Ma Huateng, Orang Terkaya Asia Setelah Pemilik Alibaba. Siapa dia?
Bos Tencent Ma Huateng sempat menepati posisi pertama orang terkaya di Asia sebelum akhirnya disalip lagi oleh pemilik Alibaba dikarenakan saham Alibaba yang diperdagangkan di New York ditutup menguat 3,6% dan membuat kekayaan pemilik Alibaba, Jack Ma menjadi USD36,4 miliar atau USD 200 juta lebih banyak dari Tencent.
Ma Huateng untuk pertama kalinya menjadi orang terkaya di seluruh Asia. Bahkan, pertama kalinya dia mencapai peringkat pertama orang terkaya di China.
Keuntungan 2,95% saham Tencent di Hong Kong Stock Exchange menambahkan hampir USD1 miliar ke kekayaan Ma Huateng, yang senilai sekitar USD36,2 miliar di peringkat miliarder Forbes real-time. Itu dibandingkan dengan USD35,6 miliar untuk Jack Ma yang tergelincir ke posisi dua orang terkaya di China.
Tencent menawarkan beragam layanan dan produk populer termasuk pembayaran dan permainan, bersama dengan platform jejaring sosial populer WeChat.
Munculnya Tencent dan Alibaba menggarisbawahi bahwa pertumbuhan eksplosif dalam layanan dan konten online di China, negara berpenduduk paling padat di dunia dan negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.
Sementara, Alibaba yang terdaftar di New York dikenal paling baik untuk perdagangan online dan gaya kepemimpinan Jack Ma. Tencent terdaftar di Hong Kong, perusahaan ini kurang dikenal di luar China, dan dipimpin oleh Ma Huateng dengan latar belakang teknik.
Indosat Akan Terbitkan Obligasi Berkelanjutan dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan Rp 3 triliun
PT Indosat Tbk ("Indosat" atau "Perseroan") pada hari ini mengadakan Paparan Publik berkenaan dengan Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap I Tahun 2017 ("Obligasi") dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II Indosat Tahap I Tahun 2017 (“Sukuk Ijarah”), keduanya dalam mata uang Rupiah dengan total nilai emisi sebanyak-banyaknya tiga triliun Rupiah. Penerbitan instrumen hutang ini merupakan bagian dari rencana pendanaan Perseroan dalam rangka pelunasan sebagian atau seluruhnya (refinancing) salah satu atau beberapa pinjaman Rupiah yang dimiliki oleh Perseroan dan untuk pengembangan bisnis Perseroan lebih lanjut.
President Director & CEO PT Indosat Tbk. Alexander Rusli mengatakan,"Penerbitan obligasi dan sukuk ijarah ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang keuangan Perseroan dalam memenuhi kebutuhan pendanaan sekaligus memperbaiki struktur permodalan dan profil hutang. Kami harapkan hal ini akan memberi efek positif untuk pengembangan bisnis ke depan dan kami dapat semakin fokus dalam memberikan layanan terbaik kepada pelanggan."
Berdasarkan hasil pemeringkatan dari Pefindo atas Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahun 2017 dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II Indosat Tahun 2017, sesuai dengan surat No.:RC-229/PEFDIR/III/2017 tanggal 16 Maret 2017 tentang Sertifikat Pemeringkatan atas Obligasi Berkelanjutan II Dengan Tingkat Bunga Tetap PT Indosat Tbk., dan surat No.:230/PEF-DIR/III/2017 tanggal 16 Maret 2017 tentang Sertifikat Pemeringkatan atas Sukuk Ijarah Berkelanjutan II Dengan Tingkat Bunga Tetap PT Indosat Tbk, hasil pemeringkatan atas Obligasi dan Sukuk Ijarah Perseroan adalah IdAAA (Triple A) untuk Obligasi dan idAAA(sy) (Triple A Syariah) untuk Sukuk Ijarah.
Dan berdasarkan hasil pemeringkatan dari Fitch atas Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahun 2017 dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II Indosat tahun 2017, sesuai dengan surat No.:69/DIR/RAT/III/2017 tanggal 15 Maret 2017 tentang Peringkat Awal (Initial Rating) PT Indosat Tbk, hasil Pemeringkatan Obligasi dan Sukuk Ijarah Perseroan adalah AAA(idn) (Triple A) untuk Obligasi dan AAA(idn) (Triple A Syariah) untuk Sukuk Ijarah.
Bookbuilding akan dilaksanakan mulai tanggal 27 April 2017 sampai dengan tanggal 10 Mei 2017. Tanggal efektif diharapkan didapatkan pada tanggal 22 Mei 2017 sehingga pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat dilakukan pada tanggal 2 Juni 2017.
Penerbitan Obligasi dan Sukuk Ijarah Indosat ini dibantu oleh penjamin pelaksana emisi yang terdiri dari PT Mandiri Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas dan PT CIMB Sekuritas Indonesia. Bertindak sebagai wali amanat adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Penasehat hukum dalam penerbitan Obligasi dan Sukuk Ijarah ini adalah Hadiputranto, Hadinoto & Partners; dengan notaris Ir. Nanette Cahyanie Handari Adi Warsito, S.H., serta auditor independen oleh KAP Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan (PwC)
Group LAUTAN LUAS Lakukan Merger Tiga Anak Usaha
Korporasi di bidang produksi dan distribusi bahan kimia, Group Lautan Luas, baru saja merampung proses merger 3 anak usahanya. Perusahaan yang dikendalikan famili Indrawan Masrin ini menggabungkan PT Dunia Kimia Jaya ("DKJdanquot;), PT White Oil Nusantara (?WON?) & PT Metabisulphite Nusantara (?MN?) yang semuanya merupakan anak perusahaan PT LAUTAN LUAS Tb. WON & MN resmi menggabungkan diri sebagai satu perusahaan kedalam entitas DKJ melalui proses penggabungan bisnis (merger).
Penggabungan bisnis 3 anak perusahaan tersebut efektif terhitung per lepas 1 Januari 2017. Tujuan dilakukan penggabungan usaha (merger) merupakan menjadi upaya dalam melakukan efisiensi & efektivitas bagi perusahaan.
Penggabungan anak perusahaan tersebut akan memberikan kinerja yang lebih baik pada pengelolaan keuangan, SDM, logistik, dan administrasi. Selain itu pada perencanaan lini produksi pula sebagai lebih efisien dan lebih dekat menggunakan customer karena berada pada tiga wilayah industri besar pada Indonesia yaitu Cikarang (Bekasi), Medan dan Gresik (Surabaya).
Komposisi kepemilikan Perseroan dalam DKJ sebesar 99,9%, sedangkan sisanya 0,01% dimiliki oleh Indrawan Masrin & setelah penggabungan bisnis tadi nir terjadi perubahan yang berarti.
Prodia Berkolaborasi dengan FK UII Jogja
Sebagai upaya untuk menaikkan kualitas pendidikan terutama pada hal penelitian di bidang ilmu kedokteran, Laboratorium Klinik Prodia memperpanjang kerjasamanya dengan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII). PT Prodia Widyahusada atau yg dikenal menggunakan Laboratorium Klinik Prodia menandatangani perjanjian Memorandum of Understanding (MoU) menggunakan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) guna memperkuat kerjasamanya pada bidang pendidikan & penelitian.
Penandatangan MoU yang berlangsung dalam hari Senin, 31 Juli 2017 di Auditorium FK UII ini dihadiri sang Nandang Sutrisno, S. H, LLM., M. Hum, Ph.D selaku Rektor Universitas Islam Indonesia, dr. Linda Rosita, M. Kes, Sp. PK selaku Dekan Fakultas Kedokteran, Ibu DR. Indriyanti RS, M.Si selaku Vice President Marketing Laboratorium Klinik Prodia, dan sekitar 80 peneliti menurut program studi kedokteran FK UII, Program studi Farmasi & peneliti dari Rumah Sakit & Puskesmas Mitra Fakultas Kedokteran Indonesi.
Indri menjelaskan bahwa kerjasama ini buat mensupport para peneliti bidang kesehatan & kedokteran buat lebih poly melakukan penelitian buat perkembangan ilmu kedokteran. Selain penandatanganan MoU, diadakan pula seminar "Pemilihan Biomarker yg Efektif buat Penelitian Klinikdanquot; yg disampaikan oleh DR. Miswar Fattah, M.Si. Dalam seminar tersebut, beliau memaparkan tentang pentingnya menentukan marker atau penanda hayati yg sempurna untuk diteliti sebagai akibatnya dihasilkan penelitan baru yang reliable dan berguna untuk perkembangan dunia kesehatan dan kedokteran.
Sejak awal didirikan oleh Drs. Andi Wijaya dkk, Prodia telah berkomitmen untuk selalu menjalankan visinya sebagai "Centre of Excellence" yang diwujudkan melalui kerjasama dengan berbagai lembaga di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Beberapa aktivitas yang Prodia lakukan hingga saat ini yaitu menunjang pengembangan ilmu kedokteran baik dalam ataupun luar negeri, menjadi laboratorium sentral untuk semua bidang kedokteran dan menjadi pusat rujukan nasional. Pada kesempatan kali ini, Prodia bekerja sama dengan FK UII dengan harapan dapat lebih meningkatkan kualitas penelitian dan pemanfaatan sumberdaya serta fasilitas bersama antar lembaga untuk menunjang efisiensi dan produktivitas penelitian yang tepat guna. Kerjasama ini dapat memberikan keuntungan bagi banyak pihak, antara lain rumah sakit, fakultas kedokteran, masyarakat dan bangsa Indonesia ke depannya.
Selain dengan FK UII, sebelumnya Laboratorium Klinik Prodia telah menandatangani MoU serupa menggunakan Universitas/Fakultas Kedokteran yang beredar pada berbagai daerah di Indonesia yakni FK UNS, FK UNDIP, FK USU Medan, FK UNHAS Makassar, FK UNSRAT Manado, UNMUL Samarinda, FK Universitas Kristen Maranatha Bandung, FK Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, FK Universitas Udayana Denpasar, FK UNSOED Purwokerto, FK Universitas Haluoleo Kendari, FK UGM Yogjakarta, FK UNS Surakarta, FK Universitas Al- Khairat Palu, FK UNIBA, FK UNJANI Cimahi, FK UNISRI Palembang, & FK UMI Makassar.
Kinerja Semester I 2017 : Laba dan Aset PT SMI Bertumbuh
Jakarta tiga Agustus 2017 ? PT Sarana Multi Infrastuktur (Persero) (?PT SMI?), BUMN di bawah Kementerian Keuangan yg berkecimpung sebagai katalis akselerasi pembangunan infrastruktur nasional, mencatat kenaikan keuntungan higienis sebesar dua,8% dalam semester I-2017. Laba perseroan pada 30 Juni 2017 tercatat sebesar Rp707,4 miliar. Sedangkan dalam periode yang sama pada tahun 2016, perseroan hanya memperoleh laba bersih senilai Rp688 miliar.
Pertumbuhan ini pula diikuti dengan pertumbuhan aset perseroan yang naik lima,83% jika dibandingkan 6 bulan kemudian, yaitu dari Rp44,tiga triliun pada akhir tahun 2016, menjadi sebanyak Rp46,9 triliun dalam 30 Juni 2017. Kenaikan ini diharapkan kian pesat pada semester II ? 2017.
PT SMI pada awal berdirinya perseroan di 2009, PT SMI dianggap menjadi katalis yg mendorong pembangunan infrastruktur nasional melalui fasilitas pembiayaan yg disediakannya. Namun seiring perjalanannya, PT SMI mendapat kepercayaan buat melakukan perluasan layanannya, yaitu bukan hanya sebatas pembiayaan, tetapi juga menyediakan jasa konsultasi & pengembangan proyek.
Dalam fasilitas pembiayaan, sampai Juni 2017, PT SMI telah menaruh komitmen pembiayaan infrastruktur (Terdiri menurut pinjaman diberikan kepada korporasi, Pemerintah Daerah & penyertaan modal) senilai Rp50,2 triliun kepada proyek-proyek infrastruktur pada Indonesia, menggunakan total nilai proyek senilai Rp264,5 triliun. Sedangkan melalui fasilitas Jasa Konsultasi & Pengembangan Proyek, PT SMI telah sebagai enabler bagi beberapa proyek strategis nasional sebagai akibatnya dapat mencapai financial close, misalnya Proyek Palapa Ring (Paket Barat, Tengah & Timur) dan Proyek SPAM Umbulan yang akhirnya mencapai financial close pada Desember 2016, setelah lebih kurang 43 tahun proyek ini tertunda.
Melalui 3 layanan tersebut, PT SMI semakin mewujudkan komitmennya menjadi katalis percepatan pembangunan infrastruktur nasional, menggunakan menyediakan layanan yg terintegrasi & sinkron kebutuhan.
Springwood Residence Gandeng FiberStar Bangun Jaringan Fiber Optik
PT Triniti Dinamik, pengembang Springwood Residence di Serpong kini tengah mengembangkan jaringan fiber optik untuk layanan pendukung bagi penghuninya. Untuk itu pengembang ini menggandeng FiberStar (CBN Group), sebagai provider dan pengembang infrastruktur jaringan fiber optik. Samuel Stepanus Huang, President Director PT Triniti Dinamik, telah menandatangani kesepakatan kerjasama dengan Thomas Dragono, Commerce Director FiberStar.
Samuel Stepanus Huang mengatakan “Kami sebagai developer berkomitmen memberikan kepuasan optimal bagi para konsumen kami, salah satu opsinya dengan memberikan kemudahan konsumen dalam hal komunikasi dan informasi. Oleh sebab itu, kami lengkapkan Springwood Residence dengan Fiber Optic, dari salah satu perusahaan terpercaya dalam bidang ini, yaitu : FiberStar, dengan kapasitas koneksi Fiber optik mencapai 100 Gb yang menjadikan Springwood sebagai Smart Building,” kata Samuel.
Thomas Dragono, Commerce Director FiberStar menambahkan, “Memang lokasi prospektif dan accessible menjadi syarat utama saat membidik hunian, baik untuk tempat tinggal maupun investasi. Kami yakin, hadirnya jaringan serat optik FiberStar dengan konsep netralitas akan menambah kenyamanan para penghuni karena mereka bebas memilih content provideryang diinginkan sesuai dengan kebutuhan. Jaringan FiberStar ini tentunya akan terus diperluas ke wilayah Serpong dan sekitarnya, sehingga masyarakat luas tentunya akan mendapatkan manfaat dengan kehadiran jaringan serat optik FiberStar ini”.
Kawasan Serpong yang berada di sisi Jakarta Barat telah berkembang dengan pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Perkembangan itu ditandai pertumbuhan properti yang mencapai 50 persen sampai 60 persen per tahun . Akses langsung Tol Jakarta-Merak yang terjangkau, lokasi strategis, serta lintasan jaringan infrastruktur terintegrasi dan dekat dengan Jakarta, diyakini menjadi pemicu meroketnya harga lahan di kawasan Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan.
Melirik potensi investasi yang menjanjikan, PT Triniti Dinamik menghadirkan Springwood Residence sebagai pilihan hunian berkonsep mewah dengan harga terjangkau. Mengusung konsep gedung multifungsi (mixed use building) yang terdiri dari unit Small Office Home Office (SOHO), ruang perkantoran dan hunian (apartemen), Springwood Residence di desain oleh jasa biro arsitek top asal Polandia, OOZN Design yang hasil karyanya sudah diakui dunia.
Lokasi prospektif dengan kelengkapan fasilitas yang ada, seperti Sky Lounge, Infinity Swimming Pool, Exclusive Function Room, Kids Playground, Fitness Center,Area Bisnis Retail & Komersil, Area Parkir yang Luas, Private Lift dengan Access Card, Keamanan 24 Jam, Free WiFi, serta dekat dengan BINUS University dan Mall @Alam Sutera menjadikan Springwood Residence sebagai kawasan yang menjanjikan bagi para pemilik, penghuni dan investor.
PT Triniti Dinamik menandatangani perjanjian kerjasama dengan FiberStar sebagai mitra penyedia jaringan infrastruktur jaringan berbasis serat optik pada bulan April 2017 yang lalu. Kehadiran layanan konektivitas berbasis jaringan serat optik dari FiberStar dengan kapasitas sampai dengan 1 Gbps per unit, serta kemampuan jaringan serat optik yang fleksibel dan scalabledalam membentuk Smart Building dan Smart Area, tentunya akan sangat bermanfaat dalam mendukung aktivitas pemilik dan penghuni di area bisnis dan hunian Springwood Residence.
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Sentuhan Putu Suryajaya Membesarkan Group Nikki Bali
Putu Suryajaya awalnya kepingin menjadi dokter. Karena tak 'tahan' akhirnya malah kepleset jadi pengusaha sukses. Itulah Putu Suryajaya(32), pemilik dan pengelola Nikki Group yang punya beragam bisnis di Bali. Setamat SMA I Denpasar, Surya yang kelahiran 3 November 1975 ini diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, namun hanya dua semester ia betah menjadi calon dokter. Ia tidak kerasan. Surya kemudian memutuskan pulang ke Denpasar. “Tidak cocok dengan jiwa saya,” alasannya. Akhirnya saat orang tuanya merencanakan membangun hotel, Surya dilibatkan sepenuhnya.
Ternyata Surya memang menemukan dunianya sebagai entrepreneur. Cocok jadi pengusaha. Kerja kerasnya menjadikannya dipercaya mengelola sepenuhnya hotel pertama milik keluarga dengan 50 kamar, 2 ballroom dan 16 meeting room itu. Ia kibarkan bendera bisnis dibawah payung PT Puri Nikki, Hotel Nikki dan Nikki Fitness Centre -- fiteness centre terbesar di Denpasar. Nikki Group berdiri dari tahun 2000 -- Nikki sendiri merupakan gabungan penggalan nama kedua orang tua Surya.
Pengalaman bisnis orang tuanya memberi Surya banyak pelajaran bagaimana harus benar-benar siap dalam segala hal sebelum memulai suatu bisnis. Surya dituntut untuk selalu siap menghadapi pasang-surut bisnis, karena itu sejak awal keterlibatan di bisnis keluarganya Surya sudah dibiasakan untuk tidak menjadi pusat perhatian, sehingga bila suatu saat terjadi sesuatu lingkungan masih bisa menerima apa adanya.
Dari sukses satu bisnis itu, bisnisnya terus dikembangkan satu per satu. Kini kepak-sayap bisnis Surya makin beragam. Melalui PT Nikki Puri Medika, ia mengembangkan Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda yang awalnya merupakan Rumah Sakit Bersalin, berkapasitas 55 tempat tidur. Lalu, dibawah bendera PT Nikki Puri Wisata, Surya mendirikan pusat pelatihan perhotelan berstandar internasional yang terintegrasi dengan Nikki Hotel sebagai tempat praktek. Ada lagi, PT Nikki Puri Medika yang melayani keperluan medical check up kalangan atas dan PT Nikki Puri Siswa untuk mengoperasikan franchise sekolah Highscope Bali. Ini belum termasuk PT Puri Nikki Puri Property yang membawahi pembangunan kondotel di daerah Gatot Subroto Denpasar dan pinggiran Kuta.
Hanya dalam tempo tidak sampai 7 tahun, Nikki Group sudah berkembang pesat lewat 6 perusahaan berbadan hukum yang menampung tidak kurang dari 800 karyawan -- diluar outsourching. “Kelihatan saya terlalu agresif dalam berbisnis,” mengomentari perkembangan bisnisnya yang melaju. Tapi Surya tetap menekankan pemilihan waktu yang tepat untuk memulai suatu usaha. Surya memberi contoh, bila saat ini membangun hotel di Kuta tentu bukan saat yang tepat lagi karena keterbatasan lahan selain juga jumlah kamar yang ditawarkan juga sudah melebihi permintaan. Ia juga punya rencana mendirikan hotel baru yang ia tunda karena melihat situasi pasar.
Surya mengaku terjun ke beberapa jenis usaha karena kebetulan waktunya memang tepat untuk memulai, baik itu untuk sekolah perhotelan, rumah sakit, medical centre atau yang lainnya. Untuk lokasi bisnis-bisnisnya Surya memusatkan di daerah jalan Gatot Subroto yang merupakan jalan vital penghubung utama untuk seluruh kabupaten di Bali, selain juga merupakan daerah baru yang memungkinkan untuk bisa berkembang. Tak heran Nikki Group memiliki banyak lahan di sepanjang jalan Gatot Subroto.
“Bisnis saya tidak punya pesaing karena saya masuk bisnis yang entry barriernya tinggi. Orang lain tidak mudah menirunya,” kata Surya. Surya mengakui sejak awal usahanya selalu mendapat bantuan pinjaman bank hingga 60% dari total investasi.
Sudarmadi
Baca artikel lainnya :
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat di Indonesia
Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe
XL Genjot Paket PRIO Bagi Pelanggan Pascabayar
PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) terus menaikkan komitmen buat menghadirkan layanan yg maksimal bagi pelanggan pascabayar XL PRIORITAS. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan karakter dan kebutuhan atas akses layanan data & telekomunikasi yang beragam, XL PRIORITAS menghadirkan Paket PRIO dengan beragam tipe. Masing-masing tipe paket memberikan benefit layanan data dan telekomunikasi yang bisa disesuaikan menggunakan kebutuhan pelanggan. Paket ini berlaku mulai semenjak diluncurkan pada 26 Juli 2017.
Senior Advisor Postpaid & XL Center XL Axiata, Rashad Javier Sanchez mengatakan, “Masing-masing pelanggan selalu hadir dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karenanya kami memahami aspirasi para pelanggan yang tetap membutuhkan paket-paket layanan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka untuk akses data dan telekomunikasi. Kami menghadirkan lima tipe Paket PRIO yang bisa dipilih oleh pelanggan XL PRIORITAS disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Setiap tipe menawarkan benefit yang maksimal baik data 2G/3G/4G, voice, juga SMS.”
Lima pilihan tipe paket berserta manfaat yang dapat dipilih oleh pelanggan adalah, Pertama, Paket PRIO Silver 12 GB Rp 100rb (10 GB di jaringan 4G + 2GB di jaringan 2G/3G/4G + Nelpon 100 menit dan 100 SMS ke semua operator). Kedua, Paket PRIO Gold 20 GB Rp 150rb (15 GB di jaringan 4G + 5GB di jaringan 2G/3G/4G + Nelpon 150 menit dan 150 SMS ke semua operator). Ketiga, Paket PRIO Platinum 30 GB Rp 250rb (20 GB di jaringan 4G + 10GB di jaringan 2G/3G/4G + Nelpon 250 menit dan 250 SMS ke semua operator). Keempat, Paket PRIO Diamond 50 GB Rp 450rb (30 GB di jaringan 4G + 20GB di jaringan 2G/3G/4G + Nelpon 450 menit dan 450 SMS ke semua operator). Kelima, Paket PRIO Ultima dengan manfaat Unlimited Data di jaringan 2G/3G/4G dan Unlimited Nelpon serta SMS ke semua operator.
Kelima pilihan ukuran paket PRIO tersebut, masing-masing juga memberitakan manfaat tambahan berupa akses layanan Whatsapp, Line dan BBM tanpa batasan kuota. Tidak hanya itu. khusus Paket PRIO Platinum, Diamond dan Ultima, masing-masing juga masih memberikan manfaat lainnya berupa 1 hari, 3 Hari, dan 5 Hari PRIOPASS yang dapat digunakan saat International roaming di negara-negara ASEAN. Tentu saja, semua Paket PRIO didukung dengan kualitas jaringan yang didesain secara khusus sehingga memberikan layanan prioritas kepada pelanggannya, sehingga mampu memberikan koneksi yang lebih cepat dan stabil.
Layanan kartu paskabayar XL PRIORITAS terus meningkatkan layanannya sejak diluncurkan pada Januari 2015. Oleh karenanya paket PRIO ini dapat dinikmati baik oleh pelanggan baru maupun pelanggan lama. Bagi pelanggan baru dapat mendaftar kartu paskabayar XL PRIORITAS Center atau XL Center di wilayah Indonesia, sedangkan bagi pelanggan lama dapat melakukan pendaftaran paket melalui UMB *123# atau MyXL Postpaid. Kenyamanan pelanggan XL PRIORITAS juga didukung dengan kualitas jaringan melalui lebih dari 87 ribu BTS, termasuk lebih dari 39 ribu BTS 3G dan lebih dari 13 ribu BTS 4G. Guna terus meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan, XL Axiata telah menyiapkan kapasitas jaringan yang memadai, dimana saat ini tidak kurang dari 288 kota/kabupaten di berbagai provinsi Indonesia telah terjangkau layanan XL 4G LTE.
Sejak diluncurkan pada tahun 2016 lalu, layanan pascabvayar PRIORITAS mendapatkan sambutan yang sangat positif dari masyarakat. PRIORITAS telah terbukti mampu memuaskan pelanggan. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya jumlah pelanggan yang hingga Juni 2017 telah mencapai lebih dari 580 ribu pelanggan, meningkat 9% dari akhir tahun 2016. Pendapatan layanan PRIORITAS juga meningkat sekitar 12% dari awal Januari 2016 sampai dengan Juni 2017.
Berangkat dari kesuksesan tersebut, XL Axiata ingin semakin serius dalam membidik segmen pascabayar. XL Axiata menyadari bahwa saat ini pelanggan semakin membutuhkan layanan yang bisa memberikan kebebasan dalam berkomunikasi. Karena itu, XL Axiata merancang ulang layanan pascabayar, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan dengan memberikan kuota yang lebih besar dan memberikan kemudahan berkomunikasi telepon ataupun SMS ke semua operator. Selain itu, untuk semakin dekat sekaligus memudahkan pelanggan dalam mengakses layanan pelanggan, XL PRIORITAS juga menyediakan PRIORITAS Center di 2 lokasi yang berada di pusat bisnis utama di Jakarta, yaitu di Grand Indonesia dan Gandaria City.
PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) sendiri tetap akan fokus menyediakan layanan digital guna memberikan kemudahan bagi aktifitas kehidupan masyarakat serta mendorong perkembangan ekonomi digital Indonesia. Sejak Desember 2014, XL telah mengimplementasikan jaringan 4G LTE, yang dilanjutkan dengan pengembangan 4G LTE komersial skala nasional pada bulan Juli 2015. XL Axiata merupakan bagian dari Axiata Group bersama dengan Celcom (Malaysia), Dialog (Sri Lanka), Robi (Bangladesh), Smart (Cambodia), Ncell (Nepal), Idea (India), dan M1 (Singapore).
Muhammad Fendy Leong, Bintang Muda Di Bisnis Ritel Medan
Muhammad Fendy Leong adalah sosok pengusaha muda sukses yang berasal dari Medan. Ia tumbuh dan berkembang di bisnis ritel, mall / department store. Di Medan, nama Fendy Leong dikenal karena gebrakannya membangun ritel syariah, yakni mendirikan supermarket syariah pertama di Indonesia yang sempat mendapatkan penghargaan MURI dan juga membangun minimarket syariah. Madinah Syariah, nama supermarket itu, merupakan anchor tenant di Plaza Millenium Medan. Fendy sejatinya merupakam anak seorang pengusaha sukses di Medan, namun ia memilih berbisnis sendiri. Mengibarkan bisnis sendiri. Orang tuanya adalah pemilik Macan Yaohan Group.Tak salah menyebut Fendy sebagai pengusaha idealis karena dalam berbisnis ia tak semata memburu profit.
Ia mengembangkan bisnis ritel syariah, memulai dengan mendirikan supermarket seluas 2500 m2, menempati dua lantai di Plaza Millenium. Ia berani mengambil resko dengan mendirikan supermarket syariah pertama dengan skala besar di Medan. "Awalnya banyak yang pesimis, di Medan kok mendirikan ritel syariah. Tapi saya yakin peluangnya ada, tinggal masalah edukasi. Dulu bank syariah juga susah, tapi sekarang lihat, bank-bank konvensional ramai-ramai buka unit syariah," ujar Fendy seraya menjelaskan tagline supermarketnya dengan "Halal itu Berkah".
Rupanya keyakinan Fendy tak bertepuk sebelah tangan. Ketika penulis berkunjung di outletnya di Plaza Millenium, supermarket Madinah Syariah ini cukup ramai dikunjungi pembeli. "Jangan salah, yang berkunjung disini tak hanya Muslim, tapi juga non Muslim dan kalangan masyarakat Tonghoa Medan," ujar Fendy.
Menurut pengamatan Fendy, supermarketnya banyak dikunjungi karena memang menerapakn seleksi ketat secara syariah baik dari sisi produk, pelayanan maupun proses, sehingga lebih aman bagi konsumen. Selain tidak menjual produk haram seperti minuman keras, pihaknya juga tak mau memasarkan produk yang proses dan bahannya tidak halal dan diimpor secara ilegal. Tak heran, ketika banyak superarket beberapa waktu lalu anjlok penjualannya gara-gara produk impor makanan mengandung melamin, pihaknya tidak kena dampak. "Dari awal kita sudah screening, yang bahan dan prosesnya seperti itu nggak halal. Nggak higines. Semua orang apapun agamnya pasti suka dengan produk yang sudah diverfisikasi seperti itu," katanya.
Setelah sukses membangun supermarket Madinah Syariah, Fendi sendiri segera mengembangkan minimarket syariah, tak ubahnya Alamart dan Indomart namun produk dan sistem kerjasamanya juga dnegan pola syariah. Nama minimarketnya MadinahMart, sekarang ini sudah ada dua outlet minimarketnya. Selain itu juga punya outlet-outlet minimarket yang dinamai MESMart, kerjasama investasi dengan organisasi Masyarajkat Ekonomi Syariah. "Kita memang sedang mengembangkan usaha ini dengan menggandeng mitra-mitra investasi yang satu misi," ujar ria kelahiran 10 November 1972 ini. Fendy Leong juga aktif berkegiatan sosial selain menekuni bisnisnya.
Sudarmadi
Baca kisah bisnis menarik lainnya :
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat di Indonesia
Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe
Aduuuh, Baru 24 Perguruan Tinggi Yang Sudah Terapkan Jaminan Mutu
Dari 3.103 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, ternyata hanya 24 PT yang dinilai berhasil menerapkan praktek baik dalam pengelolaan mutu pendidikan. Jumlah PT yang melakukan praktek baik ini dianggap menurun dari tahun ke tahun. Sebelumnya, tahun 2008 terdapat 68 PT yang dinilai melakukan praktek baik dan kemudian jumlahnya menurun lagi menjadi 58 PT di tahun 2009. Hal itu dijelaskan Direktur Akademik DIKTI Prof. Ir. Illa Sailah, M.Sc., Ph.D. Penurunan jumlah perguruan tinggi yang melakukan praktek baik dalam pelaksanaan kegiatan mutu akademik ini, menurutnya, disebabkan tidak dilaksanakan proses penjaminan mutu secara internal dan eksternal di masing-masing perguruan tinggi dan tidak konsistennya dosen-dosen perguruan tinggi dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan belajar mengajar.
"Kita banyak temukan perencanaan itu baru disusun saat akan terdapat proses assessment akreditasi berdasarkan BAN,"? Kata Illa Sailah dalam seminar penjaminan mutu Perguruan Tinggi pada gedung pertemuan UC UGM. Illa menyebutkan 24 PT yang masuk daftar tadi masih didominasi perguruan tinggi ternama.
Dia menambahkan, proses penilaian praktek baik PT dievaluasi berdasarkan kesesuaian perencanaan & aplikasi dengan adanya dokumen mutu, manual mutu, kebijakan mutu, SOP mutu dan formulir mutu, baik dilakukan pada taraf universitas, fakultas hingga program studi. "Dan itulah yang disebut praktek baik," ucapnya.
Llah mengaku nir mudah menerapkan penjaminan mutu di perguruan tinggi. Kendati begitu, pihaknya terus mensosialisasikan pentingnya penjaminan mutu lewat perguruan tinggi bersangkutan dan kopertis pada wilayah. "Proses diseminasi masih terus kita lakukan. Kita menganjurkan setiap perguruan tinggi dengan dasar aturan yang telah terdapat kini ini buat segera menerapkan sistem penjaminan mutu baik internal dan ekternal," ujarnya.
Penulis Buku "Konsep & Strategi Inisiasi Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi" Prof. Ir. Toni Atyanto Dharoko, M.Phil, Ph.D., berkata konsep dasar penjaminan mutu pada UGM mencakup tiga hal, pertama, acara studi melakukan penjaminan mutu. Kedua, fakultas mengkoordinasikan pelaksanakan penjaminan mutu taraf program studi & ketiga, universitas menjamin bahwa fakultas dan prodi melakukan penjaminan mutu menggunakan benar & sinkron planning.
Untuk mengklaim mutu sebuah pendidikan tinggi, usahakan dilakukan melalui evaluasi program studi berbasis penilaian diri yang dilakukan sang Ditjen Dikti. Kemudian proses akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan Penjaminan mutu (quality assurance) oleh perguruan tinggi masing-masing. "Ketiganya disinergikan menjadi sistem penjaminan mutu perguruan tinggi," katanya.
XL Axiata dan UI Gelar XLFL Global Thinking Angkatan Ke-6
PT XL Axiata Tbk. (XL Axiata) dan Universitas Indonesia (UI) jalin kerja sama melalui program XL Future Leaders (XLFL) Global Thinking tahun ini. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dan mendorong semangat para generasi muda Bangsa menjadi pemimpin yang mampu bersaing secara global di masa mendatang
Chief Corporate Affairs Officer XL Axiata, Eka B. Danuwirana menyampaikan, selama lima tahun terakhir program XLFL Global Thinking dilakukan buat merekrut mahasiswa-mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
?Tahun ini, melalui acara yg sama XL Axiata ingin memperluas manfaat program XLFL menggunakan menjalin kolaborasi menggunakan UI melalui acara pendidikan dan training bagi mahasiswa. Kami berharap dengan adanya kerja sama ini dapat lebih mempertinggi kemampuan mahasiswa & mendorong semangat para generasi belia Bangsa sebagai pemimpin yang sanggup bersaing secara global pada masa mendatang? Ucap Eka pada program XLFL Day pada Auditorium Soeria Atmadja, Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Kampus Depok baru-baru ini.
Direktur Kemahasiswaan UI, Dr. Arman Nefi memaparkan, program Kerja Sama XL Axiata ? UI ini berupa kolaborasi pada bidang pendidikan, penelitian dan darma pada rakyat. Program kolaborasi ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa UI menurut banyak sekali jurusan. Salah satunya merupakan menggunakan memanfaatkan dan mengikuti Program XLFL Global Thinking yg secara spesial akan diberikan pada program XLFL pada tahun ini.
?Melalui kolaborasi ini kami konfiden akan bisa menaikkan kualitas mahasiswa yang akan lebih dipertajam baik kemampuan akademis & juga kempampuan soft skill buat mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin masa depan,? Ujar Arman.
Lebih lanjut dijelaksan, program XLFL Global Thinking mengajarkan banyak sekali kompetensi yang dibutuhkan generasi belia buat mampu berkiprah pada tingkat global, termasuk sanggup bersaing dalam memperebutkan posisi-posisi strategis di berbagai perusahaan multinasional dunia pada masa mendatang. Program ini sudah melahirkan 5 angkatan yg terbentuk dengan 3 angkatan pada antaranya sudah menyelesaikan program. Secara total, program ini telah mentransfer ilmu & pengetahuan mengenai kepemimpinan dan aneka macam keahlian berorientasi masa depan bagi 700 peserta.
Untuk bisa mengikuti acara berdurasi dua tahun ini, syarat yg wajib dipenuhi antara lain merupakan berstatus menjadi mahasiswa aktif, berusia aporisma 21 tahun, pada saat mendaftar sedang menempuh tahun pertama atau kedua acara S-1, terbuka buat seluruh jurusan, serta memiliki IPK minimal 2,8. Program XLFL ini terbuka buat semua mahasiswa yang beredar pada seluruh Indonesia. Untuk program XLFL tahun ini, jumlah peserta yang diterima berjumlah minimal 120 orang terpilih melalui serangkaian seleksi ketat yang diadakan oleh XL. Tidak ada kuota spesifik buat masing-masing wilayah pada ketika seleksi peserta dilakukan.
Para mahasiswa yang tertarik buat mengikuti acara XL Future Leaders dapat mengikuti seleksi dengan melakukan pendaftaran secara online via website join.Xlfutureleaders.Com yang dapat dilakukan mulai 6 Maret sampai 6 Juni 2017. Bagi peserta yang lulus pendaftaran online akan diumumkan pada bulan Juli 2017. Peserta yg lulus pendaftaran online akan mengikuti tahap selanjutnya yaitu tes Bahasa Inggris & interview yg diadakan pada Juli 2017. Peserta yg lulus termin ini akan diumumkan dalam Agustus 2017.
Metland Hadirkan Online Payment
Perusahaan pengembang properti yang banyak mengembangkan proyek residensial dan komersial, PT Metropolitan Land Tbk (Metland) diam-diam sudah memperkenalkan Metland online payment (M-Pay.id) untuk memudahkan pelanggan Metland dalam melakukan transaksi pembayaran. Layanan ini juga merupakan inovasi dengan fitur lebih lengkap yang diperkenalkan oleh sebuah perusahaan pengembang properti.
Para pembeli tempat tinggal di proyek Metland bisa mengakses M-Pay.Id buat membayar uang muka, cicilan uang muka, cicilan pembayaran tempat tinggal khusus konsumen menggunakan pilihan pembayaran melalui kredit developer serta pembayaran Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL). Layanan ini juga bisa dimanfaatkan oleh penyewa toko (tenant) Mal Metropolitan & Grand Metropolitan dapat melalukan pembayaran melalui M-Pay.Id buat pembayaran sewa bulanan, service charge, pembayaran listrik, air & gas.
Dalam mengembangkan sistem ini, Metland menggandeng DOKU sebagai penyedia layanan pembayaran elektronik terkemuka di Indonesia. Metode pembayaran yang tersedia di M-Pay.id saat ini adalah pembayaran online dengan menggunakan DOKU Wallet, kartu kredit Bank Mandiri, klik pay Mandiri dan ATM Channel via ATM Bersama, Prima, Alto. “Kedepannya kami akan terus menambahkan lebih banyak lagi pilihan pembayaran ke dalam M-Pay.id. Kami berharap dengan beragam pilihan metode pembayaran online yang kami sajikan, penghuni/tenant Metland dapat lebih mudah dan nyaman melakukan pembayaran online,” komentar Thong Sennelius, CEO DOKU.
Hadir & melayani pasar eCommerce Indonesia dari tahun 2007, DOKU dianggap menjadi penyedia solusi pembayaran elektronik oleh bisnis menurut majemuk skala bisnis, mulai berdasarkan Enterprise, UKM, Startup, Penjual online individu dan konsumen Indonesia yg gemar belanja online. Saat ini DOKU telah melayani lebih menurut 4000 merchant menurut majemuk industri dan terhubung pribadi menggunakan 9 bank buat menyajikan kemudahan pada layanan pembayaran elektronik bagi merchant-merchantnya.
PT Metropolitan Land Tbk sendiri memiliki proyek residensial dan komersial. Untuk residensial, Metland memiliki proyek Metland Menteng, Metland Tambun, Metland Cibitung, Metland Cileungsi, Metland Transyogi & Metland Puri pada Cipondoh, Tangerang. Sedangkan buat properti komersialnya merupakan Hotel Horison Bekasi, Mal Metropolitan, Grand Metropolitan, @HOM Hotel Tambun, Hotel Horison Seminyak dan Metland Hotel Cirebon. Memanfaatkan kemajuan teknologi fakta Metland terus berinovasi buat membangun kemudahan-kemudahan bagi pelanggan menggunakan tujuan menaikkan loyalitas pelanggan terhadap
produk Metland.
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Investor luar negeri cari kawan lokal buat kongsi bisnis
Kinerja PT Timah, Kuartal I 2017 Raih Laba Rp 65,86 Miliar
PT TIMAH (Persero) Tbk atau TINS kembali membukukan pendapatan pada Kuartal 1 tahun 2017 sebesar Rp2,05 triliun atau naik 57,24% dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan disebabkan oleh naiknya harga rata‐rata komoditas di kisaran 19K ‐21K. Keberhasilan TINS meningkatkan kinerja produksi berdampak positif terhadap
perolehan laba yang mencapai Rp65,86 miliar.
Meningkatnya kinerja produksi bijih timah tak lepas dari target Perseroan yang diemban tahun ini yaitu antara 32K – 35K ton. Pada kuartal I‐2017, produksi bijih mencapai 7.675 ton meningkat
125,37% dibandingkan kuartal I‐2016. Keberhasilan ini tak lepas dari kebijakan Perseroan melakukan rekondisi & replacement, pembesaran kapasitas dan penguatan sarana pendukung produksi.
Beberapa yang dilakukan Perseroan demi peningkatan kinerja produksi seperti pembukaan unit baru
tambang darat, penambahan armada kapal produksi, serta adopsi teknologi peleburan yang lebih
efektif melalui alokasi belanja modal sebesar total Rp2,6 triliun.
Saat ini produk Perseroan mengalami peningkatan penjualan logam timah menjadi sebesar 6.963
mton pada kuartal I‐2017. Sedangkan produk hilir yang dijual oleh Perusahaan Anak, PT Timah
Industri juga mengalami kenaikan penjualan yaitu tin solder menjadi 114 ton dan produk tin chemical
menjadi 890 ton. Produk hilir saat ini mempunyai potensi pasar yang besar karena masih sedikit pemain hilir timah domestik. Jika Perseroan dapat memenuhi target produksi bijih antara 32K – 35K
ton pada akhir tahun, dipastikan pendapatan Perseroan akan meningkat signifikan dibandingkan tahun 2016, apalagi jika melihat harga logam timah dunia yang cenderung stabil di angka US$20.000
perMt hingga kuartal kesatu tahun 2017.
Perseroan juga fokus pada peningkatan jumlah cadangan maupun sumber daya timah untuk
keberlangsungan bisnis. Perseroan tahun ini mengganggarkan belanja modal sebesar Rp140 miliar
untuk meningkatkan kinerja eksplorasi termasuk menemukan cadangan baru. Saat ini PT TIMAH
memiliki IUP sebanyak 128 buah dengan total luas wilayah 473.303 hektar dengan cadangan timah
sebesar 335.909 ton dan sumber daya timah 737.546 ton. Pada kuartal pertama 2017 diperoleh
sumber daya sebesar 3.720 ton. Untuk cadangan yang sudah dimiliki, PT TIMAH melakukan evaluasi & verifikasi nilai cadangan yang masih tersedia untuk dieksploitasi.
Di samping bisnis pertimahan, PT TIMAH memiliki beberapa Anak Perusahaan berbasis kompetensi
yang diharapkan dapat meningkatkan pemasukan pendapatan Perseroan.
Sebagai anak perusahaan yang bergerak di bidang jasa galangan kapal, PT Dok & Perkapalan Air
Kantung (DAK) berencana ekspansi dengan membangun Graving Dock tahap 2 & 3, pembuatan 4 unit Kapal Isap Produksi (KIP), serta 4 unit kapal aluminium. Di samping itu, akan dibangun pula galangan kapal di Kundur, Ende, sesuai timeline yang direncanakan. PT DAK berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp27,39 miliar dengan profit sebesar Rp1,43 miliar pada kuartal I‐2017.
PT Timah Karya Persada Properti (TKPP) adalah Anak Perusahaan berbasis bisnis properti yang
menggarap proyek seluas 176 Ha. Untuk tahap awal dibangun 3 cluster rumah tapak berjumlah total
670 unit di Zona Ayodya seluas 15 Ha. Sampai akhir tahun ini TKPP diprediksi mampu menjual 300‐an unit dengan nilai transaksi Rp200‐an miliar.
Sekretaris Perusahaan, Nur Adi Kuncoro optimis kinerja Perseroan pada semester 2 lebih bagus lagi
jika dibandingkan pada kinerja Kuartal I 2017, apalagi jika dibandingkan dengan semester 2 tahun
2016. “Perseroan memanfaatkan momen di saat harga komoditas yang stabil diangka US$19K – 22K
per Mt dengan meningkatkan volume produksi melalui berbagai terobosan kebijakan operasi,
ditambah lagi dengan cuaca saat ini yang memasuki musim kemarau, sehingga merupakan saat di
mana Perseroan dapat meningkatkan produksi bijih,” ungkapnya.
Nur Adi Kuncoro meyakini Perseroan dapat mencapai target produksi bijih yang dicanangkan
Perseroan diakhir tahun. “ Dengan asumsi produksi biji Kuartal I mencapai 7.675 Mt maka pada akhir tahun bisa mencapai 32K Mt dan itu akan menambah motivasi Perseroan untuk bisa mencapai angka 35K Mt,” simpulnya.
2016, Indonesia Textiles Export Reach $11.87 Billion
In the two months of early 2017, Indonesia?S textile and textile product (TTP) export have touched United States (US)$2 billion, or up by tiga% compared to the same period in the previous year.
"The TTP industry, which is also an export-oriented labor-intensive sector, can be a social paling aman net because it employs a lot of workforce, up to now, estimated at three million workers," said Airlangga Hartarto, Minister of Industry on Monday (4/24).
The Ministry of Industry noted that TTP industry?S investment value in 2016 reached IDR7.54 trillion, with a significant foreign exchange gain from the export value of $11.87 billion, as well as employing as much as 17.03% of the total workforce in the manufacturing industry.
According to Airlangga, the national textile industry industry during the last three years has experienced a contraction in growth, one of which is driven by new investments and factory expansion in order to increase production capacity, one of which is Sritex.
"For that, we express our appreciation to Sritex for increasing its investment by IDR2.6 trillion to bolster production capacity in spinning mills and finishing, which will absorb the new workforce of 3,500 workers," he explained. This certainly has a positive impact on tax revenues for the state and at the same time can meet some of the needs of domestic raw materials that are still imported.
Iwan Setiawan Lukminto, President Director of Sritex, revealed that the expansion of the factory provided a rise in the company's production capacity.
"With the expansion, Sritex Group currently has 24 spinning mills, seven weaving plants, lima finishing plants and 11 garments, with a total employee of over 50,000 people," he said. Therefore, the development and improvement of human capitals becomes the company's priority.
"Human capitals are the company's leading assets formed by structured pembinaan. In addition, we apply the corporate culture with an integrated and innovative so as to get a tough human resources, skilled, competent and character, "he explained.
In order for the national textile industry to improve its competitiveness, which required not only the capital and technology aspects, but also competent human capitals are absolutely necessary.
Therefore, the Ministry of Industry is making efforts to facilitate the improvement of human resources through a acara of cooperation that links and match between industrial companies with vocational high schools (SMK).
The Ministry is able to invite 117 companies to sign a cooperation agreement with 389 vocational high schools in an effort to run industrial vocational education programs in the region of Central Java and Yogyakarta.
This acara is a continuation of which has been launched in Mojokerto, on 28 February 2017 involving as many as 50 companies and 234 vocational high schools in East Java.
Indonesia Still as The largest textiles and apparel producers in ASEAN
The textile and garment industry is an important contributor to Indonesia’s economy, serving as a large source for jobs and export earnings. Being one of the largest textiles and apparel producers in the region, the country has a long tradition of producing and exporting ready-made garment and home- fashion textiles.
The textile and apparel industry continues to play a major role in Indonesia's economy, contributing significantly to the country's gross domestic product growth and its foreign exchange earnings. The Indonesian government is hopeful that Indonesia's export share in the world market will increase from 1.8 percent currently to 4 or 5 percent in the next 10 years. The MOI has committed to keeping up its support of the Indonesian textile industry through fiscal incentives to help the industry stay competitive on the global market.
Indonesia continues to be a leading textile and apparel producer in the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) region. However, in contrast to several other ASEAN countries, Indonesia has not signed any trade agreements that allow for its textile exports to enter the U.S. or EU at special tariff rates, a circumstance that has affected the industry's competitiveness globally.
Indonesia is pushing for a Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) with the EU that would reduce or eliminate trade barriers such as import tariffs. CEPA negotiations have not yet commenced. Indonesian textile exporters have pleaded with the Indonesian government to lobby the U.S. for an extension of the Generalized System of Preferences (GSP), which greatly benefited Indonesia's textile industry by giving preferential treatment to its exports to the U.S.
China Need To Imports More Salmon
China?S growing demand for salmon has been happening across the last decade ? Even after a clash with Norway that resulted in the Scandinavian country?S produce banned from Chinese export
Individual levels can show how more Chinese consumers are eating salmon. Take a look at Scotland?S China-bound salmon exports. In 2009, just lima tonnes of Atlantic salmon was shipped to China from Scottish producers.
Flash forward to 2013, and that figure has risen to 9,709 tons ? An colossal increase of 194,080 percent.
Individual provinces from chief salmon supplying countries are also exporting more. Salmon farmers in the Los Lagos region of Chile, China?S biggest supplier of Atlantic salmon, has seen a 73.9 percent rise in their exports on the Chinese market.
The story is much the same throughout the world. Chile has bumped up its export levels, experiencing a 72 percent year-on-year rise in Chinese salmon exports between January-July 2016. These exports came to a total of 31,000 tons.
Norway, the previous biggest exporter of salmon to China prior to 2010, has had its export volumes took a major knock after a half-decade long diplomatic tussle. The tail end of 2016 saw a re-normalisation of relations between the two states, reopening Chinese ports to Norwegian salmon. Before their dispute Norway accounted for 90 percent of all salmon on the Chinese seafood market.
Relations between Norway and China are back to normal, suggesting export levels could increase exponentially in 2017 and beyond. The Norwegian Seafood Council has assigned $1.15 million dollars for marketing throughout China this year ? Around 10 times its usual China-focussed marketing budget. Annual import values come to around 80,000 tons annually.
Much of this total is Atlantic salmon, while other varieties, such as pink, chum, masu, chinook and coho, make up the remainder.
China imports millions of dollars? Worth of salmon annually
Annual imports of salmon in China total $300 million ? A huge figure, which means its drive to source quality salmon products is truly international. As well as from Scottish and Chilean producers, China?S stocks of salmon come from Norway, Canada, the US, and potentially Russia too.
With Norway?S volumes dropping, Chile is now the largest individual supplier, in value terms, shipping produce worth $96.Lima million across 2016. It should be pointed out that Chilean seafood prices rose 6 percent at the end of last year, due to algae bloom restricting supply.
Chile also enjoys a free trade agreement with China so its products are not subject to import tariffs. Norway, despite its re-establishing of trade norms with China, has witnessed a quite a large drop in export volumes. 2016?S Norwegian salmon exports totalled just $21.4 million ? Roughly a third of pre-2010 values.
UK-based producers sent salmon exports worth $71.8 million to China in 2017, making the country China?S second largest supplier of salmon. Russia could become a new seafood partner for China, as a new free-trade deal for Russian companies has been put in place in China?S Harbin city. Over 500,000 tons of pink fish, including salmon, is caught by Russian companies annually.
Harbin?S trade agreement lowers import tariffs on Russian seafood, opening the gates for Russian salmon going forward.
Hotels, restaurants driving Chinese salmon import boom
80 percent of all salmon eaten in China is consumed at hotels, restaurants and other commercial dining establishments. Salmon is still seen as a premium product in China, meaning its hotel chains and foodservice companies are the big suppliers.
Why? Most salmon supplied to China is sourced from countries with strong labelling and food safety standards. Labelling and import documents revealing high hygiene standards and country of origins are marks of quality on the Chinese import market and a major draw for HORECA sector members.
Salmon is becoming more accessible to Chinese consumers. Norwegian produce is now being sold online via Alibaba, one of the world?S biggest B2B internet marketplaces. E-commerce is changing the way China buys seafood, so more salmon could end up on plates across the country in the very near future.
Middle class growing boost salmon demand in China
China may soon become an even bigger customer for Alaska salmon, and not just the bright red fillets. Since 2011 when it zoomed past Japan, China has purchased more Alaska seafood than any nation, with purchases nearing $800 million ? Some 54 percent of all Alaska exports are sent to China.
In Chinese culture, fish symbolize abundance and prosperity. A growing middle class now earns the equivalent of about $25,000 in U.S. Dollars annually, giving buyers disposable income to spend on such high-end food as salmon. Add in increasing public concerns about food safety and pollution, and it means Alaska is poised to send even more salmon to China.
A photo-filled Alaska Sea Grant report — called Consumer Preference and Market Potential for Alaska Salmon in China — gives a glimpse of that potential in a country with 1.4 billion people. Researchers from the University of Alaska Fairbanks and Purdue University spent more than three months surveying some 1,000 urban supermarket shoppers in Beijing, Shanghai and Guangzhou. Here's a sample of what they found:
*While nearly 40 percent of Chinese consumers said they eat seafood at least once a week, only about 9 percent eat salmon that often, and 7 percent have never eaten salmon. Carp is the most popular fish consumed in China.
*More than 66 percent consider seafood to be healthier than other foods, and more than 25 percent prefer wild-caught seafood. Nearly the same number did not understand the difference between wild and farmed fish or consider it unimportant.
*Almost 40 percent of Chinese consumers said they eat salmon in restaurants and prefer it raw, as sashimi or sushi. Nearly 18 percent eat salmon in the same uncooked ways at home.
*More than 68 percent said they would be more likely to buy Alaska salmon knowing it comes from a clean environment and is sustainably harvested.
*Nearly 59 percent of Chinese urbanites said they might buy Alaska salmon if available at an acceptable price. They also find parts of the fish that most Americans toss in the trash appealing.
Chinese culinary traditions include cooking fish heads, tails, and bones for various soups and stews. Supermarket prices showed salmon heads selling for $4.99 per pound, salmon skins at $2.46, and salmon bones at $5.10 per pound.
The report said those low-value parts can add significant value to Alaska seafood exports to China.
"Consumers, if presented with more opportunities to purchase Alaska salmon, would favor the wild fish because of its health benefits, pristine source waters and sustainability," said Quijie "Angiedanquot; Zheng, a study co-author along with H. Holly Wang, Quentin Fong, and Yonggang Lu, all professors within Alaska's university system.
The salmon potential has not been lost on Norway, the world's top producer of farmed fish. The national fish news website seafood.Com reports that Norway plans to export 343 million pounds of farmed salmon to China by 2025, worth about 4.4 billion yuan, or $646 million.
Hefty salmon harvests
Alaska is the second largest salmon harvester in the North Pacific, topped only by Russia, and it leads all other nations in releases of hatchery-reared fish.
That's according to the North Pacific Anadromous Fish Commission, which revealed last month that salmon catches reported by member countries ? Canada, Japan, Korea, Russia, and the U.S. ? Remain at all-time highs.
Since 1993, the commission has tracked the abundance and origins of chum, silver, pink, red, king, and cherry salmon ? As well as steelhead trout ? In the North Pacific, Bering Sea and the Sea of Okhotsk.
Salmon abundance is based on aggregate commercial catches of the five nations, which in 2016 totaled nearly 440 million fish, just slightly below previous years.
Russia ranked No. 1 for total salmon catches with 967 million pounds. U.S. Fleets took 617 million pounds ? With all but 19 million pounds of the U.S. Catch coming from Alaska.
Next came Japan at 245 million pounds, and Canada at 47 million.
Pink salmon made up 41 percent of the total catch by weight, with Russia hauling in 75 percent of the pink pack. That was followed by chums at 33 percent, reds at 21 percent, and silvers at tiga percent. King salmon made up just 1 percent of the North Pacific catch.
Hatchery releases of salmon from member countries topped 5 billion fish in 2016 (38 percent of the total salmon catch), similar to numbers over the last three decades.
The U.S. Released 37 percent of the hatchery fish, followed by Japan at 37 percent, Russia at 19 percent and Canada at 6 percent.
Sixty-five percent of the hatchery releases were chum salmon, followed by pinks at 24 percent. Chinook, sockeye and coho salmon releases were lima percent or less.
Pinger paybacks
Alaska salmon fishermen can get rebates on pingers aimed at keeping marine mammals away from their gear. The 6-inch, battery-operated tubes are tied into fishing nets and transmit animal-specific signals every five seconds.
"Pingers can be really helpful to alert the whales to something in front of them, so you have less entanglements," explained Kathy Hansen, director of the Southeast Alaska Fisheries Alliance.
The alliance received a $25,000 Hollings Grant from the National Marine Sanctuary Foundation to fund the pinger acara, which pays out $25 rebates for up to five pingers per permit per vessel.
Pingers retail for about $100 each, which adds up by the time you put the number needed for the length of a salmon net.
"A Southeast gillnet that is 200 fathoms long needs at least five," Hansen said.
The rebates are good for any Alaska salmon fishery.
Hansen uses pingers in her salmon gear and swears by them.
"It's not 100 percent effective ? Kind of like a red stop light. Ninety nine percent of the people will stop, and there's that one percent that might not. But we've used them on our fishing gear for about six years and are completely sold on them," she said.
And, she added, pingers don't act like a dinner bell for whales, nor affect the salmon catch.
"In our personal experience and all the people we've talked to say they have not seen any kind of dinner bell effect with the pingers," Hansen said. "And they do not scare the fish away. We constantly see fish clumped up next to the pingers."
China Shrimp Market Up, Will Import More
The US and Japan were traditionally the largest importers of shrimp, but China is importing larger quantities of the shellfish than ever before. Consumption has more than doubled since 2005. Over a decade ago, China was consuming around 700,000 tons each year.
As of 2016, Chinese consumers are eating 1.7 million tons of shrimp annually. This is a massive increase ? In the region of 123% compared with 2005?S levels. Over the past five years consumption of shrimp has risen 60%.
China itself is a shrimp producer and exporter, the world?S largest in fact, yet, as with many seafood varieties, domestic demand cannot keep up with rising consumption levels. Subsequently, imports of shrimp products, including white leg, black tiger and processed shrimp, are growing in volume and value.
During the first half of 2016, China imported 68% more shrimp compared with the same period in 2015. 32,000 tons of the crustacean made its way to China during this period. Subsequently, greater demand has led to a price hike ? Meaning Chinese importers are willing to pay more for top quality products.
Total imports hover around the $600 million mark, judging by January-July 2015?S import values of $323.3 million. Prices tend to experience spikes around November-December in preparation for the Chinese New Year. Around this time, China?S food imports can expand by as much as 30-50% - creating a seasonal market exporters need to know about.
South American producers win big on Chinese shrimp import market
China?S shrimp trading partners come from every corner of the globe. While the nation is geographically close to several seafood producing nations, such as Thailand, India, and Vietnam, South America is home to the biggest suppliers of shrimp to the Chinese seafood market.
Argentina and Ecuador are China?S chief shrimp suppliers. Historically, Ecuador led the way with its exports, but Argentina overtook its regional rival to become the biggest exporter of shrimp to China.
According to data from the International Trade Centre (ITC), the following countries are the top 5 origins of 2015?S Chinese shrimp imports were:
1. Ecuador – 25,635 tons
2. Argentina – 20,251 tons
3. India – 8,997 tons
4. Indonesia – 8,342 tons
5. Thailand – 4,303
(import levels reflect trade across the whole of 2015)
China?S shrimp import landscape has subsequently changed. In the first half of 2016, Argentine producers exported 13,155 tons of shrimp to China ? An increase of 194% compared with the same period in 2015.
Ecuador, despite being overtaken by Argentina, shipped 94% more China-bound shrimp during this period, compared with 2015, hitting 9,217 tons.
The value of Argentina?S Chinese shrimp exports, during the aforementioned period, totalled $81.7 million. Comparatively, Ecuador?S shipments cost Chinese importers $65.Tiga million.
Other shrimp-exporting countries include Pakistan, Australia, Estonia, Madagascar and Mexico. Collectively, these five nations? Exports accounted for tiga,242 tons. Other nations, according to data from the ITC, sent 1,822 tons to China. This includes countries such as Vietnam, Canada, Greenland and a variety of other seafood producers dotted across the globe.
With imports on the rise, consumption more than doubling, and with China keen to source its shrimp needs from around the world, it is quickly emerging as a significant export market for seafood producers.