Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Oleh Sudarmadi

Hari Sabtu kemudian merupakan salah satu hari paling penting pada sejarah karir saya menjadi seseorang jurnalis. Bukan lantaran saya terdapat promosi jabatan atau naik gaji. Bukan. Namun karena saya diutus kantor SWA buat mengikuti ujian Program Standardisasi Profesi Wartawan yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), pada hal ini PWI Jaya yang membawahkan wilayah Jakarta. Ini program sangat krusial? Tentu saja, karena melalui acara ini seseorang jurnalis akan dinilai sudah layakkah ia menjadi seorang jurnalis sesuai standar yg dibuat secara nasional (Dewan Pers Indonesia). Bagi saya mengikuti ini pula cukup mendebarkan sampai menciptakan masuk angin lantaran terdapat perasaan nervous.

Ya, menciptakan nervous. Muncul perasaan dag dig dug yg luar biasa. Betapa tidak? Ini adalah program ujian pertama yg dilakukan PWI. Jadi kami-kami yang kemarin ikut itu merupakan 'korban' yang pertama & wajib siap buat menerima output ujian itu. Pak Kamsul, Ketua PWI Jaya, waktu itu menjelaskan bahwa ujian standardisasi itu yang pertama dijalankan PWI di seluruh Indonesia. Kita diuji menggunakan berbagai tool yg sudah dibentuk Dewan Pers, jumlahnya ada kurang lebih 9 modul yang diujikan.

Hanya saja acara ini juga sangat membanggakan bagi saya lantaran sanggup bertemu mitra-kawan jurnalis senior berdasarkan media-media besar & ternama pada Jakarta yang juga ikut ujian dalam level saya. Ada Mas Prapto, Redpel Warta Kota (Kompas Group), Mas Abraham (Redpel Bisnis Indonesia), Mas Ramlan (Jurnalis Senior di Radio Elshinta), dll. Termasuk yg ikut di level aku adalah Mbak Hartalena Sitompul. Beliau itu wartawati legendaris yang sudah purna tugas berdasarkan RRI & sekarang mendirikan media sendiri. Dulu waktu saya masih duduk pada Sekolah Menengah Atas di Bantul acapkali banget mendengarkan suara Mbak Hartalena melalui channel RRI Nasional, eee kok kemarin sanggup bertemu orangnya dan ujian standardisasi beserta saya, tentu merasa bahagia & sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemua dia-dia itu.

Hasil dari ujian standardisasi ini hanya 2 kesimpulan: KOMPETEN atau BELUM KOMPETEN. Bisa dibayangkan andai saja aku tak lulus dan dinyatakan tidak kompeten, betapa malunya saya sudah 10 tahun lebih jadi jurnalis kok dinyatakan nggak kompeten. Asal tahu saja, pada Indonesia sudah terdapat beberapa orang yg telah menerima sertifikat standardisasi ini. Tidak poly sih. Mereka ini merupakan tokoh-tokoh krusial di global pers Indonesia yang ikut merumuskan acara standardisasi ini. Beliau-beliau itu mendapatkan tunjangan profesi bukan lantaran ikut ujian, namun karena donasi dan track recordnya. Misalnya para mantan pemred dan pendiri media-media besar di Indonesia. Pak Jacob Oetama, pendiri Kompas Group, contohnya, adalah orang yang sertifikat standardisasi wartawannya punya nomor urut 1 (pertama). Kemudian diikuti aneka macam tokoh pers lain misalnya Pak Sabam Siagian (Jakarta Post ) dll.

Nah, kita-kita ini mencoba mendapatkan pengakuan standardisasi melalui pintu ujian. Dengan cara di-test dulu.Program ini penyelenggaranya adalah Persatuan Wartawan Indonesia -- dalam hal ini PWI Jaya. Jadi PWI Jaya mengirim undangan ke sejumlah media besar di Jakarta, termasuk majalah SWA kantor saya, untuk mengutus dua orang wakil guna ikut standardisasi. Program yang pertama dilakukan PWI ini digratiskan bagi semua peserta. Jadi saya maupun SWA tak perlu bayar ke PWI sebaga biaya ujian. "Kalau kedepan belum tentu gratis," kata seorang penguji saat itu. Saya bisa mengerti kalau kemarin itu acaranya gratis, PWI pasti butuh sebuah pilot project. Namun untuk gratis terus-menerus rasanya tak mungkin karena untuk membayar fasilitas dan penguji yang rata-rata berkelas mantan-mantan Pemred media besar itu, tak mungkin PWI nombok terus. Kecuali kalau tiba-tiba ada dana sponsor dari pemerintah.

Parameter-parameter yang diujikan bermacam-macam, dari mulai perencanaan redaksi, merancang tulisan investigasi, mengelola para reporter, menulis feature, hingga kemampuan memilih headline berita. Diantara yang paling mendebarkan ialah saat ujian kemampuan networking. Tiba-tiba penguji menyuruh peserta untuk menuliskan 5 narasumber yang menjadi networknya dan dianggap narasumber paling penting. Yang mengagetkan lagi, yang kita tuliskan itu benar-benar disuruh untuk dihubungi melalui handphone kita. Parameter ini untuk mengetes kemampuan networking. Kalau kita telpon ke no HP salah satu responden top dari kantor kemudian diangkat, itu wajar saja, karena yang dilihat brand kantor media kita. Nama besar perusahaan. Namun kalau kita kontak dari nomor HP pribadi kita dan diangkat oleh beliau-beliau, maka itu baru oke. Artinya kita memang punya network yang baik.

Nah, tahap ujian ini paling lucu dan menggaduhkan. Ada beberapa teman yang sempat panik karena responden top yang sudah ditulis di kertas dan diserahkan ke pnguji ternyata tidak kunjung bisa dihubungi. Tapi ada juga yang hebat, seorang teman dari Elshinta menelpon langsung ke HP Menteri Perhubungan dan diangkat serta langsung bisa bikin janji wawancara. Bagaimana saya? Karena saya bergerak di bidang jurnalisme bisnis maka responden-responden top yang saya buat juga bergerak di dunia bisnis, bukan pejabat publik. Relasi yang saya hubungi adalah beberapa chairman di kelompok bisnis tertentu atau Ketua Asosiasi Bisnis. Hanya saja kebanyakan dari mereka memang sedang berada di luar negeri saat saya hubungi dan untungnya diangkat dan saya bicara. Makanya ada seloroh teman-teman, bagaimana kalau saat ujian itu dan kita sedang bicara dengan responden tiba-tiba pulsa kita habis? Tentu nggak lucu alias tengsin banget.

Toh demikian, buat urusan yg satu ini saya wajib berterima kasih ke kartu Indosat Mobile yg telah saya gunakan semenjak 1,lima bulan terakhir. Dengan kartu baru ini aku nggak perlu deg-degan lagi buat berlama-lama menelpon ke narasumber karena aku telah bayar bulanan Rp 50 ribu & selesainya itu bebas menelpon kemana saja. Pokoknya ekonomis banget deh. Saya teringat, sesudah menelpon responden yang saya tulis pada kertas sebagai bagian berdasarkan ujian itu, aku lalu lihat pulsa di layar HP, ternyata sama sekali tidak berkurang. Padahal awalnya aku dag dig duh juga. Untung banget sudah pegang kartu ini.

Lantaran itu aku sangat merekomendasikan bagi sahabat-teman yang biasa menelpon banyak orang pada siang hari, maka paket yang ditawarkan Indosat Mobile cocok banget. Sudah saya banding-bandingkan, ini paling ekonomis diantara paket-paket yg ditawarkan pada pasar. Berbeda menggunakan operator yg memberikan paket ekonomis buat menelpon hanya ke nomor telpon berdasarkan operator yang sama, maka Indosat Mobile merupakan paket hemat lintas operator. Ini kelebihan dia. Makanya untuk para sales manager atau sales supervisor atau siapa saja yg poly telpon lintas operator di siang hari, & menghendaki efisiensi biaya pulsa, maka Indosat Mobile ini cocok banget. Harus dicatat, kita tentu tak mungkin waktu menghubungi relasi itu menentukan-milih atau membatasi hanya menelpon ke relasi yg nomor HP-nya berdasarkan operator yg sama menggunakan kita, Nggak mungkin & betapa tidak produktifnya kita apabila melakukan itu. Indosat Mobile memberi jawaban akan kegundahan itu.

Nah, kembali ke ujian standardisasi wartawan itu, saya bersyukur akhirnya bisa lulus alias dinyatakan kompeten. Saya merasa plong. Saat itu, dari peserta yang ikut kabarnya ada tiga orang yang dinyatakan tak lulus alias belum kompeten. Kasihan juga sih ke mereka, sudah pusing mikir dua hari penuh tapi gagal alias dinyatakan belum kompeten. Hanya saja ketegasan semacam ini memang perlu untuk menjaga lembaga wartawan agar berwibawa dan diisi orang-orang yang benar kompeten. Semoga teman-teman jurnalis lain juga segera menyusul mengikuti program sertifikasi ini dan tentunya saya harus berterima kasih bos saya di SWA yang sudah menyuruh saya ikut program ini karena saya dan Sigit (reporter SWA) memang yang pertama ditugaskan untuk mengikuti program yang awalnya menakutkan buat saya ini.

Salam sukses dan sejahtera untuk kita seluruh.

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: