Kinerja Astra Semester I 2017 : Laba Bersih Naik 31%, Menjadi Rp 9,35 triliun
Konglomerasi multisektor, PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan kinerja yang sangat baik di tahun 2017 ini. Laba bersih sebesar Rp 9,35 triliun pada Semester I-2017. Angka itu terpantau naik 31% dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 7,11 triliun. Peningkatan kinerja perusahaan ini, ditunjang dengan positifnya kinerja hampir seluruh lini industri yang digarap perusahaan.
"Sebagian besar bisnis Grup Astra memiliki kinerja yang baik pada semester pertama tahun 2017. Untuk sisa tahun ini, Grup Astra berharap mendapatkan manfaat dari harga batu bara yang stabil, walaupun hasil kinerja diperkirakan akan terpengaruhi oleh meningkatnya persaingan di pasar mobil dan menurunnya permintaan di pasar motor," kata Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto dalam keterangan tertulis, Kamis (27/7/2017).
Pendapatan bersih konsolidasi Grup selama periode ini meningkat 11% menjadi Rp 98 triliun, seiring dengan peningkatan kontribusi pendapatan dari sebagian besar segmen bisnisnya.
Laba bersih konsolidasi Grup naik menjadi Rp9,4 triliun, meningkat 31% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Nilai aset bersih per saham Grup tercatat sebesar Rp 2.881 pada 30 Juni 2017, meningkat 4% dibandingkan posisi akhir tahun 2016.
Nilai kas bersih, di luar Grup Jasa Keuangan, mencapai Rp 2,6 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan nilai kas bersih pada akhir tahun 2016 sebesar Rp 6,2 triliun, terutama disebabkan oleh investasi jalan tol, pembangkit listrik dan properti yang dilakukan selama semester pertama tahun 2017. Lini bisnis keuangan memang menjadi catatan kurang menarik Astra tahun 2017 ini. Anak perusahaan Grup segmen Jasa Keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 49,1 triliun, dibandingkan dengan Rp 47,7 triliun pada akhir tahun 2016.
Kinerja Astra Semester I 2017 : Luar Biasa, Bisnis Alat Berat dan Pertambangan Meningkat 104%
Konglomerasi multisektor, PT Astra International Tbk (ASII) sudah mengumumkan laporan kinerja semester I 2017 ini, laba bersih sebesar Rp 9,35 triliun, naik 31% dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 7,11 triliun. Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto juga menginformasikan pendapatan bersih konsolidasi Grup selama periode ini meningkat 11% menjadi Rp 98 triliun, seiring dengan peningkatan kontribusi pendapatan dari sebagian besar segmen bisnisnya.
Yang menarik, kinerja bisnis Alat Berat dan Pertambangan di Group Astra sangat luar biasa. Laba bersih Grup Astra dari segmen alat berat dan pertambangan meningkat sebesar 104% menjadi Rp 902 miliar.
PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 105% menjadi Rp1,5 triliun, disebabkan oleh peningkatan volume bisnis pada mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan kegiatan pertambangan, yang seluruhnya mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga batu bara.
Pada segmen usaha mesin konstruksi, volume penjualan alat berat Komatsu mengalami peningkatan sebesar 70% menjadi 847 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa juga meningkat. PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mengalami peningkatan produksi batu bara sebesar 2% menjadi 25 juta ton, sementara peningkatan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) meningkat sebesar 3% menjadi 171 juta bank cubic metres. Anak perusahaan UT dalam bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 9% menjadi 1,9 juta ton.
PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 63% menjadi Rp31 miliar dan mencatat penambahan kontrak baru senilai Rp6,9 triliun sepanjang kuartal pertama tahun 2017 dibandingkan Rp2,4 triliun yang berhasil diterima pada kuartal pertama tahun 2016.
Pada bulan Maret 2017, Bhumi Jati Power yang 25% sahamnya dimiliki oleh UT dan akan mengembangkan serta mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2x1.000 MW di Jawa tengah, telah menyelesaikan perjanjian pendanaan proyek dengan para kreditur. Proyek BOT (build, operate and transfer) ini diperkirakan menelan biaya sekitar US$4,2 miliar dan direncanakan akan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2021. Bhumi Jati Power merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha UT, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc.
Pada bulan Maret 2017, UT melalui anak usahanya PT Tuah Turangga Agung, menyelesaikan akuisisi 80,1% kepemilikan PT Suprabari Mapanindo Mineral, sebuah perusahaan coking coal (batu bara berkalori tinggi yang biasa digunakan sebagai campuran dalam peleburan baja) yang berlokasi di Kalimantan Tengah.
Kinerja Astra Semester I 2017 : Bisnis Infrastruktur dan Logistiknya Amat Menjanjikan
PT Astra International Tbk (ASII) sudah mengumumkan laporan kinerja semester I 2017 ini, laba bersih sebesar Rp 9,35 triliun, naik 31% dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 7,11 triliun. Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto juga menginformasikan pendapatan bersih konsolidasi Grup selama periode ini meningkat 11% menjadi Rp 98 triliun, seiring dengan peningkatan kontribusi pendapatan dari sebagian besar segmen bisnisnya.
Yang menarik, terjadi dinamika yg positif berdasarkan segmen usaha Infrastruktur dan Logistik milik Group Astra. Dilaporkan, keuntungan bersih segmen infrastruktur & logistik Grup menurun sebanyak 3% sebagai Rp67 miliar, sebagian besar disebabkan oleh kerugian awal dari dimulainya ruas jalan tol Cikopo-Palimanan serta pendapatan yang lebih rendah menurut usaha penyedia air bersih.
PT Marga Mandala Sakti (MMS), operator jalan tol yang mengoperasikan jalur Tangerang-Merak sepanjang 72 kilometer (km), yg 79,tiga% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan volume trafik tunggangan sebanyak lima% sebagai 12 juta tunggangan. Pembangunan konstruksi ruas jalan tol Jombang-Mojokerto sepanjang 41 km, yg seluruhnya dimiliki Perseroan & telah mulai beroperasi sepanjang 20 km, terus berlanjut. Ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 73 km, yg 25% sahamnya dimiliki Grup, sudah mulai beroperasi sepanjang 23 km.
Pada Januari 2017, Grup menuntaskan akuisisi awal kepemilikan 40% atas PT Baskhara Utama Sedaya (BUS), pemilik 45% saham operator ruas jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116 km, & selanjutnya telah menyetujui buat mengakuisisi sisa kepemilikan sebesar 60% di BUS. Berikut dengan kepemilikan 40% menurut ruas jalan tol Kunciran-Serpong sepanjang 11 km & kepemilikan 25% menurut ruas jalan tol Serpong-Balaraja sepanjang 40 km, dimana keduanya merupakan proyek greenfield, total kepemilikan jalan tol Grup secara keseluruhan menjadi 353 km.
PAM Lyonnaise Jaya, perusahaan penyedia air bersih yang melayani wilayah barat Jakarta mencatat penurunan penjualan volume air higienis sebanyak dua% sebagai 38 juta meter kubik.
PT Serasi Autoraya (SERA) mengalami kenaikan laba higienis sebanyak 82% menjadi Rp40 miliar, ditimbulkan oleh kenaikan marjin kontrak sewa kendaraan beroda empat & bisnis logistik, meskipun terjadi penurunan sebanyak dua% atas jumlah kontrak sewa tunggangan di usaha rental kendaraan.
Kinerja Astra Semester I 2017 : Bisnis Propertinya Mulai Untung
Raksasa otomotif Indonesia, PT Astra International Tbk (ASII) sudah mengumumkan laporan kinerja semester I 2017 ini. Yang menarik, berdasarkan laporan kinerja semester I 2017, usaha properti yang terbilang adalah mainan baru class Astra mulai laba & membuat, meski masih dalam skala yg mini .
Laba bersih dari divisi properti Grup Astra bisa mencapai sebesar Rp 42 miliar. Dus, sebuah pertumbuhan yang signifikan dibandingkan dengan Rp 13 miliar yang dihasilkan pada kuartal pertama tahun 2016. Kinerja baik ini terutama disebabkan oleh adanya peningkatan atas laba yang dihasilkan oleh Anandamaya Residences.
PT Astra International Tbk (ASII) sudah mengumumkan laporan kinerja semester I 2017 ini, laba bersih sebesar Rp 9,35 triliun, naik 31% dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 7,11 triliun. Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto juga menginformasikan pendapatan bersih konsolidasi Grup selama periode ini meningkat 11% menjadi Rp 98 triliun, seiring dengan peningkatan kontribusi pendapatan dari sebagian besar segmen bisnisnya.
Kinerja Semester I 2017 : Bisnis Otomotif Astra Sangat Kinclong, Laba Meningkat 45%
Bisnis otomotif group Astra (PT Astra International Tbk) menggeliat luar biasa. Laba bersih dari bisnis otomotif Grup meningkat 45% menjadi Rp 2,3 triliun, terutama diakibatkan oleh momentum kesuksesan dari penjualan model-model baru yang diluncurkan pada tahun 2016 dan terus berlanjut hingga tahun 2017.
Penjualan mobil secara nasional meningkat 6% menjadi 283.000 unit. Penjualan nasional mobil Astra meningkat sebesar 27% menjadi 161.000 unit, mengakibatkan peningkatan pangsa pasar dari 48% menjadi 57%. Grup telah meluncurkan satu model baru dan dua model revamped selama periode ini.
Penjualan sepeda motor nasional menurun sebesar 7% menjadi 1,4 juta unit. Walaupun penjualan sepeda motor dari PT Astra Honda Motor (AHM) mengalami penurunan sebesar 2% menjadi 1,1 juta unit, namun pangsa pasar AHM meningkat dari 72% menjadi 77%, didukung oleh peluncuran empat model baru dan enam model revamped selama periode ini.
Astra Otoparts, bisnis komponen Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 83% menjadi Rp148 miliar, didukung oleh peningkatan pendapatan dari bisnis pasar pabrikan otomotif (OEM/ original equipment manufacturer) dan bisnis aftermarket serta peningkatan kontribusi dari perusahaan patungan dan entitas asosiasi.
PT Astra International Tbk (ASII) sudah mengumumkan laporan kinerja semester I 2017 ini, laba bersih sebesar Rp 9,35 triliun, naik 31% dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 7,11 triliun. Presiden Direktur ASII, Prijono Sugiarto juga menginformasikan pendapatan bersih konsolidasi Grup selama periode ini meningkat 11% menjadi Rp 98 triliun, seiring dengan peningkatan kontribusi pendapatan dari sebagian besar segmen bisnisnya.
Financial Investor atau Strategic Investor, Mana Yang Lebih Tepat Bagi Kebutuhan Perusahaan Anda?
Tulisan ini diupdate tgl lima November 2018
Dalam dunia investasi dan permodalan bisnis, ada istilah investor finansial (financial investor) dan investor strategis (strategic investor atau strategic buyer). Dua tipe investor ini akan dijumpai ketika sebuah perusahaan sedang mencari mitra investor (non bank). Istilah ini juga akan muncul ketika seorang pemilik perusahaan sedang terpikir menjual perusahaannya, maka ia akan berhadapan dengan pilihan, apakah sebaiknya dijual ke financial investor atau ke strategic investor.
Artikel ini mengungkapkan beberapa disparitas karakteristik menurut dua tipe investor itu, semoga bermanfaat bagi pemilik perusahaan yg sedang mencari investor.
Financial Investor, apa itu?
Investor tipe financial investor biasanya mengacu pada beberapa contoh jenis investor seperti perusahaan-perusahaan private equity, perusahaan modal ventura (venture capital), perusahaan hedge fund, perusahaan investasi milik sebuah keluarga kaya (family offices), perusahaan sekuritas yang mengelola dana investasi, dan investor individual seperti para pribadi yang superkaya.
Biasanya, investor financial akan melakukan investasi untuk jangka sementara saja, antara waktu 2-7 tahun saja setelah itu mereka akan eksit (keluar) dengan menjual sahamnya di perusahaan yang ia tanami modal itu. Cara keluarnya bisa beragam, bisa dengan jual sahamnya di bursa (IPO) atau dijual ke investor lain.
Finansial investor ini biasanya penekanan melihat bagaimana tingkat return menurut perusahaan yang dia akan beli/investasi. Yang dilihat laba & prospek keuntungan, sedangkan bidang bisnisnya mampu fleksible. Tapi beliau akan cari mitra yg mampu mengelola usaha lantaran dia sendiri tidak pakar di bidang teknis pengelolaan usaha yang digarap.
Mereka akan sangat tertarik buat mendalami arus kas (cashflow) yang didapatkan dari perusahaan yg ditarget dan akan melihat bagaimana peluang pertumbuhan arus kas itu dan jua peningkatan pendapatan, pengurangan biaya , atau menciptakan skala ekonomi dengan mengakuisisi perusahaan homogen lainnya.
Investor finansial lebih hati-hati pada meneliti laporan keuangan perusahaan. Ingat, dana yang dikelola perusahaan financial investor ini adalah dana pihak lain. Ia yg memutar agar sanggup berkembang sehingga mereka harus sangat hati-hati.
Umumnya mereka lebih suka mencari perusahaan yg dikelola dengan baik dengan sejarah pendapatan yang konsisten, & lebih disukai, pendapatannya yg terus tumbuh. Mereka sangat concern melihat asumsi laba perusahaan. Ketika melakukan investasi, atau membeli sebuah perusahaan basanya mereka permanen mempertahanan tim manajemen usang setidaknya buat dua atau tga tahun selama perusahaan itu belum dijual ke pihak lain. Financial investor selalu butuh tim manajemen yg kuat yang bisa menjadi mitra pengelolaan bisnis.
Strategic Investor ??
Investor strategis (strategic investor) merupakan jenis investor yg umumnya merupakan perusahaan yg bidang bisnisnya sama atau terdapat interaksi menggunakan bidang usaha yang butuh investasi. Jadi investor strategis itu sanggup jua merupakan perusahaan homogen yg sebagai pesaing, atau perusahaan pemasok, atau bahkan perushaan yg selama ini pelanggan perusahaan Anda. Misalnya, bila bisninya consumer good, investor strategis itu sanggup Indofood Group, Kalbe, Sinarmas, atau OrangTua Group.
Investor strategis umumnya melakukan investasi pada sebuah perusahaan atau akusisi perusahaan lantaran sesuai planning bisnis jangka panjang mereka sendiri atau bisnis baru itu sanggup saling melengkapi bisnis yg telah dimiliki. Jadi tujuannya dia investasi mampu buat perluasan vertikal (terhadap pelanggan atau pemasok), ekspansi horizontal (ke pasar geografis baru atau lini produk), menghilangkan persaingan, atau menaikkan beberapa kelemahan utamanya (teknologi, pemasaran, distribusi, penelitian & Pengembangan, dll.).
Investor strategis seringkali bersedia dan sanggup membayar lebih mahal waktu beliau akan akuisisi, dibanding financial investor. Ada 2 alasan utama buat ini. Pertama, pembeli strategis mungkin dapat menyadari manfaat sinergis jika aset baru itu digabung menggunakan bisnis lamanya. Kedua, investor strategis umumnya perusahaan besar dengan akses modal yg lebih baik. Mereka seringkali mempunyai mata uang lain yang tersedia bagi mereka pada bentuk saham. Pembeli strategis tak jarang menunjukkan saham, uang tunai, atau kombinasi keduanya dalam pembayaran harga beli.
Investor strategis sangat fokus pada kemungkinan bisnis baru yang akan diakuisisi atau diinvestasi bisa sinergi dan bisa diintegrasikan dengan bisnis lamanya. Investor strategis ketika investasi ia akan mempertahankan bisnis yang baru dibeli tanpa batas waktu, yang seringkali sepenuhnya mengintegrasikan perusahaan ke dalam bisnis mereka yang ada.
Sementara investor financial, fokus melihat kemampuan membentuk uang dan pertumbuhan pendapatan. Mereka fokus terutama pada kemampuan perusahaan itu buat tumbuh cepat dalam ketika singkat. Selain itu, financial investor tak jarang membeli sebagian usaha menggunakan cara hutang, yg mengakibatkan mereka wajib meneliti kapasitas usaha buat membuat arus kas untuk melayani beban utang.
Investor finansial, bagaimanapun, umumnya memiliki horison saat investasi hanya tiga - 7 tahun saja. Mereka sangat concern menggunakan EBITDA perusahaan & lebih sensitif terhadap risiko siklus bisnis daripada investor strategis. Maklum, mereka selalu memikirkan taktik exit atau keluar setelah 5 tahun yang harus laba signifikan.
Mana yang lebih baik?
Dua duanya baik. tergantung tujuan dari pihak yang cari investor. Investor strategis biasanya mau membayar lebih mahal, tapi biasanya dia selalu ingin kontrol, sahamnya mayoritas, dan artinya perusahaan anda harus mau menjadi bagian dari group dia. Bahkan mungkin anda sendiri nanti bisa diganti oleh eksekutif kepercayaan dia. Bagia pemilik perusahaan yang ingin jual 100% sahamnya mungkin investor strategis lebih cocok, karena harga bisa lebih baik dan ia tak mikir hal lain. Setelah itu pensiun. paling-paling dia dibutuhkan untuk transisi.
Tapi kalau anda butuh investor yang bisa kerjasama lama dan anda masih ingin mengontrol dan memimpin perusahaan, investor financial lebih tepat. Mereka memang tak ahli operasional, hanya butuh duitnya berkembang. Mereka justru senang bila sebagai pengelola lama anda bertahan, yang penting bisnis untung, kerjasama dan komunikasi harmonis. Financial investor ini cocok banget bila ada cari mitra yang hanya sekedar suntikan modal dan investor yg nggak banyak cawe cawe di bisnis. Atau mereka yang hanya butuh investor untuk sesaat, misalnya untuk 3-4 tahun setelah itu dia keluar, sahamnya dia anda beli. Ini cocok dgn investor financial. Walaupun biasanya valuasi financial investor lebih pelit, namun ia fleksible untuk hal-hal lain. Bisa jadi teman untuk tumbuh, nggak reseh. Investor strategis di lain sisi, cenderung akan dominan dan mengontrol perusahaan anda kalau anda masih punya saham disana.
Dua-duanya terdapat plus minus.
Yang niscaya, apapun usaha bapak/Ibu, dari bukan bisnis rokok dan minuman keras, dan skala bisnisnya telah diatas Rp 200 miliar, saya sanggup bantu cari investor baik tipe financial investor atau strategic investor. Saya siap bantu dan silahkan hubungan saya.
Beberapa jenis perusahaan yang dicari investor rekanan aku :
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu terdapat jalan jika kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
081384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel lain yang terkait:
- Mengenal seluk beluk investor private equity
- Sejumlah Investor Luar Negeri Yang Tertarik Mencari Kongsi di Indonesia
Butuh Investor Asing ? Berikut ini Semoga Bisa Menjadi Solusi Perusahaan Anda
Tulisan ini diupdate November 2019

salam sejahtera dan salam hormat
Di era bisnis yg makin bertumbuh ini, baik kalangan pebisnis atau pemda semakin banyak yg butuh investor. Salah satu jenis investor yang sanggup digandeng merupakan investor asing lantaran umumnya investor asing memang lebih siap dari sisi pendanaan. Mereka mau masuk Indonesia, adalah sudah menyiapkan kapital uang dan strateginya.
Investor asing ini tipikalnya amat beragam, termasuk minat terhadap pilihan investasinya. Contohnya tidak banyak investor yg mau gandengan dengan pemda, kecuali investor bidang infrastruktur dan industri berat.
Kalau dengan kalangan partikelir, banyak investor asing yg minat.
Saya punya rekanan investor luar negeri yang sekarang sedang akan mengembangkan usaha di Indonesia. Ia akan menanamkan investasi secara pribadi pada beberapa bidang bisnis & mencari kawan (local partner) buat diajak berkongsi atau menciptakan perusahaan joint venture. Perusahaan luar negeri ini sudah punya basis kuat di negaranya. Mereka mengalihkan ke Indonesia lantaran pasar Indonesia yang tumbuh pesat. Sedangkan bisnis di negaranya tumbuh sangat pelan atau nyaris stagnan lantaran struktur industrinya memang telah mature.
Investor ini akan menanamkan modal dalam besaran yang disesuaikan kebutuhan mitra lokalnya. Tergantung size business mitra lokalnya. Kisarannya dari USD 10-150 juta . Dinegaranya, perusahaan ini merupakan konglomerasi yang masuk dalam Top Five.
Adapun sektor bisnis yg diminati diantaranya:
- Manufacturing (kemasan, industrial good, B2B product, baja, alumunium, pipa, cat, bahan bangunan, dll)
- Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Ritel
- Shipping / logistik
- Packaging
- Consumer good
- Chain resto
- Kawasan Industri
- shariah financial company
- export oriented company
- agribisnis
- Pupuk organik
- perusahaan services
- outsourcing company
- farmasi
- fishery processing/cold storage/seafood manufacturing
- properti
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
- - dll
Perlu dicatat, investor asing pada umumnya tidak mau melakukan joint venture dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang baru mulai. Perusahaan baru boleh saja namun harus punya induk perusahaan besar. Mereka perusahaan besar sehingga mindset bisnisnya juga skala besar. Mereka sudah jauh-jauh ke Indonesia tentu ingin yang skala bisnisnya cukup. Jadi para pemodal ini belum minat kongsi dengan UKM.
Bila perusaahaan Bapak/Ibu sedang membutuhkan investor, saya siap bantu sinergikan dengan investor dalam jaringan saya. Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
M: 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait :
>Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
>Mengenal Jenis Investor Private Equity
Butuh Investor ? Inilah Dua Tipe Investor Yang Bisa Anda Gandeng
Tulisan ini diupdate tgl lima November 2018
Dalam dunia investasi dan permodalan bisnis, ada istilah investor finansial(financial investor) dan investor strategis (strategic investorataustrategic buyer). Dua tipe investor ini akan dijumpai ketika sebuah perusahaan sedang mencari mitra investor (non bank). Istilah ini juga akan muncul ketika seorang pemilik perusahaan sedang terpikir menjual perusahaannya, maka ia akan berhadapan dengan pilihan, apakah sebaiknya dijual ke financial investor atau ke strategic investor.
Artikel ini menyebutkan beberapa disparitas ciri berdasarkan dua tipe investor itu, semoga bermanfaat bagi pemilik perusahaan yang sedang mencari investor.
Financial Investor, apa itu?
Investor tipe financial investor biasanya mengacu pada beberapa contoh jenis investor seperti perusahaan-perusahaan private equity, perusahaan modal ventura (venture capital), perusahaan hedge fund, perusahaan investasi milik sebuah keluarga kaya(family offices), perusahaan sekuritas yang mengelola dana investasi, dan investor individual seperti para pribadi yang superkaya.
Biasanya, investor financial akan melakukan investasi untuk jangka sementara saja, antara waktu 2-7 tahun saja setelah itu mereka akan eksit (keluar) dengan menjual sahamnya di perusahaan yang ia tanami modal itu. Cara keluarnya bisa beragam, bisa dengan jual sahamnya di bursa (IPO) atau dijual ke investor lain.
Finansial investor ini umumnya penekanan melihat bagaimana taraf return menurut perusahaan yg beliau akan beli/investasi. Yang dicermati laba dan prospek keuntungan, sedangkan bidang bisnisnya sanggup fleksible. Tapi beliau akan cari kawan yg bisa mengelola bisnis karena dia sendiri nir pakar pada bidang teknis pengelolaan usaha yang digarap.
Mereka akan sangat tertarik untuk mendalami arus kas (cashflow) yang dihasilkan berdasarkan perusahaan yang ditarget dan akan melihat bagaimana peluang pertumbuhan arus kas itu dan jua peningkatan pendapatan, pengurangan porto, atau membangun skala ekonomi dengan mengakuisisi perusahaan homogen lainnya.
Investor finansial lebih hati-hati dalam meneliti laporan keuangan perusahaan. Ingat, dana yang dikelola perusahaan financial investor ini merupakan dana pihak lain. Ia yg memutar supaya mampu berkembang sehingga mereka harus sangat hati-hati.
Umumnya mereka lebih senang mencari perusahaan yg dikelola menggunakan baik dengan sejarah pendapatan yang konsisten, & lebih disukai, pendapatannya yang terus tumbuh. Mereka sangat concern melihat asumsi keuntungan perusahaan. Ketika melakukan investasi, atau membeli sebuah perusahaan basanya mereka permanen mempertahanan tim manajemen usang setidaknya buat dua atau tga tahun selama perusahaan itu belum dijual ke pihak lain. Financial investor selalu butuh tim manajemen yang bertenaga yg sanggup sebagai kawan pengelolaan bisnis.
Strategic Investor ??
Investor strategis (strategic investor) merupakan jenis investor yg umumnya adalah perusahaan yang bidang bisnisnya sama atau masih ada hubungan dengan bidang usaha yang butuh investasi. Jadi investor strategis itu mampu pula merupakan perusahaan homogen yang menjadi pesaing, atau perusahaan pemasok, atau bahkan perushaan yang selama ini pelanggan perusahaan Anda. Misalnya, jika bisninya consumer good, investor strategis itu mampu Indofood Group, Kalbe, Sinarmas, atau OrangTua Group.
Investor strategis biasanya melakukan investasi di sebuah perusahaan atau akusisi perusahaan karena sinkron rencana usaha jangka panjang mereka sendiri atau bisnis baru itu bisa saling melengkapi bisnis yang sudah dimiliki. Jadi tujuannya ia investasi bisa untuk ekspansi vertikal (terhadap pelanggan atau pemasok), perluasan horizontal (ke pasar geografis baru atau lini produk), menghilangkan persaingan, atau mempertinggi beberapa kelemahan utamanya (teknologi, pemasaran, distribusi, penelitian & Pengembangan, dll.).
Investor strategis sering bersedia & bisa membayar lebih mahal waktu beliau akan akuisisi, dibanding financial investor. Ada dua alasan utama buat ini. Pertama, pembeli strategis mungkin dapat menyadari manfaat sinergis apabila aset baru itu digabung menggunakan usaha lamanya. Kedua, investor strategis umumnya perusahaan besar menggunakan akses modal yang lebih baik. Mereka tak jarang mempunyai mata uang lain yg tersedia bagi mereka pada bentuk saham. Pembeli strategis sering memperlihatkan saham, uang tunai, atau kombinasi keduanya dalam pembayaran harga beli.
Investor strategis sangat fokus pada kemungkinan bisnis baru yang akan diakuisisi atau diinvestasi bisa sinergi dan bisa diintegrasikan dengan bisnis lamanya. Investor strategis ketika investasi ia akan mempertahankan bisnis yang baru dibeli tanpa batas waktu, yang seringkali sepenuhnya mengintegrasikan perusahaan ke dalam bisnis mereka yang ada.
Sementara investor financial, penekanan melihat kemampuan menghasilkan uang & pertumbuhan pendapatan. Mereka fokus terutama pada kemampuan perusahaan itu buat tumbuh cepat pada saat singkat. Selain itu, financial investor seringkali membeli sebagian bisnis menggunakan cara hutang, yg menyebabkan mereka wajib meneliti kapasitas usaha untuk membentuk arus kas buat melayani beban utang.
Investor finansial, bagaimanapun, umumnya memiliki horison waktu investasi hanya tiga - 7 tahun saja. Mereka sangat concern dengan EBITDA perusahaan & lebih sensitif terhadap risiko daur usaha daripada investor strategis. Maklum, mereka selalu memikirkan taktik exit atau keluar selesainya lima tahun yang harus laba signifikan.
Mana yang lebih baik?
Dua duanya baik. tergantung tujuan dari pihak yang cari investor. Investor strategis biasanya mau membayar lebih mahal, tapi biasanya dia selalu ingin kontrol, sahamnya mayoritas, dan artinya perusahaan anda harus mau menjadi bagian dari group dia. Bahkan mungkin anda sendiri nanti bisa diganti oleh eksekutif kepercayaan dia. Bagia pemilik perusahaan yang ingin jual 100% sahamnya mungkin investor strategis lebih cocok, karena harga bisa lebih baik dan ia tak mikir hal lain. Setelah itu pensiun. paling-paling dia dibutuhkan untuk transisi.
Tapi kalau anda butuh investor yang bisa kerjasama lama dan anda masih ingin mengontrol dan memimpin perusahaan, investor financial lebih tepat. Mereka memang tak ahli operasional, hanya butuh duitnya berkembang. Mereka justru senang bila sebagai pengelola lama anda bertahan, yang penting bisnis untung, kerjasama dan komunikasi harmonis. Financial investor ini cocok banget bila ada cari mitra yang hanya sekedar suntikan modal dan investor yg nggak banyak cawe cawe di bisnis. Atau mereka yang hanya butuh investor untuk sesaat, misalnya untuk 3-4 tahun setelah itu dia keluar, sahamnya dia anda beli. Ini cocok dgn investor financial. Walaupun biasanya valuasi financial investor lebih pelit, namun ia fleksible untuk hal-hal lain. Bisa jadi teman untuk tumbuh, nggak reseh. Investor strategis di lain sisi, cenderung akan dominan dan mengontrol perusahaan anda kalau anda masih punya saham disana.
Dua-duanya ada plus minus.
Yang niscaya, apapun usaha bapak/Ibu, berasal bukan usaha rokok dan minuman keras, dan skala bisnisnya telah diatas Rp 200 miliar, saya bisa bantu cari investor baik tipe financial investor atau strategic investor. Aku siap bantu & silahkan kontak saya. Sukses buat bapak/ibu
Beberapa jenis perusahaan yang dicari investor rekanan aku :
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Tetapi perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yg skalanya sudah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Terima kasih
Sudarmadi
081384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait lainnya :
Mengenal seluk beluk investor private equity
Sejumlah Investor Luar Negeri Yang Tertarik Mencari Kongsi pada Indonesia
Perbedaan financial investor dan strategic investor
Tulisan ini diupdate tgl 20 Mei 2019
Dalam dunia investasi dan permodalan bisnis, ada istilah investor finansial(financial investor) dan investor strategis (strategic investorataustrategic buyer). Dua tipe investor ini juga akan dijumpai ketika sebuah perusahaan sedang mencari mitra investor (non bank). Dua istilah itu juga akan muncul ketika seorang pemilik perusahaan sedang terpikir menjual perusahaannya, maka ia akan berhadapan dengan dua pilihan itu, apakah sebaiknya dijual ke financial investor atau ke strategic investor.
Artikel ini menyebutkan beberapa perbedaan ciri berdasarkan 2 tipe investor itu, semoga bermanfaat bagi pemilik perusahaan yang sedang mencari investor.
Financial Investor, apa itu?
Investor tipe financial investor biasanya mengacu pada beberapa contoh jenis investor seperti perusahaan-perusahaan private equity, perusahaan modal ventura (venture capital), perusahaan hedge fund, perusahaan investasi milik sebuah keluarga kaya(family offices), perusahaan sekuritas yang mengelola dana investasi, dan investor individual seperti para pribadi yang superkaya.
Biasanya, investor financial akan melakukan investasi untuk jangka sementara saja, jangka waktu 2-7 tahun, setelah itu mereka akan eksit (keluar) dengan cara menjual sahamnya di perusahaan yang ia tanami modal itu. Cara keluarnya bisa beragam, bisa dengan jual sahamnya di bursa (IPO) atau dijual ke investor lain.
Dalam melakukan analisa kelayakan investasi, finansial investor umumnya memilih untuk fokus melihat bagaimana tingkat return dari perusahaan yang ia akan tanami investasi. Yang dilihat laba dan prospek laba, sedangkan bidang bisnisnya bisa fleksible. Investor finansial, karena dibatasi si horison waktu investasi yg hanya 3 - 7 tahun saja, mereka sangat concern dengan EBITDA perusahaan dan lebih sensitif terhadap risiko siklus bisnis daripada investor strategis. Mereka selalu memikirkan strategi exit atau keluar setelah 5 tahun yang saat itu harus untung signifikan.
Investor finansial lebih hati-hati dalam meneliti laporan keuangan perusahaan. Ingat, dana yang dikelola perusahaan financial investor ini merupakan dana pihak lain. Ia yang memutar agar bisa berkembang sehingga mereka harus sangat hati-hati. Mereka akan sangat tertarik untuk mendalami arus kas (cashflow) yang dihasilkan dari perusahaan yang ditarget dan akan melihat bagaimana peluang pertumbuhan arus kas itu, dan juga peningkatan pendapatan, efisiensi biaya, atau menciptakan skala ekonomi dengan mengakuisisi perusahaan sejenis lainnya. Mereka sangat suka bisnis yang bisa dibuat besar dalam waktu cepat.
Umumnya mereka lebih senang mencari perusahaan yang dikelola menggunakan baik dengan sejarah pendapatan yg konsisten, & lebih disukai, pendapatannya yang terus tumbuh. Mereka sangat concern melihat perkiraan keuntungan perusahaan. Ketika melakukan investasi, atau membeli sebuah perusahaan umumnya mereka tetap mempertahanan tim manajemen usang setidaknya buat dua atau tga tahun selama perusahaan itu belum dijual ke pihak lain. Financial investor selalu butuh tim manajemen yang kuat yg sanggup sebagai kawan pengelolaan bisnis. Tapi ia akan cari mitra yang mampu mengelola bisnis karena ia sendiri nir ahli di bidang teknis pengelolaan usaha yang digarap.
Strategic Investor ??
Investor strategis (strategic investor) adalah jenis investor yang biasanya merupakan perusahaan yang bidang bisnisnya sama atau masih ada hubungan dengan bidang bisnis yg butuh investasi. Jadi investor strategis itu bisa juga merupakan perusahaan sejenis yang menjadi pesaing, atau perusahaan pemasok, atau bahkan perushaan yang selama ini pelanggan perusahaan Anda. Misalnya, kalau bisninya consumer good, investor strategis itu bisa Indofood Group atau OrangTua Group. Kalau bisnis baja, maka investor strategis itu bisa Krakatau Steel bisa juga perusahaan besar di sektor baja lain.
Investor strategis biasanya melakukan investasi di sebuah perusahaan atau akusisi perusahaan karena sesuai rencana bisnis jangka panjang mereka sendiri, atau bisnis baru itu bisa saling melengkapi bisnis yang sudah dimiliki. Jadi tujuannya investasi itu bisa dalam rangka untuk ekspansi vertikal (terhadap pelanggan atau pemasok), ekspansi horizontal (ke pasar geografis baru atau lini produk), menghilangkan persaingan, atau meningkatkan beberapa kelemahan utamanya (teknologi, pemasaran, distribusi, penelitian dan Pengembangan, dll.).
Investor strategis seringkali bersedia dan mampu membayar lebih mahal ketika ia akan akuisisi, dibanding financial investor. Ada dua alasan utama untuk ini. Pertama, pembeli strategis mungkin dapat menyadari manfaat sinergis bila aset baru itu digabung dengan bisnis lamanya. Kedua, investor strategis umumnya perusahaan besar dengan akses modal yang lebih baik. Mereka sering memiliki mata uang lain yang tersedia bagi mereka dalam bentuk saham. Pembeli strategis sering menawarkan saham, uang tunai, atau kombinasi keduanya dalam pembayaran harga beli.
Investor strategis sangat fokus pada kemungkinan bisnis baru yang akan diakuisisi atau diinvestasi bisa sinergi dan bisa diintegrasikan dengan bisnis lamanya. Investor strategis ketika investasi ia akan mempertahankan bisnis yang baru dibeli tanpa batas waktu.
Mana yang lebih baik?
Dua duanya baik. tergantung tujuan dari pihak yang cari investor. Investor strategis biasanya mau membayar lebih mahal, tapi biasanya dia selalu ingin kontrol, maunya minta saham mayoritas, dan artinya perusahaan anda harus mau menjadi bagian dari group dia. Bahkan mungkin anda sendiri nanti bisa diganti oleh eksekutif kepercayaan dia. Bagia pemilik perusahaan yang ingin jual 100% sahamnya mungkin investor strategis lebih cocok, karena harga bisa lebih baik dan ia tak mikir hal lain. Setelah itu pensiun. paling-paling dia dibutuhkan untuk transisi.
Tapi kalau anda butuh investor yang bisa kerjasama lama dan anda masih ingin mengontrol dan memimpin perusahaan, investor financial lebih tepat. Mereka memang tak ahli operasional, hanya butuh duitnya berkembang. Mereka justru senang bila sebagai pengelola lama anda bertahan, yang penting bisnis untung, kerjasama dan komunikasi harmonis. Financial investor ini cocok banget bila ada cari mitra yang hanya sekedar suntikan modal dan investor yg nggak banyak cawe cawe di bisnis. Atau mereka yang hanya butuh investor untuk sesaat, misalnya untuk 3-4 tahun setelah itu dia keluar, sahamnya dia anda beli. Ini cocok dgn investor financial. Walaupun biasanya valuasi financial investor lebih pelit, namun ia fleksible untuk hal-hal lain. Bisa jadi teman untuk tumbuh, nggak reseh. Investor strategis di lain sisi, cenderung akan dominan dan mengontrol perusahaan anda kalau anda masih punya saham disana.
Dua-duanya terdapat plus minus.
Yang pasti, apapun usaha bapak/Ibu, asal bukan usaha rokok & minuman keras, & skala bisnisnya sudah diatas Rp 200 miliar, aku bisa bantu cari investor baik tipe financial investor atau strategic investor. Silahkan kontak saya apabila sedang memerlukan investor.
Tetapi perlu dicatat bahwa investor hanya mau berkongsi menggunakan perusahaan yg skalanya telah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.
Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju dan berkembang. Selalu terdapat jalan jika kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
M: 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait lainnya :
Mengenal seluk beluk investor private equity
Sejumlah Investor Luar Negeri Yang Tertarik Mencari Kongsi pada Indonesia
Butuh Investor Asing Bidang Infrastruktur, Manufaktur, Tambang, Industrial, Telco, Food, Jasa, dan Perikanan ? Ini Alternatif Yang Bisa Dikerjakan!!!
Di era sekarang menggandeng investor memang semakin diperlukan. Namun sayang banyak yang tidak menyadari dan bahkan banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya banyak investor asing ingin masuk ke Indonesia dan bisa digandeng. Mereka ingin berkongsi dengan perusahaan-perusahaan terpercaya di Indonesia. Mereka melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang prospek pertumbuhannya sangat bagus kedepan. Jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang, income perkapita makin naik, sumber daya alam melimpah, dan alasan lain.
Mereka perlu memutar uang di negara yg potensinya besar seperti di Indonesia. Di negara asalnya, seperti jepang misalnya, pertumbuhan telah susah. Sudah flat. Disana bunga deposito bahkan dibawah tiga% setahun. Mereka cari negara lain yang potensinya akbar dan buat itu cari mitra2 lokal yg credible, sanggup dianggap, & bisa diajak membuatkan bisnis. Umumnya mereka lebih senang menggandeng pemain lokal yg sudah pengalaman pada bisnisnya, kemudian bikin kongsi. Kongsi itu sanggup dengan akuisisi perusahaan akbar yang telah terdapat, bisa juga dirikan sebuah usaha baru secara beserta.
Nah, terdapat 2 jenis investor asing yg sanggup diajak. Investor strategis dan investor financial. Lihat perbedaan diantara keduanya dalam goresan pena saya yg lain yg mampu mengungkapkan hal itu.
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari kawan lokal buat kongsi usaha
By the way, kalau perusahaan Bapak/Ibu butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling pas untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya.
Selain itu, saya juga punya relasi investor strategis dari luar negeri yang sekarang sedang akan mengembangkan bisnis di Indonesia. Adapun sektor bisnis yang diminati antara lain:
Beberapa jenis perusahaan yang dicari investor relasi aku :
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Perusahaan tambang nickel dan pengolahannya
- Semua perusahaan bidang manufacturing
- Perusahaan farmasi, jaringan klinik, jaringan perawan kesehatan dan kecantikan, apotik
- Perusahaan yang bisnisnya B2B
- Perusahaan bidang kimia, pengolah limbah, dan sejenisnya
- Pperusahaan distribusi, baik barang2 consumer maupun barang industrial
- Perusahaan agribisnis dan teknologi yang terkait pertanian
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanan)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Perusahaan shipping yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Perusahaan kemasan
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
Perlu dicatat, investor asing pada umumnya tidak mau melakukan joint venture dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang baru mulai. Perusahaan baru boleh saja namun harus punya induk perusahaan besar. Mereka perusahaan besar sehingga mindset bisnisnya juga skala besar. Mereka sudah jauh-jauh ke Indonesia tentu ingin yang skala bisnisnya cukup.
Bila Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yg sedang membutuhkan investor, saya siap bantu sinergikan dengan investor dalam jaringan saya.
Semoga bisnis bapak/Ibu sukses, semakin maju & berkembang. Selalu terdapat jalan apabila kita terus mau berusaha.
Terima kasih
Sudarmadi
HP : 081 384 160 988
wingdarmadi@gmail.Com
Artikel terkait :
>Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
>Investor luar negeri cari kawan lokal buat kongsi usaha
Investor Asing Tertarik Kongsi, Kesempatan Emas Bagi Pengusaha Nasional
Pebisnis di era sekarang keberadaan mitra investor memang semakin diperlukan untuk kepentingan pengembangan usaha. Namun sayang banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya banyak investor asing ingin masuk ke Indonesia dan bisa digandeng. Mereka ingin masuk dan mengembangkan bisnisnya di Indonesia serta MENCARI MITRA KONGSI dengan perusahaan-perusahaan terpercaya di Indonesia. Para investor itu melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang prospek pertumbuhannya sangat bagus kedepan. Jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang, income perkapita makin naik, sumber daya alam melimpah, dan alasan lain.
Para investor itu dituntut untuk memutar dan menanamkan modalnya di negara yang potensinya besar seperti di Indonesia. Di negara asalnya, seperti jepang misalnya, pertumbuhan sudah sangat sulit. Tingkat pertumbuhan ekonomi sudah flat. Disana bunga deposito bahkan dibawah 3% setahun. Sebab itu mereka mencari negara lain yang potensinya besar dan untuk itu mencari mitra2 lokal yang credible, bisa dipercaya, dan bisa diajak mengembangkan bisnis. Umumnya mereka lebih suka menggandeng pemain lokal yang sudah pengalaman di bisnisnya, lalu bikin kongsi. Kongsi itu bisa dengan akuisisi perusahaan besar yang sudah ada, bisa juga dirikan sebuah usaha baru secara bersama.
Nah, ada dua jenis investor asing yang mampu diajak. Investor strategis dan investor financial. Lihat perbedaan diantara keduanya pada tulisan saya yg lain yang bisa menjelaskan hal itu.
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal buat kongsi usaha
By the way, kalau perusahaan Bapak/Ibu butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling pas untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya.
Selain itu, saya juga punya relasi investor strategis dari luar negeri yang sekarang sedang akan mengembangkan bisnis di Indonesia. Berikut ini sektor bisnis yang paling diminati relasi saya:
- Perusahaan Manufacturing ( memproduksi makanan, minuman, obat, produk rumah tangga, bahan bangunan, kemasan, industrial good, B2B product, produsen cat, bahan bangunan, dll, yang ada proses makanann)
- Perusahaan jaringan ritel dan resto yang sudah memiliki banyak cabang
- Perusahaan logistik (integrated logistic, forwarding, warehousing, trucking, kurir express
- Perusahaan logistik berpendingin (cold chain): perusahaan logistik yang punya cold storage, perusahaan trucking yg berpendingin, warehouse cold storage, refrigrated trucking, dll)
- Perusahaan asuransi jiwa syariah
- Bank syariah
- Perusahaan pengolahan ikan dan hasil laut (fishery processing, shrimp, crab processing, cold storage/seafood manufacturing
- Mall dan ritel di kota-kota utama dan kota kedua
- Perusahaan industri berat (baja, alumunium, pipa, dll)
- Perusahaan properti yang punya land bank untuk apartemen dan mall
- perusahaan IT services/IT system integration
- outsourcing company
- perusahaan farmasi OTC
- Perusahaan yang punya land bank untuk kawasan industri diatas 400 ha
- Perusahaan Infrastruktur (listrik, pelabuhan, penyediaan air bersih, bioenergi, biomass)
- Shipping company yang asetnya sudah diatas Rp 400 miliar
- Packaging company
- Perusahaan agribisnis yang omsetnya sudah diatas Rp 300 M
- Perusahaan pupuk organik yang sudah punya pasar ritel
- Perkebunan sawit, karet dan kopi,
- - dll
Perlu dicatat, investor asing pada umumnya tidak mau melakukan joint venture dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang baru mulai. Omset minimal Rp 200 miliar. Mereka perusahaan besar sehingga mindset bisnisnya juga skala besar. Mereka sudah jauh-jauh ke Indonesia tentu ingin yang skala bisnisnya cukup.
Skema investasinya, umumnya relasi aku ingin masuk dalam bentuk kerjasama joint venture pada perusahaan yg bisnisnya sudah jalan, bukan create baru dari nol.
Bila Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yg sedang membutuhkan investor, saya siap bantu sinergikan dengan investor. Salam semangat
Best regard
Sudarmadi
wingdarmadi@gmail.Com
HP : 081 384 160 988
Artikel terkait klik link berikut:
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha
Investor luar negeri cari mitra lokal buat kongsi usaha
Big Deal, Alibaba Makin Agresif di Indonesia, Tanam Modal di Tokopedia Rp 14,7 triliun.
Tokopedia semakin kuat. Raksasa ecommerce China, Alibaba, baru saja masuk dan invest. Perusahaan ecommerce asli Indonesia itu memasuki babak investasi baru yang bisa dibilang mengejutkan.
CEO Tokopedia William Tanuwijaya menjelaskan, perusahaannya baru saja mendapatkan pendanaan baru dari raksasa e-Commerce Asia, Alibaba. Tak tanggung-tanggung, investasi berjumlah sangat besar, yakni US$ 1,1 miliar, atau sekitar Rp 14,7 triliun.
Ia menegaskan, investasi Alibaba bersifat investasi murni dan tidak mengakuisisi Tokopedia. Dengan begitu, Alibaba pun akan menjadi pemegang saham minoritas bagi Tokopedia. Dalam dunia investasi, bisa jadi yang dimaksud William, Alibaba bukan akuisisi existing saham, namun beli new share.
"Pemodalan lebih dari Rp 14 triliun akan dipimpin oleh Alibaba Group. Mereka juga akan menjadi pemegang saham minoritas kami," kata William saat membuka acara ulang tahun ke-8 Tokopedia di Jakarta.
"Kami selalu menganggap bahwa Alibaba merupakan guru dan role model bagi kami. Karenanua, hari ini kami menyambut baik Alibaba sebagai salah satu pemegang saham di Tokopedia dan kami percaya bahwa kemitraan ini akan mempercepat terwujudnya misi kami dalam menggerakkan pemerataan ekonomi secara digital,” tambahnya.
"Alibaba Group dan Tokopedia memiliki kesamaan visi dalam membantu UMKM dalam kesuksesan usahanya dan kami sangat senang dapat bekerja sama bersama Tokopedia untuk melayani seluruh masyarakat Indonesia," jelas Daniel Zhang, CEO Alibaba Group.
Sebelumnya, rumor menyebut justru JD.com yang akan mengucurkan dana untuk Tokopedia secara mayoritas belum lama ini. Informasi tersebut sudah lebih dulu beredar sejak Mei 2017.
Selain JD.com, Alibaba sebelumnya memang sudah tertarik untuk meminang Tokopedia. Cuma waktu itu, tawaran Alibaba hanya mencapai US$ 500 juta atau setara dengan Rp 6,6 triliun. Kabar ini pun perlahan tenggelam karena Tokopedia memilih bungkam.
Untuk diketahui, Alibaba bisa dibilang sebagai e-Commerce yang paling mendominasi di Negeri Tirai Bambu. Mereka bahkan mulai ekspansi ke Tanah Air dengan mengakuisisi Lazada, yang notabene menjadi salah satu pemain besar di industri e-Commerce lokal.
Tokopedia pun sama, ia menjadi salah satu pemain e-Commerce besar yang patut diperhitungkan, dan masuk ke dalam daftar unicorn startup di Asia Tenggara. Jadi, masuk akal jika Alibaba mengucurkan dana besar untuk Tokopedia, mengingat kiprahnya sangat berpengaruh di pasar e-Commerce Indonesia.
Untuk kilas balik, pendanaan Tokopedia terakhir kali didapat pada 2014. Diketahui, investasi dikucurkan langsung dari Softbank Japan dan Sequoia Capital dengan nilai US$ 100 juta atau Rp 1,3 triliun.
Dijual Pabrik Kelapa Sawit di Sumatera dan Kalimantan
Updated:
Berikut ini kebun sawit yg dalam posisi 'dijual" atau boleh diakuisi sang pihak lain. Kebun-kebun tersebut sudah mempunyai pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri untuk memasak buah sawit (TBS) menurut kebun sendiri maupun berdasarkan kebun warga sekitar (plasma). Kebun-kebun itu sudah dicek validitas berita dan kepemilikannya. Sangat cocok dibeli sang perusahaan / investor yg tidak ingin menunggu usang dalam investasi sawit lantaran semuanya tinggal melanjutkan,
Kebun-kebun dibawah ini dimiliki oleh pengusaha yang berbeda-beda, jadi bukan satu pemilik.
A. Kebun Sawit Kaltim (Kode: RNIM)
Luas kebun tertanam 6.500 ha
Sudah punya pabrik 60 TON/Jam
Selama ini poly mengolah TBS dari kebun masyarakat selain berdasarkan kebun sendiri
Status huma: sebagian sudah HGU
B. Kebun Sawit Kalsel (Kode: BKN)
Luas 11.5000 Ha
Tertanam 7.300 ha
Sudah punya pabrik sawit 30 Ton/Jam
status huma: Sebagian telah HGU
C. Kebun Sawit Palembang (Kode: EGA)
Luas 6.100 ha
Semua huma HGU
Semua sudah tertanam dan menghasilkan
Sudah terdapat pabrik PKS kapasitas 45 ton/jam
Bagi peminat, data lebih detil akan dikirimkan.
Tersedia success fee bagi yang bisa membantu menjualkan.
Terima kasih
Hubungi:
Sudarmadi
email: wingdarmadi@gmail.com
HP 081 384 160 988
Jual Kebun Sawit, Sudah Ada Pabrik PKS
Updated:
Berikut ini kebun sawit yg pada posisi 'dijualdanquot; atau boleh diakuisi oleh pihak lain. Kebun-kebun tersebut telah memiliki pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri buat memasak butir sawit (TBS) berdasarkan kebun sendiri juga menurut kebun rakyat lebih kurang (plasma). Kebun-kebun itu telah dicek validitas berita & kepemilikannya. Sangat cocok dibeli sang perusahaan / investor yg tidak ingin menunggu usang dalam investasi sawit lantaran semuanya tinggal melanjutkan,
Kebun-kebun dibawah ini dimiliki oleh pengusaha yg berbeda-beda, jadi bukan satu pemilik.
A. Kebun Sawit Kaltim (Kode: RNIM)
Luas kebun tertanam 6.500 ha
Sudah punya pabrik 60 TON/Jam
Selama ini banyak memasak TBS berdasarkan kebun masyarakat selain dari kebun sendiri
Status lahan: sebagian sudah HGU
B. Kebun Sawit Kalsel (Kode: BKN)
Luas 11.5000 Ha
Tertanam 7.300 ha
Sudah punya pabrik sawit 30 Ton/Jam
status lahan: Sebagian sudah HGU
C. Kebun Sawit Palembang (Kode: EGA)
Luas 6.100 ha
Semua lahan HGU
Semua telah tertanam dan membuat
Sudah ada pabrik PKS kapasitas 45 ton/jam
Bagi pendaftar, data lebih detil akan dikirimkan.
Tersedia success fee bagi yang bisa membantu menjualkan.
Terima kasih
Hubungi:
Sudarmadi
email: wingdarmadi@gmail.com
HP 081 384 160 988
Cara Aman Transformasi Dari Seorang Karyawan Menjadi Pengusaha
Bahwa profesi pengusaha (entrepreneur) menjanjikan peluang peningkatan penghasilan yang berlipat, yes, lantaran itulah banyak yang ingin sebagai entrepreneur sukses. Profesi pengusaha memungkinkan kita bebas finansial pada hari tua lantaran tabungan cukup sehingga kita mampu purna tugas lebih damai dan penekanan buat misi hidup yang lain. Betul demikian & telah poly yg menunjukan. Hanya saja memang tak mudah menjadi entrepreneur sukses, terbukti poly juga yang gagal.
Selain itu, tidak sedikit orang yg masuk ke global wirausaha dengan terburu-buru dan emosi. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan matang dia eksklusif tinggalkan pekerjaan sebelumnya yg notabene merupakan andalan mata pencaharian famili. Angan-angannya langsung melambung, membumbung, dan membayangkan hidup serba-lezat apabila menjadi pengusaha sukses dengan penghasilan berlipat.
Ia lupa bahwa berwirausaha juga punya resiko, resiko gagal dan bangkrut. Ia lupa merencanakan bagaimana seandainya ia gagal di tengah perjalanan. Harus diakui, banyak sekali orang bertindak semacam ini, yang akhirnya bukan semakin bersemangat berwirausaha namun justru menjadi antipati alias benci, dan menyesal kenapa melangkah jadi entrepreneur. Bahkan kadang jadi menyalahkan orang lain. Apalagi kalau yang hingga cerai dengan istri atau dibenci sanak keluarga. Cara pandang dan cara memulai 'yang asal berani' seperti ini tentu saja kurang elegan.
Berdasarkan amatan aku terhadap para pengusaha sukses, ada beberapa alternatif cara aman masuk sebagai entrepreneur sesuai yang aku tahu menurut relasi-relasi aku pengusaha yg telah terbukti sukses. Intinya, bila ingin mandiri berwirausaha alias menjadi entrepreneur, tidak harus langsung cabut dari profesi usang dulu. Tidak perlu grusa-grusu. Kita wajib dengan dingin membedakan antara berani & nekad. Apalagi jika yang telah punya tanggungan famili, kita pula wajib menimbang ada sekian jiwa yang ikut pada gerbong sehingga kalau galat kemudi mereka jua sanggup kejeblos.
Berikut ini beberapa informasi cara yg lebih kondusif buat pindah ke kuadran entrepreneur.
Pertama; kita bisa memulai berwirausaha menggunakan melakukan penyertaan saham (setor modal) pada usaha teman kita sembari kita tetap kerja dulu di perusahaan usang kita. Jadi kita setor kapital ke kawan yang punya usaha indah, dan nantinya kita mendapat bagi hasil dari keuntungan. Dari sini kita pula sekalian mulai belajar bagaimana mengelola usaha. Pelan-pelan kita mulai aktif terjun pada dalamnya dan membantu & kerja bareng dengan si teman itu. Kalau skala bisnis joinan dengan teman itu rupawan & penghasilan menurut bagi hasil telah sanggup menutup kebutuhan hidup kita dan keluarga, barulah kita putuskan keluar. Jadi waktu kita keluar berdasarkan perusahaan usang tidak kaget lantaran tetap terdapat penghasilan.
Kedua, jurus menginjak 2 kapal. Artinya, kita masih menjadi karyawan di sebuah perushaaan mapan, namun di saat yang sama jua merintis usaha alias menjalankan bisnis milik sendiri. Cara ini dimungkinkan bagi mereka-mereka yang punya relatif saat luang sehingga mampu nyambi. Sebenarnya cara ini kini lebih dimungkinkan karena adanya HP & telpon yang memudahkan koordinasi. Jadi, ad interim kita di tempat kerja, kita bisa sembari mengendalikan bisnis sendiri dari jarak jauh. Hingga skala tertentu nyambi ini sangat dimungkinkan, tetapi jikalau bisnisnya mulai mengembang kita niscaya harus bubut. Strategi menginjak 2 kapal ini merupakan pilihan kondusif dan realistik. Jadi ad interim satu kaki kita terdapat di kapal milik perusahaan lain, satu kaki kita melakukan test market buat menciptakan usaha (kapal) sendiri. Cara ini juga paling umum dijalankan oleh para perintis bisnis.
Ketiga, bila anda tidak mau joinan menggunakan orang lain & tidak sanggup berdiri di 2 kapal, kita bisa berdayakan pasangan kita (istri/suami). Jadi, sementara kita masih kerja di perusahaan lama , pasangan kita (istri atau suami) yg mengurusi bisnis sendiri buat masa-masa perintisan. Artinya sekoci pendapatan keluarga terdapat yg sanggup diandalkan, baik buat beli beras atau susu anak-anak. Kalau bisnis sendiri ini sudah jalan, silahkan saja keluar berdasarkan kerja di perusahaan orang lain itu.
Soal tip ketiga ini saya jua punya poly contoh perkara riel berdasarkan pengusaha sukses rekanan aku . Yang niscaya, tip ketiga ini tentu saja berlaku untuk yang waktu akan mulai mandiri berwirausaha telah berkeluarga, bila yg masih single, tentu saja pasangan Anda sanggup abang atau Adik anda. Ini jua cara sukses & kondusif untuk masuk ke kuadran entrepreneur namun tidak mengganggu keamanan sumber penghasilan famili.
Keempat, jika Anda sudah ngebet sekali untuk menjadi entrepreneur dan yakin bakal sukses dan merasa tidak perlu pakai ban serep misalnya itu, setidaknya Anda tetap bisa melakukan pengamanan lain, yakni mengamankan dana pendidikan anak. Tabungan anak harus permanen ada & disendirikan. Jadi katakanlah proses sebagai entrepreneur itu gagal, dana pendidikan anak2 tetap aman. Setuju kan?
Jadi itu beberapa kiat aman pindah ke kuadran entrepreneur. Semoga dengan cara itu proses transisi sebagai pengusaha sukses sebagai melegakan semua pihak, tidak ada penyesalan-penyesalan. Silahkan kawan2 yang ingin memulai bisnis menentukan jalan yang terbaik.
Semoga keterangan ini bermanfaat dan saya ikut berdoa semoga sukses untuk kawan2 seluruh.
Penulis: Sudarmadi
Klik link dibawah ini buat kisah bisnis menarik lainnya :
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Cari Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja ke Bank ? Hal-Hal Berikut ini Penting Diketahui
Adalah sebuah hal yang biasa dan wajar bila sebuah perusahaan pada sebuah titik harus pinjam uang ke bank untuk mendanai usaha, apakah itu kredit investasi atau kredit modal kerja. Bahkan sampai ada guyonan, kalau tidak pinjam ke bank berarti masih perusahaan UKM. Maklum, seiring makin banyaknya peluang bisnis, berteman dan meminjam ke bank amat penting agar bisa menangkap semua peluang yg lewat.
Tapi faktanya memang tidak mudah meminjam ke bank. Tidak selalu kredit yang diajukan disetujui. Sebagian besar masalah pebisnis muda ialah kesulitan memperoleh permodalan dari bank.
Sebenarnya, hal tersebut tak perlu dikhawatirkan apabila Anda bisa meyakinkan bank dan selalu dapat dipercaya.
Secara umum, bank memang harus hati-hati jaga uang karena duit bank juga duit nasabah, duitnya para penabung. Mereka wajib menaati prinsip prudential banking principles yang bertujuan mengamankan dana yang akan disalurkan sebagai pinjaman kepada calon debitur agar bisa kembali sesuai dengan jadwal dan nominal yang telah ditetapkan.
Tapi di lain sisi, anda juga perlu tahu apa sih landasan yang biasanya dipakai perbankan untuk menilai kelayakan calon debitur atau perusahaan yng akan mengajukan kredit?
Jawabannya bisa disingkat dalam 6 C. Apa itu?
Character
Si bank pertama kali akan melihat karakter si peminjam, suka ngemplang hutang atau nggak. Suka menipu nggak, banyak kasus hukum atau nggak. Penilaian karakter ini erat kaitannya dengan reputasi calon debitur di masyarakat dan track record-nya di kalangan para pengusaha atau pihak-pihak yang sering menjalin relasi dengannya, apakah calon debitur itu termasuk yang bisa dipercaya atau tidak dan lain sebagainya. Bank juga akan melihat apakah bisnis calon debitur memiliki sejarah pinjaman yang bermasalah atau tidak.
Capital
Ketika akan pinjam bank, bank pun akan melihat perusahaan anda seberapa punya modal. Karena dalam sebuah proyek investasi, biasanya, bank juga akan meminta debitur untuk menyediakan modal sendiri dalam kisaran 20-30%, sisanya baru dibiayai bank. Secara aturannya, bank tidak bisa 100 persen memberikan pembiayaan ke usaha yang mengajukan permodalan, biasanya hanya 70-80% yg dikasih bank. Calon debitur harus memiliki self financing atau modal sendiri yang bisa berasal dari modal disetor atau laba yang terakumulasi menjadi modal.
Capacity
Bank akan melihat kemampuan atau kapasitas calon debitur dalam mengelola usaha, menangani proyek, menyelesaikan proyek, mengembangkan usahanya, menjaga bisnisnya sehingga pasti akan membuat sebuah kesimpula apakah si calon debitur akan mampu membayar kembali pinjaman sesuai dengan jadwal dan jumlah yang telah ditetapkan. Capacity di sini juga berkaitan dengan kapasitas usaha seperti hasil penjualan, struktur biaya, arus kas, perputaran tagihan, biaya terhadap pendapatan dan lain sebagainya.
Condition
Berhubungan dengan kemampuan calon debitur dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan, baik yang menyangkut kondisi perekonomian dan kondisi sosial masyarakat serta politik, di mana usaha atau proyek berada.
Kondisi ini juga berkaitan dengan perizinan. Misalnya, untuk usaha mikro, izin tersebut dapat berasal dari kelurahan atau kecamatan, dan sebagainya.
Collateral
Berhubungan dengan jaminan utaman dalam pembiayaan yakni sumber pengembalian kredit dari proyek atau usaha yang dibiayai. Jenis jaminan terbagi menjadi dua yaitu jaminan berwujud dan tidak berwujud. Jaminan berwujud misalnya peralatan, mesin, kendaraan, bangunan, tanah dan sebagainya, sedangkan yang tak berwujud antara lain garansi personal atau perusahaan dan sebagainya.
Close Relation
Bisnis perbankan adalah bisnis kepercayaan karena inti bisnis mereka adalah bisnis kepercayaan. Mereka hanya meminjamkan uang untuk modal kepada siapa yang dipercaya. Nah, agar mereka bisa percaya, penting untuk menjalin komunikasi dan kedekatan dengan mereka. Tak kenal tak akan percaya. Kalau bank sudah percaya ke anda atau perusahaan anda, bahkan anda sedang tidak butuh kredit pun anda justru ditawari kok nggak ambil kredit, kok nggak ambil pinjaman lagi, dlll. Bahkan ketika ada peluang bisnis bagus mereka juga bisa refer peluang tersebut ke perusahaaan anda, Penting untuk menjadikan mereka sebagai teman bisnis anda.
By the way, kalau perusahaan Bapak atau Ibu butuh modal kerja dari bank sebesar Rp 50 M- Rp 750 M, saya akan bantu kenalkan ke kawan saya eksekutif bank yg sekarang memang sedang aktif cari proyek/bisnis untuk difunding. Kredit bank bisa digunakan untuk investasi, modal kerja, modal untuk mendanai akuisisi sebuah bisnis, dan juga untuk refinancing hutang lama yang tingkat bunganya lebih besar. Saya welcome untuk membantu bila memang dibutuhkan.
Terima kasih / salam hormat
sudarmadi
HP 081 384 160 988
email: wingdarmadi@gmail.com
Artikel terkait klik link berikut:
Dua Jenis Investor Yang Bisa Digandeng Untuk Pengembangan Usaha Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis
Ingin Sukses Menjadi Wirausahawan, Harus Ubah Mentalitas dan Mindset
"Banyak yang tidak menyadari, hambatan kultural, mental atau psikologis tak jarang menjadi hambatan atau bahkan menjadi pemicu kegagalan pada merintis usaha. Contohnya perasaan gengsi. Sebagai entreprenuer, kalau mau sukses harus bersedia terjun ke lapangan, bersedia menunjukkan ini-itu. Bisnis tidak akan berjalan jika urusan gengsi menjadi pertimbangan primer.
Nasehat kewirausahaan itu disampaikan oleh salah satu relasi saya, pengusaha asli Indonesia yg memulai usaha dari nol yg sekarang omsetnya telah Rp dua,5 T per tahun.
Beliau mengungkapkan, sindrom mentalitas itu terutama akan menjangkiti pengusaha pemula yang sebelumnya merupakan seorang profesional atau karyawan mapan. Biasanya ada perasaan gengsi buat turun ke bawah. Bayangkan, sebelumnya tiap hari pergi kemanapun selalu memakai mobil cantik, datang-datang wajib naik taksi atau malah naik kendaraan umum tanpa menggunakan dasi. Lebih jauh hal ini mampu menciptakan yg bersangkutan menjadi minder jika bertemu sahabat atau relasinya sehingga merasa memulai bisnis sebagai sesuatu yg amat berat dan menyiksa. Padahal orang lain belum tentu melihat penampilannya. Yang krusial cara kerja dan kemampuannya.
Tingginya tingkat pendidikan tak jarang menjadi kendala mental buat terjun ke lapangan. Misalnya terdapat seorang sarjana lulusan perguruan tinggi negeri terkemuka datang-datang kok akan berjualan bakso. Biasanya akan ditanya sang orang tua atau lingkungannya, ?Engkau telah sekolah tinggi-tinggi kok hanya jualan baso?'. Cara berpikir misalnya ini harus dihilangkan, wajib diputarbalikkan. Mestinya berpikiran tak masalah jualan baso, yg krusial bagaimana caranya agar mampu sebagai penjual bakso terbesar di sebuah kota dengan 40-50 armada. Tapi kenyataannya memang misalnya itu, masih banyak kendala psikologis. Orang-orang kita kebanyakan nggak mau mulai menurut yg mini . Padahal jikalau mau sukses kita harus berani mulai berdasarkan yang kecil".
Klik link dibawah ini buat kisah usaha menarik lainnya :
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Merintis Bisnis Lebih Baik Dimulai Saat Masih Muda. Kenapa??
Merintis usaha atau memasuki dunia entrepreneur memang bisa dimulai disaat usia berapapun, termasuk saat sudah usia diatas 45 tahun. Ada juga yang sukses usaha justru ketika ia sudah diatas 45 tahun. Toh demikian, kalau kita berpikir resiko dan energi, bagaimanapun juga tetap lebih baik memulai usaha ketika usia muda (dibawah 40 tahun). Bila berpikir resiko, memulai usaha saat masih muda punya beberapa kelebihan. Ketika masih muda, biasanya energi dan sumberdaya yg dimiliki yang masih bisa lebih total dicurahkan untuk perintisan usaha.
Contohnya soal modal uang, permodalan kita bisa fokus untuk bisnis. Namun kalau mulai usaha saat anak-anak mulai membutuhkan biaya pendidikan dll, biasanya lebih ribet. Pokoknya ketika anak-anak mulai besar banyak kebutuhan deh. Usia muda biasanya juga lebih mobil untuk melakukan terobosan kesana-kemari. Katakanlah harus merintis pengembangan jaringan (network) bisnis hingga harus keluar ke berbagai kota dan harus nginap kesana kemari, juga masih lebih fleksibel. Apalagi kalau yang masih bujang. Bahkan nginep di pom bensin atau di fasilitas umum pantas-pantas saja. Maklum, biasanya dalam siklus entrepreneurship, tahap tersulit itu saat perintisan dan disitu biasanya butuh effort yang lebih.
Lebih dari itu, kalau toh apes-apesnya upaya perintisan usaha itu akhirnya gagal, maka karena masih muda, orang itu masih bisa banting stir kembali ke dunia profesional (karyawan). Perusahaan-perusahaan pada umumnya lebih suka mencari SDM yg masih muda dan energik. Kita masih bisa mengatakan teman2 atau relasi kita untuk kembali mengajar jadi dosen ataupun staff karyawan dimana kawan2 bekerja, misalnya. Pokoknya masih fleksible dan banyak peluang yang bisa dilakukan. Kalau toh gagal di suatu bisnis, masih bisa coba-coba bisnis yang lain kalau usianya masih muda.
Kiat memulai usaha persis seperti ini banyak diterapkan oleh pengusaha relasi saya. Beliau-beliau banyak yang merintis usaha ketika muda usia dengan pertimbangan seperti itu. Pendeknya, kalau toh gagal, masih bisa melakukan alternatif lain. Disamping itu di usia tersebut putra-putri beliau belum butuh biaya macam-macam.
Semoga sukses untuk kita semua, di bisnis dan di keluarga. Salam
Klik link dibawah ini untuk kisah bisnis menarik lainnya :
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR