Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang 5 di Jakarta

Kesan Dan Pengalaman Menginap Hotel Bintang Lima pada Jakarta

#Tag :

Jurus Penetrasi Gaya Makmur Tractor di Bisnis Alat Berat

Pada tahun-tahun mendatang nampaknya persaingan bisnis alat berat akan semakin seru, khususnya menggunakan kehadiran beberapa pemain baru. Kalau dulu pemain yg banyak malang-melintang di industri alat berat hanya PT United Tractors (Komatsu), PT Hexindo Adiperkasa(Hitachi), PT Trakindo Utama (Caterpillar) & PT Intraco Penta (Volvo), pasti kedepan pemainnya akan semakin berjubel, khususnya melihat pasarnya yang menggeliat pesar seiring pertumbuhan di induistri pertambangan (Iabtubara), perkebunan dan konstruksi.

Salah satu pemain baru yang kini intens menggarap pasar ialah PT Gaya Makmur Tractors (GMT). Distributor alat berat yang baru berdiri tahun 2005 ini agresif memasarkan berbagai jenis alat berat   dari China (merek XCMG dan Shantui) dan Jerman (produk-produk Wirtgen Group -- merek Wirtgen, Hamm dan Vogele). PT Gaya Makmur Motor (GMM) didirikan oleh Cahyadi yang sebelumnya sudah malang-melintang di bisnis alat berat bekas dan juga Tjandi Mulyono (Presdir GMT saat ini) .

Melihat reputasi produk yang didistribusikan & pengalaman bisnis pengelolanya, nampaknya peran GMT tak sanggup diremehkan. Shantui, merupakan penghasil alat berat dari China yang sudah biasa sebagai mitra produksi mesin Komatsu (Jepang) buat pasar internasional. Jadi, selain melayani pabrikasi buat Komatsu, mereka juga memproduksi brand sendiri bernama Shantui. "Spesifikasi Shantui 80% menyamai Komatsu, tetapi harganya 40% lebih murah," jelas Tjandi Mulyono, Presdir GMT. Tjandi jua menyebut merek XCMG berdasarkan Shantui yg kini market leader pada China. Adapun produk Shantui yang dipasarkan GMT meliputi buldozer, wheel loader, motor grader dan truck crane.

Lalu, prinsipal GMT lainnya, Wirtgen Group, merupakan penghasil indera berat terkemuka di Jerman. "Sebelumnya Wirtgen poly didekati pemain akbar dari Indonesia buat sebagai distrubutor akan tetapi nggak jadi. Jodohnya menggunakan kita," saya Tjandi. Wirtgen sejauh ini sangat memperhatikan sisi teknis sebuah produk. Karenanya mereka menginginkan setiap distributornya memiliki standar eksklusif yg relatif ketat. Mereka jua mensyaratkan pembinaan intensif & mengirim trainer menurut sentra setahun minimal 12 kali. Produk Wirtgen Group yg dipasarkan GMT mencakup belasan produk mulai berdasarkan tractor towed stabilizer, surface miner sampai cold milling machine.

Dari sisi pemasaran, nampaknya GMT akan banyak bermain pada sektor konstruksi. Maklum, Departemen Pekerjaan Umum tahun ini akan menggelontorkan dana Rp 34 triliun buat pembangunan jalan, terutama pada luar Jawa. ?Pasar buat sarana dan prasarana saja mencapai Rp 7 triliun,? Celoteh Tjandi yang sebelumnya direktur marketing di Buana Finance. Tetapi Tjandi juga tidak ingin menyia-nyiakan peluang di sektor pertambangan dan agrobisnis. Karena itu selain pada Jakarta, GMT juga membuka kantor cabang di Medan, Pekanbaru dan Balikpapan. Tahun ini menambah tempat kerja cabang di Banjarmasin & Makassar. Yang jelas sekarang GMT juga sudah punya kantor sentra & workshop terintegrasi, seluas 9500 ribu m2, menelan investasi Rp 30 miliar -- asal dari Cahyadi, Tjandi Mulyono & kawan berdasarkan Singapura.

Tjandi sadar bisnisnya sangat tergantung pelayanan sebagai akibatnya pihaknya serius menciptakan after sales service. "Garansi service & spare parts diberikan 1 tahun," pungkasnya. GMT jua membantu klien mengurus ke forum leasing bagi kliennya yang ingin membeli menggunakan pola leasing -- selama ini 90% kliennya membeli alat berat dengan leasing. Saat ini pihaknya terus melatih tenaga marketing, back office dan teknisi. "Khusus tenaga teknisi kami ambil dari pemain besar dengan kami tawarkan salary lebih tinggi. Kami sadar jam terbang sangat krusial, makanya kami hire yg telah jadi. Mereka secara reguler kami ikutkan pelatihan internal juga eksternal," pungkasnya. Di lapangan, masing-masing staf pemasaran dibekali laptop buat membantu presentasi. "Produk kami penuh hal teknis, daripada membawa brosur tebal-tebal lebih baik pakai laptop yg mudah,? Jelasnya menyebut GMT punya 15 tenaga marketing.

GMT mencoba merebut hati konsumen dengan berbagai upaya kenaikan pangkat baik ATL maupun BTL. Secara rutin GMT beriklan di majalah para asosiasi kontraktor dan memasang advertorial di SCTV. Setiap dua tahun sekali juga mengagendakan mengikuti PRJ. ?Stan kami sama besarnya dengan United Tractors. Kami menciptakan banyak program, supaya masyarakat tertarik,? Ungkapnya.

Dan, rupanya sejauh ini upayanya tak sia-sia. Sejak penetrasi 2005, kinerja GMT cukup menjanjikan. Tahun 2005 (Oktober-Desember) GMT mendapat order 15 alat berat (Rp 11 miliar), tahun 2006 meningkat drastis, menjadi 64 unit (Rp 50-an miliar). Tahun  2007 penjualan mencapai 200 unit (Rp 131 miliar) dan hingga pertengahan 2008 sudah menjual hampir 200 unit. Komposisi penjualan, 2/3 didominasi merek China (Shantui dan XCMG), sisanya dari merek Wirtgen Group. Tentu ini kinerja yang bagus, apalagi bila melihat saat memulai. “Dulu kita ngantor di kontainer. Baru tahun lalu kita pindah ke sini” kata Mulyono. Ditargetkan Mulyono, sampai akhir 2008 GMT akan mampu menjual sampai 400 unit.

PT Adani Global, merupakan kontraktor pertambangan batubara di Bulungan Kaltim yang juga pelanggan GMT. Sebagaimana dijelaskan Suwandi, Direktur Adani, pihaknya sudah membeli sekitar 40 unit dari GMT. “Yang terbanyak beli bulldozer. Ada juga wheel loader, motor grader, dan compactor yang kami beli,” kata Suwandi.  Menurutnya, after sales GMT sudah selevel dengan pemain besar seperti United Tractors dan Trakindo. “Mereka OK pelayanannya. Bagi saya ini penting. Support dari tim commissioning, teknis sampai spare parts-nya juga Oke. Saya cukup apresiasi karena ini produk China yang biasanya terkenal murah meriah dan kurang support-nya, tapi ternyata OK," katanya.

#Tag :

Pengalaman Menginap Hotel Bintang Tiga di Bogor

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang Tiga di Bogor

#Tag :

Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM

Belakangan ini kalangan pengelola perguruan tinggi di Indonesia makin aktif mendirikan bisnis guna menopang kemandirian mereka dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan. Berbagai jenis usaha pun didirikan, dari skala kecil seperti usaha wartel dan fotocopy hingga bisnis dengan investasi besar seperti mendirikan hotel  berbintang. Diantara perguruan tinggi yang dalam 5 tahun terakhir cukup serius dalam menata dan membesarkan  bisnisnya ialah Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jogjakarta.

Diam-diam UGM sudah memiliki perusahaan holding yang mengelola 14 unit usaha dibawah bendera PT Gama  Multi Usaha Mandiri (Gama Multi Group). Bisnisnya antara lain tour and travel, radio, TI, konsultan, properti, pemasaran  reksadana, dll.  Mulai serius dibesarkan tahun 2007, skala bisnis Gama Multi Group terus tumbuh meyakinkan. "Tahun 2012 lalu  omset Rp 85 miliar dan tahun 2013 ini diperkirakan sudah mencapai Rp 115 miliar," ujar Afrizal Hernanadar, Direktur  Utama Gamamulti Group saat ditemui di kantornya di Jakarta minggu lalu. Diam-diam Gama Multi juga  menerbiitkan reksadana bekerjasama dengan CIMB Asset Management dan Mandir Sekuritas. Saat ini total dana  yang dikelola oleh dua reksadana itu tak kurang dari Rp 120 miliar.

Sejatinya UGM sudah cukup lama memiliki bisnis-bisnis, walau skalanya masih sangat kecil dan pengelolaannya  sporadis.  Pengelolanya juga belum serius sehingga banyak aset yang kemudian tak terawat seiring dengan bertambahnya usia. Afrizal mengakui, beberapa bisnis Gama Multi Group awalnya didirikan dalam rangka  optimaisasi dari aset-aset yang idle alias menanggur. Maklum UGM dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi  yang memiliki lahan area paling luas.

Tahun 2000, seiring dengan ada perubahan status UGM dari PTN menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara), muncul perubahan sekaligus  tuntutan untuk mencari sumber-sumber pendanaan untuk mendukung universitas. Sebab itu kemudian mulai ada  niatan untuk mendirikan usaha-usaha yang mungkin dilakukan. Betapapun diyakini banyak potensi di UGM yang bisa dikembangkan sebagai modal bisnis, baik itu sumberdaya aset  maupun sumberdaya intelektual. "Kita coba dirikan usaha-usaha yang setidaknya bisa menghidupi diri sendiri  sendiri dulu dan kedepan diharapkan bisa memberikan kontribusi pada universitas," ujar Afrizal Hernandar, PT  Gama Multi Usaha Mandiri.

Di tahap awal, konsep bisnis Gama Multi masih berbasis pemanfaatan  aset-aset idle milik UGM yang dikelola agar tidak terlalu membebani keuangan universitas, sekaligus juga bisa memberikn nilai tambah.  Tak heran, selama tahun 2000 sampai 2006 banyak usaha yang yang didirikan. Mulai dari bisnis pos, bisnis  peternakan, budidaya ulat sutera, bisnis radio, bisnis TI, bisnis tour and travel, bisnis budidaya hutan, dan  sebagainya. "Namun banyak juga usaha yang kita coba namun kurang berhasil," ungkap Afrizal. Ia menyontohkan  bisnis yang dirintis namun tidak berlanjut seperti bisnis peternakan, bisnis budidaya ulat sutera dan bisnis  pengelolaan hutan. UGM pernah mengelola hutan sekitar 150 ha di Bantul namun karena kurang maksimal  pengelolaanya akhirnya dikembalikan lagi ke pemerintah.

Praktis, sejatinya pengelolaan bisnis kampus UGM ini baru optimal sejak 2007, saat itu Afrizal mulai ditugaskan  sebagai direktur utama Gama Multi Group. "Sejak tahun 2007 kita push pengembangannya," ujar Afrizal yang  bergabung di holding Gama Multi sejak 2004 -- sebagai direktur keuangan. Sejak tahun 2007 Gama Multi Group mulai berani untuk ekspansi dan memperkuat permodalan dengan menggandeng pihak lain, termasuk meminjam ke bank.

Salah satu contoh gebrakannya, di bisnis akomodasi. Gama Multi melakukan pengembangan hotel dari aset  properti yang dulu terbengkalai milik UGM yang disebut University Club (di dalamnya ada Wisma UGM dll) di Bulaksumur, Jogjakarta. Sekitar tahun 2008, pihak UGM menyerahkan hak pengelolaan properti tersebut kepada Gama  Multi. Oleh Gama Multi kemudian direnovasi dan dikembangkan.  "Dari 20 kamar yang ada disana kita bangun  menjadi 72 kamar. Meeting room juga kita perbaiki dan ditambah," Afrizal menjelaskan.

Nah, Gama Multi bisa mengembangkan aset tersebut karena berani mengeluarkn surat utang (obligasi) ke  kalangan dosen, karyawan dan alumni  yang ingin ikut berinvestasi membangun hotel tersebut. Para investor  mendapatkan bunga dari obligasi yang dibeli, sebagaimana obligasi korporasi pada umumnya. Per paket obligasi  djual Rp 52 juta. "Ada yang beli satu paket, ada yang sepuluh paket, akhirnya kami bisa mengumpulkan lebih dari  Rp 12 milyar sehingga bisa membangun 72 kamar hotel," kenang Afrizal. Kondisi komplek penginapan (hotel) yang  tadinya sangat memperihatinkan dan menjadi beban keuangan bagi UGM pun kini menjaadi aset yang  menguntungkan dan kinerjanya bagus.

Lebih kreatif mencari sumber-sumber permodalan, itulah salah satu kiat yang dijalankan Gama Multi Group dalam  mengelola dan mengejar pertumbuhan bisnis. Banyak kiat lain yang dijalankan manajemen agar bisa bertumbuh. Kiat  yang juga sangat vital, manajemen Gama Multi merapikan dulu struktur dan kepemilikan, sebelum mulai  menggenjot pertumbuhan. "Mungkin ini perbedaannya dari kampus lain. Kita memilih merapikan strukturnya dulu di awal. Kami memulai dari skala kecil. Setelah strukturnya rapi baru melakukan pertumbuhan. Pengalaman kita,  bila usaha-usaha dijalankan sporadis dan masing-masing berjalan sendiri, maka di belakang hari penataannya akan jauh rumit. Persoalannya bisa runyam, apalagi bila campur dengan kepentingan-kepentingan pribadi," tegas  Afrizal yang alumni Teknik Elektro UGM ini.

Karena itulah unit-unit usaha yang ada bila memungkinkan kondisinya kemudian disatukan dalam holding PT Gama Multi  Usaha Mandiri supaya pengelolaannya mudah. Kecuali unit usaha yang memang tidak dimungkinkan untuk digabung dengan alasan tertentu seperti alasan hukum atau sejarah, maka tetap dibiarkan dikelola seperti aslinya. Misalnya PT Pagilaran,  perusahaan perkebunan teh 1.100 ha di Jawa Tengah yang dulunya hibah pemerintah ke Fakulutas Pertanian UGM,  maka tetap dibiarkan dikelola Fakultas Pertanian -- tidak dijadikan satu atau dimasukkan dalam holding Gama  Multi Group.  Demikian juga PT BPR UGM yang tidak juga disatukan ke holding Gama Multi karena terkait  kepemilikan pihak ketiga di perusahaan tersebut sehingga lebih baik tetap tidak dikonsolidasi di Gama Multi Group.

Saat ini PT Gama Multi Usaha Mandiri, perusahaan holding, sahamnya 99% milik UGM dan 1% milik Yayasan UGM.  Dengan kata lain 100% memang milik UGM karena Yayasan UGM sejatinya juga milik UGM. Namun demikian, untuk di  anak-anak usaha atau unit usaha, tidak 100% milik UGM atau  Gama Multi karena memang melibatkan para  pemegang saham  pendiri lainnya di masing-masing unit usaha. Soal kepemilikan inilah yang juga dirapikan di awal  oleh manajemen Gama Multi agar pengembangannya di kemudian hari tidak merepotkan.

Ia menyontohkan perusahaan PT Gamatechno Indonesia, perusahaan TI yang didirikan UGM bersama sejumlah  profesional, maka profesional tersebut juga diberikan saham walaupun tidak dalam prosentase yang besar. Demkian  juga Afrizal dan kawan-kawannya yang tahun 1999 mendirikan Radio Swaragama, kemudian juga diberikan saham  sebagai jasa sebagai pendiri yang merintis usaha dari nol. Anak-anak usaha dalam Gama Multi Group memang sahamnya tidak 100% milik Gamamulti, selalu melibatkan pihak lain, termasuk manajemen di anak usaha itu. Yang  pasti, setelah rapi struktur dan kepemilikannya, manajemen Gama Multi berani untuk mengembangkan perusahaan  lebih lanjut.

Yang juga menarik, meski milik UGM, Gama Multi dikelola independen. Modal hanya diberikan universtas di awal pendirian  yang saat itu status UGM masih BHMN. "Waktu itu UGM masih punya kewenangan dan otonomi untuk investasi karena statusnya BHMN. Antara tahun 2000-2002 total yang diinvestaskan ke Gama Multi sekitar Rp 4 miliar. Namun sejak itu  tidak ada lagi. Kita cari modal sendiri, harus memutar uang dari laba yang ada.  Sekarang, dengan status UGM  sebagai Badan Layanan UMUM (BLU), kalau mau investasi harus minta ijin Menteri Keuangan prosesnya lebih panjang  dan rumit," ungkap Afrizal.

Situasi itu disisi lain juga membuat unit usaha di Gama Multi terbiasa berjalaan mandiri dengan modal minimal alias tidak terlalu menggantungkan bantuan modal uang dari universitas. Afrizal menyontohkan, sewaktu  mendirikan Radio Swaragama, ia dan kawan-kawannya hanya dimodali Rp 160 juta. "Padahal jaman itu untuk  mendirikan radio minimal butuh Rp 1,5 miliar. Toh bisa jalan bagus. Untungnya kita banyak dibantu teman-teman.  Rekan-rekan yang kerja disana juga mau berjibaku, bekerja keras," katanya.

Manajemen GMUM rupanya juga punya prinsip untuk terus melebarkan bisnisnya dan tidak bergantung pada satu atau dua bisnis saja. "Kita tidak boleh terjebak dalam posisi nyaman di sebuah bisnis. Karena semua produk dan  bisnis selalu ada lifesycle-nya. Sehingga harus ada produk dan bisnis baru untuk penyebaran pendapatan,"  Afrizal menjelaskan prinsip perusahaannya. Prinsip itu dijalankan GMUM belajar dari pengalaman  pahitnya yang pernah bergantung pada bisnis reksadana.

Sebagaimana diketahui, GMUM menerbitkan dan memasarkan dua produk reksadana. Satu reksadana hasil  kerjasama dengan PT CIMB Asset Manajemen dan satu reksadana lainnya hasil kerjasama dengan PT Mandiri  Sekuritas. Sewaktu bisnis reksadana sedang boom, reksadana kerjasama dengan CIMB bahkan bisa mengelola dana  hingga Rp 700 miliar. "Waktu itu dari pendapatan management fee rekasadana saja kita sudah sangat mencukupi kebutuhan operasional. Namun kemudian ada penurunan dan rush secara makro tahun 2006  sehingga pendapatan fee dari anjlok tajam, otomatis pendapatan Gama Multi juga terganggu," kata Afrizal. Dari  situ,  GMUM belajar hingga terus mencoba mendiversifikasi bisnisnya dan saat ini sudah memiliki 14 unit usaha.

Toh begitu, walaupun terus akan ekspansi, namun Gama Multi akan fokus untuk masuk di bisnis yang berbasis pengetahuan  dan riset. Bisnis-bisnis yang telah dirintis sejak lama yang tidak berbasis pengetahuan riset lebih dtujukan untuk  mendapatkan pendapatan sementara atau pemanfaatan aset yang idle tetap dijaga, namun untuk pengembangan bisnis baru cenderung ke sektor yang berbasis  pengetahuan dan riset. "Kita arahnya kesana, potensinya luar biasa. Memang butuh waktu untuk melakukan  inkubasi dan menjadikan bisnis di bidang itu bisa mature. Namun kita punya pengalaman disana," ungkap Afrizal.

Ia menyontohkan sukses PT Gamatechno Indonesia di bisnis pengembangan softtware manajemen informasi  perguruan tinggi dan juga transportasi yang juga murni hasil riset timnya. Awalnya juga sulit untuk  mengembangkan aplikasi dan mengintegrasikannya dengan perangkat milik pihak-pihak lain, namun nyatanya sekarang cukup sukses.

Hal itu juga diakui M.Aditya, Drektur Utama Gamatechno Indonesa, saat ini software yang dikembangkannya sudah  dipakai lebih dari 100 perguruan tinggi di Indonesia. Demikian juga untuk aplikasi smart card untuk transportasi,  sudah dipakai Trans Jogja, Trans Solo dan Trans Jajarta. Sistem aplikasi yang dikembangkannya sudah mampu  membaca 6 kartu bank (Bank Mandiri, BCA, Panin, Bank DKI, dll) sehingga sangat membantu proses transaksi  kliennya. Semua software yang dipakai merupakan buatan dan hasil riset sendiri.

Beberapa bisnis yang berbasis riset dan pengetahuan yang kini sedang digarap misalnya bisnis alat kesehatan  berupa alat penambal gigi yang kini sedang proses untuk diproduksi massal. Saat ini belum ada produk serupa yang hasil produksi dalam negeri. "Kita akan memproduksinya sendiri di Indonesia. Kita punya tenaga ahli dan  peneliti yang punya kapasitas mengembangkan produk tersebut, dan punya patent-nya juga. Juga sudah sepakat  dengan Kimia Farma, mereka yang menangani distribusinya," jelas Afrizal. Ia menjelaskan, perbandingan produk  impor dengan buatan Gama Multi sangat beda jauh harganya. "Kalau kita impor harus bayar Rp 2 juta sedangkan  kalau kita produksi sendiri di dalam negeri, biayanya tidak sampai separohnya," ujar Afrizal. Gama Multi juga  sedang ancang-ancang memproduksi produk herbal temuan Fakultas Farmasi UGM dengan bendera anak usaha,  PT.  Swayasa Prakarsa. Baik produk alat kesehatan dan produk herbal tersebut, pemasarannya akan bekerjasama dengan  jaringan apotik Kimia Farma.

Yang tak kalah penting, soal SDM. Untuk mendapatkan SDM terbaik, ekruitmen SDM di grup Gama Multi dilakukan dengan sistem terbuka. Untuk  level manager dan staff, rekruitmen dilakukan tim Gama Multi sendiri. Namun untuk level direksi dilakukan oleh  pihak UGM. Dalam menjalankan bisnisnya, diakui Afrizal, Gama Multi memang banyak memakai tenaga ahli dari  dosen-dosen UGM, dan menggunakan jasa mereka sebagai konsultan -- bukan karyawan operasional.

Tiap bulan tim manajemen di unit-unit usaha dikumpulkan untuk meeting koordinasi sekaligus laporan progress  masing-masing bisnis di ruang yang sama dan waktu yang sama. Mereka diminta presentasi dan dievaluasi  bersama, sekaligus bisa menyampaikan problem-problem yang dihadapi kemudian dipecahkan bersama. "Jadi  masing-masing tidak jalan sendiri. Manajemen anak usaha bisa mengetahui apa yang terjadi di anak usaha yang  lain. Bisa saling berinteraksi dan memberikan mauskan. Di sisi lain, bagi unit-unit usaha yang masih minus kinerjanya, maka forum ini akan menjadi tekanan mental tersendiri karena laporan mereka dilihat unit yang lain," aku Afrizal.

Saat ini di level korporat Gama Multi terdapat 25 orang yng bertugas, termasuk direksi. Sedangkan total jumlah  karyawan 41o orang. Di perusahaan ini komisaris yang terdiri dari tiga orang juga aktif. Tiap bulan sekali mereka ketemu disamping pertemuan  informal. Tiga orang komisaris memang berasal dari kantor  rektorat yang ditugaskan membina Gama Multi. Sedangkan direksi di holding hanya dua orang, yakni Afrizal sendiri selaku  direktur utama dan satu orang lagi yang merangkap direktur keuangan dan SDM.

Yang pasti kedepan, Gama Multi tetap akan berusaha menerapkan strateginya dalam menjaga keseimbangan antara  pertumbuhan dan profitabilitas. Saat ini, dari sisi kinerja, dari 14 unit usaha yang ada di Gama Multi kontribusnya  relatif sama. Meskipun tanpa ada penambahan modal, omset group tumbuh dari  hanya  Rp 25 Milyar pada  tahun 2007, menjadi Rp. 82 Milyar pada tahun 2012. Tentu omset tahun ini jauh lebih besar dari angka tersebut setelah melakukan berbagai ekspansi bisnis.

Saat ini pertumbuhan tertinggi di group itu diraih PT Gamatechno Indonesia, PT Aino Indonesia, Radio  SwaraGama, Gama Konsultan dan Akomodasi. Gamatechno merupakan market leader nasional untuk produk  sistem informasi perguruan tinggi dan telah dipakai lebih drao 100  perguruan tinggi besar dari Aceh sampai Papua. Sedangkan PT Aino  Indonesia, anak usaha Gamatechno, saat ini merupakan pioner sistem integrator untuk e-money multi-bank di Indonesia dan telah  diimplementasikan di  Trans Jogja, BRT Solo,  Trans Jakarta dan Ancol.

Sementara itu, Radio SwaraGama yang telah menjadi radio nomor 1 di Jogja sejak 2006 untuk segmen anak muda, pesaing terkuat dari Geronimo dan Yasika. "Kita nomor satu dari jumlah pendengar dan billing iklan.  Kalau orang Jogja pasti tahu tarif iklan Swaragama juga paling mahal," kata Afrizal. Sedangkan Gama Wisata yang melayani jasa ticketing dan travel, pelanggannya tak hanya internal UGM, namun juga masyarakat umum. Di DIY, Gama  Wisata termasuk pemain 5 besar. Omset per tahun tak kurang dari Rp 20 miliar walau memang margin bisnis ini  diakuinya sangat kecil. Bisnis akomodasi yang mengelola hotel, university club, 7 rumah homestay di Bulaksumur,  dan Wisma Kaliurang juga termasuk andalan pendapatan. Sementara Gama Multi Finance (GMF) yang mengelola  reksadana posisinya cukup stabil. Saat ini dana yang dikelola bersama Mandiri Sekuritas sekitar Rp 95 miliar,  sedangkan bersama CIMB Asset Manajemen sekitar Rp 25 miliar.

Kedepan kemungkinan akan terjadi pergeseran kontributor pendapatan. Misalnya tahun ini kontribusi Gamatechno  dan Swaragama makin besar. Gamatechno misalnya, tahun ini, mendapatkan proyek cukup besar di Trans  Jakatrta untuk membangun e-ticketing atau e-money, bekerjasmaa dengan 5 bank, totalnya proyeknya sekitar Rp 40  miliar. Radio Swaragama juga terus menanjak dengan margin yang sangat bailk sehingga saat ini juga sudah  menambah satu raio lagi, JogjaFamily FM, serta mendirikan event organizer.

Disisi lain, pertumbuhan bisnis baru juga sedang disiapkan  sejalan dengan misi UGM dalam menghilirisasi hasil  penelitian/produk UGM  ke industri  dan masyarakat. Saat ini kami sedang mengembangkan Gama Herbal, pabrik  obat tradisional. Juga juga sedang dirintis kerjasama agroindustri dengan Inhutani dan PT Sritex dalam rangka  penanaman HTI kapas rayon yang dibutuhkan untuk bahan baku tekstil PT Sritex.

Model-model kerjasama investasi akan semakin ditingkatkan. Bila saat ini prosentase kepemilikan saham pihak lain  di anak usaha maksimal 25%, kedepan bukan tidak mungkin akan lebih besar bila kerjasama investasi yang dilakukan memang menuntut hal itu. "Sangat tergantung deal bisnis yang dikerjakan dan komitmen dari mitranya.  Karena untuk mendapatkan fund/dana itu kita juga harus berkorban. Kalau kita mau besar, kita tidak bisa jalan  sendiri," aku Afrizal. Ia yakin untuk bisa tumbuh harus berani mengambil resiko.

Afrizal sebenarnya juga sangat menginginkan seperti di luar negeri dimana perguruan tinggi seperti Havard  University memiliki dana abadi yang bisa diputar dan diinvestasikan agar bisa bertambah dan  berkembang sehingga hasilya bisa untuk membangu universitas. Namun demikian, di Indonesia, sejauh yang ia  tahu, dana abadi justru tak boleh diinvestasikan atau diputar untuk bisnis, dikhawatirkan bila rugi sulit dicari yang  siapa bertanggung jawab. Yang pasti perusahaan milik universitas seperti pihaknya harus kreatif mencari permodalan  sendiri.

Asnan Furinto, Pengamat dan Peneliti Manajemen dari School of Government and Public Policy (SGPP) - Indonesia  melihat di Indonesia dan di banyak negara berkembang, komposisi pendanaan perguruan tinggi memang masih  mengandalkan iuran mahasiswa (tuition) sebagai kontributor utama, bisa sampai 75% atau lebih. Di negara-negara  maju, iuran mahasiswa hanya sekitar 10-15% dari pendanaan dan sisanya adalah dari endowment, hibah penelitian,  dan inisiatif-inisiatif komersial lainnya. Karena masih dominannya porsi iuran mahasiswa, maka tidak banyak dana  mengendap (idle) jangka panjang yang bisa dimanfaatkan menjadi modal kerja untuk bisnis yang dikelola perguruan  tinggi. "Apa yang dilakukan oleh Gama Multi dan UGM ini harusnya bisa menjadi best practices model bisnis  pendanaan perguruan tinggi yang bisa dijadikan benchmark oleh perguruan tinggi lain, agar tidak terlalu  bergantung pada kucuran dana bantuan dari pemerintah dan pada iuran mahasiswa," kata Asnan.

Kelebihan Gama Multi, menrut Asnan, diversifikasi usaha yang cukup baik sehingga meminimalkan risiko, dan juga  keterlibatan aktif pimpinan universitas di dalam operasional day to day perusahaan jadi menguatkan sinergi antara  aspek bisnis dan akademik. "Modal utama bisnis yang dikelola perguruan tinggi, secara logis harusnya adalah  human capital, karena perguruan tinggi adalah tempat “mencetak” manusia yang berkualitas dan memiliki  kompetensi. Agar bisnis yang dikelola perguruan tinggi bisa berkembang, maka sedapat mungkin portofolionya  harus bisa memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi mahasiswa untuk melakukan magang, kerja praktek, on  the job training, memberikan kesempatan bagi dosen-dosen untuk terekspose dengan dunia manajemen praktis,"  pesan Asnan.

Asnan mewanti-wanti, kesulitan terbesar biasanya dalam mencari orang-orang profesional yang mengerti “roh”  perguruan tinggi tapi juga memiliki naluri bisnis yang baik. Selain itu, bagaimana mencari komposisi portofolio  bisnis yang tepat sehingga menghasilkan return sesuai ekspektasi pemegang saham tetapi juga sedapat mungkin  memberikan dampak bagi masyarakat luas, misalnya untuk UKM dan kaum marjinal. "Perguruan tinggi harus mau  keluar dari zona nyaman, berani mengambil risiko bisnis, jadi jangan selalu hanya mengandalkan iuran mahasiswa  untuk mendanai operasional perguruan tinggi," pesan Asnan yang juga pengajar manajemen ini.

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang 5 di Bandung

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang 5 di Bandung

#Tag :

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang 3 di Bandung

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang 3 di Bandung

#Tag :

Sucofindo Sukses Luncurkan Laboratorium CPO di Bangka

BUMN bidang inspeksi dan standardisasi, PT Sucofindo (Persero) belum lama ini melaunching laboratorium pengujian CPO dan turunannya, Senin (3/10/2016).  Hadirnya fasilitas layanan ini ditujukan untuk memberikan kemudahan bagi kalangan perusahaan klien melakukan pengujian terhadap komoditas yang ingin dipasarkan keluar ataupun dalam negeri.

"Dengan hadirnya laboratorium CPO dan turunannya ini perusahaan tidak perlu ke luar daerah seperti ke laboratorium pusat di Cibitung untuk melakukan pengujian produk mereka, sehingga waktu juga bisa dipangkas lebih cepat, kita di sini komit 24 jam," Kepala Cabang PT Sucofindo Persero Palembang, R.Febriansyah Tradjumas Rozak.

Febriansyah mengatakan, Sucofindo membuka laboratorium CPO di Bangka dikarenakan provinsi ini memiliki potensi cukup besar pada industri CPO. "Ada sekitar 12 atau 13 perusahaan CPO," ujarnya.

Dijelaskannya Sucofindo adalah perusahaan jasa inspeksi pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956, memiliki 30 titik layanan laboratorium CPO yang tersebar di seluruh Indonesia. "Sebagai perusahaan BUMN kami memiliki misi menciptakan nilai ekonomi kepada para pelanggan ataupun mitra untuk menjamin kepastikan berusaha," ujarnya.

Ditambahkannya Sucofindo sebagai pihak ketiga yang kompeten dan independen telah berpengalaman dalam melakukan pengujian dan analisis terhadap produk komoditas dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Peralatan kita lengkap, hasil pengujian yang diterbitkan Sucofindo diakui oleh lembaga akreditasi nasional maupun internasional. Khusus laboratorium CPO dan turunannya di Bangka kami mendatangkan penguji lab berpengalaman dari pusat Cibitung bernama bapak Irwan, dari Palembang Ibu Melinda, dan Bapak Pandu," ujarnya.

#Tag :

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang 4 di Bandung

Kesan & Pengalaman Menginap Hotel Bintang 5 di Jakarta

#Tag :

REKIND Sukses Menjaga Pertumbuhan Bisnis

BUMN di bidang konstruksi,  PT Rekayasa Industri atau yang lebih populer dengan sebutan REKIND, tanpa banyak gembar-gembor terus mempertahankan laju positifnya dalam bisnis konstruksi. Sejak 2013 hingga tahun 2016 ini kinerja perusahaan plat merah tersebut biru.

Tak heran PT Rekayasa Industri sanggup masuk dalam top list perusahaan kontraktor global atau Top List Global Contractor. Pendapatan REKIND dalam tiga tahun berturut-turut adalah 650 juta dollar Alaihi Salam, 948 juta dollar AS, & 725 juta dollar Alaihi Salam.

Selanjutnya, pada kategori kontraktor internasional yang mensyaratkan pendapatan perusahaan yang berasal dari luar negeri, Rekayasa Industri memiliki catatan sebagai berikut. Pada 2013, pendapatan ada di angka 108 juta dollar AS. Berikutnya, pada 2014, catatan pendapatan ada di posisi 181 juta dollar AS. Terakhir, pada 2015, pendapatan Rekayasa Industri sebesar 110 juta dollar AS.  Kinerja yang cukup moncer, tentunya.

PT. Rekayasa Industri adalah perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang konstruksi, teknik dan pengadaan barang buat melayani pabrik-pabrik industri skala akbar. Perusahaan ini didirikan di Jakarta dalam tahun 1981 sang Pemerintah Republik Indonesia. Pada 5 tahun pertama beroperasinya, bisnis utama perusahaan ini adalah melayani industri kimia & petrokimia. Komposisi kepemilikan saham REKIND saat ini merupakan 90,06% dikuasai sang PT. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), 4,97% dikuasai oleh PT. Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT), & 4,97% dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Majalah Engineering News Record (ENR) menjelaskan bahwa Rekayasa Industri adalah satu-satunya perusahaan konstruksi asli Indonesia yang masuk dalam jajaran kontraktor global dan kontraktor internasional. Rekayasa Industri berhasil masuk dalam urutan 249 kontraktor dunia (Global Contractor) & urutan 229 pada daftar kontraktor internasional (International Contractor).

Global Contractor versi ENR merupakan daftar 250 kontraktor global yang mendapat pendapatan terbesar dari jasa konstruksi dalam setahun. Sedangkan, International Contractor merupakan daftar 250 kontraktor yang menerima pendapatan terbesar pada global berdasarkan luar negara berasal kontraktor. ENR merupakan media terkemuka pada Amerika Serikat yg menyampaikan warta, analisa, komentar & data terkait industri konstruksi.

?Keberhasilan Rekind masuk pada peringkat The Top 250 International Contractor-ENR, adalah bentuk pengakuan dan apresiasi dunia terhadap pencapaian perusahaan EPC (perekayasaan, pengadaan, & konstruksi) nasional?, istilah Jobi Triananda Hasjim, Direktur Utama Rekayasa Industri. PT Rekayasa Industri terus akan penekanan pada bisnisnya, membentuk fasilitas industri & rantai pasokan berupa dukungan industri manufaktur, fabrikator, & layanan konstruksi bidang sipil.

#Tag :

Kinerja Astra Semester I 2016, Laba Bersih Turun 12%

PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba bersih pada semester I 2016 sebanyak 12 % dari Rp 8 triliun sebagai Rp 7,1 triliun. Penurunan ini utamanya dipicu pelemahan harga komoditas & penurunan permintaan indera berat.

"Laba bersih grup Astra selama semester pertama menurun. Tantangan pada semester pertama tahun ini asal dari pelemahan harga komoditas dan permintaan terhadap indera berat," ujar Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto, pada kabar tertulisnya.

Menurut penjelasan Prijono, selain pelemahan harga komoditas dan penurunan permintaan alat berat, penurunan volume usaha kontraktor pertambangan dan peningkatan kredit bermasalah di Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. "Walaupun demikian, kami berharap kinerja berdasarkan usaha pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," jelas Prijono.

Penurunan laba higienis perseroan diiringi dengan penurunan pendapatan bersih konsolidasi Astra dalam sebanyak lima % sebagai Rp 88,2 triliun pada semester I 2016 dari Rp 92,5 triliun dalam periode yg sama tahun sebelumnya. "Grup Astra mengalami penurunan pendapatan higienis di sektor alat berat & pertambangan dan agrobisnis, ad interim kontribusi pendapatan bersih berdasarkan Toyota Sales Operation juga menurun," tandas Prijono.

Selain itu, pula tercatat bahwa laba higienis per saham pun mengalami penurunan sebanyak 12 % menurut Rp 199 per saham menjadi Rp 176 per saham.

#Tag :

Masih Andalkan Bisnis CRM, Kinerja Infomedia 2016 Diyakini Mampu Raih Pendapatan Rp 2,5 triliun

Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (Persero) PT Infomedia Nusantara terus menggenjot kinerja bisnisnya. Perusahaan yang bergerak pada bidang penyediaan layanan "business process managementdanquot; ini diyakini akan bisa merealisasikan targe pendapatan tahun 2016 sebanyak Rp2,5 triliun, atau meningkat kurang lebih 15 % dibanding tahun 2015.

"Dengan transformasi usaha yg sedang berlangsung, target pendapatan 2016 sebanyak Rp2,5 triliun kami yaki mampu tercapai. Sementara sampai semester I 2016 telah mencapai lebih kurang Rp1,375 triliun," istilah Presiden Direktur Infomedia, Bona LParapat, pada sela media gathering di Jakarta, Kamis.Bona menjabarkan, pencapaian target pendapat didorong berlanjutnya pertumbuhan usaha dalam empat bisnis perusahaan yaitu Customer Relationship Management (CRM), Information Technology Outsourcing (ITO), Business Process Outsourcing (BPO) & Knowledge Process Outsourcing (KPO).

Infomedia memang tengah melakukan transformasi bisnis  untuk melakukan perbaikan dan menghasilkan kinerja dan keuntungan yang lebih bagus dan punya bisnis berlanjut di masa datang. "Infomedia harus menjadi pemain terdepan dalam Business Process Management di Indonesia maupun kawasan regional," katanya.

Selama tahun 2016, lanjut Bona, pendapatan terbesar Infomedia masih disumbang oleh usaha CRM yg mencapai 40 %, disusul kontribusi usaha ITO & BPO masing-masing 25 %, dan selebihnya atau lebih kurang 10 % dari bisnis KPO.

Pada segmen CRM, kontribusi tertinggi pendapatan masih disumbang dari layanan call center yang terus tumbuh sejalan dengan perkembangan teknologi. Saat ini Infomedia mempunyai sekitar lima.000 seat call center menggunakan jumlah agen mencapai lebih kurang 20.000 orang. "Di taraf nasional Infomedia menguasa pangsa pasar sekitar 35 persen, sedangkan ekspansi ke luar negeri sudah mencapai 10 negara," ungkapnya.

Bona menambahkan, secara holistik Infomedia memiliki klien hingga sekitar 150 perusahaan yg bergerka dalam 17 sektor usaha. Meski begitu, Bona mengakui selama ini rakyat cenderung mengenal Infomedia hanya sebatas layanan "Yellow Pagesdanquot; atau penyedia nomor telepon rakyat & global bisnis. "Sekarang tidak lagi. Infomedia sudah memberikan layanan menyeluruh mulai dari CRM berbasis digital & multi channel, jasa penyediaan solusi bagi klien pada menaikkan efisiensi usaha, peningkatan proses bisnis inti klien, hingga layanan data analitik," tegasnya.Sederet perusahaan mulai menurut segmen perbankan, perusahaan penerbangan maupun manufaktur & jasa bisnis lainnya mempercayakan pengelolaan jasa call center-nya pada Infomedia, misalnya Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia. "Kami juga terus ekspansi layanan call center ke luar negeri yg saaat ini sudah mencapai 10 negara. Ekspansi akan dilanjutkan ke sejumlah negara lainnya," ujarnya.

Infomedia dalam memenuhi baku keamanan liputan yang dikelola perusahaan baik data perusahaan juga data milik pelanggan, menerima tunjangan profesi ISO 270001:2013 dari TUV Nord Indonesia. Sertifikat ini diberikan atas jaminan penyimpanan data pelanggan menggunakan memakai cloud, operasional CRM, infrastructure support activities & help desk application.

#Tag :

Gaya Edo Bawono Besarkan Bisnis Keluarga Di Bidang Packaging

Kecintaan Edo Bawono pada  dunia tenis tak mengurangi rasa bhaktinya kepada orang tua. Tak heran, meski sudah nyaman 10 tahun bekerja  dan menyalurkan kecintaannya pada dunia tenis di Amerika, toh sejak Desember 2010 lalu ia pulang ke Indonesia, bergabung dan meneruskan bisnis keluarga. Edo, kelahiran 24 Desember 1977, merupakan generasi kedua pemilik perusahaan kemasan PT Multi Saka Abadi. Sejak empat tahun lalu, anak sulung dari tiga bersaudara ini bekerja keras mengembangkan usaha keluarganya dan kini sudah dipercaya sebagai managing director.

Sebenarnya 10 tahun masa kerja Edo di Amerika berlangsung cukup nyaman. Di Negeri Paman Sam itu Edo sempat bekerja di perusahaan manufacturing,  Crown Cork & Seal, selama 5 tahun. Lalu pindah ke Saint-Gobain (2 tahun), dan terakhir pindah ke sebuah perusahaan manufacturing di Philadelphia. Setelah menjabat Senior Financial Analyst, ia merasa sudah waktunya  pulang ke Indonesia, membantu bisnis orang tua. "Kebetulan ayah memanggil saya untuk membantu di sini," kenang Edo.

Awalnya Edo agak berat hati pulang karena disana ia bisa menyalurkan bakat tenisnya -- fasilitas disana lebih lengkap. Maklum, ia penggemar berat olahraga tenis dan sempat menjadi pemain tenis nasional.  Begitu bergabung ke perusahaan keluarga, ia langsung ditempatkan sebagai plant manager (manajer pabrik). Awalnya agak kaget terjun ke bisnis keluarga karena harus menangani semua bidang, sementara waktu di Amerika lebih banyak berkutat dengan finance.

Dari sisi hubungan interpersonal, ia tak kesulitan karena karyawan rata-rata sudah lama bekerja dengan orang tuanya, dan sudah dianggap saudara sendiri. "Disini saya harus memikirkan ke mana arah perusahaan. Ruang lingkup pekerjaan  lebih luas, melihat keseluruhan. Juga harus mengelola manajer-manajer supaya menjadi satu tim erat," ungkap Edo yang meraih gelar sarjana dari University of Kentucky dan MBA dari Temple University itu.

Pemilik PT Multi Saka Abadi yang juga ayahanda Edo, Arko Bawono menjelaskan, dirinya membiarkan karir Edo berjalan mengalir. "Saya tidak memaksakan, dan mungkin dia sendiri kasihan sama saya yang sudah tua. Ha haha," ujar Arko. Arko hanya mengajari Edo soal budaya karena memang budaya kerja di Indonesia berbeda. Juga tentang peraturan pemerintah dan peraturan perusahaan. "Saya  beritahu dia, harus bisa menyesuaikan diri menghadapi karyawan," kata Arko seraya berharap agar Edo bisa membuat perusahannya lebih besar dan memberikan manfaat untuk banyak orang.

Semenjak dipercaya sebagai managing director PT Multi Saka Abadi, Edo melakukan sejumlah langkah terobosan, khususnya di  lini produksi hingga proses. Contohnya, perusahaannya ia dorong untuk berani melakukan investasi teknologi yang lebih mutakhir untuk membantu peningkatan produktivitas. "Pelanggan kami merupakan multi-nasional yang menuntut bekerja lebih cepat. Kalau saya melayani mereka dengan mesin-mesin yang tidak canggih, tentu tak akan bisa memenuhi kebutuhan customer kita," ia memberi alasan.

Tak heran, perusahaannya juga sudah menerapkan manajemen proses bisnis dan sistem informasi yang berbasis Enterprise Resource Planning. Sekarang pihaknya juga sudah punya mesin berkecepatan 4 kali lebih cepat dibanding sebelumnya.

Dari sisi pasar, selama ini perusahaannya berhasil dipercaya perusahaan dan brand top seperti Lifebuoy, Lux, Coca Cola, Detol, Indofood, Wings, untuk menjadi penyedia kemasan. Selain itu juga sudah ekspor ke Papua New Guinea, dan secara tak langsung juga ekspor ke Arab Saudi, Malaysia, Jepang, Hong Kong dan beberapa negara di Asia lain. "Penjalan kita tiap tahun naik 30% dalam 4 tahun terakhir," ujarnya sumringah. Ya, bisnis  PT Multi Saka Abadi makin berkembang dibawah Edo. Bila saat masuk jumlah karyawannya 90 orang, kini sudah lebih dari 300 orang karyawan.

"Saya ingin Multi Saka terus tumbuh sampai ke generasi anak-cucu. Lima tahun kedepan kita targetkan sudah masuk top five di bisnis packaging," ungkapnya yakin. Modal yang andalkan ialah keuletan dalam menghadapi masalah. "Ketika menghadapi masalah, kita harus selalu berjuang, tidak pernah menyerah. Tidak ada kata tidak bisa, dan harus tuntas,” Edo menceritakan semangat bisnisnya. Ya, semangat yang tentu saja diinspirasi sportifitas dari dunia tenis.

Kinerja Astra Group Semester I 2016, Turun 12% Laba Bersih

PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba bersih dalam semester I 2016 sebesar 12 % dari Rp 8 triliun sebagai Rp 7,1 triliun. Penurunan ini utamanya dipicu pelemahan harga komoditas & penurunan permintaan indera berat.

"Laba higienis kelompok Astra selama semester pertama menurun. Tantangan dalam semester pertama tahun ini berasal menurut pelemahan harga komoditas & permintaan terhadap indera berat," ujar Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto, pada berita tertulisnya.

Menurut penjelasan Prijono, selain pelemahan harga komoditas & penurunan permintaan indera berat, penurunan volume bisnis kontraktor pertambangan & peningkatan kredit bermasalah pada Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. "Walaupun demikian, kami berharap kinerja dari bisnis pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," jelas Prijono.

Penurunan keuntungan bersih perseroan diiringi menggunakan penurunan pendapatan bersih konsolidasi Astra pada sebesar lima % sebagai Rp 88,2 triliun dalam semester I 2016 berdasarkan Rp 92,5 triliun dalam periode yg sama tahun sebelumnya. "Grup Astra mengalami penurunan pendapatan bersih pada sektor alat berat dan pertambangan serta agrobisnis, ad interim kontribusi pendapatan higienis menurut Toyota Sales Operation jua menurun," tandas Prijono.

Selain itu, pula tercatat bahwa laba bersih per saham pun mengalami penurunan sebanyak 12 % dari Rp 199 per saham menjadi Rp 176 per saham.

#Tag :

Kinerja Telkom Semester I 2016, Laba Tumbuh 33%, Divisi Bisnis Digital Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2016, PT Telkom Indonesia (Persero)Tbk (Telkom) tetap menunjukkan kinerja yang memuaskan dengan membukukan pertumbuhan triple double digit growth pada Pendapatan, EBITDA dan Laba Bersih sebesar 15,6%, 22,8% dan 33,3%.

Telkom pada periode 6 bulan pertama 2016 ini membukukan pendapatan sebesar Rp 56,45 triliun, tumbuh 15,6% dari periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar Rp 48,84 triliun. Telkom mencatatkankan EBITDA Rp 28,80 triliun tumbuh 22,8% dari tahun lalu yang sebesar Rp 23,46 triliun serta laba bersih sebesar Rp9,93 triliun atau tumbuh 33,3% dari tahun lalu yang sebesar Rp 7,45 triliun.

Menurut Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen, bisnis Data, Internet dan IT Services menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan Perseroan. “Bisnis Data, Internet & IT Service tumbuh 50,7% dengan kontribusi sebesarRp22,64 triliun atau 40,1% dari keseluruhan pendapatan Perseroan” ujar Harry.

“Pertumbuhan pada pendapatan Data, Internet dan IT Services tidak terlepas dari perluasan infrastruktur fiber optic dan BTS 3G/4G sesuai arah strategi perusahaan menuju digital company. Perseroan tengah mempersiapkan bisnis digital untuk menjadi engine of growth di masa-masa mendatang,” jelas Harry.

Sementara itu pelanggan layanan seluler Telkomsel menjadi 157,39 juta users tumbuh sebesar 9,2%. Pelanggan broadband juga mengalami peningkatan yang berarti. Pelanggan Telkomsel Flash tumbuh 48,2% menjadi 49,85 juta users dan pelanggan fixed broadband tumbuh 15,7% menjadi 4,3juta users, termasuk diantaranya 1,5 juta pelanggan IndiHome.

Telkomsel selaku entitas anak usaha Telkom mampu mempertahankan kinerja melalui triple double digit growth dengan pertumbuhan pendapatanse besar 16,1%, EBITDA 23,9% dan laba bersih 32,7% secara Year on Year (YoY). Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp41,11 triliun, EBITDA Rp 23,84 triliun dan Laba Bersih 13,41 triliun.

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas dan jangkauan layanan jaringan Telkomsel antara lain dengan penambahan sebanyak 15.384 BTS (Base Transceiver Station) dimana sekitar 90% BTS tersebut merupakan BTS 3G/4G. Sementara ARPU tumbuh sekitar 9% sejalan dengan peningkatan penggunaan layanan data.

Layanan IndiHome Triple Play yang diluncurkan pada awal 2015 telah memiliki 1,5 juta pelanggan hingga akhir Semester 1 2016. Dengan didukung oleh infrastruktur jaringan fiber optik, Telkom akan terus meningkatkan kualitas layanan IndiHome diantaranya dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan teknisi untuk mendukung permintaan layanan IndiHome yang berkualitas di rumah pelanggan.

Sementara itu, beban Perusahaan tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8,5%, lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan, dari Rp33,72 triliun pada tahun lalu menjadi Rp36,57 triliun. Beban operasional dan pemeliharaan menjadi kontributor utama kenaikan beban Perseroan, yang meningkat sebesar14,6% menjadi Rp16,17 triliun.

Peningkatan Beban operasional dan pemeliharaan sejalan dengan percepatan pembangunan infrastruktur jaringan, baik pada unit usaha  mobile maupun fixed-line dalam upaya mendorong pertumbuhan bisnis digital.

#Tag :

Pertumbuhan Kinerja Telkom Terjaga, Bisnis Digital Jadi Backbone Pertumbuhan Baru

Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2016, PT Telkom Indonesia (Persero)Tbk (Telkom) permanen memberitahuakn kinerja yg memuaskan menggunakan membukukan pertumbuhan triple double digit growth pada Pendapatan, EBITDA dan Laba Bersih sebanyak 15,6%, 22,8% & 33,3%.

Telkom dalam periode 6 bulan pertama 2016 ini membukukan pendapatan sebanyak Rp 56,45 triliun, tumbuh 15,6% menurut periode yg sama tahun lalu yaitu sebanyak Rp 48,84 triliun. Telkom mencatatkankan EBITDA Rp 28,80 triliun tumbuh 22,8% menurut tahun lalu yang sebesar Rp 23,46 triliun dan keuntungan bersih sebanyak Rp9,93 triliun atau tumbuh 33,3% dari tahun kemudian yg sebanyak Rp 7,45 triliun.

Menurut Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen, bisnis Data, Internet dan IT Services menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan Perseroan. “Bisnis Data, Internet & IT Service tumbuh 50,7% dengan kontribusi sebesarRp22,64 triliun atau 40,1% dari keseluruhan pendapatan Perseroan” ujar Harry.

“Pertumbuhan pada pendapatan Data, Internet dan IT Services tidak terlepas dari perluasan infrastruktur fiber optic dan BTS 3G/4G sesuai arah strategi perusahaan menuju digital company. Perseroan tengah mempersiapkan bisnis digital untuk menjadi engine of growth di masa-masa mendatang,” jelas Harry.

Sementara itu pelanggan layanan seluler Telkomsel menjadi 157,39 juta users tumbuh sebesar 9,2%. Pelanggan broadband juga mengalami peningkatan yang berarti. Pelanggan Telkomsel Flash tumbuh 48,2% menjadi 49,85 juta users dan pelanggan fixed broadband tumbuh 15,7% menjadi 4,3juta users, termasuk diantaranya 1,5 juta pelanggan IndiHome.

Telkomsel selaku entitas anak usaha Telkom mampu mempertahankan kinerja melalui triple double digit growth dengan pertumbuhan pendapatanse besar 16,1%, EBITDA 23,9% dan laba bersih 32,7% secara Year on Year (YoY). Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp41,11 triliun, EBITDA Rp 23,84 triliun dan Laba Bersih 13,41 triliun.

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas dan jangkauan layanan jaringan Telkomsel antara lain dengan penambahan sebanyak 15.384 BTS (Base Transceiver Station) dimana sekitar 90% BTS tersebut merupakan BTS 3G/4G. Sementara ARPU tumbuh sekitar 9% sejalan dengan peningkatan penggunaan layanan data.

Layanan IndiHome Triple Play yang diluncurkan pada awal 2015 telah memiliki 1,5 juta pelanggan hingga akhir Semester 1 2016. Dengan didukung oleh infrastruktur jaringan fiber optik, Telkom akan terus meningkatkan kualitas layanan IndiHome diantaranya dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan teknisi untuk mendukung permintaan layanan IndiHome yang berkualitas di rumah pelanggan.

Sementara itu, beban Perusahaan tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8,5%, lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan, dari Rp33,72 triliun pada tahun lalu menjadi Rp36,57 triliun. Beban operasional dan pemeliharaan menjadi kontributor utama kenaikan beban Perseroan, yang meningkat sebesar14,6% menjadi Rp16,17 triliun.

Peningkatan Beban operasional dan pemeliharaan sejalan dengan percepatan pembangunan infrastruktur jaringan, baik pada unit usaha  mobile maupun fixed-line dalam upaya mendorong pertumbuhan bisnis digital.

#Tag :

Kinerja Astra Terkena Imbas Penurunan Sektor Tambang dan Komoditi

Pelemahan sektor bisnis tambang dan komoditi rupanya juga punya dampak terhadap kinerja bisnis group konglomerasi swasta terbesar Indonesia, PT Astra International Tbk. Setidaknya hal itu tampak dari kinerja semester pertama 2016 dari konglomerasi yang punya multi bisnis tersebut (otomotif, finansial, agro, tambang, properti, infrastruktur, dll) tersebut.

Sebagaimana dipaparkan dalam laporan keuangan resmi,  PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba bersih pada semester I 2016 sebesar 12 % dari Rp 8 triliun menjadi Rp 7,1 triliun. Penurunan ini utamanya dipicu pelemahan harga komoditas dan penurunan permintaan alat berat.

"Laba bersih grup Astra selama semester pertama menurun. Tantangan pada semester pertama tahun ini berasal dari pelemahan harga komoditas dan permintaan terhadap alat berat," ujar Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto, dalam keterangan tertulisnya.

Menurut penjelasan Prijono, selain pelemahan harga komoditas dan penurunan permintaan alat berat, penurunan volume bisnis kontraktor pertambangan dan peningkatan kredit bermasalah di Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. "Walaupun demikian, kami berharap kinerja dari bisnis pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," jelas Prijono.

Penurunan laba bersih perseroan diiringi dengan penurunan pendapatan bersih konsolidasi Astra pada sebesar 5 % menjadi Rp 88,2 triliun pada semester I 2016 dari Rp 92,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Grup Astra mengalami penurunan pendapatan bersih di sektor alat berat dan pertambangan serta agrobisnis, sementara kontribusi pendapatan bersih dari Toyota Sales Operation juga menurun," tandas Prijono. Selain itu, juga tercatat bahwa laba bersih per saham pun mengalami penurunan sebesar 12 % dari Rp 199 per saham menjadi Rp 176 per saham.

#Tag :

Kinerja Laba Jababeka Naik 30%, Agresif Kembangkan Kendal dan Morotai

Laba PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) sepanjang semester I/2016 naik 30,41% dibandingkan menggunakan periode yg sama tahun lalu. Sesuai laporan keuangan semester I/2016 yang telah dipublikasikan (9/8/2016), perseroan mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak Rp 325,78 miliar atau naik 30,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp249,81 miliar.

Peningkatan keuntungan Jababeka didorong sang sejumlah beban perseroan yg sanggup ditekan. Sepanjang semester I/2016, perseroan mencatat penjualan dan pendapatan jasa senilai Rp 1,36 triliun. Pencapaian tersebut turun 7,48% berdasarkan periode yang sama 2015 senilai Rp1,47 triliun.

Tetapi demikian, perseroan cukup smart dan berhasil bisa menekan sejumlah beban porto. Mulai menurut beban keuangan yg turun 56,98% menjadi Rp169,59 miliar dari Rp394,22 miliar dalam semester I/2015. Kemudian, beban pajak final juga turun menjadi Rp10,60 miliar berdasarkan Rp28,38 miliar.

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) terus akan perluasan menyebarkan bisnis-usaha dan proyek barunya yg sudah terdapat pada pipeline untuk pengembangan. Antara lain, Jababeka telah menyiapkan dana sebesar US$ 10-20 juta buat membangun infrastruktur kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah. Direktur Utama Jababeka Budiyanto Liman berkata, perseroan bekerjasama dengan perusahaan asal Singapura, Sembawang Corporation, untuk berbagi kawasan industri tadi. Luas tanah yg akan digarap seluas 2.000-tiga.000 hektare (ha).

?Tahap awal, kami akan kembangkan kurang lebih 860 ha. Sekarang dalam tahap pengembangan infrastruktur,? Ujar Budiyanto pada Jakarta, Selasa (20/10). Dia melanjutkan, secara spesifik, infrastruktur yang akan dibangun mencakup jalan, pemadatan tanah, & menyiapkan pasokan air bersih juga buat air limbahnya. ?Pokoknya kami bangun infrastruktur supaya para investor yg ingin membangun pabrik telah sanggup beroperasi termasuk listrik dan lainnya,? Ujar Budiyanto.

Untuk pasokan listrik, perseroan berencana membangun pembangkit listrik (power plant) untuk memenuhi kebutuhan daerah industri. Tetapi, dia belum mampu menyebutkan berapa kapasitasnya. Dia mengakui, untuk proyek pengembangan daerah industri Kendal, saat ini telah banyak perusahaan yg akan menempati daerah tadi. Hal ini didukung menurut harga tanah yg lebih murah dan dari segi upah pekerja masih nisbi lebih rendah dibandingkan tempat industri Jababeka lainnya.

?Dari segi labour cost pada Jawa Tengah masih lebih rendah dibandingkan Bekasi. Hal ini sebagai daya tarik investor terutama bagi yg labour intensif, seperti tekstil,? Ujar Budiyanto. Sementara itu, buat pembebasan huma, perseroan menghabiskan belanja kapital (capital expenditure/capex) sebanyak Rp 600 miliar tahun ini. Dana tersebut 100 persen dari menurut kas perseroan. Sementara itu, untuk kawasan Kendal, bakal menghabiskan dana sebanyak Rp 400 miliar. Capex yg paling akbar memang digunakan untuk pembebasan huma di Kendal.

Jababeka juga terus melanjutkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Pulau Morotai seluas 1.200 hektar. Melalui anak usahanya, PT Morotai Jababeka berhasil menggandeng mitra dari Taiwan buat membangun amenitas dan atraksi pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata tadi.

Pada tahap awal, dikabarkan, PT Morotai Jababeka, membentuk 10 ribu tempat tinggal dengan pangsa pasar kelas menengah, serta hotel-hotel dengan kapasitas 100 ribu kamar. Tahap berikutnya, PT Morotai Jababeka menciptakan tempat pariwisata, sekolah yg akan menyuplai asal daya manusia (SDM), & lainnya. Raksasa properti ini jua akan membuatkan pertanian, perikanan, dan perdagangan.

PT Morotai Jababeka siap menggelontorkan investasi Rp 6,8 triliun. Dana sebesar itu asal menurut investasi sendiri, & sejumlah investor. Andrew Hsia, ketua Perwakilan Perdagangan dan Ekonomi Taipei di Indonesia (TETO), berjanji akan mengembangkan budi daya ikan, pertanian, pariwisata, & perbankan di Morotai. Ia memperkirakan akan terdapat pergerakan banyak orang ke Morotai buat bekerja pada bidang perikanan, eko-turisme, & infrastruktur.

#Tag :

Kinerja BTN 2016, Laba Tumbuh 25,40% Pada Semester I

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan kinerja keuangan semester I 2016 dengan peningkatan laba bersih sebesar 25,40% menjadi Rp1,042 Triliun dari Rp 850 Milyar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional BTN, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp3,696 Triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp584 Milyar.

Pendapatan bunga bersih ini tumbuh 15,71% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,194 Triliun. Sementara pendapatan operasional lainnya tumbuh 12,56% dari tahun 2015 yang sebesar Rp519 Milyar. BTN mencapai hasil kinerja semester I 2016 yang positif. Demikian Maryono Direktur Utama BTN menjelaskan usai paparan kinerja BTN semester I 2016 di Jakarta, Senin 25 Juli 2016.

Maryono menambahkan BTN masih menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan di Indonesia dengan pangsa pasar 31%. Kredit yang disalurkan BTN selama semester I 2016 tumbuh 18,39% dari Rp126,125 Triliun pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp149,316 Triliun. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh penyaluran kredit ke sektor perumahan sebesar Rp135,745 Triliun yang tumbuh 20,23% dari tahun sebelumnya sebesar Rp112,903 Triliun. Kredit non perumahan sebesar Rp13,571 Triliun atau tumbuh 2,64% dari tahun 2015 yang sebesar Rp13,223 Triliun.

Kredit ke sektor perumahan disalurkan untuk mendukung kredit perumahan subsidi  dan kredit perumahan non subsidi. Kredit subsidi mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi sebesar Rp49,804 Triliun atau tumbuh 31,18%  dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp38,011 Triliun. Sementara kredit non subsidi tercatat tumbuh 14,88% dari sebesar Rp49,755 Triliun pada tahun 2015 menjadi Rp57,158 Triliun pada semester I tahun 2016.

Sementara itu Bank BTN mencatatkan Dana pihak ketiga meningkat 17,29% menjadi Rp134,555  Triliun pada akhir Juni 2016. Sementara posisi tahun 2015 Dana Pihak Ketiga BTN tercatat sebesar Rp114,749 Triliun. Dan Bank BTN berhasil meningkatkan Asset menjadi Rp.189,513 Triliun atau tumbuh 21,52% dari posisi Asset tahun 2015 yang sebesar Rp155,952 Triliun.

Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sementara tren industry menunjukkan NPL yang terus naik, rasio kredit bermasalah (NPL) BTN turun dari 4,70% pada tahun 2015 menjadi 3,41% pada tahun 2016. BTN secara proaktif mempertahankan posisi likuiditas dan basis permodalan yang solid. Pada semester I 2016 rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,07%.

Fokus core business

Bank BTN tetap konsisten terhadap core business-nya dalam bidang pembiayaan perumahan. Kinerja Perseroan semester  I 2016 masih menunjukkan konsistensi Bank BTN pada bisnis utamanya tersebut.  Ini dapat dilihat dari porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan komposisi 90,91% atau sebesar Rp135,745 Triliun dari total kredit yang disalurkan Perseroan selama semester I 2016 sebesar Rp149,316 Triliun. Sementara sisanya yang sebesar 9,09 atau sebesar Rp13,571 Triliun disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan.

Bank BTN masih menguasai pasar pembiayaan perumahan di Indonesia. Pangsa pasar Bank BTN tercatat 31,72% masih berada diatas BCA (17,3%), BNI (10,1%), Mandiri (8,9%), BRI (4,7%), Niaga (6,7%) sementara sisanya sekitar 20,7% dikuasai oleh bank-bank lain. Kami masih menguasai pasar perumahan di Indonesia dan posisi ini akan kami pertahankan dan terus diupayakan peningkatannya, tegas Maryono.

Hingga Semester I 2016  pencapaian program sejuta rumah telah mencapai sebesar 400.982 unit dengan rincian KPR sebanyak 100.175 unit dan dukungan konstruksi sebanyak 300.807 unit. Adapun jumlah kredit yanng telah disalurkan BTN adalah sebesar Rp42,063 Triliun.

Ingin berperan dalam Tax Amnesy

Dalam rangka mensukseskan Tax Amnesty, BTN secara aktif akan menerbitkan sejumlah instrumen untuk menampung dana repatriasi yang masuk, antara lain berupa EBA dengan target penerbitan mencapai Rp 10 Triliun. Penerbitan EBA tersebut adalah salah satu usaha perseroan untuk dapat ikut serta menyerap dana repatriasi yang akan masuk.

Selain EBA, Bank BTN juga menyiapkan instrument investasi lain untuk menampung dana tax amnesty. Dari mulai simpanan biasa seperti tabungan, deposito dan giro. Kemudian juga instrument investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi, negotiable certificate of deposit (NCD) dan medium term notes (MTN).

Maryono mengungkapkan dana repatriasi yang dibidik BTN mencapai Rp50 Triliun dari kebijakan amnesti pajak yang akan difokuskan pada penyaluran ke sektor riil atau sesuai dengan core business BTN. Dana ini akan sangat membantu dalam menyukseskan program sejuta rumah yang dilakukan pemerintah.

Untuk penyaluran dana tax amnesty tersebut sudah disiapkan BTN secara matang. Ini dimaksudkan agar dana tax amnesty yang masuk ke BTN bisa segera disalurkan seperti melakukan relaksasi pemberian kredit kepada pengembang yang akan membeli tanah untuk dibangun proyek rumah bersubsidi. Kelonggaran dari BTN tersebut bakal menjadi modal yang baik bagi pengembang dalam program pembangunan perumahan. Hal ini dikarenakan tanah adalah komponen biaya yang besar dalam proyek pembangunan rumah.

Bisnis syariah terus tumbuh

Syariah Bank BTN saat ini masih berstatus UUS (unit usaha syariah). Meskipun demikian UUS Bank BTN sangat terkelola dengan baik. Ini dapat terlihat dari kinerjanya pada semester I 2016 dengan Asset tercatat sebesar Rp15,803 Triliun atau tumbuh 33,59% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp11,829  Triliun. Penghimpunan dana UUS Bank BTN juga meningkat dari Rp9,232 Triliun pada tahun 2015 menjadi Rp12,991 Triliun atau meningkat 40,72%.

Sementara untuk pembiayaan UUS Bank BTN tercatat sebesar Rp12,443 Triliun atau tumbuh 22,29% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,174 Triliun.  UUS Bank BTN telah mencatatkan keuntungan  sebesar Rp151,30 Milyar. Keuntungan  ini tumbuh 15,67% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp130,80 Milyar.