Sabtu kemudian Arini Arianti (45 tahun) begitu riang. Setelah setahun dikerjakan, tempat tinggal mewahnya senilai Rp dua,4 miliar pada BSD City, Serpong, akhirnya berdiri tegak. Namun, aha..., masih ada yang kurang. Untuk menyempurnakannya, beliau pun bergegas ke Jl. Fatmawati. Di ruang pajang Veranda, dipesannya tiga bedroom set & furnitur ruang tamu.
Sebenarnya, kepergiannya ke daerah Jakarta Selatan itu terbilang mendadak lantaran ia baru membaca iklan furnitur Veranda pagi itu di sebuah harian Ibu Kota. Gerai ini dipilihnya karena pertimbangan yang simpel: mudah diakses menurut BSD, hanya 30 menit via tol Simatupang. Dan ternyata, selesainya tiba dan melihat-lihat, dia menemukan sejumlah barang interior yang dicarinya.
Arini hanyalah satu pada antara sejumlah famili menengah-atas Jabodetabek yang sudah mencoba produk Veranda. Sebetulnya, bagi sebagian kalangan menengah-atas Jabodetabek -- khususnya yg menyukai furnitur gaya klasik -- nama ini tidak terlalu asing lantaran memang termasuk pemain besar pada bisnisnya. Apalagi, Robin Wibowo, pengelolanya, terbilang rajin mempromosikan produk-produknya pada banyak sekali media massa, baik cetak maupun elektro. Tak mengherankan, ketika ini beliau telah punya basis pelanggan loyal yang relatif kuat, khususnya pada kalangan menengah-atas pengguna barang interior, seperti furnitur ruang tamu dan ruang tidur, dan pernak-pernik aksesori interior & flooring.
Perjalanan Veranda yg kini berkibar pada bisnis barang interior, termasuk furnitur, tidak sanggup lepas dari sentuhan Robin, pendiri yang pula Chairman-nya. Ia mulai merintis usaha ini selulus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, 1985. Begitu titel sarjana disandangnya, dia langsung belajar menjual barang interior, seperti furnitur dan gorden. ?Saya memang senang sekali global interior. Makanya, berdasarkan awal usaha saya, ya di bidang ini,? Tutur pria bershio kelinci itu. Memulai usaha berdasarkan skala mini , dia mendesain sendiri interior rumah-rumah pelanggannya, sembari menyediakan produk-produk yg diperlukan. Yang unik, kemampuan mendesain itu bukan lantaran ia bersekolah formal di bidang desain. Kesukaannya dalam bidang interior itulah yg membuatnya percaya diri mendesain rumah orang.
Tak kurang menurut 5 tahun bisnis skala kecil dijalankan laki-laki bermarga Phua ini. Namun, dari situlah basis pelanggannya pelan-pelan tumbuh & memercayainya. Terbukti, tak sedikit di antara pelanggan yang telah melihat rekam jejaknya lalu memesan dan menanyakan aneka macam barang interior kepadanya. Padahal, yang ditanya nir punya produk-produk tersebut. Akan tetapi, menurut situlah Robin konfiden bahwa dirinya dianggap pasar sehingga bertekad suatu hari kelak akan memenuhi permintaan para klien tadi.
Rupanya, Robin tidak perlu lama menunggu. Tahun 1989, momentum bagus menghampirinya. Ketika melihat-lihat pameran barang interior di Italia, Spanyol & Amerika Serikat, ia mendapati banyak sekali produk interior berkualitas mengagumkan, khususnya furnitur. Ia pun melihat apa yg dijumpainya adalah peluang bisnis yg wajib segera disergap. Muncullah wangsit di benaknya: mengimpor ke Indonesia.
Maka semenjak 1989, Robin memboyong produk interior premium menurut luar negeri. Untuk mendukung usaha impornya ini, dia mendirikan ruang pajang pada Jl. Fatmawati. Hanya, ruang pajang yg pertama didirikan itu baru sekadarnya, standar ruko. ?Saya pilih Jakarta Selatan karena di sekitarnya banyak ditinggali rakyat middle-up,? Pungkasnya. Veranda, kosakata Italia yang ialah serambi, dipilihnya sebagai nama ruang pajang ini. Untuk menggelindingkan bisnis ini, beliau menggandeng beberapa teman menjadi investor. Hanya saja, dia yang lebih aktif dan menjadi pemegang saham dominan.
Perjalanan awal Veranda bak siput. Awalnya, setiap mengimpor, Robin hanya memboyong satu kontainer yg kemudian dipajang di tokonya. Dalam tahun-tahun perintisan ini, beliau bekerja sangat keras, baik pada pada maupun luar negeri. Di domestik, ia membuka pasar, mengenalkan Veranda dan produk-produknya ke konsumen menengah-atas. Pekerjaan yg nir gampang, apalagi saat itu sudah terdapat beberapa pemain bertenaga yang eksis. Sementara itu, beliau pula harus ke luar negeri, mencari mitra orisinil pabrik furnitur yg dapat dipercaya yang bakal digandengnya sebagai pemasok. ?Dua tahun pertama, saya capek sekali. Saya keliling sendiri ke berbagai negara produsen furnitur yang mengagumkan misalnya Italia, Spanyol & Alaihi Salam. Saya tiba sendiri buat membuka jalan, agar sanggup saling kenal & menciptakan trust,? Ungkapnya mengenang.
Beruntung, upaya perintisan bisnis yang dilakukannya tidak menjaring angin. Pelan-pelan, kalangan penyuka furnitur dan barang interior premium lainnya mendengar & mencoba produk-produk Veranda. Dan boleh dibilang, produk-produk tersebut memenuhi harapan mereka sehingga terjadilah proses getok tular dari pelanggan ke kolega pada komunitas masing-masing. Ujungnya, gampang ditebak: pelanggan terus bertambah sebagai akibatnya mendongkrak skala bisnis Robin. ?Mungkin lantaran kami terlibat eksklusif dan semenjak awal terus mengamati perkembangan minat terhadap interior di Indonesia sehingga seluruh barang yg kami impor selalu disukai konsumen,? Katanya merendah.
Seiring menggunakan kinerja Veranda yang makin moncer & pelanggan yg makin banyak, Robin pun berpikiran memperluas ruang pajangnya supaya lebih memadai dan representatif. Tahun 2002 ia mulai membentuk ruang peraga yg lebih megah, terdiri menurut 6 lantai. Bangunan ini menyediakan ruang pamer seluas 5 ribu m2, bergaya klasik. Ruang pamer sekaligus kantor ini terselesaikan dibangun & mulai dipakai tahun 2004. Biaya buat perluasan ini dibantu bank. ?Karena perputaran usaha kami indah, proposal yg kami ajukan ke bank dipelajari dan diterima dengan positif.?
Praktis, menggunakan ruang pajang yg lebih berkelas, produk yang dijual Veranda pun semakin lengkap. Kini hampir semua item barang interior tersedia. ?Pendeknya, kalau terdapat orang yg membentuk sebuah rumah pada keadaan kosong, seluruh kebutuhan interiornya sanggup diisi Veranda,? Ujar Robin bersemangat. Mulai berdasarkan sofa, bufet, perlengkapan kamar tidur, gorden, wallpaper hingga flooring, seluruh tersedia. Bahkan, termasuk layanan desainnya. Dari 6 lantai gedung itu, lantai 1-tiga buat memajang produk-produk furnitur bergaya klasik, lantai 4-lima buat produk bergaya Amerika, & lantai 6 buat produk-produk bergaya minimalis. Soal produk yg dijualnya, Robin menegaskan bahwa semenjak awal yg dijualnya 100% impor. ?Ada menurut Spanyol (80%), AS (10%), Italia (5%), sisanya berdasarkan Thailand buat produk-produk minimalis.?
Bersamaan dengan bertambahnya pelanggan, skala bisnis Veranda pun membesar. Awalnya, hanya jualan satu kontainer dan baru memesan lagi waktu telah terjual habis. Tetapi menurut tahun ke tahun, perputaran produk makin cepat. ?Kini rata-rata sebulan 10 kontainer,? Istilah Robin bangga.
Jika diamati, terdapat beberapa faktor penentu sukses Veranda yg mengusung jargon ?The Prestigius Way to Life". Salah satunya, kejelian melihat pasar ceruk yang dilayani. Robin tidak semata-mata melayani segmen masyarakat kelas tinggi, tapi juga menengah-atas. Ini titik diferensiasinya dibandingkan DaVinci, contohnya, yang merogoh segmen premium. ?Tidak semua barang kami mahal. Kami jual mulai Rp lima juta sampai yang di atas Rp 100 juta per item. Karena itu, customer yang segmen middle jua masuk ke sini,? Katanya. Strategi melayani segmen menengah ini digelar berdasarkan pengamatan Robin bahwa jumlah pengguna berdasarkan segmen elite tidak terlalu poly. ?Struktur masyarakat kan misalnya piramida, segmen yg pada tengah jumlahnya cukup poly. Ini yg kami tak ingin sia-siakan,? Ucapnya lagi. ?Namun, kami tidak mau masuk pada segmen low karena itu bukan kelas kami.?
Bapak 2 putri ini tidak menampik adanya asumsi pada rakyat yang memandang furnitur klasik merupakan produk berharga mahal sebagai akibatnya butuh miliaran rupiah buat memboyongnya. Padahal, nir demikian. ?Di sini orang mau mengisi interior satu rumah dengan aturan Rp 2 miliar bisa, akan tetapi hanya menggunakan Rp 200 juta, namun barang mengagumkan, jua bisa kami lakukan,? Kata Robin setengah berpromosi. Ia menyampaikan, selama ini produk yang paling cepat perputarannya pada Veranda berharga Rp 20-40 juta/item.
Tentu saja, Veranda sanggup menjual produk yg high maupun middle sekaligus karena kemampuan sourcing produk yang lengkap, menurut mitra-mitra prinsipalnya pada luar negeri. ?Salah satu keunggulan kami, varian desain kami lengkap, sehingga pelanggan mampu memilih desain sesuai menggunakan selera mereka,? Robin pulang meyakinkan. Bedroom set, contohnya, dia bisa menyediakan 30 desain, sedangkan sofa lebih dari 20 desain. Khusus buat desain, beliau punya tim yang tiap tahun berangkat ke pameran furnitur di Valencia (Spanyol) guna berkonsultasi menggunakan pabrik-pabrik pada sana. Tim ini berdikusi soal desain produk yg cocok buat Indonesia, baik dari sisi warna juga aksesori. ?Kami tidak semata-mata membeli produk jadi dari pabrik, tetapi terdapat diskusi & masukan dari tim Veranda. Sebagian besar produk yg dijual adalah masukan menurut tim desain kami,? Ujarnya.
Kiat lain, model bisnisnya bukan hanya jualan produk, tetapi berusaha menaruh konsultasi ke konsumen. Tak ubahnya memberi solusi total untuk pelanggan. Ini dilakukan lantaran informasi berbicara: tak sedikit orang berduit yg resah membeli barang interior, kemudian tambah dibingungkan seputar cara penataannya. Untuk itulah, Robin menyediakan konsultan arsitek desain interior. Konsumen yg resah menata interiornya tinggal meminta pertimbangan. ?Apa wajib ditaruh pada mana belum tahu, maka mampu kami kirim desainer buat membantu pelanggan.?
Betapapun, bisnis ini memang tidak mudah. Apalagi, melayani kelas menengah-atas yang punya kemauan tinggi dalam urusan kepuasan. ?Ada yg kini belanja, besoknya minta wajib telah harus dikirim. Padahal, barang yg dipesan desainnya langka,? Celoteh Robin. Dalam hal ini, dia berusaha memuaskan mereka semaksimal mungkin. Antara lain, menjaga layanan pascajual, sesuai dengan komitmen yang dijanjikan. Untuk urusan yg satu ini, dia mengangkat staf spesifik yg menangani keluhan & masukan pelanggan. ?Ada pelanggan yg membeli menurut kami telah 7 tahun, kemudian minta barangnya dipindahkan atau ditata ulang, ini permanen dilayani. Kami bukan perusahaan yg kalau telah jual, hubungannya sebagai putus,? Ujarnya membeberkan kiatnya. Lalu, jika terdapat konsumen yang inden produk tertentu, waktu telah jatuh kirim, produk sine qua non hari itu jua. ?Tidak boleh membohongi pelanggan. Stok barang yang disediakan juga mesti dalam jumlah mencukupi.?
Untung saja, 80 karyawan Veranda telah dibiasakan melayani segmen ini. Dalam pandangan Robin, agama warga tidak lepas menurut sistem manajemen yang dikembangkannya selama ini. ?Kami punya teamwork yg baik, menurut divisi marketing, konsultan marketing, desainer & delivery,? Pungkasnya. Budaya melayani ini tentu dicontohkan sendiri ke anak buahnya. Pria yang menghabiskan 5 bulan pada setahun di luar negeri ini berusaha menyempatkan tiba ke ruang pajang setiap hari kalau nir sedang pada mancanegara. ?Bapak umumnya tiba pukul 3 sore,? Ujar Sari, staf Asisten Personal Veranda. Biasanya Robin mengecek progress pelayanan ke konsumen yg terjadi dalam hari itu, sekaligus memberikan delegasi & penugasan ke tim yang berbeda-beda.
Tak sanggup dimungkiri, sukses Veranda tak lepas berdasarkan upaya Robin yg semenjak awal aktif berpromosi. Veranda termasuk sedikit pemain furnitur yang militan beriklan, khususnya di media cetak buat segmen menengah-atas, baik media properti maupun gaya hidup. Ada iklan yang bersifat hardsell, tapi ada jua iklan buat membentuk citra. Robin rajin jua beriklan di acara Seputar Indonesia (RCTI), khususnya dalam Jumat & Sabtu. Kelihatan sekali ia termasuk pebisnis furnitur yang amat menyadari pentingnya membentuk merek menggunakan berpromosi above the line (ATL), meski buat itu biayanya relatif mahal. Sebagai model, sekali iklan di sebuah harian Ibu Kota anggarannya Rp 40 juta. Padahal, sebulan dia tak hanya iklan 1-2 kali.
Selain melalui media ATL, promosi juga dilakukan dengan aktif menggelar program diskon . Lalu, memberi gimmick berupa undian berhadiah kendaraan beroda empat bagi pembeli. Bahkan, mendekati para desainer interior jua. Maklum, selama ini nir seluruh pemilik tempat tinggal punya waktu luang mengurus kebutuhan interiornya. Banyak orang kaya yg sibuk sebagai akibatnya menyerahkan urusan ini ke kontraktor desain. Dan, pihak kontraktorlah yang herbi perusahaan furnitur misalnya Veranda. Lantaran rantai misalnya itulah, Robin pun menjalin hubungan baik menggunakan kalangan desainer.
Untuk mempermudah konsumen membeli, ia jua menggandeng perbankan, yang sejauh ini dilakukan dengan pengelola kartu kredit Bank Mandiri. Pelanggan yg membeli produk-produk Veranda menggunakan kartu kredit Mandiri mampu mencicil 12 bulan tanpa bunga. Ada juga program cicilan 6 bulan tanpa bunga. ?Kami pilih kartu kredit Mandiri karena jika perusahaan finance yg lain, cenderung lama , wajib melakukan survei ke pelanggan dulu. Saya nir mau karena itu mengganggu pelanggan aku ,? Ujarnya. Tentu saja, program ini jua menjadi bagian promosi.
Sri Sundari Rama Chandra termasuk pelanggan loyal Veranda. Istri seseorang dokter kebidanan terkemuka di Jakarta Utara ini mengisi interior rumahnya di Jl. Gatot Subroto, Jakarta, dengan furnitur Veranda. ?Produknya rupawan-indah & lebih murah menurut show room lainnya. Saya jua ambil bedroom set buat seluruh kamar dari sana. Dia jua terdapat garansi. Waktu kemarin kami ada pembenahan, jua dibantu,? Ungkap Sri.
Loyalitas pelanggan seperti itu mungkin adalah satu sisi sukses Veranda. Hanya saja, sebenarnya sukses Robin bukan tanpa kendala & pengalaman jelek. Sewaktu krismon mendera, misalnya, beliau pun tak luput dari derita. ?Waktu itu Veranda nyaris guncang,? Katanya mengenang. Ini bisa dimengerti karena produk yang dijual 100% impor, ad interim nilai tukar dolar terhadap rupiah terus galak waktu itu. ?Kami sempat rugi banyak. Untungnya, pelanggan mau mengerti (sewaktu) harga kami naikkan. Pihak pabrik jua mau memberi keringanan & rabat ke Veranda karena selama bekerjasama memang menampakan kesungguhan,? Ujarnya.
Cobaan lain terjadi sewaktu mulai merintis usaha. Saat itu kompetitor menjelek-jelekkan nama Veranda pada pasar. Untuk yang satu ini, yang dilakukan Robin cukup dengan pertanda ke pelanggan. Lama-lama pelanggan makin percaya, khususnya melalui kenaikan pangkat dari mulut ke lisan. ?Promosi jenis ini sangat penting. Promosi menurut berbagai iklan itu hanya 50% kontribusinya, 50% sisanya adalah dari verbal ke verbal,? Dia membeberkan rahasianya. Yang digarisbawahinya, usaha yang menyasar segmen menengah-atas ini benar-benar adalah usaha agama. ?Ini agama soal harga, produk juga layanan.?
Tentu, masa sulit Robin itu telah berlalu. Apalagi, sejak 2004 pertumbuhan Veranda makin brilian, terutama selesainya nilai tukar rupiah nisbi stabil. Ke depan, ia tak akan henti berbagi Veranda. Setelah tahun kemudian membuka cabang pada Surabaya, dia berencana membuka gerai di Medan dalam 2010. Selama ini gerai Surabaya melayani pasar Indonesia Timur, sedangkan gerai Medan dibutuhkan menjangkau pasar Sumatera. Tak berhenti di situ, Robin bahkan menancapkan ambisi lebih tinggi: dalam 2012 Veranda go public.
Yang membuat Robin bangga, berdasarkan sisi produksi, produk flooring bermerek Mercury yang diimpornya berdasarkan Jerman semenjak 2003 akan dibuatnya sendiri pada Indonesia pada 2010. ?Ini bisa menekan harga 40% dari harga kini (yg) Rp 150.000/m2,? Ujarnya seraya mengklaim selama ini Mercury menguasai 50% pasar flooring di Tanah Air. Akhirnya, pria subur ini menegaskan, masing-masing pebisnis punya jalan sukses sendiri. ?Setiap kita ada jalannya. Tinggal kemauan pelakunya & kesungguhan buat mencintai bisnisnya itu,? Demikian pesan pengusaha yg pula berbisnis properti ini menggunakan mimik serius. Dan baginya, jalan sukses itu ada pada Veranda.
Kisah usaha menarik lainnya:
Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama pada Medan
Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa
Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto
Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI
Robin Wibowo & Bisnis Furniture Mewah Veranda
Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM
Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle
Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex
Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR
Investor luar negeri cari kawan lokal untuk kongsi bisnis
Checking your browser before accessingPlease enable Cookies and reload the page. This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly. Please allow up to 5 seconds… |