Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Belum lama ini ratusan perwakilan pekerja Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) kembali melakukan aksi menolak konsesi badan bisnis ke pihak asing, Selasa (2/5) pagi. Mereka melakukan aksi mogok kerja.

Para pekerja tersebut melakukan orasi dan mengumpulkan seluruh pekerja JICT pada keliru satu ruangan aula rendezvous yang ada di lantai dasar tempat kerja JICT, depan Pos IX Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sekjen Serikat Pekerja (SP) JICT, Firmansyah mengatakan, pihaknya sengaja mengumpulkan para pekerja buat menyuarakan aspirasi menolak konsesi yang dilakukan induk perusahaan dan meminta pihak Direksi JICT mendukung suara pekerja.

Di dalam ruangan 'Kresna' ukuran 6x6 meter, puluhan pekerja melakukan orasi dan mengumpulkan perwakilan berdasarkan masing-masing operasional JICT buat membicarakan aspirasinya.

"Sejak pekan lalui bertemu dengan Pak Gunta (galat satu Direktur JICT yg baru) untuk menyampaikan aspirasi 706 pekerja JICT yg menuntut hak dan kesejahteraan," ujar Firmansyah.

Dikatakan, tuntutan primer menurut para pekerja permanen utamanya adalah menolak konsesi JICT, namun terdapat jua sejumlah tuntutan mengenai insentif kinerja yg mengalami reduksi supaya dikembalikan seperti asalnya.

Mantan Ketua Umum SP JICT, Hazris Malsah, berharap ada solusi bersama yg mampu diterima sang kedua belah pihak dalam keputusan JICT.

"Bonus tahun ini bagi para karyawan JICT sebanyak Rp 47 miliar padahal tahun kemudian insentif mencapai Rp 82 miliar. Bonus turun akan tetapi pendapatan perusahaan tahun ini lebih akbar berdasarkan tahun lalu," kata Hazris.

Ia berharap supaya terdapat solusi yang bisa diterima oleh 2 belah pihak. "Kami berharap ada kebijakan diversifikasi bisnis agar para pekerja yang selama ini berkontribusi untuk pemasukan perusahaan dapat tetap terjaga," katanya.

Semoga tidak terjadi pada Surabaya

Kisruh yang melanda serikat pekerja PT Jakarta International Containter Terminal (JICT) menggunakan manajemen diharapkan nir terjadi di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS). Para pemangku kepentingan diminta mengawal proses transisi TPS dalam tahun 2019.

Direktur The National Maritime Institute, Siswanto Rusdi berkata bakal menghadapi perubahan strategis, lantaran dalam dua tahun mendatang kontrak kolaborasi antara PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III menggunakan Dubai Port World (DPW) bakal berakhir.

Sebagaimana diketahui, kisruh yg terjadi di JICT salah satunya terkait penolakan perkumpulan pekerja terhadap perpanjangan kontrak Hutchison Port Holding pada pengelolaan tetminal petikemas.

Siswanto mengatakan, semua pihak yang menjadi pemangku kepentingan  harus mengawal proses penghentian waktu kerja sama atau terminasi berjalan mulus.

?Cukup kegaduhan dalam bisnis kepelabuhan nasional terjadi di Jakarta saja, tidak perlu berulang di Surabaya," ungkapnya pada kabar tertulis, Minggu (6/8/2017).

Dia berharap, manajemen Pelindo III menjadi pemegang saham TPS dan serikat pekerja yg ada pada Pelabuhan Tanjung Perak menyiapkan proses terminasi menggunakan baik. Terlebih, saat ini operasional TPS didominasi sang Warga Negara Indonesia (WNI) sebagai akibatnya ketika DPW hengkang, kinerja TPS bakal tetap apik.

DPW menjadi pemilik 49% saham TPS setelah mengakuisisi induk P&O Dover pada 2006. Adapun P&O Dover memiliki 49% saham TPS sejak 1999 di mana saat itu Pelindo III melakukan privatisasi saham di TPS.

Di sisi lain, arus bongkar muat peti kemas ekspor impor TPS  naik 7% dalam enam bulan 2017 menjadi 637.410 TEUs. Sementara itu, arus kunjungan kapal di TPS selama semester I/2017 mencapai 484 unit atau naik 4% secara tahunan.

PR Manager TPS, Muchammad Solech mengatakan realisasi arus petikemas di paruh pertama tahun ini melampaui target yang dipatok sebesar 595.135 TEUs.

Menurut Solech, rata-rata petikemas ekspor impor yang dilayani di TPS setiap bulan mencapai 100.000 s.d 120.000 TEUs. Dia optimistis TPS bakal mampu menggenjot kinerja bongkar muat petikemas di paruh kedua.

"Pada awal tahun hampir 2 bulan 1 berth dikosongkan dalam rangka pemasangan 3 unit Container Crane (CC) baru yang terbesar di Pelabuhan Tanjung Perak. Kami yakin dapat mengejar dan melampaui target di semester II,” ujarnya dalam publikasi yang diterbitkan TPS.

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: