Itu adalah bahasa rielnya. Kini biaya pendidikan di universitas negeri makin mahal. Bahkan di universitas negeri pada daerah sekalipun. Orang tua yg menyekolahkan anak ke perguruan tinggi niscaya merasakan benar mahalnya pendidikan kita. Bahkan buat anak-anak cerdas yg berhasil lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri, biaya itu terasa mencengangkan. Untuk masuk Fakultas Ekonomi UGM, contohnya, selesainya lulus tes, seorang calon mahasiwa ditarik uang pangkal 40 juta rupiah. Untuk Fakultas kedokteran di beberapa PTN sanggup mencapai 200 juta rupiah.Bahkan di perguruan tinggi negeri yag belum terkenal pun masuk FK juga ratusan juta. Kasian banget orang miskin, secara riel mereka sudah ditendang dari universitas.
Ucapnya sih terdapat subsidi, tetapi nyatanya itu jumlahnya tak siginifikan. Bahkan pada beberapa PT anugerah subsidi buat masyarakat miskin hanya dijadikan lip servise atau taktik bunga buat menutup buruknya image lantaran pungutan yg menggila. Celakanya, kalangan PT partikelir juga ikut2an naikin biaya .
Semoga segera terdapat perubahan kebijakan & kembali ke sistem lama yg membuat masyarakat miskisn bisa kuliah lagi, Pemerintah wajib subsidi PTN full.
Alangkah mahal biaya kuliah di universitas kita. Berkuliah di luar negeri, seperti Jerman, Australia, bisa jadi lebih murah ketimbang pada universitas negeri terkemuka itu. Meskipun sudah sekalian dihitung porto hayati pada luar negeri. Itu sebabnya, sebagian orang mulai melirik kuliah di luar negri daripada membayar uang pangkal yg tidak masuk akal itu.
Kita mesti mengevaluasi balik cara pendidikan ini diatur. Sistem ini, lama -usang hanya melayani golongan superkaya pada warga kita. Sebab hanya merekalah yang sanggup membayar kursi perguruan tinggi negeri kita. Cara ini menyingkirkan anak anak muda yg miskin, meskipun mereka cerdas. Itu merupakan, kita menghilangkan potensi anak bangsa buat berkembang. Juga merusak kemajuan bangsa kita.
Wahai Bapak-Bapak penghasil keputusan, ingatlah saudara2 kita yang miskin, jangan bisu atau pretensi tuli melihat nasib mereka. Tuhan Maha Melihat Anda.
Checking your browser before accessingPlease enable Cookies and reload the page. This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly. Please allow up to 5 seconds… |