
Meski tidak dimiliki oleh konglomerasi akbar, Group Rumah Sakit Hermina mampu berkembang pesat sampai punya 20 tempat tinggal sakit. Pelibatan para dokter menjadi pemegang saham pada setiap kali ekspansi sebagai keliru satu kunci sukses. Hermina Group mengajarkan ke kita bahwa mengguritakan usaha nir mesti harus diawali berdasarkan kekuatan kapital finansial. Kemampuan menyediakan layanan dan produk terbaik yang ditopang kualitas dan kekompakan SDM juga sanggup sebagai elemen dahsyat yg mampu mengantarkan sukses bisnis & bahkan sanggup menarik modal tiba sendiri dan mengantri.
Tak percaya? Tengoklah apa yang terjadi pada perjalanan bisnis Group Rumah Sakit Hermina yang dikenal sebagai salah jaringan rumah sakit ibu dan anak paling sukses saat ini. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Hermina Group kini memiliki 20 cabang di Indonesia dan dalam tahun-tahun mendatang jumlah cabangnya terus akan bertambah karena saat inisederet rumah sakit sudah dalam persetujuan untuk segera dibangun di sejumlah kota di Indonesia. Jumlah tempat tidur untuk preawatan tak kurang dari 1500 bed, didukung lebih dari 7000 karyawan.
Yang menarik tempat tinggal sakit ini bukanlah milik sebuah konglomerasi besar . RS Hermina tidak sinkron dengan RS Mitra Keluarga yang dibesarkan Kalbe Farma Group atau RS Siloam (Lippo Group), RS Omni (Ongko Group) & RS Pantai Indah Kapuk (Salim Group). Hermina Hospital Group bermula dari skala mini , bermodalkan semangat dan visi para pendirinya, & lalu tumbuh ekspansi dengan melibatkan para dokter pada setiap membuka cabang baru.
Kisah usaha Hermina Hospital Group sudah dimulai tahun 1967 ketika Almarhum Ny Hermina bersepakat dengan seseorang dokter buat mendirikan rumah bersalin di Jatinegara, Jakarta Timur. "Rumah Sakit Hermina ini dimulai menurut sebuah rumah mini milik Bu Hermina," ungkap dr Hasmoro, Presiden Direktur Hermina Hospital Group.
Awalnya masih berupa rumah bersalin, belum tempat tinggal sakit bersalin. Ny Hermina sendiri bukanlah seorang dokter, tetapi beliau berhubungan dengan seseorang dokter yg rumahnya ada diseberang rumah bersalin itu. Sedangkan Ny Hermina sendiri tinggal di belakang tempat tinggal bersalin tersebut. Rumah bersalin itu dilengkapi menggunakan 7 tempat tidur supaya memudahkan si dokter untuk melakukan perawatan khususnya apabila terdapat yang perlu rawat inap.
Rupanya tempat tinggal bersalin ini mendapatkan sambutan positif berdasarkan para pasien sekitar sehingga berkembang menurut tahun ke tahun. Jjumlah kamar & perlengkapan medis pun ditambah, termasuk jua punya beberapa kamar opeasi. Tak heran, namanya kemudian diubah & ditingkatkan menjadi Rumah Sakit Bersalin Hermina.
Tetapi apa daya, kejadian tidak terpola menimpa. Dalam perjalanan mengembangkan tempat tinggal sakit si dokter kawan Ny Hermina wafat. Praktis di rumah sakit bersalin itu sebagai tidak ada dokternya. "Bu Hermina gundah karena beliau sendiri bukan dokter. Dari situlah Bu Hermina terpikir buat mengajak atau mengundang para dokter lain buat berpraktek & membeli saham di rumah sakit bersalin itu, sekaligus membeli rumah si dokter yang sudah wafat itu & jua rumah Bu Hermina," Hasmoro mengisahkan. Singkatnya, 2 rumah tersebut lalu dibeli & para dokter pun sebagai pemegang saham tempat tinggal sakit bersalin itu sampai saat ini.
Sejak itu bisnis RS Hermina tumbuh beserta para dokter. Hasmoro yang bergabung di Hermina sejak 1985 menceritakan, berdasarkan tahun ke tahun RSIA Hermina berusaha menambah gedung rumah sakit setahap demi setahap. Tahap pertama, pada lokasi yang sama, dibangun gedung rumah sakit 4 lantai yang lebih megah, terselesaikan tahun 1991. Kebetulan Hasmoro sendiri yang ditugaskan memimpin kontruksi gedung itu dan sejak 1991 jua Hasmoro yang ditugaskan memimpin class RS Hermina.
Setelah 4 tahun menyempurnakan sistem dan terbukti tempat tinggal sakit berjalan baik dan sebagai pilihan pasien, baru tahun 1995 para pemegang saham terpikir buat mendirikan tempat tinggal sakit homogen di tempat lain alias buka cabang. Sekitar 10 dokter pada Hermina lalu mengumpulkan uang buat kapital membuka rumah sakit kedua.
Dus, dalam akhir tahun 1996 itu RS Hermina punya tiga tempat tinggal sakit. Meski sudah punya tiga cabang, pemengang saham terus aktif mencari lokasi buat cabang baru. "Kita terus aktif cari lokasi buat rumah sakit baru, tetapi sejak cabang ke-7 pada Bandung, kita yg justru diundang para dokter untuk mendirikan tempat tinggal sakit di banyak sekali kota. Kita yang dicari atau diundang, bukan kita lagi yg aktif mencari," papar Hasmoro.
Pemegang saham di jaringan RS Hermina dibagi tiga gerombolan . Yakni para dokter setempat yang berpraktek (pengundang Hermina), dokter senior Hermina yg nir berpraktek (non provider), dan kalangan investor non dokter. Hermina Holding sendiri dimiliki 13-an orang, lebih banyak didominasi para dokter, kecuali putra almarhum Ny Hermina yang juga bukan dokter & aktif pada manajemen.
Dalam hal ekspansi, semula perluasan akan diawali berdasarkan Bekasi sehingga tahun 1995 mereka mencari tanah buat rumah sakit di Bekasi, tetapi peluang justru timbul pertama di Sunter Podomoro karena disana ada tempat tinggal sakit kecil yang dimiliki sekumpulan dokter dan meminta manajemen Hermina buat merogoh alih pengelolaan. Tahun 1996 RS di Sunter Podomoro itu diambil-alih Hermina dan segera dikembangkan. Tahun yg sama, manajemen RS Hermina pula sudah mendapatkan tanah di Bekasi buat pendirian rumah sakit baru.
Secara generik, ada dua cara ekspansi Hermina dalam membuka cabang. Pertama, mendirikan tempat tinggal sakit yg sahih-benar baru dan didesain sendiri berdasarkan nol seperti di kota Bekasi dan Depok. Tetapi, tidak sedikit jua cabang yang dimiliki dengan cara ke 2, yakni akusisi atau pengambilalihan berdasarkan rumah sakit lain lama yang pengelolaannya bermasalah atau kurang sehat. Hal itu contohnya terjadi saat Hermina membuka cabang di Sunter Podomoro, Serpong, Ciputat, Lampung, dan beberapa cabang lain.
Yang niscaya, sebut Hasmoro, di seluruh cabang RS Hermina, semuanya melihatkan para dokter sebagai pemegang saham. Termasuk pula pada tempat tinggal sakit yg awal-awal didirikan seperti di Jatinegara, Sunter, Bekasi, dan Depok. "Kita ini bukan tempat tinggal sakit milik konglomerat. Kita hanya modal dengkul & manajemen yang baik saja. Pemiliknya ya para dokter," celoteh Hasmoro yg pensiunan dokter kepresiden RI tersebut. Di seluruh rumah sakit yang baru-baru didirikan pun juga melibatkan para dokter sebagai pemegang saham.
Biasanya untuk rumah sakit baru seperti di Jogja, Solo, Palembang, Malang, Semarang dan Menado. pihak Hermina diundang oleh sekumpulan dokter di kota itu yang telah bersepakat untuk mendirikan rumah sakit ibu dan anak. Mereka bersepakat untuk menyetor modal dan mengudang Hermina sebagai pengelola.
Bila mereka setuju menunjuk tim Hermina menjadi pengelola tempat tinggal sakit, umumnya manajemen Hermina akan meminta saham kosong 15% (rinciannya: 10 % buat manajemen Hermina & lima% dikembalikan ke karyawan pada rumah sakit itu). Dengan kata lain pemili saham RS Hermina merupakan 15% menurut tim Hermina di Jakarta dan sisanya (idealnya) milik para dokter setempat yg mengudang Hermina.
Dalam prakteknya selama ini, jumlah dokter pemegang saham di masing-masing tempat tinggal sakit berbeda-beda, kisarannya berdasarkan 20-40 dokter. "Prinsip dasarnya, dokter yg diajak bergabung menjadi pemilik saham hanya dokter yang punya loyalitas & mau berpraktek. Semua dokter yang punya saham disini wajib berpraktek menjadi dokter. Kalau nggak praktek, sahamnya dikembalikan," sebut Hasmoro. Hasmoro menyebutkan, tidak ada batasan berapa jumlah dokter yg boleh punya saham di sebuah tempat tinggal sakit. Phaknya berkeyakinan, semakin poly dokter yang punya saham akan semakin baik dan pihaknya mendorong agar semakin poly dokter yang berpraktek.
Yang awalnya dibatasi justru prosentase kepemilikan saham masing-masing dokter. "Dokter inti umumnya diberi kesempatan punya saham 1%, sedangkan dokter non inti 0,5%," ucapnya. Alokasi kepemilikan saham para dokter setempat (lokal) bisa hingga 85% (100% dikurangi 15% saham kosong untuk Hermina). Hanya saja, pada prakteknya, para dokter setempat hanya mampu mengambil 40-50% berdasarkan ekuitas yang tersedia karena duit para dokter terbatas. Maklum, buat memiliki saham itu para dokter wajib membeli atau sahih-sahih menyetor modal. Sementara harga 1% saham mampu hingga Rp 1-2 miliar, tergantung besarnya permodalan masing-masing rumah sakit.
Dalam kasus bahwa dokter setempat hanya mampu menyerap (membeli) 50% saham berdasarkan peluang 85% saham yg ditawarkan, maka oleh Hermina, 35% saham sisanya akan ditawarkan ke para dokter senior di lingkungan Hermina yg sudah usang atau pernah berjasa -- & loyal -- yg belum punya saham atau jumlah sahamnya masih kecil. Mereka diberi kesempatan buat membeli saham pada tempat tinggal sakit baru tersebut.
Status mereka diklaim menjadi pemegang saham non provider lantaran tidak berpraktek di tempat tinggal sakit dimana beliau punya saham -- walaupun beliau mungkin berpraktek di Hermina Jakarta contohnya. Harga saham dokter yang nir berpraktek umumnya 5% lebih mahal menurut saham dokter yang berpraktek.
Lalu, "kalau para dokter senior pada lingkungan di Hermina masih belum mampu menyerap semua saham sisanya yang berrarti modal pendirian tempat tinggal sakit masih kurang, barulah kita undang investor non dokter. Dalam satu-2 tahun terakhir kita mulai membolehkan investor non dokter lantaran biaya investasi pendirian tempat tinggal sakit makin mahal. Permodalan tidak mampu dipikul sendiri sang para dokter," sambung Hasmoro berterus terperinci.
Harga saham buat investor non dokter pula lebih mahal. Misalnya harga per saham buat para dokter Rp 5000 maka saham buat orang non dokter dihargai Rp 6000. "Sekarang investor akbar banyak yg menyatakan berminat invest pada aneka macam rumah sakit yg kita bangun, tetapi kita permanen masih mengutamakan kapital menurut para dokter," ungkap Hasmoro.
Belakangan ini pelibatan investor non dokter dilakukan karena porto investasi per tempat tinggal semakin mahal seiring harga peralatan canggih tempat tinggal sakit dan harga tanah yang terus melambung. Apalagi lokasi tanah buat tempat tinggal sakit dituntut mesti strategis. Yang kentara, investor non dokter ini sanggup direferensikan sang para dokter lokal yg menjadi pendiri dan pemegang saham tempat tinggal sakit di setiap kota, tetapi mampu pula menurut Hermina sentra yg mencari. Yang penting, siapapun investor non dokter yang dilbatkan, harus disetujui seluruh pihak.
Yang menarik model kerjasama Hermina menjadi operator & pengelola rumah sakit berbeda dengan pola pada manajemen hotel. Dalam manajemen hotel umumnya terdapat durasi kontrak kerjasama semisal 10 tahun, 15 tahun, atau 25 tahun. Sedangkan kerjasama investasi Hermina menggunakan para dokter bersifat selamanya. "Karena ini kepemilikan saham maka mampu selamanya. Saham- saham para dokter juga bisa diwariskan ke anaknya dan sanggup juga dijual. Sejauh ini sporadis yang dijual, kecuali dokter itu sedang ada perkara ekonomi," katanya. Walaupun setiap rumah sakit bisa perluasan menambah gedung, tetapi tidak boleh membarui komposisi pemegang sahamnya. "Pada prinsipnya disini tak boleh ada pengenceran saham," istilah Hasmoro.
Diakui Hasmoro, naiknya biaya investasi per tempat tinggal sakit sudah mengubah sejumlah kebijakan investasinya pada beberapa tahun terakhir. Dulu diawal-awal usaha, contohnya, kepemilikan saham per dokter dibatasi tidak boleh berdasarkan dua%, tetapi sekarang, dalam kasus eksklusif diperbolehkan, agar kebutuhan modal tercukupi. Di awal-awal bisnis jua tidak perlu investor non dokter karena seluruh kebutuhan kapital mampu dicukupi investor dokter setempat & dokter senior Hermina. Kini investasi pula menuntut ROI yg lebih usang. "Awal-awal kita 3 tahun sanggup kembali kapital. Tetapi kini sanggup 6-7 tahun," kentara Hasmoro.
Untuk menyiasati syarat itu, hampir semua rumah sakit di Hermina Group didesain dengan model rumah sakit tumbuh agar porto investasi pada awal nir terlalu mahal -- sehingga para dokter bisa memikul permodalannya. Misalnya akan dibangun gedung tempat tinggal sakit 8 lantai, maka tahap pertama dibentuk 4 lantai dulu, namun struktur bangunan sejak awal telah dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan dibangun 8 lantai. Demikian jua, didesain buat dikembangkan gedung pada kanan-kiri gedung yang telah beroperasi. Pihak Hermina tak ingin membentuk tempat tinggal sakit eksklusif besar seperti dilakukan para konglomerat karena takut harus poly berhutang ke bank. "Debt to equity ratio kita jaga supaya tidak lebih dari 30%, nggak mau banyak hutang ke bank," ujar Hasmoro seraya menyebut termin pertama kebutuhan investasi tempat tinggal sakit umumnya sekitar Rp 70 miliar.
Yang pasti kerjasama antara Hermina menggunakan gugusan dokter pemegang saham yang mengudang Hermina buat menjadi pengelola tempat tinggal sakitnya itu bukan kerjasama tidak bersyarat. Banyak hak & kewajiban yg wajib ditaati kedua pihak. Manajemen Hermina sendiri sebagai pihak yang dipercaya dan diundang buat mengelola, akan memutuskan aneka macam aturan/panduan yg harus ditaati para pemegang saham (dokter pendiri) supaya rumah sakit yang didirikan itu berjalan sukses.
Dari pihak Hermina, kentara, akan membawa komptensi dan sumberdayanya ke tempat tinggal sakit yang dikelola itu -- baik tempat tinggal sakit yang benar-benar baru atau tempat tinggal sakit lama yg diambil alih. Dimulai menurut brand & logo Hermina, sistem, budaya, SDM & hingga manajemen. Intinya tim Hermina akan men-copy paste taktik suksesnya ke rumah sakit yg baru dikelolanya. "Manajemn keuangan, personalia, keperawatan, manajemen medis, manahjemen logistik, & sistem IT, semua sistem kita bawa kesana. Untuk itulah mereka bayar menggunakan saham kosong ke kita," kata Hasmoro. Desain rumah sakit, baku ketersediaan dokter spesialis, dokter, dan perawat, dan standar-standar lain dibuat mengikuti pakem RS Hermina.
Bahkan SDM & energi pakar buat mengoperasikan tempat tinggal sakit juga dibawa dari Hermina Group. Biasanya buat tempat tinggal sakit yang baru dikelola Hermina pada Jabotabek, ditarget 30% karyawan diisi sang orang-orang usang dari Hermina. Orang kuncinya misalnya direktur dengan tiga manajer (manajer medis, manajer keperawatan dan manajer rumah tangga) niscaya diambil menurut Hermina Group. "Orang-orang kita dipindahkan kesana, sehingga mereka telah memahami sistem & budaya kerja Hermina," sebut Hasmoro. Dalam perkara tempat tinggal sakit usang yg diambil alih pun jua demikian. Sekitar 30% diisi sang SDM yg dibawa dari Hermina dan sisanya menurut karyawan lama tempat tinggal sakit itu yg diseleksi. "Karyawan lama otomatis boleh mendafatar, tetapi pada tiga bulan - 1 tahun kondite mereka akan dievauasi. Bisa gugur kalau kualitasnya tak sesuai baku yang dibutuhkan," tegas Hasmoro.
Hasmoro menceritakan, menurut pengalamannya merogoh-alih sejumlah tempat tinggal sakit bermasalah, banyak tempat tinggal sakit yg tidak bisa maju karena manajemennya tidak transparan sehingga para dokter menjadi nir percaya dan ujung-ujungnya ribut antara tim pengelola menggunakan para dokter. Di RS Hermina hal ini diatasi dengan implementasi budaya kerja transparan sebagai akibatnya para dokter menjadi pemegang saham tahu persis syarat dan perkembangan kinerja rumah sakitnya.
Diantara klausul pentingya, para dokter pemegang saham itu tidak boleh duduk pada manajemen dan nir boleh ikut campur tangan soal manajemen. Tugas para dokter hanya berpraktek sebagai dokter dan menjadi pemegang saham. Manajemen operasional rumah sakit telah ditangani tim tersendiri. "Bukankah kita dihargai mahal buat mengelola rumah sakit itu," sambung Hasmoro retoris.
Dengan cara kepemilikan ini maka pelanggan fanatik si dokter (bersama keluarga & relasinya) akan berobat kepadanya.
Cerita Hasmoro dikuatkan oleh dr Muhammad Nurussalam, Manajer Pengembangan Korporat Hermina Hospital Group. Nurussalam (Alam) menyebutkan, guna menjalankan usaha pengelolaan rumah sakit ini pada tempat kerja sentra pihaknya pemilik tim yg sudah sangat lengkap. "Satu gedung yang disamping ini khusus buat mengelola bisnis hospital management, bukan buat praktek dokter. Timnya sangat lengkap, menurut marketing, keuangan, kerumahtanggan, hingga medis sehingga bisa menopang 20-cabang rumah sakit di seluruh Indonesia," sebut Alam.
Diantara yg dibawa tim Hermina merupakan cara kerja dan budaya Hermina. Misalnya cara pelayanan pasien, kegigihan dalam mengelola usaha, sampai transparansi dalam pengelolaan rumah sakit. "Manajemennya wajib rupawan dan terbuka. Contoh terbuka, laporan keuangannya mesti transparan, semua orang bisa lihat. Nggak boleh ada dusta ," sebut Hasmoro.
Pihak Hermina pula membuat kebijakan-kebijakan yg harus ditaati oleh para dokter pemegang saham (pendiri rumah sakit). "Kita diundang buat mengelola tempat tinggal sakit, maka mereka wajib mau ikut sistem dan budaya Hermina. Kita nggak sanggup kita ikut budaya Solo, Palembang atau Menado karena itu adalah deferensiasi Hermina," tegas Hasmoro.
Para dokter diperberbolehkan & diberi kesempatan buat usul soal operasional manajemen tempat tinggal sakit, tetapi sifatnya hanya usul. Dus, nir memilih. "Ada forum tahunan kedap umum pemegang saham buat memilih strategi tempat tinggal sakit, silahkan mereka usul di forum itu. Namun untuk operasional manajemen harian, nir boleh campur tangan lantaran Hermina telah punya sistem sendiri. Kalau ikut campur mampu rancu karena pemilik saham mampu sampai 40 dokter, kasihan direktur rumah sakitnya dikeroyok para dokter," tunjuk Hasmoro.
Diakui Hasmoro, mengelola para dokter bukan pekerjaan gampang karena umumnya mereka merupakan orang pinter yg sulit diatur. Dalam hal ini sebagai tugas masing-masing direktur rumah sakit buat menegakkan sistem dan mengendalikan para dokter. "Saya dulu jua diwanti-wanti para senior bahwa para dokter itu sulit diatur karena kalaupun tidak berpraktek di rumah sakit ini mereka mampu mandiri," istilah Hasmoro.
Biasanya untuk menangani dokter pemegang saham yang sulit diatur, pihaknya akan meminta kepala tim dokter (fasiltator) setempat yg mengundang Hermina menjadi operator rumah sakit buat menertibkan dokter tersebut. Fasilitator itu harus menyeleksi para dokterlokal yang akan diajak bergabung menjadi pemegang saham. "Posisi kita kan diundang. Kalau mereka undang kita, mereka harus patuh menggunakan sistem kita," sebut Hasmoro.
Selain itu, istilah Hasmoro, merupakan hal wajar jika menurut 30 dokter masih ada 1-tiga dokter yg sulit diatur. "Para leader pada Hermina memang dididik buat menaklukkan singa-singa (dokter). Biasanya jika singa itu sudah sanggup kita taklukkan, maka akan sangat loyal menggunakan Hermina. Kenapa? Karena beliau singa, nggak mampu kerja ke tempat lain. Rumah sakit lain akan takut bekerjasama menggunakan singa," Hasmoro menjelaskan prinsipnya seraya tersenyum. Para leader di Hermina bahkan tidak hanya harus mengendalikan para dokter dan dokter spesialis, namun pula para profesor kedokteran. "Di Hermina ini banyak para profesor kedokteran. Bayangkan, per rumah sakit ada 50-60 dokter, total sudah 1000-an dokter & lima%-nya merupakan profesor," tunjuk Hasmoro.
Toh demikian, sambung Hasmoro, kalangan dokter yg mengudang Hermina menjadi pemegang saham umumnya sudah tahu budaya dan cara kerja Hermina menurut banyak sekali komunitas dokter anak. Mereka biasa bertemu pada banyak sekali simposium maupun seminar. Walhasil, ketika tim manajemen Hermina menyebutkan konsep & pola kerjasama Hermina dengan para calon dokter investor umumnya berjalan lancar karena sudah tahu Hermina berdasarkan sumber di luar Hermina. Tak heran, biasanya rumah sakit baru yg dikelola Hermina sanggup cepat melakukan take off kinerja.
Dengan kemampuan menggandeng dan bersinergi menggunakan para dokter itulah RS Hermina Group mampu maju dan berkembang. Terlebih aspirasi para dokter sebagai profesi pada Hermina jua selalu dihargai. Tiap 3 bulan sekali 1000 dokter berkumpul di RS Hermina sentra buat membahas dan menetapkan hal-hal medis dalam forum komite medis. Mereka bisa mengasah kompetensinya pada forum-forum itu. Ini belum lembaga pada tiap tempat tinggal sakit di masing-masing kota.
Kini jumlah dokter pada Hermina Group tak kurang menurut 1000 orang dengan per tempat tinggal sakit 50-60 dokter. Jumlah tempat tidur yang dikelola telah mencapai 1500 loka tidur di 20 rumah cabang rumah sakit, dengan jumlah karyawan total 7000-an orang. Tahun 2020 ditarget sudah punya 40 rumah sakit dengan jumlah karyawan menjadi 20 ribu orang.
Lilik Agung, pemerhati manajemen yg pula managing consultant pada Highleap Consulting melihat sukses RSIA Hermina Group yang tumbuh dengan kepemilikan saham sang para dojter sebagai hal fenomenal. "Sistem kepemilikan RSIA Hermina merupakan terobosan baru yg cerdas buat usaha rumah sakit yg semakin ketat di Indonesia," kata Lilik. Ia melihat cara itu sangat jitu lantaran dokter memiliki kekuatan: punya pelanggan fanatik.
"Mengelola dokter jua bukan pekerjaan gampang, apalagi aturan pada Indonesia yg masih longgar dimana satu dokter sanggup menangani poly pasien dan sanggup berpraktik dalam banyak tempat. Dengan kepemilikan ini sang dokter akan fokus & full melayani satu tempat tinggal sakit," kata Lilik. Selain itu jua akan memunculkan persaingan kolaboratif diantara para dokter ibu-anak yg bekerja buat RSIA Hermina. ?Sepertinya mereka bersaing, namun sejatinya mereka berkolaborasi dan menularkan keahlian,? Kata Lilik.
Lilik melihat kekuatan Hermina Group pada standarisasi sistem & mekanisme yg telah teruji menggunakan baik. Brand name Hermina jua sudah menancap bertenaga sebagai akibatnya membuat para pelanggan (pasien) percaya terhadap pelayanannya. "Selain itu dengan jumlah cabang yg sudah poly, memungkinkan kolaborasi antar cabang, termasuk pada pasokan SDM (baik dokter juga administrasi/manajerial). Artinya apabila ada cabang yang belum cantik mampu didrop SDM yg mempunyai reputasi buat membenahi tempat tinggal sakit itu," kata Lilik.
Kedepan, supaya terus sanggup menjaga posisinya, Lilik menyarankan agar Hermina Group permanen menjaga positining pelayahannya & menjaga pricingnya agar permanen terjangkau. Selain itu pula terus mengasah kompetensi manajerialnya supaya mampu mengikuti kaidah-kaidah manajemen kontemporer. "Yang paling penting tentu menjaga soliditas para dokter menjadi pemegang saham karena ego mereka tinggi dan umumnya sulit diatur," saran Lilik.
Sudarmadi
email: wingdarmadi@gmail.Com
HP: 081 384 160988
Silahkan klik link dibawah ini buat liputan tentang investasi
Cara kerja dan seluk-beluk investor private equity
Sejumlah investor asing cari kongsi bisnis pada Indonesia
Checking your browser before accessingPlease enable Cookies and reload the page. This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly. Please allow up to 5 seconds… |