Dibalik sukses jaringan restoran Jepang Takigawa

Inilah kisah dan sosok dibalik sukses jaringan restoran jepang Takigawa yang kini sudah punya puluhan outlet di Indonesia dan juga eksis di bisnis penyewaan tenda. Pendirinya memulai bisnis dari nol. Outletnnya sudah ada di puluhan lokasi, termasuk di Senayan City, Citos, Atrium Setiabudi, dan banyak lagi. Bagi warga menengah-atas Jakarta tentu sangat sangat kenal restoran Takigawa. Ini salah satu pioner jaringan resto Jepang di Indonesia.
Sukses jaringan resto ini tak lepas dari keuletan pendirinya, yakni pasangan Andrian Rosano dan Renny F. Kedua yang sama-sama lahir tanggal 10 Februari 1972 ini sudah berteman baik sejak di bangku SMP. Keduanya justru memulai bisnis dari penyewaan tenda. Perusahaan yang dibangun sejoli ini sekarang dikenal sebagai raja bisnis penyewaan dan dekorasi tenda di Indonesia. Jasanya sudah sering dipakai kalangan berduit di Jakarta dan beberapa kota besar lain.
Dua sejoli ini memulai mengasah kewirausahaannya saat keduanya kuliah di Universitas Trisakti. Modalnya seadanya. Andrian sendiri semasa masih bersekolah di sebuah Sekolah Menengah Atas pada Surabaya, pernah belajar bisnisa dengan berdagang produk output bumi impor. Ia biasa membeli hasil bumi seperti bawang menurut Pelabuhan Tanjungperak, kemudian ia jual ke para pedagang di pasar-pasar Surabaya.
?Pokoknya apa saja saya lakukan buat menyambung hayati di Surabaya,? Kata Andrian mengenang. Sewaktu balik ke Jakarta & kuliah pada Fakultas Hukum Trisakti, Andrian pun kuliah sembari berbisnis. ?Karena itu, aku dikenal sang sahabat-teman sebagai PDG, alias pedagang, hahaha,? Ungkapnya.
Bersama Renny, ia lalu mendirikan perusahaan dagang (trading company). ?Waktu itu aku dagang secara serabutan. Dagang apa saja. Saya pernah jadi agen pemasang iklan kecil. Pernah juga jadi agen koran dan majalah yg bisnisnya mulai dari jam 3 pagi,? Ungkapnya. Lantaran disambi, Andrian mengaku baik bisnis juga studinya kurang optimal. Namun, jika dalam jadwal kuliah ada janji bertemu relasi usaha, umumnya dia menentukan meninggalkan kuliah demi usaha. Tak heran, beberapa kali ia mengajukan perlop kuliah & seringkali menghilang dari kampus. Ia merasa kuliahnya bisa terselesaikan karena friksi orang tua dan calon mertua.
Sewaktu menjadi agen sebuah media Andrian merasa memperoleh pengalaman krusial yg kelak memengaruhi pilihan bisnisnya. Selama sebagai agen media itu dia merasa diperlakukan kurang fair. Lantaran masih muda & termasuk agen baru, beliau hanya diberi diskon 20%, sedangkan agen lain menerima bonus 30%.
Dengan cara itu ia merasa bisnisnya tidak akan kompetitif & sulit menjadi angka satu. ?Katanya sih memang ada mafianya pula,? Ungkapnya. Tak heran, semenjak itu Andrian bercita-cita suatu ketika jika membesarkan usaha sendiri tidak ingin tergantung dalam prinsipal. ?Saya wajib jadi prinsipalnya, agar saya bisa menentukan taktik aku sendiri,? Pungkasnya tandas.
Untuk menemukan usaha yg tak tergantung pada prinsipal itu, pasangan Andrian-Renny sudah mencoba menjalankan berbagai usaha, misalnya usaha parsel. Ketika naik pelaminan, muncullah ide untuk berbisnis penyewaan & dekorasi tenda. Sumber inspirasinya adalah sebuah buku perkawinan terbitan luar negeri. ?Kenapa kami tidak mencoba membuat misalnya ini sendiri?? Pikir Andrian kala itu.
Kebetulan pula, tenda misalnya dalam kitab itu belum terdapat di Indonesia. Keduanya lalu tetapkan dekorasi dan tenda pelaminan mereka dibentuk sendiri, dengan donasi sahabat-sahabat. ?Menjelang tengah malam midodareni, calon pengantin prianya terdapat di genteng, pasang-pasang tenda sendiri,? Istilah Renny mengenang sembari tertawa.
Ternyata, sebagian besar tamu yg datang memuji tendanya. Karena itulah, Andrian-Renny berpikir buat membisniskannya saja. Apalagi, keduanya merasa, usaha penyewaan & dekorasi tenda seperti yg mereka inginkan, belum dimasuki orang lain. Tahun 1995, pasangan ini mulai menggelindingkan usaha penyewaan & dekorasi tenda, menyasar kalangan menengah-atas.
Bisnis ini dikibarkan menggunakan merek Ten Party menggunakan payung usaha PT Cipta Arta Sepuluh ? Nama ten dan sepuluh dipakai buat mengenang pasangan ini sama-sama lahir tanggal sepuluh dan sampai saat itu telah berpacaran sepuluh tahun. Desain, contoh, rona & bahan-bahan tenda Ten Party dirancang sendiri. Bersamaan menggunakan dimulainya bisnis tenda, usaha trading lainnya ditutup. ?Kami wajib fokus. Semua modal kami alihkan ke bisnis tenda ini,? Pungkasnya. Waktu itu kapital awalnya lebih kurang Rp 400 juta, diambil menurut laba & modal bisnis sebelumnya. Uang sebesar itu habis buat membeli bahan-bahan tenda, gudang, & perlengkapan pendukung.
Ternyata usaha tenda tidak segampang yg dibayangkan. ?Awalnya susah banget. Segala upaya promosi kami lakukan, akan tetapi nggak ada yg menelepon,? Renny membeberkan. Upaya promosinya diantaranya lewat radio, media cetak, bikin spanduk, & menunjukkan brosur. Bahkan, pengantin baru ini sampai membagi-bagikan brosur ke pom-pom bensin & persimpangan lampu merah.
Toh demikian, waktu itu belum kunjung tiba hasilnya. ?Rupanya konsumen ngeri, tenda kami dianggap terlalu mengagumkan. Apalagi, ketika itu tema kenaikan pangkat kami adalah ?Hadirkan Ballroom pada Halaman Rumah Anda?,? Ujar Andrian mengenang. Spesifikasi tenda dan dekorasinya memang cukup keren: menggunakan lampu gantung, lantainya parket, & sebagainya. Harga sewanya juga 10 kali lipat berdasarkan harga sewa dalam umumnya. Kalau yg lain Rp dua.000 per m2, tarif sewa tenda Ten Party Rp 20.000 per m2.
Toh, sesulit-sulitnya jalan niscaya terdapat celahnya. Rupanya setelah beberapa bulan dikibarkan, ada satu-dua orang yang kemudian tertarik mencoba jasanya. ?Mereka ini kelompok orang yang nir peduli dengan harga, yg krusial hasilnya bagus. Beliau-beliau inilah yg memakai jasa kami pada masa awal,? Kata Andrian. Dari sedikit orang itu lalu berkembang menjadi poly pelanggan. Maklum, sesudah mereka melihat hasilnya eksklusif di pesta yg dihadiri, mereka merasa terkesan.
?Dari satu pesta menjadi tiga pesta. Dari tiga pesta sebagai 9 pesta, & seterusnya. Bisnis kami berkembang misalnya telur yg menetas. Lantaran itu, kami konfiden sekali, promosi paling efektif pada dunia ialah menurut ekspresi ke verbal (word of mouth). Apalagi, usaha kami ini bukan produk massal, tapi butik,? Andrian memperlihatkan menggunakan berfokus.
Dari getok tular itulah usaha tenda Ten Party makin berkembang, bahkan pula ke luar kota seperti Medan, Bandung, Surabaya, Makassar dan Samarinda. Jika dalam bulan-bulan pertama sebulan hanya mengerjakan pesanan satu pesta, menginjak tahun kedua per minggu mampu mengerjakan 7 event pesta. Ketertarikan para pengguna ini ditimbulkan desainnya yang berkelas, indah, unik & customized (contohnya, pengguna mampu memesan modelnya sinkron menggunakan selera apakah modern, klasik, etnik, & sebagainya). Jurus layanannya adalah menghadirkan suasana ballroom di laman tempat tinggal klien, dengan modal peralatan dan tendanya.
Hingga kini tak sedikit kalangan menengah-atas yang menjadi pelanggan Ten Party. “Misalnya pernikahan kalangan selebriti seperti Syahrul Gunawan, Cut Tari, Tia Ivanka. Kalau dulu pernikahan Mbak Tata & Mas Tommy, Yenny Rachman, Dandy Rumakna & Lulu Tobing, dan lain-lain. Kami nggak enak menyebutkan satu-satu,” papar Andrian. Setelah itu, ternyata juga ada beberapa perusahaan yang menyewa jasa Ten Party untuk mendesain venue di proyek properti mereka.
“Kami juga dipandang sebagai konseptor venue karena biasa menyulap sebuah tempat menjadi seperti yang diinginkan pemiliknya. Banyak orang besar yang meminta bantuan kami,” ungkap Andrian sambil menambahkan, soal tarif buat mereka tergantung pada kompleksitasnya, dari Rp 15 juta (di dalam gedung) hingga di atas Rp 1 miliar. “Ini bisnis seni, sulit ditetapkan standar harganya,” Andrian menegaskan.
Mince Tinton Suprapto adalah salah satu pelanggan sekaligus mitra bisnis Ten Party. Istri pembalap senior Tinton Suprapto ini juga berbisnis di bidang dekorasi, tapi bidangnya nontenda. “Saya sering pakai Mas Andrian untuk acara-acara di sirkuit Sentul,” kata Mince. Ia mengaku klop dengan pengelola Ten Party, sehingga kerja samanya cukup awet. “Andrian bisa mendesain dan memvisualiasi konsep-konsep desain yang saya inginkan,” tutur ibunda Ananda Mikola dan Moreno ini.
Meski Ten Party kini sudah bisa dibilang sukses, bukan berarti tidak ada riak dalam perjalanannya. Contohnya, Ten Party pernah mengalami overload. Karena permintaan yang membludak – pernah dalam sehari mengelola 10 event pesta – Ten Party sempat kewalahan. Tenaga kerja dan peralatannya diambil secara cabutan. “Waktu itu kami merasa bisa mengerjakan dengan mudah. Padahal ada sesuatu yang kami lupakan. Semua dibuat berdasarkan sistem sehingga personal touch seorang Andrian jadi berkurang.
Tak heran ada beberapa pelanggan yang komplain kenapa tidak sebagus biasanya,” Andrian bercerita. Belajar dari sana, Ten Party mulai membatasi per minggu maksimum mengelola lima acara pesta. Kecuali, kalau ada permintaan dari pelanggan lama yang sudah loyal. “Misalnya keluarga Mbak Tutut. Bila tiba-tiba telepon minta tolong untuk mengelola acara keluarganya, masak kami mau menolak? Nggak mungkin, apalagi beliau sudah lama memakai jasa kami.”
Menjelang tahun kelima bisnis tendanya, Andrian-Renny mulai memikirkan bisnis lain yang dibutuhkan di tiap pesta selain dekorasi dan tenda. Mereka melihat peluang di bisnis katering. “Food & beverage biayanya terbesar di tiap pesta,” Andrian memberi alasan. Namun, ia berpikir tak asal menyediakan jasa katering, melainkan harus bisa menyediakan makanan sehat yang siklusnya bisa bertahan lama. Dari situ dipilihlah masakan Jepang. Kebetulan Andrian-Renny dan anak-anak mereka memang penggemar berat masakan Jepang, sehingga tahu cukup banyak. “Waktu itu belum ada katering masakan Jepang yang menonjol. Yang ada dari hotel-hotel besar saja,” kata Andrian.
Agar usaha katering masakan Jepang ini sukses, pasangan ini tak mau tanggung-tanggung. Mereka menyempatkan pergi ke Jepang untuk survei masakan Negeri Matahari Terbit itu, hingga masuk ke jalan-jalan dan warung-warung kecil di Tokyo. Keduanya mencari ide-ide masakan Jepang dan cara mengolahnya, termasuk masakan yang belum dipopulerkan resto-resto Jepang di sini tapi potensial dikembangkan. Kesimpulannya, mereka harus berani menghadirkan jasa katering masakan Jepang yang lengkap. Simpelnya, seperti lima restoran disatukan. Ada sukiyaki, chankonabe, sushi, shabu-shabu, dan sederet masakan Jepang lainnya.
Agar investasinya cepat balik, Andrian berpikir sekalian saja mendirikan restoran Jepang. Pasalnya, kalau cuma mengandalkan jasa katering, sulit sekali mencapai titik impas, sebab dapur dan peralatannya khusus dan mahal. Toh, mereka terbentur masalah besar, yakni: modalnya belum ada.
“Modalnya belum ada. Kami kan bukan anak konglomerat. Jadi, kami harus menabung dulu dari bisnis Ten Party,” ujar Andrian. Baru sekitar empat tahun sejak ditemukannya ide itu, Andrian-Renny merealisasikan usaha katering plus resto Jepang. Resto besutannya itu dinamai Takigawa – dalam bahasa Jepang, takigawa berarti air terjun yang mengalir. Gerai pertama di Jl. Panglima Polim, Jakarta Selatan. Jadi, di resto ini pula usaha katering masakan Jepang digelindingkan bersama-sama. Luas tanahnya 350 m2 dan kapasitas tempat duduk untuk 120 orang. “Kami tidak menyewa konsultan atau manajer. Kami berdua inilah manajer dan konsultannya,” kata Andrian mengenang saat merintis usaha resto lima tahun lalu.
Toh, lantaran tak ingin gagal, Andrian-Renny membajak 7 orang chef terbaik dari 7 resto Jepang paling top di Jakarta. Ketujuh ahli masak ini dijadikan karyawan, dan dengan mereka, Andrian-Renny mengajak bersama untuk menemukan formula masakan Jepang yang sesuai dengan lidah konsumen Indonesia. “Kami tak semata-mata mengumpulkan menu dari ke-7 orang itu. Kalau cuma itu nanti jumlah menu kami bisa banyak banget, dan kalau dibukukan bisa setebal Al Quran. Kami menciptakan menu baru yang harus lulus tes lidah 9 orang tadi,” Andrian menguraikan.
Dengan cara ini, Takigawa bisa melahirkan menu-menu masakan yang lengkap dan disukai, selengkap empat-lima restoran dijadikan satu. Sebagai contoh, ada nigiri sushi, kamameshi, kushiyaki, sashimi, temaki, shabu-shabu, dan bakmi. “Kami salah satu pionir jenis restoran Jepang bernuansa fusion cuisine di Jakarta,” ucap Andrian bangga. Sebagai konsekuensi pencampuran ide itu, apalagi dapurnya juga melayani jasa katering, membuat dapur Takigawa complicated. Tak heran, untuk dapur saja butuh tiga lantai sendiri.
Cara promosi yang dilakukan sejoli ini untuk mengorbitkan Takigawa juga menarik. Yakni dengan merekrut selebriti dan kalangan sosialita untuk jadi PR agent Takigawa. Misalnya ada Marissa, Ivy Purwita, Dina Lorenza dan Davina Veronica. Mereka ini sosok yang sering tampil di majalah-majalah sosialita. “Daripada ngerumpi doang, mereka kami ajak ngerumpi di Takigawa, dan dapat gaji lagi,” ungkap Andrian.
Sebenarnya tujuan Andrian mengajak komunitas artis itu agar mereka mau mencoba sajian di Takigawa. Karena itu, sebagai endorser mereka hanya dipakai dua-tiga bulan, dan biasanya lalu diganti selebriti lain. “Sebab, kalau sudah dua-tiga bulan seluruh kawan dan keluarganya mungkin sudah diajak ke Takigawa. Dari situ diharapkan akan ada beberapa pelanggan yang sudah mencoba kemudian loyal,” Andrian membeberkan jurusnya.
Kombinasi citarasa masakan yang pas, plus promosi yang mengena, rupanya membuat penetrasi Takigawa relatif cepat. Adapun bisnis kateringnya berjalan dengan baik pula. Sehingga, sejoli ini makin percaya diri untuk membuka gerai berikutnya, yakni di La Piazza, Kelapa Gading, mal milik Grup Summarecon. Bila luas lahan untuk gerai pertamanya hanya 350 m2, di La Piazza luasnya lebih dari 1.000 m2. “Sampai sekarang gerai kami yang terbesar masih di La Piazza,” kata Andrian. Menariknya lagi, untuk menempati gerai ini Takigawa tidak dikenai biaya sewa sepeser pun karena memakai pola bagi hasil (revenue sharing).
“Kami ke sana cuma bawa peralatan dapur dan furnitur, selebihnya sudah disediakan manajemen La Piazza. Sangat efisien,” ungkapnya bangga. Konon, ini semua bagian dari tanda terima kasih Sutjipto Nagaria, pemilik Grup Summarecon, karena Andrian telah membantu mengonsep dan mendesainkan venue La Piazza. Resto ini juga disambut pasar cukup baik. Karena itu, tahun berikutnya Andrian-Renny langsung membuka lagi satu gerai Takigawa di Setiabudi One (Atrium Setiabudi), Kuningan, Jakarta.
Melihat resto Takigawa yang selalu ramai, beberapa pelanggan Takigawa datang ke Andrian-Renny agar mereka diberi kesempatan memiliki Takigawa. “Terus terang kami awalnya bingung bagaimana memenuhi permintaan teman-teman itu,” cerita Andrian. Karena merasa tidak enak, akhirnya Andrian mempersilakan teman-temannya untuk bekerja sama dengan pihaknya menggunakan pola waralaba. “Terus terang kami nggak pernah menawarkan franchise kami. Mereka yang datang meminta ke kami karena sudah menjadi pelanggan Takigawa. Kami setujui beberapa figur supaya sekalian bisa jadi public relations,” tutur Andrian.
Namun, ia menegaskan prinsipnya tak ingin menjual hak waralabanya secara massal. Karena itu, ia tak pernah mau ikut pameran. “Resto kami ini resto butik. Kami harus hati-hati mengembangkannya. Kami tidak cari uang dari menjual royalti waralaba. Kami juga harus memastikan investor kami untung,” Andrian menuturkan beberapa prinsip bisnis restonya. Itu saja tak cukup. Harus didukung dari sisi komunikasi. “Kami dan dia (investor) juga harus klop kalau mengobrol, karena kerja sama franchise untuk 10 tahun. Bayangkan, kalau 10 tahun bertengkar melulu? Harapan kami, kalau berbisnis selain dapat uang juga harus senang kan.”
Andrian menambahkan, saat ini terus ekspansi membuka jaringan restonya. Ia bekerjasama dengan para pemodal dengan pola kerjasama bagi hasil dan juga ada yang pola franchise. Model kerjasama ia susun sendiri dan bersifat unik sehingga berbeda dengan para pengelola franchise lain. Dalam memilih mitra Andrian selalu memilih investor yang mau bekerja keras dan bervisi jangka panjang.
Dalam hal event, Andrian berusaha menjaga eksklusivitas, sehingga per minggu hanya menangani lima event. “Kami ingin melayani pasar kami sendiri yang sudah loyal selama ini.” Bisnis tenda dan dekorasinya itu ternyata sudah pula diwaralabakan lima tahun lalu, sebab banyak yang tertarik setelah melihat Ten Party menggelar tendanya di beberapa kota besar seperti Medan, Makassar, Bandung, Semarang, Surabaya dan Samarinda.
“Ten Party termasuk bisnis tenda dan dekorasi yang sudah punya mitra waralaba,” katanya bangga. Franchisee Ten Party antara lain sudah ada di Bandung, Surabaya dan Samarinda. “Kami di Jakarta yang jadi motor desainnya, dan alat kami juga diputar hingga ke daerah,” ungkap Andrian.
Kini, bisnis Andrian-Renny sudah mempekerjakan lebih dari ratusan orang. Menariknya, mereka memberikan bagian saham di perusahaan holding kepada beberapa karyawan senior yang sudah menunjukkan loyalitas, kompetensi dan kejujurannya. “Saya berharap ini bisa menjadi tabungan bagi anak-anak mereka kelak ketika mereka sudah tidak bekerja lagi,” kata Andrian bijak.
Ya, selama ini sang pasutri mengelola perusahaannya dangan cara kekeluargaan, seperti hubungan bapak-ibu dengan anak-anaknya. Setiap karyawan bebas meneleponnya untuk konsultasi. Tak heran, karyawannya cukup loyal. “Tujuh chef yang kami ajak saat pertama mendirikan resto juga belum ada satu pun yang keluar,” kata Andrian sembari menyebutkan bahwa bisnis utamanya adalah bisnis tenda.
Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu resep bisnisnya bisa maju – baik di bisnis tenda maupun resto – adalah karena inovasi. Apalagi di kedua bisnis itu kini persaingannya makin ketat. Di bisnis tenda misalnya, kini banyak pengusaha keturunan India dan Tionghoa yang masuk. Kalau dulu ia tergolong perintis yang membuka pasar, sekarang pemainnya sudah ratusan.
“Kami bisa bertahan karena inovasi. Kalau kami meleng sedikit saja pasti disalip kompetitor,” katanya. Menyadari tingkat persaingan yang tinggi, semua desain Ten Party telah dipatenkan agar tidak dijiplak seperti pada era sebelumnya. Cara ini juga dilakukan di bisnis resto yang dapurnya dipusatkan di kediaman mereka di bawah komando langsung Renny, supaya aman dari peniruan.
Andrian menyebut bisnisnya berkembang karena dari awal ditekuni sendiri. “Kami sendiri yang mengopeni. Kami percaya, kalau menekuni bisnis sebaiknya memang mesti menceburkan diri, dan mendalami agar benar-benar bisa mengerti. Sehingga apes-apesnya bisnis kami nggak jalan atau tutup, paling tidak kami sudah dapat satu, yaitu ilmunya. Ilmu itu modal yang paling mahal kalau ingin sukses,” Andrian menerangkan filosofinya. “Lagi pula, bisnis yang diopeni dan ditekuni sendiri oleh sang pemilik, biasanya akan lebih maju karena ada personal touch dan passion dari sang pemilik.”
(Penulis: Sudarmadi, email: wingdarmadi@gmail.com)
Kisah bisnis menarik lainnya:
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Halaman Khusus untuk Informasi Resmi Seputar Covid-19

Headlinekaltim.co - Sejak wabah virus corona mulai melanda Indonesia awal Maret 2020 lalu, informasi yang tidak benar banyak tersebar di Facebook. Untuk menanggulanginya, raksasa teknologi asal Menlo Park, AS, itu mulai menyediakan informasi edukasi seputar Covid-19 di beranda Facebook dan kolom pencariannya.
Dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/4/2020), pihak Facebook mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk membantu menghilangkan dan mengurangi informasi palsu terkait virus corona di Facebook, Whatsapp dan Instagram.
Edukasi tersebut berbentuk pesan pop-up berisi tombol yang menghubungkan pengguna dengan otoritas dan organisasi kesehatan, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Anda juga bisa menemukannya melalui tautan berikut.
Ketika pengguna Facebook mencari tentang " virus Corona" atau hal yang terkait dengan kata kunci tersebut, mereka akan melihat sebuah posting yang menyarankan bahwa mereka dapat menemukan informasi lebih detail di situs nasional untuk penanganan Covid-19.
"Fokus kami adalah memastikan semua orang memiliki informasi yang akurat, memutus rantai misinformasi dan konten berbahaya, memberikan dukungan bagi tenaga kesehatan dan upaya bantuan, serta mendukung pemerintah daerah, komunitas, dan pemilik bisnis," ujar Facebook.
Selain itu, pengguna Facebook juga dapat menemukan post di Kabar Beranda (News Feed) yang akan mengarahkan mereka ke situs nasional penanganan Covid-19 untuk informasi seputar wabah virus Corona.
Facebook turut bekerja sama dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan organisasi dunia seperti WHO dan UNICEF untuk memberikan informasi yang akurat tentang Covid-19 atau corona yang melanda Indonesia.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
Berita harian media online Kalimantan Timur, Samarinda, Kutai Kartanegara, Balikpapan, Bontang, Kutai Timur, Berau, PPU, Penajam, Kutai Barat, Mahakam Ulu
Bosan di Rumah? Marvel Berikan Akses Komik Online Gratis
Headlinekaltim.co - Salah satu publisher komik ternama asal Amerika Serikat, Marvel mencoba memberikan hiburan gratis bagi para pembaca komik yang saat ini tak bisa kemana-mana lantaran masih mewabahnya virus Corona. Hal itu diberikan dengan cara menggratiskan akses komik online mereka.Mengutip dari TheVerge (03/04/20), Marvel dikabarkan mulai memberikan akses tanpa batas (unlimited) untuk beberapa komiknya hingga tanggal 4 Mei 2020 mendatang. Ini artinya, bagi pecinta komik Marvel bisa mengaksesnya sekitar sebulan tanpa harus membayar satu rupiah pun.
Komik online Marvel tersebut bisa diakses melalui berbagai platform, mulai dari Android, iOS, ataupun melalui website resminya. Selama masa gratis ini, pengguna juga tak perlu menginput metode pembayaran pada layanan tersebut.
Berikut beberapa daftar judul komik Marvel yang bisa diakses secara gratis:
– Avengers vs. X-Men
– Civil War
– Amazing Spider-Man: Red Goblin
– Black Panther by Ta-Nehisi Coates Vol. 1
– Thanos Wins by Donny Cates
– X-Men Milestones: Dark Phoenix Saga
– Avengers: Kree/Skrull War
– Avengers by Jason Aaron Vol. 1: The Final Host
– Fantastic Four Vol. 1: Fourever
– Black Widow Vol. 1: S.H.I.E.L.D.’s Most Wanted
– Captain America: Winter Soldier Ultimate
– Captain Marvel Vol. 1: Higher, Further, Faster
Setelah masa gratis ini usai, pengguna akan diminta untuk membayar layanan komik Marvel secara unlimited sebesar US$9,99 per bulan. Hingga saat ini, Marvel sendiri sudah memiliki lebih dari 27.000 judul komik yang bisa diakses melalui platformnya tersebut. technologue
Berita harian media online Kalimantan Timur, Samarinda, Kutai Kartanegara, Balikpapan, Bontang, Kutai Timur, Berau, PPU, Penajam, Kutai Barat, Mahakam Ulu
Makanya, penting berguru pada banyak mentor
Beberapa saat kemudian aku membaca keluhan galat seseorang peserta mailing list yg mengomentari soal adanya beberapa pemula bisnis yang merasa 'tersesat' lantaran mengikuti kiat yg dianjurkan sang seorang mentor kewirausahaan. Orang itu mengatakan telah banyak para pendaftar wirausaha yg akhirnya terjerembab dan punya hutang bahkan hingga miliaran rupiah lantaran mengikuti 'kiat berbisnis sebaiknya menggunakan uang orang lain menjadi kapital alias utang. Intinya, dianjurkan bahwa berwirausaha itu harus berani & modalnya gunakan duit orang lain. Prinsip ini, ucapnya, telah membuat orang sebagai 'amat-berani' untuk berhutang kepada pihak lain buat meraih permodalan. Tapi ya itu tersebut, AKHIRNYA banyak yg gagal dan meninggalkan hutang menurut yg puluhan juta, ratusan juta, bahkan terdapat yang sampai miliaran. Saya tentu ikut prihatin & sedih bagi yg kena musibah itu.
Sebagai orang yang bersimpati pada para pendaftar wirausaha saya hanya ingin menaruh sedikit masukan dari kabar yang aku peroleh. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam menjalankan usaha yang memang punya resiko ini, jangan pernah hanya berguru pada satu mentor. Jangan bertaklid pada satu orang. Kita mesti memperbanyak sumber fakta, asal surat keterangan, mendapatkan kiat2 dan wisdom-wisdom sebesar mungkin. Dan lalu mencari mana saja diantara keterangan dan kiat-kiat yg dikemukakan berbagai pengusaha itu yg paling cocok dan relevan buat usaha kita & latarbelakang kita.
Maklum, setiap pengusaha sukses punya pengalaman & kiat sukses yg mampu jadi hanya relevan buat industri beliau sendiri, tapi nir cocok buat bidang yang lain. Seorang yg sukses pada usaha pendidikan sebut saja, belum tentu sukses ketika menjalankan usaha properti, aparel (fashion), ritel, dealership, atau agro bisnis contohnya. Inilah yg kadang-kadang kita tak tersadar sebagai akibatnya 'asal ikut' pada keliru satu pengusaha, padahal pengusaha yg kita ikuti itu hanya expert untuk satu bidang saja dan poly gagal pada banyak bidang lainnya. Sekali lagi, kita jangan membabi-buta mencontoh satu pengusaha, tapi ambillah banyak 'air' berdasarkan banyak sumber mata air, lalu dari situ kita harus menggabungkannya sebagai air terbaik & segar pada kolam kita.
Saya punya model menarik pengusaha yg menerapkan prinsip itu, yaitu Pak Harijanto. Kebetulan Pak Harijanto ini jua aku profilkan dan saya ulas panjang lebar pada kitab aku (Sudarmadi) yg sudah cetak ulang pada Gramedia, "10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0". Pak Harijanto ini pengusaha sukses pada bidang sepatu. Karyawannya 9.000 orang. Ia alumni UNS yg dulunya benar-sahih orang susah. Beliau ini jua punya banyak mentor yang selalu ia kagumi & banyak dia ambil kiat-kiatnya. Contohnya, bila dia belajar mengenai SDM & bagaimana mengelola anak-butir, maka beliau banyak belajar menurut Pak TP Rachmat. Pak TP Rachmat ini orang yang membesarkan Astra dan menata sistem pada Astra sampai sanggup sebagai perusahaan partikelir terbesar pada Indonesia yg sistem manajerialnya diakui paling baik pada Indonesia. Entah telah berapa puluh penghargaan diperoleh Astra menjadi best company menurut aneka macam forum. Pak Harijanto poly belajar menurut Pak TP Rachmat soal bagaimana mengelola orang & mengakibatkan anak buah kita prodktif, loyal dan menampilkan kinerja terbaoknya. Tapi bila bicara turn arround manajemen (membenahi perusahaan-perusahaan sakit), Pak Harijanto berguru dalam pengusaha-pengusaha yang lain. Salah satu yang beliau kagumi adalah Robby Djohan, mantan Presdir Bank Mandiri yg belakangan pula sukses jadi entrepreneur.
Jadi, intinya, kita wajib belajar berdasarkan sebesar mungkin orang terbaik yg ahli pada bidangnya masing-masing. Harus diingat bahwa pengusaha-pengusaha sukses itu, sebagaimana kita, juga punya poly keterbatasan dan mereka jua hanya expert buat bidang beliau saja. Makanya kita sendiri yang harus bijak menyaring aneka macam masukan yg kita terima dan kita sesuaikan (harmonize) yg sesuai menggunakan konteks usaha kita. Jangan pernah membabi-buta mengikuti anjuran atau kiat satu mentor saja. Jangan asal berani, termasuk berani berhutang. Bukankah dalam kepercayaan hutang itu jua ada pertanggungjawabannya di akherat? Jadi, semakin banyak sumber fakta & mentor yang sanggup kita ambil kiat-kiatnya, akan semakin baik bagi kita. Tetapi jua diharapkan kemampuan kita buat memfilter mana yg paling cocok buat kita.
Thanks
Sudarmadi
Penulis kitab '10 Pengusaha Yg Sukses Membangun Bisnis berdasarkan 0danquot; terbitan Gramedia.
Buku Penting Bagi Yg Ingin Sukses Merintis Bisnis Sendiri

Salam sejahtera buat seluruh
Just informasi bagi seluruh teman dan pembaca, khususnya yang sedang belajar bisnis dan yg ingin suatu ketika punya usaha sendiri. Jangan lewatkan kitab Gramedia Pustaka Utama (GPU) tentang entrepreneurship berjudul " 10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI O (NOL)" ditulis Sudarmadi. Buku ini sangat relevan & diharapkan bagi yg ingin sukses memulai & merintis bisnis sendiri. Buku ini mengulas kiat2 & misteri sukses 10 pengusaha akbar yang sudah terbukti sukses membangun usaha dari nol. Pengusaha yg diulas adalah mereka benar2 sudah terbukti sukses, dengan usaha yang telah mapan. Mereka ini sukses karena perjuangannya sendiri, bukan usaha warisan ortunya sebagai akibatnya sisi pembelajarannya relatif poly yang diulas jatuh-bangunnya.
Ke-10 pengusaha ini bidang bisnisnya jua berbeda2. Ada yang bisnisnya fashion, aparel, tas, sepatu, tambang, jasa kurir/logistik, perikanan, jasa hukum, lelang, main dealer kendaraan beroda empat/motor & consumer good. Rata-homogen karyawannya sudah ribuan. Mereka bercerita misteri suksesnya dan hal-hal terpenting dalam merintis dan membesarkan usaha. Buku ini relatif tebal... 390-an page..Karena kisah dan jatuh-bangunnya ketika perintisan diulas seluruh.
10-pengusaha1
Saya kira buku ini sangat perlu buat kawan2 peminat entrepreneur, dari sini kita mampu belajar dari orang yg sudah terbukti (proven) pada membentuk usaha hingga skala besar . Diantara yang diulas, pengusaha tas menurut Bandung pemilik tas merek Exsport, Eiger, Bodypack (dll) yang ternyata beliau itu saat memulai modalnya nggak hingga Rp 1 juta, tetapi sekarang omsetnya telah ratusan miliar & karyawannya 2.000 orang (belum termasuk ribuan pengrajin plasma yg diajak). Orang ini bercerita panjang-lebar kenapa sukses dan bagaimana sulitnya dulu dia menembus buat bisa diterima menjadi pemasok pada jaringan Matahari & Ramayana.
Lalu, terdapat pengusaha perikanan dari Jatim alumni IPB yg dulu modalnya pinjam pamannya tetapi kini salah satu eskportir terbesar pada Indonesia. Orang ini bisa kuliah lantaran sambi ngajar privat pada SMA-Sekolah Menengah Atas, orang tuanya nggak sanggup. Tapi sekarang karyawannya 5.000 orang.
Ada juga mantan karyawan Astra yang sekarang sukses mengelola bisnis sendiri di bisnis sepatu & karyawannya juga sudah 9.000 orang. Padahal pengusaha sepatu ini awalnya hanya penjaga gudang di Batik Semar. Orang ini agama Nike di Indonesia.
Yang juga menarik, pengusaha kurir yang usianya belum genap 40 tahun tetapi telah punya karyawan 2.000 orang. Orang ini dulunya supervisor di Dinners Club yang kemana2 gelantungan naik bus kota di Jakarta, tapi kini sukses menciptakan bisnis kurir menggunakan modal jual cincin mas kawin.
Bagi para peminat bisnis di bidang dealer atau distributor, ada profil menarik Rudy Suardana. Dia pengusaha Kaltim yg sukses sebagai main dealer mobil & motor Suzuki di Kaltim. Dia dulu dibesarkan pada panti asuhan lho. Kawan-kawan bisa belajar bagaiamana sih inti bisnis dealership itu. Apa yg harus dilakukan bila ingin survive.
Tak hanya itu, bagi para pendaftar usaha consumer good misalnya makanan, minuman, farmasi, dll, terdapat pengusaha muda yang sanggup dipelajari. Dia pemilik Group Kino yg awalnya hanya distributor kecil tetapi kemudian mengembangkan diri sebagai pemain akbar di consumer good.
Ada pula pengusaha sukses di usaha lelang. Beliau awalnya jualan kudapan manis tetapi terus rajin belajar & menciptakan proposal. Makanya sanggup berkembang bisnisnya & lalu menemukan global usaha lelang. Dari sini mitra-mitra bisa tahu bahwa jikalau punya ilham dan gagasan usaha, itu sanggup dijual ke investor & kita dapat saham lho!
Terus, bagi yg ingin sukses merintis usaha aturan misalnya lawfirm atau notaris, kitab ini pula relevan karena terdapat pengusaha bidang hukum yang diprofilkan. Beliau awalnya hanya dimodali orang saat buka kantor, lalu sukses berkembang menjadi lawyer BIG Ten di Indonesia. Padahal dia perempuan lho... Menarik deh...
Saya kira banyak hal krusial & perlu pada jadikan ilham & model dalam menciptakan usaha. Menariknya kitab ini, kita belajar berdasarkan orang2 yg sudah menunjukan, bukan sekedar teori. Buku ini bisa didapatkan di Gunung Agung, Gramedia, dan toko-toko buku besar lainnya.
Salam sukses
Mantan PNS yang Sukses di Bisnis Sawit
Bagi orang Kalimantan Timur, nama Luther Kombong sudah tak asing lagi. Maklum, selain pengusaha sukses, Luther termasuk tokoh daerah itu. Ia juga pernah di kursi Dewan Perwakilan Daerah mewakili provinsi ini. Luther termasuk pengusaha terpandang di Kal-Tim yang memulai semuanya dari bawah. Setamat SMA, Luther tak bisa kuliah karena keterbatasan ekonominya, sehingga ia kemudian memutuskan bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS)
Pengusaha berdarah Toraja yang tumbuh dan akbar pada Kal-Tim ini dikenal sebagai pengusaha unik. Luther sukses pada bisnis perkebunan kelapa sawit, padahal sporadis sekali atau bahkan hampir tak terdapat pengusaha lokal yg sukses pada usaha ini. Kebanyakan pengusaha lokal punya bisnis hak pengusahaan hutan (HPH). Tak heran, pada Kal-Tim masih ada beberapa perkebunan sawit, tapi semuanya milik perusahaan besar dari luar Kal-Tim, seperti Astra Agro Lestari, Lonsum, Sinarmas, & lain-lain.
Yang pula menarik, Luther termasuk pengusaha terpandang di Kal-Tim yang memulai semuanya menurut bawah. Setamat Sekolah Menengah Atas, Luther tidak mampu kuliah karena keterbatasan ekonominya, sehingga dia kemudian memutuskan bekerja menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Namun dia memang pekerja keras & sangat menyukai tantangan. Tak heran, saat dia sebagai PNS, dia jua berusaha mencari kesibukan lain, yakni berbisnis mini -kecilan. Luther pernah punya restoran, kantin, penyewaan tunggangan, hingga pernah menangani proyek pembangunan prasarana.
Boleh dibilang, sewaktu sebagai PNS beliau telah mencicipi mendapatkan uang yg lumayan besar dari usaha sampingannya. Sampai suatu waktu, dia dinasihati oleh seseorang relasinya. ?Kalau jadi PNS terus, kamu tidak pernah akan sanggup kaya atau cukup. Kamu harus membarui nasib menggunakan sebagai entrepreneur. Apalagi kamu punya sifat dan karakter yang dibutuhkan buat sebagai entrepreneur,? Luther menceritakan nasihat relasinya itu.
Sampailah pada 1986, di tahun inilah Luther mengajukan surat pengunduran diri sebagai PNS. Tetapi sang atasan & rekan kerjanya dia masih ditahan-tahan & disarankan supaya mengambil cuti di luar tanggungan negara saja. Saran itu sempat beliau ikuti, tapi kelanjutannya beliau permanen tetapkan keluar berdasarkan PNS. Semenjak itu beliau menjalankan usaha kontraktor. Ia poly menciptakan jalan buat proyek-proyek transmigrasi dan juga sempat mengerjakan beberapa proyek pemerintah wilayah dalam masa awal bisnisnya. Akan namun dalam perjalanannya lalu, beliau tak berminat lagi mengerjakan proyek-proyek Pemerintah Daerah. Alasannya, urusannya terlalu bertele-tele & sangat birokratis. ?Kalau birokratis tapi masuk akal, mungkin masih mampu tahan. Tapi ini lain, kami telah kerja setengah tewas akan tetapi uangnya susah keluar. Nunggunya 1/2 meninggal. Kami bekerja tapi seperti pengemis. Sejak itu kami tak tertarik lagi mengerjakan proyek-proyek pemerintah,? Luther menceritakan pengalaman pahitnya di masa awal menciptakan bisnisnya.
Belajar menurut situ, Luther kemudian hanya bersedia bermitra menggunakan perusahaan swasta murni. Ia lalu dianggap sang sejumlah perusahaan besar semisal Sumalindo. ?Sukses dianggap oleh perusahaan-perusahaan besar itulah yang membuat saya berkiprah naik,? Katanya mengakui. Tak heran, bisnis kontraktornya tumbuh sangat pesat. ?Seperti balon ditiup,? Istilah ayah 3 anak yang kini mondar-mandir Jakarta-Samarinda ini.
Kendati begitu, sukses Luther tidak dan-merta membuatnya puas. Ada kegelisahan pada hatinya. Ia melihat usaha kontraktor begitu tergantung pada pihak lain. ?Bisnis kontraktor hanya bisnis jasa kontrak karya. Ketika kami nggak digunakan lagi, maka kerjaan tidak ada. Kami ingin usaha yang long-term, bukan bisnis kontraktor misalnya ini,? Luther berujar. Pilihan yg terdapat di kepalanya adalah bisnis hotel, rumah sakit, sekolah, atau perkebunan. Tetapi, ia melihat, berbisnis hotel, tempat tinggal sakit dan sekolah di Kal-Tim ketika itu belum memungkinkan. Sementara usaha tambang batu bara terlalu banyak unsur perjudiannya, sehingga beliau kurang tertarik. Setelah menimbang banyak hal, dia menetapkan masuk ke bisnis perkebunan sawit. ?Saya pikir bisnis ini paling cocok buat Kal-Tim lantaran alamnya memang memungkinkan,? Ujar Luther.
Tahun 1998, beliau sempat ditawari Departemen Kehutanan buat mempunyai izin HPH. Tetapi dengan tegas Luther mengatakan bahwa yg dia butuhkan adalah lokasi buat perkebunan. Tentu saja langkah Luther ini lain berdasarkan kebanyakan pengusaha wilayah yg lebih senang berbisnis HPH, karena tinggal tebang pohon dan cepat menerima uang. Tahun 1998 itu Luther diberikan hak pemanfatan hutan buat ditanami perkebunan kelapa sawit seluas 20 ribu hektare. Sejak itulah kiprah Luther di usaha sawit terus bergulir. Tahun 1999, dia pribadi menanam. Kebetulan sekali, saat itu dia mampu memperoleh bibit mengagumkan menurut PT London Sumatera Plantation ? Yg ketika itu gagal menanam karena didemo masyarakat.
Untuk menggulirkan usaha perkebunan sawit lewat bendera PT Dwimitra Lestari Jaya ini, Luther hanya mengandalkan modal sendiri. ?Saya menggunakan tabungan sendiri dari hasil laba usaha-bisnis aku sebelumnya,? Ucapnya mengenang. ?Makanya pertumbuhan kami nggak mampu secepat mereka yang menggunakan kredit bank,? Lanjutnya merendah.
Toh, kini bisnis sawit Luther terus berkembang. Konsesi perkebunan yang dipegangnya mencapai 35 ribu ha (di Sangkurilang & Berau). Hanya saja, konsesi yang ke 2 (15 ribu ha) masih baru & kini dikelola putra pertamanya. Dari kebun lamanya sudah 8 ribu ha yg tertanami, dan tiga ribu ha sudah berbuah (panen). Kebun sawitnya itu menyerap kurang lebih 1.600 tenaga kerja, yg sebagian pekerjanya didatangkan dari desa-desa miskin di Pulau Jawa. Di kebun sawit itu sendiri sudah terdapat pabrik pengolahan sawit dengan kapasitas 30 ton per jam, yg rencananya bakal ditingkatkan menjadi 60 ton per jam.
Langkah Luther tidak berhenti di situ. Di huma perkebunannya, ia juga mendirikan perusahaan kayu lapis (plywood) & vinil skala sedang. Maklum buat sanggup melakukan penanaman, lebih dulu harus dilakukan mutilasi kayu hutan dengan ukuran diameter 20-30 cm. Agar tidak terdapat kayu-kayu yg terbuang menjadi limbah, beliau berpikir sebaiknya mendirikan pabrik pengolahan kayu. Ini pula sesuai dengan anggaran pemerintah yg tak membolehkan dilakukan pemusnahan menggunakan cara pembakaran. ?Satu-satunya cara ya diolah sebagai plywood,? Pungkasnya. Lantaran itu beliau mendirikan PT Panca Karya Marga Bakti yang menciptakan kayu lapis dan sekarang mempekerjakan 400-an karyawan.
Luther merasa sangat bersyukur, karena merasa dari tidak punya apa-apa, sampai sekarang punya usaha yg berkembang. Contohnya, beliau sekarang mempunyai ratusan alat berat sendiri yang diperoleh dari membeli secara leasing. Apalagi beliau juga punya aset properti bagus di Samarinda Seberang seluas 100 ha yang sedang dibangun proyek perumahan Samarinda Baru (lebih kurang 1.000 unit rumah). Sebelum krisis ia mengaku membeli tanah itu dengan harga Rp 15-20 ribu per m2, tapi kini harganya telah Rp 500 ribu per m2. ?Kalau dihitung (nilai asetnya itu) sekarang telah pada atas Rp 1 triliun. Padahal waktu krisis aku sempat mengira ini langkah usaha saya yg galat,? Ujar Luther yang juga berencana menciptakan hotel berbintang di lokasinya itu.
Dari bepergian bisnisnya itu, Luther menyimpulkan bahwa sukses berbisnis membutuhkan lima prinsip, yakni: mau bekerja keras; punya keberanian (berani mengambil keputusan); amanah (supaya meraih kepercayaan berdasarkan mitra); memelihara lingkungan; dan punya manajemen/administrasi yang baik. Soal amanah, contohnya, amat krusial buat mendapatkan agama orang. ?Kalau sudah dianggap orang berarti kami telah menjadi orang kaya. Karena orang bila telah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya pada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka interaksi itu akan putus,? Tutur Luther yang kini lebih banyak menyerahkan operasional bisnisnya kepada anak pertamanya.
Meski sanggup tumbuh sebagai pengusaha sukses, Luther mengaku sebenarnya memiliki banyak keprihatinan terhadap iklim usaha sawit pada Tanah Air. Menurutnya, kepastian aturan di Indonesia masih lemah. Juga belum terdapat political will berdasarkan pemerintah buat memajukan pengusaha. Sejauh ini menurut Luther pemerintah belum melihat mana pengusaha yg berfokus, membayar pajak dan mempekerjakan poly orang, serta mana pengusaha yg sekadar berpetualang. Ia beropini, pengusaha yg berfokus ingin membangun industri, seharusnya diberi insentif. ?Tapi pada Indonesia yg legal dan ilegal hanya beda-beda tipis. Malah birokrat lebih senang yang ilegal karena sogokannya tinggi,? Ucapnya menggunakan nada meninggi. ?Kita tertinggal jauh menurut Malaysia,? Tambahnya. Jaminan keamanan pula dinilainya masih lemah sebagai akibatnya poly perkebunan sawit yang dirusak warga . Belum lagi bunga bank relatif tinggi. ?Kalau kondisinya aman, kami niscaya sudah bisa tanam 20-30 ribu hektare sampai kini ,? Ujar Dirut PT Dwimitra Lestari Jaya ini seraya berharap.
Penulis: Sudarmadi ( wingdarmadi@gmail.Com)
Kisah usaha menarik lainnya:
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama pada Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses & Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat pada Indonesia
Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe
Xiaomi Mi Kids Watch 4 dan 4 Pro Resmi Diluncurkan
Headlinekaltim.co - Lama tak terdengar, Smartwatch Mi Kids Watch 4 baru saja Xiaomi resmikan bersama versi Pro yang sama-sama dibuat untuk anak-anak dengan fitur menarik di dalamnya.
Xiaomi Mi Kids Watch 4 atau dan Mi Kids Watch 4 Pro memiliki spesifikasi yang identik, di mana keduanya sama-sama datang dengan mengemas layar sentuh AMOLED berukuran 1,78 inci yang menawarkan resolusi 368 x 448 piksel.
Tidak perlu khawatir akan goresan layar, karena Xiaomi telah melapisi smartwatch barunya itu dengan Corning Gorilla Glass 3. Bahkan Mi Kids Watch 4 dan 4 Pro dapat bertahan di dalam air hingga jarah 20 meter.
Datang ke sektor dapur pacu, Mi Kids Watch 4 ditenagai oleh platform Qualcomm Snapdragon Wear 2500. Begitu juga dengan Mi Kids Watch 4 yang hadir bersama 1GB RAM dan 8GB eMMC.
Xiaomi Mi Kids Watch 4 dan 4 Pro kompatibel dengan OS Android 4.2 atau iOS 8 yang lebih tinggi dengan dilengkapi bersama beberapa aplikasi, seperti aplikasi obrolan, aplikasi untuk belakang, dan banyak lagi.
Ada juga dukungan NFC, tetapi versi standar kehilangan GPS dan menggantinya dengan fitur pembelajaran AI yang memungkinkannya untuk melacak lokasi termasuk di dalam tempat padat seperti mall.
Mi Kids Watch 4 Pro di sisi lain hadir dengan dukungan GPS dual-band (L1 + L5) yang canggih dan dapat melacak lokasi dengan lebih akurat. Selain itu, versi Pro juga memiliki kamera lebih baik dibandingkan dengan versi standar.
Spesifikasi Mi Kids Watch
Di mana Mi Kids Watch 4 Pro membanggakan kamera belakang 8 megapiksel dan 5 megapiksel berada di depan. Sedangkan Mi Kids Watch 4 mengganti kamera belakang menjadi 5 megapiksel. Melengkapi spesifikasi, Xiaomi telah menyematkan Bluetooth 4.2, eSIM untuk panggilan melalui jaringan 4G VoLTE yang didukung oleh semua operator utama di China, dan juga Wi-Fi 802.11 b / g / n. Sementara untuk membuatnya bisa menyala, kedua dihidupkan oleh baterai berkapasitas 9.20 mAh. Mi Kids Watch 4 menawarkan masa pakai baterai lebih kuat 8 hari, sedangkan Mi Kids Watch 4 Pro hanya dapat bertahan hingga 5 hari. Sejauh menyangkut harga dan ketersediaan, Xiaomi Mi Kids Watch 4 dan 4 Pro yang sama-sama hadir dalam pilihan warna Pink dan Blue itu rencananya akan mulai di jual di China pada tanggal 9 April mendatang. Belum ada kabar tentang ketersediaannya di pasar internasional. Tetapi di China, Xiaomi menjual smartwatch miliknya itu mulai dari 899 Yuan (sekitar Rp 2 juta) untuk versi standar, dan 1299 Yuan (sekitar Rp 3 juta) untuk varian Pro. bejagadgetSukses Karena Bisa Membuat Proposal Bisnis. Mungkinkah?
Bisa Sukses Karena Pandai Membuat Membuat Proposal Bisnis? Mungkin sekali. Ini buktinya!
Diantara sekian banyak kenalan aku menurut jajaran pengusaha nasional ialah Pak Hardianto Husodo. Beliau pengusaha yg aslinya Semarang namun usang tinggal pada Jakarta. Beliau ini juga pengusaha sukses yang benar-benar merintis sendiri kesuksesannnya. Maklum, ayahnya PNS & sudah wafat waktu dia belum memasuki dunia kerja alias masih kuliah.
Diantara cerita sukses dia yg cukup menginspirasi, artinya soal kemampuan dan cara belajar beliau tentang proposal usaha. Saya baru memahami jika proposal usaha itu krusial, ternyata bisa jadi duit dan mampu mengubah jalan hayati seorang. Beliau pernah bekerja di sebuah perusahaan semi BUMN yg banyak menerima kiriman proposal bisnis dari daerah & cabang-cabang. Nah, disitu beliau belajar bagaimana sih sebenarnya cara membuat proposal usaha itu, apa yg terdapat di dalamnya & hal-hal yg penting. Jadi beliau tahu misalnya proposal usaha yg baik itu. Pendeknya, lantaran bekerja di lembaga itu, beliau lalu jadi 'pinter' menciptakan proposal bisnis. Tak heran, beberapa pengusaha lalu meminta beliau menyebarkan proposal bisnis buat beberapa proyek usaha baru. Sebagai imbalannya, dia mendapat uang jasa. Lumayan, sembari bekerja, pula ada pemasukan karena ada income menurut kompetensi membuat proposal usaha.
Pada tahapan selanjutnya, Pak Har bukan saja mendapatkan fee berdasarkan membuat proposal itu, tetapi menawarkan wangsit & peluang bisnisnya, mengembangkan proposal bisnisnya dan lalu menjadi bagian dari pemegang saham. Modalnya apa? Ya modalnya kompetensi itu saja, nir setor modal uang. Dalam hal ini kompetensi membaca peluang prospektif, kompetensi membuatkan proposal bisnisnya, kemampaun melihat dan mencarikan pasar, dan kemauan dan keberanian buat memulai dan menjalan idenya itu apabila dipercaya pemilik kapital. Ini bukan cerita kosong.
Pak Har misalnya pernah mendirikan perusahaan AMDK & pakan ternak dengan model misalnya itu. Jadi beliau sebagai pemegang saham tanpa setor kapital. Hanya kapital pikiran, tenaga & keberanian. Contoh lain, tahun 1987 beliau terpikir memiliki pabrik pakan ternak karena melihat usaha itu cukup prospektif dan pasarnya relatif akbar. Beliau memahami hitung-hitungan dan kelayakanan bisnisnya. Ide bisnis itu lalu ditawarkannya ke seseorang pengusaha besar & ternyata menyambut baik. Jadi saat itu modal Anto hanya konsep & pikiran. Anto jua yang punya ide dan mengetahui pemasarannya. Ia juga bertanggung jawab buat pengelolaan sepenuhnya. Ia menciptakan proposal yg kemudian ditawarkannya. ?Kalau Pak Anto sanggup jamin pasarnya, aku akan membiayai,? Begitu sambutan pengusaha mitranya. Ternyata gayung bersambut.
Dari situlah Pak Har diberi saham 15% pada perusahaan itu. Ini jelas nggak main-main. Punya 15% saham di perusahaan besar . Lantaran total investasinya pada tahun 1987 telah US$ 180 ribu atau kurang lebih Rp 1,8 miliar. Ingat, ini tahun 1987 lho. Untuk tahun-tahun itu, nomor ini terbilang sangat besar lho. Waktu itu dollar masih Rp 2000-an. Pabriknya pada Kerawang. Beliau sebagai salah satu direksi, tepatnya sebagai direktur operasional.
Luar biasa. Bermodal konsep, energi, kesungguhan & keberanian, beliau bisa punya saham di perusahaan akbar. Tentu saja beliau bangga, lantaran tanpa setor modal bisa mempunyai perusahaan. Padahal usianya baru 30-an tahun. ?Inilah awal kebangkitan saya menjadi entrepreneur,? Ujar dia yang juga Ketua Asosiasi Perusahaan Lelang Indonesia itu. Beliau berdasarkan situ jua merasa percaya diri bahwa bisa menjadi entrepreneur.
Kisah Pak Hardianto memberi pelajaran bagi kita-kita yang belia-muda. Setidaknya buat 2 hal penting. Pertama, bahwa sangat mungkin kita sebagai pemilik dan pemegang saham pada perusahaan akbar tanpa modal uang. Tapi syaratnya, kita harus punya konsep, kompetensi, dan kemampuan mengeksekusi. Kedua, bahwa kompetensi membuat proposal bisnis itu ternyata krusial & mampu menghasilkan uang, & bahkan sanggup merubah nasib hayati seorang. Dalam hal ini Pak Hardianto tersebut hanya salah satu contoh saja. Pasti poly pengusaha yang sukses melalui cara itu. Karena itu tidak terdapat salahnya kita belajar soal proposal bisnis pula. Apalagi jika pinjam ke bank atau investor juga ditanyai mana proposal bisnisnya.
Semoga kita seluruh sebagai orang sukses berikutnya! Sukses yg diberkati Sang Maha Pemberi. Amin.
(Catatan: Kisah & lika-liku bisnis Pak Hardiyanto Husodo sanggup dibaca di buku "10 Pengusaha Yg Sukses Membangun Bisnis menurut 0danquot; terbitan Gramedia)
Salam
Sudarmadi
http://kisah-kiat-sukses-bisnis.Blogspot.Com/
Kisah di Balik Sukses Veranda Furniture
Tak banyak pemain produk interior impor yg sukses menggarap segmen menengah-atas. Veranda adalah keliru satunya. Apa resepnya?
Sabtu lalu Arini Arianti (45 tahun) begitu riang. Setelah setahun dikerjakan, tempat tinggal mewahnya senilai Rp dua,4 miliar di BSD City, Serpong, akhirnya berdiri tegak. Tetapi, aha..., terdapat yang kurang. Untuk menyempurnakannya, beliau pun bergegas ke Jl. Fatmawati. Di ruang pajang Veranda, dipesannya tiga bedroom set & furnitur ruang tamu.
Sebenarnya, kepergiannya ke tempat Jakarta Selatan itu terbilang mendadak lantaran dia baru membaca iklan furnitur Veranda pagi itu di sebuah harian Ibu Kota. Gerai ini dipilihnya lantaran pertimbangan yang praktis: mudah diakses berdasarkan BSD, hanya 30 mnt via tol Simatupang. Dan ternyata, sehabis datang dan melihat-lihat, ia menemukan sejumlah barang interior yg dicarinya.
Arini hanyalah satu pada antara sejumlah keluarga menengah-atas Jabodetabek yg sudah mencoba produk Veranda. Sebetulnya, bagi sebagian kalangan menengah-atas Jabodetabek -- khususnya yg menyukai furnitur gaya klasik -- nama ini tidak terlalu asing lantaran memang termasuk pemain akbar pada bisnisnya. Apalagi, Robin Wibowo, pengelolanya, terbilang rajin mempromosikan produk-produknya di aneka macam media massa, baik cetak juga elektro. Tak mengherankan, waktu ini beliau telah punya basis pelanggan loyal yang relatif kuat, khususnya di kalangan menengah-atas pengguna barang interior, seperti furnitur ruang tamu dan ruang tidur, dan pernak-pernik aksesori interior & flooring.
Perjalanan Veranda yang sekarang berkibar pada usaha barang interior, termasuk furnitur, tak bisa tanggal berdasarkan sentuhan Robin, pendiri yang pula Chairman-nya. Ia mulai merintis usaha ini selulus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, 1985. Begitu titel sarjana disandangnya, ia pribadi belajar menjual barang interior, seperti furnitur & gorden. ?Saya memang senang sekali global interior. Makanya, dari awal bisnis saya, ya pada bidang ini,? Celoteh laki-laki bershio kelinci itu. Memulai usaha berdasarkan skala mini , dia mendesain sendiri interior rumah-tempat tinggal pelanggannya, sambil menyediakan produk-produk yg diperlukan. Yang unik, kemampuan mendesain itu bukan karena ia bersekolah formal pada bidang desain. Kesukaannya dalam bidang interior itulah yg membuatnya percaya diri mendesain tempat tinggal orang.
Tak kurang dari 5 tahun bisnis skala kecil dijalankan pria bermarga Phua ini. Tetapi, berdasarkan situlah basis pelanggannya pelan-pelan tumbuh & memercayainya. Terbukti, tidak sedikit pada antara pelanggan yang sudah melihat rekam jejaknya kemudian memesan dan menanyakan banyak sekali barang interior kepadanya. Padahal, yang ditanya nir punya produk-produk tadi. Akan namun, dari situlah Robin yakin bahwa dirinya dianggap pasar sehingga bertekad suatu hari kelak akan memenuhi permintaan para klien tadi.
Rupanya, Robin tak perlu lama menunggu. Tahun 1989, momentum bagus menghampirinya. Ketika melihat-lihat pameran barang interior di Italia, Spanyol & Amerika Serikat, dia mendapati poly sekali produk interior berkualitas rupawan, khususnya furnitur. Ia pun melihat apa yg dijumpainya merupakan peluang bisnis yang wajib segera disergap. Muncullah ilham di benaknya: mengimpor ke Indonesia.
Maka semenjak 1989, Robin memboyong produk interior premium menurut luar negeri. Untuk mendukung usaha impornya ini, dia mendirikan ruang pajang pada Jl. Fatmawati. Hanya, ruang pajang yang pertama didirikan itu baru sekadarnya, standar ruko. ?Saya pilih Jakarta Selatan lantaran di sekitarnya banyak ditinggali warga middle-up,? Katanya. Veranda, kosakata Italia yg merupakan serambi, dipilihnya menjadi nama ruang pajang ini. Untuk menggelindingkan bisnis ini, beliau menggandeng beberapa sahabat menjadi investor. Hanya saja, dia yang lebih aktif & sebagai pemegang saham dominan.
Perjalanan awal Veranda bak siput. Awalnya, setiap mengimpor, Robin hanya memboyong satu kontainer yang kemudian dipajang di tokonya. Dalam tahun-tahun perintisan ini, dia bekerja sangat keras, baik di pada maupun luar negeri. Di domestik, ia membuka pasar, mengenalkan Veranda & produk-produknya ke konsumen menengah-atas. Pekerjaan yang nir gampang, apalagi saat itu sudah ada beberapa pemain bertenaga yang eksis. Sementara itu, dia pula wajib ke luar negeri, mencari kawan pabrikan furnitur yang dapat dipercaya yg bakal digandengnya menjadi pemasok. ?Dua tahun pertama, aku capek sekali. Saya keliling sendiri ke berbagai negara penghasil furnitur yg cantik seperti Italia, Spanyol & Alaihi Salam. Saya datang sendiri buat membuka jalan, agar bisa saling kenal dan menciptakan trust,? Ungkapnya mengenang.
Beruntung, upaya perintisan bisnis yang dilakukannya tidak menjaring angin. Pelan-pelan, kalangan penyuka furnitur dan barang interior premium lainnya mendengar & mencoba produk-produk Veranda. Dan boleh dibilang, produk-produk tadi memenuhi asa mereka sehingga terjadilah proses getok tular dari pelanggan ke kolega di komunitas masing-masing. Ujungnya, gampang ditebak: pelanggan terus bertambah sehingga mendongkrak skala bisnis Robin. ?Mungkin lantaran kami terlibat langsung dan sejak awal terus mengamati perkembangan minat terhadap interior pada Indonesia sehingga semua barang yg kami impor selalu disukai konsumen,? Pungkasnya merendah.
Seiring dengan kinerja Veranda yang makin moncer dan pelanggan yg makin banyak, Robin pun berpikiran memperluas ruang pajangnya supaya lebih memadai & representatif. Tahun 2002 ia mulai membangun ruang peraga yg lebih megah, terdiri berdasarkan 6 lantai. Bangunan ini menyediakan ruang pamer seluas lima ribu m2, bergaya klasik. Ruang pamer sekaligus tempat kerja ini terselesaikan dibangun & mulai digunakan tahun 2004. Biaya buat ekspansi ini dibantu bank. ?Lantaran perputaran bisnis kami rupawan, proposal yg kami ajukan ke bank dipelajari & diterima dengan positif.?
Praktis, menggunakan ruang pajang yg lebih berkelas, produk yang dijual Veranda pun semakin lengkap. Kini hampir seluruh item barang interior tersedia. ?Pendeknya, jika terdapat orang yg membangun sebuah tempat tinggal pada keadaan kosong, semua kebutuhan interiornya mampu diisi Veranda,? Ujar Robin bersemangat. Mulai dari sofa, bufet, perlengkapan kamar tidur, gorden, wallpaper sampai flooring, seluruh tersedia. Bahkan, termasuk layanan desainnya. Dari 6 lantai gedung itu, lantai 1-3 buat memajang produk-produk furnitur bergaya klasik, lantai 4-lima buat produk bergaya Amerika, & lantai 6 buat produk-produk bergaya minimalis. Soal produk yg dijualnya, Robin menegaskan bahwa sejak awal yg dijualnya 100% impor. ?Ada berdasarkan Spanyol (80%), Alaihi Salam (10%), Italia (5%), sisanya dari Thailand buat produk-produk minimalis.?
Bersamaan menggunakan bertambahnya pelanggan, skala usaha Veranda pun mengembang. Awalnya, hanya jualan satu kontainer dan baru memesan lagi waktu telah terjual habis. Namun berdasarkan tahun ke tahun, perputaran produk makin cepat. ?Kini rata-homogen sebulan 10 kontainer,? Kata Robin bangga.
Bila diamati, terdapat beberapa faktor penentu sukses Veranda yg mengusung jargon ?The Prestigius Way to Lifedanquot;. Salah satunya, kejelian melihat pasar ceruk yg dilayani. Robin tidak semata-mata melayani segmen masyarakat kelas tinggi, tapi juga menengah-atas. Ini titik diferensiasinya dibandingkan DaVinci, misalnya, yg merogoh segmen premium. ?Tidak seluruh barang kami mahal. Kami jual mulai Rp 5 juta hingga yg pada atas Rp 100 juta per item. Karena itu, customer yg segmen middle pula masuk ke sini,? Pungkasnya. Strategi melayani segmen menengah ini digelar berdasarkan pengamatan Robin bahwa jumlah pengguna menurut segmen elite nir terlalu banyak. ?Struktur rakyat kan misalnya piramida, segmen yang di tengah jumlahnya relatif poly. Ini yang kami tak ingin sia-siakan,? Pungkasnya lagi. ?Tetapi, kami tak mau masuk pada segmen low karena itu bukan kelas kami.?
Bapak 2 putri ini tidak menampik adanya anggapan pada masyarakat yang memandang furnitur klasik merupakan produk berharga mahal sehingga butuh miliaran rupiah buat memboyongnya. Padahal, tidak demikian. ?Di sini orang mau mengisi interior satu tempat tinggal menggunakan anggaran Rp dua miliar bisa, tapi hanya menggunakan Rp 200 juta, namun barang indah, juga mampu kami lakukan,? Celoteh Robin setengah berpromosi. Ia mengungkapkan, selama ini produk yang paling cepat perputarannya pada Veranda berharga Rp 20-40 juta/item.
Tentu saja, Veranda bisa menjual produk yg high maupun middle sekaligus karena kemampuan sourcing produk yang lengkap, dari kawan-kawan prinsipalnya pada luar negeri. ?Salah satu keunggulan kami, varian desain kami lengkap, sebagai akibatnya pelanggan mampu memilih desain sinkron menggunakan kesukaan mereka,? Robin pulang meyakinkan. Bedroom set, misalnya, beliau sanggup menyediakan 30 desain, sedangkan sofa lebih menurut 20 desain. Khusus buat desain, dia punya tim yg tiap tahun berangkat ke pameran furnitur pada Valencia (Spanyol) guna berkonsultasi dengan pabrik-pabrik di sana. Tim ini berdikusi soal desain produk yang cocok buat Indonesia, baik menurut sisi rona juga aksesori. ?Kami nir semata-mata membeli produk jadi berdasarkan pabrik, namun terdapat diskusi dan masukan menurut tim Veranda. Sebagian akbar produk yang dijual adalah masukan dari tim desain kami,? Ungkapnya.
Kiat lain, model bisnisnya bukan hanya jualan produk, namun berusaha menaruh konsultasi ke konsumen. Tak ubahnya memberi solusi total buat pelanggan. Ini dilakukan lantaran fakta berbicara: tidak sedikit orang berduit yang bingung membeli barang interior, lalu tambah dibingungkan seputar cara penataannya. Untuk itulah, Robin menyediakan konsultan arsitek desain interior. Konsumen yang galau menata interiornya tinggal meminta pertimbangan. ?Apa harus ditaruh di mana belum memahami, maka sanggup kami kirim desainer untuk membantu pelanggan.?
Betapapun, bisnis ini memang tidak gampang. Apalagi, melayani kelas menengah-atas yang punya kemauan tinggi dalam urusan kepuasan. ?Ada yang sekarang belanja, besoknya minta harus sudah wajib dikirim. Padahal, barang yang dipesan desainnya langka,? Tutur Robin. Dalam hal ini, ia berusaha memuaskan mereka semaksimal mungkin. Antara lain, menjaga layanan pascajual, sinkron dengan komitmen yang dijanjikan. Untuk urusan yg satu ini, beliau mengangkat staf khusus yang menangani keluhan & masukan pelanggan. ?Ada pelanggan yg membeli menurut kami telah 7 tahun, kemudian minta barangnya dipindahkan atau ditata ulang, ini tetap dilayani. Kami bukan perusahaan yg bila telah jual, hubungannya menjadi putus,? Ungkapnya membeberkan kiatnya. Lalu, apabila ada konsumen yg inden produk tertentu, ketika telah jatuh kirim, produk sine qua non hari itu pula. ?Tidak boleh membohongi pelanggan. Stok barang yang disediakan juga mesti pada jumlah mencukupi.?
Untung saja, 80 karyawan Veranda sudah dibiasakan melayani segmen ini. Dalam pandangan Robin, kepercayaan masyarakat tak lepas dari sistem manajemen yg dikembangkannya selama ini. ?Kami punya teamwork yg baik, dari divisi marketing, konsultan marketing, desainer & delivery,? Katanya. Budaya melayani ini tentu dicontohkan sendiri ke anak buahnya. Pria yg menghabiskan 5 bulan pada setahun di luar negeri ini berusaha menyempatkan datang ke ruang pajang setiap hari jika nir sedang pada mancanegara. ?Bapak umumnya datang pukul tiga sore,? Ujar Sari, staf Asisten Personal Veranda. Biasanya Robin mengecek progress pelayanan ke konsumen yg terjadi dalam hari itu, sekaligus menaruh delegasi dan penugasan ke tim yang berbeda-beda.
Tak bisa dimungkiri, sukses Veranda tak tanggal menurut upaya Robin yang sejak awal aktif berpromosi. Veranda termasuk sedikit pemain furnitur yang agresif beriklan, khususnya pada media cetak buat segmen menengah-atas, baik media properti juga gaya hidup. Ada iklan yg bersifat hardsell, tapi terdapat jua iklan buat membangun citra. Robin rajin juga beriklan pada acara Seputar Indonesia (RCTI), khususnya dalam Jumat & Sabtu. Kelihatan sekali beliau termasuk pebisnis furnitur yg amat menyadari pentingnya membangun merek dengan berpromosi above the line (ATL), meski untuk itu biayanya relatif mahal. Sebagai contoh, sekali iklan di sebuah harian Ibu Kota anggarannya Rp 40 juta. Padahal, sebulan ia tak hanya iklan 1-2 kali.
Selain melalui media ATL, kenaikan pangkat jua dilakukan menggunakan aktif menggelar acara diskon . Lalu, memberi gimmick berupa undian berhadiah kendaraan beroda empat bagi pembeli. Bahkan, mendekati para desainer interior jua. Maklum, selama ini nir seluruh pemilik rumah punya ketika luang mengurus kebutuhan interiornya. Banyak orang kaya yg sibuk sehingga menyerahkan urusan ini ke kontraktor desain. Dan, pihak kontraktorlah yg herbi perusahaan furnitur misalnya Veranda. Lantaran rantai seperti itulah, Robin pun menjalin interaksi baik dengan kalangan desainer.
Untuk mempermudah konsumen membeli, beliau jua menggandeng perbankan, yang sejauh ini dilakukan menggunakan pengelola kartu kredit Bank Mandiri. Pelanggan yg membeli produk-produk Veranda menggunakan kartu kredit Mandiri sanggup mencicil 12 bulan tanpa bunga. Ada pula acara cicilan 6 bulan tanpa bunga. ?Kami pilih kartu kredit Mandiri lantaran bila perusahaan finance yang lain, cenderung usang, wajib melakukan survei ke pelanggan dulu. Saya nir mau karenanya mengganggu pelanggan saya,? Ujarnya. Tentu saja, program ini juga sebagai bagian promosi.
Sri Sundari Rama Chandra termasuk pelanggan loyal Veranda. Istri seorang dokter kebidanan terkemuka pada Jakarta Utara ini mengisi interior rumahnya di Jl. Gatot Subroto, Jakarta, dengan furnitur Veranda. ?Produknya mengagumkan-mengagumkan & lebih murah menurut show room lainnya. Saya juga ambil bedroom set buat seluruh kamar menurut sana. Dia juga terdapat garansi. Waktu kemarin kami terdapat pembenahan, juga dibantu,? Ungkap Sri.
Loyalitas pelanggan seperti itu mungkin adalah satu sisi sukses Veranda. Hanya saja, sebenarnya sukses Robin bukan tanpa hambatan & pengalaman buruk. Sewaktu krismon mendera, contohnya, ia pun tak luput menurut derita. ?Waktu itu Veranda nyaris guncang,? Katanya mengenang. Ini mampu dimengerti karena produk yg dijual 100% impor, sementara nilai tukar dolar terhadap rupiah terus galak saat itu. ?Kami sempat rugi poly. Untungnya, pelanggan mau mengerti (sewaktu) harga kami naikkan. Pihak pabrik juga mau memberi keringanan dan potongan ke Veranda lantaran selama berhubungan memang memperlihatkan kesungguhan,? Ungkapnya.
Cobaan lain terjadi sewaktu mulai merintis bisnis. Saat itu kompetitor menjelek-jelekkan nama Veranda pada pasar. Untuk yg satu ini, yang dilakukan Robin relatif dengan menunjukan ke pelanggan. Lama-usang pelanggan makin percaya, khususnya melalui promosi dari mulut ke lisan. ?Promosi jenis ini sangat krusial. Promosi dari banyak sekali iklan itu hanya 50% kontribusinya, 50% sisanya merupakan dari mulut ke mulut,? Ia membeberkan rahasianya. Yang digarisbawahinya, bisnis yang menyasar segmen menengah-atas ini benar-benar merupakan usaha agama. ?Ini kepercayaan soal harga, produk maupun layanan.?
Tentu, masa sulit Robin itu sudah berlalu. Apalagi, semenjak 2004 pertumbuhan Veranda makin brilian, terutama sesudah nilai tukar rupiah relatif stabil. Ke depan, dia tak akan henti mengembangkan Veranda. Setelah tahun kemudian membuka cabang pada Surabaya, ia berencana membuka gerai pada Medan dalam 2010. Selama ini gerai Surabaya melayani pasar Indonesia Timur, sedangkan gerai Medan diperlukan menjangkau pasar Sumatera. Tak berhenti di situ, Robin bahkan menancapkan ambisi lebih tinggi: pada 2012 Veranda go public.
Yang menciptakan Robin bangga, dari sisi produksi, produk flooring bermerek Mercury yg diimpornya berdasarkan Jerman semenjak 2003 akan dibuatnya sendiri pada Indonesia dalam 2010. ?Ini bisa menekan harga 40% dari harga sekarang (yg) Rp 150.000/m2,? Ungkapnya seraya menjamin selama ini Mercury menguasai 50% pasar flooring di Tanah Air. Akhirnya, laki-laki subur ini menegaskan, masing-masing pebisnis punya jalan sukses sendiri. ?Setiap kita terdapat jalannya. Tinggal kemauan pelakunya & kesungguhan buat mengasihi bisnisnya itu,? Demikian pesan pengusaha yg juga berbisnis properti ini menggunakan mimik serius. Dan baginya, jalan sukses itu ada pada Veranda.
Kisah usaha menarik lainnya :
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama pada Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses & Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Cara kerja dan seluk-beluk investor private equity
Sejumlah investor asing cari kongsi usaha pada Indonesia
Kenali Dua Tipe Investor Ini Sebelum Mencari Dan Menggandeng Investor
Stardardisasi Wartawan, Ujian Lagi dan Indosat Mobile
Oleh Sudarmadi
Hari Sabtu kemudian merupakan salah satu hari paling penting pada sejarah karir saya menjadi seseorang jurnalis. Bukan lantaran saya terdapat promosi jabatan atau naik gaji. Bukan. Namun karena saya diutus kantor SWA buat mengikuti ujian Program Standardisasi Profesi Wartawan yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), pada hal ini PWI Jaya yang membawahkan wilayah Jakarta. Ini program sangat krusial? Tentu saja, karena melalui acara ini seseorang jurnalis akan dinilai sudah layakkah ia menjadi seorang jurnalis sesuai standar yg dibuat secara nasional (Dewan Pers Indonesia). Bagi saya mengikuti ini pula cukup mendebarkan sampai menciptakan masuk angin lantaran terdapat perasaan nervous.
Ya, menciptakan nervous. Muncul perasaan dag dig dug yg luar biasa. Betapa tidak? Ini adalah program ujian pertama yg dilakukan PWI. Jadi kami-kami yang kemarin ikut itu merupakan 'korban' yang pertama & wajib siap buat menerima output ujian itu. Pak Kamsul, Ketua PWI Jaya, waktu itu menjelaskan bahwa ujian standardisasi itu yang pertama dijalankan PWI di seluruh Indonesia. Kita diuji menggunakan berbagai tool yg sudah dibentuk Dewan Pers, jumlahnya ada kurang lebih 9 modul yang diujikan.
Hanya saja acara ini juga sangat membanggakan bagi saya lantaran sanggup bertemu mitra-kawan jurnalis senior berdasarkan media-media besar & ternama pada Jakarta yang juga ikut ujian dalam level saya. Ada Mas Prapto, Redpel Warta Kota (Kompas Group), Mas Abraham (Redpel Bisnis Indonesia), Mas Ramlan (Jurnalis Senior di Radio Elshinta), dll. Termasuk yg ikut di level aku adalah Mbak Hartalena Sitompul. Beliau itu wartawati legendaris yang sudah purna tugas berdasarkan RRI & sekarang mendirikan media sendiri. Dulu waktu saya masih duduk pada Sekolah Menengah Atas di Bantul acapkali banget mendengarkan suara Mbak Hartalena melalui channel RRI Nasional, eee kok kemarin sanggup bertemu orangnya dan ujian standardisasi beserta saya, tentu merasa bahagia & sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemua dia-dia itu.
Hasil dari ujian standardisasi ini hanya 2 kesimpulan: KOMPETEN atau BELUM KOMPETEN. Bisa dibayangkan andai saja aku tak lulus dan dinyatakan tidak kompeten, betapa malunya saya sudah 10 tahun lebih jadi jurnalis kok dinyatakan nggak kompeten. Asal tahu saja, pada Indonesia sudah terdapat beberapa orang yg telah menerima sertifikat standardisasi ini. Tidak poly sih. Mereka ini merupakan tokoh-tokoh krusial di global pers Indonesia yang ikut merumuskan acara standardisasi ini. Beliau-beliau itu mendapatkan tunjangan profesi bukan lantaran ikut ujian, namun karena donasi dan track recordnya. Misalnya para mantan pemred dan pendiri media-media besar di Indonesia. Pak Jacob Oetama, pendiri Kompas Group, contohnya, adalah orang yang sertifikat standardisasi wartawannya punya nomor urut 1 (pertama). Kemudian diikuti aneka macam tokoh pers lain misalnya Pak Sabam Siagian (Jakarta Post ) dll.
Nah, kita-kita ini mencoba menerima pengakuan standardisasi melalui pintu ujian. Dengan cara di-test dulu.Program ini penyelenggaranya merupakan Persatuan Wartawan Indonesia -- dalam hal ini PWI Jaya. Jadi PWI Jaya mengirim undangan ke sejumlah media akbar di Jakarta, termasuk majalah SWA kantor aku , buat mengutus dua orang waki guna ikut standardisasi. Program yang pertama dilakukan PWI ini digratiskan bagi semua peserta. Jadi saya maupun SWA tidak perlu bayar ke PWI sebaga porto ujian. "Kalau kedepan belum tentu gratis," kata seorang penguji saat itu. Saya bisa mengerti jikalau kemarin itu acaranya gratis, PWI niscaya butuh sebuah pilot project. Namun buat perdeo terus-menerus rasanya tak mungkin lantaran buat membayar fasilitas & penguji yang rata-rata berkelas mantan-mantan Pemred media besar itu, tidak mungkin PWI nombok terus. Kecuali jikalau tiba-tiba terdapat dana sponsor berdasarkan pemerintah.
Parameter-parameter yg diujikan bermacam-macam, berdasarkan mulai perencanaan redaksi, merancang goresan pena pemeriksaan, mengelola para reporter, hingga kemampuan menentukan headline keterangan. Diantara yang paling mendebarkan ialah ketika ujian kemampuan networking. Tiba-datang penguji menyuruh peserta buat menuliskan lima narasumber yang menjadi networknya dan dipercaya narasumber paling penting. Yang mengagetkan lagi, yg kita tuliskan itu sahih-benar disuruh buat dihubungi melalui handphone kita. Parameter ini buat mengetes kemampuan networking. Kalau kita telpon ke no HP keliru satu responden top berdasarkan kantor kemudian diangkat, itu masuk akal saja, karena yg dilihat merk tempat kerja media kita. Nama akbar perusahaan. Namun jika kita kontak dari nomor HP pribadi kita & diangkat sang dia-beliau, maka itu baru oke. Artinya kita memang punya network yg baik.
Nah, tahap ujian ini paling lucu dan menggaduhkan. Ada beberapa teman yg sempat panik lantaran responden top yg telah ditulis di kertas & diserahkan ke pnguji ternyata tidak kunjung sanggup dihubungi. Tapi terdapat pula yang hebat, seseorang teman dari Elshinta menelpon langsung ke HP Menteri Perhubungan & diangkat serta pribadi bisa bikin janji wawancara. Bagaimana saya? Karena aku berkiprah di bidang jurnalisme bisnis maka responden-responden top yg saya buat juga bergerak pada dunia bisnis, bukan pejabat publik. Relasi yg aku hubungi adalah beberapa chairman pada kelompok usaha tertentu atau Ketua Asosiasi Bisnis. Hanya saja kebanyakan menurut mereka memang sedang berada di luar negeri saat saya hubungi. Makanya ada seloroh teman-teman, bagaimana kalau ketika ujian itu dfan kita sedang bicara dengan responden dan datang-datang pulsa kita habis? Tentu nggak lucu alias tengsin banget.
Toh demikian, buat urusan yg satu ini saya wajib berterima kasih ke kartu Indosat Mobile yg telah saya gunakan semenjak 1,lima bulan terakhir. Dengan kartu baru ini aku nggak perlu deg-degan lagi buat berlama-lama menelpon ke narasumber karena aku telah bayar bulanan Rp 50 ribu & selesainya itu bebas menelpon kemana saja. Pokoknya ekonomis banget deh. Saya teringat, sesudah menelpon responden yang saya tulis pada kertas sebagai bagian berdasarkan ujian itu, aku lalu lihat pulsa di layar HP, ternyata sama sekali tidak berkurang. Padahal awalnya aku dag dig duh juga. Untung banget sudah pegang kartu ini.
Lantaran itu aku sangat merekomendasikan bagi sahabat-teman yang biasa menelpon banyak orang pada siang hari, maka paket yang ditawarkan Indosat Mobile cocok banget. Sudah saya banding-bandingkan, ini paling ekonomis diantara paket-paket yg ditawarkan pada pasar. Berbeda menggunakan operator yg memberikan paket ekonomis buat menelpon hanya ke nomor telpon berdasarkan operator yang sama, maka Indosat Mobile merupakan paket hemat lintas operator. Ini kelebihan dia. Makanya untuk para sales manager atau sales supervisor atau siapa saja yg poly telpon lintas operator di siang hari, & menghendaki efisiensi biaya pulsa, maka Indosat Mobile ini cocok banget. Harus dicatat, kita tentu tak mungkin waktu menghubungi relasi itu menentukan-milih atau membatasi hanya menelpon ke relasi yg nomor HP-nya berdasarkan operator yg sama menggunakan kita, Nggak mungkin & betapa tidak produktifnya kita apabila melakukan itu. Indosat Mobile memberi jawaban akan kegundahan itu.
Nah, pulang ke ujian standardisasi wartawan itu, aku bersyukur akhirnya mampu lulus alias dinyatakan kompeten. Saya merasa plong. Saat itu, dari peserta yg ikut kabarnya terdapat tiga orang yang dinyatakan tak lulus alias belum kompeten. Kasihan jua sih ke mereka, telah pusing mikir dua hari penuh tapi gagal alias dinyatakan belum kompeten. Hanya saja ketegasan semacam ini memang perlu buat menjaga lembaga wartawan supaya berwibawa & diisi orang-orang yg benar kompeten. Semoga sahabat-sahabat jurnalis lain jua segera menyusul mengikuti program sertifikasi ini & tentunya aku harus berterima kasih bos saya di SWA yang telah menyuruh saya ikut acara ini lantaran saya & Sigit (report SWA) memang yg pertama ditugaskan buat mengikuti program yg awalnya menyeramkan buat saya ini.
Salam sukses dan sejahtera untuk kita seluruh.
Bos Pinterest Ciptakan Aplikasi Pelacak COVID-19
Headlinekaltim.co - Founder dan CEO Pinterest Ben Silbermann berkolaborasi dengan tim ilmuwan untuk menciptakan How We Feel, aplikasi pelacak penyebaran COVID-19.Dengan aplikasi How We Feel yang bisa diunduh aplikasinya di smartphone, memungkinkan pengguna dapat melaporkan diri, mulai dari usia, jenis kelamin, kode pos, dan gejala kesehatan yang dialami.Dengan melakukan pengecekan kesehatan secara mandiri, dapat membantu para peneliti mengungkapkan titik keberadaan wabah dan dapat menyelamatkan nyawa mereka. Adapun proses pengecekan kesehatan mandiri itu hanya kurang dari satu menit.How We Feel disebutkan dapat mempermudah pengguna melaporkan kondisi kesehatan mereka, misalnya gejala apa yang dirasakan, apakah telah ikut tes virus corona atau tidak, isolasi, hingga interaksi dengan siapa saja.Berbeda dengan aplikasi pada umumnya, How We Fell tidak meminta atau mengumpulkan informasi, seperti nama, nomor telepon, atau email. Informasi yang diminta hanya seputar pertanyaan di awal, di mana data tersebut akan dikumpulkan kemudian dibagikan kepada peneliti, profesional kesehatan, dan dokter, termasuk pihak yang terlibat dalam proyek pengembangan aplikasi ini.Aplikasi ini dibuat oleh How We Feel Project, kolaborasi antara Silbermann dan sekelompok peneliti yang berafiliasi dengan di antaranya McGovern Institute, Broad Institute of MIT and Harvard, Howard Hughes Medical Institute, University of Pennsylvania, Stanford University, hingga Weizmann Institute of Science.Menariknya, yang mengunduh aplikasi ini turut menyumbangkan makanan untuk orang yang membutuhkan melalui Feeding America sebanyak 10 juta makanan.Sebagaimana dikutip dari Tech Crunch, aplikasi How We Feel baru tersedia dan bisa diunduh di Amerika Serikat, baik di Play Store maupun App Store atau situs www.howwefeel.org.How We Feel yang dikelola sebagai organisasi nirlaba dan sepenuhnya independen, diharapkan dapat memperluas layanannya dan berkolaborasi untuk tersedia secara global. artikel telah terbit di inet.detik.comStardardisasi Wartawan, Ujian Lagi dan Indosat Mobile
Oleh Sudarmadi
Hari Sabtu kemudian merupakan salah satu hari paling penting pada sejarah karir saya menjadi seseorang jurnalis. Bukan lantaran saya terdapat promosi jabatan atau naik gaji. Bukan. Namun karena saya diutus kantor SWA buat mengikuti ujian Program Standardisasi Profesi Wartawan yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), pada hal ini PWI Jaya yang membawahkan wilayah Jakarta. Ini program sangat krusial? Tentu saja, karena melalui acara ini seseorang jurnalis akan dinilai sudah layakkah ia menjadi seorang jurnalis sesuai standar yg dibuat secara nasional (Dewan Pers Indonesia). Bagi saya mengikuti ini pula cukup mendebarkan sampai menciptakan masuk angin lantaran terdapat perasaan nervous.
Ya, menciptakan nervous. Muncul perasaan dag dig dug yg luar biasa. Betapa tidak? Ini adalah program ujian pertama yg dilakukan PWI. Jadi kami-kami yang kemarin ikut itu merupakan 'korban' yang pertama & wajib siap buat menerima output ujian itu. Pak Kamsul, Ketua PWI Jaya, waktu itu menjelaskan bahwa ujian standardisasi itu yang pertama dijalankan PWI di seluruh Indonesia. Kita diuji menggunakan berbagai tool yg sudah dibentuk Dewan Pers, jumlahnya ada kurang lebih 9 modul yang diujikan.
Hanya saja acara ini juga sangat membanggakan bagi saya lantaran sanggup bertemu mitra-kawan jurnalis senior berdasarkan media-media besar & ternama pada Jakarta yang juga ikut ujian dalam level saya. Ada Mas Prapto, Redpel Warta Kota (Kompas Group), Mas Abraham (Redpel Bisnis Indonesia), Mas Ramlan (Jurnalis Senior di Radio Elshinta), dll. Termasuk yg ikut di level aku adalah Mbak Hartalena Sitompul. Beliau itu wartawati legendaris yang sudah purna tugas berdasarkan RRI & sekarang mendirikan media sendiri. Dulu waktu saya masih duduk pada Sekolah Menengah Atas di Bantul acapkali banget mendengarkan suara Mbak Hartalena melalui channel RRI Nasional, eee kok kemarin sanggup bertemu orangnya dan ujian standardisasi beserta saya, tentu merasa bahagia & sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemua dia-dia itu.
Hasil dari ujian standardisasi ini hanya 2 kesimpulan: KOMPETEN atau BELUM KOMPETEN. Bisa dibayangkan andai saja aku tak lulus dan dinyatakan tidak kompeten, betapa malunya saya sudah 10 tahun lebih jadi jurnalis kok dinyatakan nggak kompeten. Asal tahu saja, pada Indonesia sudah terdapat beberapa orang yg telah menerima sertifikat standardisasi ini. Tidak poly sih. Mereka ini merupakan tokoh-tokoh krusial di global pers Indonesia yang ikut merumuskan acara standardisasi ini. Beliau-beliau itu mendapatkan tunjangan profesi bukan lantaran ikut ujian, namun karena donasi dan track recordnya. Misalnya para mantan pemred dan pendiri media-media besar di Indonesia. Pak Jacob Oetama, pendiri Kompas Group, contohnya, adalah orang yang sertifikat standardisasi wartawannya punya nomor urut 1 (pertama). Kemudian diikuti aneka macam tokoh pers lain misalnya Pak Sabam Siagian (Jakarta Post ) dll.
Nah, kita-kita ini mencoba mendapatkan pengakuan standardisasi melalui pintu ujian. Dengan cara di-test dulu.Program ini penyelenggaranya adalah Persatuan Wartawan Indonesia -- dalam hal ini PWI Jaya. Jadi PWI Jaya mengirim undangan ke sejumlah media besar di Jakarta, termasuk majalah SWA kantor saya, untuk mengutus dua orang wakil guna ikut standardisasi. Program yang pertama dilakukan PWI ini digratiskan bagi semua peserta. Jadi saya maupun SWA tak perlu bayar ke PWI sebaga biaya ujian. "Kalau kedepan belum tentu gratis," kata seorang penguji saat itu. Saya bisa mengerti kalau kemarin itu acaranya gratis, PWI pasti butuh sebuah pilot project. Namun untuk gratis terus-menerus rasanya tak mungkin karena untuk membayar fasilitas dan penguji yang rata-rata berkelas mantan-mantan Pemred media besar itu, tak mungkin PWI nombok terus. Kecuali kalau tiba-tiba ada dana sponsor dari pemerintah.
Parameter-parameter yang diujikan bermacam-macam, dari mulai perencanaan redaksi, merancang tulisan investigasi, mengelola para reporter, menulis feature, hingga kemampuan memilih headline berita. Diantara yang paling mendebarkan ialah saat ujian kemampuan networking. Tiba-tiba penguji menyuruh peserta untuk menuliskan 5 narasumber yang menjadi networknya dan dianggap narasumber paling penting. Yang mengagetkan lagi, yang kita tuliskan itu benar-benar disuruh untuk dihubungi melalui handphone kita. Parameter ini untuk mengetes kemampuan networking. Kalau kita telpon ke no HP salah satu responden top dari kantor kemudian diangkat, itu wajar saja, karena yang dilihat brand kantor media kita. Nama besar perusahaan. Namun kalau kita kontak dari nomor HP pribadi kita dan diangkat oleh beliau-beliau, maka itu baru oke. Artinya kita memang punya network yang baik.
Nah, tahap ujian ini paling lucu dan menggaduhkan. Ada beberapa teman yang sempat panik karena responden top yang sudah ditulis di kertas dan diserahkan ke pnguji ternyata tidak kunjung bisa dihubungi. Tapi ada juga yang hebat, seorang teman dari Elshinta menelpon langsung ke HP Menteri Perhubungan dan diangkat serta langsung bisa bikin janji wawancara. Bagaimana saya? Karena saya bergerak di bidang jurnalisme bisnis maka responden-responden top yang saya buat juga bergerak di dunia bisnis, bukan pejabat publik. Relasi yang saya hubungi adalah beberapa chairman di kelompok bisnis tertentu atau Ketua Asosiasi Bisnis. Hanya saja kebanyakan dari mereka memang sedang berada di luar negeri saat saya hubungi dan untungnya diangkat dan saya bicara. Makanya ada seloroh teman-teman, bagaimana kalau saat ujian itu dan kita sedang bicara dengan responden tiba-tiba pulsa kita habis? Tentu nggak lucu alias tengsin banget.
Toh demikian, buat urusan yg satu ini saya wajib berterima kasih ke kartu Indosat Mobile yg telah saya gunakan semenjak 1,lima bulan terakhir. Dengan kartu baru ini aku nggak perlu deg-degan lagi buat berlama-lama menelpon ke narasumber karena aku telah bayar bulanan Rp 50 ribu & selesainya itu bebas menelpon kemana saja. Pokoknya ekonomis banget deh. Saya teringat, sesudah menelpon responden yang saya tulis pada kertas sebagai bagian berdasarkan ujian itu, aku lalu lihat pulsa di layar HP, ternyata sama sekali tidak berkurang. Padahal awalnya aku dag dig duh juga. Untung banget sudah pegang kartu ini.
Lantaran itu aku sangat merekomendasikan bagi sahabat-teman yang biasa menelpon banyak orang pada siang hari, maka paket yang ditawarkan Indosat Mobile cocok banget. Sudah saya banding-bandingkan, ini paling ekonomis diantara paket-paket yg ditawarkan pada pasar. Berbeda menggunakan operator yg memberikan paket ekonomis buat menelpon hanya ke nomor telpon berdasarkan operator yang sama, maka Indosat Mobile merupakan paket hemat lintas operator. Ini kelebihan dia. Makanya untuk para sales manager atau sales supervisor atau siapa saja yg poly telpon lintas operator di siang hari, & menghendaki efisiensi biaya pulsa, maka Indosat Mobile ini cocok banget. Harus dicatat, kita tentu tak mungkin waktu menghubungi relasi itu menentukan-milih atau membatasi hanya menelpon ke relasi yg nomor HP-nya berdasarkan operator yg sama menggunakan kita, Nggak mungkin & betapa tidak produktifnya kita apabila melakukan itu. Indosat Mobile memberi jawaban akan kegundahan itu.
Nah, kembali ke ujian standardisasi wartawan itu, saya bersyukur akhirnya bisa lulus alias dinyatakan kompeten. Saya merasa plong. Saat itu, dari peserta yang ikut kabarnya ada tiga orang yang dinyatakan tak lulus alias belum kompeten. Kasihan juga sih ke mereka, sudah pusing mikir dua hari penuh tapi gagal alias dinyatakan belum kompeten. Hanya saja ketegasan semacam ini memang perlu untuk menjaga lembaga wartawan agar berwibawa dan diisi orang-orang yang benar kompeten. Semoga teman-teman jurnalis lain juga segera menyusul mengikuti program sertifikasi ini dan tentunya saya harus berterima kasih bos saya di SWA yang sudah menyuruh saya ikut program ini karena saya dan Sigit (reporter SWA) memang yang pertama ditugaskan untuk mengikuti program yang awalnya menakutkan buat saya ini.
Salam sukses dan sejahtera untuk kita seluruh.
H. Masri Nur: Sukses Berbekal Keyakinan

Nasib orang memang tak terdapat yang mampu menganggap. Jangan bersedih jika Anda sedang susah atau dibawah. Dengan kerja keras, doa, dan strategi yang tepat, nasib bisa berbalik. Itulah yang dialami H. Masri Nur, pengusaha sukes berasal Padang yang sekarang bermukim di Medan. Kini bisnisnya berkembang pesat melitpui bisnis properti (plaza & hotel), ritel, konveksi dan pendidikan kini sebagai garapannya. Sekitar 1.500 karyawan bersandar padanya. Salah satu simbol sukses bisnisnya adalah Hotel Madani, hotel syariah berbintang pertama yg terdapat di Medan.
Kisah hayati Masri Nur terbilang dramatik. Masri Nur dulunya merantau seseorang diri ke Medan, bekerja menjadi kuli penjual tiket bus & kemudian menjadi tukang jahit. Pria berdarah Padang ini berhasil bertransformasi menjadi entrepreneur sukses. Kini bisnisnya berkembang pesat melitpui usaha properti (plaza & hotel), ritel, konveksi dan pendidikan kini menjadi garapannya. Sekitar 1.500 karyawan bersandar padanya. Salah satu simbol sukses bisnisnya ialah Hotel Madani, hotel syariah berbintang pertama yang ada pada Medan.
Masri sekarang pula pemilik sekaligus pengelola Plaza Gelora, kompleks bisnis pada Medan yang terdiri atas supermarket, dept. Store, hall, sentra konveksi & industri garmen, dan restoran. Adapun Hotel Madani yang dibangunnya, terletak pada Jl. Sisingamangaraja, tak jauh menurut Masjid Raya Medan dan Istana Maimun, hotel bintang 4 yg tengah naik daun ini dikelola menggunakan sistem syariah. "Persis di jalan samping hotel inilah saya dulu pertama tiba ke Medan berdasarkan Padang naik bus. Saya tiba menjadi kuli," ujar laki-laki yang rendah hati meski sudah sukses ini. Masri juga pemilik Darul Ilmi Murni, forum pendidikan terpadu di atas huma 15 hektare, mulai dari Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Perjalanan sukses kelahiran 1953 ini sangat menarik. Keberhasilannya merupakan kombinasi kegigihan, kerja keras & keyakinan. Datang menurut famili terpandang pada Padang, Masri tidak mengikuti jejak saudaranya yang kebanyakan sebagai pegawai negeri sipil. Dia justru merantau ke Medan seseorang diri tahun 1969. Di Ibukota Sumatera Utara itu, dia memulai bekerja menjadi buruh, yaitu membantu menjual tiket bus. Setelah itu, membuka usaha jahitan pakaian dengan papan nama Toko Gelora. ?Saya ini aslinya tukang jahit. Sampai kini pun masih tukang jahit,? Ujarnya saat ditemui penulis pada lounge Hotel Madani miliknya.
Boleh dibilang, bisnis jahitlah yg mengantarnya ke jenjang sukses. Bisnis ini berkembang pesat sampai sebagai industri konveksi (garmen). Bahkan pada Medan, bukan misteri lagi, pusat seragam sekolah, seragam olah raga, pakaian tata cara dan pakaian muslim terbesar berada di Plaza Gelora. Di kompleks itu, terdapat gerai-gerai layaknya supermarket dan industri konveksi menggunakan tukang jahit tak kurang dari 200 orang. Singkatnya, lantaran usaha jahitan itu membesar, awal 1990-an Masri sanggup membangun kompleks plaza di lokasi itu. ?Saya bersyukur, sebagai satu-satunya pengusaha pribumi yg punya plaza pada Medan ini,? Ujar ayah tujuh anak yang masih berbadan tegap ini.
Yang paling menarik menurut sekian kisah bisnis Masri merupakan Hotel Madani. Ketika akan mendirikan hotel dengan 173 kamar yg berkonsep syariah dua tahun kemudian, banyak yg skeptis hotel itu akan laku . Termasuk, beberapa ulama Jakarta tempat Masri berkonsultasi. Maklum, berbeda dari kebanyakan hotel syariah yg awalnya hotel konvensional, Hotel Madani semenjak awal menerapkan sistem syariah secara ketat. Tamu bukan suami-istri nir boleh menginap sekamar. Screening & pengawasan dilakukan berfokus baik melalui pegawai hotel juga alat keamanan. Aturan bagi tamu hotel bahkan ditulis akbar pada lobi. Tidak ada alkohol. Penyanyi perempuan di lounge hotel pun wajib gunakan jilbab. ?Enam bulan pertama ujian kami berat. Kami poly mengeluarkan tamu berdasarkan hotel,? Kata Masri seraya mengungkapkan, hotelnya diresmikan wapres RI Jusuf Kalla.

Rupanya, pada 6 bulan pertama banyak tamu yg coba-coba melanggar atau nir memahami sama sekali anggaran tersebut sebagai akibatnya walau awalnya tiba sendirian, tetapi tengah malam mengajak teman lawan jenis bukan suami-istri untuk menginap sekamar. Untuk itu, Masri bahkan sempat memberi ganti rugi dan pernah pula ada tamunya yg murka . Namun, dia memang punya prinsip ingin membangun hotel yang tidak selaras. "Saya konfiden Tuhan akan memberi jalan. Kalaupun Tuhan marah kepada saya, masak iya Tuhan juga marah kepada karyawan aku dengan nir memberi mereka makan," ucapnya konfiden.
Rupanya keyakinan itu tak bertepuk sebelah tangan karena occupancy rate Madani terbilang paling tinggi di Medan. Dari 173 kamar, setiap hari setidaknya 150 kamar terisi. Awalnya, manajemen Madani memprediksikan cash flow dan laba baru akan positif sesudah 2 tahun. Ternyata, dalam dua bulan pertama pribadi positif & Masri sama sekali tak pernah menyubsidi hotel ini. Yang pula menarik, tamunya bukan hanya muslim, tetapi juga nonmuslim, baik kalangan Tionghoa maupun ekspat. ?Rupanya para istri & famili merasa lebih kondusif jikalau keluarganya menginap pada hotel ini ketika pada Medan,? Ujarnya seraya membicarakan, buat menciptakan hotel ini dibutuhkan kapital Rp 200 miliar di luar tanah.
Yang juga melegakan, lanjut Masri, selain sering full booked, kini brand hotel-nya sebagai hotel berkonsep syariah sudah dikenal semua pelaku bisnis wisata Medan dan beberapa kota lain sehingga pihaknya tak perlu mengeluarkan tamu lagi karena tak ada lagi tamu yang melanggar aturan hotel. Bagi Masri, keberadaan Hotel Madani merupakan catatan sejarah yang menarik. Di depan Hotel Madani itulah (dulu belum dibangun hotel) dirinya pertama menginjakkan kaki di Medan sebagai perantau “ ketika itu, di sebelahnya memang lokasi stasiun bus antarkota“ dan kini properti itu menjadi miliknya. Ya, perjalanan hidup memang sering tak terduga.
Penulis: sudarmadi (wingdarmadi@gmail.Com )
Klik link dibawah ini buat kisah usaha menarik lainnya :
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo & Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses & Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Sukses Bisnis Food Supplier ala Elisabeth Liman

Dengan modal cekak, beliau sukses sebagai pengusaha makanan yang memasok perhotelan & resto. Dia bahkan sebagai pemain dunia. Elisabeth Liman Dia entrepreneur yg memulai usaha menggunakan kapital amat terbatas -- nir mewarisi miliaran rupiah menurut orang tua -- dan membangun sendiri bisnisnya termin demi termin. Di kalangan warga perhotelan, resto, pasar swalayan, sosok Elisabeth bukanlah nama asing.
Demikian juga perusahaan yg dikibarkannya, PT Indoguna Utama. Maklum, rata-rata hotel akbar di Indonesia menjalin hubungan menggunakan Indoguna buat kebutuhan pasokan daging & bahan makanan lain seperti keju, seafood, gourmet & wine. Indoguna terbilang salah satu pemain terbesar pada bisnis ini. Di Jakarta saja pelanggannya lebih berdasarkan 120 perusahaan (hotel, resto, chain store, maskapai penerbangan) yg mayoritas adalah nama-nama besar .
Indoguna bahkan punya cabang & anak usaha pada beberapa negara. Di antaranya di Dubai, Hong Kong, Singapura, Australia, Kazakhstan, Taiwan, Amerika Serikat & Lebanon. Salah satu perusahaan pada Australia bahkan sukses mengekspor produk dari Negeri Kanguru ke 28 negara. Tak mengherankan, perusahaan tersebut (Mulwarra Export Pty. Ltd.) mendapatkan penghargaan menurut Pemerintah Australia atas prestasinya pada bidang ekspor. Elisabeth kini memperkerjakan lebih menurut 1.000 karyawan, beredar pada beberapa negara, termasuk Indonesia.
Perjalanan usaha Elisabeth tidak mampu dipisahkan berdasarkan Makassar. Maklum, dia memang dibesarkan di kota terbesar di Indonesia Timur itu & di sana juga orang tuanya tinggal. Sejak belia, dia sangat menyukai tantangan & gampang bosan melakukan hal-hal yg baginya tidak menantang lagi. Dia diterima pada Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, tapi hanya betah menjalani kuliah setahun. Kemudian pindah ke Fakultas Ekonomi, tetapi pula tidak bertahan usang. Hingga 3 kali ganti jurusan, akhirnya beliau menyerah. "Saya merasa nir terdapat tantangan menggunakan pekerjaan kuliah yg terus-menerus seperti itu," ujarnya.
Jakarta sebagai loka hijrahnya. "Saya pikir kenapa kok harus terdiam hanya sebatas di Makassar, padahal tantangan pada lain loka begitu luas," kata anak pasangan bukan pengusaha itu. Tak berapa usang tinggal pada Ibu Kota, beliau merasa tertantang buat pindah ke luar negeri, New York, guna memperluas cakrawalanya.
"Saya pilih New York lantaran penduduk kota itu lebih welcome dengan pendatang berdasarkan Asia, tidak seperti kota-kota pada Eropa. Saya belajar survive pada kota tersebut menggunakan bekerja di perusahaan food," ungkap anak ke 2 menurut empat bersaudara itu. Di kota berjuluk Big Apple tersebut, Elisabeth yg sendirian tanpa keluarga belajar betul mengenai pentingnya kegigihan supaya mampu bertahan hayati. Dia bekerja dan belajar hayati di Negeri Abang Sam.
Setelah dua tahun di New York, beliau mulai berpikiran balik ke Indonesia. "Saya berpikir kenapa aku nir mencoba berdiri sendiri, mendirikan bisnis di bidang food," ungkapnya. Tanpa pikir panjang dan ragu, tepat dalam 1982 beliau mulai merintis bisnis pada Jakarta, mendirikan Indoguna. Perusahaan rintisannya itu pula membidangi kuliner sesuai dengan pengalaman kerjanya. "Tapi tidak persis misalnya yg digeluti perusahaan usang di New York," ucapnya. Dia menyukai usaha ini karena memang mencintai kuliner.
Bisnis ini dimulai ala kadarnya karena tak ada yang memodali, menyewa ruang kerja di Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat. Elisabeth memulainya dengan ditemani empat karyawan yg direkrutnya. Boro-boro bermimpi menjadi pengusaha akbar, awalnya hanya berorientasi supaya bisa hidup. Salah satu faktor positifnya, waktu itu ekonomi Indonesia relatif booming dan di Jakarta banyak ekspatriat yg berdatangan, khususnya menurut Jepang, Prancis & Korea. Pasti, walau mereka tinggal pada Jakarta, kebutuhan dan kesukaan makan mereka tak berubah. Ceruk ini yang dicermati Elisabeth dan kemudian dia mengimpor bahan kuliner, khususnya daging, buat hotel-hotel loka para ekspat itu menginap.
Kebetulan, saat itu pada Indonesia belum banyak pemain yg menggarap impor daging & bahan kuliner buat kalangan ekspat. Belum poly pebisnis yang punya keahlian pada bidang itu. "Kalau terdapat, hanya 1-dua perusahaan," ungkapnya. Dia mendekati calon pelanggan menurut pintu ke pintu, berkenalan & berteman dengan para chef di hotel-hotel.
Kebetulan pula, waktu itu Hotel Hilton baru berdiri & membutuhkan daging impor yg empuk yang kualitasnya lebih baik menurut daging sapi yang ada di dalam negeri. Hotel tersebut membutuhkan buat bahan steak, tepanyaki, dan makanan lain yg spesifik ditujukan bagi pelanggan Jepang. "Mulailah di situ saya belajar. Saya diajari pemakainya, yaitu para chef pada hotel itu. Saya diajari jika you bawa ke aku daging misalnya ini, nantinya jadinya misalnya ini, begini hasilnya. Saya juga disuruh coba masakannya," papar Presdir PT Indoguna Utama ini.
Jadi, dia justru belajar berdasarkan para chef. Setelah itu, mereka mulai mengorder walau kecil. Dia pun melayani order tadi walau nilainya hanya kecil (10 kg), sementara perusahaan yang ada waktu itu tidak mau melayani kuantitas kecil sebagai akibatnya cenderung mengabaikan. "Kalau aku , nir melihat jumlahnya, namun kebutuhannya & apa yg sanggup disediakan, kemudian akan aku sebaiknya buat aku bawakan ke mereka. Makanya, mereka senang dan lalu percaya," pungkasnya. Dari yang awalnya hanya memberi order sedikit, lama -lama memesan semakin poly karena setiap kali memesan selalu dilayaninya dengan baik.
Prinsipnya, Elisabeth bekerja sembari belajar. Dia bergaul dan belajar dari chef, apa yang diharapkan hotel, kemudian berusaha menyediakannya. "Waktu itu memulainya mini -kecil sekali, kemudian pelan-pelan berkembang & meluas. Dari satu hotel ke hotel lain," ungkapnya. Dia tak memalukan belajar dalam para chef, sekaligus memperluas penjualannya.
Dalam berbisnis, Elisabeth berprinsip mengembangkan bisnis mesti sinkron dengan kebutuhan. Pasarnya berkembang lantaran kebutuhan kliennya pula berkembang. Biasanya setelah memahami apa kebutuhannya, pihaknya lalu berusaha menyediakan. "Sebenarnya kalau memulai usaha, harus balik ke pertanyaan ada market-nya atau nggak. Kalau telah memahami terdapat market-nya, barulah kita benahi diri kita sendiri agar bisa memenuhi kebutuhan," katanya.
Bukan hanya berusaha memenuhi apa yg diharapkan, namun juga memegang komitmen dan amanah pada memberikan pelayanan. Bila sudah menjanjikan produk dengan kualitas A, yang wajib pada-deliver pun produk menggunakan kualitas A. Juga, tidak menjual dengan harga di luar kewajaran. "Dengan kejujuran itu, akhirnya para chef itu percaya kepada kami," ungkapnya. Lantaran prinsip seperti itu, pelanggan Indoguna dari tahun ke tahun berkembang. Sekarang hampir semua hotel berbintang di Jakarta sebagai pelanggannya. Bahkan lebih dari itu, Indoguna mulai merentangkan sayap, mendirikan cabang pada beberapa kota misalnya Bali, Yogyakarta & Surabaya. Malah membuka cabang jua pada luar negeri. Kok sanggup?
Rupanya para chef yg pernah bekerja pada Indonesia dan sebagai pelanggan Indoguna tak melupakannya. Ketika pindah tugas ke negara lain, biasanya mereka menghubungi beliau. "Mereka menghubungi aku , ?Elisabeth kenapa you nggak buka pada sini. I need you here?," katanya.
Melalui cara itu juga, Indoguna lalu membuka bisnis homogen pada poly negara: Hong Kong, Singapura, Dubai, Australia, Kazakhstan, Taiwan, Malaysia, Alaihi Salam & beberapa negara lain. Biasanya setiap membuka cabang, selalu dimulai menurut skala kecil dulu, lalu diperbesar sesuai menggunakan kebutuhan.
Yang menarik, penetrasi Indoguna di luar negeri tak sekadar menjadi pelengkap. Di Singapura, contohnya, Indoguna (Singapore) Pte. Ltd. Termasuk pemasok akbar. Di sana Elisabeth jua punya pabrik dan loka jagal sendiri buat memasok kebutuhan pasar Negeri Singa.
Khusus pada Jakarta, pada 1992 Elisabeth memindahkan sentra bisnisnya berdasarkan Jl. Gajah Mada ke daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sejak awal dia memang ingin memiliki kantor yang dekat dengan rumah tinggalnya sehingga energinya tak habis karena memikirkan stagnasi pada Ibu Kota.
Untuk itu, tahun 1992 dia membentuk pabrik, cold storage & kantor pada satu lokasi, yang luas totalnya kini 25.000 m2. Di dalamnya masih ada mesin cold storage canggih buatan luar negeri buat menampung produk-produk Indoguna yang siap dipasok ke ratusan pelanggannya di Jakarta. Yang pasti, dulu perusahannya harus menurut pintu ke pintu memberikan produk ke calon pelanggan, kini justru calon pelanggan yang datang & meminta dicarikan produk ini-itu.
Kini, berdasarkan total produk yang dipasarkan Indoguna, 95%-nya membutuhkan pendingin sebagai akibatnya nir banyak pemain pada Indonesia yang sanggup melakukanya. Produk andalannya permanen daging (sapi & sapi muda). "Di pada negeri sapi muda tidak dipotong, namun jikalau pada luar negeri, sapi muda justru dipotong & itu harganya lebih mahal," katanya seraya menyebutkan, pihaknya diantaranya mengimpor daging menurut Australia, Alaihi Salam & Selandia Baru.
Tentu saja, itu prestasi yg terbilang langka, apalagi di usaha ini kebanyakan pemainnya kaum laki-laki . Ditanya mengenai apa misteri suksesnya, Elisabeth hanya menandaskan, "Apa yg aku janjikan, aku lakukan. Mesti ada komitmen." Tak hanya itu. "Karena aku sangat suka menggunakan bidang ini. Saya mencintai ini. Ini mungkin salah satu kunci suksesnya. Kalau Anda menyukai pekerjaan, Anda tidak perlu bekerja lagi buat hidup lantaran seakan-akan hanya mainan & senang -bahagia," tutur wanita yg sejak mini lebih sering bermain menggunakan anak lelaki itu. Lantaran menyukai pekerjaan jua, walau waktu awal-awal memulai bisnis butuh perjuangan ekstra, beliau permanen sanggup melewatinya.
Dalam menjalankan usaha, Elisabeth nir berangan-angan wajib ini wajib itu atau mesti menjadi perusahaan akbar. Tidak. "Saya memulai menggunakan kebutuhan pasar. Besaran usaha saya tumbuh sinkron dengan kebutuhan pasar. Kalau kebutuhan market bertambah, skala usaha aku pula ditambah, termasuk karyawan," pungkasnya. "Saya membiarkan diri dibesarkan oleh market. Jadi bukan saya mencetak perusahaan ini, namun perusahaan yang mencetak aku . Jadi, saya yg beradaptasi menggunakan syarat dan kebutuhan."
Bob Sadino, pengusaha pemilik Kemang Food Industry (Kem Chicks) mengakui Elisabeth Liman merupakan sosok wanita pengusaha yg tangguh. "Dia pengusaha yg bukan saja sangat gigih, namun memang luar biasa. Tidak poly wanita yang sanggup melakukannya," istilah Bob yg kenal Elisabeth sejak 1980-an. Menurutnya, Elisabeth adalah pengusaha yang sangat mengerti arti melayani pelanggan sehingga ke mana pun pelanggannya memesan produk, beliau akan berusaha memenuhi.
Sementara itu, Arya Abdi, Direktur Operasional PT Indoguna Utama, menggambarkan bosnya sebagai wanita yang sangat aktif. "Aktif sekali. Beliau seperti bukan perempuan . Apa pun yg belau inginkan, selalu berprinsip 'wajib sanggup, pasti mampu'. Beliau sangat gigih dalam menghadapi setiap kasus & cepat dalam mengambil tindakan. Dan dalam memimpin beliau selalu memacu anak butir agar mampu menjadi seseorang pemimpin," ucapnya. Arya yang memimpin bisnis Indoguna buat daerah Indonesia umumnya melakukan meeting dengan Elisabeth sebulan sekali. "Waktu dia lebih banyak digunakan buat mengurusi bisnisnya pada poly negara. Jadi, selalu terbang."
Elisabeth masih akan penekanan di bisnis kuliner. Ini sinkron dengan positioning perusahaannya sebagai food specialist. Dia tidak ingin masuk di bisnis penggemukan sapi, contohnya, lantaran masih ingin penekanan pada pemasarannya. Tetapi, beliau punya usaha resto yg menurutnya hanya sambilan, yakni Angus House yang sekarang punya 6 gerai (dua pada luar negeri). Resto ini awalnya didirikan hanya buat membantu seseorang kawannya, ekspat Jepang yg kontrak kerjanya pada salah satu hotel Indonesia habis. Mereka berkongsi menciptakan usaha resto, & ternyata bisnis ini pun berkembang.
Dalam membuatkan bisnis beserta siapa pun, Elisabeth selalu memegang prinsip: mesti win-win. Ini diberlakukannya baik pada pelanggan, mitra usaha maupun karyawannya sendiri. Untuk itu, mengetahui & berusaha memenuhi kebutuhan orang lain adalah hal sangat krusial. Baginya, seluruh insan punya kebutuhan. ?Kita wajib memperhatikan mereka. Dengan karyawan juga demikian. Kalau enak & laba diambil sendiri, ya karyawan nggak betah!" katanya.
Dengan menjalankan prinsip itu, tingkat loyalitas karyawan Indoguna pun tinggi. Empat karyawannya yang ikut kerja sejak awal, seluruh masih bertahan -- kecuali satu orang karena telah meninggal global. "We care for them. Saya perlakukan mereka sebagai manusia. Mereka dibayar honor relatif sinkron dengan kealian mereka. Kalau mereka mau tinggal pada sini usang, berarti mereka cukup, kan?" ujarnya retoris.
Salah satu bentuk kepedulian itu contohnya tampak saat krisis moneter 1998. Ketika itu beliau menyuruh pembantu di rumahnya buat pulang ke tempat kerja Indoguna & memasak bagi karyawan agar uang saku karyawan tidak berkurang. Anggaran masak itu diambil berdasarkan gaji pribadi Elisabeth.
Dengan cara itu, uang makan karyawan utuh. Selain itu, honor juga dinaikkan supaya kehidupan mereka tak tersendat. "Nggak tahunya sehabis krisis selesai, hingga kini ransum masih jalan terus," katanya seraya tertawa. Namun, itu tak perkara buat Elisabeth. Dia berprinsip, jikalau dirinya baik kepada seseorang, orang lain pun akan memperlakukannya menggunakan baik.
Penulis: Sudarmadi
wingdarmadi@gmail.Com
Kisah bisnis menarik lainnya:
Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji
Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat di Indonesia
Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Investor luar negeri cari mitra lokal buat kongsi usaha
Why Entrepreneurs Love Steve Jobs
BY Simon Sinek
Why Entrepreneurs Love Steve Jobs"Did you see the news?" said the text from my friend. "It's so sad," he continued.
It is both rare and special to witness such a spontaneous outpouring of love and admiration for the passing of a CEO. The last time we saw similarly spontaneous vigils was when Princess Diana died. But the love we?Re expressing for Steve Jobs is not due solely to his genius or his vision. It is not just because he defined a digital generation. Steve Jobs is much more special than that.
Steve Case, the co-founder of AOL, and Larry Ellison, the co-founder of Oracle, are also geniuses. They also built companies that changed the way we live our lives. They were visionary and innovative, but will we light a candle and shed a tear when their time to comes?
What made Steve Jobs so special is that he existed on a level above his company and its products. Though we respect what he built, we love what he stood for.
Related: 10 Things to Thank Steve Jobs For
Jobs was a rebel and a misfit and he imparted a sense of purpose and belonging for all the other rebels and misfits out there. Instead of brushing them aside or pointing at them for being weird, he celebrated them. He reminded us that the ones who see the world differently are the ones who change the world. In an instant, all those individual rebels and misfits had a leader. Someone who preached what they believed.
Over time, Apple and its products became symbols for a set of values and beliefs. Like a pirate flag hoisted above a ship to tell everyone who they were about to do battle with and what they could expect, Apple served as a symbol for the outcasts and nonconformists the world over.
Related: Remembering Apple's Steve Jobs
They popped their laptops open in airports to show people who they are. They stuck Apple stickers on their car bumpers to let everyone know what they believed. The defended Apple?S products as if defending their own family. And in a sense, that is exactly what the Apple community became -- a family of likeminded individuals who wake up every day to challenge the status quo.
For any entrepreneur who dreams of leading like Steve Jobs, here are three must-have characteristics:
1. Clarity of why you do what you do. To have this, you need a purpose, cause or belief that exists above and beyond the products or services you sell.
2. Discipline of how you do it. You must hold yourself and your people accountable to a defined set of guiding principles or values.
3. Consistency of what you do. Everything you say and do must prove what you believe. Every product that Apple made, all their marketing always communicated the same message: Think Different.
Why Serve a Niche Market?
Entrepreneurs who see a direct correlation between the size of a sasaran market and the probability of success miss the opportunity to serve healthy niche markets. Niche marketing not only provides startups with an opportunity to launch the business successfully, but can also help them grow into major players in a larger market. Healthy, profitable businesses such as Traulsen, Aman Resorts, Zamboni and Peet's Coffee and Tea all serve thriving niches.
Niche players share a common set of traits. These include a deep understanding of their customers and their customers' needs and the ability to stay engaged with those customers. Ideal niche market companies should consistently produce quality, innovative products and possess a genuine regard for the well-being of their employees. Serving a niche allows companies to focus on meeting the needs of a smaller group of customers without compromising their chance to increase the appeal to a broader market.
Look at some successful niche players--some that have gone on to become household names--to see how they achieved, and continue to achieve, success.
A Specific Interest
The iron is one of the oldest and most common household items. It's a commodity product that generally retails for less than $30. That makes the prospect of successfully selling irons priced from $900 to $2,500 farfetched, if not outright ridiculous. Nevertheless, that's exactly what Laurastar has done since 1980, selling more than dua million really high-end irons to households in 40 countries. Switzerland-based Laurastar serves a seemingly small market niche of people who share one interest--pressing their clothing professionally at home. While forgoing a large market in favor of smaller one may not sound logical to venture capitalists, Laurastar has proved that serving a smaller subsegment of the market with special needs can be profitable and sustainable.
In some cases, niche players concentrate on serving a combination of subsegments of a market with similar interests or lifestyles. Aman Resorts doesn't sasaran just canggih, wealthier travelers. Aman Resorts' niche market has a lust for faraway places, an interest in cultural authenticity and a desire for environmental friendliness. The company, which operates properties in Asia, Europe and U.S., has done away with the over-the-top pretentions associated with other luxury brands (think marble reception areas) in favor of small, distinct establishments. Each property is designed to be in harmony with its surroundings and the prevailing local architecture.
Tiga kesalahan umum Startup Menurut Survei
1. Meremehkan biaya operasional
Survei menunjukan, sepertiga berdasarkan pemilik usaha baru mengatakan mereka meremehkan biaya bulanan, sinkron survei perusahaan asuransi Hiscox Amerika Serikat. Mereka acapkali lupa kebutuhan barang-barang yang terkait. Sebagai contoh, jika Anda menciptakan sebuah produk, Anda juga wajib mengemasnya. Jika Anda membutuhkan sebuah mobil atau truk buat bisnis, Anda pula perlu auto insurance. Sering, pengusaha yg memiliki karyawan juga lupa bahwa faktor upah terdapat jaminan sosial dan tunjangan kesehatan & pajak penghasilan, dll. Biaya ini dapat menaikkan porto karyawan hingga 25%.
Saran: Mari menggunakan lbr kerja, misalnya laporan arus kas
dua. Meremehkan porto pendirian
Pengusaha pemula terlalu optimis tentang penjualan sebagai akibatnya terlalu konfiden akan usaha mereka. Mereka tak jarang keliru bahwa segera selesainya closing penjualan mereka akan mempunyai uang. "Mereka lupa bahwa orang tidak akan membayar buat 30 hingga 60 hari & mungkin akhir," Mari mengatakan. Sehingga lalu tidak membuat kebutuhan porto secara lengkap dan jangka panjang.
Saran: Sebaiknya pengusaha pemula mengikuti "anggaran dua." Harusnya memprediksi setidaknya dua kali lebih lama pengembaliannya dan biaya 2 kali lebih poly menurut planning. Ketika mencoba mengukur berapa poly meminjam, memperkirakan tidak hanya biaya awal, akan tetapi berapa banyak uang yang Anda perlukan buat menutupi pengeluaran sehari-hari Anda sementara Anda membentuk bisnis.
Memperkirakan porto yg lebih tinggi, pendapatan yang lebih rendah dan ketika yg lebih lama buat kelangsungan hidup bisa menyebabkan jumlah yg mungkin tampak menyeramkan, tapi itu planning realistis.
Tiga. Mispricing produk atau jasa
Pengusaha baru acapkali datang dalam harga buat produk atau layanan mereka dengan menambahkan biaya mereka & menambahkan pada margin mereka berpikir mereka wajib menciptakan. Pendekatan yang umumnya terlalu sederhana dan mengabaikan faktor-faktor krusial seperti posisi pasar dan nilai riil produk Anda. Harus menciptakan asumsi berapa banyak volume penjualan dibutuhkan untuk menerima ke titik impas.
ayooooo
Gunung Agung Memberi Diskon 30%
Untuk menghabiskan residu stok, Gramedia sedang melakukan discount sale 30% buku "10 Pengusaha Yang Sukses Membangun Bisnis Dari 0" tulisan Sudarmadi. Minggu lalu saya lihat di Gunung Agung Depok sedang dilakukan sales. Semoga masih ada sisa bagi yg membutuhkannya.
Thanks n salam
Darmadi