The Sultan Hotel Jakarta, Pilihan Smart Untuk Gathering Bisnis dan Keluarga

Anda akan mengadakan acara bisnis misalnya kesepakatan , gathering, awarding, resepsi mitra usaha, tidak ada salahnya mencoba pada Hotel Sultan Jakarta. Hotel ini termasuk yg smart choise buat tujuan itu. Lokasinya strategis, bergengsi, sudah dikenal seluruh orang, tetapi harga terjangkau.
Warga usaha Jakarta tentu sangat mengenal Sultan Hotel Jakarta. Hotel terkemuka Jakarta ini sebelumnya dikenal dengan nama Hilton Hotel yang lalu berubah nama sebagai The Sultan Hotel Jakarta dalam tahun 2006 silam. Hotel ini asli milik pengusaha lokal & juga dikelola sang operator lokal. Sudah tentu Hotel bintang lima ini memiliki fasilitas bisnis yg lengkap mulai dari kolam renang sampai meeting room menggunakan baku internasinal.
Hotel sultan menyediakan banyak ruangan meeting untuk keperluan yang berhubungan dengan bisnis, seperti rapat, atau kepentingan lainnya seperti konferensi pers, seminar, dan sebagainya. The Sultan Hotel Jakarta menyediakan 9 meeting room dengan kapasitas hingga 30 orang dalam satu ruangan. Selain itu juga ada dua ballroom yaitu The Golden dan Libra Ballroom sangat ideal untuk resepsi koktail, makan malam, pesta bertema, atau gathering bisnis.
Meeting room disediakan sebagai bagian dari fasilitas business. Maklum, tidak sedikit tamu yang menginap di hotel merupakan pebisnis, maka fasilitas ini memegang peranan penting dalam berjalannya bisnis.
Pelanggan The Sultan Hotel tidak perlu khawatir dengan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam pertemuan bisnis atau rapat. Pihak hotel sudah menyediakan segala perlengkapan yang diperlukan ini, mulai dari personal computer atau laptop, printer, layar LCD, dan fotokopi dokumen yang diperlukan. Demikian juga soal konsumsi atau catering, pihak hotel pastinya juga akan memberikan penawaran paket catering yang bisa digunakan selama pertemuan bisnis berlangsung.
Keunggulan The Sultan Hotel & Residence Jakarta ini tentu saja karena lokasinya sangat strategis, nyaman dengan berbagai fasilitas. Dekat dengan Plaza Senayan, Senayan City, Istora Senayan, dll. Pokoknya titik tengah. The Sultan Hotel Jakarta juga menyediakan akomodasi jemputan bila diperlukan.

The Sultan Hotel Jakarta memiliki 179 unit kamar yang mencakup kamar deluxe, eksekutif, royal, junior suite dan penthouse. Semua unit dilengkapi fasilitas modern seperti AC, akses internet, TV satelit dan telepon. Adapun resto, ada Taman Sari dan Nippon Kan Restaurant. Para tamu dapat mencicipi berbagai macam hidangan yang unik, mulai dari masakan tradisional Indonesia dengan masakan Eropa dengan Perancis dan Jepang fine dining.
Hotel ini juga dilengkapi fasilitas rekreasi termasuk gimnasium, kolam renang, ruang uap, spa, sauna dan jacuzzi. Selain itu hotel juga menawarkan 12 lapangan tenis dengan penerangan, lapangan basket, 4 lapangan squash, 500-meter jogging track dan arena perbelanjaan. Sehingga hotel ini juga cocok untuk gathering keluarga. The Sultan Hotels Jakarta juga merupakan pilihan smart bagi perusahaan yang akan mengadakan kegiatan bisnis. Strategis, bergengsi, tapi terjangkau.
( darmadi2000@yahoo.com )
Sheraton Bandung, Hotel Bintang 5 Dengan Suasana Resort, Pilihan Ngetop Buat Bisnis dan Keluarga
Sheraton Bandung Hotel & Towers selama ini memang dikenal sebagai salah satu hotel kelas atas di Bandung. Terletak di kawasan Dago, hotel ini cukup dekat dengan FO pusat perbelanjaan Cihampelas / CiWalk. Sheraton Hotel juga dekat dengan lapangan golf Dago Golf Course dan lapangan golf berstandar internasional Mountain View Golf & Resort.
Secara lokasi, tidak bisa dipungkiri kalau Sheraton Bandung Hotel & Towers memiliki lokasi yang cukup strategis, yakni dekat dengan pusat aktivitas wisata kota Bandung. Jalan Ir.H. Juanda yang lebih dikenal dengan nama Jalan Dago memang tidak bisa lepas dari image pusatnya Factory Outlets, surga belanja bagi para pecinta pakaian kualitas ekspor dengan harga miring. Pilihan tempat makan mulai dari warung, restoran hingga cafe yang menawarkan panorama Bandung dari atas bukit pun tersedia di area Dago. Ditambah lagi sekarang ada tempat wisata baru yang sedang populer, yakni Tebing Keraton yang berlokasi tak jauh dari Sheraton.
Sheraton Bandung Hotel & Tower dikelilingi dengan pegunungan yang indah dan pemandangan kota yang luar biasa. Hotel ini menyediakan 154 kamar yang terdiri dari deluxe room, pool view room, garden access room, dan pool access room berada di bangunan utama hotel dan dikelilingi oleh kolam renang dan taman yang indah. Ini memang tipikal hotel yang bergaya resort. Dus, areanya memang luas.

Pemandangan dari kolam renang yang luar biasa bila dilihat dari balkon kamar. Menghadap langsung ke taman dan lembah, Tower suite menyediakan sofa yang besar dengan meja yang juga berukuran besar. Saat malam tiba, Anda juga menikmati hidangan Internasional favorit di Feast Resto atau Chopstix Resto atau nonton hiburan live di Samsara Lounge.
Semua kamar dikelilingi dengan keindahan, yang dapat dinikmati dari balkon. Sheraton Bandung Hotel & Tower menawarkan banyak pilihan makanan yang ok, memberikan kesempatan bagi para tamu untuk mencicipi hidangan favorit internasional serta masakan khas l Indonesia. Samsara Lounge merupakan tempat yang sempurna untuk bersantai sejenak diantara waktu shopping dan tamasya. Spot yang pas menikmati segelas wine, cocktail, teh, atau kopi. Feast Resto menawarkan hidangan internasional, dengan menu a la carte, weekend buffet yang mewah, dan live cooking station.
Hotel memiliki 1 kolam renang indoor dan 1 kolam renang outdoor, dengan area kolam reanang untuk anak dan sun terrace. Para tamu juga bisa workout di gym atau mengikuti sesi aerobic, atau relaks di hot tub atau pijat atau spa treatment. Tersedia lapangan golf sekitar 2 km di Dago Endah.


Anda yang punya acara bisnis atau keluarga, nggak ada salahnya mencoba. Biasanya anaok-anak juga puas dengan fasilitas yang disediakan. Lokasi, makanan, kamar tidur, fasilitas hotel, sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Stafnya sangat ramah dan hotelnya bersih sekali. Cukup nyaman dengan pelayanan cepat.
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Jangan pernah berhenti belajar dan cobalah kembali bila Anda belum berhasil. Petuah klasik ini lagi-lagi mendapatkan pembenaran dari kisah bisnis pasangan Edwardi Kardiman dan Fifi Lilian Tania di bisnis resto. Mereka sempat mencoba mendirikan resto tapi kurang berkembang. Keduanya tidak patah arang dan tahun 2003 mencoba mendirikan resto baru dengan nama Red Bean. Dan sekarang, sebagian warga Jakarta yang biasa nge-mall umumnya tahu restoran Red Bean. Ia termasuk jaringan resto populer di Jakarta.
Maklum, restoran yang menawarkan menu makanan chinese food ini memang sudah punya banyak cabang di berbagai mal, khususnya di Jabotabek. Jumlah outlet Red Bean total tak kurang dari 22 cabang. Bahkan juga sudah hadir di beberapa mal besar di luar Jabobatek seperti Paris Van Java (Bandung), Mal Ambarukmo Jogja, Ayani Megamall Pontianak, Mall Manado, dan di Panakukang Mas Makassar.

Perkembangan bisnis restoran Red Bean memang tak lepas dari kejelian pasangan Edwardi Kardiman dan Fifi Lilian Tania yang mulai merintis resto ini tahun 2003. Ketika merintis Red Bean, pasangan ini yang ingin punya bisnis resto makanan chinese tapi yang sifatnya populer. Bukan makanan chinese tradisional yang disasarkan buat kaum ‘China totok’.
Sebelumnya pasangan ini pernah punya usaha resto chinese tradisional, namanya Restoran Mutiara, sempat buka di Mega Mall Pulit. Keluarga Fifi pun pernah usaha resto chinese tradisional. Pasangan ini mengambil pelajaran dari masa lalunya sehingga dalam menggulirkan Red Bean tak mau menyasar segmen Chinese 'totok', tapi segmen makanan modern Chinese yang rasanya bisa diterima semua golongan. "Walau pun di sini chinese resto, tapi tidak ada daging babi. Paling-paling kodok dan kepiting," ujar Fifi yang kelahiran Jakarta 8 November 1960 ini.
Pasangan ini juga tak ingin menggunakan nama merek Mutiara untuk resto barunya, apalagi manajemen mal Puri Indah -- outlet pertama Red Bean -- sejak awal juga mewanti-wanti agar resto yang dibangun berbeda dari yang pernah digeluti Edwardi dan istri. Harus lebih berkelas. Ia lalu memilih nama Red Bean yang berarti kacang merah. "Bagi sebagian orang keturunan Tionghoa, kacang merah biasa dimakni sebagai lambang kasih sayang dan cinta kasih," jelas Edwardi.
Outlet pertama Red Bean mengambil lokasi mal Puri Indah, Jakarta Barat. Persisnya mulai buka Oktober 2003. "Kami sengaja buka pertama di Puri Indah untuk test pasar," kata Edwardi. Maklum, penduduk sekitar Puri Indah kebanyakan masyarakat Tionghoa yang konsumennya sangat demanding. Mereka lebih cerewet soal makanan Chinese food karena sudah biasa mengkonsumsinya. Jadi pasar disana lebih sulit ditunddkkan. "Kita memang memulai dari daerah sulit karena percaya bila sukses menembus daerah sulit pasti bisa diterima di mana saja. Pusatnya Chinese di Jakarta ya di bagian Barat ini. Kalau disini diterima, di bagian lain pasti Oke," Edwardi menjelaskan strategi penetrasinya.
Untuk menyukseskan penetrasi Red Bean, Edwardi ternyata dituntut bersabar, terutama ketika mengenalkan konsep restonya. Wajar saja, ketika itu Mal Puri Indah masih sepi. Fifi mengenang, ketika Red Bean pertama buka, ruko-ruko foodcourt di mal Puri Indah masih sangat sepi. "Yang ada baru kita dan Tamani Cafe. Belum ada chinese resto lainnya," kata Fifi. Bahkan, karena belum banyak penyewa lain alias masih sepi, Edwardi dan Fifi diberi kebebasan memilih oleh manajemen mall untuk mengambil lokasi ruko yang disuka.
Dalam menggulirkan outlet pertamanya, pasangan ini dibantu 13 orang karyawan. "Belum ada supervisor, belum ada manajer. Semua kita dikerjakan sendiri dan masih serba terbatas. Menu-menunya belum selengkap sekarang," ujar Fifi. Ketika itu Edwardi masih terlibat banyak membantu pekerjaan dapur sementara Fifi membantu di kasir.
Proses mengenalkan restonya juga tak mulus begitu saja. "Awalnya juga susah Pak. Walapun kita punya pengalaman di bisnis resto karena pernah buka resto Mutiara, tetapi ini kan konsepnya berbeda dan baru," kenang Fifi. Saat-saat pertama buka banyak konsumen yang menyangsikan restonya dengan bertanya" Red Bean ini jual makanan apa? Enak nggak? Ada cabang di tempat lain nggak? Sudah ada dimana saja? Pokoknya awalnya kita cukup sulit untuk menarik pengunjung yang lewat untuk mampir dan makan di resto kita," kenang Edwardi yang kelahiran 18 Mei 1961 ini. Bukan sekali dua kali juga bila ada pelanggan yang marah-marah karena kurang puas dengan pelayanannya.
Tetapi Edwardi dan Fifi yakin bahwa restonya akan berkembang terutama dengan upaya penyempurnaan yang dilakukan. "Dari hari ke hari terus meperbaiki diri dan belajar supaya tampil lebih baik," katanya. Perbaikan dilakukan baik dari sisi kualitas dan varian menu maupun pelayanan. Lama-lama pengunjung mall tahu kalau Red Bean merupakan chinese food yang harganya lebih terjangkau dan cocok untuk semua lapisan, baik untuk anak-anak, ABG, keluarga muda, maupun orang tua. Apalagi menu yang disajikan bukan menu yang membosankan karena bisa dimakan sehari-hari. Misalnya sapi lada, udang gandum, udang mayonais dan menu-menu chinese lain yang lebih umum dan banyak disukai.
Tanpa menunggu terlalu lama, tepatnya tiga bulan setelah beroperasi, tanda-tanda resto Red Bean bakal sukses sudah tampak jelas. "Kalau sabtu dan Minggu biasa penuh hingga antri. Kalau hari libur sulit cari tempat duduk disini Pak," kata Edwardi. Tak heran, tiga bulan sejak dibuka outlet Red Bean Puri Indah, Edwardi langsung berani membuka outlet lagi di Bintaro Plaza. Lalu dua bulan setelah buka di Bintaro Plaza, buka outlet lagi di Supermall Karawachi. Dan enam bulan setelah itu buka outlet baru Mall Arta Gading. "Ini kami kembangkan sendiri, dengan modal sendiri," timpal Fifi.
Setelah punya 6 outlet sendiri yang berjalan baik, Edwardi dan Fifi mulai berpikir untuk mempercepat pertumbuhan usahanya. Terutama melalui konsep waralaba yang saat itu mulai populer. Hanya saja pasangan ini berpikir alangkah baiknya kalau terlebih dulu menata dan memperbaiki sistemnya. Edwardi bercerita, usahanya saat itu bisa berkembang baik namun sistem dan pola manajemennya masih amatiran karena sejujurnya ia dan istri memang tak punya pengalaman di manajemen modern. Waktu itu bahkan belum punya kantor, semuanya masih dikerjakan dari rumah. "Karena itu kami mengajak Pak Herman untuk bergabung di Red Bean karena beliau punya pengalaman di manajemen modern. Kalau kita punya feeling bisnis tapi tidak tahu banyak manajemen modern," ungkap Fifi.
Herman yang dimaksud Fifi adalah Herman S. Suriadimaja, managing director PT Red Bean Indonesia -- pengelola Red Bean. Sebelumnya Herman pernah bekerja di manajemen mal sehingga punya pengetahuan memadahi soal manajemen modern. Herman inilah yang kemudian didapok sebagai managing director untuk mengembangkan Red Bean dan menata sistem. Kelengkapan organisasi Red Bean juga diperbaiki. Mulai diangkat para supervisor, manajer purchasing, training manager, franchise manager, area manager, dll. Para karyawan diwajibkan memakai pakaian seragam agar lebih baik dan rapi. "Sekarang semua departemen di Red Bean di bawah Pak Herman. Saya dan istri lebih banyak mengontrol di lapangan," terang Edwardi sembari menjelaskan Herman juga punya saham di Red Bean.
Edwardi berasa tepat untuk mengembangkan usaha dengan waralaba setelah punya 6 outlet sendiri. "Kita nggak mungkin jual franchise tanpa kita sendiri membuktikan bahwa restoran ini bagus dan diminati konsumen. Kita berani buka karena dari 6 outlet sendiri tahu bahwa ini menguntungkan," kata Edwardi seraya menjelaskan pihaknya 8 outlet sendiri dari lebih 20 outlet Red Bean yang ada saat ini.
Selain itu faktanya, outlet Red Bean pun semakin ramai ketika akan mulai diwaralabakan. Contohnya Red Bean Puri Indah, dari yang awalnya hanya memperkerjakan 14 karyawan, kemudian memperkerjakan 43 orang karena ramainya restoran. Pengunjung, khususnya di hari libur, selalu penuh.
Ditanya tentang kenapa Red Bean bisa sukses dan berkembang, menurut Fifi, bukan karena agresifitas promosi. "Kita justru promosinya sangat minimal, hanya mengandalkan dari mulut-mulut," kata Fifi. Pihaknya saat ini memang bekerjasama dengan bank penebit kartu kredit untuk promosi bersama, namun pihaknya membatasi dalam satu tahun hanya bekerjasama dengan satu bank. "Kita nggak mau jor-joran apalagi memberi diskon ini-itu. Margin kita tidak tinggi makanya tidak berani beri diskon besar," ujarnya. Manajemen Red Bean sengaja mengambil strategi harga medium, bukan premium. "Kita tidak ambil margin tinggi, tapi kita kejar turnover tinggi atau volume," Edwardi menjabarkan.
Dalam amatan Edwardi, harga yang terjangkau dan rasa menu sesuai lidah konsumen, merupakan faktor utama kenapa Red bean ramai pengunjung. "Menu yang kita sediakan merupakan menu sehari-hari yang bisa dimakan dan tidak membosankan," ujarnya. Sekedar contoh, harga menu di Red Bean, paket A untuk makan dua orang terdiri dari ayam Kung Pao, Angsio Tahu, Pocai Cah Bawang Putih dan Nasi Putih 2 Porsi, seharga Rp 87.900. Contoh lagi Paket C untuk 4 orang berisi Kakap Filet Mun Tahu Tausi, Cumi Goreng Cabe Garam, Ayam kung Pao, Pocai Siram Jamur Enoki & Shimeji plus nasi 4 porsi, seharga Rp 141.900. Edwardi memang ingin membuktikan bahwa makanan Chinese food tidak harus mahal sebagaimana pandangan umum yang berkembang.
Soal desain outlet, Red Bean memang selalu dibuat dengan konsep modern minimalis. Ukuran per outlet berkisar 140 m2 sampai 300 m2."Kami buat konsepnya tak hanya cocok buat segmen keluarga, namun juga untuk kongkow ketemu relasi bisnis," kata Ima Goetirno, Manajer Operasional Red Bean, seraya menjelaskan tagline Red dengan 'Fresh and Tasty Food'.
Ditanya tentang berapa target jumlah outletnya, Edwardi mengaku tidak ada target tertentu karena pihaknya tak ingin terlalu ekspansif. "Kita tak ingin asal buka dimana-mana karena ingin investor kita juga untung, bukan semata-mata dapat uang franchise. Investasi harus saling take and give. Kenapa mereka mau invest karena juga berharap untung. Makanya kita tidak asal buka," Edwardi berprinsip.
Selama ini, bagi investor yang ingin bekerjasama dengan pola waralaba, biaya waralaba (franchise fee) sebesar R p 350 juta/5 tahun untuk dalam kota Jakarta. Sedangkan luar kota Rp 250 juta. Adapun royalty waralaba sebesar 4% dari total omset sebelum pajak, disetor tiap bulan. Edwardi memperkirakan bagi investor yang ingin membuka satu outlet, total biaya sekitar Rp 1 miliar. Angka itu sudah all in -- termasuk sewa tempat ke manajemen mall, instalasi dapur, pengadaan furnitur, dll.
Fifi menambahkan, sebenarnya pihaknya selama ini ingin membuka banyak outlet, tetapi sering terkendala ketersediaan tempat di mal. Selain karena mal yang ada sudah full booked, seringkali positioning mall juga kurang cocok dengan Red Bean. "Permintaan menjadi mitra waralaba cukup banyak baik dari Jakarta maupun luar daerah. Rata-rata mereka merupakan pelanggan kita sendiri, sudah coba makanan kita lalu tertarik ikut mengembangkan usaha," kata Fifi.
Hendra, karyawan sebuah perusahaan elektronik terkemuka di Jakarta, juga merupakan investor waralaba Red Bean dan punya outlet Red Bean di mal Margocity Depok. Ia mulai membeli waralaba Red Bean sejak Januari 2008 lalu. "Awalnya saya dan keluarga sudah memutuskan untuk masuk bisnis makanan karena bisnis makanan nggak ada habisnya. Kapan saja orang butuh makan. Kebetulan sebelumnya kami sudah menjadi pelanggan Red Bean. Menurut kami Red Bean ini harga menunya tidak mahal dan pilihannya banyak. Walaupun ini chinese food tapi menunya tidak terlalu chinese, tapi lebih umum dan modern. Makanya kami sekeluarga tertarik menjadi investor," ujar Hendra.
Tampaknya Hendra termasuk investor waralaba yang happy dengan perkembangan bisnisnya. "Sejauh ini prediksi hitungan keuangan dari awal yang dulu diberikan pihak franchisor Red Bean masih cocok atau sesuai kalkulasi awal. Target-target bulanan sesuai harapan bahkan boleh dibilang diatas target," ujar Hendra. Hendra sendiri sudah merencanakan untuk membuka cabang Red Bean kedua karena kebetulan ada mal baru yang akan buka.
Edwardi tak menampik perkembangan bisnis Red Bean memang pesat. "Ya kalau sekarang memang sudah sangat bagus. Rata-rata pengunjung mal kenal Red Bean. Tapi awalnya juga nggak gampang karena pesaing banyak Pak. Tapi kita terus sempurnakan menu-menu dan pelayananya," katanya. Kini rata-rata per outlet Read Bean dikunjungi 3-5 ribu pengunjung per bulan. "Kalau di outlet besar seperti mal Puri Indah, Paris Van Java, dan mal Pondok Indah Mall jauh diatas angka itu," imbuh Fifi, ibu dari satu putri dan dua putra ini.
Toh demikian, walapun bisnis Red Bean berkembang pesat, bukan berarti tanpa kendala. Diantara kendalanya ialah manajemen investor waralaba yang tidak selalu mudah. "Kadang ada investor yang nggak nurut. Mereka suka menaikkan harga sendiri atau menambah menu-menu sendiri di luar konsep Red Bean. Ini yang sering menjadi kendala. Walapun investor seperti itu hanya sedikit sekali. Tapi kita mestinya take and give dan berkembang bersama sesuai komitmen awal," kata Fifi.
Fifi dan Edwardi sendiri juga punya brand resto lain selain Red Bean, yakni Rice & Noodle. Resto ini disasarkan untuk segmen yang lebih bawah dibanding Red Bean. "Tapi yang ini belum kita kembangkan, makanya outletnya baru dua. Kita fokus di Red Bean," terang Fifi seraya menjelaskan dirinya dan suami lebih suka disebut founder ketimbang owner Red Bean. Yang pasti pasangan ini tak menyesal meninggalkan konsep resto lamanya yang menyasar segmen chinese tradisional menjadi resto chinese modern. Terutama dengan melihat performa Red Bean yang sudah sukses menjadi jaringan restoran yang cukup terkemuka saat ini.
Ya, awal keberhasilan bisnis memang sering harus dimulai dari keberanian mengubah konsep dan cara-cara bisnis lama!
Kisah bisnis menarik lainnya:
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat di Indonesia
Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe
Transformasi Pelindo I, Sedang Membenahi Proses Bisnis dan Membangun Budaya
Gerakan transformasi perusahaan di PT Pelindo I (Persero) tampaknya dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. Perusahaan pengelola sejumlah pelabuhan di Sumatera itu sebelumnya sudah berhasil melakukan sejumlah pembenahan proses bisnis dari lini pengelolaan sumber daya manusia seperti penerapan manajemen kinerja berbasis elektronik dan manajemen persuratan elektronik. Kini manajemen Pelindo I terus melanjutkan transformasi bisnis dari sisi pengembangan budaya perusahaan dan pembenahan berbagai lini proses bisnis agar menuju organisasi yang ekselen.
Baru-baru ini, Direktur Utama Pelindo I Bambang Eka Cahyana menjelaskan, untuk menjamin agar bisnis Pelindo I terus bertahan serta semakin berkembang dan berkelanjutan, Manajemen Pelindo I merasa perlu melakukan transformasi perusahaan. Transformasi perusahaan yang kini sedang dilakukan pihaknya meliputi dua hal, yaitu Transformasi Proses Bisnis dan Transformasi Budaya. Dalam proses transformasi tersebut, kata Bambang, Pelindo I telah melakukan evaluasi atas budaya perusahaan, manajemen SDM & Organisasi, proses bisnis, implementasi IT, serta kesiapan pegawai perusahaan.

Lebih lanjut Bambang menjabarkan, dalam Transformasi Proses Bisnis Pelindo I, Pelindo I akan melakukan lompatan kualitas layanan dan kinerja melalui pembentukan Shared Service Unit (SSU) dan Implementasi Enterprise Resource Planning (ERP). SSU bertujuan untuk mengonsolidasikan seluruh proses administrasi dan pendukung, dari unit-unit di dalam organisasi menjadi unit yang tersentralisasi dengan didukung infrastruktur yang memadai. Sementara ERP merupakan sistem informasi bagi perusahaan yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis, yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi dan distribusi.
Oleh sebab itu Bambang mengajak seluruh manajemen dan karyawan Pelindo I untuk berkomitmen melakukan perubahan mendasar yang harus dilakukan oleh seluruh lapisan di Perusahaan. Perubahan harus dimulai dari SDM Pelindo I dan itu harus dimulai saat ini. Tentu saja, dengan berbagai transformasi yang dilakukan, diharapkan agar berbagai pelayanan yang dijalankan Pelindo I makin baik, termasuk tingkat dwelling time pelabuhan yang semakin baik sesuai yang diharapkan. Untuk itu proses bisnis harus secara terus-menerus diperbaiki.
Kisah bisnis menarik lainnya:
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat di Indonesia
Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Daftar Buku Bisnis Terlaris Indonesia (Penulis Luar Negeri)
Berikut ini daftar buku bisnis paling laku di Indonesia yang dikarang sang penulis luar negeri



Daftar Buku Bisnis Paling Laris di Indonesia (Karangan Penulis Dalam Negeri)
Daftar Buku Bisnis Paling Laris di Indonesia (Karangan Penulis Dalam Negeri)
PT Tridaya Eramina Bahari, Rising Star Seafood Exporter From Jakarta

Global seafood market is very interisting for some Indonesian businessman. One among Indonesian company that now intens to develop international market is PT Tridaya Eramina Bahari, which is one of Indonesian fishery exporters. Tridaya, the company was founded by Dayat Suntoro. Currently Tridaya able to export at least 7 containers monthly. Fish products that are exported not only the type of sea fish, but also certain fish from aquaculture, particularly catfish.
Before starting up his own businesses, Dayat had worked for a Japanese entrepreneur for 5 years, from 1988 to 1992. From there he learned entrepreneurship. Dayat father has already preparing him to become entrepreneurs. Then, in 1994 he decided to build their own business, under the name of PT Tridaya Eramina Bahari. Capitalized by the trust from his acquaintance, then he got a buyer from Japan.
In 1998, when financial crisis hit Indonesian economy, it gives some bless to some exporters like Tridaya. The value of the dollar high rise, so it increased profits for exporters. Therefore Dayat then opened an news office in Jakarta. Currently, in addition to have an office in Jakarta, Tridaya has also had a fish processing factory in Bitung, Manado.
Besides exporting seafood product, now Tridaya also has begun export the types of farmed fish. "We also cultivate catfish," said Dayat. Tridaya have a flagship product of tuna, marlin, skip jack, swordfish, selfish, wahoo. The fish was exported in various forms. There are forms full body of fish, or fillet, fish loin or split 4 clean, cube, steak, souk or cubes. "It depends on customer demand," he said.
The varied sea fish are not captured by Tridaya itself, but Tridaya buy from local fish merchants, from Jakarta, Bali, Ambon, Bitung. Dayat control 30-40 merchants. Now, Tridaya able to export the average of up to 7 containers a month. The company employs 70 people.
Dayat said, the export market is very good. Most of his buyers are from Europe. "We export to France, Portugal, Germany, and Netherlands. There are also to Asian countries such as Thailand and Vietnam," Dayat said. Now he continues to add his export capacity in order to can serve all order from his customers.
Pengalaman dan Kesan Menginap di Grand Mercure Bandung Setiabudi: Cocok Untuk Bisnis Maupun Keluarga
Grand Mercure Bandung Setiabudi dikelola oleh Accor Hotel Group, jaringan hotel internasional yg pada Bandung pula mengelola Novotel Bandung, ibis Styles Braga & ibis Trans Studio Bandung. Sama halnya menggunakan hotel Grand Mercure lainnya yg selalu mempunyai keunikan, pada Grand Mercure Bandung Setiabudi ini, pengunjung diajak dekat dengan alam maupun budaya tatar Parahyangan. Grand Mercure Setiabudi Bandung mempunyai karakteristik yg sesuai menggunakan budaya sekitarnya, kental menggunakan sentuhan tradisional Jawa Barat yang diantaranya ditonjolkan di kamar-kamar.
Ornamen khas Bandung yang dipasang di setiap kamar. Pada bagian headboardnya dipasang gambar khas Bandung, seperti Gedung Sate, Stasiun Bandung, Gedung Merdeka, Gunung Tangkuban Parahu dan Teropong Bosscha. Headboardnya berbeda di setiap lantai. Sebuah diorama cerita Sangkuriang pun terpasang di bagian depan hotel sebelum memasuki lobi. Tak hanya itu, yang unik di Grand Mercure Bandung Setiabudi ini, mini bar di setiap kamar tak hanya menyajikan teh dan kopi semata, namun disediakan pula sejumlah minuman dan makanan khas. Juga disediakan bandrek, bajigur, keripik pedas, dan basreng.

Beberapa waktu lalu saya ada acara yang memaksa saya harus menginap di Bandung. Akhirnya saya memutuskan bermalam di Grand Mercure Bandung Setiabudi. Saya sangat nyaman menginap di hotel yang terletak di tengah kota Bandung ini, Jl Setiabudi. Hotelnnya sangat bersih dan sepadan dengan kelasnya. Bahkan mirip bintang 5. Ini memang hotel bintang 4 dan masih baru. Kata teman-teman, hotel ini hampir selalu full booked. Waktu kawan saya yang bertugas booking juga kasih tahu, ia bisa pesan kamar karena ada kawan yang bisa membantu. Ini memang cukup primadona.
Ada beberapa hal yg mengesankan saya ketika menginap pada hotel ini. Pertama, pemandangan menurut pada kamar. Ketika pagi, berdasarkan ventilasi saya bisa melihat Bandung Selatan (orang Bandung menyebutnya Bandung Bawah) yg posisinya dibawah, dengan pemandangan yang luar biasa. Panomara pagi sahih-benar aduhai lantaran kita sanggup melihat dalam spektrum yang jauuh.
Masih menurut ventilasi sebelah, saya juga bisa melihat arah kebalikannya, arah Lembang. Pemandangannya pula ok. Lalu, karena saya menginap pada lantai 8, aku sanggup lihat pemandangan bawah, melihat kolam renang & pula pemandangan lebih kurang hotel, sembari ditemani angin pagi yang sepoi-sepoi.
Salah satu pengalaman menarik, kami tidur tidak gunakan AC pun sudah sangat dingin menggunakan pintu cendela sedikit dibuka. Udaranya memang kondusif, dekat dengan Lembang yang sejuk & dingin.
Hotel yg nisbi baru ini memang poly diminati sang pengunjung yang melancong ke Bandung.
Bagi yg senang berenang atau berendam, hotel ini dilengkapi pula dengan fasilitas kolam renang olympic size yg eksklusif. Lokasi kolam renang persis di samping resto buat breakfast. Jadi kita bisa makan pagi sembari melihat anak-anak berenang jika sedang berlibur bawa anak-anak. Kolam renang relatif akbar, olimpic size. Dan kolam renang ini memang galat satu keunggulan hotel ini. Selain posisinya yang strategis, udara sejuk & hotelnya masih baru.
Selain kolam renang, juga terdapat fitnes center, spa, kids club & 6 ruang pertemuan banyak sekali ukuran untuk keperluan bisnis. Serta Grand Ballroom yg bisa menampung hingga 1.700 orang buat berbagai acara. Hotel ini memiliki 205 kamar dirancang menggunakan konsep modern minimalis. Rincinya, terdapat 63 kamar superior, 73 kamar deluxe, 8 kamar pool access, 6 privilage rooms dan 5 junior suite. Kalau kita menginap disana, setiap kamar dilengkapi menggunakan amenities kamar terbaik, saluran 24 jam tv satelit, Wi-Fi gratis, brankas & mini bar. Bahkan buat previlage disediakan mesin penghasil esspreso sendiri. Kesan saya, hotel ini cocok buat program bisnis maupun program keluarga yg kalem.
Penulis: Sudarmadi ( darmadi2000@yahoo.com )
Baca jua gosip terkait :
Kesan Menginap Di Mercure Karawang, Asyik dan Ingin Kembali Lagi
Pengalaman Saya Menginap di Hotel Mercure Ancol
Strategi Jaringan Hotel Ibis Agar Makin Eksis
Meeting Bisnis di Bogor dan Bermalam di Salak Tower Hotel, Pengalaman Yang Layak Dicoba

Bagi Anda yg bosan melakukan aktivitas rapat bisnis di Jakarta atau di lokasi rapat rutin Anda, tidak terdapat salahnya mencoba gathering usaha atau kedap pekerjaan pada Salak Tower Hotel (STH) di Bogor. Hotel ini terbilang nisbi baru, beroperasi baru sekitar lima bulan kemudian. Salak Tower Hotel merupakan Hotel berbintang 4 yg berlokasi sangat strategis, lokasi premium, yakni di jantung kota Bogor. Jaraknya hanya 5 menit menurut exit tol Bogor, dekat dengan Istana Bogor & Kebun Raya Bogor, berada di area masakan & Factory outlet.
STH dikembangkan sang PT Hotel Properti Internasional, satu class menggunakan perusahaan yg mengelola Hotel Salak yg legendaris di Bogor itu. Salak Tower Hotel yang layak Anda coba ini lokasinya di tempat Jalan Padjadjaran, Bogor. Dari segi fisik, hotel mempunyai keunggulan pada bidang ketinggian bangunan. Dengan ketinggian hotel, tamu hotel bisa memandang keindahan Gunung Salak dan panorama yang mengelilingi Bogor. Lokasi hotel, berada 300 meter lebih tinggi berdasarkan Jakarta sebagai akibatnya bebas banjir dan mempunyai udara lebih sejuk.
Salak Tower Hotel berdiri kapasitas lebih menurut 140 kamar. Pengembang sudah berusaha menjaga & mempertahankan kelestarian lingkungan kurang lebih hotel. Terlebih, STH berdiri pada tempat Jalan Padjadjaran adalah pusat bisnis Kota Bogor, yg tetap terpelihara kelestarian lingkungannya. Ciri spesial Kota Bogor sebagai kota sejuk masih terasa pada tempat ini.
Nah, untuk mendukung kegiatan meeting dan eksebisi yang akan Anda jalankan, manajemen Salak Tower Hotel sudah menyediakan 11 Meeting Rooms yang multifungsi dan bisa mengakomodasi 6-300 orang di dalamnya. Fasilitas meeting sudah dilengkapi dengan alat audio-visual yang modern,full size projector screens, wireless microphones plus, dll. Bila dibutuhkan, juga disediakan alat untuk video conference dengan large display untuk HD LED screen, dan ultra-sensitive wireless microphones. Tentunya alat-alat ini akan membantu meeting Anda agar kondusif dan berhasil.
Kalau Anda kemalaman, juga bisa sekalian bermalam di hotel ini yang sudah disediakan 150 kamar hotel. Jadi Anda juga bisa sekalian mengajak anak istri. Kita rapat, anak istri biar menikmati kota Bogor, baik Kebun Raya, atau ke Botanic atau melihat-lihat The Jungle dan putar-putar kampus IPB. Di hotel juga terdapat Coffee Shop dan Lounge, kolam renang, Fitness Center, Kids Playground, dan Business Center. Tentunya anak-anak akan happy, siang bisa putar-putar Bogor dan malamnya melihat indahnya Bogor dari jendela hotel. Bahkan STH pun menyediakan paket tour, misalnya di akhir pekan ada tour dengan delman untuk jalan-jalan ke sekitar Bogor.
Pastinya akan menjadi pengalaman baru yang menarik untuk dicoba. Bagi Anda yang ingin pergi ke Bogor bosan dengan naik mobil atau kendaraan pribadi, just info bahwa hotel ini tak jauh posisinya dari stasiun Bogor sehingga mudah dijangkau bagi mereka yang dari Jakarta naik kereta api. Selamat mencoba ! ( darmadi2000@yahoo.com )
POP! Hotel Kemang Terpilih Sebagai Hotel Budget Terbaik dari TTG Travel Awards

POP! Hotel Kemang Jakarta, sebuah hotel yang berada dalam pengelolaan TAUZIA Hotel Management, baru saja memenangkan penghargaan 27th Annual TTG Travel Awards 2016 untuk kategoriBest Budget Hotel. Penilaian itu berbasis pilihan pembaca se-Asia Pasifik dari survei yang diakukan TTG Media. “Ini kemenangan pertama bagi POP! Kemang Jakarta. Temuan survei ini menunjukkan bahwa pelayanan hotel Pop Kemang Jakarta memiliki standar yang tinggi dan semakin meningkat,” komentar Darren Ng,Managing Director TTG Asia Media. Tahun 2016 ini merupakan musim ke-27 bagi penyelenggaraan ajangawarding perhotelan ini.
Bagi jaringan POP! Hotels sendiri, kemenangan tahun ini merupakan kemenangan kedua, karena tahun sebelumnya penghargaan yang sama dimenangi oleh POP! Hotel Kuta Beach Bali. “Kami mendedikasikan penghargaan ini bagi seluruh jaringan POP! Hotel yang sudah memiliki 19 hotel, terutama atas kerja keras semua staf. Ini pembuktian bahwa kualitas pelayanan kami melampaui standar Asia Pasifik,” ungkap Richard Sembiring,Hotel Manager POP! Hotel Kemang.
POP! Hotel Kemang memang berada di lokasi yang cukup strategis di Jakarta Selatan, dikelilingi berbagai restoran, mall serta bar malam. Hotel budget dengan 147 kamar ini juga dilengkapi koneksi WiFi gratis, TV LED dengan kanal kabel internasional, sofa bed, kotak safe deposit, rain shower & air mineral botol gratis. Selain itu hotel ini juga menawarkan vending machine & ruang pertemuan dengan kapasitas hingga 30 orang.
Pop! Hotel merupakan salah satu brand hotel andalan TAUZIA Hotel Management, selain brand lain seperti Harris dan Yello. Didirikan sejak 2001, TAUZIA Hotel Management saat ini mengelola sekitar 111 hotel di Indonesia baik yang sudah beroperasi atau baru dalam tahap kontruksi pembangunan. Masing-masing hotel dikembangkan dengan positioning berbeda. Bila HARRIS Hotels dikembangkan sebagaimidscale hotels yang mengusung konsephealthy lifestyle, maka POP! Hotel lebih ditonjolkan sebagaieco-friendly budget hotel untuk parasmart travelers. Hingga tahun 2020, manajemen TAUZIA menargetkan akan menambah 19 hotel POP! Lagi dari 19 hotel POP! yang sekarang sudah dalam pengelolaan. (Sudarmadi)
POP! Hotel Kemang Terpilih sebagai Best Budget Hotel Pada TTG Travel Awards

POP! Hotel Kemang Jakarta, sebuah hotel yang berada dalam pengelolaan TAUZIA Hotel Management, baru saja memenangkan penghargaan 27th Annual TTG Travel Awards 2016 untuk kategori Best Budget Hotel. Penilaian itu berbasis pilihan pembaca se-Asia Pasifik dari survei yang diakukan TTG Media. “Ini kemenangan pertama bagi POP! Kemang Jakarta. Temuan survei ini menunjukkan bahwa pelayanan hotel Pop Kemang Jakarta memiliki standar yang tinggi dan semakin meningkat,” komentar Darren Ng, Managing Director TTG Asia Media. Tahun 2016 ini merupakan musim ke-27 bagi penyelenggaraan ajang awarding perhotelan ini.
Bagi jaringan POP! Hotels sendiri, kemenangan tahun ini merupakan kemenangan kedua, karena tahun sebelumnya penghargaan yang sama dimenangi oleh POP! Hotel Kuta Beach Bali. “Kami mendedikasikan penghargaan ini bagi seluruh jaringan POP! Hotel yang sudah memiliki 19 hotel, terutama atas kerja keras semua staf. Ini pembuktian bahwa kualitas pelayanan kami melampaui standar Asia Pasifik,” ungkap Richard Sembiring, Hotel Manager POP! Hotel Kemang.
POP! Hotel Kemang memang berada di lokasi yang cukup strategis di Jakarta Selatan, dikelilingi berbagai restoran, mall serta bar malam. Hotel budget dengan 147 kamar ini juga dilengkapi koneksi WiFi gratis, TV LED dengan kanal kabel internasional, sofa bed, kotak safe deposit, rain shower & air mineral botol gratis. Selain itu hotel ini juga menawarkan vending machine & ruang pertemuan dengan kapasitas hingga 30 orang.
Pop! Hotel merupakan salah satu brand hotel andalan TAUZIA Hotel Management, selain brand lain seperti Harris dan Yello. Didirikan sejak 2001, TAUZIA Hotel Management saat ini mengelola sekitar 111 hotel di Indonesia baik yang sudah beroperasi atau baru dalam tahap kontruksi pembangunan. Masing-masing hotel dikembangkan dengan positioning berbeda. Bila HARRIS Hotels dikembangkan sebagai midscale hotels yang mengusung konsep healthy lifestyle, maka POP! Hotel lebih ditonjolkan sebagai eco-friendly budget hotel untuk para smart travelers. Hingga tahun 2020, manajemen TAUZIA menargetkan akan menambah 19 hotel POP! Lagi dari 19 hotel POP! yang sekarang sudah dalam pengelolaan. (Sudarmadi)
Luar Biasa, Satu Semester Indofood Bisa Raup Rp 11,6 Triliun dari Mie Instan

Tak galat bila PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) disebut menjadi raja usaha mie instan di Indonesia. Penjualan mie instan Indofood memang sangat lucratif & sebagai penopang kinerja usaha PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Berdasarkan data penjualan bersih PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada semester I-2016, perusahaan milik Group Salim itu mampu membukukan penjualan neto konsolidasi Rp 18,18 triliun atau naik 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Yang menarik, dari total penjualan itu, kontribusi terbesar dari penjualan divisi mie instan, yakni sebesar 64 persen, setara dengan Rp 11,6 triliun. Jelas, pencapaian yang luar biasa. Untuk satu kategori produk saja, bisa menyabet diatas Rp 11 triliun untuk 6 bulan.
Ruang lingkup kegiatan ICBP terdiri atas produksi mi dan bumbu penyedap, susu, produk kuliner masakan, biskuit, makanan ringan, nutrisi dan makanan spesifik. Kontribusi divisi dairy (susu) sebesar 19 %, kuliner ringan (snak) 7 persen, penyedap makanan tiga persen, nutrisi dan makanan dua % serta minuman lima persen. Indofood selama ini dikenal menjadi pemain besar di bisnis consumer good & usaha mie instan memang galat satu flagship usaha Indofood selain usaha minyak goreng menggunakan merek Bimoli.
Pada semester pertama 2016 ini, keuntungan periode berjalan yang bisa didistribusikan pada pemilik entitas induk tumbuh 13,9 persen sebagai Rp1,98 triliun menurut sebelumnya Rp1,74 triliun. "Pada semester pertama tahun ini, kami bisa mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba higienis yg sehat," kata Direktur Utama dan CEO ICBP Anthoni Salim, pada keterbukaan fakta Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/8/2016). Laba usaha tumbuh 24,9 % menjadi Rp2,74 triliun dari sebelumnya Rp2,19 triliun. Marjin laba usaha juga naik menjadi 15,1 persen dari sebelumnya 13,1 %.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (?ICBP?) adalah perusahaan yg membuat banyak produk konsumen bermerek yang indah dan telah terkemuka masih ada poly pilihan produk & akhirnya sebagai solusi sehari-hari bagi konsumen pada segala usia. Banyak pada antara merek produknya sebagai produk terkemuka yang telah disenangi oleh masyarakat Indonesia, serta memperoleh agama dan loyalitas jutaan konsumen pada Indonesia selama bertahun-tahun.
ICBP didirikan pada september 2009 melalui proses restrukturisasi internal dari Grup Produk Konsumen Bermerek (?CBP?) PT Indofood Sukses Makmur Tbk (?Indofood?). Dengan aktivitas restrukturisasi internal tadi, maka aktivitas bisnis Grup CBP dari Indofood, yg mencakup mi instan, dairy, kuliner ringan, penyedap makanan, nutrisi & kuliner spesifik, serta biskuit (sebelumnya tergabung dalam Grup Bogasari), dialihkan ke ICBP.
ICBP mulai mencatatkan sahamnya di BEI tepatnya pada tanggal 7 Oktober 2010. Hingga saat ini Indofood tetap menjadi pemegang saham mayoritas ICBP dengan kepemilikan saham sekitar 80%. Oleh karenanya, ICBP tetap memiliki sinergi dengan perusahaan-perusahaan Indofood lainnya dalam meningkatkan keunggulan kompetitifnya.
Pada tahun 2012, ICBP memulai inisiatif untuk dapat meraih peluang usaha baru dengan mendirikan dua perusahaan patungan dengan Asahi Group Holdings Southeast Asia Pte. Ltd. (“Asahi”) demi memasuki pasar minuman non-alkohol di Indonesia. Kegiatan usaha minuman ini sendiri dimulai di akhir tahun 2013 menyusul akuisisi exclusive bottler untuk produk-produk PepsiCo dan yang selanjutnya disusul dengan akuisisi aset kegiatan usaha air minum dalam kemasan (“AMDK”) di awal tahun 2014. ( darmadi2000@yahoo.com )
Kinerja Jababeka Kinclong, Laba Tumbuh Fantastik dan Agresif Kembangkan Bisnis Baru

Laba PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) sepanjang semester I/2016 naik 30,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun kemudian. Sesuai laporan keuangan semester I/2016 yg sudah dipublikasikan (9/8/2016), perseroan mencatat laba yg diatribusikan pada pemilik entitas induk sebanyak Rp 325,78 miliar atau naik 30,41% dibandingkan menggunakan periode yang sama tahun lalu senilai Rp249,81 miliar.
Peningkatan laba Jababeka didorong oleh sejumlah beban perseroan yg mampu ditekan. Sepanjang semester I/2016, perseroan mencatat penjualan dan pendapatan jasa senilai Rp 1,36 triliun. Pencapaian tersebut turun 7,48% menurut periode yang sama 2015 senilai Rp1,47 triliun.
Tetapi demikian, perseroan relatif smart & berhasil bisa menekan sejumlah beban biaya . Mulai berdasarkan beban keuangan yg turun 56,98% menjadi Rp169,59 miliar menurut Rp394,22 miliar pada semester I/2015. Kemudian, beban pajak final pula turun menjadi Rp10,60 miliar berdasarkan Rp28,38 miliar.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) terus akan perluasan berbagi bisnis-usaha dan proyek barunya yg sudah ada pada pipeline buat pengembangan. Antara lain, Jababeka sudah menyiapkan dana sebanyak US$ 10-20 juta buat menciptakan infrastruktur daerah industri pada Kendal, Jawa Tengah. Direktur Utama Jababeka Budiyanto Liman berkata, perseroan bekerjasama dengan perusahaan asal Singapura, Sembawang Corporation, untuk menyebarkan tempat industri tersebut. Luas tanah yang akan digarap seluas dua.000-tiga.000 hektare (ha).
?Tahap awal, kami akan kembangkan sekitar 860 ha. Sekarang dalam termin pengembangan infrastruktur,? Ujar Budiyanto di Jakarta, Selasa (20/10). Dia melanjutkan, secara khusus, infrastruktur yg akan dibangun mencakup jalan, pemadatan tanah, dan menyiapkan pasokan air higienis maupun buat air limbahnya. ?Pokoknya kami bangun infrastruktur supaya para investor yang ingin menciptakan pabrik sudah mampu beroperasi termasuk listrik dan lainnya,? Ujar Budiyanto.
Untuk pasokan listrik, perseroan berencana menciptakan pembangkit listrik (power plant) untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri. Namun, beliau belum mampu menjelaskan berapa kapasitasnya. Dia mengakui, buat proyek pengembangan tempat industri Kendal, waktu ini sudah poly perusahaan yg akan menempati kawasan tadi. Hal ini didukung menurut harga tanah yg lebih murah dan dari segi upah pekerja masih nisbi lebih rendah dibandingkan kawasan industri Jababeka lainnya.
?Dari segi labour cost pada Jawa Tengah masih lebih rendah dibandingkan Bekasi. Hal ini sebagai daya tarik investor terutama bagi yg labour intensif, seperti tekstil,? Ujar Budiyanto. Sementara itu, buat pembebasan huma, perseroan menghabiskan belanja kapital (capital expenditure/capex) sebesar Rp 600 miliar tahun ini. Dana tersebut 100 % berasal dari kas perseroan. Sementara itu, buat kawasan Kendal, bakal menghabiskan dana sebesar Rp 400 miliar. Capex yg paling besar memang digunakan buat pembebasan huma di Kendal.
Jababeka pula terus melanjutkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Pulau Morotai seluas 1.200 hektar. Melalui anak usahanya, PT Morotai Jababeka berhasil menggandeng mitra berdasarkan Taiwan buat membentuk amenitas & atraksi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata tadi.
Pada termin awal, dikabarkan, PT Morotai Jababeka, menciptakan 10 ribu rumah menggunakan pangsa pasar kelas menengah, serta hotel-hotel menggunakan kapasitas 100 ribu kamar. Tahap berikutnya, PT Morotai Jababeka membangun tempat pariwisata, sekolah yg akan menyuplai sumber daya insan (SDM), & lainnya. Raksasa properti ini juga akan membuatkan pertanian, perikanan, dan perdagangan.
PT Morotai Jababeka siap menggelontorkan investasi Rp 6,8 triliun. Dana sebanyak itu dari berdasarkan investasi sendiri, & sejumlah investor. Andrew Hsia, kepala Perwakilan Perdagangan & Ekonomi Taipei pada Indonesia (TETO), berjanji akan mengembangkan budi daya ikan, pertanian, pariwisata, dan perbankan pada Morotai. Ia memperkirakan akan ada konvoi poly orang ke Morotai buat bekerja di bidang perikanan, eko-turisme, dan infrastruktur.
5 Hotel Terbaik Di Yogyakarta Untuk Menginap
5 Hotel Terbaik Di Yogyakarta Untuk Menginap
5 Hotel Terbaik di Bandung Untuk Menginap
Lima Hotel Terbaik pada Bandung Untuk Menginap
Inilah Hotel Bintang Empat Terbaik di Bandung, Hadir Dengan Memberi Kesan dan Pengalaman Berbeda
Inilah Hotel Bintang Empat Terbaik pada Bandung, Hadir Dengan Memberi Kesan dan Pengalaman Berbeda
4 Hotel Bintang Lima Terbaik di Bandung, Rasakan Pengalaman Sensasional Menginap Disana
4 Hotel Bintang Lima Terbaik pada Bandung, Rasakan Pengalaman Sensasional Menginap Disana
Kesan Dan Pengalaman Menginap Hotel Bintang Lima di Bandung
Kesan Dan Pengalaman Menginap Hotel Bintang Lima pada Bandung