Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Tak sedikit kalangan penggiat global olahraga sepakbola yang telah mengenal perusahaan ini, PT Sinjaraga Santika Sport (Sinjaraga). Maklum, perusahaan ini terbilang hanya segilintir perusahaan pada Indonesia yang eksis berbisnis bola sepak. Bisnis Sinjaraga memang memproduksi bola sepak yg pemasarannya kini telah tersebar luas, baik untuk pasar pada negeri juga ekspor. Pada tahun-tahun waktu Piala Dunia (World Cup) diselenggarakan, umumnya nama perusahaan ini ikut mencuat. Bukan saja lantaran produknya sebagian dipakai FIFA buat ajang resmi itu, namun pemesanan menurut buyer pada luar event Piala Dunia jua cenderung meningkat di tahun-tahun itu.

Didirikan oleh Irwan Suryanto tahun 1994, Sinjaraga memang terus berkembang berdasarkan tahun ke tahun. Saat ini kapasitas produksi bola perhari pada kisaran 3.000 bola atau sekitar 90.000 sampai 100.000 bola per bulan. Dari seluruh produknya, Sinjaraga saat ini hanya penekanan memproduksi jenis bola buat olahraga sepakbola, baik untuk sepakbola tanah/rumput juga bola futsal. Dengan istilah lain, tidak menghasilkan bola buat jenis olahraga lain misalnya voly maupun basket. "Bukan lantaran tidak sanggup atau nir punya teknologinya, namun lantaran marketnya yg mini sebagai akibatnya kami kurang tertarik," tutur Jefry Romdonny, Presiden Komisaris yg jua putra pendiri Sinjaraga.

Yang menarik, produksi bola pada Sinjaraga ternyata memakai konsep kemitraan. Ya, mulai menurut tahapan proses produksi bola, pekerjaan penjahitan nir dikerjakan sendiri oleh Sinjaraga, namun dikerjasamakan dengan para pengrajin binaan di desa-desa sekitar Majalengka melalui pola kemitraan. Jefry Romdonny menjelaskan, waktu ini jumlah penrgajin binaan itu tidak kurang dari 2000 orang.

Dijelaskan Jefry, sejak awal berdiri tahun 1994, Sinjaraga memang langsung menerapkan konsep kemitraan dalam menghasilkan bola. "Itu memang sinkron visi pendiri yg ingin menciptakan lapangan kerja bagi warga kurang lebih Majalengka. Jumlah mitra awalnya hanya sedikit, kemudian terus berkembang," sebut Jefry yg perusahaannya kini menjalin kemitraan menggunakan 2.000-an orang pengrajin.

Proses produksi bola pada Sinjaraga melalui serangkaian tahap pekerjaan yang apabila ditotal tak kurang dari 9 tahap. Mulai dari pemilihan dan penyiapan bahan standar, pelapisan bahan baku kulit sintetis (coating), pemotongan bahan baku (cutting), penjahitan, sortir, sampai finishing. Proses pemilihan & pelapisan bahan standar dilakukan di pabrik Sinjaraga oleh karyawan internal.

Pun proses pemotongan bahan baku utama yang berasal dari kulit sintetik, juga dilakukan sendiri oleh karyawan Sinjaraga dengan mengoperasikan sejumlah mesin pemotong (mesin cetak). Mesin pemotong itu mampu  mencetak potongan-potongan kulit bola dengan pola sesuai permintaan pelanggan. Maklum, tiap pembeli dari berbagai belahan dunia punya selera desain bola yang beragam. Ada yang maunya bola dengan pola jahitan segi lima, ada yang segi enam, dan sebagainya. Dalam hal ini presisinya memang mesti sangat tepat agar bola yang dihasilkan kelak benar-benar bisa bulat sempurna alias tidak benjol.

Potongan-potongan bahan bola berupa kulit sintentis itu kemudian dirangkai atau dijahit agar bisa menciptakan sebuah bola. Proses menjahit (merangkai) inilah yg oleh Sinjaraga dikerjasamakan atau dialihdayakan pada para pengrajin pada desa-desa terpencil pada seputar Majalengka. Saat ini 100% proses penjahitan bola Sinjaraga dikerjakan sang para mitra pengrajin, tidak terdapat yang dikerjakan sendiri. Para pengrajin itu kebanyakan kalangan ibu-ibu tempat tinggal tangga di pedesaan, meski pihak Sinjaraga nir pernah membatasi wajib mak -ibu. Yang dihentikan bermitra hanya anak yg masih dibawah umur.

Model hubungan antara Sinjaraga menggunakan para pengrajin itu hanya bersifat interaksi kemitraan sukarela. Tidak ada ikatan kontrak eksklusif. "Cara & ketika kerja mereka bebas. Kita sebagai pemberi pekerjaan nir bisa memaksa waktu deadline harus terselesaikan hari ini atau hari eksklusif. Mereka bebas mengerjakannya. Mau kerja pada siang hari atau malam hari terserah. Bahkan nanti bila mereka punya kesibukan lain misalnya menggarap sawah atau musim panen, pekerjaan menjahit bola ini sanggup saja ditingggalkan ad interim buat mengurusi sawah," tutur Jefry

Untuk sanggup menerima pengrajin itu Sinjaraga berhubungan menggunakan para pemborong yg bertindak sebagai kepala kelompok bagi para pengrajin. Mereka yang tugasnya 'mencari' orang buat menjadi mitra pengrajin binaan. Para pemborong ini terdapat yang awalnya merupakan anggota famili karyawan Sinjaraga, namun bisa jua orang luar yg sebelumnya tidak berbisnis menggunakan Sinjaraga. "Ada jua tokoh pemuda yg ingin coba cari pekerjaan untuk memberdayakan rakyat sekitarnya, lalu kita percaya buat mengkoordinir. Banyak cara," sebut Jefry.

Para pemborong mengambil bahan ke PT Sinjaraga berupa potongan-rabat kulit sintetis berpola yg sudah siap dirangkai, kemudian disebarkan ke para pengrajin. Setelah terselesaikan dirangkai para pengrajin pada lingkarannya, mereka kemudian menyetornya pulang ke pabrik Sinjaraga, sambil mengambil bahan baru buat dijahit lagi. Demikian bergulir seterusnya. "Para pemborong dibayar per output yang dikerjakan. Ia semacam ketua , bukan karyawan," jelas Jefry seraya menyebut jumlah koordinator misalnya itu lebih dari 20 orang menggunakan jumlah anggota yg sangat majemuk .

Kebanyakan pengrajin memang dipilih yang dari menurut desa-desa yg terpencil seputar pada Majalengka, menggunakan area yang tersebar. Sengaja dipilih dari desa terpencil agar eksistensi program ini benar-benar sanggup membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan tanpa wajib keluar dari desanya. "Mereka nggak mungkin kesini karena lokasinya yg jauh. Sampai kini pun kita masih membuka kesempatan buat menjadi pengrajin kawan," sebut Jefry.

Untuk menjadi pengrajin binaan, prosesnya sangat gampang. Mereka hanya perlu dilatih dan punya meja jahit (meja jepit) yg sederhana menjadi alat produksi. Alat itu dibeli sendiri oleh si calon pengrajin & sebagai milik mereka sendiri. "Alatnya sederhana dan nir mahal. Kita pernah buatkan dan berikan poly secara perdeo tapi poly yg tak terpakai. Akhirnya mereka kita minta mengadakan sendiri agar ada rasa mempunyai," katanya. Proses menjahit dilakukan secara manual (craftmanship).

Memang, dengan pelibatan para pengrajin yg jumlahnya 2000-an itu akhirnya memunculkan indikasi tanya soal 2 aspek. Pertama, bagaimana mengontrol kualitas produk. Kedua, soal ketepatan delivery produk pesanan supaya sinkron tenggat (deadline) yang sudah dijanjikan. Maklum cara kerja & waktu mereka bebas. Ada yang mengerjakan di malam hari, waktu libur atau di sela-sela saat. "Terserah mereka, tergantung load masing-masing," katanya. Terlebih lokasinya jua relatif jauh, 2 jam berdasarkan pabrik Sinjaraga sehingga mengontrol mereka pula bukan hal yg gampang.

Tetapi buat itu manajemen Sinjaraga telah punya cara tersendiri yang sudah terbukti efektif secara bertahun-tahun. Pertama, soal kualitas. Untuk menjaga kualitas produksi, Sinjaraga mengandalkan dua aspek, yakni melalui pembinaan terhadap para pengrajin binaaan dan menjalankan quality control (QC) secara ketat. Dari sisi pelatihan, Sinjaraga tidak henti-hentinya untuk memberikan pelatihan ke pengrajin. Dari awal sebagai pengrajin pun telah pribadi diberikan training bagaimana menjahit bola yang sinkron standard Sinjaraga.

Pada awalnya dulu pelatihan lebih banyak dilakukan di pabrik Sinjaraga, tetapi belakangan lebih poly pribadi di desa-desa dimana pengrajin tinggal. Jika setidaknya terdapat 50 orang di desa terpencil itu yang mampu menjadi anggota pelatihan, maka tim Sinjaraga akan senang hati datang memberi pelatihan. "Biasanya semuanya mereka sudah siap, kita tinggal datang dan memberi pembinaan saja," ungkap Jefry menggunakan logat Sunda yang kental.

Pengrajin yg telah pernah mendapatkan training, diperkenankan buat mengajarkan ke keluarga atau saudara di sekitarnya. Yang niscaya, pembinaan terhadap sebuah kelompok tak hanya dilakukan sekali di awal, namun setelah berjalan sekian ketika terkadang juga perlu datang lagi menaruh pelatihan. Maklum, terkadang, seiring bepergian saat, timbul anggota-angota baru yg pula perlu pelatihan, selain mengingatkan kemampuan anggota usang. "Kita memang selalu tanamkan bagaimana menjahit yang benar & cantik. Kita tanamkan menurut awal," papar Jefry.

Masih soal kualitas produk, Sinjaraga pula menjalankan program quality control yang ketat. Pada tiap tahapan proses produksi selalu ada check kontrol kualitas. "Selama output jahitan nir sinkron persyaratan yang diminta, tentu kita akan minta mereka buat memperbaiki. Tidak sembarang jahitan eksklusif kita terima dan eksklusif diproses melalui finishing. Quality Control kita lakukan secara berlapis," sebut Jefry.

Biasanya, jika terdapat gerombolan yg banyak produknya tak sinkron baku Sinjaraga, maka tim Sinjaraga akan datang eksklusif ke wilayah pengrajin itu buat mencari tahu & memberikan penjelasan eksklusif, sekaligus memberikan pelatihan. Tetapi apabila hanya ada satu-2 yang kurang sesuai baku, maka relatif herbi kepala kelompoknya.

Tak lupa, salah satu cara supaya kualitas terjaga, Sinjaraga melakukan departemenisasi pekerjaan pada dalam organisasinya, agar masing-masing penekanan mengontrol pekerjaannya. Untuk bagian penjahitan sendiri, masih ada 5 orang yg bertugas melakukan kontrol kualitas & memeriksa hasil kerja para pengrajin. Semua output jahitan yg datang dari para pengrajin pula tak luput menurut screening mereka satu per satu.

Soal ketatnya kualitas ini bukan imbasan jempol. Terbukti waktu ini Sinjaraga sudah memperoleh sertifikat ISO 14001:2004, ISO 9001:2008, OHAS 18001:2007, & sebagai satu-satunya perusahaan penghasil bolas sepak di Indonesia yang telah memeproleh tunjangan profesi FIFA. Selain itu jua telah menerima pengakuan menurut kalangan masyarakat Eropa melalui tunjangan profesi CE Mark(CE=Community Europe) dari Instituto Italiano Sicurezza Del Giocattoli (EC-Notified Body, 0376).

Soal sertifikasi FIFA, menurut Jefry, hal itu tidak bisa sembarangan. Pasalnya FIFA selalu melakukan audit secara ketat, baik dari sisi administrasi maupun kualitas produk. Dari sisi kualitas produk, ada 20 standar yang ditentukan FIFA, diantaranya tingkat pantulan, lingkaran, berat, penyerapan air, hingga  daya tahan bola. Nah, untuk melakukan check, FIFA bisa saja membeli bola Sinjaraga dimanapun tokonya dan kemudian diam-diam dilakukan checking. Bila produknya tak sesuai standar FIFA, hal itu bisa menjadi masalah bagi Sinjaraga. "Itulah kenapa harus jaga betul kualitas ini," kata Jefry.

Sementara itu, soal ketepatan waktu delivery produksi, Sinjaraga juga punya cara tersendiri agar ia bisa memenuhi target waktu pasokan ke pembelinya. Dalam hal ini Sinjaraga menyiasatinya dengan memiliki banyak pengrajin dari wilayah yang berbeda-beda, terpencar, tidak mengumpul di sebuah sebuah desa atau kecamatan tertentu. Sebut contoh, bila ada  halangan musim panen, andai pengrajin berasal hanya dari sebuah blok desa tertentu, maka ketika wilayah itu sibuk panen (ibu-ibu juga membantu panen), maka pekerjaan menjahit bola bisa ramai-ramai ditinggalkan. Tentu hal itu menjadi bahaya bagi bagi ketepatan deadline pasokan Sinjaraga ke pembelinya.

Dengan adanya basis pengrajin yang berasal berdasarkan majemuk desa & kecamatan, maka ketika pada sebuah desa perkembangan produksi dari pengrajinnya lamban atau stagnan, maka sanggup ditarik dan dipindahkan ke grup pengrajin lain yg sedang nir panen atau halangan lain, yg bisa menuntaskan pekerjaan dengan cepat. "Dengan cara itu, kita sempurna deadline, & tidak perlu perang urat syaraf dengan pengrajin soal deadline. Karena cara kerja mereka memang tidak terdapat ikatan saat menggunakan kita," sebut Jefry.

Halangan bagi pengrajin buat tepat saat selama ini memang relatif banyak, mulai dari acara hajatan eksklusif sampai acara adat. Ia menyebut model, terdapat salah satu desa yg saat bulan Ramadlan hari ke-5 kalangan ibu-mak telah tak menjahit bola karena telah disibukkan membuat kue untuk persiapan lebaran. "Itu telah budaya, nggak mampu diotak-atik lagi, kita yg harus maklum,' tutur Jefry. Yang pasti, dengan menentukan pengrajin berdasarkan basis desa yg tidak sinkron bisa mengurangi resiko kelambanan produksi itu.

Di lain sisi, di sekitar pabrik Sinjaraga pada Kadipaten juga masih ada sekelompok orang yang bisa diminta bekerja secara borongan sebagai akibatnya waktu terjadi lonjakan permintaan yg tak sanggup dipenuhi para pengrajin. Mereka itu mampu diberdayakan sewaktu-saat sesuai kebutuhan.

Kini, menggunakan kurang lebih dua.000 pengrajin, Sinjaraga bisa menghasilkan bola menggunakan kapasitas 3000 bola per hari atau pada kisaran 90 ribu hingga 100 ribu bola per bulan. Hanya saja diakui, dari 2000 orang itu memang tidak semuanya selalu aktif lantaran banyak sekali halangan saat yang mereka hadapi. Rata-rata seorang pengrajin yg sudah pakar, akan mampu membentuk tiga-4 bola jahitan sehari. Upah untuk menjahit itu sendiri bervariasi, tergantung poly aspek, termasuk besar & banyaknya jahitan bola. Kisarannya per bola pengrajin dibayar Rp 7 ribu - Rp 15 ribu.

Hingga sekarang Sinjaraga masih terbuka buat menambah jumlah pengrajin binaan. "Karena permintaan bola dari luar masih poly, kita kuwalahan lantaran faktor kapasitas produksi yang masih belum bisa memenuhinya," pungkasnya. Biasanya pihaknya akan datang ke lokasi baru buat membuka wilayah pengrajin binaan baru apabila telah terdapat 50 orang yang bersedia di awal buat dilatih dan diberikan pekerjaan. Pun para pemborong (ketua grup) yang akan membuka daerah baru, umumnya manajemen Sinjaraga pula akan memfasilitasinya.

Dengan para pengrajin itu manajemen Sinjaraga selalu menjaga interaksi baik. Selain acapkali tiba berkunjung buat tatap muka dan berinteraksi langsung, terkadang pula menciptakan program kebersamaan tertentu. Misalnya jalan-jalan wisata ke luar wilayah dimana Sinjaraga menyediakan busnya. Atau saat hari Lebaran Idul Adha, pada mereka dibagikan daging. Dan sebagainya.

Yang jelas, meski Sinjaraga melakukan outsourcing, namun produk yg didapatkan dari pengrajin masih setengah jadi. Proses finishing, sentuhan akhir sampai produk bola itu menggelembung menggunakan baik menggunakan lapisan-lapisan tambahan yg sempurna, termasuk kontrol kualitasnya, dilakukan sendiri oleh tim internal Sinjaraga. Hal ini krusial buat mengontrol kualitas produk akhir & juga menghindari produk Sinjaraga dipalsukan secara bebas pada pasaran. Tak heran, selesainya tahapan penjahitan, masih ada proses finishing yg hanya dilakukan di pabrik.

Dengan pola kemitraan itu Sinjaraga bisa memenuhi permintaan bola sepak dari berbagai penjuru global. Perusahaan ini tetap lincah menghasilkan kapasitas akbar meski hanya punya karyawan tetap tidak lebih dari 120 orang.

Sejauh ini produksi bola Sinjaraga dipasarkan ke lokal & mancanegara. Untuk pasar manca negara, terutama ditujukan buat Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Belanda, Jerman, Prancis, Kuwait, Brasil & negara-negara pada benua Afrika. Prosentase pasar domestik & ekspor sangat tergantung musim. Di tahun-tahun ketika ajang Piala Dunia diselenggarakan, prosentase penjualan didominasi ekspor, mampu mencapai 70%. Tetapi disaat seperti kini , ekspor mengontribusi 40% & pasar domestik 60%.

Produk Sinjaraga  ada yang menggunakan merek milik sendiri, ada juga yang memproduksi merek pesanan. "Kita ini manufacturing, produk bola dengan merek lain silahkan, yang pasti order harus resmi dari pemilik merek itu, legal," kata Jefry. Untuk pasar luar negeri, contohnya pihaknya memproduksi merek bola Pinalty, merek yang sangat terkenal dan populer di Brasil. Sedangkan dalam negeri misalnya memproduksi merek Specs yang juga milik pihak lain.

Untuk milik sendiri, pihaknya menggunakan merek Triple-S yg jua sudah diakui FIFA. Triple-S bermain pada pasar premium, harga lebih mahal. Selain faktor bahan yang lebih mengagumkan, pihaknya jua mendapatkan sertifikasi FIFA & mencantumkan logo FIFA sebagai akibatnya wajib membayar 1 Frank Swiss per bola yang dijual. Khusus buat Triple-S, kebanyakan pasarnya justru untuk pada negeri.

Pemerhati bidang manajemen Lilik Agung melihat pola kemitraan yang diterapkan Sinjaraga sebagai langkah tepat. Hal itu berkaca pada apa yang dilakukan perusahaan dunia seperti Nestle atau Starbucks Coffee yang juga memiliki ribuan mitra petani. Pun Frisian Flag (Susu Bendera) yag menaungi ribuan peternak-peternak sapi yang tergabung dalam koperasi primer. Susu Bendera semacam  koperasi induk yang memproduksi susu-susu pasokan dari anggotanya. Pola kemitraan bisa menyelamatkan perusahaan. Lilik teringat kasus Rabo Bank yang juga dimiliki anggota koperasi. "Ketika bank-bank besar di Eropa bertumbangan pada krisis 2008 lalu, Rabo Bank salah satu yang selamat karena model partnership itu," sebut Lilik.

Lilik melihat prinsip kemitraan berkembang bukan menggunakan pola transaksional namun seperti hubungan saudara. Induk berperan sebagai garda depan buat memproduksi produk akhir yg siap dikonsumsi dan memasarkannya. Peran mitra, memasok produk-produk yg berkualitas sesuai bidangnya. ?Pendampingan dari perusahaan induk wajib terus menerus dilakukan," kata Lilik.

Kedepan Lilik menyarankan, agar Sinjaraga terus konsisten dalam membika kualitas produksi para mitranya dan menaikkan level mitra-nya. "Diharapkan kedepan mereka tidak semata menjadi tukang jahit namun juga bisa  memiliki kreatifitas untuk menghasilkan produk-produk baru. Mereka perlu dilibatkan dalam kebersamaan seperti dengan membuat koperasi bersama dan sejenisnya," pesan Lilik dari Highleap Consullting ini.

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: