Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Perusahaan-perusahaan piranti lunak dalam negeri tak perlu lminder bersaing dengan software house multinasional sekelas SAP, Oracle, Peoplesoft, JD Edward dan sejenisnya. Perusahaan lokal pun bisa  membuktikan bahwa produk mereka tak kalah hebat.  Contohnya DataOn yang mampu menunjukkan bahwa  softwarehouse lokal bisa lebih mumpuni.  DataOn  (PT Indodev Niaga Internet) selama ini lebih banyak bermain untuk software pengelolaan informasi SDM yang diberi nama SunFish Human Resources – namun juga mengeluarkan produk ERP (Enterprise Resources Planning). Tak salah kalau SunFish HR terbilang software yang sukses berkembang. Hal ini tak sulit dideteksi dari sederet portofolio kliennya yang terdiri dari perusahaan-perusahaan ternama.

Mulai berdasarkan Banpu Group, BCA Finance, Komatsu Indonesia, Asuransi Astra Buana, JW Marrot Jakarta, Hotel Mulia, Samudera Indonesia, Group Indika, Bali Hyatt, Schott Igar Glass, Semen Padang, Ritz Carlton Jakarta, UOB Buana, Mandom Corporation, Anugerah Group (Anugerah Pharmindo Lestari dll), RCTI, Global TV, Apexindo, Placific Place, Four Season Hotel, & sederet nama lain. Malahan kliennya sudah mencapai kawasan Timur Tengah. Bulan November 2008 kemudian, Sunfish HR terpilih menjadi software buat Hyatt Group Uni Emirat Arab. Software tadi yang akan diimplementasikan buat 5 hotel mereka yaitu Grand Park Hyatt Dubai, Grand Hyatt Dubai, Grand Hyatt Residence, Hyatt Regency Dubai, dan Galleria Dubai.

Tak bisa disepelekan, memang. Hanya saja, penetrasi di usaha yg marketnya sudah dikuasai pemain-pemain global sebagaimana di bisnis TI itu memang bukan pekerjaan gampang dan niscaya diwarnai banyak tantangan. Mulai dari tantangan bagaimana membangun image supaya dianggap klien perusahaan-perusahaan Indonesia yg umumnya masih multinational minded, sampai bagaimana menjalankan proses product development yang baik supaya mampu menghasilkan software yang sahih-sahih handal & memuaskan klien. DataOn pun tidak luput berdasarkan tantangan-tantangan seperti itu.

DataOn sendiri mulai dirintis tahun 1999. Pendirinya sebenarnya orang Korea yang berkewarganegaraan Indonesia, Kim Yook Chan. Hanya saja Kim nir banyak terlibat di pengelolaan operasional lantaran yg aktif mengelola adalah Gordon Enns (presdir) dan Jimmy Widjojoarto (GM Operasional). Gordon Enns sendiri merupakan profesional masyarakat negara Kanada yang memang punya pengalaman pada industri TI, yaitu pada Sanchez Solution. Terakhir, lulusan University of Victoria Kanada itu menduduki posisi ketua daerah Asia Pacific Sanchez Solutions. Sementara Jimmy yg tamatan University of Southern California (USA), sebelumnya berkerja pada keliru satu gerombolan perusahaan di bidang garmen.

Tahun-tahun awal berdirinya DataOn penuh keprihatinan.  Bak orang yang sedang berpuasa. "Selama tiga tahun pertama DataOn tidak menjual software. Kami hanya terus mencoba bikin software sehingga tidak ada revenue. No money," Gordon Enns mengkilas balik. Praktis, tiga tahun itu merupakan tahun investasi yang penuh teka-teki. Jangankan produknya laku atau tidak, produk akhirnya akan seperti apa saja belum ketahuan. Penuh pertaruhan. Hanya pemilik modal dan pengelola dengan keyakinan sukses kuat yang memungkinkan proyek bisnis tersebut terus dilanjutkan.

Manajemen DataOn sangat tertantang untuk membuktikan bahwa software yang dikembangkan programer lokal pun bisa bersaing dengan software asing. "Prinsip kita, jangan sampai ketika membuat software hanya seperti jualan  kemasan box namun harus benar-benar mampu menawarkan jalan keluar," terang Gordon. Sejak awal DataOn memang fokus untuk mengembangkan software pengelolaan SDM di perusahaaan karena meski saat itu sudah cukup banyak perusahaan pembuat software namun belum ada yang fokus di SDM. Software ini nampaknya dirancang cukup matang dan manajemen DataOn tak ingin tanggung-tanggung.

Setelah melalui proses product development yang panjang, aplikasi HR tadi kemudian diluncurkan ke pasar & diberi nama SunFish HR. Program itu pula yg kini sebagai unggulan DataOn di usaha TI. Dengan SunFish, kata Gordon, mampu mengatur secara online sistem administrasi masing-masing karyawan termasuk saat kedatangan dan pulang karyawan, manajemen penggajian, jenjang karir, pelatihan, dan manajemen berbasis kompetensi. Malahan mampu jua mampu buat menghitung Return on Investment (ROI)

SunFish memperlihatkan acara yg fleksibel & lebih customized. Hal ini diantaranya tergambar dari fitur yg tersedia dalam multi bahasa (Inggris, China, Indonesia dan Jerman) -- dibuat menggunakan pemrograman personal komputer berbasis Java. Lalu, penghitungan sistem honor karyawan jua sanggup memakai beberapa mata uang misalnya rupiah, dollar Amerika, dolar Singapura, & lainnya. Hal ini krusial mengingat DataOn berdasarkan awal memang diproyeksikan sebagai perusahaan software dunia.

Dengan kepercayaan diri bahwa produk yang dibentuk memang qualified, tim DataOn pelan-pelan mencoba untuk memasarkan poduknya. "Klien pertama kami adalah Indika Group," ujar Jimmy Widjojoarto, GM DataOn. Indika Group sendiri punya berbagai usaha, berdasarkan mulai media radio hingga energi. Ketika itu Indika memerlukan sistem yg sanggup mengatur manajemen saat karyawan. "Dengan memakai SunFish, Indika terbantu menentukan ketika kedatangan dan kepulangan karyawan. Software ini sangat membantu merek pada menjalankan usaha penyiaran," istilah Jimmy.

Setelah itu, Indosat Mega Media (IM2) juga berhasil dirangkul sebagai klien. "Mereka mencari vendor lokal yg fleksibel & mampu merubah sistem HR mereka," ulas Jimmy pulang. Seterusnya jua PT Samudera Indonesia Tbk yg memiliki karyawan tiga.000 orang. "Mereka perlu mengintegrasikan lebih menurut 100 unit bisnis menggunakan manajemen SDM yg bhineka, hingga menjadi satu walam wadah yang sama menggunakan sistem manajemen SDM yg sama," kenang Jimmy.

Mudah, setelah beberapa perusahaan akbar sekelas Samudera Indonesia, IM2 & Indioka Group percaya, semakin poly juga klien-klien baru berhasil didapat. "Sekarang jumlah klien kami lebih berdasarkan 100 perusahaan," ujar Gordon Enns. Tak sedikit dari klien DataOn yang merupakan perusahaan asing (PMA) & terbuka (Tbk). "Beberapa PMA terdapat yg memakai software berdasarkan vendor asing namun sekaligus vendor lokal misalnya kami,"kata Gordon.

Gordon tidak menampik liputan di kalangan perusahaan lokal mulai terjadi apresiasi positif terhadap perangkat lunak lokal. Tahun 1990-an, kebanyakan perusahaan lokal belum menyadari betapa pentingnya manajemen SDM. Investasi pembelian software belum dipercaya penting. "Tetapi lambat laun kesadaran mereka bertumbuh. Awal tahun 2000 mulai banyak perusahaan terutama industri perbankan, keuangan, perhotelan dan TI yg mulai melirik dan menduga investasi aplikasi SDM sangat penting," jelas Gordon.

Selama ini umumnya perusahaan Indonesia yg membeli aplikasi asing sebagai in-house software hanya menggunakan bagian eksklusif saja. "Lantaran sangat mahal sehingga beli sebagian saja misalnya mengenai sistem penggajian. Selebihnya menggunakan aplikasi SDM yang dikembangkan perusahaan lokal seperti Indodev," jelas Gordon. Dalam dugaan Gordon, DataOn kini merogoh 20% market share software SDM. "Tapi aku juga nir tahu persisnya karena memang belum terdapat penelitian dibanding pemain lain," akunya. Namun beliau berani meyakinkan bahwa market share-nya siggnfikan. "Lantaran kami bisa memperlihatkan diferensiasi," klaim Gordon.

Kemampuan mengkostumisasi (customizing), nampak aspek itulah keunggulan yang diusung DataOn. Software vendor lain, klaim Jimmy, lebih banyak membuat klien harus menyesuaikan pada aturan impelentasi software itu. "Ini berbeda dengan SunFish, karena  memungkinkan programnya yang mengikuti proses bisnis di klien," tegas Jimmy yang kelahiran Jakarta 22 Oktober 1963.

SunFish juga mungkin disesuaikan dengan peraturan tenaga kerja di masing-masing negara. Misalnya saja di Indonesia, software harus menyesuikan peraturan tenaga kerja menyangkut pembayaran upah serta pembayaran pensiun. Jika perubahan kebijakan Departemen Tenaga Kerja, Jamsostek dan Direktorat Jenderal Pajak berubah, software pun ikut menyesuaikan. "Sofware HR di Indonesia cukup berbeda dengan software HR di negara lain seperti Jerman dan Amerika Serikat. Disini pembuatan software dipengaruhi kebijakan peraturan Depnakertrans dan Jamsostek," tambah Jimmy.  Tak heran, ketika belum lama ini pemerintah memberlakukan sistem pajak baru Sunset Policy, maka sistem di Sunfish juga langsung disesuaikan.

SunFish mencakup integrasi strategi manajemen SDM. Tidak hanya sistem adminstrasi dasar yang menjadi kelebihan SunFish, klien bisa menggunakan software ini untuk perencanaan karir karyawan, pelatihan dan manajemen berbasis kompetensi,  memantau target penghasilan karyawan dan kemampuan perusahaan, memudahkan perhitungan Balance Scorecard, dll. Maklum, fitur yang ada di Sunfish meliputi personnel administration, organization management, compenzation management, time and attendance, reimbursement management, notification and alert, appraisal management, career and succession planning, training management, recruitment and selection, dan competency management.

Contoh kasus menarik di perusahaan pengelasan yang dipasang SunFish. Bonus prestasi di perusahaan pengelasan itu didasarkan atas berapa banyak hasil las masing-masing karyawan per harinya. "Karena itu software dibuat terkoneksi pada mesin pengelasan. Secara otomatis, mesin tersebut akan menghitung berapa banyak hasil las per hari masing-masing karyawan. Itu menjadi pedoman  bonus prestasi dalam sebulan," jelas Gordon lebih lanjut.

Barangkali menarik menyimak PT Komatsu Indonesia yang sejak Januari 2006 jua merupakan pelanggan SunFish menurut DataOn. Agustinus Setiawan, Manajer Personalia PT. Komatsu Indonesia (KI), menjelaskan pihaknya punya beberapa alasan memilih SunFish. Antara lain karena harga lebih murah ketimbang sistem yang dikembangkan perusahaan asing. "Software luar negeri bisanya mematok harga berdasarkan berapa jumlah karyawan, seolah seluruh karyawan adalah user terhadap suatu program. Sedangkan SunFish memakai perhitungan atas seberapa poly user yang menggunakan sistem ini,? Jelasnya.

Harga SunFish untuk KI dengan jumlah karyawan 1.500 orang, berkisar ratusan juta rupiah. “Tetap ada perhitungannya. Namun harganya tidak terlalu mahal,”jelasnya. Selain itu sistemnya cukup lengkap. "Bukan berarti vendor semacam SAP tidak menawarkan program untuk pengelolaan SDM, namun ia tidak mempunyai program selengkap SunFish," katanya.  Selain itu servis purna jualnya juga baik.

Dari sisi pemasaran, semenjak awal berdiri DataOn tak pernah menunjukkan kenaikan pangkat dengan penjualan sofware secara gratis. "Namun untuk Indonesia, mulai bulan bulan Juli 2008 kami memberikan pengunduhan software perdeo buat sistem sederhana misalnya penggajian, pendaftaran Jamsostek serta penghitungan pajak," ulas Gordon. Software yg ditawarkan sangat bermanfat bagi perusahaan skala UKM. Mereka bisa eksklusif mengunduh dari website. Jika mereka menginginkan sistem dengan kemampuan lebih lanjut misalnya perencanaan kompetensi, prestasi manajemen, Balance Scorecard, akan dikenakan biaya . "Kami mengharapkan, selesainya memakai sistem dasar yg perdeo itu, mereka akan memakai servis kami yang lain," harap Gordon tentang kiat marketingnya.

Selama ini DataOn memilih harga per proyek yang majemuk bagi pelangganya, tergantung berapa poly user-nya. Mulai berdasarkan Rp 50 juta hingga miliaran rupiah. Gordon mencontohkan perusahaan dengan jumlah 100 karyawan yg mengunduh SunFish versi Enterprise alias komplit dikenakan charge sekitar Rp.100-200 juta. "Pelayanan itu telah holistik sistem termasuk training para operatornya," katanya.

DataOn sendiri pemasarannya lebih banyak menggunakan cara presentasi ke calon-calon klien. Umumnya klien mampu diperoleh sehabis tiga-6 bulan sehabis presentasi. Kurun ketika tersebut biasa dipakai calon klien buat mengenal lebih pada mengenai produk DataOn. Selain kecocokan pelayanan, yg tak jarang sebagai pertimbangan soal harga. "Pembeli sangat berhati-hati membeli software," pungkasnya. Jimmy juga mengakui banyak calon pelanggan yang hati-phati karena pernah mengalami kegagalan. Entah karena software usang tidak sanggup diimplementasikan sesuai kebutuhan klien, nir komplit atau layanan purna jualnya kurang baik. Atau malah soffweare sudah dibeli namun nir mampu running.

Tak bisa sanggup dipungkiri, terdapat poly pesaing pada bisnis software SDMi. Tetapi Gordon tidak khawatir akan tersalip. "Vendor lain hanya penekanan dalam sistem penggajian, sedangkan kami memperlihatkan solusi keseluruhan," klaim Gordon. Optimismesnya jua karena makin banyak perusahaan yang memikirkan bagaimana karyawan bisa lebih efektif pada bekerja. "Apalagi menggunakan adanya krisis finansial global, perangkat lunak SDM galat satu solusinya. Ketika penghitungan honor , pajak penghasilan, cuti, absensi telah ditangani sang SunFish, departemen SDM mampu lebih leluasa penekanan dalam pengembangan training karyawan dan manajemen karir karyawan," sahut Jimmy.

DataOn sendiri tidak ingin sekedar sebagai jago kandang. Dari tahun 2001 telah membuka cabang pada Jerman, melalui DataOn Detschland Gmbh pada Berlin. Selain itu pula mendirikan kantor cabang di Filipina, Thailand, Malaysia dan Vietnam.

Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia  mencatat  sekarang ini terjadi trend positif di bisnis software SDM lokal. Secara umum, pasar software untuk yang perusahaan-perusahaan besar (highend) memang masih dikuasai oleh pemain-pemain asing seperti Oracle, SAP dan Peoplesoft. Namun belakangan pasar para pemain lokal makin berjkembang. Apalagi di perusahaan menengah dan kecil, pemain lokal makin banyak.

Pada umumnya pemain-pemain lokal tak bermain dengan hanya jualan software, melainkan juga  jualan services sehingga nanti biasa dengan menghitung berapa jumlah karyawannya dan kemudian dikalikan dengan biaya tertentu untuk pelayanan. Pemain lokal biasanya lebih fleksibel. Memang sangat masuk akal bila pemain-pemain software lokal bidang SDM tumbuh karena memang seandainya klien memakai softeware asing pun pasti ada komponen-komponen yang harus dilokalisasi. Misalnya soal aturan-aturan perpajakan dan ketenegakerjaan. Jadi keunggulan mereka karena mengusung aspek lokal ini.

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: