Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Bagi orang Kalimantan Timur, nama Luther Kombong sudah tak asing lagi. Maklum, selain pengusaha sukses, Luther termasuk tokoh daerah itu. Ia juga pernah di kursi Dewan Perwakilan Daerah mewakili provinsi ini. Luther termasuk pengusaha terpandang di Kal-Tim yang memulai semuanya dari bawah. Setamat SMA, Luther tak bisa kuliah karena keterbatasan ekonominya, sehingga ia kemudian memutuskan bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS)

Pengusaha berdarah Toraja yang tumbuh dan akbar pada Kal-Tim ini dikenal sebagai pengusaha unik. Luther sukses pada bisnis perkebunan kelapa sawit, padahal sporadis sekali atau bahkan hampir tak terdapat pengusaha lokal yg sukses pada usaha ini. Kebanyakan pengusaha lokal punya bisnis hak pengusahaan hutan (HPH). Tak heran, pada Kal-Tim masih ada beberapa perkebunan sawit, tapi semuanya milik perusahaan besar dari luar Kal-Tim, seperti Astra Agro Lestari, Lonsum, Sinarmas, & lain-lain.

Yang pula menarik, Luther termasuk pengusaha terpandang di Kal-Tim yang memulai semuanya menurut bawah. Setamat Sekolah Menengah Atas, Luther tidak mampu kuliah karena keterbatasan ekonominya, sehingga dia kemudian memutuskan bekerja menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Namun dia memang pekerja keras & sangat menyukai tantangan. Tak heran, saat dia sebagai PNS, dia jua berusaha mencari kesibukan lain, yakni berbisnis mini -kecilan. Luther pernah punya restoran, kantin, penyewaan tunggangan, hingga pernah menangani proyek pembangunan prasarana.

Boleh dibilang, sewaktu sebagai PNS beliau telah mencicipi mendapatkan uang yg lumayan besar dari usaha sampingannya. Sampai suatu waktu, dia dinasihati oleh seseorang relasinya. ?Kalau jadi PNS terus, kamu tidak pernah akan sanggup kaya atau cukup. Kamu harus membarui nasib menggunakan sebagai entrepreneur. Apalagi kamu punya sifat dan karakter yang dibutuhkan buat sebagai entrepreneur,? Luther menceritakan nasihat relasinya itu.

Sampailah pada 1986, di tahun inilah Luther mengajukan surat pengunduran diri sebagai PNS. Tetapi sang atasan & rekan kerjanya dia masih ditahan-tahan & disarankan supaya mengambil cuti di luar tanggungan negara saja. Saran itu sempat beliau ikuti, tapi kelanjutannya beliau permanen tetapkan keluar berdasarkan PNS. Semenjak itu beliau menjalankan usaha kontraktor. Ia poly menciptakan jalan buat proyek-proyek transmigrasi dan juga sempat mengerjakan beberapa proyek pemerintah wilayah dalam masa awal bisnisnya. Akan namun dalam perjalanannya lalu, beliau tak berminat lagi mengerjakan proyek-proyek Pemerintah Daerah. Alasannya, urusannya terlalu bertele-tele & sangat birokratis. ?Kalau birokratis tapi masuk akal, mungkin masih mampu tahan. Tapi ini lain, kami telah kerja setengah tewas akan tetapi uangnya susah keluar. Nunggunya 1/2 meninggal. Kami bekerja tapi seperti pengemis. Sejak itu kami tak tertarik lagi mengerjakan proyek-proyek pemerintah,? Luther menceritakan pengalaman pahitnya di masa awal menciptakan bisnisnya.

Belajar menurut situ, Luther kemudian hanya bersedia bermitra menggunakan perusahaan swasta murni. Ia lalu dianggap sang sejumlah perusahaan besar semisal Sumalindo. ?Sukses dianggap oleh perusahaan-perusahaan besar itulah yang membuat saya berkiprah naik,? Katanya mengakui. Tak heran, bisnis kontraktornya tumbuh sangat pesat. ?Seperti balon ditiup,? Istilah ayah 3 anak yang kini mondar-mandir Jakarta-Samarinda ini.

Kendati begitu, sukses Luther tidak dan-merta membuatnya puas. Ada kegelisahan pada hatinya. Ia melihat usaha kontraktor begitu tergantung pada pihak lain. ?Bisnis kontraktor hanya bisnis jasa kontrak karya. Ketika kami nggak digunakan lagi, maka kerjaan tidak ada. Kami ingin usaha yang long-term, bukan bisnis kontraktor misalnya ini,? Luther berujar. Pilihan yg terdapat di kepalanya adalah bisnis hotel, rumah sakit, sekolah, atau perkebunan. Tetapi, ia melihat, berbisnis hotel, tempat tinggal sakit dan sekolah di Kal-Tim ketika itu belum memungkinkan. Sementara usaha tambang batu bara terlalu banyak unsur perjudiannya, sehingga beliau kurang tertarik. Setelah menimbang banyak hal, dia menetapkan masuk ke bisnis perkebunan sawit. ?Saya pikir bisnis ini paling cocok buat Kal-Tim lantaran alamnya memang memungkinkan,? Ujar Luther.

Tahun 1998, beliau sempat ditawari Departemen Kehutanan buat mempunyai izin HPH. Tetapi dengan tegas Luther mengatakan bahwa yg dia butuhkan adalah lokasi buat perkebunan. Tentu saja langkah Luther ini lain berdasarkan kebanyakan pengusaha wilayah yg lebih senang berbisnis HPH, karena tinggal tebang pohon dan cepat menerima uang. Tahun 1998 itu Luther diberikan hak pemanfatan hutan buat ditanami perkebunan kelapa sawit seluas 20 ribu hektare. Sejak itulah kiprah Luther di usaha sawit terus bergulir. Tahun 1999, dia pribadi menanam. Kebetulan sekali, saat itu dia mampu memperoleh bibit mengagumkan menurut PT London Sumatera Plantation ? Yg ketika itu gagal menanam karena didemo masyarakat.

Untuk menggulirkan usaha perkebunan sawit lewat bendera PT Dwimitra Lestari Jaya ini, Luther hanya mengandalkan modal sendiri. ?Saya menggunakan tabungan sendiri dari hasil laba usaha-bisnis aku sebelumnya,? Ucapnya mengenang. ?Makanya pertumbuhan kami nggak mampu secepat mereka yang menggunakan kredit bank,? Lanjutnya merendah.

Toh, kini bisnis sawit Luther terus berkembang. Konsesi perkebunan yang dipegangnya mencapai 35 ribu ha (di Sangkurilang & Berau). Hanya saja, konsesi yang ke 2 (15 ribu ha) masih baru & kini dikelola putra pertamanya. Dari kebun lamanya sudah 8 ribu ha yg tertanami, dan tiga ribu ha sudah berbuah (panen). Kebun sawitnya itu menyerap kurang lebih 1.600 tenaga kerja, yg sebagian pekerjanya didatangkan dari desa-desa miskin di Pulau Jawa. Di kebun sawit itu sendiri sudah terdapat pabrik pengolahan sawit dengan kapasitas 30 ton per jam, yg rencananya bakal ditingkatkan menjadi 60 ton per jam.

Langkah Luther tidak berhenti di situ. Di huma perkebunannya, ia juga mendirikan perusahaan kayu lapis (plywood) & vinil skala sedang. Maklum buat sanggup melakukan penanaman, lebih dulu harus dilakukan mutilasi kayu hutan dengan ukuran diameter 20-30 cm. Agar tidak terdapat kayu-kayu yg terbuang menjadi limbah, beliau berpikir sebaiknya mendirikan pabrik pengolahan kayu. Ini pula sesuai dengan anggaran pemerintah yg tak membolehkan dilakukan pemusnahan menggunakan cara pembakaran. ?Satu-satunya cara ya diolah sebagai plywood,? Pungkasnya. Lantaran itu beliau mendirikan PT Panca Karya Marga Bakti yang menciptakan kayu lapis dan sekarang mempekerjakan 400-an karyawan.

Luther merasa sangat bersyukur, karena merasa dari tidak punya apa-apa, sampai sekarang punya usaha yg berkembang. Contohnya, beliau sekarang mempunyai ratusan alat berat sendiri yang diperoleh dari membeli secara leasing. Apalagi beliau juga punya aset properti bagus di Samarinda Seberang seluas 100 ha yang sedang dibangun proyek perumahan Samarinda Baru (lebih kurang 1.000 unit rumah). Sebelum krisis ia mengaku membeli tanah itu dengan harga Rp 15-20 ribu per m2, tapi kini harganya telah Rp 500 ribu per m2. ?Kalau dihitung (nilai asetnya itu) sekarang telah pada atas Rp 1 triliun. Padahal waktu krisis aku sempat mengira ini langkah usaha saya yg galat,? Ujar Luther yang juga berencana menciptakan hotel berbintang di lokasinya itu.

Dari bepergian bisnisnya itu, Luther menyimpulkan bahwa sukses berbisnis membutuhkan lima prinsip, yakni: mau bekerja keras; punya keberanian (berani mengambil keputusan); amanah (supaya meraih kepercayaan berdasarkan mitra); memelihara lingkungan; dan punya manajemen/administrasi yang baik. Soal amanah, contohnya, amat krusial buat mendapatkan agama orang. ?Kalau sudah dianggap orang berarti kami telah menjadi orang kaya. Karena orang bila telah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya pada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka interaksi itu akan putus,? Tutur Luther yang kini lebih banyak menyerahkan operasional bisnisnya kepada anak pertamanya.

Meski sanggup tumbuh sebagai pengusaha sukses, Luther mengaku sebenarnya memiliki banyak keprihatinan terhadap iklim usaha sawit pada Tanah Air. Menurutnya, kepastian aturan di Indonesia masih lemah. Juga belum terdapat political will berdasarkan pemerintah buat memajukan pengusaha. Sejauh ini menurut Luther pemerintah belum melihat mana pengusaha yg berfokus, membayar pajak dan mempekerjakan poly orang, serta mana pengusaha yg sekadar berpetualang. Ia beropini, pengusaha yg berfokus ingin membangun industri, seharusnya diberi insentif. ?Tapi pada Indonesia yg legal dan ilegal hanya beda-beda tipis. Malah birokrat lebih senang yang ilegal karena sogokannya tinggi,? Ucapnya menggunakan nada meninggi. ?Kita tertinggal jauh menurut Malaysia,? Tambahnya. Jaminan keamanan pula dinilainya masih lemah sebagai akibatnya poly perkebunan sawit yang dirusak warga . Belum lagi bunga bank relatif tinggi. ?Kalau kondisinya aman, kami niscaya sudah bisa tanam 20-30 ribu hektare sampai kini ,? Ujar Dirut PT Dwimitra Lestari Jaya ini seraya berharap.

Penulis: Sudarmadi ( wingdarmadi@gmail.Com)

Kisah usaha menarik lainnya:

Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama pada Medan

Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa

Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto

Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI

Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda

Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM

Rahasia Sukses & Strategi Pemasaran Wim Cycle

Teladan Kepemimpinan Di Balik Kebangkitan Perusahaan Tekstil Gistex

Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR

Belajar Dari Pengusaha Muslim Terkaya Dunia, Azim Premji

Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat pada Indonesia

Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: