group, Kalbe, Sinarmas, atau OrangTua Group.
Investor strategis biasanya melakukan investasi di sebuah perusahaan atau akusisi perusahaan karena sinkron rencana usaha jangka panjang mereka sendiri atau bisnis baru itu bisa saling melengkapi bisnis yang sudah dimiliki. Jadi tujuannya ia investasi bisa untuk ekspansi vertikal (terhadap pelanggan atau pemasok), perluasan horizontal (ke pasar geografis baru atau lini produk), menghilangkan persaingan, atau mempertinggi beberapa kelemahan utamanya (teknologi, pemasaran, distribusi, penelitian & Pengembangan, dll.).
Investor strategis sering bersedia & bisa membayar lebih mahal waktu beliau akan akuisisi, dibanding financial investor. Ada dua alasan utama buat ini. Pertama, pembeli strategis mungkin dapat menyadari manfaat sinergis apabila aset baru itu digabung menggunakan usaha lamanya. Kedua, investor strategis umumnya perusahaan besar menggunakan akses modal yang lebih baik. Mereka tak jarang mempunyai mata uang lain yg tersedia bagi mereka pada bentuk saham. Pembeli strategis sering memperlihatkan saham, uang tunai, atau kombinasi keduanya dalam pembayaran harga beli.
Investor strategis sangat fokus pada kemungkinan bisnis baru yang akan diakuisisi atau diinvestasi bisa sinergi dan bisa diintegrasikan dengan bisnis lamanya. Investor strategis ketika investasi ia akan mempertahankan bisnis yang baru dibeli tanpa batas waktu, yang seringkali sepenuhnya mengintegrasikan perusahaan ke dalam bisnis mereka yang ada.
Sementara investor financial, penekanan melihat kemampuan menghasilkan uang & pertumbuhan pendapatan. Mereka fokus terutama pada kemampuan perusahaan itu buat tumbuh cepat pada saat singkat. Selain itu, financial investor seringkali membeli sebagian bisnis menggunakan cara hutang, yg menyebabkan mereka wajib meneliti kapasitas usaha untuk membentuk arus kas buat melayani beban utang.
Investor finansial, bagaimanapun, umumnya memiliki horison waktu investasi hanya tiga - 7 tahun saja. Mereka sangat concern dengan EBITDA perusahaan & lebih sensitif terhadap risiko daur usaha daripada investor strategis. Maklum, mereka selalu memikirkan taktik exit atau keluar selesainya lima tahun yang harus laba signifikan.
Mana yang lebih baik?
Dua duanya baik. tergantung tujuan dari pihak yang cari investor. Investor strategis biasanya mau membayar lebih mahal, tapi biasanya dia selalu ingin kontrol, sahamnya mayoritas, dan artinya perusahaan anda harus mau menjadi bagian dari group dia. Bahkan mungkin anda sendiri nanti bisa diganti oleh eksekutif kepercayaan dia. Bagia pemilik perusahaan yang ingin jual 100% sahamnya mungkin investor strategis lebih cocok, karena harga bisa lebih baik dan ia tak mikir hal lain. Setelah itu pensiun. paling-paling dia dibutuhkan untuk transisi.
Tapi kalau anda butuh investor yang bisa kerjasama lama dan anda masih ingin mengontrol dan memimpin perusahaan, investor financial lebih tepat. Mereka memang tak ahli operasional, hanya butuh duitnya berkembang. Mereka justru senang bila sebagai pengelola lama anda bertahan, yang penting bisnis untung, kerjasama dan komunikasi harmonis. Financial investor ini cocok banget bila ada cari mitra yang hanya sekedar suntikan modal dan investor yg nggak banyak cawe cawe di bisnis. Atau mereka yang hanya butuh investor untuk sesaat, misalnya untuk 3-4 tahun setelah itu dia keluar, sahamnya dia anda beli. Ini cocok dgn investor financial. Walaupun biasanya valuasi financial investor lebih pelit, namun ia fleksible untuk hal-hal lain. Bisa jadi teman untuk tumbuh, nggak reseh. Investor strategis di lain sisi, cenderung akan dominan dan mengontrol perusahaan anda kalau anda masih punya saham disana.
Dua-duanya ada plus minus.
Yang niscaya, apapun usaha bapak/Ibu, berasal bukan usaha rokok dan minuman keras, dan skala bisnisnya telah diatas Rp 200 miliar, saya bisa bantu cari investor baik tipe financial investor atau strategic investor. Aku siap bantu & silahkan kontak saya. Sukses buat bapak/ibu
Beberapa jenis perusahaan yang dicari investor rekanan aku :
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Tetapi perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yg skalanya sudah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Terima kasih
Sudarmadi
081384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait lainnya :
Mengenal seluk beluk investor private equity
Sejumlah Investor Luar Negeri Yang Tertarik Mencari Kongsi pada Indonesia
Perbedaan financial investor dan strategic investor
Tulisan ini diupdate tgl 20 Mei 2019
Dalam dunia investasi dan permodalan bisnis, ada istilah investor finansial(financial investor) dan investor strategis (strategic investorataustrategic buyer). Dua tipe investor ini juga akan dijumpai ketika sebuah perusahaan sedang mencari mitra investor (non bank). Dua istilah itu juga akan muncul ketika seorang pemilik perusahaan sedang terpikir menjual perusahaannya, maka ia akan berhadapan dengan dua pilihan itu, apakah sebaiknya dijual ke financial investor atau ke strategic investor.
Artikel ini menyebutkan beberapa perbedaan ciri berdasarkan 2 tipe investor itu, semoga bermanfaat bagi pemilik perusahaan yang sedang mencari investor.
Financial Investor, apa itu?
Investor tipe financial investor biasanya mengacu pada beberapa contoh jenis investor seperti perusahaan-perusahaan private equity, perusahaan modal ventura (venture capital), perusahaan hedge fund, perusahaan investasi milik sebuah keluarga kaya(family offices), perusahaan sekuritas yang mengelola dana investasi, dan investor individual seperti para pribadi yang superkaya.
Biasanya, investor financial akan melakukan investasi untuk jangka sementara saja, jangka waktu 2-7 tahun, setelah itu mereka akan eksit (keluar) dengan cara menjual sahamnya di perusahaan yang ia tanami modal itu. Cara keluarnya bisa beragam, bisa dengan jual sahamnya di bursa (IPO) atau dijual ke investor lain.
Dalam melakukan analisa kelayakan investasi, finansial investor umumnya memilih untuk fokus melihat bagaimana tingkat return dari perusahaan yang ia akan tanami investasi. Yang dilihat laba dan prospek laba, sedangkan bidang bisnisnya bisa fleksible. Investor finansial, karena dibatasi si horison waktu investasi yg hanya 3 - 7 tahun saja, mereka sangat concern dengan EBITDA perusahaan dan lebih sensitif terhadap risiko siklus bisnis daripada investor strategis. Mereka selalu memikirkan strategi exit atau keluar setelah 5 tahun yang saat itu harus untung signifikan.
Investor finansial lebih hati-hati dalam meneliti laporan keuangan perusahaan. Ingat, dana yang dikelola perusahaan financial investor ini merupakan dana pihak lain. Ia yang memutar agar bisa berkembang sehingga mereka harus sangat hati-hati. Mereka akan sangat tertarik untuk mendalami arus kas (cashflow) yang dihasilkan dari perusahaan yang ditarget dan akan melihat bagaimana peluang pertumbuhan arus kas itu, dan juga peningkatan pendapatan, efisiensi biaya, atau menciptakan skala ekonomi dengan mengakuisisi perusahaan sejenis lainnya. Mereka sangat suka bisnis yang bisa dibuat besar dalam waktu cepat.
Umumnya mereka lebih senang mencari perusahaan yang dikelola menggunakan baik dengan sejarah pendapatan yg konsisten, & lebih disukai, pendapatannya yang terus tumbuh. Mereka sangat concern melihat perkiraan keuntungan perusahaan. Ketika melakukan investasi, atau membeli sebuah perusahaan umumnya mereka tetap mempertahanan tim manajemen usang setidaknya buat dua atau tga tahun selama perusahaan itu belum dijual ke pihak lain. Financial investor selalu butuh tim manajemen yang kuat yg sanggup sebagai kawan pengelolaan bisnis. Tapi ia akan cari mitra yang mampu mengelola bisnis karena ia sendiri nir ahli di bidang teknis pengelolaan usaha yang digarap.
Strategic Investor ??
Investor strategis (strategic investor) adalah jenis investor yang biasanya merupakan perusahaan yang bidang bisnisnya sama atau masih ada hubungan dengan bidang bisnis yg butuh investasi. Jadi investor strategis itu bisa juga merupakan perusahaan sejenis yang menjadi pesaing, atau perusahaan pemasok, atau bahkan perushaan yang selama ini pelanggan perusahaan Anda. Misalnya, kalau bisninya consumer good, investor strategis itu bisa Indofood Group atau OrangTua Group. Kalau bisnis baja, maka investor strategis itu bisa Krakatau Steel bisa juga perusahaan besar di sektor baja lain.
Investor strategis biasanya melakukan investasi di sebuah perusahaan atau akusisi perusahaan karena sesuai rencana bisnis jangka panjang mereka sendiri, atau bisnis baru itu bisa saling melengkapi bisnis yang sudah dimiliki. Jadi tujuannya investasi itu bisa dalam rangka untuk ekspansi vertikal (terhadap pelanggan atau pemasok), ekspansi horizontal (ke pasar geografis baru atau lini produk), menghilangkan persaingan, atau meningkatkan beberapa kelemahan utamanya (teknologi, pemasaran, distribusi, penelitian dan Pengembangan, dll.).
Investor strategis seringkali bersedia dan mampu membayar lebih mahal ketika ia akan akuisisi, dibanding financial investor. Ada dua alasan utama untuk ini. Pertama, pembeli strategis mungkin dapat menyadari manfaat sinergis bila aset baru itu digabung dengan bisnis lamanya. Kedua, investor strategis umumnya perusahaan besar dengan akses modal yang lebih baik. Mereka sering memiliki mata uang lain yang tersedia bagi mereka dalam bentuk saham. Pembeli strategis sering menawarkan saham, uang tunai, atau kombinasi keduanya dalam pembayaran harga beli.
Investor strategis sangat fokus pada kemungkinan bisnis baru yang akan diakuisisi atau diinvestasi bisa sinergi dan bisa diintegrasikan dengan bisnis lamanya. Investor strategis ketika investasi ia akan mempertahankan bisnis yang baru dibeli tanpa batas waktu.
Mana yang lebih baik?
Dua duanya baik. tergantung tujuan dari pihak yang cari investor. Investor strategis biasanya mau membayar lebih mahal, tapi biasanya dia selalu ingin kontrol, maunya minta saham mayoritas, dan artinya perusahaan anda harus mau menjadi bagian dari group dia. Bahkan mungkin anda sendiri nanti bisa diganti oleh eksekutif kepercayaan dia. Bagia pemilik perusahaan yang ingin jual 100% sahamnya mungkin investor strategis lebih cocok, karena harga bisa lebih baik dan ia tak mikir hal lain. Setelah itu pensiun. paling-paling dia dibutuhkan untuk transisi.
Tapi kalau anda butuh investor yang bisa kerjasama lama dan anda masih ingin mengontrol dan memimpin perusahaan, investor financial lebih tepat. Mereka memang tak ahli operasional, hanya butuh duitnya berkembang. Mereka justru senang bila sebagai pengelola lama anda bertahan, yang penting bisnis untung, kerjasama dan komunikasi harmonis. Financial investor ini cocok banget bila ada cari mitra yang hanya sekedar suntikan modal dan investor yg nggak banyak cawe cawe di bisnis. Atau mereka yang hanya butuh investor untuk sesaat, misalnya untuk 3-4 tahun setelah itu dia keluar, sahamnya dia anda beli. Ini cocok dgn investor financial. Walaupun biasanya valuasi financial investor lebih pelit, namun ia fleksible untuk hal-hal lain. Bisa jadi teman untuk tumbuh, nggak reseh. Investor strategis di lain sisi, cenderung akan dominan dan mengontrol perusahaan anda kalau anda masih punya saham disana.
Dua-duanya terdapat plus minus.
Yang pasti, apapun usaha bapak/Ibu, asal bukan usaha rokok & minuman keras, & skala bisnisnya sudah diatas Rp 200 miliar, aku bisa bantu cari investor baik tipe financial investor atau strategic investor. Silahkan kontak saya apabila sedang memerlukan investor.
Tetapi perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi menggunakan perusahaan yg skalanya telah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu terdapat jalan jika kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
M: 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait lainnya :
Mengenal seluk beluk investor private equity
Sejumlah Investor Luar Negeri Yang Tertarik Mencari Kongsi pada Indonesia
Mitsubishi Gandeng BSD Bangun Kawasan Perumahan
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) bekerja sama dengan perusahaan asal Jepang, Mitsubishi Corporation untuk mengembangan proyek mixed use di Tangerang, Banten.”Kerjasama ini merupakan tingginya kepercayaan pihak investor asing untuk mengembangkan lokasi BSD City yang memiliki pertumbuhan potensial,” kata Direktur Hermawan Wijaya dalam siaran pers.
Menurut dia, proyek ini akan dikembangkan di BSD City milik perseroan. Khusus untuk kerjasama dengan Mitsubishi, luas area pengembangan mencapai 19 hektar dan akan dibangun sebanyak 1.000 unit rumah tapak dan toko yang mulai dikerjakan pada tahun depan.”Kerjasama ini semakin memperkuat posisi BSD sebagai salah satu pengembang terbesar dan berpengalaman di Tanah Air. Di sisi lain, kehadiran Mitsubishi juga memberikan nilai tambah bagi produk BSD City yang selama ini dikenal memiliki kualitas tinggi, sehingga sangat cocok bagi konsumen yang mencari produk hunian atau sebagai sarana investasi,” paparnya.
Dia melanjutkan, kedua perusahaan akan membentuk perusahaan patungan di Indonesia untuk merealisasikan kerjasama tersebut. Mitsubishi memiliki perseroan dalam kerjasama ini karena perusahaan yang terafiliasi dengan Sinarmas Land ltd tersebut memiliki pengalaman panjang di bisnis real estate di Indonesia.
Dengan konsep produk dan kualitas teknologi yang dimiliki pihak Mitsubishi akan memberikan nilai tambah bagi pengembangan produk BSDE khususnya dan pasar properti di Indonesia secara keseluruhan. Kedua belah pihak meyakini dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil dan didukung oleh jumlah masyarakat kelas menengah yang besar, maka permintaan properti akan terus meningkat ke depannya.
Tren perkembangan pasar properti berkembangan ke arah luar Jakarta dan menciptakan kawasan hunian baru, dengan permintaan tinggi.”Kerjasama dengan Mitsubishi ini sekaligus akan semakin memperkuat portofolio pendapatan BSD ke depannya. Pada 2013, BSD telah melakukan pembentukan tiga entitas anak hasil joint venture dengan beberapa mitra strategis baik itu internasional maupun nasional,” paparnya.
Entitas anak tersebut adalah PT Bumi Parama Wisesa (BSD dan Hongkong Land), PT Praba Selaras Pratama (BSD dan AEON Mall Japan), dan PT Indonesia International Expo (BSD dan Dyandra).Saat ini, BSD City merupakan salah satu proyek andalan perseroan dengan area pengembangan secara keseluruhan mencapai 5.950 hektar.
Sebagai informasi, posisi saat ini harga lahan di Serpong, khususnya di kawasan BSD City mencapai Rp12-13 juta persegi untuk kawasan perumahan, sedangkan komersial mencapai Rp18-20 juta meter persegi. Selain itu, perseroan juga memangkas target perolehan dana hasil penawaran umum obligasi berkelanjutan II senilai Rp 3 triliun. Dimana dari rencana awal ditargetkan dana sebesar Rp 1,5 triliun menjadi Rp 650 miliar
Adaro Energy dan BHP Billiton Berkongsi di Bisnis Energi
PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memperolehnya persetujuan dari Pemerintah terkait transaksi pembentukan joint venture baru untuk Proyek Batubara Indonesia (ICP) dengan BHP Billiton.
Adaro memiliki 25% saham dalam joint venture ICP senilai US$ 335 juta, sedangkan BHP Billiton menguasai 75% saham sisanya.
Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir mengatakan gembira dengan telah diperolehnya persetujuan dari Pemerintah Indonesia dan terbentuknya joint venture ICP.
Adaro akan bekerjasama dengan BHP Billiton, yang merupakan pemimpin global di industri sumber daya dan produsen batubara coking terbesar di dunia, dalam mengembangkan aset kelas dunia ini.
”Kedepannya Adaro berharap akan dapat meningkatkan nilai tambah yang signifikan bagi para pemegang saham,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima, Kamis (27/5).
Hal yang sama juga dipertegas oleh Kepala Relasi Investor Adaro Cameron Tough mengatakan akuisisi 25% kepemilikan di perusahaan patungan tersebut nilainya US$335 juta, dan BHP Billiton memiliki 75% sisanya. Angka tersebut setara dengan Rp3,18 triliun.
“Kami mengumumkan pembentukan perusahaan patungan baru Indonesian Coal Project (ICP) dengan BHP Billiton, menyusul konfirmasi persetujuan pemerintah,” tuturnya
Presiden Metalurgi dan Batubara BHP Billiton, Hubie van Dalsen menyatakan pemerintah Indonesia telah menyetujui pembentukan joint venture dengan Adaro, partner Indonesia. Pasalnya Adaro memiliki nilai-nilai dan komitmen yang sama dengan BHP terhadap perlindungan atas kawasan regional yang memiliki biodiversity yang luar biasa.
“Kami sedang melakukan kajian untuk mengidentfikasi opsi-opsi pengembangan atas ketujuh PKP2B (Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara) yang kini dikenal sebagai proyek Batubara IndoMet.”papar Hubie
Sebelumnya, Dirjen Mineral, Batubara dan Panasbumi (Minerbapum), Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan. pemerintah wajib melakukan evaluasi atas permohonan perusahaan patungan tersebut, untuk memastikan kerja sama tersebut memenuhi ketentuan.
Ketujuh proyek tambang yang berlokasi di Maruwai, Kalimantan ini adalah PT Maruwai Coal, PT Juloi Coal, PT Kalteng Coal, PT Sumber Barito Coal, PT Lahai Coal, PT Ratah Coal dan PT Pari Coal.
Saat ini, BHP bersama Adaro tengah melakukan kajian guna mengidentifikasi opsi-opsi pengembangan atas ketujuh tambang tersebut. Ketujuh tambang Maruwai memiliki kalori batu bara sekira 7.000 kilo kalori (KK). Namun untuk mengetahui cadangan pastinya, masih diperlukan kajian yang mendalam.
Adaro Energy merupakan induk usaha yang membawahi seluruh perusahaan dalam Grup Adaro. Anak usaha Adaro Energy antara lain adalah PT Adaro Indonesia, produsen batu bara terbesar kedua di Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal yang mengelola pelabuhan, dan kontraktor tambang PT Sapta Indra Sejati.
BHP Billiton merupakan perusahaan pertambangan multinasional yang didirikan pada 2001. Perusahaan yang berbasis di Melbourne, Australia, itu memproduksi besi, intan, batu bara, minyak bumi, bauksit, tembaga, nikel, uranium, dan perak
Investor Asing Berburu Mitra Lokal Untuk Dirikan Perusahaan Joint Venture

Indonesia saat ini benar-benar menjadi primadona investasi di kawasan Asia Pacific. Banyak sekali investor asing yang ingin masuk Indonesia dan mencari mitra lokal untuk kembangkan bisnis bersama. Tentu saja hal ini menjadi angin segar bagi pelaku bisnis dalam negeri yang ingin mengembangkan bisnis dalam skala yang lebih besar. Salah satu jenis investor yang bisa digandeng memang investor asing karena umumnya investor asing memang lebih siap dari sisi pendanaan maupun pengalaman. Mereka memutuskan akan masuk Indonesia, artinya sudah menyiapkan modal uang dan strateginya.
Investor asing ini tipikalnya amat majemuk, termasuk minat terhadap pilihan investasinya.
Saya sendiri punya rekanan investor luar negeri yang kini sedang akan berbagi bisnis di Indonesia. Ia akan menanamkan investasi secara eksklusif di beberapa bidang usaha dan mencari kawan (local partner) buat diajak berkongsi atau membangun perusahaan joint venture. Perusahaan luar negeri ini telah punya basis bertenaga pada negaranya. Mereka mengalihkan ke Indonesia lantaran pasar Indonesia yang tumbuh pesat. Sedangkan bisnis di negaranya tumbuh sangat pelan atau nyaris stagnan lantaran struktur industrinya memang sudah mature.
Investor ini akan menanamkan modal dalam besaran yang disesuaikan kebutuhan mitra lokalnya. Tergantung size business mitra lokalnya. Kisarannya dari USD 10-150 juta . Dinegaranya, perusahaan ini merupakan konglomerasi yang masuk dalam Top Five.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor rekanan aku :
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Perlu dicatat, investor asing pada umumnya tidak mau melakukan joint venture dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang baru mulai. Jadi, untuk yg masih UKM, mohon maaf, belum bisa dibantu.
Bila perusaahaan Bapak/Ibu sedang membutuhkan investor, saya siap bantu sinergikan dengan investor dalam jaringan saya. Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
M: 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.Com
Artikel terkait :
>Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
>Mengenal Jenis Investor Private Equity
KurniaLand Mulai Aktif Pasarkan Kondotel Melia Bintan

Pemain properti nasional, KurniaLand Group, kini mulai aktif memasarkan proyek barunya pada Pulau Bintan & ketika ini telah mulai memasuki tahap kontruksi pembangunan. Proyek kondotel pada Bintan ini sang KurniaLand akan dikerjasamakan pengelolaannya menggunakan Soll Melia sehingga nanti dinamai Melia Bintan. Di Bintan, Kurnia Land yang mempunyai tanah 6 hektar ini sedang membangun kondominium hotel menggunakan tinggi 7 lantai. Rencananya kondotel ini akan terdiri berdasarkan 319 unit di dalamnya yang terdiri berdasarkan 3 tower & 1 ballroom.
Pengerjaan kontruksi bangunan kondotel ini diserahkan ke BUMN yang sudah berpengalaman, PT Brantas Abipraya (Persero), dan saat ini sudah memulai proses konstruksi. Menelan anggaran investasi sekitar Rp 500 miliar ini, rencananya proses konstruksi kondotel akan selesai pada tahun 2019 dengan standar fasilitas bintang lima. Bagi Group KurniaLand, proyek Melia Bintan ini diharapkan bisa mengulang suksesnya di proyek serupa di Puncak, Bogor, yakni Sahid Eminence Ciloto dimana proyek itu laris manis dan kondotelnya pun selalu penuh dikunjungi tamu.
Zaid Mahdani, Presiden Direktur Kurnia Land Group, sangat antusias berinvestasi di Bintan karena melihat prospek wisata pulau itu yg sangat menarik. Proyek kondotel Melia Bintan ia hadirkan buat merespon demam isu warga yg sangat tinggi pada berwisata ke daerah Bintan. Kondotel MELIA BINTAN terletak pada Pantai Sebong, Bintan yg sangat gampang diakses dari Singapura.
Lokasinya berada di kawasan pantai yang memiliki pasir putih halus dan langsung berhadapan dengan laut China Selatan sebagai best view. Pemandangan alam, laut, pantai, hutan bakau sangat memanjakan mata. Dari kondotel ini nantinya juga sangat mudah untuk mengakses infrastruktur seperti airport, pelabuhan international, lapangan golf, mall dan sejenisnya.
Melia Bintan akan dikembangkan menjadi hotel resort dan pusat bisnis bintang empat dengan fasilitas luxury bintang 5. Di dalamnya akan ada grand lobby; lounge, Ballroom kapasitas 1.000 orang, Meeting Room, Karaoke Room, Mezanine, Ocean Wedding Chappel, Pray Room, Sky Lounge & Resto, dan Ocean Restaurant. Konsep lainnya, ada Riverside Spa, Infinity Pool, Swimming Pool, Children Pool, Private Jacussi, Outdoor Jacussi, Children Play Ground, Therm Park, Mini Zoo, Fitness Center, Sport Centre, Jogging Track, dan Outbond.
Didukung oleh operator kelas dunia yang sudah berpengalaman global, Melia Hotels, manajemen Kurnialand sangat yakin proyek di Bintang ini akan sukses. Kepada investor, Kurnialand menawarkan investasi strata title kepemilikan (Sertifikat Hak Milik), program bagi hasil yang saling menguntungkan, dan kemudahan akses KPA. Kondotel yang ditawarkan meliputi empat tipe kamar suite, antara lain Junior Suite, Executive Suite, Presidential Suite, dan Royal Suite. Sejauh ini KurniaLand sudah memiliki mitra investor loyal yang siap berinvestasi karena melihat prospek pengembangan wilayah Bintan dan prospek bisnis kondotel itu sendiri.
Bagi Zaid Mahdani, investasinya membangun Melia Bintan merupakan bagian dari komitmennya untuk memajukan dunia pariwisata Kabupaten Bintan. Dengan bekal pengalamannya, dan melihat potensi yang dimiliki Kabupaten Bintan, ia sangat optimis Bintan akan menjadi destinasi baru layaknya Bali atau The New Bali. Dalam hal ini Bintan punya keunikan budaya melayu yang bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan, selain faktor alamnya yang sangat indah.
Zaid sendiri sengaja dalam lima tahun kedepan ingin mengembangkan KurniaLand dengan fokus pada pengembangan properti yang terkait sektor wisata atau industri hospitality. Selain di Bintan dan Ciloto (Bogor), Kurnialand juga sedang ancang-ancang meluncurkan proyek barunya di Lembang (Jawa Barat) berupa kondotel yang akan dipadukan dengan resort dan lapangan golf.
Kenali Dua Tipe Investor Ini Sebelum Mencari Dan Menggandeng Investor
Dalam dunia investasi dan permodalan bisnis, ada istilah investor finansial(financial investor) dan investor strategis (strategic investorataustrategic buyer). Dua tipe investor ini akan dijumpai ketika sebuah perusahaan sedang mencari mitra investor (non bank). Istilah ini juga akan muncul ketika seorang pemilik perusahaan sedang terpikir menjual perusahaannya, maka ia akan berhadapan dengan pilihan, apakah sebaiknya dijual ke financial investor atau ke strategic investor.
Artikel ini menyebutkan beberapa perbedaan ciri berdasarkan dua tipe investor itu, semoga bermanfaat bagi pemilik perusahaan yg sedang mencari investor.
Financial Investor, apa itu?
Investor tipe financial investor biasanya mengacu pada beberapa contoh jenis investor seperti perusahaan-perusahaan private equity, perusahaan modal ventura (venture capital), perusahaan hedge fund, perusahaan investasi milik sebuah keluarga kaya(family offices), perusahaan sekuritas yang mengelola dana investasi, dan investor individual seperti para pribadi yang superkaya.
Biasanya, investor financial akan melakukan investasi untuk jangka sementara saja, antara waktu 2-7 tahun saja setelah itu mereka akan eksit (keluar) dengan menjual sahamnya di perusahaan yang ia tanami modal itu. Cara keluarnya bisa beragam, bisa dengan jual sahamnya di bursa (IPO) atau dijual ke investor lain.
Finansial investor ini umumnya fokus melihat bagaimana taraf return dari perusahaan yg beliau akan beli/investasi. Yang ditinjau laba dan prospek laba, sedangkan bidang bisnisnya bisa fleksible. Tapi dia akan cari mitra yg sanggup mengelola bisnis karena dia sendiri nir pakar di bidang teknis pengelolaan bisnis yang digarap.
Mereka akan sangat tertarik untuk mendalami arus kas (cashflow) yang dihasilkan dari perusahaan yang ditarget dan akan melihat bagaimana peluang pertumbuhan arus kas itu & juga peningkatan pendapatan, pengurangan porto, atau membangun skala ekonomi menggunakan mengakuisisi perusahaan sejenis lainnya.
Investor finansial lebih hati-hati dalam meneliti laporan keuangan perusahaan. Ingat, dana yg dikelola perusahaan financial investor ini merupakan dana pihak lain. Ia yg memutar supaya mampu berkembang sehingga mereka harus sangat hati-hati.
Umumnya mereka lebih suka mencari perusahaan yang dikelola menggunakan baik dengan sejarah pendapatan yg konsisten, dan lebih disukai, pendapatannya yg terus tumbuh. Mereka sangat concern melihat perkiraan laba perusahaan. Ketika melakukan investasi, atau membeli sebuah perusahaan basanya mereka permanen mempertahanan tim manajemen usang setidaknya buat 2 atau tga tahun selama perusahaan itu belum dijual ke pihak lain. Financial investor selalu butuh tim manajemen yg bertenaga yang sanggup sebagai mitra pengelolaan usaha.
Strategic Investor ??
Investor strategis (strategic investor) merupakan jenis investor yg umumnya adalah perusahaan yang bidang bisnisnya sama atau masih ada hubungan dengan bidang bisnis yang butuh investasi. Jadi investor strategis itu sanggup pula merupakan perusahaan homogen yang menjadi pesaing, atau perusahaan pemasok, atau bahkan perushaan yang selama ini pelanggan perusahaan Anda. Misalnya, jikalau bisninya consumer good, investor strategis itu bisa Indofood Group, Kalbe, Sinarmas, atau OrangTua Group.
Investor strategis umumnya melakukan investasi pada sebuah perusahaan atau akusisi perusahaan lantaran sinkron planning usaha jangka panjang mereka sendiri atau bisnis baru itu mampu saling melengkapi bisnis yg sudah dimiliki. Jadi tujuannya ia investasi mampu untuk ekspansi vertikal (terhadap pelanggan atau pemasok), perluasan horizontal (ke pasar geografis baru atau lini produk), menghilangkan persaingan, atau menaikkan beberapa kelemahan utamanya (teknologi, pemasaran, distribusi, penelitian dan Pengembangan, dll.).
Investor strategis sering bersedia & mampu membayar lebih mahal ketika dia akan akuisisi, dibanding financial investor. Ada dua alasan primer buat ini. Pertama, pembeli strategis mungkin bisa menyadari manfaat sinergis apabila aset baru itu digabung dengan bisnis lamanya. Kedua, investor strategis umumnya perusahaan besar menggunakan akses kapital yang lebih baik. Mereka seringkali memiliki mata uang lain yg tersedia bagi mereka pada bentuk saham. Pembeli strategis tak jarang memberikan saham, uang tunai, atau kombinasi keduanya dalam pembayaran harga beli.
Investor strategis sangat fokus pada kemungkinan bisnis baru yang akan diakuisisi atau diinvestasi bisa sinergi dan bisa diintegrasikan dengan bisnis lamanya. Investor strategis ketika investasi ia akan mempertahankan bisnis yang baru dibeli tanpa batas waktu, yang seringkali sepenuhnya mengintegrasikan perusahaan ke dalam bisnis mereka yang ada.
Sementara investor financial, fokus melihat kemampuan menghasilkan uang & pertumbuhan pendapatan. Mereka fokus terutama pada kemampuan perusahaan itu buat tumbuh cepat pada saat singkat. Selain itu, financial investor acapkali membeli sebagian bisnis menggunakan cara hutang, yg menyebabkan mereka harus meneliti kapasitas usaha buat membuat arus kas buat melayani beban utang.
Investor finansial, bagaimanapun, umumnya mempunyai horison ketika investasi hanya tiga - 7 tahun saja. Mereka sangat concern dengan EBITDA perusahaan & lebih sensitif terhadap risiko siklus bisnis daripada investor strategis. Maklum, mereka selalu memikirkan strategi exit atau keluar setelah 5 tahun yang wajib laba signifikan.
Mana yang lebih baik?
Dua duanya baik. tergantung tujuan dari pihak yang cari investor. Investor strategis biasanya mau membayar lebih mahal, tapi biasanya dia selalu ingin kontrol, sahamnya mayoritas, dan artinya perusahaan anda harus mau menjadi bagian dari group dia. Bahkan mungkin anda sendiri nanti bisa diganti oleh eksekutif kepercayaan dia. Bagia pemilik perusahaan yang ingin jual 100% sahamnya mungkin investor strategis lebih cocok, karena harga bisa lebih baik dan ia tak mikir hal lain. Setelah itu pensiun. paling-paling dia dibutuhkan untuk transisi.
Tapi kalau anda butuh investor yang bisa kerjasama lama dan anda masih ingin mengontrol dan memimpin perusahaan, investor financial lebih tepat. Mereka memang tak ahli operasional, hanya butuh duitnya berkembang. Mereka justru senang bila sebagai pengelola lama anda bertahan, yang penting bisnis untung, kerjasama dan komunikasi harmonis. Financial investor ini cocok banget bila ada cari mitra yang hanya sekedar suntikan modal dan investor yg nggak banyak cawe cawe di bisnis. Atau mereka yang hanya butuh investor untuk sesaat, misalnya untuk 3-4 tahun setelah itu dia keluar, sahamnya dia anda beli. Ini cocok dgn investor financial. Walaupun biasanya valuasi financial investor lebih pelit, namun ia fleksible untuk hal-hal lain. Bisa jadi teman untuk tumbuh, nggak reseh. Investor strategis di lain sisi, cenderung akan dominan dan mengontrol perusahaan anda kalau anda masih punya saham disana.
Dua-duanya terdapat plus minus.
Yang pasti, apapun usaha bapak/Ibu, berasal bukan bisnis rokok & minuman keras, dan skala bisnisnya telah diatas Rp 200 miliar, saya sanggup bantu cari investor baik tipe financial investor atau strategic investor. Saya siap bantu & silahkan hubungan aku .
Tetapi perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yang skalanya telah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Semoga usaha bapak/Ibu sukses, semakin maju & berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
081384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel lain yg terkait:
- Mengenal seluk beluk investor private equity
- Sejumlah Investor Luar Negeri Yang Tertarik Mencari Kongsi di Indonesia
Refinancing Hutang Korporasi Karena Bunga Yang Kemahalan

Bagi para pengusaha, CEO dan CFO, sangat penting memperhatikan cost of fund. Cari loan korporasi dengan tingkat bunga yg lebih murah dan segera cari sumber lain untuk refinancing kalau bunga kemahalan.
Sekedar, model, bila kita ajukan loan korporasi Rp Rp 300 M, taraf bunga 12% per tahun selama 5 tahun, total bunga sebagai Rp 180 M & total pinjaman yang wajib dibayar Rp 480 M.
Tetapi kalau dapat loan dengan bunga hanya 9%/tahun, maka pinjaman Rp 300 M itu, bunga selama lima tahun sebagai hanya Rp 135 M, dan total loan Rp 435 M. Bedanya lebih berdasarkan Rp 40 M buat lima tahun. Kalau yg pinjamnya ke perusahaan leasing niscaya jauh lebih mahal lagi cost of fund-nya.
Lalu bila pinjaman dalam USD, katakanlah pinjam USD 70 juta, selama 5 tahun dengan bunga 6%, maka total bunga yang harus dibayar selama 5 tahun sebesar US$ 23 juta. Jadi total pinjaman menjadi US$ 92,3 juta.
Tapi jikalau bunga bisa ditekan hanya 4%/tahun, maka total bunga selama lima tahun hanya US$ 14 juta sebagai akibatnya total loan hanya menjadi US$ 84 juta. Dus, bedanya lebih dari USD 8 juta alias lebih menurut Rp 100 M. Efisiensi yang siginifikan.
Bagi yang butuh info bank untuk refinancing pinjaman dengan rate yg lebih bersahabat, akan saya bantu. Baik dalam IDR maupun USD. (thanks 081384 160988 )
Cari Perusahaan Besar Untuk Diakuisisi

Semoga kesejahteraan dan hening buat Bapak/Ibu sekalian & bisnis berjalan lancar.
Mohon maaf mengganggu waktunya. Ada peluang usaha yg ingin aku sampaikan, bagi bapak/Ibu yang relevan dengan kepentingan aku disini.
Singkatnya. Saya punya relasi, investor dari lur negeri dengan kemampuan keuangan yang solid yang berminat untuk ekspansi bisnis di Indonesia dan ingin akuisisi perusahaan di Indonesia yang skala bisnisnya sudah besar. Kalau ada perusahaan Bapak/Ibu yang ingin dijual sebagian sahamnya, silahkan hubungi saya.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor relasi saya:
- Perusahaan bidang industrial
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Perusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Bank syariah
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
Perlu kami tegaskan bahwa investor hanya mau akusisi perusahaan yg skalanya telah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. TIDAK BERMINAT AKUISISI PERUSAHAAN UKM. Investornya sudah investasi di sejumlah perusahaan, bukan baru akan mulai. Mereka telah poly pengalaman.
Terima kasih
Darmadi
HP : 081 384 160 988
wingdarmadi@gmail.Com
Centratama (CENT) Tuntaskan Deal Akusisi Tower BTS Milik XL

Perusahaan publik bidang menara telekomunikasi PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk. (CENT) telah mengakusisi 1.054 menara PT XL Axiata Tbk. (EXCL). CENT mengakusisi menara EXCL melalui anak usaha PT Centratama Menara Indonesia ( CMII ). Sekretaris Perusahaan Centratama Telekomunikasi Indonesia Wiwik Septriandewi menyampaikan perseroan telah memenangkan tender akusisi tadi.
"Untuk akuisisi ini entitas usaha mendapatkan dukungan pembiayaan dari DBS Bank Ltd. dan ING Bank N.V. yang juga bertindak sebagai financial advisors, " katanya dalam siaran resmi Senin (10/2/2020).
Menurutnya, menara-menara yang diakuisisi tersebut berpotensi memberikan kontribusi tambahan pendapatan sebesar kira-kira Rp215 miliar per tahun. Hal itu memperhitungkan lease back yang akan dilakukan XL Axiata untuk penempatan perangkatnya.
CENT, lanjutnya, memperoleh manfaat dari peningkatan kapasitas serta kiprah yang lebih baik lagi menjadi mitra penyedia infrastruktur bagi seluruh operator telekomunikasi dengan pertumbuhan anorganik.
"CENT berkeyakinan dalam masa mendatang industri telekomunikasi nirkabel masih akan terus tumbuh seiring menggunakan perkembangan teknologi dan kebutuhan kapasitas layanan seluler. Penambahan menara semakin memperkuat posisi kami sebagai penyedia menara telekomunikasi independen terbesar ke-4 di Indonesia," ungkap Wiwik.
Pada akhir 2019 CENT mengelola 2.124 menara telekomunikasi dengan rasio tenansi 1,58 kali, serta 841 sites DAS In-Building dengan rasio tenansi 1,97 kali. Adapun pada 2020, CENT mencadangkan belanja modal sekitar Rp2,7 triliun yang akan digunakan untuk eskpansi organik maupun anorganik, guna mencapai target pertumbuhan tenansi hingga 60 persen.
Sementara itu, pada publikasi riset dalam 27 Januari 2020, Kresna Sekuritas menyebut PT Sarana Menara Nusantara Tbk. Berpeluang memenangkan lelang penjualan menara yg dilakukan XL Axiata.
Analis Kresna Sekuritas, Etta Rusdiana Putra mengungkapkan pada hasil risetnya, leverage emiten berkode saham TOWR itu relatif andal buat memperlihatkan harga lebih tinggi sehingga peluang memenangkan lelang menara terbuka.
Seperti diketahui, PT XL Axiata Tbk. (EXCL) melego 3.200 hingga 3.300 menara menggunakan estimasi harga sebanyak Rp4,lima triliun sampai Rp4,6 triliun.
Etta menuturkan kapasitas finansial anak usaha Grup Djarum itu ditunjang oleh peringkat dari S&P yakni BBB. Kemudian, debt to equity ratio (DER) diproyeksi berada di level 1,34 kali pada 2020.
Dia menyebut kemampuan finansial yang cukup kuat didukung oleh grup konglomerasi yang menggantungkan pendapatan dari rokok dan bank.
"Perbandingan utang terhadap ekuitas diproyeksi pada level yang bisa dikendalikan pada 1,34 kali di 2020," katanya, Senin (27/1/2020).
Etta berujar, TOWR memperebutkan menara milik EXCL dengan PT Dayamitra Telekomunikasi, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG). Sebelumnya, TOWR mengakuisisi 1.000 menara milik PT Indosat Tbk. senilai Rp1,95 triliun.
Cari Perusahaan Besar Untuk Diakuisisi
Taiheiyo Cement Mengkaji Deal Akuisisi 15% Saham PT Solusi Bangun

Taiheiyo Cement Corporation berencana mengakuisisi 15% saham PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) atau SBI, anak usaha PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Perusahaan asal Jepang tersebut memiliki komitmen investasi sekitar US$ 220 juta untuk menjalin kerja sama strategis dengan SBI. President and Representative Director Taiheiyo Cement Masafumi Fushihara mengatakan, perseroan telah melakukan kesepakatan awal dengan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan SBI dan Semen Indonesia pada 21 April 2020.
Perseroan berencana membangun kemitraan secara jangka panjang. Detail kerja sama akan diumumkan pada akhir kontrak kesepakatan awal, yang ditargetkan Juli 2020. Sementara hak pelaksanaan rights issue untuk mengakuisisi sebagian saham SBI direncanakan Maret 2021. “Aliansi modal dan bisnis ini memungkinkan perusahaan untuk melanjutkan pertumbuhan di masa depan. Dengan berpartisipasi pada pasar semen di Indonesia, maka kehadiran kami bisa semakin kuat di wilayah Lingkar Pasifik,” jelas dia dalam keterangan resmi, Rabu (22/4).
Latar belakang dari transaksi ini adalah pasar semen Jepang yang dinilai memiliki tantangan tersendiri secara jangka panjang. Salah satunya adalah tingkat kelahiran bayi yang menurun, yang berujung pada penurunan populasi dan penurunan permintaan semen dalam negeri. Sementara di luar Jepang, khususnya negara-negara berkembang di Asia dinilai masih memiliki tingkat permintaan yang baik. Hal ini dipicu oleh berbagai pembangunan infrastruktur.
Menurut Masafumi, perseroan memiliki sejumlah target selama periode tahun fiskal 2018-2020. Salah satunya adalah perluasan pasar di Lingkar Pasifik dan negara sekitarnya. Kemitraan dengan Semen Indonesia Grup berpotensi menguntungkan karena BUMN ini memiliki pangsa pasar terbesar di Indonesia. Lebih lanjut, Sekretaris Perusahaan Solusi Bangun Indonesia Andika Lukmana mengatakan, kerja sama strategis antara para pihak yang terlibat MoU ini meliputi rencana investasi saham oleh Taiheiyo Cement dalam perusahaan, kesepakatan mengenai ekspor ke Taiheiyo Cement dan rencana kemitraan.
“Investasi yang dimaksud dalam MoU adalah sehubungan dengan rencana investasi Taiheiyo untuk mengambil bagian atas saham atau melakukan investasi pada perseroan dengan nilai sebesar US$ 220 juta,” kata dia dalam keterangan resmi. Sesuai rencana, pelaksanaan investasi Taiheiyo pada SBI akan dilakukan melalui peningkatan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. Berdasarkan MoU, kata Andika, SBI dan Taiheiyo Cement telah sepakat bahwa perseroan akan melakukan kegiatan ekspor atas hasil produksinya kepada Taiheiyo Cement. Sementara untuk kemitraan kedua perusahaan akan meliputi penelitian, pengembangan, dan teknologi sehubungan dengan kegiatan usaha produksi masing-masing.
“MoU ini hanya kesepakatan awal, sehingga MoU yang telah ditandatangani dan seluruh rencana masih akan tunduk kepada dokumen-dokumen transaksi atau perjanjian definitif,” jelas dia. Sebagai informasi, saat ini Semen Indonesia melalui Semen Indonesia Industri Bangunan tercatat menguasai 98,30% saham SBI. Sebelumnya, Semen Indonesia mengakuisisi 80,6% saham SBI, yang semula bernama Holcim Indonesia dari Holderfin B.V pada Januari 2019. Transaksi tersebut melibatkan 6,18 miliar saham dengan harga Rp 2.097 per saham.
Valuasi Premium Riset Sinarmas Sekuritas menyatakan, meski masih dalam tahap awal, rencana ini bisa menjadi kesepakatan yang menarik bagi Semen Indonesia Grup dan Taiheiyo Cement. Valuasi saham premium untuk saham SBI dinilai menunjukan potensi yang menguntungkan bagi Semen Indonesia. Sementara bagi Taiheiyo, aksi ini bisa menghasilkan biaya investasi yang rendah dibanding berinvestasi secara greenfield yang bisa menelan biaya US$ 120-150 per ton.
Sementara itu, riset RHB Sekuritas menilai ada potensi pelemahan penjualan semen di kuartal II-2020. Namum, terdapat potensi pemulihan secara bertahap mulai awal kuartal IV-2020. Semen Indonesia diperkirakan mampu melakukan efisiensi biaya lantaran sudah tidak ada pembayaran royalti kepada Lafarge Holcim. Selain itu, Semen Indonesia juga berpeluang mendapat ongkos pembiayaan yang rendah berkat suku bunga acuan Bank Indonesia yang rendah. RHB Sekuritas merekomendasikan beli saham SMGR dengan target harga Rp 9.500. Pada penutupan Rabu (22/4), saham SMGR betengger pada posisi Rp 6.900 per saham.
( Dea Amalyta )
Investor Luar Negeri Cari Perusahaan Besar Untuk Diakuisisi