Loading Website
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Formulir Kontak

Cari Blog Ini

Arsip Blog

Seni Menjadi Pedagang Online

Landing Page Domination

Popular Posts

21 Hari Mencari Jodoh

Kursus Advance SEO_Saung Seo

Mahir Website

The Power Of Wanita Idaman

Easy import From China

Komestik merek La Tulipe termasuk merek kosmetik yang telah besar & skala bisnisnya sudah menasional. Merek ini poly dipakai kalangan seleb dan event-event akbar. Banyak ahli rapikan rias yang menggunakan dan merekomendasikannya. Tak heran bila karyawan perusahaan ini sudah ribuan. Padahal perusahaan ini bermula dari bisnis skala rumahan pada Surabaya.

Merek La Tulipe sering menyelenggarakan peragaan tata rias komestik menampilkan berbagai tren warna terkini. Di acara itu biasanya juga menghadirkan puluhan  ahli tata rias yang memamerkan kreasi mereka menggunakan tren kosmetik terbaru dari La Tulipe. Di antara mereka ada ahli tata rias avant garde, pengantin internasional, fancy, modifikasi serta lukis tubuh yang sudah dikenal secara nasional. Semua ahli tata rias yang tampil biasanya menggunakan kosmetik yang sama: La Tulipe dan LT Pro. Nama La Tulipe di kalangan konsumen dan tata ras memang sudah dikenal, khususnya  produk make-up dan skin care.

La Tulipe ini merupakan brand yg dibesarkan PT Rembaka, produsen kosmetik berasal Surabaya. PT Rembaka memasarkan La Tulipe dengan model penetrasi flanking strategy: dimulai dari daerah pinggiran, kemudian merangsek ke pusat. Ia dimulai berdasarkan sebuah home industry kecil pada Surabaya, kemudian pelan-pelan melebarkan pasar berdasarkan wilayah ke wilayah sampai lalu berkembang, dan kini sudah sebagai merek nasional yg total melibatkan ribuan karyawan.

Usaha kosmetik berbendera PT Rembaka ini dirintis Indro Handojo (almarhum), seseorang dokter bidang patologi klinik yg belajar autodidak tentang ilmu dermatologi di Surabaya. Semasa hidupnya, Pak Indro senang mencoba hal-hal baru, selain tekun & rajin. Beliau ingin mendirikan perusahaan kosmetik sendiri, makanya tahun 1980-an memulai dari home industry. "Beliau Ngracik sendiri,? Demikian celoteh Anthonius Prabowo Handojo (33 tahun), putra Indro yg kini melanjutkan usaha PT Rembaka.

Produk kosmetik yang pertama dibuat merupakan pembersih & penyegar. Setelah itu, menyusul produk pelembab. Proses produksinya belum menggunakan mesin alias manual. Indro ? Wafat awal 2011 ? Dibantu 5 anak butir yg bekerja menggunakan peralatan seadanya, yang krusial higienis. Pak Indro mengulek & meracik sendiri resep supaya sesuai dengan kulit orang Indonesia. Indro memanng rajin membaca literatur tentang kosmetik & acapkali mengikuti seminar dan kongres mengenai kulit. Pada tahap awal, produksinya tidak poly. Sebulan kira-kira memproduksi 1 boks (50 botol).

Dalam memasarkan produknya, sejak awal Indro sudah menggunakan merek La Tulipe. Tulip merupakan nama bunga dari Belanda, menjadi penanda kecantikan wanita negeri itu. Sementara kata ?La? Berasal berdasarkan bahasa Prancis yang merupakan sama menggunakan ?The? Pada bahasa Inggris. Sengaja menggunakan nama bahasa Prancis lantaran Prancis adalah barometer kecantikan dunia.

Cara komunikasi pemasaran waktu itu masih sederhana. Di sela-selah praktik dokter pada tempat tinggal -- Jl. Raya Gubeng 61, Surabaya -- Indro memperkenalkan produknya ke calon pelanggan yang tiba. Rupanya, cara promosi dari lisan ke lisan itu relatif manjur. Terbukti, tak sedikit kaum Hawa yang mengonsultasikan perkara kulit wajah kepadanya. Tidak hanya itu, kebanyakan dari mereka ternyata jua cocok dengan produk output racikannya. Tak mengherankan, pelanggan makin banyak, jua jumlah produksinya. Karyawan bertambah sebagai 10-an orang dalam 1982-an. Bahkan pada 1985, berhasil memindah tempat produksi ke lahan yg lebih layak pada wilayah Prapen (Surabaya). Meski demikian, status tanahnya belum hak milik, masih sewa.

Russy Nikawati, karyawan yang bekerja di PT Rembaka sejak 1985, mengungkapkan, meski pindah ke Prapen, lokasinya permanen masih mini . Produksi menempati rumah tipe 120 dengan 10-an karyawan. Di Prapen, awalnya belum memproduksi menggunakan mesin. ?Kami akrab semua pada sana. Kalau terdapat bahan baku timun datang, ya kami makan sebagian ha-ha-ha?. Begitu juga bila ada tomat atau bengkuang. Kami acapkali rujakan bersama-sama,? Russy menceritakan suasana sederhana di awal perintisan bisnis. Untuk pemasaran, ketika itu mengandalkan toko di Pasar Atom Surabaya & 2 energi beautycian yang melakukan demo promosi.

Setelah beberapa tahun melakukan produksi di Prapen, Indro akhirnya mampu membeli mesin sendiri walau bukan mesin baru. ?Kami beli mesin kosmetik second dari Taiwan dan Jerman, menurut galat seorang pengusaha di Surabaya,? Istilah Thoni. Dari situ produksi juga mulai bisa ditingkatkan buat memenuhi permintaan. Rata-rata per bulan bisa menghasilkan sebesar 1 kendaraan beroda empat boks. Selain itu, juga menambah 1-2 varian produk baru, yakni skin care, produk tata rias panggung, tata rias wajah & rapikan rias fantasi.

Cara kenaikan pangkat jua mulai ditingkatkan menggunakan merambah acara yang belum dilakukan. Antara lain, mengikuti lomba tata rias, baik tingkat nasional maupun internasional. ?Kami pernah meraih gelar sebagai Juara Umum Lomba Tata Rias Tingkat Nasional 1987 dan Juara Tingkat ASEAN 1987,? Ujar Anthoni. Promosi juga dilakukan dengan demo produk di instansi pemerintah, bunda-ibu Dharma Wanita dan Bhayangkari, serta organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Cakupan pasarnya masih mayoritas pada Surabaya & sekitarnya.

Yang membuat segenap pengelola optimistis usahanya mampu berkembang, mereka melihat respons pasar relatif baik. ?Terus terang kami sendiri nir memahami apa penyebab produk buatan Papa kok begitu diserap pasar. Yang aku dengar, produk-produknya cocok buat kulit di wilayah tropis. Inilah yg berakibat permintaan terus meningkat. Produk kami benar-benar bermanfaat sehingga makin usang makin dicari orang,? Ungkap Thoni.

Karena penjualan terus meningkat, akhirnya tempat produksi di Prapen nir mencukupi lagi. Lebih-lebih, saat itu Indro sudah berencana mendatangkan mesin eksklusif dari Jerman & Inggris. Lokasi produksi di Prapen menjadi terlalu sempit, tak mencukupi buat berukuran mesin baru. Karena itu, pada 1990-an, pabrik beralih ke tempat baru, yakni pada Jl. Rungkut Industri VIII/26-28, Surabaya (Kawasan Industri), menggunakan menyewa. Pada waktu itu pula mulai digunakan nama PT Rembaka. Kata Rembaka diambil menurut bahasa jawa yang berarti ?Berkembang beserta?.

Sejak berproduksi di Jl. Rungkut Industri, boleh dianggap usaha ini telah mulai bergeser menurut skala industri rumahan menjadi industri menengah. Sejak itu, skala usahanya terus berkembang. Otomatis, menurut hasil penjualan sanggup menabung untuk menambah kapasitas produksi dan menyiapkan mempunyai pabrik sendiri, bukan sewa. Tahun 1995 sudah mampu membeli tanah sendiri buat mendirikan pabrik, pada Jl. Berbek Industri VII/4, Surabaya.

Mujur tidak dapat ditolak. Pada ketika krisis moneter 1998, usaha La Tulipe justru mendapatkan keuntungan. ?Kami blessing. Kenapa? Lantaran, sebelum krismon orang kelas atas membeli kosmetik menurut luar, tetapi begitu nilai rupiah goyang, mereka ramai-ramai membeli La Tulipe. Akhirnya, produk kami malah laku keras. Penjualan kami naik hingga 100% lebih. Ini benar-benar pada luar dugaan,? Russy mengenang. Lantaran itu jua, Rembaka mampu mendirikan pabrik sendiri yg mulai digunakan dari tahun 2000. Pada tahun itu pusat produksi diboyong menurut Rungkut ke lokasi kini , pada Jl. Berbek.

Bacaan terkait :

Strategi Mars Group Bangun Rantai Pasok Cokelat pada Indonesia

Belajar Dari Sukses Kosmetik Lokal Merek La Tulipe

Sejak di Berbek, modernisasi produksi dilakukan hampir di seluruh proses produksi. Mulai menurut mixer sampai filling. Filling, contohnya, dulu dilakukan satu demi satu, sekarang sekali produksi bisa langsung 5 unit selesai. ?Kebanyakan mesin dari berdasarkan Jerman, tetapi juga yang berdasarkan Inggris (lipstik) dan Korea (proses penyaringan). Dalam keadaan eksklusif, jika memungkinkan, kami modifikasi mesin supaya hasil produksi lebih optimal," Thoni menampakan.

Cakupan pasarnya juga bukan semata-mata pada Jawa Timur, namun terus diperluas sebagai wilayah nasional, termasuk ke kota-kota akbar seperti Jakarta, Medan, Bandung, bahkan kota-kota di Sulawesi, Kalimantan & Papua.

Salah satu fondasi penting yang dibangun Indro, membentuk bagian riset dan pengembangan (R&D) agar bisa menelurkan produk-produk yang bukan hanya sesuai dengan tren, tetapi menciptakan tren. Karena itu, meski Indro telah wafat, tim R&D tetap dikembangkan. Mereka siap meluncurkan produk untuk melayani pasar pada masa mendatang kalau-kalau ada perubahan. Soal cara kerja tim R&D, pihaknya tidak memasang target tertentu, misalnya sebulan harus menciptakan satu produk baru.Perusahaan memberi kebebasan tim riset untuk berkreasi seoptimal mungkin supaya hasil benar-benar bagus.

Distribusi Rembaka saat ini sudah mencakup seluruh wilayah Indonesia, menggandeng tiga distributor. Salah satu distributor yang digandeng, PT Dos Ni Roha, salah satu distributor besar Indonesia. Guna memudahkan pengelolaan distribusi, Rembaka kemudian membagi area dalam dua wilayah: barat dan timur. Barat meliputi Sumatera, Jawa Barat, Jakarta dan Pontianak. Adapun timur, dari Jawa Tengah hingga Papua. Para distributor itu dikelola terus-menerus. Manajemen perusahaan ini juga menjaga distributornya dengan memberikan reward misalnya melalui berbagai bonus, penghargaan, gathering-gathering, ataupun tour-tour.

La Tulipe  juga memiliki konter-konter sendiri di beberapa kota. Atau, bekerja sama dengan toko kosmetik tertentu untuk memasarkan produk. Kalau ditotal, gerai sendiri mencapai puluhan. Rembaka juga memasok serta melatih tenaga pemasar dan tenaga kecantikan sendiri guna ditempatkan pada konter dan toko-toko tertentu yang memiliki potensi penjualan. Sementara itu, untuk mengendalikan harga, Rembaka mengatur dengan pola Harga Eceran Tertinggi (HET). Dengan cara itu, para distributor dan peritel hanya diberi kesempatan bermain di diskon. Para agen diberi kebebasan menjual produk ke pasar pada harga berapa, itu terserah mereka, yang penting tak melebihi HET.

Pekerjaan promosi juga digenjot, tak semata-mata getok tular. Saat ini promosi dilakukan terintegrasi, dari below the line (BTL) hingga above the line (ATL). Untuk ATL, sebagian besar dilakukan melalui majalah dan media elektronik. “Tapi itu hanya sebagian kecil promosi kami sehingga cenderung tidak kelihatan. Bagi kami, yang terutama adalah dengan cara BTL, seperti bekerja sama dengan berbagai instansi dan organisasi,” tutur Thoni. Selain itu, melakukan pendekatan dengan para ahli tata rias. “Kami tidak ada kontrak eksklusif dengan mereka. Mereka percaya kami. Dari situ kami support kebutuhan mereka,” katanya lagi. Selain itu, cara lama seperti menggarap ibu-ibu PKK, melakukan demo dan mengikuti pameran juga terus dilakukan. “Pokoknya, semua sisi kami garap."

Pada posisi saat ini, omset terbesar disumbang produk-produk skin care dan dekoratif. Untuk merek, jelas La Tulipe menjadi tulang punggung, menyumbang 75% penjualan, sisanya dari penjualan second brand, LT Pro. Menariknya, perusahaan ini sekarang juga mulai masuk ke pasar Singapura dan Brunei, tepatnya pada akhir 2009. Ceritanya, ada salah seorang karyawan yang menikah dengan warga Singapura dan kemudian menetap di sana. Dia lalu melakukan order sekaligus memasarkan untuk area Singapura. Untuk pasar Brunei, Rembaka bahkan punya salon sendiri untuk mulai menggarap pasar di sana. “Tahun 2010 kami dipercaya menjadi sponsor acara Kementerian Kebudayaan Belia dan Suka Brunei untuk pemilihan penyanyi dan penari cilik,” cerita Thoni.

Ya begitulah kiprah La Tulipe. Banyak ahli yang mengatakan pemilik La Tulipe benar-benar sabar dan bermental ulet. Sabar dalam arti melakukan strategi disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Mereka bersabar dan terus-menerus melakukan inovasi, guna memanfaatkan peluang yang ada. Quality yang cukup bisa diandalkan, walaupun melalui proses improvement ‘learning by doing.

La Tulipe adalah buah kesabaran dan ketekunan sehingga jadilah sebuah produk yang matang baik dari segi produksi maupun pemasaran. Dari sisi perubahan manajemen, Rembaka pun bisa melakukannya dengan baik. Termasuk, dengan membentuk tim profesional dalam R&D.

Selain itu, pendiri perusahaan ini, Indro, sangat pandai mengelola anak buah, menjaga kedekatan, serta memberi penghargaan kepada karyawan. Dia membangun bisnis ini dengan prinsip kekeluargaan. Baik kepada karyawan, distributor, outlet, maupun karyawan. Kalau ada senang, kami rasakan bersama. Begitu pula kalau lagi susah.

(Dea Amalyta)

Kisah Sukses Dramatik Masri Nur, Pengusaha Ulet Pendiri Hotel Syariah Pertama di Medan

Pasangan Ini Sukses Membangun Jaringan Resto Takigawa

Kisah Sukses Pendiri Red Bean Resto

Kiprah Lima Sekawan Besarkan Bisnis Pendidikan BSI

Robin Wibowo dan Bisnis Furniture Mewah Veranda

Mengelola Bisnis Kampus Ala UGM

Rahasia Sukses dan Strategi Pemasaran Wim Cycle

Strategi Sukses DataOn Memasarkan Aplikasi HR

Investor luar negeri cari mitra lokal untuk kongsi bisnis

Checking your browser before accessing

This process is automatic. Your browser will redirect to your requested content shortly.

Please allow up to 5 seconds…

DDoS protection by Cloudflare
Ray ID: