Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Kinerja maskapai penerbangan berbiaya rendah asal Malaysia, AirAsia rupanya sedang mengkilap. Hal itu terjadi di hampir semua unitnya di negara-negara ASEAN. Tak heran, AirAsia berencana menyatukan seluruh bisnisnya yang ada di Asia Tenggara.  Perusahaan tengah mendalami  rencana itu dan terutama terkait masalah regulasi yang mungkin akan menghalanginya. Dalam sebuah laporan yang dirilis CIMB dan dikutip dari CNBC, Selasa (1/8/2017), AirAsia ingin memusatkan bisnisnya di Malaysia di bawah satu payung besar. Saat ini, AirAsia memiliki unit bisnis di Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, dan beberapa negara lainnya di luar Asia Tenggara.

Tujuan penyatuan usaha ini adalah agar bisa go public alias melantai pada bursa saham menggunakan perusahaan holding baru. CEO AirAsia mengumumkan planning konsolidasi ini waktu metrik usaha maskapai tersebut tengah kuat.

"Kami sedang pada posisi yg fantastis. Saat ini faktor-faktor pertumbuhan sangat tinggi, bisnis pada kondisi baik dan kami akan membeli 29 pesawat tahun ini," ujar Fernandes.

Saat ini pun AirAsia sedang memesan 400 unit pesawat baru. Para analis menyatakan, AirAsia tampak sedang mempersiapkan pertumbuhan.

"Kami sekarang mempunyai Indonesia & Filipina yg menaruh kinerja yg sangat baik dan India secara mengejutkan berkinerja lebih baik menurut yg kami antisipasi & sangat cepat," imbuh Fernandes.

Ia menuturkan, pihaknya berharap unit bisnis AirAsia di India dapat memperoleh laba dalam enam bulan ke depan. Fernandes bilang, kondisi dalam pasar minyak & nilai tukar jua mendorong bisnis maskapai tersebut.

Pada awal pekan ini, harga minyak berada dalam kisaran level 52 dollar AS per barrel. Pelemahan mata uang ringgit Malaysia juga mendorong sektor pariwisata negara itu, yang menjadi ladang laba bagi AirAsia.

"Dalam beberapa hal, kami diuntungkan berdasarkan devaluasi ringgit, meski porto meningkat. Saya rasa Malaysia sebagai negara yg lebih murah buat dikunjungi," celoteh Fernandes.

Untuk menjadi perusahaan holding baru yang bisa melantai di bursa saham, AirAsia masih wajib menghadapi sejumlah tantangan. AirAsia harus bernegosiasi menggunakan beberapa negara buat secara penuh memiliki maskapai dengan menukar saham mitra pada saham perusahaan holding.

Kalau perundingan nir berjalan dengan baik, maka penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) kelompok AirAsia kemungkinan tidak sanggup terwujud juga. Namun, Fernandes tetap yakin konsolidasi itu sanggup dijalankan.

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: