Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Tampilkan postingan dengan label ICT Telco. Tampilkan semua postingan

Gandeng IBM, Lintasarta Luncurkan Layanan ITSP

Perusahaan jasa telekomunikasi PT Aplikanusa Lintasarta terus memperkuat mesin pertumbuhan bisnisnya dengan menubruk peluang-peluang bisnis baru dan juga aktif melakukan aliansi bisnis. Salah satu manuvernya, kini Lintasarta sedang memperkuat kemitraan dengan IBM Indonesia. Kemitraan keduanya ditandai dengan peluncuran solusi ITSP (Information Technology Strategic Partner).

Solusi ITSP antara lain berupa Enterprise Resiliency Services, Data Center Migration, Data Center Design and Construction, IT Infrastructure Security Consulting dan Managed Security Service.

President Director Aplikanusa Lintasarta Arya Damar mengatakan, dalam melakukan perubahan, khususnya transformasi digital, sebuah perusahaan tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan partner terbaik.

“Indosat Ooredoo dan Lintasarta sebagai pemimpin solusi ICT dan IBM yang merupakan pemimpin IT global memberikan jawaban akan akselerasi yang dibutuhkan dalam menghadapai era digitalisasi yang berkembang begitu cepat,” ujar Arya Damar.

Menurut Arya Damar, pelaku industri perlu memanfaatkan tren digital seperti big data, internet of things, cloud services, social media, dan mobility secara tepat. Ia mengatakan, solusi digital yang tepat akan meningkatkan efisiensi dan akselerasi ekspansi sehingga menjadi batu loncatan dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi yang besar di era perdagangan bebas.

Presiden Direktur IBM Indonesia Gunawan Susanto mengatakan, kemitraan dengan Lintasarta menunjukkan bagaimana keahlian IBM, teknologi, dan layanan dapat membantu Lintasarta dan Indosat Ooredoo memberikan solusi IT yang inovatif dan sejalan dengan perkembangan ekonomi dan kebutuhan IT di Indonesia.”

“Layanan IT terbaik secara end to end kepada para pelaku bisnis menjadi fokus kami yang didukung dengan infrastruktur dan teknologi IT yang andal, tangkas, dan aman dalam menghadapi perkembangan era digital,” tegasnya.

Herfini Haryono, director and chief Wholesale and Enterprise Officer Indosat Ooredoo menambahkan, melalui solusi ITSP dengan Lintasarta sebagai IT factory dan solusi ICT yang dimiliki, Indosat Ooredoo Group siap menjadi mitra untuk mendukung para pelaku bisnis dari berbagai industri untuk menghadapi era digital yang identik dengan kecepatan, instan, transparansi, dan kemudahan akses.

“Indosat Ooredoo Group melalui Lintasarta dan Indosat Ooredoo Business kembali memastikan menjadi mitra tepat dalam mengelola bisnis. Kami berkomitmen untuk mendukung pelaku bisnis dalam menghasilkan sumber pendapatan baru, meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pengalaman terbaik bagi para pelanggannya,” paparnya.

#Tag : ICT Telco

XL Siap Menggebrak Dengan Pasarkan 250 Ribu Paket Mobile Broadband Baru

Salah satu pemain utama di bisnis operator seluler,  XL, kini tengah serius menyiapkan layanan mobile broadbandnya (MBB). Untuk itu dikabarkan XL juga telah menyiapkan stock paket MBB dalam jumlah memadai. Tidak kurang dari 250 ribu paket MBB telah siap dipasarkan melalui outlet penjualan di seluruh kota 4G.

David Arcelus Oses, Chief of prepaid Business Officer XL, berkata semua lini di XL sudah siap mendukung layanan MBB ini. "Bahkan kami pula telah menyiapkan layanan purna jualnya seperti apa nanti. Misalnya, bila router atau MiFi ternyata tak sanggup menangkap frekuwensi 4G hingga sekian Mbps, maka apa yg sanggup dilakukan pelanggan? Apakah bisa mengembalikan barang itu? Semua telah kami siapkan,? Tandas David.

Layanan MBB adalah layanan terbaru dari XL. Layanan ini sanggup dimanfaatkan menggunakan menggunakan perangkat router atau MiFi buat membagi koneksi internet cepat secar WiFi ke 10-32 smartphone atau laptop. Dengan demikian, akan semakin mudah warga dalam mendapatkan akses internet 4G, meski belum mempunyai ponsel 4G.

Pihak XL meyakini, router atau MiFi yg ditawarkan pada paket MBB memiliki spesifikasi teknis terbaik pada kelasnya buat bisa digunakan secara aporisma pada jaringan 4G LTE. Didukung teknologi 4T4R & alokasi spectrum selebar 15 MHz, MBB disebut mampu menaruh kestabilan & kecepatan akses internet hingga150 Mbps. Teknologi ?4T4R? Atau massive MIMO merupakan kombinasi multi-signal berupa 4 frekuwensi transmit & 4 sinyal receive. Artinya, teknologi ini akan berkemampuan memancarkan data menggunakan kombinasi 4 sinyal, sekaligus mendapat data berdasarkan kombinasi 4 sinyal. Teknologi 4T4R sendiri merupakan pengembangan berdasarkan versi sebelumnya, yaitu ?2T2R?.

Untuk mempermudah warga buat memperoleh layanan MBB, XL telah mempersiapkan seluaruh saluran penjualan yg mencakup semua kota di Indonesia yg telah ter-cover oleh layanan 4G. So, pelanggan sanggup menerima produk ini pada semua outlet XL, baik tradisional, modern, jua online. Di tahap awal, lebih berdasarkan 250 ribu paket MBB akan tersedia di 36 XL center dan XPLOR, jua outlet milik XL pada berbagai pusat penjualan ponsel.

#Tag : ICT Telco

Indosat Bangun DRC Ketiga

Bisnis data center dan pengamanannya memang terus semakin menggiurkan di tengah makin pentingnya perusahaan dan lembaga publik untuk menyimpan dan mengamankan datanya. Tak heran bila vendor layanan seperti Indosat Ooredoo juga makin antusias untuk menggarapnya. Tengok saja, penyedia jasa telekomunikasi ini baru saja meluncurkan Disaster Recovery Center (DRC) yang ketiga dengan standar tier 3.

Seperti DRC pertama dan keduanya, DRC yang ketiga juga berlokasi di Jatiluhur, Purwakarta. Sertifikasi tier 3 berarti layanan data center ini telah menenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan Uptime Institute. Salah satu yang paling ditonjolkan adalah penggunaan dua sumber daya yang diusungnya.

Demi memastikan tak ada downtime sedikit pun, DRC 3 kepunyaan Indosat menggunakan pasokan listrik dari PLN dan juga Jasa Titra II. Itu belum termasuk mesin genset yang juga disiapkan Indosat kalau-kalau kedua sumber listrik mengalami kendala.

"Persyaratan tier 3 salah satunya adalah pasokan daya n+1. Kami sudah memenuhi itu dengan menggunakan dua sumber daya, bahkan kami menambahnya lagi dengan genset. Jadi bisa dibilang malah 2n+1," ujar Gidion S. Barus, Division Head IT Solution Indosat Ooredoo.

Bicara kapasitas, DRC 3 Indosat memiliki luas total yang mencapai 6.000 m2. Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale Enterprise Indosat Ooredoo, mengatakan DRC 3 ini diharapkan bisa menjawab keberadaan PP Nomor 82 Tahun 2012 yang mewajibkan perusahaan yang beroperasional di Indonesia untuk menyimpan data-data penggunanya di dalam negeri.

Di sisi lain, kelebihan yang ditawarkan DRC 3 Indosat adalah tersedianya berbagai fasilitas tambahan yang bisa dimanfaatkan perusahaan, salah satunya adalah working area. Sehingga perusahaan bisa leluasa mengirimkan timnya untuk langsung melakukan maintain data center di lokasi.

Sementara itu soal komunikasi data Indosat memastikannya dengan dukungan kabel serat optik yang terhubung langsung ke Jakarta dan Bandung. Sambungan lain yang bisa dimanfaatkan adalah melalui hubungan satelit.

"Di dorong keberadaan PP Nomor 82 tahun 2012, DRC 3 di Jatiluhur ini menjadi alternatif pilihan terbaik bagi pelaku industri. Jatiluhur juga merupakan hub utama untuk jaringan komunikasi Indosat Ooredoo dan Lintasarta," kata Herfini.

#Tag : ICT Telco

Layanan Solusi Baru Indosat Untuk Pebisnis SME

Sebagai bagian dari visinya untuk mendukung para pelaku bisnis usaha kecil dan menengah (small medium enterprise / SME), Indosat menghadirkan solusi telekomunikasi lengkap Instant Office. Solusi ini menawarkan kemudahan dan kenyamanan bagi pebisnis dalam berkomunikasi untuk mendukung bisnisnya.

“Dengan layanan Instant Office, kami berharap dapat memberikan solusi telekomunikasi sekaligus memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan untuk meningkatkan bisnis bagi pelaku usaha kecil dan perusahaan menengah,” ujar Director & Chief Sales & Distribution Officer Indosat, Joy Wahjudi, dalam keterangannya Rabu, 12 Agustus 2015.

Layanan Instant Office merupakan perangkat wireless router dengan konektivitas 3G dengan kemampuan berbagi internet mencapai 20 pengguna baik melalui Wi-Fi maupun kabel LAN, dan juga memiliki fungsi sebagai fasilitas telepon yang dapat digunakan sebagai telepon tetap (fixed telephone).

Instant Office juga memiliki fitur Hunting dan Menu Suara Interaktif (IVR) dengan menggunakan virtual PABX sehingga dapat meningkatkan pengalaman pelanggan saat melakukan panggilan ke nomor kantor.

Dengan Instant Office, seluruh kebutuhan telekomunikasi pelanggan dapat disatukan sehingga menghemat biaya koneksi. Pelanggan tidak perlu lagi membeli paket data terpisah-pisah untuk masing-masing perangkat.

“Dengan kemudahan instalasi perangkat, koneksi internet dan telepon secara bersamaan, kami berharap dapat membantu efisiensi operasional pelanggan dan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan,” tambah Joy Wahjudi.

Setiap perangkat yang memiliki koneksi Wi-Fi bisa terkoneksi ke 3G router dan menikmati koneksi internet bersama-sama. Pelanggan dapat memilih berbagai paket Instant Office yang sudah termasuk Wireless Router Huawei B970b, kabel data, adapter dan starterpack Indosat.

Hariff Group Siap Pasok Sistem dan Jaringan Telekomunikasi Handal Untuk Militer

Diam-diam perusahaan nasional yang berpusat di Bandung ini berhasil melakukan riset pengembangan untuk menghasilkan produk dan sistem telekomunikasi yang bisa membantu pekerjaan militer, khususnya untuk sistem pengelolaan tim tempur maupun sistem pengelolaan jaringan militer itu sendiri. Perusahaan ICT,  PT Hariff Daya Tunggal Engineering (Hariff Group), beberapa tahun terakhir ini terus melakukan inovasi teknologi di bidang ICT dan kini berhasil mengembangkan software untuk pengontrolan dan pengelolaan alat tempur di medan perang dan juga sistim jaringan mandiri yang aman bagi kebutuhkan milter dan organisasi yang butuh tingkat sekuriti jaringan tinggi.

Semangat tim Hariff dimulai dari kepedulian bahwa produk dan sistem militer harusnya dibangun oleh orang-orang (tim sumberdaya manusia) dan perusahaan asli Indonesia. Tujuannya jelas, untuk melindungi kerahasian militer dan kerahasian negara. Dus, tidak diserahkan ke asing atau menggunakan sistem komunikasi buatan asing yang sangat rawan terhadap pencurian data dan kerahasian negara oleh anasir asing.

Hariff Group selama ini dikenal sebagai produsen berbagai produk jaringan telekomunikasi baik hardware maupun software. Perusahaan ini juga termasuk pelopor di bisnis BTS dan salah satu karyanya yang saat ini banyak dipakai kalangan perusahaan seluler ialah teknologi mobile BTS.

Di bidang militer, perusahaan pengembang teknologi telekomunikasi itu sebelumnya telah mengembangkan Jaringan Aman Mandiri (JAM). Kemampuan jaringan tersebut  pernah didemontrasikan di hadapan Menhan Ryamizard Ryacudu di Bandung. JAM merupakan jaringan berbasis protocol dan enkripsi khusus sehingga mempunyai kemampuan antisadap yang memang diperlukan dalam telekomunikasi militer.

“Ini penting, kerahasian itu harus terjamin. Karena ini termasuk rawan (disadap), harus dicek terus, (selama ini) alat kita yang buat luar negeri. Kalau dibuat oleh kita sendiri, jadi tidak tahu (oleh musuh),” jelas Menhan saat berkunjung. Kemenhan berencana mengaplikasikan JAM pada tahun depan. Langkah ini sekaligus sebagai upaya memberdayakan produksi dalam negeri.

Menurut Dirut Hariff Budi Permana, Kemenhan menginginkan JAM untuk tahap pertama digunakan di lingkungan internal terutama untuk pusat data informasi (Pusdatin). “Kita menawarkan jaringannya. Begitu aplikasi lainnya kita hubungkan, termasuk dengan Alkom di pasaran, data yang dimasukkan tak akan bisa disadap,” jelasnya.

Dijelaskan, proyek jaringan mandiri seperti itu relatif jarang di Indonesia. Di negara-negara lain, kondisi tersebut bisa dikatakan sudah lumrah. Padahal dengan jaringan mandiri, Indonesia bisa terhindar sebagai “rumah kaca”. Lalu lintas informasi pun bakal terproteksi dari upaya deteksi. JAM yang menawarkan keamanan informasi bisa  menjalankan aplikasi pengambilan data dan video melalui drone dan battlefield management system. Selain itu, jaringan bisa digunakan untuk pengawasan dan patroli pulau terluar.

Hariff Group juga sukses mengembangkan sistem ICT untuk manajemen pasukan tempur yang dinamai Battlefield Management System (BMS). BMS diciptakan karena terinspirasi dari sebuah kejadian nyata. Dimana dahulu ada pasukan militer yang menembak kendaraan perang temannya sendiri di medan perang. Hal tersebut terjadi karena sistem yang dimiliki oleh tentara perang tersebut tidak dapat membedakan mana teman mana lawan.

"BMS yang kami kembangkan ini dapat mencegah terjadinya hal demikian,” ujar Presiden Direktur PT Hariff, Budi Permana. Yang juga sangat penting, semua sistem BMS itu dikembangkan dengan protokol dan enkripsi data buatan sendiri. Sehingga kerahasiaan manuver pasukan dan komunikasi data hanya dapat diketahui dan diterima oleh pasukan sendiri. BMS sendiri telah diuji coba dalam Panser Anoa, Tank Marder dan Main Battle Tank (MBT) pada 2014 lalu. Tidak hanya itu, BMS juga telah menjadi bagian dari kurikulum di Pusat Pendidikan Kavaleri TNI Angkatan Darat.

Ya, ide dan inovasi teknologi ini tentu saja brilian dan sangat perlu bagi Indonesia. Sudah saatnya teknologi militer dikuasai oleh anak negeri sendiri,perusahaan domestik, bukan dipercayakan ke produsen asing yang tentu saja amat sangat mudah menjadi agen kepentingan militer asing. Kalau bukan sekarang, kapan lagi kemandirian militer Indonesia akan dimulai !  (Sudarmadi)

Baca artikel terkait  :

Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan

Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa

Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto

Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI

Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda

Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM

Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle

Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex

Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR

Kiat Membesarkan Bisnis Software TI Ala DataON

Perusahaan-perusahaan piranti lunak dalam negeri tak perlu lminder bersaing dengan software house multinasional sekelas SAP, Oracle, Peoplesoft, JD Edward dan sejenisnya. Perusahaan lokal pun bisa  membuktikan bahwa produk mereka tak kalah hebat.  Contohnya DataOn yang mampu menunjukkan bahwa  softwarehouse lokal bisa lebih mumpuni.  DataOn  (PT Indodev Niaga Internet) selama ini lebih banyak bermain untuk software pengelolaan informasi SDM yang diberi nama SunFish Human Resources – namun juga mengeluarkan produk ERP (Enterprise Resources Planning). Tak salah kalau SunFish HR terbilang software yang sukses berkembang. Hal ini tak sulit dideteksi dari sederet portofolio kliennya yang terdiri dari perusahaan-perusahaan ternama.

Mulai berdasarkan Banpu Group, BCA Finance, Komatsu Indonesia, Asuransi Astra Buana, JW Marrot Jakarta, Hotel Mulia, Samudera Indonesia, Group Indika, Bali Hyatt, Schott Igar Glass, Semen Padang, Ritz Carlton Jakarta, UOB Buana, Mandom Corporation, Anugerah Group (Anugerah Pharmindo Lestari dll), RCTI, Global TV, Apexindo, Placific Place, Four Season Hotel, & sederet nama lain. Malahan kliennya sudah mencapai kawasan Timur Tengah. Bulan November 2008 kemudian, Sunfish HR terpilih menjadi software buat Hyatt Group Uni Emirat Arab. Software tadi yang akan diimplementasikan buat 5 hotel mereka yaitu Grand Park Hyatt Dubai, Grand Hyatt Dubai, Grand Hyatt Residence, Hyatt Regency Dubai, dan Galleria Dubai.

Tak bisa disepelekan, memang. Hanya saja, penetrasi di usaha yg marketnya sudah dikuasai pemain-pemain global sebagaimana di bisnis TI itu memang bukan pekerjaan gampang dan niscaya diwarnai banyak tantangan. Mulai dari tantangan bagaimana membangun image supaya dianggap klien perusahaan-perusahaan Indonesia yg umumnya masih multinational minded, sampai bagaimana menjalankan proses product development yang baik supaya mampu menghasilkan software yang sahih-sahih handal & memuaskan klien. DataOn pun tidak luput berdasarkan tantangan-tantangan seperti itu.

DataOn sendiri mulai dirintis tahun 1999. Pendirinya sebenarnya orang Korea yang berkewarganegaraan Indonesia, Kim Yook Chan. Hanya saja Kim nir banyak terlibat di pengelolaan operasional lantaran yg aktif mengelola adalah Gordon Enns (presdir) dan Jimmy Widjojoarto (GM Operasional). Gordon Enns sendiri merupakan profesional masyarakat negara Kanada yang memang punya pengalaman pada industri TI, yaitu pada Sanchez Solution. Terakhir, lulusan University of Victoria Kanada itu menduduki posisi ketua daerah Asia Pacific Sanchez Solutions. Sementara Jimmy yg tamatan University of Southern California (USA), sebelumnya berkerja pada keliru satu gerombolan perusahaan di bidang garmen.

Tahun-tahun awal berdirinya DataOn penuh keprihatinan.  Bak orang yang sedang berpuasa. "Selama tiga tahun pertama DataOn tidak menjual software. Kami hanya terus mencoba bikin software sehingga tidak ada revenue. No money," Gordon Enns mengkilas balik. Praktis, tiga tahun itu merupakan tahun investasi yang penuh teka-teki. Jangankan produknya laku atau tidak, produk akhirnya akan seperti apa saja belum ketahuan. Penuh pertaruhan. Hanya pemilik modal dan pengelola dengan keyakinan sukses kuat yang memungkinkan proyek bisnis tersebut terus dilanjutkan.

Manajemen DataOn sangat tertantang untuk membuktikan bahwa software yang dikembangkan programer lokal pun bisa bersaing dengan software asing. "Prinsip kita, jangan sampai ketika membuat software hanya seperti jualan  kemasan box namun harus benar-benar mampu menawarkan jalan keluar," terang Gordon. Sejak awal DataOn memang fokus untuk mengembangkan software pengelolaan SDM di perusahaaan karena meski saat itu sudah cukup banyak perusahaan pembuat software namun belum ada yang fokus di SDM. Software ini nampaknya dirancang cukup matang dan manajemen DataOn tak ingin tanggung-tanggung.

Setelah melalui proses product development yang panjang, aplikasi HR tadi kemudian diluncurkan ke pasar & diberi nama SunFish HR. Program itu pula yg kini sebagai unggulan DataOn di usaha TI. Dengan SunFish, kata Gordon, mampu mengatur secara online sistem administrasi masing-masing karyawan termasuk saat kedatangan dan pulang karyawan, manajemen penggajian, jenjang karir, pelatihan, dan manajemen berbasis kompetensi. Malahan mampu jua mampu buat menghitung Return on Investment (ROI)

SunFish memperlihatkan acara yg fleksibel & lebih customized. Hal ini diantaranya tergambar dari fitur yg tersedia dalam multi bahasa (Inggris, China, Indonesia dan Jerman) -- dibuat menggunakan pemrograman personal komputer berbasis Java. Lalu, penghitungan sistem honor karyawan jua sanggup memakai beberapa mata uang misalnya rupiah, dollar Amerika, dolar Singapura, & lainnya. Hal ini krusial mengingat DataOn berdasarkan awal memang diproyeksikan sebagai perusahaan software dunia.

Dengan kepercayaan diri bahwa produk yang dibentuk memang qualified, tim DataOn pelan-pelan mencoba untuk memasarkan poduknya. "Klien pertama kami adalah Indika Group," ujar Jimmy Widjojoarto, GM DataOn. Indika Group sendiri punya berbagai usaha, berdasarkan mulai media radio hingga energi. Ketika itu Indika memerlukan sistem yg sanggup mengatur manajemen saat karyawan. "Dengan memakai SunFish, Indika terbantu menentukan ketika kedatangan dan kepulangan karyawan. Software ini sangat membantu merek pada menjalankan usaha penyiaran," istilah Jimmy.

Setelah itu, Indosat Mega Media (IM2) juga berhasil dirangkul sebagai klien. "Mereka mencari vendor lokal yg fleksibel & mampu merubah sistem HR mereka," ulas Jimmy pulang. Seterusnya jua PT Samudera Indonesia Tbk yg memiliki karyawan tiga.000 orang. "Mereka perlu mengintegrasikan lebih menurut 100 unit bisnis menggunakan manajemen SDM yg bhineka, hingga menjadi satu walam wadah yang sama menggunakan sistem manajemen SDM yg sama," kenang Jimmy.

Mudah, setelah beberapa perusahaan akbar sekelas Samudera Indonesia, IM2 & Indioka Group percaya, semakin poly juga klien-klien baru berhasil didapat. "Sekarang jumlah klien kami lebih berdasarkan 100 perusahaan," ujar Gordon Enns. Tak sedikit dari klien DataOn yang merupakan perusahaan asing (PMA) & terbuka (Tbk). "Beberapa PMA terdapat yg memakai software berdasarkan vendor asing namun sekaligus vendor lokal misalnya kami,"kata Gordon.

Gordon tidak menampik liputan di kalangan perusahaan lokal mulai terjadi apresiasi positif terhadap perangkat lunak lokal. Tahun 1990-an, kebanyakan perusahaan lokal belum menyadari betapa pentingnya manajemen SDM. Investasi pembelian software belum dipercaya penting. "Tetapi lambat laun kesadaran mereka bertumbuh. Awal tahun 2000 mulai banyak perusahaan terutama industri perbankan, keuangan, perhotelan dan TI yg mulai melirik dan menduga investasi aplikasi SDM sangat penting," jelas Gordon.

Selama ini umumnya perusahaan Indonesia yg membeli aplikasi asing sebagai in-house software hanya menggunakan bagian eksklusif saja. "Lantaran sangat mahal sehingga beli sebagian saja misalnya mengenai sistem penggajian. Selebihnya menggunakan aplikasi SDM yang dikembangkan perusahaan lokal seperti Indodev," jelas Gordon. Dalam dugaan Gordon, DataOn kini merogoh 20% market share software SDM. "Tapi aku juga nir tahu persisnya karena memang belum terdapat penelitian dibanding pemain lain," akunya. Namun beliau berani meyakinkan bahwa market share-nya siggnfikan. "Lantaran kami bisa memperlihatkan diferensiasi," klaim Gordon.

Kemampuan mengkostumisasi (customizing), nampak aspek itulah keunggulan yang diusung DataOn. Software vendor lain, klaim Jimmy, lebih banyak membuat klien harus menyesuaikan pada aturan impelentasi software itu. "Ini berbeda dengan SunFish, karena  memungkinkan programnya yang mengikuti proses bisnis di klien," tegas Jimmy yang kelahiran Jakarta 22 Oktober 1963.

SunFish juga mungkin disesuaikan dengan peraturan tenaga kerja di masing-masing negara. Misalnya saja di Indonesia, software harus menyesuikan peraturan tenaga kerja menyangkut pembayaran upah serta pembayaran pensiun. Jika perubahan kebijakan Departemen Tenaga Kerja, Jamsostek dan Direktorat Jenderal Pajak berubah, software pun ikut menyesuaikan. "Sofware HR di Indonesia cukup berbeda dengan software HR di negara lain seperti Jerman dan Amerika Serikat. Disini pembuatan software dipengaruhi kebijakan peraturan Depnakertrans dan Jamsostek," tambah Jimmy.  Tak heran, ketika belum lama ini pemerintah memberlakukan sistem pajak baru Sunset Policy, maka sistem di Sunfish juga langsung disesuaikan.

SunFish mencakup integrasi strategi manajemen SDM. Tidak hanya sistem adminstrasi dasar yang menjadi kelebihan SunFish, klien bisa menggunakan software ini untuk perencanaan karir karyawan, pelatihan dan manajemen berbasis kompetensi,  memantau target penghasilan karyawan dan kemampuan perusahaan, memudahkan perhitungan Balance Scorecard, dll. Maklum, fitur yang ada di Sunfish meliputi personnel administration, organization management, compenzation management, time and attendance, reimbursement management, notification and alert, appraisal management, career and succession planning, training management, recruitment and selection, dan competency management.

Contoh kasus menarik di perusahaan pengelasan yang dipasang SunFish. Bonus prestasi di perusahaan pengelasan itu didasarkan atas berapa banyak hasil las masing-masing karyawan per harinya. "Karena itu software dibuat terkoneksi pada mesin pengelasan. Secara otomatis, mesin tersebut akan menghitung berapa banyak hasil las per hari masing-masing karyawan. Itu menjadi pedoman  bonus prestasi dalam sebulan," jelas Gordon lebih lanjut.

Barangkali menarik menyimak PT Komatsu Indonesia yang sejak Januari 2006 jua merupakan pelanggan SunFish menurut DataOn. Agustinus Setiawan, Manajer Personalia PT. Komatsu Indonesia (KI), menjelaskan pihaknya punya beberapa alasan memilih SunFish. Antara lain karena harga lebih murah ketimbang sistem yang dikembangkan perusahaan asing. "Software luar negeri bisanya mematok harga berdasarkan berapa jumlah karyawan, seolah seluruh karyawan adalah user terhadap suatu program. Sedangkan SunFish memakai perhitungan atas seberapa poly user yang menggunakan sistem ini,? Jelasnya.

Harga SunFish untuk KI dengan jumlah karyawan 1.500 orang, berkisar ratusan juta rupiah. “Tetap ada perhitungannya. Namun harganya tidak terlalu mahal,”jelasnya. Selain itu sistemnya cukup lengkap. "Bukan berarti vendor semacam SAP tidak menawarkan program untuk pengelolaan SDM, namun ia tidak mempunyai program selengkap SunFish," katanya.  Selain itu servis purna jualnya juga baik.

Dari sisi pemasaran, semenjak awal berdiri DataOn tak pernah menunjukkan kenaikan pangkat dengan penjualan sofware secara gratis. "Namun untuk Indonesia, mulai bulan bulan Juli 2008 kami memberikan pengunduhan software perdeo buat sistem sederhana misalnya penggajian, pendaftaran Jamsostek serta penghitungan pajak," ulas Gordon. Software yg ditawarkan sangat bermanfat bagi perusahaan skala UKM. Mereka bisa eksklusif mengunduh dari website. Jika mereka menginginkan sistem dengan kemampuan lebih lanjut misalnya perencanaan kompetensi, prestasi manajemen, Balance Scorecard, akan dikenakan biaya . "Kami mengharapkan, selesainya memakai sistem dasar yg perdeo itu, mereka akan memakai servis kami yang lain," harap Gordon tentang kiat marketingnya.

Selama ini DataOn memilih harga per proyek yang majemuk bagi pelangganya, tergantung berapa poly user-nya. Mulai berdasarkan Rp 50 juta hingga miliaran rupiah. Gordon mencontohkan perusahaan dengan jumlah 100 karyawan yg mengunduh SunFish versi Enterprise alias komplit dikenakan charge sekitar Rp.100-200 juta. "Pelayanan itu telah holistik sistem termasuk training para operatornya," katanya.

DataOn sendiri pemasarannya lebih banyak menggunakan cara presentasi ke calon-calon klien. Umumnya klien mampu diperoleh sehabis tiga-6 bulan sehabis presentasi. Kurun ketika tersebut biasa dipakai calon klien buat mengenal lebih pada mengenai produk DataOn. Selain kecocokan pelayanan, yg tak jarang sebagai pertimbangan soal harga. "Pembeli sangat berhati-hati membeli software," pungkasnya. Jimmy juga mengakui banyak calon pelanggan yang hati-phati karena pernah mengalami kegagalan. Entah karena software usang tidak sanggup diimplementasikan sesuai kebutuhan klien, nir komplit atau layanan purna jualnya kurang baik. Atau malah soffweare sudah dibeli namun nir mampu running.

Tak bisa sanggup dipungkiri, terdapat poly pesaing pada bisnis software SDMi. Tetapi Gordon tidak khawatir akan tersalip. "Vendor lain hanya penekanan dalam sistem penggajian, sedangkan kami memperlihatkan solusi keseluruhan," klaim Gordon. Optimismesnya jua karena makin banyak perusahaan yang memikirkan bagaimana karyawan bisa lebih efektif pada bekerja. "Apalagi menggunakan adanya krisis finansial global, perangkat lunak SDM galat satu solusinya. Ketika penghitungan honor , pajak penghasilan, cuti, absensi telah ditangani sang SunFish, departemen SDM mampu lebih leluasa penekanan dalam pengembangan training karyawan dan manajemen karir karyawan," sahut Jimmy.

DataOn sendiri tidak ingin sekedar sebagai jago kandang. Dari tahun 2001 telah membuka cabang pada Jerman, melalui DataOn Detschland Gmbh pada Berlin. Selain itu pula mendirikan kantor cabang di Filipina, Thailand, Malaysia dan Vietnam.

Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia  mencatat  sekarang ini terjadi trend positif di bisnis software SDM lokal. Secara umum, pasar software untuk yang perusahaan-perusahaan besar (highend) memang masih dikuasai oleh pemain-pemain asing seperti Oracle, SAP dan Peoplesoft. Namun belakangan pasar para pemain lokal makin berjkembang. Apalagi di perusahaan menengah dan kecil, pemain lokal makin banyak.

Pada umumnya pemain-pemain lokal tak bermain dengan hanya jualan software, melainkan juga  jualan services sehingga nanti biasa dengan menghitung berapa jumlah karyawannya dan kemudian dikalikan dengan biaya tertentu untuk pelayanan. Pemain lokal biasanya lebih fleksibel. Memang sangat masuk akal bila pemain-pemain software lokal bidang SDM tumbuh karena memang seandainya klien memakai softeware asing pun pasti ada komponen-komponen yang harus dilokalisasi. Misalnya soal aturan-aturan perpajakan dan ketenegakerjaan. Jadi keunggulan mereka karena mengusung aspek lokal ini.

Perlu Dukungan Riel Dari Pemerintah Untuk Majukan Industri Software Lokal, Bukan Sekedar Janji

Pertumbuhan perangkat lunak lokal pada Indonesia masih malu-membuat malu kucing. Belum terlalu menggembirakan. Penyebabnya bukan dalam kemampuan programmer lokal buat membuat aplikasi kelas dunia yang bisa diandalkan, namun lebih dalam kesempatan pasar. Masih sangat disayangkan, saat ini dunia bisnis & pemerintah masih didominasi mindset aplikasi asing. Ada perasaan inferior complex apabila tidak menggunakan aplikasi asing. Padahal dari sisi kehandalan produk, produk lokal sudah sejajar menggunakan asing. Dan menurut sisi harga, jauh lebih efisien.

Lebih dari itu penggunaan software lokal berarti memberdayakan dan membangun industri software nasional dan mengembangkan SDM TI Indonesia. Namun sayang seribu sayang, baik dunia bisnis maupun pemerintah masih setengah hati mendukung. Paling gampang bisa dilihat dari tender-tender pengadaan pemerintah dan BUMN, bukan hanya  mindet mereka masih didominasi dengan software asing, bahkan untuk implementornya pun mereka masih memenangkan konsultan asing. Sebuah ironi, tragedi dan amat sangat memprihatinkan.

Oleh sebab itu sangat lumrah apabila banyak kalangan mendesak pemerintah didesak supaya memberikan dukungan riel terhadap perkembangan industri perangkat lunak lokal supaya tidak kalah di negeri sendiri. Desakan tadi disampaikan sejumlah elemen rakyat yang selama ini peduli terhadap perkembangan industri teknologi berita di tanah air.

Indonesia memiliki sumber daya dan kemampuan untuk unggul dalam pengembangan software atau piranti lunak bidang kebudayaan, pendidikan, pariwisata, dan e-government yang mendunia. Namun, sampai saat ini kebijakan di dalam negeri belum mendukung sepenuhnya potensi yang mulai dikembangkan anak-anak bangsa tersebut untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Praktek yang selama ini terjadi dimana pemakaian piranti lunak oleh institusi pemerintah yang sampai saat ini ditengarai masih mengarah kepada produk-produk asing mestinya segera diakhiri. Kalau produk yang Indonesia bisa membikin sendiri saja tidak mau pakai, bagaimana dengan produk lain yang lebih sopisticated?  Ini memang butuh keberanian pemerintah, bukan sekedar janji.

Pemerintah mesti membuktikan komitmenna untuk memakai piranti lunak karya anak bangsa. Tanpa itu, perkembangan industri kreatif dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi untuk  mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri hanya akan menjadi pepesan kosong.

Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia berkali-kali jua berkata pemakaian aplikasi asing tidak mungkin dilarang di Indonesia lantaran kini sudah masuk pada era pasar bebas. Namun pemerintah bisa melakukan dukungan secara sistem buat mendukung tumbuhnya pemakaian software dalam negeri. Hal ini jua dilakukan negara lain yg ingin memajukan industri lokal Seperti di Filipina, perusahaan aplikasi asing bisa masuk, namun dikenai pajak lebih mahal sebanyak 30 %. Sebaliknya, bila menggandeng patner perusahaan lokal hanya dikenai pajak lebih kurang tiga persen. Pemerintahnya ingin terdapat transfer keahlian & ilmu berdasarkan masuknya sofware asing pada negara itu. Kebijakan seperti itu kan sebagai wujud dukungan yang konkret. Di Indonesia, masih baru sebatas wacana, belum dalam dukungan nyata.

Keberpihakan untuk memakai software Indonesia itu jangan diartikan sebagai belas kasihan. Ini bagian dari membangun industri dalam negeri yang menjadi tugas pemerintah.  Untuk mendukung keunggulan sumber daya pengembangan software Indonesia yang sudah ada, utamanya harus dijadikan tuan rumah dulu di negeri sendiri.

Banyak sekali aplikasi buatan Indonesia yang bahkan sudah diakui di negara lain, namun sayang pada Indonesia malah masih disepelekan. Keprihatinan soal dukungan pemerintah yg setengah hati pada priranti lunak dalam negeri itu mengemuka terkait dengan adanya dugaan tender perangkat lunak pada sejumlah instansi dan BUMN yg kini kebanyakan masih dimenangkan ke software asing.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan pemerintah yg mestinya menciptakan dukungan riel, kemudian siapa lagi yg mesti yang mesti berbuat konkret. Dukungan pemerintah akan terasa lebih impactfull karena akan dibantu kekuatan regulasi. Dalam ini memang dibutuhkan komitmen konkret berdasarkan pemerintah, bukan sekedar janji yg tak kunjung datang selesainya bertahun-tahun dinanti.

Sudarmadi

wingdarmadi@gmail.Com

#Tag : ICT Telco

Cara Alfian Pamungkas Rintis Bisnis Cloud Hosting

Angkat topi buat Alfian Pamungkas Sakawiguna. Pemuda yang satu ini kreatif & jeli pada melihat peluang bisnis. Meski masih tergolong belia, dia sudah tertarik berwirausaha, di usaha yang ia senang. Yakni usaha cloud hosting. Jebolan Teknik Informatika Universitas Telkom, Bandung, kini eksis di bisnis bidang TI. Yakni usaha cloud housting yg dimulainya dari nol. Kini total kliennya mencapai ribuan penyewa, yg sebagian pada antaranya penyewa berdasarkan luar negeri. Omset perusahaannya telah ratusan juta per bulan.

Alfian Pamungkas mendirikan PT. Cloud Hosting Indonesia atau yg dia beri brand menggunakan nama: IDCloudHost. Ia sudah merintis perusahaan ini sejak 2015. Perusahaannya fokus menyediakan Low Cost Cloud Hosting Solution, mulai berdasarkan Web Hosting, VPS, Dedicated Servers, hingga registrasi & penjualan Domain.

Alfian Pamungkas yang asal Sukabumi, Jawa Barat, ini tergolong komputer mania sejak mini . Dia sudah biasa membantu orang tuanya yang PNS mengetik di personal komputer . Kecintaannya dalam komputer & Internet makin menggila waktu kuliah. ?Saat umur 17, tahun 2013, aku telah membuat startup bidang hosting, metroworldhost.Com,? Kata Alfian mengenang.

Teman-temannya geleng-geleng ketua kenapa beliau berbisnis padahal tugas kuliah begitu padat. Waktu SMA pun dia sudah seringkali dimarahi orang tua lantaran terus bergadang mengelola warnet. Singkat cerita, usaha hosting pertama itu beliau kelola bersama mitra-kawannya. Sayang, ketika omsetnya telah Rp 50 juta per bulan, timbul pertarungan internal sehingga Alfian menjadi pendiri malah menentukan keluar.

Awal 2015 beliau memutuskan mendirikan perusahaan baru yang berbadan hukum agar lebih niscaya, pula pada bidang cloud housting. Dia kibarkan bendera PT Cloud Hosting Indonesia, mengelola IDCloudhost. Dia menjadi CEO.

Bendera baru ini rupanya langsung berkembang pesat lantaran klien-klien usang ikut Alfian. ?Saya sering terjun langsung membantu klien buat memastikan servis. Mungkin karenanya klien lama terkesan,? Tutur Alfian.

Di perusahaan baru ini, Alfian bermitra menggunakan tiga kawannya (Mufid, Depi dan Roful) yg semuanya telah menikah kecuali Alfian sendiri. Bermodal Rp 30 juta buat membeli server, penetrasi IDCloudhost memang lebih cepat karena Alfian sudah berpengalaman. Di antara kiatnya untuk cepat menerima klien, selain harga jasanya yang lebih murah, beliau pula menyediakan layanan premigrasi. ?Ketika klien pindah ke kami, mereka nir akan repot karena kami bantu dari awal,? Katanya.

Dia menjelaskan, tarif layanan hosting-nya mulai menurut Rp 150-170 ribu per bulan, untuk server dedicated mencapai Rp 600 ribu per bulan. Penyewa luar negeri umumnya lebih senang server dedicated seharga US$ 200 per bulan. Total tidak kurang berdasarkan 10 paket layanan yang sekarang ditawarkan.

Untuk meraih kecepatan akses, Alfian dkk. Menempatkan servernya di Indonesia, Singapura dan London. Mereka merasa perlu punya server pada Singapura & London karena memang punya ratusan klien di luar negeri, sekaligus merencanakan ekspansi. ?Pertama kami beli server & disimpan pada Jakarta. Tetapi ternyata jaringan di Indonesia kurang baik, akhirnya kami perluasan ke Singapura. Klien merasa nyaman & prefer pada sana,? Papar Alfian, yang pula Juara Wirausaha Mandiri. Kini dia menghabiskan Rp 15 juta per bulan buat membiayai dua servernya pada luar negeri itu.

Alfian menegaskan, kapital primer bisnisnya bukan promosi, melainkan teknologi & layanan. Selama ini pihaknya memakai teknologi SSD & punya dukungan beberapa kawan teknologi berdasarkan perusahaan internasional misalnya Litespeed. ?Pada bulan pertama berdiri, kami telah berpatner dengan JivoChat, produk menurut Rusia yang partner Asianya kami. Kami juga kerja sama dengan CloudFlare untuk mempercepat akses. Kami dimasukkan pada list mitra internasional CloudFlare. Makanya banyak klien yang percaya lantaran kami terdaftar di list partner,? Kata Alfian. Ia mengungkapkan, kawan bisnisnya pada luar negeri lebih kurang 20 perusahaan.

Di antara kejelian Alfian, menggandeng Google buat acara CSR, yang tentunya mengangkat pamor perusahaannya. IDCloudhost yang dikomandani Alfian aktif mendukung aktivitas CSR, yaitu NGO Go Digital dan Ekabima (buat sekolah-sekolah) yang basisnya layanan gratis. ?Kami datangi sekolah pada Sukabumi satu per satu, kami buatkan acara hosting. Kami kolaborasi dengan Google dalam program Google for Education,? Istilah Alfian. Ke depan, beliau ingin IDCloudhost inin terus ingin memperluas basis kliennya dan menjadi webhosting terbaik pada Indonesia.