Kinerja Astra Semester I 2016, Laba Bersih Turun 12%

PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba bersih pada semester I 2016 sebanyak 12 % dari Rp 8 triliun sebagai Rp 7,1 triliun. Penurunan ini utamanya dipicu pelemahan harga komoditas & penurunan permintaan indera berat.
"Laba bersih grup Astra selama semester pertama menurun. Tantangan pada semester pertama tahun ini asal dari pelemahan harga komoditas dan permintaan terhadap indera berat," ujar Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto, pada kabar tertulisnya.
Menurut penjelasan Prijono, selain pelemahan harga komoditas dan penurunan permintaan alat berat, penurunan volume usaha kontraktor pertambangan dan peningkatan kredit bermasalah di Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. "Walaupun demikian, kami berharap kinerja berdasarkan usaha pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," jelas Prijono.
Penurunan laba higienis perseroan diiringi dengan penurunan pendapatan bersih konsolidasi Astra dalam sebanyak lima % sebagai Rp 88,2 triliun pada semester I 2016 dari Rp 92,5 triliun dalam periode yg sama tahun sebelumnya. "Grup Astra mengalami penurunan pendapatan higienis di sektor alat berat & pertambangan dan agrobisnis, ad interim kontribusi pendapatan bersih berdasarkan Toyota Sales Operation juga menurun," tandas Prijono.
Selain itu, pula tercatat bahwa laba higienis per saham pun mengalami penurunan sebanyak 12 % menurut Rp 199 per saham menjadi Rp 176 per saham.
Masih Andalkan Bisnis CRM, Kinerja Infomedia 2016 Diyakini Mampu Raih Pendapatan Rp 2,5 triliun
Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (Persero) PT Infomedia Nusantara terus menggenjot kinerja bisnisnya. Perusahaan yang bergerak pada bidang penyediaan layanan "business process managementdanquot; ini diyakini akan bisa merealisasikan targe pendapatan tahun 2016 sebanyak Rp2,5 triliun, atau meningkat kurang lebih 15 % dibanding tahun 2015.
"Dengan transformasi usaha yg sedang berlangsung, target pendapatan 2016 sebanyak Rp2,5 triliun kami yaki mampu tercapai. Sementara sampai semester I 2016 telah mencapai lebih kurang Rp1,375 triliun," istilah Presiden Direktur Infomedia, Bona LParapat, pada sela media gathering di Jakarta, Kamis.Bona menjabarkan, pencapaian target pendapat didorong berlanjutnya pertumbuhan usaha dalam empat bisnis perusahaan yaitu Customer Relationship Management (CRM), Information Technology Outsourcing (ITO), Business Process Outsourcing (BPO) & Knowledge Process Outsourcing (KPO).
Infomedia memang tengah melakukan transformasi bisnis untuk melakukan perbaikan dan menghasilkan kinerja dan keuntungan yang lebih bagus dan punya bisnis berlanjut di masa datang. "Infomedia harus menjadi pemain terdepan dalam Business Process Management di Indonesia maupun kawasan regional," katanya.
Selama tahun 2016, lanjut Bona, pendapatan terbesar Infomedia masih disumbang oleh usaha CRM yg mencapai 40 %, disusul kontribusi usaha ITO & BPO masing-masing 25 %, dan selebihnya atau lebih kurang 10 % dari bisnis KPO.
Pada segmen CRM, kontribusi tertinggi pendapatan masih disumbang dari layanan call center yang terus tumbuh sejalan dengan perkembangan teknologi. Saat ini Infomedia mempunyai sekitar lima.000 seat call center menggunakan jumlah agen mencapai lebih kurang 20.000 orang. "Di taraf nasional Infomedia menguasa pangsa pasar sekitar 35 persen, sedangkan ekspansi ke luar negeri sudah mencapai 10 negara," ungkapnya.
Bona menambahkan, secara holistik Infomedia memiliki klien hingga sekitar 150 perusahaan yg bergerka dalam 17 sektor usaha. Meski begitu, Bona mengakui selama ini rakyat cenderung mengenal Infomedia hanya sebatas layanan "Yellow Pagesdanquot; atau penyedia nomor telepon rakyat & global bisnis. "Sekarang tidak lagi. Infomedia sudah memberikan layanan menyeluruh mulai dari CRM berbasis digital & multi channel, jasa penyediaan solusi bagi klien pada menaikkan efisiensi usaha, peningkatan proses bisnis inti klien, hingga layanan data analitik," tegasnya.Sederet perusahaan mulai menurut segmen perbankan, perusahaan penerbangan maupun manufaktur & jasa bisnis lainnya mempercayakan pengelolaan jasa call center-nya pada Infomedia, misalnya Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia. "Kami juga terus ekspansi layanan call center ke luar negeri yg saaat ini sudah mencapai 10 negara. Ekspansi akan dilanjutkan ke sejumlah negara lainnya," ujarnya.
Infomedia dalam memenuhi baku keamanan liputan yang dikelola perusahaan baik data perusahaan juga data milik pelanggan, menerima tunjangan profesi ISO 270001:2013 dari TUV Nord Indonesia. Sertifikat ini diberikan atas jaminan penyimpanan data pelanggan menggunakan memakai cloud, operasional CRM, infrastructure support activities & help desk application.
Gaya Edo Bawono Besarkan Bisnis Keluarga Di Bidang Packaging
Kecintaan Edo Bawono pada dunia tenis tak mengurangi rasa bhaktinya kepada orang tua. Tak heran, meski sudah nyaman 10 tahun bekerja dan menyalurkan kecintaannya pada dunia tenis di Amerika, toh sejak Desember 2010 lalu ia pulang ke Indonesia, bergabung dan meneruskan bisnis keluarga. Edo, kelahiran 24 Desember 1977, merupakan generasi kedua pemilik perusahaan kemasan PT Multi Saka Abadi. Sejak empat tahun lalu, anak sulung dari tiga bersaudara ini bekerja keras mengembangkan usaha keluarganya dan kini sudah dipercaya sebagai managing director.
Sebenarnya 10 tahun masa kerja Edo di Amerika berlangsung cukup nyaman. Di Negeri Paman Sam itu Edo sempat bekerja di perusahaan manufacturing, Crown Cork & Seal, selama 5 tahun. Lalu pindah ke Saint-Gobain (2 tahun), dan terakhir pindah ke sebuah perusahaan manufacturing di Philadelphia. Setelah menjabat Senior Financial Analyst, ia merasa sudah waktunya pulang ke Indonesia, membantu bisnis orang tua. "Kebetulan ayah memanggil saya untuk membantu di sini," kenang Edo.
Awalnya Edo agak berat hati pulang karena disana ia bisa menyalurkan bakat tenisnya -- fasilitas disana lebih lengkap. Maklum, ia penggemar berat olahraga tenis dan sempat menjadi pemain tenis nasional. Begitu bergabung ke perusahaan keluarga, ia langsung ditempatkan sebagai plant manager (manajer pabrik). Awalnya agak kaget terjun ke bisnis keluarga karena harus menangani semua bidang, sementara waktu di Amerika lebih banyak berkutat dengan finance.
Dari sisi hubungan interpersonal, ia tak kesulitan karena karyawan rata-rata sudah lama bekerja dengan orang tuanya, dan sudah dianggap saudara sendiri. "Disini saya harus memikirkan ke mana arah perusahaan. Ruang lingkup pekerjaan lebih luas, melihat keseluruhan. Juga harus mengelola manajer-manajer supaya menjadi satu tim erat," ungkap Edo yang meraih gelar sarjana dari University of Kentucky dan MBA dari Temple University itu.
Pemilik PT Multi Saka Abadi yang juga ayahanda Edo, Arko Bawono menjelaskan, dirinya membiarkan karir Edo berjalan mengalir. "Saya tidak memaksakan, dan mungkin dia sendiri kasihan sama saya yang sudah tua. Ha haha," ujar Arko. Arko hanya mengajari Edo soal budaya karena memang budaya kerja di Indonesia berbeda. Juga tentang peraturan pemerintah dan peraturan perusahaan. "Saya beritahu dia, harus bisa menyesuaikan diri menghadapi karyawan," kata Arko seraya berharap agar Edo bisa membuat perusahannya lebih besar dan memberikan manfaat untuk banyak orang.
Semenjak dipercaya sebagai managing director PT Multi Saka Abadi, Edo melakukan sejumlah langkah terobosan, khususnya di lini produksi hingga proses. Contohnya, perusahaannya ia dorong untuk berani melakukan investasi teknologi yang lebih mutakhir untuk membantu peningkatan produktivitas. "Pelanggan kami merupakan multi-nasional yang menuntut bekerja lebih cepat. Kalau saya melayani mereka dengan mesin-mesin yang tidak canggih, tentu tak akan bisa memenuhi kebutuhan customer kita," ia memberi alasan.
Tak heran, perusahaannya juga sudah menerapkan manajemen proses bisnis dan sistem informasi yang berbasis Enterprise Resource Planning. Sekarang pihaknya juga sudah punya mesin berkecepatan 4 kali lebih cepat dibanding sebelumnya.
Dari sisi pasar, selama ini perusahaannya berhasil dipercaya perusahaan dan brand top seperti Lifebuoy, Lux, Coca Cola, Detol, Indofood, Wings, untuk menjadi penyedia kemasan. Selain itu juga sudah ekspor ke Papua New Guinea, dan secara tak langsung juga ekspor ke Arab Saudi, Malaysia, Jepang, Hong Kong dan beberapa negara di Asia lain. "Penjalan kita tiap tahun naik 30% dalam 4 tahun terakhir," ujarnya sumringah. Ya, bisnis PT Multi Saka Abadi makin berkembang dibawah Edo. Bila saat masuk jumlah karyawannya 90 orang, kini sudah lebih dari 300 orang karyawan.
"Saya ingin Multi Saka terus tumbuh sampai ke generasi anak-cucu. Lima tahun kedepan kita targetkan sudah masuk top five di bisnis packaging," ungkapnya yakin. Modal yang andalkan ialah keuletan dalam menghadapi masalah. "Ketika menghadapi masalah, kita harus selalu berjuang, tidak pernah menyerah. Tidak ada kata tidak bisa, dan harus tuntas,” Edo menceritakan semangat bisnisnya. Ya, semangat yang tentu saja diinspirasi sportifitas dari dunia tenis.
Kinerja Astra Group Semester I 2016, Turun 12% Laba Bersih

PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba bersih dalam semester I 2016 sebesar 12 % dari Rp 8 triliun sebagai Rp 7,1 triliun. Penurunan ini utamanya dipicu pelemahan harga komoditas & penurunan permintaan indera berat.
"Laba higienis kelompok Astra selama semester pertama menurun. Tantangan dalam semester pertama tahun ini berasal menurut pelemahan harga komoditas & permintaan terhadap indera berat," ujar Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto, pada berita tertulisnya.
Menurut penjelasan Prijono, selain pelemahan harga komoditas & penurunan permintaan indera berat, penurunan volume bisnis kontraktor pertambangan & peningkatan kredit bermasalah pada Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. "Walaupun demikian, kami berharap kinerja dari bisnis pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," jelas Prijono.
Penurunan keuntungan bersih perseroan diiringi menggunakan penurunan pendapatan bersih konsolidasi Astra pada sebesar lima % sebagai Rp 88,2 triliun dalam semester I 2016 berdasarkan Rp 92,5 triliun dalam periode yg sama tahun sebelumnya. "Grup Astra mengalami penurunan pendapatan bersih pada sektor alat berat dan pertambangan serta agrobisnis, ad interim kontribusi pendapatan higienis menurut Toyota Sales Operation jua menurun," tandas Prijono.
Selain itu, pula tercatat bahwa laba bersih per saham pun mengalami penurunan sebanyak 12 % dari Rp 199 per saham menjadi Rp 176 per saham.
Kinerja Telkom Semester I 2016, Laba Tumbuh 33%, Divisi Bisnis Digital Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2016, PT Telkom Indonesia (Persero)Tbk (Telkom) tetap menunjukkan kinerja yang memuaskan dengan membukukan pertumbuhan triple double digit growth pada Pendapatan, EBITDA dan Laba Bersih sebesar 15,6%, 22,8% dan 33,3%.
Telkom pada periode 6 bulan pertama 2016 ini membukukan pendapatan sebesar Rp 56,45 triliun, tumbuh 15,6% dari periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar Rp 48,84 triliun. Telkom mencatatkankan EBITDA Rp 28,80 triliun tumbuh 22,8% dari tahun lalu yang sebesar Rp 23,46 triliun serta laba bersih sebesar Rp9,93 triliun atau tumbuh 33,3% dari tahun lalu yang sebesar Rp 7,45 triliun.
Menurut Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen, bisnis Data, Internet dan IT Services menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan Perseroan. “Bisnis Data, Internet & IT Service tumbuh 50,7% dengan kontribusi sebesarRp22,64 triliun atau 40,1% dari keseluruhan pendapatan Perseroan” ujar Harry.
“Pertumbuhan pada pendapatan Data, Internet dan IT Services tidak terlepas dari perluasan infrastruktur fiber optic dan BTS 3G/4G sesuai arah strategi perusahaan menuju digital company. Perseroan tengah mempersiapkan bisnis digital untuk menjadi engine of growth di masa-masa mendatang,” jelas Harry.
Sementara itu pelanggan layanan seluler Telkomsel menjadi 157,39 juta users tumbuh sebesar 9,2%. Pelanggan broadband juga mengalami peningkatan yang berarti. Pelanggan Telkomsel Flash tumbuh 48,2% menjadi 49,85 juta users dan pelanggan fixed broadband tumbuh 15,7% menjadi 4,3juta users, termasuk diantaranya 1,5 juta pelanggan IndiHome.
Telkomsel selaku entitas anak usaha Telkom mampu mempertahankan kinerja melalui triple double digit growth dengan pertumbuhan pendapatanse besar 16,1%, EBITDA 23,9% dan laba bersih 32,7% secara Year on Year (YoY). Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp41,11 triliun, EBITDA Rp 23,84 triliun dan Laba Bersih 13,41 triliun.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas dan jangkauan layanan jaringan Telkomsel antara lain dengan penambahan sebanyak 15.384 BTS (Base Transceiver Station) dimana sekitar 90% BTS tersebut merupakan BTS 3G/4G. Sementara ARPU tumbuh sekitar 9% sejalan dengan peningkatan penggunaan layanan data.
Layanan IndiHome Triple Play yang diluncurkan pada awal 2015 telah memiliki 1,5 juta pelanggan hingga akhir Semester 1 2016. Dengan didukung oleh infrastruktur jaringan fiber optik, Telkom akan terus meningkatkan kualitas layanan IndiHome diantaranya dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan teknisi untuk mendukung permintaan layanan IndiHome yang berkualitas di rumah pelanggan.
Sementara itu, beban Perusahaan tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8,5%, lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan, dari Rp33,72 triliun pada tahun lalu menjadi Rp36,57 triliun. Beban operasional dan pemeliharaan menjadi kontributor utama kenaikan beban Perseroan, yang meningkat sebesar14,6% menjadi Rp16,17 triliun.
Peningkatan Beban operasional dan pemeliharaan sejalan dengan percepatan pembangunan infrastruktur jaringan, baik pada unit usaha mobile maupun fixed-line dalam upaya mendorong pertumbuhan bisnis digital.
Pertumbuhan Kinerja Telkom Terjaga, Bisnis Digital Jadi Backbone Pertumbuhan Baru
Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2016, PT Telkom Indonesia (Persero)Tbk (Telkom) permanen memberitahuakn kinerja yg memuaskan menggunakan membukukan pertumbuhan triple double digit growth pada Pendapatan, EBITDA dan Laba Bersih sebanyak 15,6%, 22,8% & 33,3%.
Telkom dalam periode 6 bulan pertama 2016 ini membukukan pendapatan sebanyak Rp 56,45 triliun, tumbuh 15,6% menurut periode yg sama tahun lalu yaitu sebanyak Rp 48,84 triliun. Telkom mencatatkankan EBITDA Rp 28,80 triliun tumbuh 22,8% menurut tahun lalu yang sebesar Rp 23,46 triliun dan keuntungan bersih sebanyak Rp9,93 triliun atau tumbuh 33,3% dari tahun kemudian yg sebanyak Rp 7,45 triliun.
Menurut Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen, bisnis Data, Internet dan IT Services menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan Perseroan. “Bisnis Data, Internet & IT Service tumbuh 50,7% dengan kontribusi sebesarRp22,64 triliun atau 40,1% dari keseluruhan pendapatan Perseroan” ujar Harry.
“Pertumbuhan pada pendapatan Data, Internet dan IT Services tidak terlepas dari perluasan infrastruktur fiber optic dan BTS 3G/4G sesuai arah strategi perusahaan menuju digital company. Perseroan tengah mempersiapkan bisnis digital untuk menjadi engine of growth di masa-masa mendatang,” jelas Harry.
Sementara itu pelanggan layanan seluler Telkomsel menjadi 157,39 juta users tumbuh sebesar 9,2%. Pelanggan broadband juga mengalami peningkatan yang berarti. Pelanggan Telkomsel Flash tumbuh 48,2% menjadi 49,85 juta users dan pelanggan fixed broadband tumbuh 15,7% menjadi 4,3juta users, termasuk diantaranya 1,5 juta pelanggan IndiHome.
Telkomsel selaku entitas anak usaha Telkom mampu mempertahankan kinerja melalui triple double digit growth dengan pertumbuhan pendapatanse besar 16,1%, EBITDA 23,9% dan laba bersih 32,7% secara Year on Year (YoY). Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp41,11 triliun, EBITDA Rp 23,84 triliun dan Laba Bersih 13,41 triliun.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas dan jangkauan layanan jaringan Telkomsel antara lain dengan penambahan sebanyak 15.384 BTS (Base Transceiver Station) dimana sekitar 90% BTS tersebut merupakan BTS 3G/4G. Sementara ARPU tumbuh sekitar 9% sejalan dengan peningkatan penggunaan layanan data.
Layanan IndiHome Triple Play yang diluncurkan pada awal 2015 telah memiliki 1,5 juta pelanggan hingga akhir Semester 1 2016. Dengan didukung oleh infrastruktur jaringan fiber optik, Telkom akan terus meningkatkan kualitas layanan IndiHome diantaranya dengan meningkatkan jumlah dan kemampuan teknisi untuk mendukung permintaan layanan IndiHome yang berkualitas di rumah pelanggan.
Sementara itu, beban Perusahaan tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8,5%, lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan, dari Rp33,72 triliun pada tahun lalu menjadi Rp36,57 triliun. Beban operasional dan pemeliharaan menjadi kontributor utama kenaikan beban Perseroan, yang meningkat sebesar14,6% menjadi Rp16,17 triliun.
Peningkatan Beban operasional dan pemeliharaan sejalan dengan percepatan pembangunan infrastruktur jaringan, baik pada unit usaha mobile maupun fixed-line dalam upaya mendorong pertumbuhan bisnis digital.
Kinerja Astra Terkena Imbas Penurunan Sektor Tambang dan Komoditi

Pelemahan sektor bisnis tambang dan komoditi rupanya juga punya dampak terhadap kinerja bisnis group konglomerasi swasta terbesar Indonesia, PT Astra International Tbk. Setidaknya hal itu tampak dari kinerja semester pertama 2016 dari konglomerasi yang punya multi bisnis tersebut (otomotif, finansial, agro, tambang, properti, infrastruktur, dll) tersebut.
Sebagaimana dipaparkan dalam laporan keuangan resmi, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba bersih pada semester I 2016 sebesar 12 % dari Rp 8 triliun menjadi Rp 7,1 triliun. Penurunan ini utamanya dipicu pelemahan harga komoditas dan penurunan permintaan alat berat.
"Laba bersih grup Astra selama semester pertama menurun. Tantangan pada semester pertama tahun ini berasal dari pelemahan harga komoditas dan permintaan terhadap alat berat," ujar Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto, dalam keterangan tertulisnya.
Menurut penjelasan Prijono, selain pelemahan harga komoditas dan penurunan permintaan alat berat, penurunan volume bisnis kontraktor pertambangan dan peningkatan kredit bermasalah di Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. "Walaupun demikian, kami berharap kinerja dari bisnis pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," jelas Prijono.
Penurunan laba bersih perseroan diiringi dengan penurunan pendapatan bersih konsolidasi Astra pada sebesar 5 % menjadi Rp 88,2 triliun pada semester I 2016 dari Rp 92,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Grup Astra mengalami penurunan pendapatan bersih di sektor alat berat dan pertambangan serta agrobisnis, sementara kontribusi pendapatan bersih dari Toyota Sales Operation juga menurun," tandas Prijono. Selain itu, juga tercatat bahwa laba bersih per saham pun mengalami penurunan sebesar 12 % dari Rp 199 per saham menjadi Rp 176 per saham.
Kinerja Laba Jababeka Naik 30%, Agresif Kembangkan Kendal dan Morotai

Laba PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) sepanjang semester I/2016 naik 30,41% dibandingkan menggunakan periode yg sama tahun lalu. Sesuai laporan keuangan semester I/2016 yang telah dipublikasikan (9/8/2016), perseroan mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak Rp 325,78 miliar atau naik 30,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp249,81 miliar.
Peningkatan keuntungan Jababeka didorong sang sejumlah beban perseroan yg sanggup ditekan. Sepanjang semester I/2016, perseroan mencatat penjualan dan pendapatan jasa senilai Rp 1,36 triliun. Pencapaian tersebut turun 7,48% berdasarkan periode yang sama 2015 senilai Rp1,47 triliun.
Tetapi demikian, perseroan cukup smart dan berhasil bisa menekan sejumlah beban porto. Mulai menurut beban keuangan yg turun 56,98% menjadi Rp169,59 miliar dari Rp394,22 miliar dalam semester I/2015. Kemudian, beban pajak final juga turun menjadi Rp10,60 miliar berdasarkan Rp28,38 miliar.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) terus akan perluasan menyebarkan bisnis-usaha dan proyek barunya yg sudah terdapat pada pipeline untuk pengembangan. Antara lain, Jababeka telah menyiapkan dana sebesar US$ 10-20 juta buat membangun infrastruktur kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah. Direktur Utama Jababeka Budiyanto Liman berkata, perseroan bekerjasama dengan perusahaan asal Singapura, Sembawang Corporation, untuk berbagi kawasan industri tadi. Luas tanah yg akan digarap seluas 2.000-tiga.000 hektare (ha).
?Tahap awal, kami akan kembangkan kurang lebih 860 ha. Sekarang dalam tahap pengembangan infrastruktur,? Ujar Budiyanto pada Jakarta, Selasa (20/10). Dia melanjutkan, secara spesifik, infrastruktur yang akan dibangun mencakup jalan, pemadatan tanah, & menyiapkan pasokan air bersih juga buat air limbahnya. ?Pokoknya kami bangun infrastruktur supaya para investor yg ingin membangun pabrik telah sanggup beroperasi termasuk listrik dan lainnya,? Ujar Budiyanto.
Untuk pasokan listrik, perseroan berencana membangun pembangkit listrik (power plant) untuk memenuhi kebutuhan daerah industri. Tetapi, dia belum mampu menyebutkan berapa kapasitasnya. Dia mengakui, untuk proyek pengembangan daerah industri Kendal, saat ini telah banyak perusahaan yg akan menempati daerah tadi. Hal ini didukung menurut harga tanah yg lebih murah dan dari segi upah pekerja masih nisbi lebih rendah dibandingkan tempat industri Jababeka lainnya.
?Dari segi labour cost pada Jawa Tengah masih lebih rendah dibandingkan Bekasi. Hal ini sebagai daya tarik investor terutama bagi yg labour intensif, seperti tekstil,? Ujar Budiyanto. Sementara itu, buat pembebasan huma, perseroan menghabiskan belanja kapital (capital expenditure/capex) sebanyak Rp 600 miliar tahun ini. Dana tersebut 100 persen dari menurut kas perseroan. Sementara itu, untuk kawasan Kendal, bakal menghabiskan dana sebanyak Rp 400 miliar. Capex yg paling akbar memang digunakan untuk pembebasan huma di Kendal.
Jababeka juga terus melanjutkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Pulau Morotai seluas 1.200 hektar. Melalui anak usahanya, PT Morotai Jababeka berhasil menggandeng mitra dari Taiwan buat membangun amenitas dan atraksi pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata tadi.
Pada tahap awal, dikabarkan, PT Morotai Jababeka, membentuk 10 ribu tempat tinggal dengan pangsa pasar kelas menengah, serta hotel-hotel dengan kapasitas 100 ribu kamar. Tahap berikutnya, PT Morotai Jababeka menciptakan tempat pariwisata, sekolah yg akan menyuplai asal daya manusia (SDM), & lainnya. Raksasa properti ini jua akan membuatkan pertanian, perikanan, dan perdagangan.
PT Morotai Jababeka siap menggelontorkan investasi Rp 6,8 triliun. Dana sebesar itu asal menurut investasi sendiri, & sejumlah investor. Andrew Hsia, ketua Perwakilan Perdagangan dan Ekonomi Taipei di Indonesia (TETO), berjanji akan mengembangkan budi daya ikan, pertanian, pariwisata, & perbankan di Morotai. Ia memperkirakan akan terdapat pergerakan banyak orang ke Morotai buat bekerja pada bidang perikanan, eko-turisme, & infrastruktur.
Kinerja BTN 2016, Laba Tumbuh 25,40% Pada Semester I
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan kinerja keuangan semester I 2016 dengan peningkatan laba bersih sebesar 25,40% menjadi Rp1,042 Triliun dari Rp 850 Milyar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional BTN, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp3,696 Triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp584 Milyar.
Pendapatan bunga bersih ini tumbuh 15,71% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,194 Triliun. Sementara pendapatan operasional lainnya tumbuh 12,56% dari tahun 2015 yang sebesar Rp519 Milyar. BTN mencapai hasil kinerja semester I 2016 yang positif. Demikian Maryono Direktur Utama BTN menjelaskan usai paparan kinerja BTN semester I 2016 di Jakarta, Senin 25 Juli 2016.
Maryono menambahkan BTN masih menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan di Indonesia dengan pangsa pasar 31%. Kredit yang disalurkan BTN selama semester I 2016 tumbuh 18,39% dari Rp126,125 Triliun pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp149,316 Triliun. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh penyaluran kredit ke sektor perumahan sebesar Rp135,745 Triliun yang tumbuh 20,23% dari tahun sebelumnya sebesar Rp112,903 Triliun. Kredit non perumahan sebesar Rp13,571 Triliun atau tumbuh 2,64% dari tahun 2015 yang sebesar Rp13,223 Triliun.
Kredit ke sektor perumahan disalurkan untuk mendukung kredit perumahan subsidi dan kredit perumahan non subsidi. Kredit subsidi mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi sebesar Rp49,804 Triliun atau tumbuh 31,18% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp38,011 Triliun. Sementara kredit non subsidi tercatat tumbuh 14,88% dari sebesar Rp49,755 Triliun pada tahun 2015 menjadi Rp57,158 Triliun pada semester I tahun 2016.
Sementara itu Bank BTN mencatatkan Dana pihak ketiga meningkat 17,29% menjadi Rp134,555 Triliun pada akhir Juni 2016. Sementara posisi tahun 2015 Dana Pihak Ketiga BTN tercatat sebesar Rp114,749 Triliun. Dan Bank BTN berhasil meningkatkan Asset menjadi Rp.189,513 Triliun atau tumbuh 21,52% dari posisi Asset tahun 2015 yang sebesar Rp155,952 Triliun.
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sementara tren industry menunjukkan NPL yang terus naik, rasio kredit bermasalah (NPL) BTN turun dari 4,70% pada tahun 2015 menjadi 3,41% pada tahun 2016. BTN secara proaktif mempertahankan posisi likuiditas dan basis permodalan yang solid. Pada semester I 2016 rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,07%.
Fokus core business
Bank BTN tetap konsisten terhadap core business-nya dalam bidang pembiayaan perumahan. Kinerja Perseroan semester I 2016 masih menunjukkan konsistensi Bank BTN pada bisnis utamanya tersebut. Ini dapat dilihat dari porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan komposisi 90,91% atau sebesar Rp135,745 Triliun dari total kredit yang disalurkan Perseroan selama semester I 2016 sebesar Rp149,316 Triliun. Sementara sisanya yang sebesar 9,09 atau sebesar Rp13,571 Triliun disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan.
Bank BTN masih menguasai pasar pembiayaan perumahan di Indonesia. Pangsa pasar Bank BTN tercatat 31,72% masih berada diatas BCA (17,3%), BNI (10,1%), Mandiri (8,9%), BRI (4,7%), Niaga (6,7%) sementara sisanya sekitar 20,7% dikuasai oleh bank-bank lain. Kami masih menguasai pasar perumahan di Indonesia dan posisi ini akan kami pertahankan dan terus diupayakan peningkatannya, tegas Maryono.
Hingga Semester I 2016 pencapaian program sejuta rumah telah mencapai sebesar 400.982 unit dengan rincian KPR sebanyak 100.175 unit dan dukungan konstruksi sebanyak 300.807 unit. Adapun jumlah kredit yanng telah disalurkan BTN adalah sebesar Rp42,063 Triliun.
Ingin berperan dalam Tax Amnesy
Dalam rangka mensukseskan Tax Amnesty, BTN secara aktif akan menerbitkan sejumlah instrumen untuk menampung dana repatriasi yang masuk, antara lain berupa EBA dengan target penerbitan mencapai Rp 10 Triliun. Penerbitan EBA tersebut adalah salah satu usaha perseroan untuk dapat ikut serta menyerap dana repatriasi yang akan masuk.
Selain EBA, Bank BTN juga menyiapkan instrument investasi lain untuk menampung dana tax amnesty. Dari mulai simpanan biasa seperti tabungan, deposito dan giro. Kemudian juga instrument investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi, negotiable certificate of deposit (NCD) dan medium term notes (MTN).
Maryono mengungkapkan dana repatriasi yang dibidik BTN mencapai Rp50 Triliun dari kebijakan amnesti pajak yang akan difokuskan pada penyaluran ke sektor riil atau sesuai dengan core business BTN. Dana ini akan sangat membantu dalam menyukseskan program sejuta rumah yang dilakukan pemerintah.
Untuk penyaluran dana tax amnesty tersebut sudah disiapkan BTN secara matang. Ini dimaksudkan agar dana tax amnesty yang masuk ke BTN bisa segera disalurkan seperti melakukan relaksasi pemberian kredit kepada pengembang yang akan membeli tanah untuk dibangun proyek rumah bersubsidi. Kelonggaran dari BTN tersebut bakal menjadi modal yang baik bagi pengembang dalam program pembangunan perumahan. Hal ini dikarenakan tanah adalah komponen biaya yang besar dalam proyek pembangunan rumah.
Bisnis syariah terus tumbuh
Syariah Bank BTN saat ini masih berstatus UUS (unit usaha syariah). Meskipun demikian UUS Bank BTN sangat terkelola dengan baik. Ini dapat terlihat dari kinerjanya pada semester I 2016 dengan Asset tercatat sebesar Rp15,803 Triliun atau tumbuh 33,59% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp11,829 Triliun. Penghimpunan dana UUS Bank BTN juga meningkat dari Rp9,232 Triliun pada tahun 2015 menjadi Rp12,991 Triliun atau meningkat 40,72%.
Sementara untuk pembiayaan UUS Bank BTN tercatat sebesar Rp12,443 Triliun atau tumbuh 22,29% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,174 Triliun. UUS Bank BTN telah mencatatkan keuntungan sebesar Rp151,30 Milyar. Keuntungan ini tumbuh 15,67% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp130,80 Milyar.
Gandeng IBM, Lintasarta Luncurkan Layanan ITSP
Perusahaan jasa telekomunikasi PT Aplikanusa Lintasarta terus memperkuat mesin pertumbuhan bisnisnya dengan menubruk peluang-peluang bisnis baru dan juga aktif melakukan aliansi bisnis. Salah satu manuvernya, kini Lintasarta sedang memperkuat kemitraan dengan IBM Indonesia. Kemitraan keduanya ditandai dengan peluncuran solusi ITSP (Information Technology Strategic Partner).
Solusi ITSP antara lain berupa Enterprise Resiliency Services, Data Center Migration, Data Center Design and Construction, IT Infrastructure Security Consulting dan Managed Security Service.
President Director Aplikanusa Lintasarta Arya Damar mengatakan, dalam melakukan perubahan, khususnya transformasi digital, sebuah perusahaan tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan partner terbaik.
“Indosat Ooredoo dan Lintasarta sebagai pemimpin solusi ICT dan IBM yang merupakan pemimpin IT global memberikan jawaban akan akselerasi yang dibutuhkan dalam menghadapai era digitalisasi yang berkembang begitu cepat,” ujar Arya Damar.
Menurut Arya Damar, pelaku industri perlu memanfaatkan tren digital seperti big data, internet of things, cloud services, social media, dan mobility secara tepat. Ia mengatakan, solusi digital yang tepat akan meningkatkan efisiensi dan akselerasi ekspansi sehingga menjadi batu loncatan dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi yang besar di era perdagangan bebas.
Presiden Direktur IBM Indonesia Gunawan Susanto mengatakan, kemitraan dengan Lintasarta menunjukkan bagaimana keahlian IBM, teknologi, dan layanan dapat membantu Lintasarta dan Indosat Ooredoo memberikan solusi IT yang inovatif dan sejalan dengan perkembangan ekonomi dan kebutuhan IT di Indonesia.”
“Layanan IT terbaik secara end to end kepada para pelaku bisnis menjadi fokus kami yang didukung dengan infrastruktur dan teknologi IT yang andal, tangkas, dan aman dalam menghadapi perkembangan era digital,” tegasnya.
Herfini Haryono, director and chief Wholesale and Enterprise Officer Indosat Ooredoo menambahkan, melalui solusi ITSP dengan Lintasarta sebagai IT factory dan solusi ICT yang dimiliki, Indosat Ooredoo Group siap menjadi mitra untuk mendukung para pelaku bisnis dari berbagai industri untuk menghadapi era digital yang identik dengan kecepatan, instan, transparansi, dan kemudahan akses.
“Indosat Ooredoo Group melalui Lintasarta dan Indosat Ooredoo Business kembali memastikan menjadi mitra tepat dalam mengelola bisnis. Kami berkomitmen untuk mendukung pelaku bisnis dalam menghasilkan sumber pendapatan baru, meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pengalaman terbaik bagi para pelanggannya,” paparnya.
XL Siap Menggebrak Dengan Pasarkan 250 Ribu Paket Mobile Broadband Baru
Salah satu pemain utama di bisnis operator seluler, XL, kini tengah serius menyiapkan layanan mobile broadbandnya (MBB). Untuk itu dikabarkan XL juga telah menyiapkan stock paket MBB dalam jumlah memadai. Tidak kurang dari 250 ribu paket MBB telah siap dipasarkan melalui outlet penjualan di seluruh kota 4G.
David Arcelus Oses, Chief of prepaid Business Officer XL, berkata semua lini di XL sudah siap mendukung layanan MBB ini. "Bahkan kami pula telah menyiapkan layanan purna jualnya seperti apa nanti. Misalnya, bila router atau MiFi ternyata tak sanggup menangkap frekuwensi 4G hingga sekian Mbps, maka apa yg sanggup dilakukan pelanggan? Apakah bisa mengembalikan barang itu? Semua telah kami siapkan,? Tandas David.
Layanan MBB adalah layanan terbaru dari XL. Layanan ini sanggup dimanfaatkan menggunakan menggunakan perangkat router atau MiFi buat membagi koneksi internet cepat secar WiFi ke 10-32 smartphone atau laptop. Dengan demikian, akan semakin mudah warga dalam mendapatkan akses internet 4G, meski belum mempunyai ponsel 4G.
Pihak XL meyakini, router atau MiFi yg ditawarkan pada paket MBB memiliki spesifikasi teknis terbaik pada kelasnya buat bisa digunakan secara aporisma pada jaringan 4G LTE. Didukung teknologi 4T4R & alokasi spectrum selebar 15 MHz, MBB disebut mampu menaruh kestabilan & kecepatan akses internet hingga150 Mbps. Teknologi ?4T4R? Atau massive MIMO merupakan kombinasi multi-signal berupa 4 frekuwensi transmit & 4 sinyal receive. Artinya, teknologi ini akan berkemampuan memancarkan data menggunakan kombinasi 4 sinyal, sekaligus mendapat data berdasarkan kombinasi 4 sinyal. Teknologi 4T4R sendiri merupakan pengembangan berdasarkan versi sebelumnya, yaitu ?2T2R?.
Untuk mempermudah warga buat memperoleh layanan MBB, XL telah mempersiapkan seluaruh saluran penjualan yg mencakup semua kota di Indonesia yg telah ter-cover oleh layanan 4G. So, pelanggan sanggup menerima produk ini pada semua outlet XL, baik tradisional, modern, jua online. Di tahap awal, lebih berdasarkan 250 ribu paket MBB akan tersedia di 36 XL center dan XPLOR, jua outlet milik XL pada berbagai pusat penjualan ponsel.
Kinerja Laba Elnusa Tetap Positif Meski Sektor Migas Masih Mendung

PT Elnusa Tbk. (?ELNUSA?), salah satu emiten di bidang penyedia jasa energi, melaporkan kinerja Perseroan sepanjang semester pertama tahun 2016 menggunakan pertumbuhan laba yang positif. Melanjutkan pencapaian pada kuartal sebelumnya, Elnusa berhasil membukukan kinerja tengah tahun 2016 menggunakan peningkatan laba bersih sebesar 9,2% mencapai Rp 145 miliar dibandingkan Rp 133 miliar dalam periode yg sama tahun sebelumnya meskipun pendapatan usaha Perseroan terkontraksi lima,1% sebagai Rp 1,7 triliun.
?Kondisi perekonomian dunia & harga minyak memang belum cukup stabil sebagai akibatnya berdampak dalam penurunan pendapatan usaha kami, tetapi menggunakan manajemen usaha yg baik menciptakan kami mampu bertahan bahkan relatif lebih baik dibanding perusahaan lain di industri migas nasional?, papar Budi Rahardjo, Direktur Keuangan Elnusa.
Efisiensi struktur porto menjadi strategi yg tidak bisa dihindari dalam menyikapi situasi industri misalnya ini. Elnusa mampu menekan beban utama pendapatan sebanyak 8,0% sebagai akibatnya menghasilkan peningkatan keuntungan kotor Elnusa sebesar 9,7% sebagai Rp324 miliar. Laba bisnis melonjak 35,8% sebagai Rp232 miliar karena penurunan beban usaha sebesar 35,0% yang juga menghasilkan peningkatan EBITDA sebesar 23,6% sebagai Rp 377 miliar. Marjin keuntungan kotor, keuntungan bisnis & EBITDA pula membaik menjadi masing-masing 18,9%, 13,6% & 22,0% pada semester I 2016 ini.
Budi menambahkan, “Nature of business Elnusa yang terdiferensiasi juga memberi keuntungan tersendiri bagi kami, dimana sepanjang tengah tahun 2016 ini menurunnya aktivitas bisnis jasa drilling & oilfield dapat diimbangi dengan tumbuhnya aktivitas jasa seismik, jasa distribusi dan logistic serta bisnis penunjang lain yang dikelola oleh beberapa anak usaha Elnusa yang berkontribusi signifikan bagi bisnis Perseroan secara keseluruhan”.
Penguatan sisi balance sheet juga menjadi fokus kami saat ini, karena tentu kuatnya neraca akan turut berimbas kepada ketahanan dan profitabilitas Perseroan. Hal ini tercermin dari hutang berbunga yang turun di akhir Juni 2016 sebesar 34,4% menjadi Rp485 miliar dimana turut mengurangi beban keuangan Elnusa sepanjang periode 6 bulan di 2016 ini.
Fundamental Elnusa yang masih kokoh dan tercermin dari kinerja pada kuartal I 2016 ini juga turut diapresiasi pasar dengan naiknya saham ELSA secara tajam dari pertengahan Januari 2016 yaitu Rp174 menjadi Rp446 per penutupan perdagangan Jumat 23 September 2016 kemarin. Pada semester ini pula ELSA bahkan sempat menyentuh kembali level harga Rp620 di bulan Juni 2016 yang lalu.
PPI Siap Jualan Online dan Kejar Target Pendapatan Rp 3,5 Triliun Pada 2016. Apakah Bakal Sukses?
PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), BUMN distributor gula nasional, berencana untuk meningkatkan penjualan gula secara online mulai tahun 2016 setelah resmi menggandeng PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) untuk menyediakan platform online trading bagi perseroan.
PPI telah melakukan perjanjian kerjasama penyediaan layanan Enteprise Resouce Planing (ERP) denga Telkom grup sebagai bagian dari visi PPI sebagai Indonesia Trading House berbasis ICT (information comunication anda technology) di Indonesia.
Dayu Padmara, Presiden Direktur PPI, mengatakan, dengan adanya penyediaan infrastruktur ICT berupa implemantasi ERP dari Telkom diharapkan mampu meningkatkan produktivitas penjualan PPI menjadi 2 hingga 3 kali lipat. "Sistem IT yang terintegrasi diharapkan bisa menunjang pembuatan keputusan manajemen terhadap proses bisnis secara cepat. Kami mengharapkan produktivitas PPI akan meningkat dua hingga tiga kali terutama kontribusi penjualan online dengan memanfaatkan solusi ERP yang akan disediakan Telkom,"kata Dayu.
Menurut Dayu, pada 2016 ini, pihaknya menargetkan pendapatan (revenue ) sebesar Rp 3,5 triliun atau naik 100 % dari tahun 2015 yang sebesar Rp 1,8 triliun, dengan kontribusi penjualan online sebesar lebih dari 50%. Dengan adanya solusi IT yang disediakan Telkom yang di dalamnya termasuk platform penjualan online, pihaknya optimis pendapatan bisa tembus Rp 3,5 triliun hingga akhir 2016.
Sementara itu, untuk proses pengiriman (delivery), kata Dayu, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan PT Pos Indonesia (Posindo) untuk pendistribusian gula maupun produk kimia yang selama ini di jual perseroan. "Untuk jaringan distribusi online kami akan memanfaatkan jaringan PT Pos yang sudah ada di seluruh Indonesia," kata Dayu.
Guna beralih ke platforn penjualan online, lanjut Dayu, perseroan berencana akan mengalokasikan belanja modal (Capital expenditure/Capex ) sebesar Rp 25 - 30 Miliar. Dimana sekitar Rp 20 miliar untuk penyediaan solusi IT dan sisanya akan digunakan untuk pembenahan inftastruktur pergudangan. "Kenapa capex kita sedikit, karena perusahaan trading kan tidak terlalu memerlukan pembangunan infrastruktur. Angka itu paling banyak digunakan untuk IT solution, perbaikan gudang, dan perpanjangan sertifikat," jelas Dayu.
Untuk diketahui, Senin 921/12), PT PPI menggandeng PT Telkom untuk menggarap solusi Enteprise Resouce Planing (ERP) di perusahaan BUMN distributor gula dan pupuk tersebut. Solusi Enteprise Resouce Planing (ERP) yang disiapkan Telkom berupa pengadaan lisensi dan software, jasa konsultasi implementasi ERP, pengadaan hardware serta network dan data center serta Collocation.
Astragraphia Xprint: Pasar E-commerce B2B Tengah Aktif Digarap

Astragraphia Xprint saat ini telah turut meramaikan pasar e-commerce B2B pada Indonesia yg adalah urutan ke-dua pasar terbesar dalam perkembangan e-commerce pada 4 tahun terakhir ini. Astragraphia Xprint langsung memperkenalkan dua layanan terbarunya yang diberi nama AXIQoe.Com & Xprins Web Service (XWS) dan ternyata telah dapat di akses mulai menurut Februari 2016 kemudian.
Dengan mencermati perkembangan pasar e-commerce yg pesat tadi Sahat Sihombing, selaku Presiden Direktur, PT Astragraphia Xprins Indonesia menyatakan, ?Pertumbuhan e-commerce yang signifikan di Indonesia telah mendorong PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) terus berinovasi dan menaruh layanan berbelanja online buat Office Supplies & Office Equipments melalui AXIQoe.Com dan pencetakan dokumen melalui XWS," kata Sahat Sihombing.
Langkah ini menjadi bukti dari komitmen dan eksistensi AXI dalam berinovasi dan memenuhi kebutuhan setiap perusahaan yang semakin meningkat dengan layanan yang cepat, lengkap, dan aman. Walaupun saat ini pertumbuhan pemain e-commerce B2B di Indonesia belum setinggi pemain e-commerce B2C, dengan jaringan layanan dan infrastruktur yang dimiliki AXI, kami yakin bahwa AXIQoe.com & XWS akan berkembang pesat bahkan dapat menyaingi pemain e-commerce yang sudah ada di Indonesia.”
AXIQoe.com merupakan website penyedia layanan jasa berbelanja online untuk B2B, yang mana Anda akan dapat menemukan berbagai produk one stop office service untuk kalangan perkantoran. Perusahaan Anda dapat membeli berbagai keperluan kantor Anda tanpa perlu beranjak dari tempat Anda dan barang akan dikirim ke tempat yang Anda inginkan dan tentunya dengan harga yang bersaing dan terpercaya dengan garansi resmi.
Selain itu, AXIQoe.com juga memberikan kelebihan lainnya, seperti Terms of Payment dalam jangka waktu tertentu, Approval dimana perusahaan Anda hanya memperbolehkan belanja dengan peraturan yang ada, History dimana perusahaan dapat menganalisa berbagai transaksi yang telah terjadi sebelumnya, dan Service Level yang di berikan akan mengirim barang melalui Layanan Gerak Xpress LGX) yang cepat dan tepat waktu.
Pada website e-commerce AXIQoe.com ini juga memberikan layanan Xprints Web Service (XWS) yang mana perusahaan yang telah mendaftar ke layanan ini dapat melakukan Print on Demand berbasis web service. Anda dapat menggunakan layanan ini untuk melakukan berbagai keperluan cetak, seperti Books, Flyers, Letterhead, Brochure, Business Card, Envelope, Manuals, Certificates dan masih banyak lagi sesuai kebutuhan tanpa perlu menghampiri layanan cetak. Setelah pesanan cetak disetujui oleh pihak perusahaan dan mendapatkan appoval, maka akan dilakukan cetak sebanyak yang di minta dan langsung di kirim ke perusahaan Anda dengan cepat.
Peluncuran Xprins Web Services (XWS) ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mensosialisasikan “Customized Printing Go Public” yang mengajak publik untuk lebih mengenal teknologi digital printing sebagai solusi percetakan yang terintegrasi, modern, cepat, tepat, dan efisien.
Holcim Raih Omset Rp 9,2 triliun Pada 2015, Lebih Optimis Setelah Selesai Merger

PT Holcim Indonesia Tbk (Holcim Indonesia), perusahaan publik Indonesia yang lebih banyak didominasi sahamnya (80,65%) dimiliki LafargeHolcim Group, jua menghadapi tantangan usaha konstruksi dan infrastruktur yg belum sepenuhnya berjalan sinkron harapan. Tahun 2015, pada situasi ekonomi yg masih wait and see, Holcim mampu mencatatkan pendapatan (omset) sebesar Rp 9,dua triliun. Memang sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya (terkoreksi 2.6%).
Dengan situasi pasar yang dilanda perlambatan ekonomi, Holcim mencatat laba sebesar Rp 175 milyar, turun dari Rp 660 milyar (tahun 2014). Kinerja ini merupakan cerminan lesunya penjualan ditambah lonjakan biaya-biaya dari penyelesaian proyek pabrik baru di Tuban, peningkatan tarif dasar listrik, dan biaya restrukturisasi sebelum dilakukannya integrasi dengan PT Lafarge Cement Indonesia.
Gary Schutz, Country CEO Holcim Indonesia, menjelaskan, “Walaupun tahun 2015 diwarnai dengan tekanan harga dan penurunan pendapatan, kami tetap mampu mempertahankan pangsa pasar, melakukan restrukturisasi untuk operasional yang lebih efisien dan produktif, serta sukses menyelesaikan proses integrasi dengan Lafarge Indonesia ” kata Gary.
Pihaknya melihat tahun 2015 sebagai tahun refleksi sebelum menyongsong pertumbuhan yg lebih bertenaga seiring dengan perkembangan Indonesia kedepan. Kini Holcim Indonesia mempunyai kapasitas pada Sumatera, pabrik moderen pada Tuban, Jawa Timur dan siap memperluas jangkauan pasar.
PT Holcim Indonesia Tbk sudah menyelesaikan restrukturisasi dan integrasi menggunakan PT Lafarge Cement Indonesia, ditengah situasi pertumbuhan ekonomi yg melambat dan tertundanya realisasi belanja negara. Himbauan Pemerintah buat menurunkan harga jual semen produksi BUMN dalam awal tahun 2015 kemudian, sudah berdampak dalam pendapatan usaha di sektor tadi. Sementara permintaan semen cenderung menurun.
Konsumsi semen nasional lima% lebih rendah pada akhir semester pertama tahun 2014 kemudian yaitu 28 juta ton. Setelah aturan belanja Pemerintah akhirnya disetujui, proyek-proyek infrastruktur mulai berjalan & permintaan mencapai peningkatan pada periode semester kedua, walaupun permanen belum cukup menutupi hingga akhir tahun, konsumsi semen nasional pun turun menjadi 60.9 juta ton atau 1.7% lebih rendah berdasarkan tahun 2014.
Perusahaan fokus buat bekerja menggunakan efisien dan memberikan nilai tambah bagi pelanggan, menggunakan tim yang handal di bidang beton jadi, agregat, logistik, penjualan dan pemasaran. Tambahan kapasitas 1.6 juta ton berdasarkan pabrik pada Lhoknga, menjadi tambahan amunisi bagi perusahaan buat memperluas bisnis di pasar terbesar ke 2 yaitu Sumatera ? Selain eksistensi fasilitas pada Lampung dan Sumatera bagian Tengah.
Perusahaan juga menekankan komitmen terhadap kesehatan & keselamatan karyawan, kontraktor, masyarakat, dan seluruh kawan bisnis strategis lainnya. Kesehatan dan keselamatan merupakan nilai utama yang dianut perusahaan dalam segala hal yg dilakukan, & terutama bagi para kontraktor yang menjadi penekanan perusahaan tahun ini. Perusahaan mendapatkan pengakuan menggunakan mendapat penghargaan Bendera Emas pada bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) untuk yang keempat kali, penghargaan Industri Hijau yg kelima kali, dan Proper Emas buat Pabrik Cilacap atas kinerja manajemen lingkungan dan sosial yang keenam kali, semua berturut-turut.
Indonesia memiliki potensi dalam pasar ritel lantaran potongan suku bunga lokal, kemudahan KPR, rendahnya pinjaman terhadap GDP, & kebutuhan perumahan yg masih tinggi. Perusahaan kini memiliki kemampuan lebih buat memenuhi kebutuhan domestik, mulai dari jalan lintas Trans Sumatera sepanjang dua,600 km yang baru saja dimulai, hingga proyek pembangkit listrik berdaya 35,000 MW milik Pemerintah, dan infrastruktur lain seperti pelabuhan, bandara, dan jembatan.
Di Indonesia, PT Holcim Indonesia Tbk menjalankan usaha yang terintegrasi terdiri dari semen, beton siap pakai, dan produksi agregat. Perusahaan ini mengoperasikan empat pabrik semen masing-masing di Narogong, Jawa Barat, Cilacap, Jawa Tengah, Tuban di Jawa Timur dan Lhoknga, Aceh dengan total kapasitas gabungan per tahun 15 juta ton semen, dan mempekerjakan lebih dari 2,500 orang.
Indosat Bangun DRC Ketiga
Bisnis data center dan pengamanannya memang terus semakin menggiurkan di tengah makin pentingnya perusahaan dan lembaga publik untuk menyimpan dan mengamankan datanya. Tak heran bila vendor layanan seperti Indosat Ooredoo juga makin antusias untuk menggarapnya. Tengok saja, penyedia jasa telekomunikasi ini baru saja meluncurkan Disaster Recovery Center (DRC) yang ketiga dengan standar tier 3.
Seperti DRC pertama dan keduanya, DRC yang ketiga juga berlokasi di Jatiluhur, Purwakarta. Sertifikasi tier 3 berarti layanan data center ini telah menenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan Uptime Institute. Salah satu yang paling ditonjolkan adalah penggunaan dua sumber daya yang diusungnya.
Demi memastikan tak ada downtime sedikit pun, DRC 3 kepunyaan Indosat menggunakan pasokan listrik dari PLN dan juga Jasa Titra II. Itu belum termasuk mesin genset yang juga disiapkan Indosat kalau-kalau kedua sumber listrik mengalami kendala.
"Persyaratan tier 3 salah satunya adalah pasokan daya n+1. Kami sudah memenuhi itu dengan menggunakan dua sumber daya, bahkan kami menambahnya lagi dengan genset. Jadi bisa dibilang malah 2n+1," ujar Gidion S. Barus, Division Head IT Solution Indosat Ooredoo.
Bicara kapasitas, DRC 3 Indosat memiliki luas total yang mencapai 6.000 m2. Herfini Haryono, Director & Chief Wholesale Enterprise Indosat Ooredoo, mengatakan DRC 3 ini diharapkan bisa menjawab keberadaan PP Nomor 82 Tahun 2012 yang mewajibkan perusahaan yang beroperasional di Indonesia untuk menyimpan data-data penggunanya di dalam negeri.
Di sisi lain, kelebihan yang ditawarkan DRC 3 Indosat adalah tersedianya berbagai fasilitas tambahan yang bisa dimanfaatkan perusahaan, salah satunya adalah working area. Sehingga perusahaan bisa leluasa mengirimkan timnya untuk langsung melakukan maintain data center di lokasi.
Sementara itu soal komunikasi data Indosat memastikannya dengan dukungan kabel serat optik yang terhubung langsung ke Jakarta dan Bandung. Sambungan lain yang bisa dimanfaatkan adalah melalui hubungan satelit.
"Di dorong keberadaan PP Nomor 82 tahun 2012, DRC 3 di Jatiluhur ini menjadi alternatif pilihan terbaik bagi pelaku industri. Jatiluhur juga merupakan hub utama untuk jaringan komunikasi Indosat Ooredoo dan Lintasarta," kata Herfini.
Indosat Instant Office, Solusi Hemat Untuk UKM
Sebagai bagian dari visinya untuk mendukung para pelaku bisnis usaha kecil dan menengah, Indosat menghadirkan solusi telekomunikasi lengkap Instant Office. Solusi ini menawarkan kemudahan dan kenyamanan bagi pebisnis dalam berkomunikasi untuk mendukung bisnisnya.
“Dengan layanan Instant Office, kami berharap dapat memberikan solusi telekomunikasi sekaligus memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan untuk meningkatkan bisnis bagi pelaku usaha kecil dan perusahaan menengah,” ujar Director & Chief Sales & Distribution Officer Indosat, Joy Wahjudi, dalam keterangannya Rabu, 12 Agustus 2015.
Layanan Instant Office merupakan perangkat wireless router dengan konektivitas 3G dengan kemampuan berbagi internet mencapai 20 pengguna baik melalui Wi-Fi maupun kabel LAN, dan juga memiliki fungsi sebagai fasilitas telepon yang dapat digunakan sebagai telepon tetap (fixed telephone).
Instant Office juga memiliki fitur Hunting dan Menu Suara Interaktif (IVR) dengan menggunakan virtual PABX sehingga dapat meningkatkan pengalaman pelanggan saat melakukan panggilan ke nomor kantor.
Dengan Instant Office, seluruh kebutuhan telekomunikasi pelanggan dapat disatukan sehingga menghemat biaya koneksi. Pelanggan tidak perlu lagi membeli paket data terpisah-pisah untuk masing-masing perangkat.
“Dengan kemudahan instalasi perangkat, koneksi internet dan telepon secara bersamaan, kami berharap dapat membantu efisiensi operasional pelanggan dan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan,” tambah Joy Wahjudi.
Setiap perangkat yang memiliki koneksi Wi-Fi bisa terkoneksi ke 3G router dan menikmati koneksi internet bersama-sama. Pelanggan dapat memilih berbagai paket Instant Office yang sudah termasuk Wireless Router Huawei B970b, kabel data, adapter dan starterpack Indosat.
Angkasa Pura II Garap Bisnis Kargo dan Properti

Perusahaan BUMN pengelola bandara, PT Angkasa Pura II (Persero), baru-baru ini resmi meluncurkan operasional dua anak usaha baru yakni PT Angkasa Pura Kargo dan PT Angkasa Pura Propertindo. Langkah ini dilakukan sejalan dengan strategi bisnis PT Angkasa Pura II (Persero) yang akan terus ekspansi bisnis. Pengembangan anak usaha ini juga merupakan bagian dari inisiatif perusahaan untuk menerapkan program “Triple-GB”, yaitu Getting Bigger, Getting Broader, Getting Better.
Lebih rinci, PT Angkasa Pura Propertindo fokus menggarap bisnis pengembangan kawasan bisnis terintegrasi atau integrated business park, bisnis Hotel & MICE, pergudangan, dan fasilitas properti penunjang operasional maskapai. Perusahaan ini juga menyediakan jasa pengelolaan Hotel & MICE, pengelolaan gedung, pengelolaan lahan atau gedung parkir, dan memberikan konsultasi bisnis properti di bandara.
Sedangkan PT Angkasa Pura Kargo akan fokus pada jasa pelayanan di bidang kargo dan logistik sebagai operator terminal kargo. Wilayah operasional kedua anak usaha tersebut tidak sebatas hanya di bandara dibawah lingkungan PT Angkasa Pura II (Persero) selaku induk usaha namun juga di bandarabandara yang dikelola oleh pihak lain.
Dalam sambutannya, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan, “Tujuan pembentukan dua anak usaha baru ini adalah memperluas portofolio bisnis AP II guna meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis non-aero dan kargo. Saat ini pendapatan perseroan sekitar 60%-70% berasal dari bisnis aero seperti passenger service charge, biaya pendaratan pesawat, dan pemakaian garbarata". Tahun 2016 ini saja, proyeksi pendapatan ketiga anak perusahaan AP II ini sebesar kurang lebih Rp 500 miliar.
“Ke depan, seperti halnya bandara-bandara berkelas dunia, kami akan memaksimalkan pendapatan dari bisnis non-aero dan kargo sehingga pada tahun 2018 dapat berkontribusi hingga mencapai 50% atau bahkan lebih terhadap totap pendapatan perusahaan,” jelas Muhammad Awaluddin bersemangat.
Sementara Direktur PT Angkasa Pura Propertindo Wisnu Raharjo menuturkan, “Dalam 4 tahun mendatang atau hingga 2020, Angkasa Pura Propertindo memiliki tiga program strategis yakni mengembangkan Soekarno-Hatta Airport City, lalu Kualanamu Airport City, dan Sultan Syarif Kasim II Airport City sehingga tiga bandara tersebut akan menjadi suatu kawasan bisnis terintegrasi.”
Ditambahkan oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura Kargo Denny Fikri, “Selaku pengelola
terminal kargo, Angkasa Pura Kargo siap berkompetisi menjadi yang terbaik di tingkat regional dengan mengedepankan keamanan, keselamatan, serta pelayanan dalam proses bisnis yang kami lakukan.”
Melalui berdirinya PT Angkasa Pura Propertindo dan PT Angkasa Pura Kargo, maka AP II saat ini memiliki tiga anak usaha dengan kepemilikan penuh setelah sebelumnya sudah beroperasi terlebih dahulu PT Angkasa Pura Solusi yang mengelola lounge di bandara, bisnis Information Communication & Technology, manajemen kebersihan gedung terminal bandara, pelatihan personil aviation security, dan manajemen ritel. Adapun ketiga anak usaha AP II tersebut kini menggunakan logo yang serupa dan hanya dibedakan sesuai dengan fokus bisnis masing-masing.
PT Angkasa Pura II sendiri selama ini mengelola 13 bandara utama di kawasan Barat Indonesia. Bandara-bandara yang dikelola perseroan adalah Soekarno-Hatta (Tangerang), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Kualanamu (Medan), Supadio (Pontianak), Minangkabau (Ketaping), dan Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang). Bandara Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Husein Sastranegara (Bandung), Sultan Iskandarmuda (Banda Aceh), Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkal Pinang), dan Silangit (Tapanuli Utara).