Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Di-update dalam 8 Juni 2020

Perusahaaan private equity memang nir populer seperti bank atau bursa. Padahal private equity pula keliru satu sumber modal dan sebagai solusi permodalan bagi para pemilik perusahaan yg bisnisnya ingin tumbuh.

Private equity merupakan salah asal modal buat investasi yang berasal berdasarkan para investor seperti dana purna tugas, orang-orang kaya, atau dana kekal perguruan tinggi. Ini semacam forum yg ditugaskan dan dianggap buat memutar duit menurut investor itu. Kalau bank umumnya memberi duit pinjaman dan minta agunan (kolateral), jika private equity nir. Dia invest pada perusahaan semisalnya Rp 300 miliar atau Rp 100 miliar, tapi beliau minta ditukar menggunakan saham. Nah, terdapat perusahaan private equity yang maunya invest sebagai pemegang saham minoritas & nggak mau lebih dari 50%, namun jua ada yg maunya justru wajib pegang kendali. Masing-masing perusahaan private equity punya gaya dan kebijakan masing-masing.

Asal dana atau sumber dana perusahaan  private equity itu biasanya terkumpul karena keaktifan para pendiri dalam mencari dana untuk dikelola. Jangan heran kalau di Indonesia, para pemilik private equity pasti orang yang punya network kuat dengan pemilik dana di luar negeri. Misalnya Patrick Waluyo (Northstar), Gita Wiryawan (Ancora) dan Edwin Soeryajaya (Saratoga). Mereka semua lulusan Amerika yang channel dengan lembaga keuangan Barat sudah sangat kuat.

Kenapa mereka mau memberikan dananya buat dikelola? Ya lantaran ingin dananya berputar & bertambah. Ingat bahwa di negeri Barat dan Jepang, jika memberikan deposito di Bank bunganya pertahun hanya 2% atau bahkan kurang. Kalau diputar di negara perkembang mereka mampu mendapatkan laba minimal belasan % per tahun. Logikanya simple, idiologi uang adalah keuntungan. Dia nir punya loyalitas ke negara atau lokasi. Tapi beliau akan datang ke loka yg bisa berkembang biak. Ini rumus uang yg jangan dibantah.

Cara investasi perusahaan private equity (PE) ke perusahaan-perusahaan sasaran umumnya memakai pola sanggup 2 macam. Pertama, membeli sebagian saham yang dimiliki pemegang usang (artinya beliau membeli existing saham). Dus terdapat pergantian kepemilikan saham. Kedua, perusahaan yg akan diinject modal itu menerbitkan saham baru yg kemudian dibeli sang perusahaan PE itu. Umumnya cara ke 2 ini lebih poly dipilih karena berarti dana yang masuk nir masuk ke kantong pribadi pemegang saham usang, namun menambah modal perusahaan sehingga perusahaan bisa berputar lebih baik. Tapi pola ini sangat case by case, bisa deretan. Bisa jadi waktu investor masuk ke sebuah perusahaan, terdapat sebagian yg masuk ke kantong pemegang saham usang buat pembelian saham, tetapi terdapat jua sebagian yg ditaruh menjadi kapital bisnis.

Selain cara investasi melalui saham, perusahaan PE juga bisa dengan cara membeli convertible bond yang diterbitkan perusahaan yang butuh duit. Convertible  bond itu adalah surat utang yang suatu saat bisa diubah (diconvert) menjadi saham ketika pas jatuh tempo perusahaan yang berhutang itu tidak bisa melunasi secara sempurna atas hutang-hutangnya.

Yang perlu diketahui, perusahaan PE biasanya hanya mau invest pada perusahaan yg tumbuh cepat dan margin untungnya baik. Kenapa? Lantaran ia wajib memberi laba jua ke pemodal yg menitipkan uangnya. Makanya biasanya IRR private equity selalu minta diatas 18%. Kalau bank Anda kasih bunga 12-13%, maka PE minimal diangka 18%. Bedanya jikalau bank harus mencicil bulanan, kalau PE nggak. PE hanya mengharap untung waktu sahamnya dijual ke pihak lain.

Makanya, kebanyakan orang berhubungan dengan PE bila sudah tidak bisa pinjam ke bank lagi. Ekuitas yang dimiliki perusahaan sudah mentok. Sudah tidak punya kolateral untuk pinjam ke bank. Kalau bahasa orang keuangan, debt to equity ratio sudah nggak memungkinkan  untuk pinjam ke bank. Ingat, tidak ada bank yang mau kasih pinjaman bila tidak ada kolateral. Ini normalnya. Ada beberapa bank yang bisa kasih pinjaman tanpa kolateral, namun sudah pasti hanya ke nasabah korporat yang sudah lama dikenal, dan biasanya bunganya juga jauh lebih tinggi.

Siapakah yg paling cocok buat menggandeng PE:

  1. Perusahaan yang akan ekspansi dan yakin punya bisnis bagus kedepan tapi nggak punya modal dan sudah sulit pinjam ke bank karena debt to equity ratio sudah tinggi. Aset yang ada sudah dileverage terlalu tinggi sehingga butuh investor (capital partner) yang bisa menambahkan modal untuk pertumbuhan usaha karena memang ada peluang menarik yang akan digarap.  Dalam situasi ini cocok dan penting untuk mengajak PE agar mau investasi dan kongsi di bisnis Bapak/ibu.
  2. Perusahaan yang akan go public 2-4 tahun kedepan. agar nilai buku menjadi lebih baik dan kondisi permodalan tampak lebih kuat, anda gandeng PE untuk invest di perusahaan anda. nanti ia akan exit keluar dari perusahaan anda saat IPO dengan menjual saham dia ke investor publik di bursa
  3. Perusahaan yang tahu bahwa ada perusahaan lain yang sahamnya akan dijual, perusahaan itu bagus, tapi dia nggak punya uang untuk membeli atau mengakuisisi. Dalam kondisi itu, ajaklah PE untuk invest bersama dan Anda yang menjadi operatornya karena Anda yang tahu cara kerja dan operasional bisnisnya sehari-hari. PE bisa menjadi pemegang saham sementara, setelah itu saham dia bisa bapak akuisisi
  4. CEO atau eksekutif senior perusahaan yang tahu bahwa perusahaan dimana ia bekerja mau dijual,. Ia merasa sayang dan tahu bahwa bisnisnya bagus dan ia bisa menyelamatkannya, makanya ajak PE untuk invest dan anda akan menjadi salah satu pmegang saham penting. Saya punya beberapa kawan yang menjalankan pola ini dan sukses besar. Dulu CEO di perusahaan itu tapi tiba2 owner mau jual;al perusahaannya,  akhirnya si CEO tadi  cari pemodal untuk beli perusahaan itu.

Nah perusahaan PE itu biasanya invest untuk waktu yang tidak lama. Durasi hanya 3-7 tahun. Setelah itu ia keluar  atau exit. Cara exit bermacam-macam. Bisa menjual sahamnya melalui bursa atau go public, bisa menjual saham ke pemegang saham lain yang mayoritas. Tapi bisa juga melalui trade sale, yakni ia menjual ke berbagai investor besar yaitu group besar yang minat di bisnis itu. Misalnya PE invest di bisnis TI lalu exit, maka ia akan tawarkan ke ACER, IBM, Microsoft, dll, untuk membeli sahamnya. Istilahnya, menjual ke investor strategis, bukan ke investor keuangan. Tapi menjual ke sesama investor keuangan juga mungkin.

Nah bagaimana di Indonesia?  Di Indonesia semakin banyak perusahaan private equity yang aktif walaupun mereka tidak punya kantor khusus di Indonesia namun mereka menunjuk orang tertentu menjadi wakilnya di Indonesia. Mereka ada yang dari Jepang, Hongkong, Singapore, Timur Tengah, Eropa dan Malaysia. Tak kurang dari 30-an investor PE di Indonesia. Hanya  saja mereka memang bekerja dengan silent dan bekerja berdasarkan trust. 30 perusahaan PE itu punua fokus investasi dan sstrategi investasi yang berbeda-beda dari sisi besaran per investasi hingga sektor yang ia pilih.

Ingat cara kerja private equity itu sangat silent, diam-diam, nggak mau banyak ngomong. Namanya juga private.  Mereka memang selektif dalam memilih perusahaan yang akan diinvestasi, namun mereka juga harus investasi karena kalau nggak menyalurkan  duitnya untuk diinvestasikan, mereka juga akan ditanya dan ditabok oleh lembaga yang memercayakan uang untuk diputar. Kalau Anda sudah dipercaya untuk memutar uang tapi kok anda nggak dapat tempat yang ditaruh uang berarti anda bodoh. Anda nggak punya teman atau anda nggak bisa cari teman. Padahal sebegitu banyaknya perusahaan di Indonesia yang butuh funding, dengan manajemen yang terpercaya dan prospeknya bagus.

Perusahaan private equity itu SANGAT JARANG mau atau umumnya nir mau diajak investasi pada perusahaan baru. Intinya mereka itu berkongsi dengan pengusaha yg terbukti mampu mengelola usaha, bukan baru rencana2 doang. Mereka umumnya hanya mau invest di perusahaan yg telah eksis menggunakan omset mencukupi tetapi butuh tambahan modal agar sanggup tumbuh cepat. Atau mau juga invest pada perusahaan mengagumkan tetapi sedang sakit tapi terdapat peluang untuk diperbaiki. Banyak banget investor yang meminati Indonesia. Tapi memang butuh cara spesifik mendekati mereka karena mereka memang sangat private & hanya mau herbi orang yg mampu mereka percaya.

Dana yang ditempat di satu perusahaan oleh private equity sangat bhineka. Ada yg maunya diatas USD 100 juta dollar, terdapat yg hanya mau range USD 50-100 juta dollar, terdapat yang mau berdasarkan size USD lima juta. Bahkan ada yang mainnya pada angka USD 1-5 juta per investment. Masing-masing punya mandat & taktik sendiri.

By the way, bila Bapak/Ibu adalah pemilik korporasi yg butuh modal dari investor private equity yang mau invest dari Rp 200 miliar sampai Rp 1,5 triliun, saya bisa  ajak salah satu investor private equity dari luar negeri yang cocok atau paling cocok untuk perusahaan bapak/ibu dan memang sedang cari-cari peluang investasi di indonesia. Sewaktu-waktu saya bisa ajak meeting direkturnya untuk meeting dengan bapak/ibu bila memang ada peluang kongsi yang menarik dari skala bisnis dan prospeknya. Namun perlu diingkat bahwa investor hanya mau berkongsi dengan perusahaan yang skalanya sudah korporasi, bukan pemain UKM atau perusahaan baru. Mohon dimengerti.

Semoga usaha bapak/Ibu sukses, semakin maju & berkembang. Selalu ada jalan bila kita terus mau berusaha.

Terima kasih

Sudarmadi

HP : 081 384 160 988

wingdarmadi@gmail.Com

Info penting lainnya :

Investor luar negeri cari kawan lokal buat kongsi usaha

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: