Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Beberapa saat kemudian aku membaca keluhan galat seseorang peserta mailing list yg mengomentari soal adanya beberapa pemula bisnis yang merasa 'tersesat' lantaran mengikuti kiat yg dianjurkan sang seorang mentor kewirausahaan. Orang itu mengatakan telah banyak para pendaftar wirausaha yg akhirnya terjerembab dan punya hutang bahkan hingga miliaran rupiah lantaran mengikuti 'kiat berbisnis sebaiknya menggunakan uang orang lain menjadi kapital alias utang. Intinya, dianjurkan bahwa berwirausaha itu harus berani & modalnya gunakan duit orang lain. Prinsip ini, ucapnya, telah membuat orang sebagai 'amat-berani' untuk berhutang kepada pihak lain buat meraih permodalan. Tapi ya itu tersebut, AKHIRNYA banyak yg gagal dan meninggalkan hutang menurut yg puluhan juta, ratusan juta, bahkan terdapat yang sampai miliaran. Saya tentu ikut prihatin & sedih bagi yg kena musibah itu.

Sebagai orang yang bersimpati pada para pendaftar wirausaha saya hanya ingin menaruh sedikit masukan dari kabar yang aku peroleh. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam menjalankan usaha yang memang punya resiko ini, jangan pernah hanya berguru pada satu mentor. Jangan bertaklid pada satu orang. Kita mesti memperbanyak sumber fakta, asal surat keterangan, mendapatkan kiat2 dan wisdom-wisdom sebesar mungkin. Dan lalu mencari mana saja diantara keterangan dan kiat-kiat yg dikemukakan berbagai pengusaha itu yg paling cocok dan relevan buat usaha kita & latarbelakang kita.

Maklum, setiap pengusaha sukses punya pengalaman & kiat sukses yg mampu jadi hanya relevan buat industri beliau sendiri, tapi nir cocok buat bidang yang lain. Seorang yg sukses pada usaha pendidikan sebut saja, belum tentu sukses ketika menjalankan usaha properti, aparel (fashion), ritel, dealership, atau agro bisnis contohnya. Inilah yg kadang-kadang kita tak tersadar sebagai akibatnya 'asal ikut' pada keliru satu pengusaha, padahal pengusaha yg kita ikuti itu hanya expert untuk satu bidang saja dan poly gagal pada banyak bidang lainnya. Sekali lagi, kita jangan membabi-buta mencontoh satu pengusaha, tapi ambillah banyak 'air' berdasarkan banyak sumber mata air, lalu dari situ kita harus menggabungkannya sebagai air terbaik & segar pada kolam kita.

Saya punya model menarik pengusaha yg menerapkan prinsip itu, yaitu Pak Harijanto. Kebetulan Pak Harijanto ini jua aku profilkan dan saya ulas panjang lebar pada kitab aku (Sudarmadi) yg sudah cetak ulang pada Gramedia, "10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0". Pak Harijanto ini pengusaha sukses pada bidang sepatu. Karyawannya 9.000 orang. Ia alumni UNS yg dulunya benar-sahih orang susah. Beliau ini jua punya banyak mentor yang selalu ia kagumi & banyak dia ambil kiat-kiatnya. Contohnya, bila dia belajar mengenai SDM & bagaimana mengelola anak-butir, maka beliau banyak belajar menurut Pak TP Rachmat. Pak TP Rachmat ini orang yang membesarkan Astra dan menata sistem pada Astra sampai sanggup sebagai perusahaan partikelir terbesar pada Indonesia yg sistem manajerialnya diakui paling baik pada Indonesia. Entah telah berapa puluh penghargaan diperoleh Astra menjadi best company menurut aneka macam forum. Pak Harijanto poly belajar menurut Pak TP Rachmat soal bagaimana mengelola orang & mengakibatkan anak buah kita prodktif, loyal dan menampilkan kinerja terbaoknya. Tapi bila bicara turn arround manajemen (membenahi perusahaan-perusahaan sakit), Pak Harijanto berguru dalam pengusaha-pengusaha yang lain. Salah satu yang beliau kagumi adalah Robby Djohan, mantan Presdir Bank Mandiri yg belakangan pula sukses jadi entrepreneur.

Jadi, intinya, kita wajib belajar berdasarkan sebesar mungkin orang terbaik yg ahli pada bidangnya masing-masing. Harus diingat bahwa pengusaha-pengusaha sukses itu, sebagaimana kita, juga punya poly keterbatasan dan mereka jua hanya expert buat bidang beliau saja. Makanya kita sendiri yang harus bijak menyaring aneka macam masukan yg kita terima dan kita sesuaikan (harmonize) yg sesuai menggunakan konteks usaha kita. Jangan pernah membabi-buta mengikuti anjuran atau kiat satu mentor saja. Jangan asal berani, termasuk berani berhutang. Bukankah dalam kepercayaan hutang itu jua ada pertanggungjawabannya di akherat? Jadi, semakin banyak sumber fakta & mentor yang sanggup kita ambil kiat-kiatnya, akan semakin baik bagi kita. Tetapi jua diharapkan kemampuan kita buat memfilter mana yg paling cocok buat kita.

Thanks

Sudarmadi

Penulis kitab '10 Pengusaha Yg Sukses Membangun Bisnis berdasarkan 0danquot; terbitan Gramedia.

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: