Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Tampilkan postingan dengan label Startup. Tampilkan semua postingan

OnlinePajak Sukses Raih ISO/IEC 27001:2013, Basis Pelanggan Terus Tumbuh

PT Achilles Advances System, perusahaan pengembang aplikasi OnlinePajak, terus berupaya memperkuat diri guna menambah daya saingnya serta memberikan nilai tambah maksimal kepada para  pelanggannya, terutama dalam pengelolaan keamanan informasi. Baru-baru ini Achilles sukses mendapatkan sertifikasi ISO/IEC 27001:2013 yang sudah  mulai efektif sejak 21 September 2016 hingga tiga tahun mendatang.

“Sertifikasi ini memberikan satu nilai tambah bagi perusahaan. Pencapaian yang dapat menjadikan pelanggan kami semakin yakin terhadap kompetensi Achilles dalam memberikan jasa di bidang aplikasi perpajakan dan keuangan,” sebut Direktur dan founder Achilles Charles Guinot, di Jakarta.

Charles Guinot juga mengatakan, sertifikasi tersebut adalah bagian dari evolusi bisnis Achilles yang terus mengembangkan fitur-fitur mutakhir di aplikasi OnlinePajak. “Achilles berkomitmen menghadirkan solusi-solusi yang inovatif, efektif, dan andal,” tambah Charles.

Saat ini, Achilles tengah mengembangkan aplikasi OnlinePajak dengan fitur-fitur inovatif seperti Accounts Receivable Management, Payment Reminder, Kelola Karyawan 1 Klik (membuat slip gaji karyawan dan sistem penggajian karyawan cukup dengan 1 klik), dan pengintegrasian aplikasi pihak ketiga dengan OnlinePajak.

ISO 27001: 2013 adalah standar keamanan informasi yang diterbitkan pada 25 September 2013. Standar ini menggantikan ISO/IEC 27001: 2005, dan diterbitkan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (International Organization for Standardization, ISO) dan International Electrotechnical Commission (IEC) di bawah subkomite bersama ISO dan IEC, ISO/IEC JTC 1/SC 27.

Pada dasarnya, ISO 27001: 2013 merupakan spesifikasi untuk sistem manajemen keamanan informasi (Information Security Management System, ISMS). Adapun organisasi, lembaga, atau perusahaan yang memenuhi standar, dapat memperoleh sertifikasi resmi yang dikeluarkan oleh badan sertifikasi independen dan terakreditasi setelah berhasil menyelesaikan proses audit formal. Pastinya, sertifikasi ini semakin menambah kepercayaan diri pengelola OnlinePajak untuk membuat basis pelanggannya makin bertumbuh.

#Tag : Startup

Cari Bantuan Biaya Kuliah? Danadidik.com Memberi Solusi

Pola penggalangan dana melalui contoh crowdfunding sudah makin populer untuk memodali pengembangan usaha. Banyak pengusaha mini -menengah yg terbantu mendapatkan pinjaman dana usaha dengan model itu. Tetapi pada bidang pendidikan, khususnya pada Indonesia, nampaknya pola itu belum poly atau bahkan sama sekali belum dilakukan. Adalah DANAdidik yg semenjak Juni 2015 kemudian mencoba masuk & memelopori implementasi crowdfunding buat pendidikan ini.

"DANAdidik kami bangun menjadi situs crowdfunding spesifik buat pembiayaan pendidikan. Kami ingin melahirkan industri pembiayaan pendidikan atau student loan pada Indonesia," ujar Dipo Satria Ramli, co-founder & CEO DANAdidik.Com. Melalui situs ini, pihaknya ingin menjembatani & mefasilitasi dua pihak yg saling membutuhkan. Yakni, pertama, kalangan siswa yg butuh & mencari dana kredit buat menyelesaikan studinya. Dan kedua, kalangan sponsor (pemberi pinjaman) yang ingin meminjamkan uangnya & mencari investasi cara lain sosial yg keuntungannya bisa terus berputar.

DANAdidik sendiri didirikan oleh 3 orang founder. Yakni, Dipo Satria Ramli, Januar Sudharsono & Eka Ginting. Dipo yg sekarang berperan sebagai CEO DANAdidik, usang berkarir pada dunia perbankan, termasuk pernah bekerja di ABN AMRO & Macquarie. Terakhir pemegang gelar MBA menurut Instituto de Empresa Business School ini menjabat Director pada Macquarie Indonesia. Lalu, Januar Sudharsono yang berperan sebagai CTO, telah berpengalaman lebih berdasarkan tujuh tahun di industri teknologi, khususnya di bidang content, mobile, music & social media.

Adapun Eka Ginting bukan nama asing, karena, selain merupakan pendiri indo.Com juga aktif sebagai mentor senior pada Founders Institute dan termasuk profesional generasi pertama yg berpengalaman merintis usaha digital pada Indonesia.

Dipo menjelaskan, dilihat model bisnisnya, pembiayaan pendidikan yang diberikan melalui DANAdidik disesuaikan kebutuhan pelajar. DANAdidik memiliki karakter sebagaimana produk student loan lainnya, yakni, pinjaman bersifat jangka panjang  dan pengembalian cicilan hanya dilakukan setelah lulus. "Semua pelajar yang akan menjadi tenaga kerja setelah lulus, baik mahasiswa atau siswa SMK, dapat mendaftar di portal DANAdidik," Dipo menjelaskan.

Di lain sisi DANAdidik memberikan kesempatan para sponsor (lender/peminjam) perorangan buat berpartisipasi pada investasi sosial ini dengan meminjamkan uangnya. Para sponsor akan memperoleh keuntungan menurut pendapatan bunga. Minimum deposit buat sebagai sponsor, Rp 5.000.000 (5 juta rupiah) menggunakan pecahan diversifikasi di tiap peminjam sebesar Rp 500.000.

"Melalui DANAdidik, para sponsor bisa mendapatkan keuntungan sambil sanggup membantu siswa mencapai cita-citanya. Pengembalian bunga (return) yg diberikan berkisar 1% per bulan sebelum resiko default," Dipo meyakinkan. Dalam hal ini pengelola DANAdidik memperoleh pendapatan berdasarkan fee manajemen.

Dipo menyebutkan, target utama situsnya tentu saja kalangan anak didik. Syarat paling primer, kata Dipo, murid yg akan bekerja selesainya lulus. Para peminjam sendiri sanggup berdasarkan kalangan mahasiswa, akademisi, Sekolah Menengah Kejuruan, atau terkadang peserta sertifikasi. "Targetnya, mereka yg akan lulus dalam saat kurang dari 2 tahun & meminjam menggunakan jumlah homogen-rata Rp 10 juta atau kurang," ucapnya.

DANAdidik, berdasarkan Dipo, sejauh ini merupakan satu-satunya institusi yang fokus terhadap pinjaman pendidikan. Pinjaman DANAdidik mempunyai grace periode atau masa tenggang dimana nir ada pembayaran angsuran selama anak didik masih merampungkan studi. "Masa tenggang merupakan karakter utama student loan. Ini tidak sinkron dengan pinjaman dalam umumnya yg umumnya mewajibkan pembayaran cicilan 1-dua bulan sehabis dana cair," Dipo menampakan.

Per Februari 2016, istilah Dipo, telah lebih dari dua,500 murid yang mendaftar pada DANAdidik. "Target kami, tahun 2016 ini mampu menaruh pendanaan kepada 500 murid," ucapnya. Ia merasakan respon yg sangat positif berdasarkan kalangan orang tua murid DANAdidik. "Sebuah riset mengungkapkan, 73% orang tua meminjam uang pada mendanai pendidikan anaknya, walaupun tak jarang meminjam dari tengkulak. Itulah kenapa kami mengembangkannya DANAdidik," Dipo mengungkapkan

( darmadi2000@yahoo.Com )

#Tag : Startup

Software Codemi, Debutan LMS SaaS Besutan Zaki Falimbany

Ketatnya persaingan tidak menyiutkan nyali Zaki Falimbany buat menyebarkan usaha penyedia jasa learning management system (LMS). Sejak 2014 kemudian, Zaki mulai merintis bisnis software pembelajaran yang diberi nama Codemi, dijalankan menggunakan sistim cloud. Ternyata optimismenya tak bertepuk sebelah tangan. Pengguna sofware berbasis SaaS ini terus bertumbuh cepat & kini telah mencapai lebih dari 2 juta user. Sederet perusahaan besar berhasil digaet sebagai pelanggan PT Codemi Global yg dibangun Zaki yg sekarang memperkerjakan 30-an karyawan ini.

Zaki yg kelahiran Palembang, 22 Januari 1986 ini memang punya latarbelakang pendidikan bidang TI. Ia sempat mencicipi kuliah di Jurusan Teknik Informatika AMIKOM Yogyakarta, namun tidak sampai lulus. Pada semester-semester akhir, tugas skripsinya terbengkalai karena ia sudah coba-coba berbisnis. Ia sempat kerja part time, jua pernah jua mencoba membuka usaha clothing. Lalu dia jua membuka usaha software house (SH). Software house ini rupanya jalan dan dalam 2010, karena poly permintaan pada Jakarta, akhirnya dia memindahkan bisnis ke Jakarta.

Di Jakarta, tahun 2013 ia sempat bertemu & dimentori tim Founder Institute guna menyebarkan startup Codemi ini. Tapi apa daya, Zaki lalu tidak sinkron pandangan dengan para mentornya di Founder Institute. Waktu itu semua mentor tidak setuju dengan contoh usaha "menjual konten softwaredanquot; alias aksesnya mesti free. Tak heran bisnis Codemi saat itu seperti open online course, semua orang sanggup mengajar dan belajar disitu. "Tapi saya pikir, jikalau semua perdeo, kami tidak sanggup make money dong?". Walhasil bisnis itu tahun 2014 ditutup Zaki & pada 2014 akhir ia membarui konsep bisnisnya. "Kita ubah berdasarkan open online course menjadi LMS. Kami menyewakan aplikasi Codemi ini ke perusahaan-perusahaan supaya perusahaan bisa mengelola training buat karyawannya," ujar Zaki dengan penuh keyakinan.

Banyak mitra Zaki yg ketika itu skeptis menggunakan model usaha dan masa depan Codemi. Tapi Zaki punya keyakinan, lalu beliau mengontak 30 orang HR di Jakarta & menginterview satu per satu. Ternyata berdasarkan semua yg ia temui, baru satu perusahaan yang telah punya LMS, itupun LMS menurut perusahaan induknya lantaran ia perusahaan Inggris. "Tiga bulan sehabis itu saya berani mulai menyewakan Codemi. Marketnya masih sangat luas pada Indonesia dan kompetitor-kompetitor yang lain harganya luar biasa mahal. Kami tawarkan produk sama menggunakan harga yg kompetitif & dibentuk pada Indonesia, jadi supportnya tidak mengecewakan cepat," tutur Zaki.

Model bisnis Codemi ialah SaaS (Software as a Service), pihak perusahaan penyewa membayar sesuai penggunaan. Pihaknnya telah membuat aplikasinya, ditempatkan pada cloud, begitu terdapat karyawan A yang login maka logonya akan berubah jadi logo perusahaan A. Nah, buat mendapatkan pelanggan, Zaki menelpon & mendatangi satu per satu calon pelanggannya seraya memperlihatkan pilot project. Dalam mencari pelanggan, Zaki penekanan menggarap perusahaan besar yang punya karyawan diatas 1.000 orang, khususnya pada industri financial services seperti banking, insurance, sekuritas, multifinance dan industri otomotif & e-commerce. "Karena di perusahaan superbesar itu taraf kebutuhannya memang tinggi, urgent. Dari sisi budget mereka pula telah punya," istilah pria yang kini sedang menempuh kuliah S1 online pada LSPR Jurusan Marketing ini.

Dari sisi konten, Codemi fokus di tiga pengalaman belajar. Pertama, e-learning dan online, belajar sendiri dari video dan pdf. Kedua, belajar formal di dalam kelas. Di sini Codemi bisa mengelola pendaftarannya melalui aplikasi. Sistemnya in-house training, jadi perusahaan mengelola classroom trainingnya sendiri. Pihaknya juga mulai kembangkan public training, bekerjasama dengan provider training di Jakarta untuk memasukkan konten training kelasnya di Codemi. Kalau ada karyawan yang mau ikut training tidak perlu request ke HR, tapi tinggal pilih dari Mobile Apps. Ketiga, collaborative learning atau learning from other. "Di perusahaan besar,  banyak yang  karyawan itu ahli di bidang tertentu, nah Codemi bisa mempertemukan orang yang mau belajar sesuatu di perusahaan ke ekspertnya masing-masing di internal perusahaan melalui sistem," katanya.

Zaki bersyukur karena pertumbuhan bisnisnya dalam empat tahun ini cukup ajaib.  "Tahun 2017-2018 lonjakan user hampir 10 kali lipat, yakni sudah mencapai 2 juta user," katanya. Menurutnya, cepatnya pertumbuhan ini, selain karena kerja keras tim, juga faktor dukungan ekosistem yang sudah siap. "Ekosistemnya terbantu oleh perusahaan-perusahaan provider cloud seperti Google, Amazon, dan Alibab) yang aktif mengedukasi market tentang cloud. Saat kami dekati tahun 2015, market masih banyak yang belum siap," lanjutnya. Tahun depan pihaknya mulai akan menggarap segmen perusahaan skala medium dan mengembangkan produknya dengan menggandeng para trainer di seputar Jakarta untuk membuat video-video training pembelajaran. Kini pihaknya sudah punya 60 video dan menargetkan punya 150 video.

Djoko Kurniawan, pemerhati bisnis startup melihat Codemi punya potensi bagus untuk berkembang. "Hal yang perlu dilakukan agar bisnis Codemi bisa sustain, meningkatkan brand awareness, terus-menerus melakukan edukasi market, memperbanyak customer segment,  memperluas key partners, dan terus meningkatkan hubungan baik dengan customer dengan memberikan sistem support yang mudah," saran Djoko. Codemi juga mesti terus menambah konten online training bekerja sama dengan lebih banyak konsultan/mentor bisnis, selain harus terus mengembangkan internal programmernya guna mendukung pertumbuhan.

#Tag : Startup