
Laba PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) sepanjang semester I/2016 naik 30,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun kemudian. Sesuai laporan keuangan semester I/2016 yg sudah dipublikasikan (9/8/2016), perseroan mencatat laba yg diatribusikan pada pemilik entitas induk sebanyak Rp 325,78 miliar atau naik 30,41% dibandingkan menggunakan periode yang sama tahun lalu senilai Rp249,81 miliar.
Peningkatan laba Jababeka didorong oleh sejumlah beban perseroan yg mampu ditekan. Sepanjang semester I/2016, perseroan mencatat penjualan dan pendapatan jasa senilai Rp 1,36 triliun. Pencapaian tersebut turun 7,48% menurut periode yang sama 2015 senilai Rp1,47 triliun.
Tetapi demikian, perseroan relatif smart & berhasil bisa menekan sejumlah beban biaya . Mulai berdasarkan beban keuangan yg turun 56,98% menjadi Rp169,59 miliar menurut Rp394,22 miliar pada semester I/2015. Kemudian, beban pajak final pula turun menjadi Rp10,60 miliar berdasarkan Rp28,38 miliar.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) terus akan perluasan berbagi bisnis-usaha dan proyek barunya yg sudah ada pada pipeline buat pengembangan. Antara lain, Jababeka sudah menyiapkan dana sebanyak US$ 10-20 juta buat menciptakan infrastruktur daerah industri pada Kendal, Jawa Tengah. Direktur Utama Jababeka Budiyanto Liman berkata, perseroan bekerjasama dengan perusahaan asal Singapura, Sembawang Corporation, untuk menyebarkan tempat industri tersebut. Luas tanah yang akan digarap seluas dua.000-tiga.000 hektare (ha).
?Tahap awal, kami akan kembangkan sekitar 860 ha. Sekarang dalam termin pengembangan infrastruktur,? Ujar Budiyanto di Jakarta, Selasa (20/10). Dia melanjutkan, secara khusus, infrastruktur yg akan dibangun mencakup jalan, pemadatan tanah, dan menyiapkan pasokan air higienis maupun buat air limbahnya. ?Pokoknya kami bangun infrastruktur supaya para investor yang ingin menciptakan pabrik sudah mampu beroperasi termasuk listrik dan lainnya,? Ujar Budiyanto.
Untuk pasokan listrik, perseroan berencana menciptakan pembangkit listrik (power plant) untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri. Namun, beliau belum mampu menjelaskan berapa kapasitasnya. Dia mengakui, buat proyek pengembangan tempat industri Kendal, waktu ini sudah poly perusahaan yg akan menempati kawasan tadi. Hal ini didukung menurut harga tanah yg lebih murah dan dari segi upah pekerja masih nisbi lebih rendah dibandingkan kawasan industri Jababeka lainnya.
?Dari segi labour cost pada Jawa Tengah masih lebih rendah dibandingkan Bekasi. Hal ini sebagai daya tarik investor terutama bagi yg labour intensif, seperti tekstil,? Ujar Budiyanto. Sementara itu, buat pembebasan huma, perseroan menghabiskan belanja kapital (capital expenditure/capex) sebesar Rp 600 miliar tahun ini. Dana tersebut 100 % berasal dari kas perseroan. Sementara itu, buat kawasan Kendal, bakal menghabiskan dana sebesar Rp 400 miliar. Capex yg paling besar memang digunakan buat pembebasan huma di Kendal.
Jababeka pula terus melanjutkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Pulau Morotai seluas 1.200 hektar. Melalui anak usahanya, PT Morotai Jababeka berhasil menggandeng mitra berdasarkan Taiwan buat membentuk amenitas & atraksi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata tadi.
Pada termin awal, dikabarkan, PT Morotai Jababeka, menciptakan 10 ribu rumah menggunakan pangsa pasar kelas menengah, serta hotel-hotel menggunakan kapasitas 100 ribu kamar. Tahap berikutnya, PT Morotai Jababeka membangun tempat pariwisata, sekolah yg akan menyuplai sumber daya insan (SDM), & lainnya. Raksasa properti ini juga akan membuatkan pertanian, perikanan, dan perdagangan.
PT Morotai Jababeka siap menggelontorkan investasi Rp 6,8 triliun. Dana sebanyak itu dari berdasarkan investasi sendiri, & sejumlah investor. Andrew Hsia, kepala Perwakilan Perdagangan & Ekonomi Taipei pada Indonesia (TETO), berjanji akan mengembangkan budi daya ikan, pertanian, pariwisata, dan perbankan pada Morotai. Ia memperkirakan akan ada konvoi poly orang ke Morotai buat bekerja di bidang perikanan, eko-turisme, dan infrastruktur.
Checking your browser before accessingPlease enable Cookies and reload the page. This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly. Please allow up to 5 seconds… |