Kiprah Jagoan Bisnis Alat Presentasi

Di bisnis peralatan presentasi, nama Soedjarwo Budiono sedang berkibar. Ia sukses mengantarkan perusahaannya PT Indovisual Presentama -- agen Proxima, NEC, ASK, dan Panasonic -- merajai bisnis peranti presentasi. Soedjarwo mendirikan perusahaan ini awal 1999, bersama lima sobatnya, yakni Kodrat Budiadji, Hamzah Junaid, Ong Madian, Hartono Lim, dan Muhammad Nazaruddin Anwar. "Sekarang kami market leader di pasar peranti presentasi," ujarnya.
Soedjarwo dkk. mendirikan bisnis keagenan bidang ini lantaran sebelumnya tak ada perusahaan yang khusus menggarapnya. PT Datascrip, misalnya, memang menyediakan perlengkapan presentasi, tapi hanya bagian kecil dari bisnis besarnya di bidang penyediaan perlengkapan kantor. Demikian pula, beberapa pemain lain. "Kami berani karena sangat fokus dan terspesialisasi," katanya.
Enam sekawan ini dengan bulat menunjuk Soedjarwo sebagai nakhoda Indovisual. Lewat urunan, mereka berhasil mengumpulkan total dana Rp 600 juta sebagai modal memulai usaha. Uang ini antara lain dipakai untuk menyewa ruangan di Menara Gadjah Mada Lantai 18 (Jakarta), yang tentu saja tak bisa dibilang murah.
Indovisual betul-betul harus merangkak dari bawah. Pada awal beroperasi, roda bisnis perusahaan ini hanya dijalankan dua orang, Soedjarwo dan Kodrat -- saat itu keduanya menjabat General Manager. Indovisual ketika itu juga baru berbisnis selaku sub-agen atau subdistributor, yang bertugas menjualkan produk dari beberapa agen lain, bukan sebagai agen atau distributor tunggal. Maklum, perusahaan ini masih seperti bayi yang baru belajar menyusu dan merangkak.
Titik cerah makin terlihat ketika Indovisual dipercaya menjadi distributor proyektor merek Proxima (dari AS) -- setelah sempat ditolak beberapa prisipal lain. Waktu itu, Indovisual sengaja melamar Proxima karena melihat kinerja pemasaran distributornya di Indonesia kurang bagus. Tawaran Indovisual disambut baik manajemen Proxima. Maklum, bisnis Proxima sedang tak bagus. Hanya saja, kala itu Indovisual belum diposisikan sebagai distributor tunggal karena Proxima telah lebih dulu menggandeng PT Lusavindra.
Setelah dua tahun berjalan, Indovisual ternyata mampu menunjukkan prestasi mengesankan. Karena itulah, perusahaan ini memberanikan diri meminta manajemen Proxima menjadikannya distributor tunggal. Ternyata, dikabulkan. "Itu tonggak pertama kami dipercaya sebagai agen tunggal," ujar Soedjarwo mengenang.
Kepercayaan dari Proxima tak disia-siakan manajemen Indovisual. Hal ini dibuktikan, tiap tahun Indovisual memperoleh berbagai penghargaan dari Proxima sebagai distributor terbaik. Tiga tahun berturut-turut sejak 2001, Proxima ditahbiskan sebagai penerima The Top Sales ASEAN Award.
Bahkan, tahun 2002 dan 2003 Indovisual menggaet The Top Sales South Asian for Proxima. Setelah itu, manajemen Indovisual mulai melebarkan portofolio bisnisnya dengan mencari prinsipal lain agar bisa memiliki lebih dari satu merek kuat. Lamaran sebagai distributor ke beberapa pemilik merek lain pun dilayangkan. Tak sia-sia, Indovisual kemudian dipercaya juga mengageni merek NEC, ASK, dan Panasonic.
Menurut Soedjarwo, selain persoalan memperoleh kepercayaan prinsipal, tantangan muncul dalam mengembangkan pasar dan mencari pelanggan. Selain harga proyektor masih relatif mahal, pasar juga belum melihat peranti ini sebagai kebutuhan pokok perusahaan. Kala itu, masih lebih banyak orang yang memakai overhead projector (OHP) -- proyektor jenis lama yang masih memakai slide.
Layanan pascajual menjadi perhatian Indovisual. Contoh terobosannya, pertama, menyediakan suku cadang dan unit cadangan (pengganti) proyektor. Jadi, bila proyektor pelanggan mengalami kerusakan dan tengah diservis, aktivitas tak perlu terganggu sebab dipinjami proyektor oleh Indovisual. Kedua, Indovisual memberikan jasa servis gratis selama proyektor itu berfungsi, ditambah garansi suku cadang selama dua tahun.
Ia merinci, tahun 1999 Indovisual mampu menjual rata-rata 25 unit/bulan. Kemudian, tahun 2000, naik menjadi rata-rata 55 unit/bulan; tahun 2001, 100 unit/bulan; tahun 2002, 200 unit/bulan; dan tahun 2003, 300 unit/bulan. "Proxima dan NEC adalah dua brand proyektor yang kami pasarkan saat ini," tutur kelahiran Bojonegero, 27 Mei 1969 ini, seraya menjelaskan harga proyektornya per unit Rp 9-50 juta. Soedjarwo yakin pihaknya kini memimpin pasar di bisnis ini.
Pernyataan Soedjarwo tampaknya tak berlebihan. Bila dilihat dalam konteks korporat, saat ini dengan beberapa merek peranti presentasi yang diageninya, Indovisual merupakan yang terbesar. Namun, bila dibandingkan langsung brand-to-brand, penjualan terbesar di Indonesia masih dipegang merek Infocus yang diageni PT Triyaso Telekomindo.
Di bisnisnya, Indovisual bersaing dengan Computa (Yogya), PT Triyaso (Infocus), Grup Galva, Datacrip (Canon), dan PT Metrodata. Sebenarnya, selain Proxima, NEC, ASK, Canon, dan Infocus, di Indonesia beredar pula produk peranti presentasi merek Toshiba, Sony, dan Hitachi. Hanya saja, posisi pasar merek-merek ini di Tanah Air relatif belum kuat.
Indovisual yang memiliki sekitar 220 karyawan juga memasarkan peranti presentasi lainnya, seperti plasma display, conference system, monitor, OHP, kamera digital, dan notebook. "Hingga saat ini kami masih konsisten memasarkan peranti presentasi," kata Soedjarwo seraya mengungkapkan, omset perusahaannya sudah mencapai puluhan miliar rupiah -- tanpa mau menyebut angka pasti. Perusahaan besar yang menjadi pelanggannya, antara lain, Arta Boga Cemerlang (Grup ABC), Grup Astra, PT Telkom, Mattel Indonesia, IBM, Goodyear, Nestle, Schlumberger, PriceWaterhouse-Cooper, Vico Indonesia, dan Indosat, ditambah beberapa institusi pendidikan seperti Universitas Indonesia, Institut Pengembangan Manajemen Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Universitas Bina Nusantara, dan Institut Teknologi Bandung.
Kisah bisnis menarik lainnya:
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Cara Kerja Private Equity
Salah satu jenis investor yg sanggup digandeng para pengusaha yg ingin mengembangkan usahanya merupakan perusahaan private equity (PE). Perusahaan private equity memang nir terkenal misalnya bank atau bursa. Padahal private equity jua galat satu asal kapital dan menjadi solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yg bisnisnya ingin tumbuh.
Private equity (PE) adalah salah sumber kapital untuk investasi yg berasal berdasarkan para investor seperti dana pensiun, orang-orang kaya, atau dana kekal perguruan tinggi. PE menjadi semacam forum yg ditugaskan & dipercaya buat memutar duit dari investor itu. Kalau bank umumnya menaruh duit pinjaman & lalu minta agunan (kolateral) berupa aset, maka jikalau private equity nir. Dia invest pada perusahaan semisalnya Rp 300 miliar atau Rp 100 miliar, akan tetapi dia minta ditukar dengan saham. Nah, terdapat perusahaan private equity yg hanya mau invest sebagai pemegang saham minoritas dan nggak mau lebih menurut 50%, namun pula terdapat yg maunya justru harus pegang kendali. Masing-masing perusahaan private equity punya gaya dan kebijakan masing-masing.

Asal dana atau sumber dana perusahaan private equity itu biasanya terkumpul karena keaktifan para pendiri dalam mencari dana untuk dikelola. Keluasan network para pendiri PE sangat penting untuk mendapatkan investor. Jangan heran kalau di Indonesia, para pemilik private equity pasti orang yang punya network kuat dengan pemilik dana di luar negeri. Misalnya Patrick Waluyo (Northstar), Gita Wiryawan (Ancora) dan Edwin Soeryajaya (Saratoga). Mereka semua merupakan lulusan Amerika yang channel dengan lembaga keuangan Barat sudah sangat kuat.
Kenapa mereka mau menaruh dananya buat dikelola PE? Ya lantaran ingin dananya berputar dan bertambah. Ingat bahwa pada negeri Barat & Jepang, kalau menaruh deposito pada Bank, bunganya sangat minim, pertahun hanya dua% atau bahkan kurang. Kalau diputar pada negara berkembang seperti pada Indonesia, mereka mampu mendapatkan keuntungan minimal belasan persen per tahun. Logikanya simple, ideologi uang merupakan laba. Dia nir punya loyalitas ke negara atau lokasi. Tapi beliau akan datang ke loka manapun yang sanggup berkembang biak. Ini rumus uang yg jangan dibantah.
Cara investasi perusahaan private equity (PE) ke perusahaan-perusahaan target biasanya menggunakan pola bisa dua macam. PERTAMA, membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang lama (artinya ia membeli existing saham). Dus ada pergantian kepemilikan saham. KEDUA, perusahaan yang akan diinject modal itu menerbitkan saham baru yang kemudian dibeli oleh perusahaan PE itu. Umumnya cara kedua ini lebih banyak dipilih karena berarti dana yang masuk tidak masuk ke kantong pribadi pemegang saham lama, namun menambah modal perusahaan sehingga perusahaan bisa berputar lebih baik. Tapi pola ini sangat case by case, bisa perpaduan. Bisa jadi ketika investor masuk ke sebuah perusahaan, ada sebagian yang masuk ke kantong pemegang saham lama untuk pembelian saham, namun ada juga sebagian yang ditaruh sebagai modal usaha.
KETIGA, Selain cara investasi melalui saham, perusahaan PE juga bisa dengan cara membeli convertible bond yang diterbitkan perusahaan yang butuh duit itu. Convertible bond itu adalah surat utang yang suatu saat bisa diubah (diconvert) menjadi saham ketika pas jatuh tempo dan bila perusahaan yang berhutang itu tidak bisa melunasi secara sempurna atas hutang-hutangnya.
Yang perlu diketahui, perusahaan PE umumnya hanya mau invest di perusahaan yang tumbuh cepat dan margin untungnya baik. Kenapa? Karena beliau wajib memberi keuntungan juga ke pemodal yg menitipkan uangnya. Makanya biasanya IRR private equity selalu minta diatas 18%. Kalau bank Anda kasih bunga 12-13%, maka PE minimal diangka 18%. Bedanya jika bank harus mencicil bulanan, jika PE nggak. PE hanya mengharap laba waktu sahamnya dijual ke pihak lain.
Makanya, kebanyakan orang berhubungan dengan PE bila sudah tidak bisa pinjam ke bank lagi. Ekuitas yang dimiliki perusahaan sudah mentok. Sudah tidak punya kolateral untuk pinjam ke bank. Kalau bahasa orang keuangan, debt to equity ratio sudah nggak memungkinkan untuk pinjam ke bank. Ingat, tidak ada bank yang mau kasih pinjaman bila tidak ada kolateral. Ini normalnya. Ada beberapa bank yang bisa kasih pinjaman tanpa kolateral, namun sudah pasti hanya ke nasabah korporat yang sudah lama dikenal, dan biasanya bunganya juga jauh lebih tinggi.
Siapakah yg paling cocok buat menggandeng PE:
- Perusahaan yang akan ekspansi dan yakin punya bisnis bagus kedepan tapi nggak punya modal pertumbuhan dan sudah sulit pinjam ke bank karena debt to equity ratio sudah terlalu tinggi. Aset yang ada sudah dileverage (SUDAH DISEKOLAKAN) terlalu tinggi sehingga butuh investor (capital partner) yang bisa menambahkan modal untuk pertumbuhan usaha karena memang ada peluang menarik yang akan digarap. Dalam situasi ini cocok dan penting untuk mengajak PE agar mau investasi dan kongsi di bisnis Bapak/ibu.
- Perusahaan yang akan go public pada 2-4 tahun kedepan. agar nilai buku menjadi lebih baik dan kondisi permodalan tampak lebih kuat, anda gandeng PE untuk invest di perusahaan anda. nanti ia akan exit keluar dari perusahaan anda saat IPO dengan menjual saham dia ke investor publik di bursa
- Untuk membeli perusahaan millik pihak lain. Misalnya ada eksekutif yang tahu bahwa ada perusahaan bagus milik pihak lain yang sahamnya akan dijual tapi dia nggak punya uang untuk membeli atau mengakuisisinya. Dalam kondisi itu, ajaklah PE untuk invest bersama dan Anda yang menjadi operatornya karena Anda yang tahu cara kerja dan operasional bisnisnya sehari-hari. PE bisa menjadi pemegang saham sementara, setelah itu saham dia bisa bapak akuisisi
- Untuk membeli saham perusahaan dimana tempat anda bekerja yang mungkin pemilik(bos) sudah tua/capek/bosan bisnis/mau pensiun . Kalau Anda sebagai CEO atau eksekutif tahu bahwa perusahaan dimana ia bekerja akan dijual, maka anda punya cara untuk membelinya,.Terutama kalau anda yakin bahwa bisnisnya bagus dan ia bisa menyelamatkannya. Caranya, silahkan ajak PE untuk invest dan membelinya, dan anda akan menjadi salah satu pmegang saham penting. Saya punya beberapa kawan yang menjalankan pola ini dan sukses besar. Dulu CEO di perusahaan itu tapi tiba2 owner mau jual;al perusahaannya, akhirnya si CEO tadi cari pemodal untuk beli perusahaan itu.
Nah perusahaan PE itu biasanya invest untuk waktu yang tidak lama. Durasi hanya 3-7 tahun. Setelah itu ia keluar atau exit. Cara exit bermacam-macam. Bisa menjual sahamnya melalui bursa atau go public, bisa menjual saham ke pemegang saham lain yang mayoritas. Tapi bisa juga melalui trade sale, yakni ia menjual ke berbagai investor besar yaitu group besar yang minat di bisnis itu. Misalnya PE invest di bisnis TI lalu exit, maka ia akan tawarkan ke ACER, IBM, Microsoft, dll, untuk membeli sahamnya. Istilahnya, menjual ke investor strategis, bukan ke investor keuangan. Tapi menjual ke sesama investor keuangan juga mungkin.
Nah bagaimana di Indonesia? Di Indonesia semakin banyak perusahaan private equity yang aktif walaupun mereka tidak punya kantor khusus di Indonesia namun mereka menunjuk orang tertentu menjadi wakilnya di Indonesia. Mereka ada yang dari Jepang, Hongkong, Singapore, Timur Tengah, Eropa dan Malaysia. Tak kurang dari 30-an investor PE di Indonesia. Hanya saja mereka memang bekerja dengan silent dan bekerja berdasarkan trust. 30 perusahaan PE itu punua fokus investasi dan sstrategi investasi yang berbeda-beda dari sisi besaran per investasi hingga sektor yang ia pilih.
Ingat cara kerja private equity itu sangat silent, diam-diam, nggak mau banyak ngomong. Namanya juga private. Mereka memang selektif dalam memilih perusahaan yang akan diinvestasi, namun mereka juga harus investasi karena kalau nggak menyalurkan duitnya untuk diinvestasikan, mereka juga akan ditanya dan ditabok oleh lembaga yang memercayakan uang untuk diputar. Kalau Anda sudah dipercaya untuk memutar uang tapi kok anda nggak dapat tempat yang ditaruh uang berarti anda bodoh. Anda nggak punya teman atau anda nggak bisa cari teman. Padahal sebegitu banyaknya perusahaan di Indonesia yang butuh funding, dengan manajemen yang terpercaya dan prospeknya bagus.
Perusahaan private equity itu SANGAT JARANG mau atau umumnya tidak mau diajak investasi di perusahaan baru. Intinya mereka itu berkongsi menggunakan pengusaha yang terbukti sanggup mengelola bisnis, bukan baru rencana2 doang. Mereka umumnya hanya mau invest pada perusahaan yang telah eksis menggunakan omset mencukupi tetapi butuh tambahan modal agar sanggup tumbuh cepat. Atau mau pula invest di perusahaan mengagumkan namun sedang sakit akan tetapi ada peluang untuk diperbaiki. Banyak banget investor yg meminati Indonesia. Tapi memang butuh cara khusus mendekati mereka lantaran mereka memang sangat private & hanya mau berhubungan dengan orang yg mampu mereka percaya.
Dana yang ditempat di satu perusahaan oleh private equity sangat berbeda-beda. Ada yang maunya diatas USD 100 juta dollar, ada yg hanya mau range USD 50-100 juta dollar, terdapat yg mau berdasarkan size USD lima juta. Bahkan ada yg mainnya pada nomor USD 1-lima juta per investment. Masing-masing punya mandat dan strategi sendiri.
Bila Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yg butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling cocok untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya.
Beberapa jenis perusahaan yg dicari investor rekanan saya:
- Perusahaan bidang manufacturing, khususnya yg punya brand sendiri
- Perusahaan bidang chemical (speciality chemical, produksi dan distribusi)
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahan
- Perusahaan manajemen hotel
- Perusahaan farmasi
- Perusahaan bidang jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan pengolah limbah dan sejenisnya
- Perusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan jasa outsourcing skala besar
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Namun perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yg skalanya sudah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Silahhkan hubungi aku bila perusahaan Bapak/Ibu butuh investor untuk pengembangan usaha.
Semoga usaha bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
wingdarmadi@gmail.Com
HP : 081 384 160 988
Info krusial lainnya :
Cari Perusahaan Besar Untuk Diakuisisi
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Perlunya Me-Refinancing Hutang Korporasi Yang Bunganya Kemahalan
Layanan Solusi Baru Indosat Untuk Pebisnis SME

Sebagai bagian dari visinya untuk mendukung para pelaku bisnis usaha kecil dan menengah (small medium enterprise / SME), Indosat menghadirkan solusi telekomunikasi lengkap Instant Office. Solusi ini menawarkan kemudahan dan kenyamanan bagi pebisnis dalam berkomunikasi untuk mendukung bisnisnya.
“Dengan layanan Instant Office, kami berharap dapat memberikan solusi telekomunikasi sekaligus memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan untuk meningkatkan bisnis bagi pelaku usaha kecil dan perusahaan menengah,” ujar Director & Chief Sales & Distribution Officer Indosat, Joy Wahjudi, dalam keterangannya Rabu, 12 Agustus 2015.
Layanan Instant Office merupakan perangkat wireless router dengan konektivitas 3G dengan kemampuan berbagi internet mencapai 20 pengguna baik melalui Wi-Fi maupun kabel LAN, dan juga memiliki fungsi sebagai fasilitas telepon yang dapat digunakan sebagai telepon tetap (fixed telephone).
Instant Office juga memiliki fitur Hunting dan Menu Suara Interaktif (IVR) dengan menggunakan virtual PABX sehingga dapat meningkatkan pengalaman pelanggan saat melakukan panggilan ke nomor kantor.
Dengan Instant Office, seluruh kebutuhan telekomunikasi pelanggan dapat disatukan sehingga menghemat biaya koneksi. Pelanggan tidak perlu lagi membeli paket data terpisah-pisah untuk masing-masing perangkat.
“Dengan kemudahan instalasi perangkat, koneksi internet dan telepon secara bersamaan, kami berharap dapat membantu efisiensi operasional pelanggan dan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan,” tambah Joy Wahjudi.
Setiap perangkat yang memiliki koneksi Wi-Fi bisa terkoneksi ke 3G router dan menikmati koneksi internet bersama-sama. Pelanggan dapat memilih berbagai paket Instant Office yang sudah termasuk Wireless Router Huawei B970b, kabel data, adapter dan starterpack Indosat.
PT Propadu Konair, Jagoan Pupuk Organik Dari Medan, Sukses Berbasis Riset

Perusahaan bioteknologi dari Medan, PT Propadu Konair Tarabuhun (PKT Group), terus aktif mengembangkan produk baru pada bidang pupuk dan obat tumbuhan non kimia. Dengan dukungan riset yang intensif dilakukan, PT Propadu Konair Tarabuhun terus mencoba memberikan produk-produk dan solusi yang diperlukan perusahaan perkebunan di Indonesia, khususnya perusahaan perkebunan sawit.
Bagaimanapun, seiring tuntutan pertanian dunia yang mesti memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan keberlanjutan (susnaibility), produk pupuk juga mesti bisa mendukung visi kelestarian lingkungan tersebut. Di Indonesia dalam lima tahun terakhir penetrasi pupuk non kimia sudah semakin positif, masyarakat pertanian di Indonesia mulai menerima. Hal itu misalnya terlihat dari aplikasi produk-produk pupuk organik di kalangan industri perkebunan sawit yang merupakan salah satu sektor pertanian penting di Indonesia. Bila dulu kalangan perusahaan pengelola perkebunan sawit hanya mau mengaplikasikan jenis-jenis pupuk kimia di lahan perkebunan sawitnya, kini secara bertahap pupuk non kimia atau pupuk organik mulai banyak digunakan.
Selain didorong oleh tuntutan pasar dunia yang mensyaratkan produk-produk ramah lingkungan, gerakan itu tampaknya tak lepas dari kesadaran terhadap efek merusak dari pemakaian pupuk kimia. Mulai dari efek merusak kesuburan tanah, mengancam kelangsungan hidup mikro organisme yang berada dalam tanah, hingga menjadikan tanaman lebih mudah terserang hama penyakit tanaman.
Sebagai perusahaan bioteknologi yang memproduksi pupuk non kimia, manajemen PT Propadu Konair Tarabuhun (PKT Group) juga merasakan sentimen positif itu. "Memang betul, sejak lima tahun terakhir makin banyak perusahaan besar perkebunan sawit di Indonesia yang mulai menggunakan pupuk non kimia, termasuk produk dari PKT. Tentunya itu tren positif, seiring dengan gerakan dan kesadaran pro green di dunia," tutur Supeno Surija, pendiri dan CEO PKT Group. Pemicu lain, sambung Supeno, saat ini para pengelola kebun di Indonesia juga sudah merasakan efektifitas produk-produk non kimia yang faktanya juga sangat baik dalam meningkatkan produktifitas tanaman.
Pada masa lalu, memang ada beberapa alasan yang mendorong para pengelola kebun untuk memakai pupuk kimia. Pertama, para pengebun memandang bahwa pupuk kimia memiliki efektifitas yang lebih instan atau bisa langsung dirasakan. Dampaknya terhadap perkembangan tananaman langsung terlihat -- meski tanpa disadari juga menimbulkan berbagai dampak perusakan tanah. Di lain sisi, kala itu berbagai produk pupuk organik atau non kimia yang ada memang belum menunjukkan tingkat efektifitas tinggi dalam memperbaiki kualitas tanaman ataupun pembasmian penyakit tanaman.
Supeno menyadari persepsi negatif masyakarat terhadap pupuk organik itu sehingga ia dan timnya kemudian terdorong melakukan riset di bidang pupuk dan obat non kimia guna yang punya efektifitas tinggi namun tidak merusak alam. Tentu Supeno yang punya latarbelakang pendidikan doktoral di bidang riset sehingga tak canggung untuk memimpin proyek riset itu. Supeno yang mantan CEO salah satu industri besar di Medan ini sangat terinspirasi untuk membangun industri biotech berbasis riset.
Tak heran bila kemudian dari perusahaan yang dirintisnya, PT Propadu Konair Tarabuhun, lahir produk-produk terobosan di bidang pupuk non arganik dan obat non kimia untuk sektor perkebunan. Contohnya adalah pupuk organik Dewik Ijo yang merupakan jenis pupuk multi organic alkali fertilizer (MOAF) satu-satunya di Indonesia. Cara pembuatan Dewik Ijo terbilang sangat unik. Kalangan pabrikan pupuk biasanya membuat satu pupuk standar untuk semua kebun. Model itu tak dterapkan PKT Group.
"Pupuk Dewik Ijo ini diformulasi secara khusus dan berbeda untuk kebun yang satu dengan yang lain. Formulasi pupuknya itu sendiri diperoleh setelah tim kami melakukan survey mendalam terhadap kebun milik pelanggan kami, khususnya kita analisa dulu kondisi tanaman, tanah, kelembaban, iklim, serangan penyakit, dan faktor lain yang relevan," ungkap Supeno. Tak heran, bila setiap produk pupuk yang diproduksi PKT memiliki nomor batch yang berbeda untuk setiap kebun yang berbeda.
Lebih lanjut Supeno menjelaskan, pupuk Dewik Ijo diformulasikan agar dapat bekerja lebih cepat dari pupuk kimia, namun tidak bersifat booster atau hanya efektif sementara. Selain itu juga tidak menimbulkan residu. Supeno sendiri sangat concern dengan aspek kelestarian lingkungan sehingga dalam membuat produk selalu menjaga agar selalu selaras dengan prinsip pro green tersebut. "Kami bersyukur bahwa pupuk kami merupakan satu-satunya produk pupuk yang sudah mendapatkan standar sertifikasi DIOXIN-FREE," terang Supeno. Yang juga menarik, bila sudah menggunakan produk Dewik Ijo sudah tak diperlukan lagi pupuk tambahan baik bupuk kimia, kompos, pupuk kandang, dan mikrorganisme lain.
Produk terobosan PKT Group tak hanya pupuk, namun juga di bidang obat non kimia untuk tanaman. Salah satunya CHIPS, yakni sebuah produk teknologi organik untuk mengendalikan serangan jamur ganoderma. Bukan rahasia lagi, bagi pengusaha perkebunan sawit di Indonesia, jamur ganoderma boninense menjadi momok yang sangat dibenci. Pasalnya jamur ganoderma ini menyebabkan busuk pangkal batang atau Basal Stem Rot (BSR) yang bisa memangkas hasil produksi hingga 50%. Bagi perusahaan-perusahaan perkebunan besar, dalam beberapa tahun terakhir ini ganoderma ditengarai menjadi pemicu kerugian miliaran rupiah pertahun karena daya rusak yang diciptakannya terhadap tanaman sawit.
Supeno menjelaskan, setelah melalui serangkaian test lab dan test di kebun, tim di PT Propadu Konair Tarahubun (PKT) berhasil menemukan teknologi organik yang cukup canggih di bidang biotech ini. "CHIPS ini formulasi organik dan gabungan dari beberapa jenis dan strain mikroorganisme seperti Trichoderma dan jenis lainnya dengan estimasi jumlah 6x10 pangkat 7 sampai dengan 2x10 pangkat 8 CFU," kata Supeno.
CHIPS, papar Supeno, telah diaplikasikan dan diujicobakan pada beberapa demoplot di perkebunan swasta dengan disaksikan Asosiasi Bio-agroinput Indonesia (ABI). "Hasilnya, aplikasi CHIPS berhasil melumpuhkan jamur ganoderma," kata Supeno. Produk tersebut terbukti bisa menghentikan serangan ganoderma dan oryctes. Pertumbuhan akar pohon dan daun menjadi lebih baik.
Di luar dua produk itu, PKT yang dipimpin Supeno juga masih punya beberapa produk terobosan lain untuk memberikan solusi bagi perusahaan perkebunan, khususnya perkebunan sawit. Selain itu timnya juga akan berpacu untuk terus menghasilkan produk-produk pupuk organik dan non kimia yang harus selalu ramah lingkungan. Sebagai pribadi Supeno merasa prihatin dengan praktek perkebunan di Indonesia yang diserang bertubi-tubi oleh kalangan LSM dunia karena kurang ramah lingkungan. Ia berharap apa yang dilakukannya bisa menjadi sebuah langkah positif untuk membangun perkebunan Indonesia yang lebih produktif, ramah lingkungan dan lestari.